12

16[DRABBLE] 12

Title: 12 || Cast: EXO members || Rating: General || Genre: Brothership, Family, Sad, Angst || Length: Drabble

Written by .lallapo. (@lallapo_12)

 

Disclaimer: Officially mine!! Do not copy and paste without permission!

 

Author’s Note: Sebelumnya sudah di post di blog pribadi >> lallapo << Silahkan mampir untuk melihat fanfic-fanfic lain^^

 

***

 

 

‘Sekilas kenangan yang terbawa mimpi. Aku ingin mengaturnya sedemikian rupa hingga terasa tidak benar-benar nyata.’

 

 

Kamera milik laki-laki itu merekam kegiatan kakinya. Ia sibuk menendang pasir di bawahnya, merasakan pasir basah menyentuh kaki telanjangnya hingga sebuah suara membuat kegiatannya berhenti.

 

Hyeong!”, laki-laki yang membawa kamera itu berlari menghampiri sumber suara. Kamera yang sedari tadi belum dimatikan, merekam pemandangan di depannya dengan arah yang tidak beraturan.

 

Ia berlari dengan wajah bahagia, seakan-akan dunia ini hanya milik mereka. Ya, mereka. Bukan, satu orang atau dua orang saja. Tapi, mereka –dua belas orang–

 

Mereka saling memeluk bahu kawan di sampingnya. Tak ada rasa canggung di antaranya, pasalnya mereka sudah mengenal bertahun-tahun. Pemandangan di depan memang sangat indah hingga menciptakan senyuman tulus dan perasaan damai tanpa mereka sadari.

 

“Sudah lama sekali aku tidak merasa sebahagia ini.”

 

“Hei, kalian semua! Aku akan mengabadikan momen ini, kalian tetap berpose seperti ini ya…” Salah satu di antaranya mundur, melepaskan pelukan di sampingnya. Yang lain menoleh, mengarahkan semua perhatian kepadanya.

 

“Aku pinjam kameranya,” ucapnya kembali. Ia mengambil kamera dari salah satu di antara mereka.

 

Ia sudah siap di posisinya, “Ayo! Kalian semua menghadaplah ke matahari terbenam, aku akan memotretnya!”

 

Hyeong! Memangnya kau tidak ikut?”

 

Ia tersenyum, “Sudahlah… kalian menghadaplah ke sana dahulu.”

 

Akhirnya mereka melakukan perintah salah satu kakak tertua itu. “1… 2… 3…”

 

Satu foto telah terpotret. Dalam foto itu hanya tampak 11 orang saja. Dan semuanya tidak menampakkan wajahnya, selain siluet badannya. Tidak, tidak ada yang tahu bagaimana ekspresi kesebelas orang di dalam foto itu.

 

Tidak ada yang tahu bagaimana ekspresi mereka ketika foto itu nyata sekarang, hanya ada 11 orang. Dan terasa kurang.

 

 

***

 

 

Mereka berbaring di lantai hotel semenjak satu jam yang lalu. Setelah konser melelahkan, mereka berencana menghabiskan malam di lantai itu bersama-sama. Tidak ada maksud lain, mereka hanya ingin menghabiskan waktu berharga.

 

“Mulai sekarang, kalian harus membiasakan diri. Formasi akan berbeda.” Salah satu di antara mereka berujar, membuat kerutan halus di masing-masing kening temannya.

 

“Apa maksudmu, hyeong?”

 

“Janji kita…” Ia mengambil nafas panjang, “Aku tidak bisa menepatinya. Maaf.”

 

“Aku tidak tahu maksudmu, hyeong. Jangan bercanda!” Ya, satu dari mereka mulai menyadari ke mana arah pembicaraan ini bermuara. Ia, duduk kembali dengan wajah merah padam.

 

“Aku benar-benar tidak mengerti, memang apa yang terjadi hyeong?”

 

Dia menarik nafas dalam, “Aku sungguh minta maaf.” Dia memejamkan matanya dengan rapat. “Kuharap kalian bisa melakukan yang terbaik, walaupun tanpaku.”

 

Dan malam itu, kecanggungan terjadi di antara mereka. Semuanya sibuk dengan pemikirannya sendiri dan terdiam. Begitu seterusnya, hingga puluhan kamera yang menjepret wajah mereka serta pertanyaan-pertanyaan yang membuat telinga mereka terasa panas terlontar dengan mulusnya.

 

Ya, mereka sekarang hanya sepuluh. Lebih terasa hampa lagi.

 

 

***

 

 

Mereka duduk-duduk santai di ruang tamu, setelah selesai menuntaskan pertunjukkan untuk salah satu stasiun TV. Mereka lelah, meskipun masih beberapa hari setelah comeback lagu terbaru milik mereka muncul.

 

Salah satu dari mereka pergi ke dapur dan mengambil kaleng-kaleng minuman penyegar. Ia kembali dan membagi untuk seluruh keluarganya di situ. Setelah itu, ia mengungkapkan perasaannya, “Hyeong, aku merasa sakit di sini. Aku tidak kuat.”

 

Ya! Apa maksudmu??”

 

“Sepertinya aku harus kembali kepada keluargaku di sana. Aku lelah berada di sini. Agak tidak nyaman lagi, seperti dulu.

 

“Hentikan omong kosongmu, apa kamu tidak berpikir jika kami juga keluargamu?”

 

Hyeong! Tenang dulu,” lainnya menenangkan pelindung mereka. Terlalu terbawa emosi.

 

“Aku tahu aku terlalu buruk sebagai pelindung kalian, tapi setidaknya aku tidak mau kejadian dulu terulang lagi. Tidak, jika bisa tidak lagi.”

 

Hyeong, biarkan dia memilih sendiri jalannya. Kita juga tidak sepenuhnya berhak atas kehidupannya. Walaupun kita masih menganggapnya sebagai keluarga.”

 

“Maafkan aku. Aku akan mencari hidup yang lebih baik lagi di luar sana.”

 

Dan mereka sekarang, mereka yang masih menetap. Mereka bersembilan.

 

 

***

 

 

“Tenangkanlah dirimu,” ia memberi segelas air kepada pelindungnya, “Aku akan membantumu berbicara. Dan aku berjanji. Aku akan tetap bersama kalian. Kalianlah keluargaku, rumahku, tempat di mana aku akan pulang kembali. Percayalah padaku.”

 

Hingga sebuah lagu beredar di internet. Lagu yang menceritakan kuatnya sebuah ikatan untuk saling mendukung sama lain, walaupun sebenarnya tersirat kesedihan, perpisahan, dan kenangan di sana.

 

 

-End-

 

 

FF ini dibagi menjadi empat plot, masing-masing plot menceritakan tokoh utama yang berbeda dengan tokoh pembantu yang sama.

Seperti biasa, dimohon untuk meninggalkan jejak entah saran dan kritik. Karena apresiasi kalianlah yang membuatku semangat menulis^^
-@lallapo_12-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s