You and I – Long Time No See (chapter 4)

img_2738

 

You and I – Long Time No See (4)

Author        : mardikaa_94

Genre          : romance, gatau apaan lagi (?)

Length        : chaptered

Rating         : teen, PG 17

Cast            : Park Chanyeol, OC, and others

Stories        : You and I – Zing (chapter 1) | You and I – Blind Date (chapter 2) |   You and I – First Meet (chapter 3)

~happy reading~

“benarkah? Astaga, aku heran kenapa wanita cantik seperti kamu belum punya pacar.” Yonggi meminum tehnya sedikit, tersenyum geli saat Chae Yoon hanya menggaruk tengkuknya.

“aku hanya tidak tertarik.”

“wah, kenapa tidak? Umurmu sudah lebih dari cukup.”

“hanya—belum ada yang cocok.”

“hahaha. Baiklah,” Yonggi melihat jam tangannya, tersenyum lalu mengambil smartphonenya. “pasti Oppa sudah selesai bekerja.”

Chae Yoon menoleh, sedikit tersedak saat Yonggi menyebut kata ‘oppa’, “Oppa siapa? Pacarmu?”

Yonggi mengangguk, lalu tersenyum lebar, “eoh, dia calon suamiku.”

~000~

Chanyeol sedang bersiap pulang ke rumah, membereskan beberapa barangnya, dan mematikan computer. Tangannya terulur mengambil smartphone hitam di balik saku blazernya, dahinya berkerut, lalu sedetik kemudian matanya memutar malas.

Oppa. Bisa jemput aku di Crown Corp sekarang? Jebaaal.

Yonggi.

“tunggu. Crown Corp?”

~000~

Chanyeol memarkir mobilnya secepat yang dia bisa. Memastikan jika dugaannya salah besar. Beberapa menit lalu dia sudah mengirim pesan singkat untuk Yonggi agar segera turun menuju lobby. Dia berjalan sedikit tergesa, hingga akhirnya kaki jenjang itu berhenti melangkah kala sepasang matanya menangkap sosok Yonggi dan Chae Yoon yang sedang bercengkrama dan sesekali tertawa. Dia terdiam, mencoba menetralkan pikirannya yang mulai kalut, mulai berjalan biasa dengan tampang tenang dan dinginnya.

Yonggi menoleh, mendapati Chanyeol yang sedang berjalan menghampirinya. Sedangkan Chae Yoon berdiam diri ditempat, tidak mengerti maksud kedatangan Chanyeol ke kantornya.

“Chae Yoon-ah, kenalkan, dia calon suamiku. Park Chanyeol.”

~000~

“wajahmu seperti orang kesetanan.”

“aku memang sedang kesetanan.”

Jongin melongo, tidak mengerti ucapan Sehun barusan. Akhir-akhir ini sahabatnya itu benar-benar aneh. Pagi-pagi sekali, dia menelpon Jongin dan megajaknya lari pagi, lalu mereka membeli bubble tea dan eskrim. Kata Sehun, keduanya sama-sama manis dan enak. Jadi, apa gunanya lari pagi jika akhirnya makan makanan seperti ini?

Jongin bersedekap, matanya menatap sosok Sehun lekat. Mencoba mencari penyebab Sehun seperti ini. Tak kurang dari semenit, Jongin sudah menjetikkan jarinya, tersenyum puas, lalu mengutarakan pemikirannya.

“kau jatuh cinta, ya?”

Sehun tergagap, berhenti memikirkan sesuatu yang membuatnya gila. Setelah kemarin menghabiskan sore dengan Minsoo, dia jadi sering melamun sendiri dan tersenyum layaknya idiot. Mungkin ini efek samping dari mata bulan sabit wanita itu.

“e—eh, tidak, tentu saja tidak.”

Jongin terkekeh, geli sendiri hingga akhirnya menjitak kepala Sehun, “ya! Jangan bohongi seseorang yang sudah bersamamu selama dua puluh tahun. Aku lebih dari peka untuk mengetahuinya.”

Sehun terdiam, selalu tidak bisa menyembunyikan sesuatu dari Jongin maupun Chae Yoon. Jongin makin bersemangat untuk mengintrogasi Sehun, “jadi, siapa namanya?”

~000~

“astaga, aku lelah sekali.” Minsoo memijat bahunya yang pegal, meringis saat Baekhyun membantunya memijit dibagian kaki.

“kan sudah kubilang, istirahat saja. Ngeyel, sih.” Baekhyun mencibir, pijitannya sedikit mengeras untuk menjahili Minsoo.

Minsoo mengaduh lalu menjitak kepala Baekhyun keras, “ya! Kalau tidak niat membantuku, pergi saja sana!”

Baekhyun mengelus kepalanya yang malang, lalu tersenyum saat melihat wajah Minsoo yang merah padam, “marah saja terus, tambah cantik.”

Bukannya tersanjung atau apa, Minsoo malah melayangkan tatapan membunuh pada Baekhyun, lantas membenarkan posisi duduk. Lalu secepat kilat mengubah arah pembicaraan.

“kapan ayahmu pulang? Aku muak melihatmu bekerja di tempat terkutuk itu.”

“kau mengkhawatirkanku?”

“aku hanya bertanya.”

Baekhyun mengambil smartphonenya, mengecek kalender, mungkin. “mungkin seminggu lagi. kenapa?”

“baguslah. Setidaknya hidupmu tidak akan susah seperti ini.” Minsoo mengedarkan pandangannya ke segala arah kamar Baekhyun. Mengamati satu persatu perabotan di kamar itu. Sejatinya, Baekhyun adalah seorang anak konglomerat yang tidak suka berfoya-foya. Lebih memilih menetap di Korea dan menjadi pelayan Bar, ketimbang ikut ayahnya menjalankan bisnis di Hongkong.

“kenapa? Aku lebih suka begini.”

“sekali-kali nikmatilah hidup, Baekhyun.”

Baekhyun manggut-manggut, kembali mendudukkan dirinya disamping Minsoo, berniat memberikan kalung yang kemarin dia beli bersama Chanyeol, tapi, sebelum sempat tangannya terulur, sebuah dering telpon mengacaukan rencananya.

“halo?”

“…”

“astaga. Tidak parah, kan?”

“…”

“maaf ibu. Aku tidak bisa. Dua hari lagi aku harus ke Jeju, menjalankan proyek pertamaku.”

“…”

“baiklah. Sampaikan salamku untuk ayah.”

Minsoo menutup sambungan telepon, lantas menoleh pada Baekhyun, dan seketika itu juga Minsoo memeluk Baekhyun erat. Menangis dalam diam dalam pelukan Baekhyun.

Baekhyun tergagap, antara senang dan tidak mengerti. Tangannya terulur membalas pelukan Minsoo. Dapat dirasakan bila saat ini, bahu sahabatnya itu bergetar hebat.

~000~

“h—ha? Calon suami?” Chae Yoon mengerjapkan matanya beberapa kali, memastikan jika pendengarannya tidak bermasalah. Dia mengalihkan pandangannya pada Chanyeol. Laki-laki yang sekarang malah terlihat seperti idiot berkelainan mental.

Dahi Yonggi berkerut samar, menyadari perubahan atmosfer disekelilingnya. Dia segera menggandeng Chanyeol, menampakkan senyumnya yang lebar dan menjawab, “iya. Kalian sudah saling kenal, ya?”

Chanyeol terkesiap. Sadar dari lamunannya sendiri. Secepat yang dia bisa, dia lepaskan tautan tangannya dengan Yonggi. Sambil mengambil ancang-ancang untuk menjelaskan semuanya.

“ehm, jadi kami hanya sahabat. Orang tua kami sudah lama saling mengenal, dan kami sudah berteman sejak kami kecil.”

“o—oh, begitu. Lagipula tidak apa-apa jika kalian akan menikah. Chanyeol—ssi, kau benar-benar beruntung.” Chae Yoon tersenyum, bergerak canggung sambil sedikit memainkan poni-nya.

“Oppa, kita bisa makan siang bersama, kan?”

“e—eoh, tentu saja,” baru saja Chanyeol hendak mengucapkan salam pada Chae Yoon, Yonggi sudah lebih dulu menyerobot.

“maksudku dengan Chae Yoon.”

Chae Yoon menunjuk dirinya sendiri. Alisnya bertaut sama dengan Chanyeol, “aku?”

~000~

Suasananya benar-benar canggung. Mereka hanya menyantap makan siang dalam diam. Yang satu sibuk mengatur kerja jantungnya, yang satu merasa canggung berada diantara orang ‘pacaran’, dan yang satu tidak mengerti kenapa mereka seperti ini.

“apa kalian selalu seperti ini? Maksudku, hanya diam seperti orang asing?” Yonggi bersedekap, menghentikan makannya dan melihat tajam kearah dua orang didepannya. Tidak habis pikir pada manusia yang dia tahu sama-sama bodohnya.

“t—tidak, bukan begitu.” Chae yoon ikut menghentikan makannya. Sudah tidak berselera menyantap hidangan mahal didepannya. Dia hanya ingin menghilang dari tempat itu secepatnya.

Chanyeol menyuap makanannya sekali lagi. lantas menjawab, “memang kenapa?” dengan wajah polos-idiot-dengan-pipi-bakpao.

“a—“ Yonggi menghentikan pembicaraannya saat sebuah dering terdengar di telinganya.

“ada apa?” untuk sekejap, alisnya bertaut, lalu sedetik kemudian wajahnya merah menahan amarah.

“aku kesana sekarang.”

Syukurlah. Tuhan, Kau memang baik.

Yonggi bangkit seketika itu juga, diikuti oleh Chae Yoon dan Chanyeol. Dalam sekejap, Yonggi sudah membungkuk lalu pergi tanpa mengucapkan apa-apa. Membuat kedua orang itu menggaruk rambut dan menautkan alis.

“kenapa dia?”

“masa bodohlah.”

“apa?” Chae Yoon menengok pada Chanyeol yang langsung diberi gelengan cepat dari laki-laki itu.

“ah, tidak apa-apa. Ayo makan lagi.”

~000~

“kenapa tidak pulang saja?” baekhyun mengusap pelan rambut hitam ikal panjang Minsoo. Membuatnya sedikit tenang dalam dekapan pria itu.

“aku ada pekerjaan, Baek.”

“batalkan saja, bodoh. Chae Yoon juga pasti mengerti.”

“bukan begitu. Aku dan dia akan menjalankan proyek yang berbeda. Aku ke Jeju sedangkan dia ke Busan.”

“lalu?”

“kau ini bodoh atau apa, sih?”

“sepertinya tolol.”

Minsoo menghela napas sejenak, lalu melanjutkan, “aku dan dia bekerja sama dengan perusahaan yang berbeda. Kami mengurus perusahaan itu masing-masing.”

Baekhyun hanya manggut-manggut tidak mengerti.

“paham?”

“apa penting masalah paham atau tidak pahamnya?”

“terserah, tolol.”

“jadi lusa kamu ke Jeju?”

Minsoo mengangguk sambil tetap memainkan jarinya pada punggung Baekhyun.

“dengan siapa?”

partner kerja.”

“maksudku namanya.”

“Oh Sehun. Kenapa?”

“dia tampan?”

“jauh lebih tampan dan tinggi daripada dirimu.”

Hening.

“dan jauh lebih ber-uang.”

Baekhyun melepas pelukannya seketika itu juga. Matanya berkilat-kilat marah. Tidak terima atas kalimat terakhir yang diucapkan Minsoo. Tangannya memegang bahu Minsoo erat.

“YA! APA MAKSUDMU?” nadanya naik satu oktaf. Jelas jika Minsoo merasa kupingnya berdengung. Laki-laki ini benar-benar.

“memang kenapa? Itu kan kenyataan.”

“aku bisa beli apapun yang tidak bisa dia beli!”

“tapi sayangnya dia bisa membeli semuanya.” Kini tangan Minsoo bersedekap. Seperti sedang menyombongkan kekayaan seseorang yang baru dikenalnya sehari.

“lihat saja nanti.”

“kapan? Sampai kau tua dan mati?”

“astaga. Ayo kita taruhan.”

“cih, memang kau bisa apa, Tuan Byun?”

Baekhyun makin berapi-api. Lantas ide gila terlontar dari otaknya yang minim, “kalau aku menang, jadilah apapun yang aku mau. Kalau kalah, aku akan jadi apapun yang kamu mau.”

Minsoo tertarik dengan taruhan yang ditawarkan Baekhyun, “berapa lama?”

“terserah.”

Minsoo menimang sedikit perkataan Baekhyun. Karena dia yakin Baekhyun akan kalah, dia menjawab, “tiga bulan. Deal?” Minsoo mengulurkan tangannya, tersenyum sinis saat Baekhyun membalas uluran tangan Minsoo.

Baekhyun terseyum penuh semangat, “deal.”

~000~

“eh, kenapa kau mebuang waktumu hanya untuk ini?” Minsoo terkejut, saat Sehun jauh-jauh datang sendiri dari kantornya hanya untuk mengirimkan laporan padanya.

Sehun terkekeh, tangannya gatal ingin mencubit pipi bulat Minsoo, “ah. Tidak apa-apa, lagipula urusanku sudah selesai.”

Minsoo manggut-manggut, mengeluarkan kebiasaan menggelembungkan pipinya.

Dan itu membuat Sehun makin gemas.

“kau lucu juga, ya.”

Pipi itu kembali kebentuknya semula. Matanya menoleh dan alisnya terangkat, “apa?”

“ah, tidak apa-apa. Hanya saja, pipi itu membuatmu terlihat seperti anak kecil.”

Minsso memegang pipinya sendiri, merasa gugup saat mata mereka bertemu.

“boleh aku pegang?”

Minsoo sedikit terkejut, kakinya bahkan melangkah mundur sedikit, “apa?”

“itu—pipimu. Aku ingin mencubitnya.”

“a—ah,” sementara dia masih sibuk menimang pipinya yang akan dicubit oleh Sehun, laki-laki itu sudah lebih dulu menariknya dan menuntunnya ke parkiran mobil.

“ke taman saja, ya.”

~000~

Chae yoon menyantap eskrimnya dengan semangat, membuat Chanyeol terkekeh dan membantu membersihkan sisa eskrim diujung bibir Chae Yoon.

“kenapa?”

“apa yang kau lakukan?”

“mambersihkan sisa eskrim. Ada yang salah?”

“tidak sih, tapi jangan melakukannya dengan spontan. Itu membuatku kaget.”

“maaf.”

Setelah sepakat untuk menjadi teman dan memanggil dengan bahasa informal, keduanya benar-benar seperti seorang sahabat yang sedang melakukan reuni tahunan.

Chae Yoon menghentikan laju ayunan kayunya saat melihat seorang yang sangat dikenalnya. Chanyeol yang melihat Chae Yoon juga ikut menolehkan pandangannya pada arah pandang Chae Yoon. Seketika itu juga, dahinya sama mengerutnya dengan Chae Yoon. Lantas mereka sama-sama menyebutkan nama seseorang dalam waktu bersamaan.

“Son Minsoo?”

“Oh Sehun?”

Mereka saling pandang. Seperti menstransfer pemikiran masing-masing.

“mereka sedang apa disini?”

“mereka sekarang sudah menjadi partner untuk proyek-ku di Jeju.”

Chanyeol manggut-manggut. Lantas teringat pada pesan sekretarisnya. “oh, lusa kita akan ke Busan selama seminggu. Mulai menjalankan proyek pertama. Kau bisa, kan?”

Chae Yoon menengok pada Chanyeol, mengangguk dengan tetap memakan eskrimnya, “eoh, aku jamin aku bisa.”

~000~

“kau mambawaku jauh-jauh hanya untuk mencubit pipiku?”

“ooh, jadi kau mengizinkannya?”

“t—tidak. Tidak juga.”

Sehun tertawa. Wanita ini lucu sekali.

Oh Tuhan. Tolonglah jantungku. Dia bekerja terlalu keras hari ini. Dia tertawa karena kebodohanmu. Hanya karena itu, Son Minsoo. Jadi berhentilah gugup dan salah tingkah seperti ini!

“waah, pipimu merah seperti tomat.”

Sialan.

Minsoo kembali memegang pipinya yang panas, merasa jika oksigen habis seketika, “bohong. Pipi siapa yang merah?”

“itu. Pipimu.” Sehun sedikit menusuk pipi Minsoo berulang kali. Makin membuat sang empunya gugup tak karuan.

“e—eh, disana ada eskrim. Kau mau?” Minsoo sedikit melangkah mundur, mengubah topic pembicaraan dan secepat kilat, meninggalkan Sehun untuk membeli eskrim.

Dibelakang sana, Sehun terkekeh dengan senyum yang sangat jarang dia tampakkan. Membuat gadis SMA disana memuji wajah tampannya.

Kurang dari sepuluh menit, Minsoo kembali dengan dua eskrim coklat ukuran jumbo ditangannya. Lantas ikut duduk disamping Sehun, dan menyodorkan satu eskrimnya.

Mereka menikmati sore itu sekali lagi. membuat Sehun melupakan semua lelahnya. Membuat senyum manisnya kembali terpatri untuk kesekian kalinya. Dan mulai saat itu, dia akan berusaha membuat Minsoo jadi miliknya.

~000~

Malam mulai datang, matahari lelah dan giliran bulan yang menyinari bumi. Anginnya berhembus menusuk tulang, membuat dua orang disana merapatkan blazernya masing-masing.

“kau mau ke Jeju, ya?”

“tahu darimana?”

“Chae Yoon.”

Sehun tersenyum, melupakan bahwa dua sahabatnya sudah bekerja sama seperti dirinya.

“iya. Kau tahu? aku tidak sabar melakukannya.”

“yaaah, pesanku hanya satu.”

“apa?”

“berhati-hatilah, teman.”

~000~

Dengan sangat tidak bersemangat, Chanyeol menyantap makanan lezat buatan Yonggi. Rasanya memang lezat, tapi jika mengingat siapa yang membuat, lebih baik tidak usah memakannya.

Hari ini, tepat hari ulang tahun Nyonya Choi. Keluarga mereka mengundang keluarga Park untuk makan malam bersama. Special dengan Yonggi yang memasaknya. Kata Nyonya Park, masakan Yonggi sudah bisa dibilang seperti masakan ibu rumah tangga pada umumya. Dan itu membuat Chanyeol mual.

Dengan pakaian sederhana—tidak niat lebih tepatnya—Chanyeol datang terlambat ke acara itu. Dia sengaja menghabiskan waktu lebih lama dengan Chae Yoon dan Sehun. Daripada harus berkumpul dan membicarakan masalah bisnis, saham, investasi, dan hal lainnya yang membuat Chanyeol mengantuk.

Makanan itu sudah habis tak tersisa. Hanya tomat segar dan daun selada dipinggir piringnya. Dia meletakkan sendok dan garpu asal, mengambil anggurnya, lalu meminumnya cepat. Sudah mengatur rencana agar bisa pulang lebih dulu dari tempat itu.

“buru-buru sekali.” Nyonya Park yang melihat anaknya sudah menghabiskan anggur dalam sekali tenggukan itu berkomentar, membuat seluruh mata memperhatikan Chanyeol.

“tidak, Bu. Aku ada urusan mendadak.”

“tidak bisakah Oppa disini lebih lama sedikit? Tadi siang kita hanya bertemu sebentar.” Sialnya, Yonggi memasang tampang andalannya; membulatkan matanya dan mengerucutkan bibirnya.

“maaf. Ini sangat mendadak dan penting.”

“urusan apa, Chanyeol-ah?” Tuan Choi bersuara, menampakkan senyum manis di bibirnya yang mulai berkeriput.

“rapat dengan rekan kerja. Proyekku yang pertama akan berjalan mulai lusa.”

“astaga, cepat sekali.” Tuan Park terkekeh, tidak menyadari bahwa penerusnya sudah sejauh ini.

“iya, terimakasih semuanya. Aku permisi.”

Persetan dengan rapat, aku ingin bermain video games di apartemen Jongin dengan Sehun, lalu berpesta sampai pagi.

~000~

“ayahku kecelakaan.”

“astaga. Lukanya parah?”

“iya. Ada pendarahan di otaknya.”

“Ya Tuhan, kau mau pulang ke Jepang?”

Minsoo menggeleng, seraya menghapus kasar air matanya, “tidak. Ini proyek besar dan pertamaku. Ini kesempatan emas, dan tidak datang dua kali.”

“tapi jika seperti ini, ayahmu akan kesepian disana. Ibumu pasti mengurus perusahaan. Pulanglah, biar aku yang urus.” Chae Yoon tersenyum, sambil menyerahkan secangkir teh buatannya.

“kau tahu aku, Chae Yoon.”

Chae Yoon menghembuskan napas pelan, menyadari bahwa sahabatnya ini memang keras kepala. Mau membujuknya sampai mulutmu berbusa pun, tidak ada hasilnya.

“baiklah, itu terserah padamu.”

~000~

“ada perlu apa Nona Choi?”

“ayo temani aku jalan-jalan. Kita bisa menonton bioskop dan membeli popcorn, atau bubble tea, membaca buku, dan ke salon. Sempurna, kan?”

Chae Yoon berpikir sebentar, jalan-jalan dengan sahabat lama memang tak ada salahnya. Apalagi dia sudah jarang melakukan kegiatan menyenangkan seperti itu.

“baiklah.”

Mobil Yonggi melesat kencang diatas jalanan Seoul. Padatnya jalanan pada saat itu tidak membuat dua manusia disana lelah. Mereka menghabiskan waktu dengan mengobrol seputar dunianya sendiri. Sesekali tertawa saat salah satu dari mereka membuat lelucon. Kembali mengenang masa-masa indah mereka di Paris. Menertawakan kebodohan Chae Yoon yang kala itu kena marah Dosen karena lari dikejar anjing tetanggga. Yonggi yang terlambat delapan belas menit karena menonton drama Korea, dan mereka yang sama-sama membolos karena terlambat naik kereta.

Kurang lebih lima belas menit, mobil mewah silver itu sudah terparkir rapih di basement. Sang empunya keluar dengan membawa dompet besar berwarna coklat.Sedangkan temannya keluar hanya dengan pakaian kantor dan tas tangan kecil. Keduanya berjalan beriringan ke salah satu toko di Mall kawasan Seoul tersebut. Kakinya berhenti tepat didepan pintu masuk. Yonggi yang sudah tidak sabar ingin masuk segera menarik lengan Chae Yoon agar tidak terlalu lama menatap takjub salon mewah didepannya.

Mereka duduk bersebelahan, memesan apapun yang mereka inginkan. Menjadi wanita seutuhnya adalah kebutuhan semua kaum hawa. Memoles kuku dengan cat cantik nan mengilap juga salah satu keinginan semua wanita. Rambut halus dan wangi dengan warna cantik akan menambah kecantikan mereka. Yah, setidaknya itu yang akan mereka lakukan hari ini,

Tiga jam sudah mereka habiskan hanya untuk berdiam diri di salon itu. Dengan tampilan baru, mereka berjalan beriringan kearah bioskop. Memesan film yang akan mereka tonton dan membeli popcorn ukuran jumbo dengan rasa keju dan barbeque.

Sudah jam delapan lewat tiga puluh menit. Dan sekarang mereka sedang bersantai di sebuah taman dekat apartemen Chae Yoon. Melihat bintang dan bulan di malam hari, dengan angin yang berhembus lumayan kencang, apalagi ditemani beberapa bungkus snack dan ramen instant. Lengkap sudah.

“jadi, kau sudah lama kenal dengan Chanyeol Oppa?”

“tidak juga. Kami baru kenal mungkin seminggu yang lalu.”

“sepertinya dia menyukaimu.”

UHUK!

Minuman itu tumpah semua. Chae Yoon tersedak sampai mulutnya basah semua, sedangkan Yonggi hanya memasang tampang kenapa-aku-hanya-bertanya.

“apa? Bukannya kau menyukainya?”

“iya. Bahkan aku sangat mencintainya.”

Sambil mengelap mulut dan bajunya yang basah, Chae Yoon melanjukan, “lalu?”

“dia membenciku.”

“kenapa?”

~000~

Ketiga manusia yang sedang asik bersantai itu harus terganggu acaranya karena sebuah bel apartemen yang terus berbunyi di malam hari.

“Demi Tuhan jika itu adalah Chae Yoon akan kubunuh dia.” Jongin bangkit dengan malas. Langkahnya yang besar mampu membawanya ke pintu depan kurang dari semenit.

“Kim Jongin!”

Benar saja. Wanita itu datang dengan membawa tas besar. Seperti mau pindahan.

“astaga, apa lagi?”

Tanpa menjawab pertanyaan sang empunya apartemen, Chae Yoon menyembul masuk ke dalamnya, menaruh tasnya asal dan terjatuh tepat diperut Sehun.

“sialan.” Sehun membuang tas itu asal, kembali duduk dan bersiap menjitak kepala Chae Yoon, sampai suara Jongin menghentikan pergerakannya.

“eoh, kau temannya Chae Yoon?”

Didalam, Chae Yoon berteriak untuk orang didepan sana.

“Minsoo-ya, masuklah. Ada Sehun disini.”

~000~

“jadi kau mau menginap disini?”

Chae Yoon manggut-manggut, sedangkan Minsoo menggelengkan kepalanya cepat.

“tentu.”

“t—tidak, lebih baik aku pulang.” Ada cengiran canggung dibibirnya yang kecil.

Chae Yoon menengok pada Minsoo dengan tatapan kau-harus-mau.

Dan lagi-lagi Minsoo menggeleng.

“kau pasti merasa tidak aman jika dekat dengan kami.” Jongin bersuara. Menyadari perubahan raut wajah Minsoo, dia melanjutkan, “kau kira kami mesum, kan?”

BUUK!

Sebuah bantal ukuran besar mendarat tepat diwajah Jongin dua kali. Yang melempar, sama-sama berkata dengan kecepatan yang sama.

“yang benar saja!”

Chae Yoon tertawa terbahak, mencoba mengusap pipi Jongin yang kesakitan, yang ujung-ujungnya dia tampar karena merasa gemas.

Jongin makin mengaduh kesakitan, kedua tangannya menutup seluruh wajahnya yang ngilu. Teman macam apa ini?

“ya! Aku kan hanya bercanda.”

Jongin kembali mengalihkan pandangannya ke Minsoo, dengan cepat, Minsoo menjawab, “ah, bukan begitu maksudku. Hanya—“

“hanya karena kau gugup karena ada aku?”

Sehun terkekeh. Senyum jahil tercetak jelas dibibirnya, melihat pipi itu kembali memerah akibat ulahnya.

Kalau gugup cantik sekali.

Malam itu, mereka akhirnya menginap ditempat Jongin, Sehun yang kerjaannya hanya menjahili Minsoo. Dan Chanyeol yang memperhatikan Chae Yoon diam-diam. Juga Jongin yang terus dibully karena pikiran mesumnya.

Malam yang indah untuk mereka, berpesta dengan orang terkasih dan sahabat.

Orang terkasih? Aku masih tidak yakin untuk yang satu ini.

TBC

Wahahaha. Maaf ya yang ini gaje parah. Aku bingung mau kasih adegan romantisnya dimana. Tapi tenang, karena untuk yang chap selanjutnya, bakalan ada adegan romance. #spoilermodeon

Hope you like it! Sorry for typos, and thankyou for reading my fanfic!

Like and comment juseyoo~

-istri Sehun, tunangan Chanyeol-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2 thoughts on “You and I – Long Time No See (chapter 4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s