Ideal Lover

Ideal Lover

Title: Ideal Lover

Author: Jung Rae Mi

Cast: -EXO’s Sehun

-OC’s Asahina Yue

-etc

Genre: Romance, a little bit sci-fi and… i don’t really know

Rating: T

Length: Oneshot

A.N: HEY YOU GUYS! I’m terribly sorry for not coming back in a long time. Saya terjebak Writer’s Block yang cukup lama untuk fanfiksi straight dan kebanyakan menulis YAOI untuk fandom anime di FFn. Selain itu kegiatan organisasi dan tugas sekolah juga bertumpuk. All of the credits goes to Oh Se Hun yang memiliki ketampanan tiada akhir, dan Ryugamine Hibiki yang memberikan banyak inspirasi untuk fanfiksi ini, dan doujin Kuroko no Basuke AoKise berjudul “Ideal Boyfriend” karya Ogeretsu Tanaka.

Untuk A Longlast Happinnes, fanfiksi itu akan segera dilanjutkan, karena seperti yang saya katakan tadi, saya terkena WB. Saya akan berusaha semampunya lagi untuk melanjutkan fanfiksi itu.

Disarankan untuk mendengarkan lagu dari Stereo Dive Foundation -Daisy.

PENTING UNTUK DIINGAT: Cast di fanfiksi ini saya jadikan otaku, jadi mungkin akan ada hal-hal yang tidak dimengerti, dan akan saya sediakan keterangannya diakhir cerita.

Happy Reading!! ^^

.

.

.

“Maukah kau menungguku?”

“Menunggu?”

“Aku tidak ingin berpacaran dengan siapapun sekarang. Karena menurutku hubungan seperti itu hanya digunakan untuk main-main. Tapi, aku tidak ingin seperti itu denganmu. Berpacaran hanyalah hubungan penuh keraguan yang tidak berarti, jadi maukah kau menungguku hingga mapan? Hingga aku mampu menjadi sosok pendampingmu yang pantas untuk seumur hidupmu?”

“Ini kau melamarku?”

“Demi matamu yang pelit melihat dunia itu, tentu saja aku sedang melamarmu, tapi perjalanan kita masih panjang dan aku belum bisa maju begitu saja untuk bisa bersamamu. Jadi, tunggu aku. Kita akan jalani perjalanan ini bersama.”

“Tentu saja, bodoh. Dan aku tahu mataku ini lebih sipit dari orang Korea kebanyakan, tapi haruskah kau menyebutnya pelit melihat dunia?”

“Bukannya bagus? Matamu itu pelit melihat dunia, namun terus melihatku.”

Pip pip pip pip pip

Asahina Yue segera membuka mata. Menghela nafas, ia segera mematikan alarm ponselnya.

“Mimpi itu lagi.” Yue mengacak rambutnya kesal. Disibaknya selimut lalu segera menuju ke kamar mandi, ingin segera bersiap menuju kampus.

.

 

.

 

.

Setelah memastikan pintu apartemennya terkunci, Yue turun ke lobby dengan tangga, sekaligus olahraga singkat di pagi hari, menyambut resepsionis yang sudah membelikannya segelas piccolo di kedai kopi depan apartemen. Yue selalu meminta resepsionis itu menyediakannya kopi berhubung jadwal kuliahnya yang ketat membuatnya tidak bisa mampir kesana dan mencicipi kopi di pagi hari.

Ia segera menaiki bus kearah kampusnya begitu tiba di halte, duduk dan sesekali meneguk kopi sembari membaca buku, karena dosen dijadwalnya pagi ini selalu memberikan quiz dadakan.

Dan jujur saja, Yue tidak menyukai pemandangan kampusnya tiap pagi.

Selalu sama.

Para gadis dari berbagai jurusan berkumpul di satu titik, mengekori seorang lelaki yang berjalan bersama teman-temannya. Suara teriakan mereka yang mencoba menarik perhatian lelaki itu membuat telinga Yue berdenging. Ia segera meraih headphone dan mendengarkan seluruh soundtrack anime favoritnya untuk menutupi teriakan mereka.

Yue menghela nafas menyadari rintangan yang harus ia lewati untuk menuju kelasnya, yaitu melewati gerombolan penggemar itu. Lagian kenapa juga jurusan sastra dan bisnis digabung di satu gedung?!

Gadis itu berjalan berhimpitan di tengah gerombolan penggemar itu, berkali kali mengucapkan “permisi”, “bisa minggir tidak?”, hingga “awas air panas, air panas” mengingat kopi digenggamannya masih ada dan masih bersuhu tinggi.

Yue ingin bersujud syukur ketika tiba di tangga menuju kelasnya setelah melewati rombongan. Ia akan melangkah jika saja matanya tidak bertemu dengan hazel lelaki itu. Hanya sedetik lalu lekaki itu mengalihkan pandangan dan pergi.

Kaki Yue tidak melangkah menaiki tangga. Hanya terdiam di tempat dan mencoba menenangkan jantungnya yang berdetak cepat. Namun Yue segera menggeleng, mencoba mengembalikan dirinya kembali ke dunia nyata.

Memangnya dia siapa?

Dia hanyalah mahasiswa biasa di jurusan Sastra Inggris, sedangkan lelaki itu adalah mahasiswa populer kebanggaan jurusan Bisnis. Jarak antara mereka terlalu jauh.

Yue sadar ia tidak bisa meraih lelaki itu sekalipun telah menyimpan rasa suka sejak dulu.

“Oh Sehun…” gumamnya pelan, menaiki tangga dengan lambat. Dan benak yang mengembara kepada sosok Sehun.

.

 

.

 

.

“So, for next assigment, I want you guys to write a story, maximum 1500 words, and you’re going to tell us the story. The maint point of your story is, your true love. Simple isn’t it? And, since i’m going to Japan tomorrow, i’ll give you the time until next month. Besides, if you’re confused and need to ask something about this assignment, you can contact me with my e-mail, or videochat on Line or Skype. So, good day, students.”

Dosen berjanggut putih itu menutup mata kuliah terakhir Yue. Yue menutup buku catatanya lalu meraih ransel. Ia melirik kearah jendela kelasnya yang menampilkan pemandangan langit senja. Gadis itu segera berjalan keluar dari kelasnya. Lagu berjudul Daisy dari anime Kyoukai no Kanata mengalun dari headphone-nya.

Di perjalan pulang, Yue memutuskan membuat nikujaga untuk makan malam. Matahari sudah tak terlihat lagi ketika ia turun di halte dekat apartemennya. Menyapa resepsionis seperti biasa, Yue naik menuju apartemennya dan segera masuk.

Jika tidak tersandung sebuah kotak besar di dekat rak sepatunya. “Apa ini-? Uuuh…” Yue meringis merasakan perih dilututnya yang membentur lantai. Ia pun membuka kotak itu.

Dan teriakannya menggema di kamar apartemennya, yang untungnya, kedap suara.

Gadis itu menatap horor pada isi kotak tersebut. Yang ia temukan adalah Oh Sehun, dengan mata terpejam, duduk di dalam kotak. Yue menganga, kaget akan hal itu. “Si-siapa yang mengirimkan ini?!”

Tangan Yue berusaha mengeluarkan Sehun dari kotak itu, tubuhnya berat membuat Yue tidak sanggup hingga ia terjatuh dengan kepala Sehun yang terkulai di perutnya. Tampak selembar kertas terselip di jemari Sehun. Yue meraih kertas itu dan merasakan jemari Sehun yang sangat dingin, membuat gadis itu takut jika sebenarnya Sehun telah mati dan menjadi mayat.

Ia membaca kertas itu dengan seksama.

Ideal… Lover  Instruction?”

Kening Yue mengkerut membacanya. “Tekan telinga kiri lalu sebutkan 5 hal yang kau inginkan dari pasangan idealmu… ng? Apa-apaan ini?” Gadis itu meletakkan kertas di lantai lalu menatap pada tubuh Sehun yang terbaring dihadapannya.

Yue mendekat, lalu menekan telinga kiri Sehun, dan berujar, “aku ingin Oh Sehun yang ceria, perhatian, lembut, otaku, dan… Oh Sehun yang mencintaiku.” Sejurus kemudian gadis itu tertawa, “apa yang kulakukan? Memangnya ini nyata?”

Lalu kelopak mata Sehun terbuka. Ia segera mengambil posisi duduk dan meraih lengan Yue, memberikan gadis itu pelukan yang erat. “Aku mencintaimu, Yue.”

“E-EH?!” Yue meronta dari pelukan itu, wajahnya merah padam, dan ia menatap Sehun. “A-apa maksudmu Oh Sehun?!”

“Panggil aku Sehun.”

“Ka-Kau Sehun?!”

Lelaki itu membuka satu kancing kemejanya lalu memperlihatkan sebuah ukiran di dadanya. “Maafkan aku, tapi aku bukan Oh Sehun yang asli. Aku hanyalah sebuah robot program yang diciptakan untuk membuat pasangan yang ideal. Code name SX-0412.” Ukiran itu merupakan sebuah barcode. “Untuk menonaktifkan yang harus kau lalukan adalah menekan tombol di tengkukku.” Tangan ‘Sehun’ naik lalu menyentuh pipi Yue, “aku mencintaimu, Yue.”

.

 

.

 

.

“Uuh! Para gadis itu berisik sekali, sih.” Jung Sooyung mengeluh kesal. Ia menatap jengkel pada meja Sehun dan Kai yang dipenuhi penggemar mereka. Suasana kantin sangat berisik karena keberadaan kedua lelaki itu.

Soolyung hanya tertawa pasrah mendengar keluhan kembarannya itu, namun matanya menatap pada sosok Yue. “Yue…”

“Ng?”

“Kau tidak marah atau cemburu karena para penggemar itu?” Pertanyaan Soolyung membuat Sooyung tersadar.

“Iya juga.” Sooyung pun ikut menatap kearah sahabatnya itu, “bukannya kau sudah lama menyukai Sehun? Maksudku, kita sudah berada di semester akhir dan kau sama sekali tidak pernah mencoba untuk berbicara dengannya?”

Yue hanya tertawa, “astaga, Sooyung, Soolyung, aku memakai sistem tahu diri. Lihat dia,” Yue menoleh kebelakang, tepat kearah sosok Sehun yang tengah makan, “dia begitu populer. Dia kebanggan jurusan bisnis, kalian tahu? Bahkan banyak gadis cantik yang mengincarnya, gadis yang benar-benar pantas untuknya. Jadi aku lebih baik tidak usah berharap terlalu tinggi.”

Pasangan kembar itu mendengus tidak suka mendengar jawaban Yue. “Haloo, apa ada otakmu disana?” Sooyung mengetuk-ngetuk kepala Yue dengan keras, mengabaikan pekikan sakit gadis itu. “Kau bodoh, ya? Apa maksudmu dengan dia yang begitu populer?! Sehun menjadi populer sejak semester 5 karena menggantikan Kai dipertandingan basket, dan kau menyukainya sebelum ia menjadi populer! Kaulah yang melihat Sehun apa adanya!”

“Dan lagian,” Soolyung pun menambahkan, “si tuan populer itu sedang menatap kearahmu.”

Refleks Yue segera berbalik, lalu matanya kembali bertemu dengan mata Sehun. Namun gadis itu segera mengalihkan pandangan. Yang ada di benaknya sekarang adalah robot SX-0412, ‘Sehun’-nya.

Karena SX-0412, adalah ‘Oh Sehun’ yang mencintai Asahina Yue.

Pasangan idealnya.

.

 

.

 

.

Gadis itu membuka pintu apartemennya dan disambut oleh ‘Sehun’ yang duduk di sofa, memangku laptopnya dan menonton dengan serius. “Kau sedang apa?”

“Menonton Kyoukai no Kanata. Ini sudah episode terakhir.” Robot itu menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari laptop. Yue menatapnya lamat, membuatnya seolah melihat sosok Sehun yang asli dihadapannya. Tanpa mengganti baju, Yue segera duduk disamping Sehun. Menatap adegan dimana Kuriyama Mirai telah pecah dan hanya menyisakan sebuah cincin untuk Kanbara Akihito. Adegan yang selalu berhasil membuat mata Yue berkaca-kaca. SX-0412 yang menyadari itu segera merangkul Yue, dan membiarkan gadis itu bersandar di pundaknya. “Apa kau selalu menangis di bagian ini?”

Yue mengangguk. “Padahal aku sudah menonton anime ini ribuan kali, tapi tetap saja selalu berhasil membuatku menangis.”

Keduanya kembali menonton, dan saat ending dimana lagu Daisy dimainkan, Yue ikut bernyanyi. Ia sangat menyukai lagu ini. Dan SX-0412 merangkulnya semakin erat dan ikut menyanyikan lagu itu bersamanya. Membuat sebuah kenangan menyusup di benak Yue, dengan anime Kyoukai no Kanata dan lagu Daisy.

“Um… kau bisa makan?” Yue bertanya usai menonton.

SX-0412 mengangguk, “kami sudah diprogram agar bisa memakan makanan manusia, untuk membuat kesan pasangan yang lebih nyata.”

“Jadi, kau mau makan apa, Sehun?”

Robot itu tersenyum, “Kare? Karena diantara darah China-Jepang-Korea-mu yang paling kental adalah Jepang, ‘kan?”

Yue tertawa. “Tentu.”

Dan gadis itu mulai sibuk berkutat di dapur. Ia mulai memotong bahan dan menyiapkan bumbu. Entah mengapa kali ini ia sangat bersemangat untuk memasak. Mungkin karena sosok ‘Sehun’ yang akan makan bersamanya.

Sedangkan SX-0412 menatap kearah punggung Yue yang terlihat dari ruang tengah. Robot itu berdiri lalu berjalan menuju dapur. Program yang ada dikepalanya berjalan sesuai dengan 5 kriteria yang Yue inginkan.

Kedua lengannya pun memeluk gadis itu dari belakang.

“A-a… S-Sehun, ke-kenapa kau memelukku?”

SX-0412 meletakkan dagunya di pundak Yue. “Karena aku senang melihatmu memasak untukku.”

“T-tapi-”

“Aku mencintaimu, Yue.”

Gadis itu terdiam. Pipinya merah padam dan jantungnya berdetak semakin keras. Robot ini benar-benar terlihat seperti manusia, begitu nyata dan benar-benar ideal. “Ya, aku juga mencintaimu, Sehun.”

Yue menoleh, lalu bibir mereka bertemu.

Gadis itu tidak menyangka bahwa bibir robot itu terasa begitu lembut dan hangat.

.

 

.

 

.

Silent Majority dari Megpoid Gumi mengalun di telinga Yue. Gadis itu meneguk cappucino-nya sambil membaca novel Paulo Coelho. Headphone membungkam telinganya agar keributan dari penggemar Sehun tidak didengarnya. Lagu ini hanya di cover ulang oleh Gumi, sedangkan versi paling pertamanya dari Hatsune Miku sendiri. Namun Yue lebih menyukai suara Gumi dibandingkan Miku.

“Haa, kopi di pagi hari memang yang terbaik.” Yue menggumam pelan. Ia membayangkan bagaimana SX-0412 menghabiskan waktu hari ini. Mungkin dengan menonton anime seharian lagi di laptopnya. Membayangkan itu, Yue teringat akan kebiasaan seseorang ketika ia bersekolah di sekolah menengah atas.

Mata Yue menerawang. Ada alasan mengapa ia meminta salah satu kriteria idelanya itu otaku. Mengingatkannya akan lelaki yang ia cintai ketika masih mengenakan seragam sekolah. Lelaki yang meminta padanya untuk menunggu. Menunggu hingga ia mapan dan akan segera melamar Yue.

Sudah 4,5 tahun Yue menunggu. Kini ia sudah menjelang semester akhir. Dan janji itu mengambang.

Yue tidak tahu apakah seharusnya ia melupakan janji itu atau tetap percaya.

Yue bahkan tidak yakin apakah lelaki itu masih mencintainya atau tidak.

Bagaimana lelaki itu dengan jahilnya menyebut matanya pelit melihat dunia, bagaimana lelaki itu selalu mengusak rambutnya, bagaimana lelaki itu mencium bibirnya ketika mengucapkan janji itu.

“Setidaknya kini kau tahu, bahwa aku tidak main-main dengan janji ini. Bahwa aku benar-benar mencintaimu.”

Gadis itu mengela nafas.

Lantas… dimana dirimu berada?

.

 

.

 

.

“Aku pulang… Sehun?”

Robot itu terlelap di sofa. Yue mendekat lalu mengusap surai kecoklatannya lembut. “Selamat tidur.” Ia mengecup kening SX-0412 lalu menuju kamar untuk memgambil selimut dan menyelimutinya.

Yue duduk di sisi sofa, menatap kearah wajah SX-0412 lamat. Melihat betapa miripnya wajah robot itu dengan Oh Sehun. Kaos yang dikenakan Sehun agak longgar, sekilas memperlihatkan ukiran barcode didadanya.

“Hei, Sehun… beritahukan aku.”

.

 

“Kau ini sebenarnya siapa?”

 

.

 

.

Layar laptop menampakkan sosok berjanggut putih, suaranya pun terdengar. “Good day, Asahina.”

“Good day, proffesor.”

“Is there anything you need to ask about the assignment? Because honestly, nobody contacted me for this assignment, so I thought you guys already doing it. And why the smartest student in my class contacted me?”

Yue tertawa, “well, actually, I really need to ask you about this assignment. So, i’ve write about… 900 words, and i need to ask you, i’m kinda confused, do i really have to make it a happy ending story?”

“No, Asahina. You don’t have to.” Jawaban itu membuat Yue bingung. “True love doesn’t mean a happily ever after ending. Even you guys already loving each other so much, we never know God’s scenario.  Simply like that, wait, you don’t have a happy ending about your true love?”

Yue menggeleng. Wajahnya terlihat sendu. “I don’t know.”

.

 

.

 

.

Yue terbangun dalam pelukan ‘Sehun’ pagi itu. Rasa hangat menyelimuti tubuhnya. Ia membalas pelukan robot itu dan menyandarkan kepalanya di dada bidang robot itu. “Mngh, pagi, Yue.”

“Pagi Sehun. Kau mau apa untuk sarapan?”

Waffle sounds delicious.”

Yue segera bangun, gadis itu menyibak selimut dan berjalan menuju dapur. Ia menatap sejenak pada jendela besar di ruang tengahnya yang menampilkan langit cerah Seoul pagi hari. Gadis itu meregangkan tubuh lalu mulai membuatkan sarapan di dapur. Ia juga menyiapkan dua cangkir teh. Yue selalu suka untuk meminum kopi di pagi hari saat hari kuliah, dan meminum teh di minggu pagi.

“Lezat sekali!” Eskpresi SX-0412 tampak kekanakan ketika menyuap waffle ke mulutnya. Yue tertawa melihatnya. Ia tampak sangat berbeda dengan Oh Sehun yang asli, yang dingin dan pendiam.

Usai sarapan, SX-0412 menarik lengan Yue, membawa gadis itu ke sisi jendela besar di ruang tengah dan memeluknya. Robot itu menggumamkan sebuah nada, Yue mengenalnya sebagai salah satu lagu Yiruma yang berjudul It’s Your Day. Robot itu bergerak perlahan, dan Yue mengikuti gerakan kakinya. Menari pelan dalam alunan gumaman nada yang tenang. Keduanya bertatapan membiarkan bibir mereka saling berjumpa salam ciuman yang lama.

“Sehun.”

“Hmm…”

“Kau ini sebenarnya siapa?”

Robot itu melepaskan pelukannya. Ia menatap kearah Yue. “Aku adalah robot program yang diciptakan untuk menjadi pasangan ideal.”

“Kalau begitu, darimana kau berasal? Kenapa kau bisa berada begitu saja dalam kotak dan diletakkan dalam kamar apartemenku?”

Robot itu menggeleng. “Maafkan aku, untuk itu aku tidak tahu. Aku hanya diaktifkan olehmu, dan yang kutahu aku hanyalah sebuah robot program. Tingkah laku dan tindak-tandukku ini hanya sesuai dengan kriteria yang kau berikan.” SX-0412 menatap Yue lamat, “apa yang menganggumu?”

“… tidak. Tidak ada.” Yue menggeleng. “Maukah kau menemaniku menonton ulang seluruh episode GOSICK?”

“Kenapa tidak?” SX-0412 menngecup pelipis Yue lembut.

.

 

.

 

.

Dua minggu Yue bersama robot itu. Ia benar-benar menjadi pasangan paling ideal untuk Yue. Seketika Yue teringat saat robot itu memeluknya erat karena terbangun tengah malam akibat mimpi buruk, atau bagaimana ia menenangkan Yue ketika hujan deras dan petir terus menyambar membuat gadis itu ketakutan.

Hubungan keduanya terasa sempurna. Jika melupakan fakta bahwa bahwa ‘Sehun’ yang menemaninya selama dua minggu itu adalah robot.

“KALIAN BISA DIAM TIDAK?!”

Yue menoleh kaget ke sumber suara. Oh Sehun tampak emosi menatap para penggemarnya. Gadis itu menatap lamat dan menyadari keringat yang mengucur deras di wajah tampan lelaki itu. Tangan Sehun mengacak rambutnya kesal, Kai berusaha menenangkannya. Wajah lelaki itu lebih pucat dari biasanya.

Terlebih lagi, Sehun tidak pernah membentak seperti itu.

Yue menyadari satu hal, bahwa kondisi kesehatan lelaki itu sedang tidak stabil. Melihat Kai yang menyentuh kening Sehun dan berubah panik membuat Yue tahu bahwa lelaki itu terkena demam.

Tapi kenapa dia harus khawatir?

Itu bukan urusannya, ‘kan?

Dia hanya seseorang yang mencintai Oh Sehun dari jauh.

Yue menghela nafas dan segera menuju ke kelasnya.

Namun hatinya tak bisa berbohong. Ia diliputi rasa khawatir akan Oh Sehun.

.

 

.

 

.

“Aku pulang… hm?” Lagi-lagi yang Yue temui adalah SX-0412 yang tertidur. Langit sudah berbintang dari jendela.

Yue memutuskan menyiapkan makan malam untuk mereka berdua lalu mandi dan berganti baju. Ia duduk di meja belajarnya, meraih buku catatannya dan menatap beberapa paragraf cerita dari tugasnya.

Ia tidak bisa melanjutkan tugas ini.

Karena ia tidak tahu bagaimana akhirnya.

Lelaki yang berjanji padanya itu yang menjadi isi dari tugasnya. Dia cinta sejati Yue.

Karena sekalipun Yue tidak tahu bagaimana janji mereka kini, sekalipun jantung Yue berdetak cepat untuk yang lain, namun sosok lelaki itu tetap tergiang di hatinya.

Hanya bagaimana akhir antara keduanya tidak Yue ketahui.

Yue meraih pulpen dan menulis di bukunya,

The time is ticking, and i don’t know about our promise anymore. Few years has passed, and i don’t know abot our love anymore. The kiss we shared is the only memory about how happy we were back then.

I don’t know about the promise anymore.

But all I know is,

My eyes, still starring at him. And his name, still there, deep in my heart.

My only true love.

Yue menatap buku catatannya. Ia tersenyum puas begitu tugasnya sudah selesai. Diliriknya SX-0412 yang baru saja bangun. “Mmh, Yue kau sudah pulang?” Robot itu tersadar lalu mendekat kearah Yue. “Ada apa? Kenapa kau menangis?”

Yue tidak menjawab, hanya menenggelamkan wajahnya dalam pelukan ‘Sehun’, dan menangis disana.

.

 

“Hei, Kim Yue.”

“Kenapa kau memanggilku seperti itu?”

“Kan sudah kubilang bahwa aku akan melamarmu segera ketika mapan nanti, jadi kurasa sebaiknya aku membiasakanmu dengan nama belakangku, Nyonya Kim”

“H-haaah?”

“Astaga, wajahmu yang memerah itu imut sekali!”

“Sa- jangan cubit pipiku lagi! Sakit!”

“Salahkan wajahmu yang menggemaskan, Kim Yue.”

.

 

.

Kali ini bukan suara alarm yang membangunkan. SX-0412 yang membangunkan Yue pagi itu. “Kau punya jadwal kuliah pagi, ‘kan? Nah, ayo bangun.”

Yue hanya menuruti dan segera berjalan menuju kamar mandi. Matanya tampak membengkak karena terlambat tidur dan menangis hingga dini hari. Yue menghela nafas lalu segera mandi.

Sedangkan SX-0412 menatap pada buku catatan Yue yang masih terbuka di meja belajar gadis itu. “Janji…?”

.

 

.

 

.

Sooyung dan Soolyung mengatakan wajah Yue tampak mengerikan. Ditambah lagi dengan hinaan khas mereka, terlalu kasar dan harus di sensor. Namun itu sudah menjadi kebiasaan mereka. Sekalipun Yue dianggap sebagai mahasiswa dengan tutur kata paling sopan dan lembut oleh para dosen jurusan Sastra Inggris, namun jika bersama kedua sahabatnya itu, maka seketika tanggapan itu hilang.

“Mr. Brian tidak datang hari ini, jadi sebaiknya kau tidur saja di klinik, oke?” Soolyung berujar sesuai dengan informasi yang ia dapatkan.

“Wajahmu mengerikan sekali, mengingatkanku akan mantan.” Sooyung menahan tawa.

“Anjing maksudmu?” Yue memicingkan mata.

“Iya. ‘Kan mantan.” Kali ini Sooyung terbahak setelah mengatakannya.

“Bangshit.” Yue refleks mengumpat.

“Aww, aku juga mencintaimu.” Masih dengan tawa yang keras, Sooyung membalas Yue.

Yue segera mengacungkan jari tengah lalu berjalan menuju klinik di gedung kampusnya. Lorong kampusnya tampak ramai, membuat kepala Yue terasa sakit mendengarkan keributan disekitarnya. Kurang tidur membuat kepalanya terasa berat.

Yue membuka pintu klinik lalu menemukan Kai didalam sana. Ada Sehun disalah satu ranjang, tengah terlelap.

“Oh, halo Yue. Tumben kau kemari, uh, wajahmu mengerikan. Matamu itu sudah pelit melihat dunia, kau menangis apa semalam? Matamu bengkak begini membuatku curiga kau masih bangun apa tidak.” Kai menahan tawa.

Yue segera menendang tulang kering Kai. “Diamlah. Aku kesini untuk tidur. Kau sendiri?”

“Seperti yang kau lihat,” Kai menunjuk Sehun dengan dagunya. “Kondisi tubuh Sehun tidak stabil beberapa hari ini. Aku membawanya ke klinik karena ia nyaris pingsan tadi.”

“Kau serius?”

Kai mengangguk. “Sejak kemarin ia mengeluh tentang kepalanya yang sakit, badannya yang terasa lemas, dan suhu tubuhnya yang rendah.”

“Ooh- apa? Rendah?”

“Yep, rendah. Tubuhnya dingin dan makin pucat. Aku melihat Sehun sebagai mayat hidup.”

Yue menatap kearah Sehun, melihat keringat yang mengucur deras di wajah lelaki itu, keningnya yang mengkerut, dan alis yang bertaut.

Entah mengapa, namun dada Yue terasa sesak melihat Sehun tampak menderita. Jemarinya ingin segera mengusap surai kecoklatan itu dan menenangkannya.

Gadis itu tersadar, mengeyahkan pikiran itu lalu berjalan menuju ranjang yang berada di sisi lain ruangan.

“Tunggu, Yue.”

“Ya?”

“Bagaimana dengan dia?”

Yue membeku. “Dia?”

Kai mendekat lalu menatap kearah Yue. “Janjimu dan dia, bagaimana?”

“Yaah, kurasa… mengambang.”

Lelaki berkulit coklat dihadapannya mengerutkan kening. “Maksudmu?”

“Aku tidak tahu, Kai. Aku tidak tahu apakah dia masih mencintaiku apa tidak. Aku tidak tahu apakah dia masih mengingat janji itu apa tidak. Aku… aku tidak tahu.”

Kai menghela nafas. “Aku mengenal kalian sejak sekolah menengah atas, dan aku akan memberitahukan ini padamu Yue. Dia masih mencintaimu. Dia masih mau untuk memasangkan nama belakangnya di namamu. Dia… masih mengingat janji itu.”

Air mata Yue mengalir lagi. Kai segera meraih gadis itu dalam pelukannya. Yue terisak, “kalau begitu… katakan padaku, Kim Jongin. Dimana dia? Beritahukan padaku, dimana dia yang mencintaiku?”

Tangisan Yue mengalun di ruang klinik itu.

.

 

.

 

.

“Halo, Sehun.” Yue menyapa SX-0412.

Robot itu hanya mengangguk tipis, matanya fokus menatap pada tiap adegan dari DuRaRaRa!!  yang dinontonnya. Gadis itu melepas sepatu lalu duduk disamping SX-0412. Ia masih terbayang akan sosok Sehun yang, seperti ucapan Kai, tampak layaknya mayat hidup.

“Kau kenapa?”

Yue menyandarkan tubuhnya ke ‘Sehun’, “aku hanya khawatir. Sehun tampak seperti orang mati. Kesehatan tubuhnya sangat buruk.”

Dan yang bisa dilakukan ‘Sehun’ hanyalah mengusap rambut Yue, mencoba menenangkan gadis itu. Membuat gadis itu merasa nyaman, karena sekalipun robot itu fokus menonton anime, namun ia tetap perhatian untuk menenangkan Yue dari kekhawatirannya.

Namun mata Yue menemukan kertas instruksi Ideal Lover yang ia letakkan diatas meja. Yue meraih kertas itu lalu membacanya dengan seksama.

Ia baru menyadari satu kesalahannya. Tangannya bergetar ketika membaca seluruh kalimat yang tercetak di kertas tersebut.

Untuk beberapa saat, robot mungkin tertidur dalam jangka waktu yang cukup lama. Itu dikarenakan mereka mengisi energi dengan mengambil energi dari sosok yang asli. Dalam jangka waktu yang cukup lama, sosok yang asli akan segera tergantikan oleh robot ideal.

Gadis itu seketika merasa takut. Ia melakukan kesalahan.

“Sehun, dengarkan aku!”

Robot itu menoleh, menatap kearah Yue. “Ada apa?”

“Katakan padaku… apa Sehun asli yang sedang sakit sekarang itu karena dirimu?”

Robot itu menggaruk tengkuknya. “Yah, kurasa itu menjadi kesalahanku.”

Gadis itu membeku. Berikutnya tampak kalut dan panik, “ba-bagaimana ini, aku-aku…”

“Tapi Yue,” SX-0412 menggenggam jemarinya, “bukankah kau mengiginkan sosok Oh Sehun yang ceria, perhatian, lembut, otaku, dan sosok Oh Sehun yang mencintaimu? Dan inilah dia.”

Yue mulai menangis. Ia segera meletakkan kedua tangannya di pipi Sehun, “memang. Aku menginginkan Sehun yang seperti itu.” Gadis itu terisak. “Tapi aku tidak tahan melihatnya tampak sakit seperti ini. Dan kau- kau sudah menjadi seperti apa yang kuinginkan. Kau membuatku merasa dicintai, terima kasih, terima kasih banyak, SX-0412.”

SX-0412 pun meletakkan kedua tangannya di wajah Yue, senyumnya terlihat sangat indah. “Apakah ini perpisahan?”

Dan Yue mengangguk pelan. Robot itu mengecup ujung hidung Yue lembut. Keduanya berpelukan erat. Jemari Yue mulai mencari di tengkuk, dan menemukan tombol kecil di sana.

“Terima kasih banyak, untuk semuanya.”

Yue menekan tombol itu. SX-0412 menatap Yue dengan lembut, “janji diantara kau dan dia akan segera tertepati, Yue,” sebelum matanya tertutup erat.

Gadis itu terdiam tidak percaya mendengar ucapan robot itu. Bahkan mengetahui janji antara Yue dan lelaki itu. Yue menangis kembali. Janji yang mulai mengambang, entah akan dilupakan atau tertepati. “Sial, sial! Kau dimana…”

Dan Yue menghabiskan waktu menangis hadapan robot yang telah mati itu.

Entah berapa lama, namun perlahan Yue mulai tenang. Gadis itu meraih kertas instruksi lagi dan menemukan sebuah kode pos disana.

Jika robot telah dinonaktifkan, silahkan paketkan kembali lalu kirimkan pada kode berikut, dimana memori robot akan segera dihapuskan dan robot akan segera dihancurkan agar tidak ada penyalahgunaan.

Yue menatap SX-0412, mengecup keningnya lembut.

.

 

.

 

.

Oh Sehun makin membaik dari hari ke hari. Yue senang melihat itu. Sekalipun ia masih mencintai dengan jarak jauh, ia rasa itu tidak masalah lagi.

Sekarang ia duduk di kedai kopi dekat kampus. Resepsionis itu tidak hadir pagi ini sehingga kopi pagi Yue tidak ada. Dosennya pun masih di Jepang hingga ia mendapat jadwal kosong pagi ini.

Yue memesan sepiring waffle dan secangkir mocchacino. Buku catatannya terbuka lebar dengan pulpen ditengahnya. Ia masih belum yakin dengan akhir dari tugasnya.

Lalu suara teriakan memenuhi kedai kopi. Sehun dan Kai duduk di salah satu meja, lalu para penggemarnya pun mengikuti. Bahkan ada yang seenaknya meminta Yue pergi dari mejanya, untungnya gadis itu memiliki tatapan bengis yang membuat mereka beringsut takut dan mencoba mencari meja lain.

Yue mencoba kembali fokus ke tugasnya. Ia ingat apa yang dikatakan Kai di klinik tempo hari. Tentang janji yang masih diingat. Sekalipun gadis itu belum yakin, ia mencoret bagian akhir dari tugasnya itu, dan berpikir mencari bagian akhir yang baru.

Ia mulai menggumamkan lagu Daisy dan mengacuhkan dunia sekitarnya. Menyanyi dengan nada kecil sambil menatap buku catatannya.

Kemudian sebuah tangan muncul, mengulurkan sebuah kotak yang terbuka, memperlihatkan cincin didalam sana.

Yue mengangkat kepala kaget. Ia menatap kearah lelaki yang entah sejak kapan duduk dihadapannya. Menatap kearahnya.

“Kai berkata padaku, bahwa kau mencariku.” Lelaki itu berujar. Tangannya meraih tangan Yue dan menggenggamnya erat.

Yue menatap lekaki itu tidak percaya. “Kau-kau-”

“Aku masih mengingat janji itu. Aku sungguh mengingatnya. Alasan kenapa aku takut menemuimu selama ini, karena aku berpikir bahwa kau yang melupakan janji itu.”

“Mana mungkin aku melupakannya…” Yue terisak.

“Maaf.” Lelaki itu tersenyum tipis. “Aku tidak menyangka ada gadis yang benar-benar mempercayaiku meskipun aku sempat pergi sangat jauh.” Lelaki itu mengangkat tangan Yue dan mengecupnya. Yue menatap lelaki itu tidak percaya.

“Tentu saja, aku tetap mempercayaimu. Kau tahu mataku ini pelit melihat dunia, namun hanya menatap tepat kearahmu.”

Lelaki itu tertawa. “Jadi, Asahina Yue, selama ini aku selalu ingin menjadikanmu Nyonya Kim, sesuai nama belakangku. Namun orangtuaku bercerai dan akupun mengganti marga.” Lelaki itu melepaskan genggaman tangannya pada tangan Yue. Ia meraih cincin di kotak itu. “Aku tahu, sekarang aku masih belum terlalu mapan, aku masih magang di kantor ayahku, tapi aku sudah membeli tanah untuk rumah kita nanti.”

Yue mendengarkan semua itu dengan senyuman. Tidak menyangka bahwa lelaki itu benar-benar berusaha untuk menepati janjinya.

“Hanya saja aku tidak tahan lagi ingin menjadikanmu milikku. Aku ingin agar kita segera menepati janji kita bersama. Jadi, Asahina Yue, dengan margaku kini yang telah berganti, aku ingin bertanya padamu, dengan seluruh penggemarku yang sakit hati sebagai saksi, bahkan dengan Kai yang sepertinya sudah merekam semua adegan ini,”

Lelaki itu menarik nafas. Yue menyadari jemarinya yang bergetar karena gugup.

“Asahina Yue, maukah kau menjadi Nyonya Oh-ku?”

Dan tidak perlu waktu lama untuk Yue menjawab, “tentu saja, Oh Sehun.”

Sehun segera memasangkan cincin itu di jari manis kiri Yue, ia segera memajukan badannya lalu menarik dagu gadis itu, dan memberikan ciuman di bibirnya.

“Ya! Bagus, oke!” Kai sudah berlutut di samping meja dan bertindak layaknya fotografer profesional dengan modal kamera ponsel.

“Kai, hentikan.” Sehun melepaskan ciumannya, menatap kearah Kai yang tertawa puas.

Yue meraih pulpennya lalu segera menulis di buku catatannya.

We never know how’s God’s scenario is. For few years we never have another interaction. He’s gone  at some main time, and he’s back.

I thought our vow were broken.

But, he still remember it.

He put the ring on my finger. He kiss me right on the lips.

Now I know he still the one.

He called me with his surname.

And now, I’m the future Mrs. Oh Yue.

.

 

.

 

.

Pria berjanggut putih itu tersenyum puas melihat tugas mahasiswanya. “Well, you have your happy ending, Asahina.”

“Proffesor.”

Pria itu menoleh, menatap kearah sebuah yang berdiri tegap dibelakangnya. “You did good, SX-0412.”

Robot dihadapannya hanya mengangguk. Pria itu tersenyum di dalam laboratoriumnya. Ikut bahagia untuk mahasiswa kesayangannya itu.

.

 

.

 

.

End

 

A.N: well, maaf untuk cerita buruk ini. Saya sudah lama tidak menulis fanfiksi straight, kebanyakan menulis YAOI di FFn. Jadi maafkan untuk alur yang cepat, tidak jelas, tidak memberikan feels, dan typo.

p.s:

*Stereo Dive Foundation – Daisy, ending dari anime Kyoukai no Kanata.

*Kyoukai no Kanata, Kyoukai no Kanata (境界の彼方 Kyōkai no Kanata) atau Beyond the Boundary pada versi terjemahan bahasa Inggris, adalah sebuah serial novel ringan Jepang yang ditulis oleh Nagomu Torii, sementara ilustrasinya dikerjakan oleh Chise Kamoi (Wikipedia).

*Kuriyama Mirai, karakter utama perempuam dalam anime Kyoukai no Kanata. Memiliki ciri khas rambut berwarna pink dan kacamata frame merah.

*Kanbara Akihito, karakter utama laki-laki di anime Kyoukai no Kanata, merupakan manusia yang abadi karena terlahir setengah youmu, dan sangat menyukai gadis berkacamata.

*Vocaloid, Vocaloid (ボーカロイド ?) adalah perangkat lunak produksi Yamaha Corporation yang menghasilkan suara nyanyian manusia(wikipedia).

*Megpoid Gumi, merupakan penyanyi digital dari Vocaloid.

*Hatsune Miku, sama seperti Gumi, Miku juga berasal dari Vocaloid.

*GOSICK, Gosick (GOSICK -ゴシック- GOSICK -Goshikku-) adalah sebuah serial novel ringan yang ditulis oleh Kazuki Sakuraba dan diterbitkan oleh Fujimi Shobo (wikipedia).

*DuRaRaRa!!, Durarara!! (デュラララ!!), sering disingkat menjadi DRRR!! , adalah sebuah serial novel ringan Jepang yang ditulis oleh Ryohgo Narita, dengan ilustrasi oleh Suzuhito Yasuda, yang telah diadaptasi menjadi serial anime Jepang (wikipedia).

Iklan

6 thoughts on “Ideal Lover

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s