Senior High School (Oneshot)

400_f_22133926_vyqzbkfbb1je2trkvk0xresydjuruybf

Title     : Senior High School

Author : rindaapus

Main cast: Oh Sehun, Park Chanyeol, Byun Baekhyun , OC

Genre  : Romance, School Life

PG       : 15 PG

Length : One shot

Disclaimer: FF ini karya resmi milik author, maafkan bila banyak typo dan kesalahan~

Satu hal yang tidak bisa diputar adalah waktu.

Pintu kelas terbuka, seorang lelaki berjalan keluar ruangan dan terkejut ketika melihat seorang gadis berambut sebahu tepat berdiri di hadapannya. Lelaki itu memegangi dadanya yang nyaris berhenti berdetak, kedua bola matanya ikut terbelalak kaget. Sang gadis hanya bisa mengrenyitkan kedua alisnya tak mengerti dengan sikap aneh lelaki itu.

Wae?” tanya Saerin melihat Sehun dengan heran. Hening. Sehun tak berniat menjawabnya.

Mani appa?” tanya gadis itu sekali lagi melihat gelagat Sehun yang tidak biasa. Wajah putih pria itu terlihat sedikit pucat. Bukannya menjawab, pria tampan itu malah pergi begitu saja meninggalkan Saerin yang mematung tak percaya.

“Apa aku memakai bedak terlalu tebal?” gumam Saerin mengusap pipinya.

“Kenapa dia melihatku seperti melihat hantu? Cih. Lihat ekspresinya tadi, kenapa ia harus memegangi dadanya dan melotot ke arahku? Dasar..” lirih Saerin kesal menatap bahu Sehun yang semakin menghilang dari pandangannya. Gadis itu kembali melangkahkan kaki jenjangnya masuk ke kelas.

“Saerin-ah” sapa Baekhyun tiba-tiba duduk lalu seenaknya mengambil sandwich milik Saerin. gadis itu mendengus melihat tingkah Baekhyun yang selalu mengambil bekal sarapannya.

“Kau sudah bertemu Sehun?” tanya Baekhyun di sela-sela kegiatan mengunyahnya. Gadis itu mengangguk pelan.

Waeyo?” Saerin hanya bisa menggigit bibir bawahnya ketika melihat Baekhyun makan dengan lahap. Gadis cantik itu menelan air liurnya sendiri.

“YA. Beri aku sedikit. Aku juga lapar” pinta Saerin mengulurkan tangannya hendak merebut sandwich dari tangan Baekhyun. Reflek. Lelaki itu segera menjauhkan tangannya dari Saerin.

Andwaee! Aku lapar!” tolak Baekhyun yang berhasil membuat Saerin naik pitam. Gadis itu bangkit berdiri lalu mencoba mengambil paksa sandwich miliknya.

“Tapi itu milikku. Apa kau lupa?! Dasar berandalan sialan” Saerin masih berusaha mengambil sandiwich itu sambil terus mengumpat. Akhirnya, dengan beberapa umpatan Baekhyun mau mengalah. Saerin melahap habis roti itu dan disambut dengan tatapan sinis dari Baekhyun. Lelaki itu kembali teringat topik pembicaraan mereka berdua.

“Lalu bagaimana?” tanya Baekhyun menghadap kesamping, kearah Saerin.

“Bagaimana apanya?” tanya balik gadis itu tanpa melihat Baekhyun.

“Sikap Sehun” jawab Baekhyun terlihat sekali sangat penasaran. Gadis itu menatap Baekhyun dengan mata penuh selidik.

“Kenapa tiba-tiba kau menanyakan hal ini?”

Ani. geunyang.. hehe” cengir Baekhyun menggaruk-garuk tengkuknya yang Saerin yakin itu sama sekali tak gatal.

“Dia melihatku seperti melihat hantu” jawab Saerin lalu meneguk susu dari botol minumnya.

“Sudah kuduga. Lelaki idiot itu benar-benar….” umpat Baekhyun mengepalkan kedua tangannya dan memukul pelan meja berulang-ulang.

“Tapi ngomong-ngomong, ada apa dengan Sehun? Apa dia sakit? Wajahnya terlihat sedikit puc….” Saerin menolehkan kepalanya kesamping tempat duduknya. Kosong. Tak ada siapapun di sana.

“YA!!!!” teriak Saerin terdengar menggema di ruang kelas.

Baru sedetik yang lalu, lelaki pembuat masalah itu sudah menghilang. Saerin meremas kedua tangannya kesal. Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Oh Sehun, mereka sama saja!

****

Matahari pagi belum terlihat namun seorang gadis nampak tengah sibuk. Pemandangan yang langka bagi Saerin untuk bangun sepagi ini. Sebuah tas ransel hitam dilemparkan begitu saja oleh sang pemilik ke atas ranjang. Saerin membalikkan tubuhnya menghadap ranjang tidurnya, senyuman puas ia tunjukkan dari kedua sudut bibir tipis itu. Wanita paruh baya muncul dari balik pintu, beliau terperangah melihat pemandangan yang diciptakan anak gadisnya.

Eotte eomma?” tanya Saerin tersenyum manis.

“Bagaimana apa maksudmu? Kau akan membawa semua snack ini?” tanya wanita itu mengobrak-abrik pelan snack-snack yang ada di atas tempat tidur anak semata wayangnya.

“Tentu saja. Saat udara dingin perutku terus saja meraung-raung minta jatah lebih” Bugg..sebuah pukulan mendarat dikepala Saerin. Gadis itu mendengus pelan sambil mengusap kepalanya.

“Udara dingin maupun panas tidak berpengaruh untuk gadis sepertimu. Aigoo… kau tahu berapa kali eomma membeli snack dalam seminggu? Eomma yakin, bahkan para pegawai swalayan sudah hafal dengan wajah eomma” kata beliau terlihat frustasi melihat tingkah Park Saerin.

“Bagus kalau begitu. Eomma bisa mendapat diskon” Bugg.. lagi-lagi sebuah pukulan mendarat dikepala Saerin.

“Mereka itu hanya pegawai, kau tahu pegawai?! Bagaimana pegawai bisa memberikan diskon”

“YA. Appoo! Apa eomma tahu betapa berharganya kepalaku ini?!” teriak Saerin kesal karena beliau selalu memukul kepalanya. Wanita paruh baya itu menggelengkan kepalanya pelan, lalu mulai menge-pack barang-barang Saerin.

Mwoya ige? Kau bahkan tak membawa baju. Kau mau terus memakai pakaian itu!!?” Saerin menutup kedua telinganya. Ia yakin, teriakan itu mengalahkan meteor.

Igo” jawab Saerin enteng menyerahkan sebuah baju lengan panjang bewarna putih. Melihat ekspresi eommanya, gadis itu tahu apa yang harus ia lakukan setelah ini.

“Kau membawa banyak makanan tapi kau hanya membawa sepotong baju? Anak nakal…” Saerin berlari keluar kamar, ia tahu kebiasaan eommanya, marah-marah.

Eommaa! Aku hanya menginap satu hari saja, satu hari.. Jangan berlebihan” ucap Saerin berada di depan pintu.

“Satu jam, satu hari tetap saja kau tidur di luar tanpa penghangat. Tubuhmu tidak tahan dengan hal seperti itu”

“Tinggal memakai jaket apa sus..” Saerin menghentikan ucapannya karena saat ini sebuah bantal melayang tepat ke wajahnya. Gadis itu meniup beberapa helai rambut yang jatuh di wajahnya dengan kesal.

Arra!!! Arraseo!!! Tidak perlu memukulku!!”

***

Memangnya apa yang lebih menyejukkan daripada udara desa yang masih asri belum terlalu terkontaminasi oleh polusi udara dan limbah pabrik seperti di kota-kota besar? Tak ada dan tak bisa dipungkiri, udara di desa sangat sejuk. Deretan pepohonan hijau tak terhitung jumlahnya, bahkan aroma khas embun masih terasa. Begitu asri, damai dan juga… dingin.

Apalagi jika di desa yang berada di daerah pegunungan. Seperti Saerin saat ini, sekolahnya tengah mengadakan penelitian tentang tanaman hijau sekaligus perkemahan selama dua hari satu malam sebagai bahan ujian praktek akhir sekolah. Gadis itu melangkahkan kakinya turun dari bus lalu berjalan lurus menatap betapa luas hamparan hijau di hadapannya. Ratusan pepohonan berbaris rapi di bawah sana, mata air mengalir sejuk terdengar sangat menenangkan, di hadapannya sebuah gunung terpampang jelas di depan mata. Semua terlihat jelas dari atas dataran ini.

“YA. kita tidak akan pernah mendapat pemandangan seperti ini di Seoul” ucap Nayoung disamping Saerin dengan tatapan takjub akan pemandangan langka yang ia lihat. Gadis itu tersenyum lebar dan menghirup udara segar sebanyak-banyaknya, kedua tangannya terentang bebas. Nayoung membuka kedua kelopak matanya yang terpejam ketika menyadari seseorang disampingnya terlihat tak ada kehidupan.

“Park Saerin” panggilnya melihat Saerin yang mematung dengan pandangan kosong.

“Saerin-ah” panggil Nayoung sekali lagi dengan nada lebih keras. Saerin menolehkan kepalanya dengan mata sayu.

“Aku akan mati, tak akan lama” lirihnya frustasi. Nayoung menautkan kedua alisnya tak mengerti.

Wae?

“Bisa kau beritahu aku berapa suhu udara malam nanti?”

“Emm… sekitar minus empat derajat” jawab Nayoung kembali memasukkan ponsel berwarna putih itu kedalam saku jaketnya. Mendengar jawaban sahabatnya, tanpa sepatah kata apapun Saerin menolehkan kepalanya kembali kedepan, menatap kosong pegunungan dengan sayu.

“Nayoung-ah..”

“Hm?”

Saranghae.. tolong sampaikan pada eomma aku juga mencintainya” lirih gadis itu terlihat tak berdaya.

“YA!! Kebiasaan membualmu mulai lagi. Jangkkaman.. Hoksi.. Kau tidak membawa obat?” Saerin mengangguk lemas. Meng-iyakan pertanyaan Nayoung.

Pabbo-ya. bagaimana bisa kau? aishh….” Nayoung mengacak pelan rambutnya frustasi. Bagaimana bisa Saerin tidak membawa obat di suhu dingin seperti ini.

Molla.. Mollaa.. aku tidak tahu kalau kita pergi ke pegunungan. Kupikir hanya… Hahhhmicheo-sseo ” Saerin tak kuasa menopang beban tubuhnya, ia menjatuhkan tubuhnya di atas rumput hijau.

Eotteokhe eomma….” Lirih gadis itu tiba-tiba saja merindukan eommanya yang cerewet. Saerin…. ingin pulang

***

Setelah seharian melakukan berbagai pengamatan tentang tumbuhan hijau dari mulai pembibitan, penanaman, pemeliharaan, dan sampai pengolahan, yang para siswa yakin mereka sebenarnya tak peduli dengan hal semacam itu jika bukan karena nilai biologi, karena hal yang menjadi inti dari kegiatan perkemahan adalah saat ini, saat malam api unggun.

Saerin terlihat tengah memakai baju, tak tanggungg-tanggungg ia mengenakan rangkap tiga, miliknya dan milik Nayoung. Setelah itu ia lapisi dengan jaket tebal lalu berjalan keluar tenda, dengan langkah gemetar ia menghampiri para sahabatnya, si perhatian dan baik hati Ju Nayoung, pembuat masalah Byun Baekhyun, pasangan pembuat masalah Park Chanyeol, dan juga… si pendiam tapi berandal, Oh Sehun.

“Saerin-ah. Snack! Snack!” teriak Baekhyun terlihat antusias, Saerin berdecak pelan melihat tingkah lelaki itu kemudian menyerahkan sekantung plastik penuh snack.

“Waaaa…” sambut Chanyeol dan Baekhyun melihat snack yang begitu banyak. Saerin menautkan kedua alisnya melihat Sehun yang lagi-lagi hanya diam.

“Oh Sehun. kau tidak mau?” tawar Saerin yang hanya dibalas gelengan kepala oleh Sehun. Gadis itu terdiam sejenak kemudian menganggukkan kepalanya pelan. Tumben sekali.

“Wajahmu sangat menakutkan” lirih Chanyeol menatap wajah Saerin yang mulai merah-merah karena cuaca dingin. Saerin alergi terhadap udara dingin, biasanya kulitnya akan merah-merah gatal kemudian dadanya terasa sesak. dan itu tak lama lagi.

“Biar saja, itu karena kebodohannya sendiri” ucap Nayoung menatap api unggun di hadapannya. Setidaknya  api unggun membuat udara lebih menghangat.

Melihat tak ada yang peduli, Saerin mendengus sebal dan tak sengaja kedua matanya bertemu dengan mata Sehun. untuk sejenak mereka bertatapan. Saerin heran kenapa Sehun bersikap aneh akhir-akhir ini padanya, ia berjalan mendekati pria itu.

“Sehun-ah, bisa kau pegang tanganku” tanya Saerin mengulurkan tangan kanannya. Ia tahu, tangan Sehun selalu hangat kapanpun itu. dan juga sudah menjadi kebiasaan Saerin untuk menggenggam tangan lelaki itu jika kedinginan. Sehun menatap wajah Saerin yang terlihat mulai memerah, ia beralih menatap tangan Saerin yang juga memerah.

“Sehun-ah. Lepaskan jaketmu dan genggam tangannya erat-erat” kata Nayoung disela-sela makannya.  Dan dijawab dengan anggukan setuju dari Chanyeol dan Baekhyun yang tengah asyik nyemil.

“Oh Sehun, ppali. Aku kedingingan” ucap Saerin dengan nada gemetar.

Nega wae? aku juga kedinginan”

Duar. Seperti sebuah sambaran petir di malam hari, ucapan Sehun benar-benar terdengar menakutkan. Hening. Angin malam semakin berhembus kencang, tak ada yang mengeluarkan sepatah katapun, baik mereka bertiga maupun Saerin dan Sehun.

“YA. Bukankah kau selalu melakukan hal itu pada Saerin?” tanya Baekhyun menatap Sehun kecewa. Dari ekspresi lelaki itu, sepertinya ia tahu sesuatu.

“Oh Sehun. bukankah kau menyukai Saerin?” pertanyaan Nayoung berhasil membuat keadaan hening sejenak. Saerin meremas ujung jaketnya, Chanyeol, Nayoung, dan Baekhyun menunggu-nunggu kata yang keluar dari mulut Sehun.

“Ani” jawab Sehun singkat, eskpresi sedingin es kembali lelaki iitu tunjukkan, ekspresi yang tak pernah ia tunjukkan. Sehun berjalan pergi. Mereka berempat sempat melongo bersamaan mendengar ucapan Sehun. benarkah yang mereka lihat itu Sehun? Pria yang sangat tergila-gila dengan Saerin, pria yang menyukai Saerin sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama, pria yang selalu membuntuti Saerin kemanapun gadis itu pergi, pria yang pertama kali sigap jika Saerin terluka atau tersakiti. Dan benarkah yang mereka lihat tadi Oh Sehun?

“Pakai saja punyaku” Chanyeol memakaikan jaket miliknya ketubuh Saerin yang terlihat bmmatung melihat Sehun berjalan menjauh. Pria tinggi itu merangkul bahu Saerin dari samping. Nayoung menghampiri Saerin dan memeluk sahabatnya erat.

Aigoo… aku akan memelukmu. Oh Sehun pasti sudah tidak waras” ucap Nayoung yakin jika Sehun saat ini sedang mencoba bersandiwara. Sementara itu, lain halnya dengan Baekhyun dan Chanyeol yang tak menganggap Sehun tengah bercanda.

Saerin diam dan terus menatap bahu Sehun yang semakin menghilang dari pandangannya, tenggorokannya terasa tercekat, ia kesulitan untuk menelan air ludahnya. Gadis itu merasakan dadanya mulai memanas dan terasa sesak. Saerin tak tahu, sesak yang ia rasakan karena melihat sikap Sehun atau memang karena alerginya. Yang jelas saat ini, dadanya terasa semakin sesak, sangat sesak hingga ia sulit bernafas.

***
Sorak-soray keramaian terdengar dari sekelompok siswa tingkat akhir yang berhasil menyeselesaikan satu dari beberapa ujian praktek yang harus mereka kerjakan. Ya.. setidaknya satu sudah selesai. Para murid mulai mengepack barang-barang bawaan mereka lalu segera menuju bus untuk perjalanan pulang.

Tak ada yang mereka inginkan lagi selain pulang dan tidur di kasur yang empuk, melakukan berbagai kegiatan cukup membuat lelah di tambah udara dingin yang sangat tidak bersahabat. Seorang gadis berambut lurus sebahu tersenyum lebar berjalan memasuki bus. Akhirnya, inilah yang ia tunggu-tunggu.

Namun, Saat kaki kanannya hendak melangkah masuk, tak sengaja matanya menatap seorang pria berkulit putih tengah berjalan menaiki bus selanjutnya. Saerin menghentikan langkahnya dan segera berlari menghampiri lelaki itu.

“Sehun-ah!” teriaknya. Lelaki yang dipanggil Sehun itu menolehkan kepalanya, seorang gadis berdiri tepat dihadapannya. Dadanya mencelos melihat seluruh wajah dan tubuh Saerin memerah, sangat miris melihatnya. “Park Saerin, kau baik-baik saja?” batin lelaki itu dalam hati. Gaadis berambut sebahu itu meremas kuat ujung jaketnya dan kembali mengeluarkan suara.

“Bukankah kita berada di bus yang sama?” tanya gadis itu ragu-ragu, ia takut melihat ekspresi Sehun yang begitu dingin. Mendengar pertanyaan Saerin, Oh Sehun segera menepis semua perasaannya. Tidak! Tidak lagi.

“Oh Sehun apa kau berusaha menghindariku?” Saerin bertanya sekali lagi, ia begitu penasaran dengan perubahan sikap Sehun yang begitu dingin padanya.

“Park Saerin, dengarkan aku baik-baik” Sehun akhirnya mengeluarkan kata-katanya. Saerin menarik kedua sudut bibirnya keatas, akhirnya Sehun mau bicara lagi padanya. Mata indah itu menatap kedua bola mata Sehun yang juga tengah menatap kearahnya, namun lagi-lagi pria itu mengalihkan pandangannya. Sehun menarik nafas dalam-dalam, kedua matanya terpejam sesaat lalu kembali melanjutkan kalimatnya.

“Saat ini, aku sedang berusaha melupakanmu” ucap pria itu menatap dalam kearah Saerin. Gadis itu diam mematung mendengar setiap kata yang keluar dari mulut lelaki dihadapannya. Kedua sudut bibir yang semula ia tarik keatas membentuk sebuah senyuman kini tak terlihat lagi.

“Untuk itu, kumohon padamu jangan berbicara padaku lagi” Sehun menyelesaikan kalimatnya dengan sempurna kemudian berjalan menaiki bus meninggalkan Saerin begitu saja. Lelaki itu mengepalkan kedua tangannya kuat. Ia ingin berteriak sekeras yang ia bisa.

Sementara itu, entah mengapa Saerin merasa tak kuasa menahan beban tubuhnya, kedua kakinya bahkan terasa lemas. Mata indahnya berkaca-kaca, sakit itu kembali lagi, sakit yang menyerang dadanya hingga ia kesulitan untuk bernafas.

“Park Saerin!!!”

“Saerin-ah!” teriak ketiga sahabatnya. Gadis itu berbalik dan tersenyum, menyembunyikan perasaannya saat ini.

***

Pintu berwarna putih terbuka, Chanyeol dan Nayoung muncul dari balik pintu memasuki sebuah ruangan serba putih yang tak lain adalah rumah sakit. Chanyeol berteriak melihat kedatangan kedua sahabatnya. Nayoung hanya menggeleng pelan melihat tingkah Chanyeol yang kekanak-kanakan. Ia menghampiri Saerin yang tertidur di ranjang dengan infuse terpasang di tangan kiri gadis cantik itu.

“Aigoooo.. Uri Saennie” ucapnya memeluk Saerin dengan penuh rindu. Baru dua hari tidak masuk sekolah, tapi terasa bertahun-tahun tidak bertemu. Itulah sahabat.

“Hei. aku baik-baik saja” jawab Saerin membalas pelukan Nayoung sambil tersenyum.

“Saerin-ah. Aku akan menghiburmu” kata Baekhyun memperlihatkan sesuatu yang ia bawa, sebuah gitar. Jemari lelaki itu mulai memetik senar dawai dan menghasilkan sebuah nada yang tentunya merusak telinga siapapun yang mendengarkan. Ditambah suara cempreng Chanyeol yang tidak ada bagus-bagusnya sedikitpun membuat Nayoung dan Saerin menutup telinga rapat-rapat.

“Geumanhe!!!!” teriak Nayoung mendengar semua keributan itu.Namun, si pasangan pembuat masalah tak mendengarkan ucapan gadis itu sedikitpun. Alhasil, kini mereka bertiga saling melempar sesuatu yang bisa untuk dilempar. Hal itu sukses membuat tawa mereka berempat lepas.

Melihat mereka tertawa, membuat Saerin teringat dengan Sehun. “Sehun-ah, kau pasti datang kan?” batin Saerin dalam hati. Sejujurnya, ia sangat ingin pria itu datang menghibur dirinya bersama ketiga manusia itu.

Setelah cukup lelah dengan kegiatan kekanakkan yang mereka lakukan, kini mereka bertiga saling terduduk lemas di atas sofa ruangan VIP itu. Saerin yang semula duduk kini membaringkan kembali tubuhnya.

“Ngomong-ngomong, apa Oh Sehun tidak akan datang?” Saerin memberanikan diri untuk menyingung masalah itu dan sukses membuat mereka bertiga diam. Saerin menatap ketiganya bergantian, menunggu jawaban dari mereka. Baekhyun tergagap kemudian melemparkan sebuah bantal sofa ke muka Chanyeol. Ia sedang berusaha mengalihkan perhatian Saerin.

“YA. Kapan kau terakhir mandi? Baumu sangat tidak enak” ucap lelaki itu mendapati kembali sebuah pukulan dari bantal oleh Chanyeol.

“Entahlah, em mungkin sejak dua hari yang lalu” jawabnya mencoba mengingat.

“Aisshhh… jorok sekali” Nayoung bergidik ngeri begitu pula dengan Baekhyun.

“Park Saerin, apa kau tidak risih berhari-hari berada di satu ruangan dengannya?” tanya lelaki si pembuat masalah pada Saerin.

“YA! Risih apa maksudmu? Kita berdua adalah saudara” Chanyeol terlihat tak terima mendengar pertanyaan dari Baekhyun.

“Arraseo. Kalian memang saudara!” sinis Baekhyun melempar kacang keatas lalu memakannya dengan cepat. Setidaknya, hal itu membuat mereka tidak perlu menjawab pertanyaan Saerin.

Park Chanyeol dan Park Saerin adalah saudara sepupu. Semenjak Ayah Saerin meninggal, Chanyeol sudah seperti kakak laki-laki bagi gadis itu, dan saat ini eomma Saerin sedang berada di luar kota untuk perjalanan bisnis, jadi ialah yang diminta untuk menjaga Saerin. dan untuk masalah hubungan Sehun dan Saerin,

Sehun menaruh perasaannya pada gadis cantik namun sedikit jutek itu saat duduk di bangku SMP tingkat akhir, perasaannya diketahui oleh Saerin dan ketiga sahabatnya saat tak sengaja menemukan sebuah surat manis dan juga cokelat yang diatasnya berhiaskan pita merah muda bertuliskan, Untuk Park Saerin, semoga kau menyukainya. –Dari orang yang mengagumimu, Tuan “O”

Begitulah isi dari surat itu, begitu singkat dan tak ada kata-kata puitis sedikitpun. Oh Sehun benar-benar lucu dan menggemaskan. Pria itu mengaku, jika sudah hampir dua minggu surat dan cokelat itu menginap di tas ranselnya karena ia tak kunjung berani memberikan pada Saerin, naasnya saat Baekhyun dan Chanyeol ingin mengambil bekal makanan lelaki itu, mereka berdua malah menemukan benda menggelikan di dalam ransel Sehun. Alhasil semenjak kejadian itu, Saerin tahu jika Sehun menyukainya.

Oh Sehun adalah pria yang lucu. diantara Chanyeol dan Baekhyun, Sehun adalah pria yang paling cupu jika masalah perempuan. Pria itu selalu terlihat kikuk jika tak sengaja melakukan skinship atau bahkan hanya sebatas kontak mata dengan Saerin. namun, ia memiliki sisi romantisnya sendiri, Sehun secara tidak langsung selalu meluangkan waktu dan perhatian lebih pada gadis itu. Sehun bahkan pernah memberikan jas hujannya pada Saerin agar gadis itu tidak kehujanan, meski awalnya Saerin menolak. Sehun selalu memberikan tangannya yang hangat untuk Saerin genggam saat udara dingin, Sehun selalu menemani Saerin pulang jika gadis itu ada beberapa kegiatan dan masih banyak lagi.

Meski tak pernah mengatakan secara langsung jika pria itu menyukai Saerin, namun dengan insiden cokelat dan juga bentu perhatian-perhatian tulus yang lelaki itu lakukan sangat terlihat jika Sehun sangat menyukai Saerin. lalu bagaimana dengan respon gadis itu? kupikir kalian bisa melihat sendiri tingkah laku Park Saerin, apa ia menyukai Sehun atau hanya menganggapnya seperti Baekhyun dan Chanyeol.

***

Waktu berjalan dengan sangat cepat, musim dingin pun berganti dengan musim semi. Bunga-bunga sakura bermekaran, pemandangan es kini berubah menjadi rumput hijau yang begitu sejuk, harum aroma bunga bermekaran tercium wangi menyeruak di indera penciuman.

Seorang pria terlihat tengah berlari kecil menyusuri koridor sekolah yang tak terlalu ramai. Pria itu terlihat tengah menahan sesuatu, tiba-tiba teriakan kencang seseorang berhasil membuat Sehun menghentikan langkah kakinya.

“Sehun-ah!!” teriak Chanyeol menghampiri Sehun, kedua tangannya terentang seperti hendak memeluk pria itu.

“YA. YA!!” Sehun kesal dengan tingkah kekanakkan Chanyeol. Lelaki tinggi itu mendengus pelan.

“Eoddi-ga?” tanya Park Chanyeol merangkul bahu Sehun.

“Wae?” bukannya menjawab, Sehun justru berbalik tanya hal itu membuat Chanyeol melepaskan rangkulannya.

“Brengsek…” gumamnya pelan menatap Sehun kesal. Pria yang bernama Sehun itu akhirnya melambaikan tangannya meminta maaf.

“Ada hal yang ingin kau bicarakan?” tanya Sehun langsung karena dirinya tengah buru-buru.

“Jam 4 Sore. Datanglah kerumah Saerin, itu saat terakhir kita berlima bersama. Em, bisa dibilang semacam pesta perpisahan” ucap Chanyeol menepuk-nepuk pelan bahu Sehun lalu melangkahkan kakinya pergi.

“Awas kalau kau tidak datang! Kau bunuh kau!” teriak Chanyeol dari jauh meninggalkan Sehun yang tampak berfikir sejenak.

Beberapa minggu yang lalu, pengumuman hasil kelulusan telah diumumkan, Oh Sehun berada di peringkat kedua tertinggi sementara ke empat sahabatnya berada di urutan seratus keatas. Meski begitu, hasilnya cukup memuaskan.

Adat yang biasa dilakukan para siswa setelah pengumuman kelulusan adalah belajar mempersiapkan diri untuk belajar masuk universitas, mencari pekerjaan, atau bahkan menikah. dan hal itu pasti membuat  komunikasi mereka akan sulit dan tergganggu. Semua murid saat ini pasti tengah berlomba-lomba mempersiapkan masa depannya setelah lulus dari SMA, masa-masa yang ‘katanya’ paling indah dalam hidup.

Setelah sempat terdiam sejenak, kini Sehun kembali melanjutkan langkah kakinya dengan sedikit tergesa-gesa. Namun, sayang saat ini lagi-lagi seseorang tengah memanggil namanya dengan suara cempreng.

“Oh Sehun!” teriak Nayoung dari kejauhan. Sehun menolehkan kepalanya.

“Wae?” tanya lelaki itu menautkan kedua alisnya dan berharap jika Nayoung cepat pergi karena ia sangat terdesak saat ini. Tapi, tumben sekali Nayoung mau berbicara padanya karena semenjak Sehun menjauhi Saerin, Nayoung memusuhi Sehun. ia tidak suka jika ada yang membuat Saerin terluka.

“Kau pasti sudah dengar dari Chanyeol tentang acara perpisahan di rumah Saerin”

“Uh” jawab Sehun singkat sambil mematuk-matukkan ujung sepatunya kelantai. Terlihat sekali jika ia sedang gelisah dan tak nyaman.

“Jangan datang” ucap wanita itu singkat dan jelas. Sehun lagi-lagi menautkan kedua alisnya.

“Wae?”

“Karena kau bukan lagi sahabat kami” ucapan Nayoung jelas-jelas membuat dada Sehun berdesir. Apa yang dia katakan? Bukan sahabat lagi? Sehun diam tak merespon dan memilih untuk mendengarkan ucapan Nayoung selanjutnya meski ia sedang tak sepenuhnya konsentrasi saat ini.

“Kau menjauhi Saerin otomatis kau menjauhi kami berempat. Jadi! Jangan sekali-kali kau menampakkan wajahmu di hadapan Saerin” ucap Nayoung penuh penekanan, Sehun saat ini terlihat sudah tak punya akal sehat, ia terlihat tak fokus sama sekali. Tanpa menjawab ucapan Nayoung, Sehun pergi meninggalkan gadis itu sambil menepuk bahu Nayoung.

Nayoung yang melihat hal itu menginjak-injakkan kakinya berulang-ulang. Dasar Oh Sehun menyebalkan!!!! Sementara itu, Sehun yang tengah berlari terburu-buru kembali lagi harus ia hentikan karena seseorang memanggilnya.

“Sehun-ah” panggil seorang gadis. Sehun yang sudah kehilangan akalnya berbalik dengan kesal.

“Wae? Wae to!!!?” teriak Sehun kesal dan sedetik kemudian menyadari jika orang yang saat ini berada di hadapannya adalah Park Saerin. Sehun menyadari kebodohannya segera menelan air ludahnya sendiri, ia pikir itu adalah Nayoung. Sementara Saerin, ia terlihat terkejut mendengar Sehun berteriak padanya, meski ia tahu Sehun tak lagi menyukainya.

“Sehun-ah. Kau datang kan nanti?” tanya Saerin memandang Sehun penuh harap. Sehun menatap bola mata indah milik gadis itu lalu sedetik kemudian membuang muka.

“Molla” jawabnya singkat, ujung kaki kanannya kembali mematuk-matuk terlihat gelisah.

“Meski begitu, aku harap kau datang” ucap Saerin menatap pria dihadapannya dengan senyuman manis yang membuat Sehun menarik nafas dalam dan menghembuskannya kasar. Pria itu meremas ujung seragamnya kemudian berlalu pergi.

“Aku harus pergi” Sehun berlalu pergi meninggalkan Saerin dengan langkah cepat. Saerin menatap kepergian Sehun dengan kecewa, sudah kesekian kalinya Sehun bersikap seperti itu padanya. Bahkan di saat-saat terakhir mereka bersama.

“Oh Sehun!!!!” teriak Saerin dari kejauhan. Sehun lagi-lagi terpaksa menghentikan langkahnya, dengan kesal ia berbalik sambil mendengus pelan. Kedua matanya menatap Saerin yang tengah berlari kearahnya.

“Ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu” ucap Saerin terlihat ragu. Sehun meremas ujung seragamnya dengan gelisah, tampaknya begitu pula dengan Saerin.

“Katakan” jawabnya singkat sambil terus meremas ujung seragamnya. Saerin memejamkan matanya, mencoba memberanikan diri.

“Apa tidak ada lagi perasaanmu untukku?” akhirnya kata-kata itu sukses meluncur dari bibir tipis gadis itu. Saerin menatap tepat di kedua bola mata Sehun, membuat jantung pria itu berhenti berdetak. Namun, Sehun terlihat semakin gelisah, ia benar-benar tidak bisa berfikir jernih saat ini.

“Tidak” ucapnya singkat kemudian melangkah pergi. Melihat hal itu, mata Saerin berkaca-kaca. Tak lama lagi ia akan menangis.

“Meski aku menyukaimu?” pertanyaan Saerin sukses membuat Sehun untuk yang kesekian dan kesekian kali menghentikan langkahnya. Pria itu menarik nafas dalam kemudian berbalik.

“Mianhe….” Ucapnya pada sang gadis yang berjarak lima meter darinya. Belum sempat ia melanjutkan kalimatnya, Saerin pergi begitu saja meninggalkan Sehun. Gadis itu berlari kencang sesekali menghapus air matanya yang tak bisa ia bendung. Oh Sehun yang melihat hal itu, segera berlari menyusul gadis itu namun sayangnya waktunya sudah berakhir, ia tak sengaja pipis di celana putih abu-abunya. Sehun meringis melihat air seni yang mengucur deras membasahi celananya. Ia menatap bahu Saerin yang sudah menghilang.

“Mianhe… aku ingin ke toilet sebentar” lirihnya mencoba menjelaskan kalimat yang akan ia ucapkan tadi. Seandainya saja jika Saerin tidak langsung pergi.

***

Baekhyun dan Chanyeol terlihat mempersiapkan segala kebutuhan yang diperlukan untuk sebuah video yang akan mereka putar. Sementara itu, Saerin dan Nayoung tengah sibuk membawa beberapa camilan dan minuman sebagai syarat dan pelengkap. Kedua gadis cantik itu kemudian merebahkan tubuh mereka ke sofa disusul dengan Chanyeol dan Baekhyun.

“Tunggu apa lagi, ayo cepat putar” Nayoung mendorong Baekhyun dengan kaki kirinya yang tengah duduk di bawah. Hal itu sangat sering mereka lakukan.

“YAAAAA!!!” teriak Baekhyun kesal dengan kelakuan Nayoung yang tak kunjung berhenti mendorong bahunya.

“Kau melupakan sesuatu” Chanyeol berucap kemudian meneguk air soda dalam kaleng itu.

“Sesuatu?” Nayoung terlihat berfikir, sedangkan Saerin langsung menangkap apa maksud ucapan Chanyeol.

“Sehun, Oh Sehun! Kau melupakannya” ucap Saerin yang di balas anggukan setuju oleh semua sahabatnya, kecuali Nayoung.

“Untuk apa menunggunya? Dia tidak akan datang” Nayoung mengambil remote tv yang ada di meja, jemari lentikknya hendak menekan tombol ON. Seketika itu, Chanyeol bergerak dengan cepat dan berusaha merebut remote itu.

“Andwaeee!!!!!” teriak Chanyeol masih berusaha merebutnya dari tangan Nayoung. Baekhyun dan Saerin yang melihat hal itu hanya menggeleng pelan, mereka berdua tampak cocok jika bersama. Kacau.

Setelah berusaha merebut remote itu sekuat tenaga akhirnya TV itu berhasil menyala, sial! Chanyeol mendengus pelan. Ia berhari-hari menyiapkan video ini untuk mereka tonton berlima, namun karena dendam konyol Nayoung semua berantakan. Ya.. itu adalah video dimana mereka masih dalam masa puber, masa-masa SMP, dari awal mereka menjadi sahabat hingga masa-masa SMA yang penuh suka duka.

Dan nampaknya bukan hanya Chanyeol yang berteriak frustasi sambil mengacak-acak rambutnya, tapi juga Saerin dan Baekhyun ikut kesal karena video itu terputar tanpa kehadiran satu orang lagi. Tiba-tiba saja, seseorang muncul dengan nafas terengah-engah. Dengan menggunakan kaos bewarna hitam polos pria itu berjalan mendekat.

“Apa aku terlambat?”tanyanya masih dengan nafas memburu.

“TIDAK” “IYA!”

Saerin, Baekhyun, dan Chanyeol kompak berteriak ‘tidak’ sedangkan Nayoung, gadis itu sukses menjadi pusat perhatian mereka berempat.

“Kau terlambat, videonya sudah kuputar” Nayoung terlihat sedikit gagap karena semua mata tertuju padanya. Chanyeol dengan cepat melingkarkan lengannya keleher Nayoung, membuat gadis itu berteriak.

“Putar apa maksudmu hah? Putar apa?!!! kau tidak lihat videonya ku-pause dan itupun hanya layar hitam karena masih berjalan satu detik. Kau masih ingin bicara lagi!!” ucap Chanyeol geram sambil terus menyiksa Nayoung.

“Karena kita semua sudah lengkap. Kenapa tidak mulai?” Sehun berjalan mendekat dan mengambil alih remote TV dari tangan Chanyeol, pria itu lalu menekan tombol ‘play’.

Mereka tertawa melihat foto-foto dan interaksi yang mereka tunjukkan di video itu. begitu cupu dan polos lalu berubah menjadi lebih dewasa. Keakraban begitu kental terlihat dan semua kenangan itu begitu manis. Nayoung yang semula menolak keras kedatangan Sehun, kini gadis itu menangis dan menyadarkan kepalanya di bahu Sehun. lelaki itu tersenyum sambil menepuk pelan bahu Nayoung. Sehun melirik Saerin yang terpisah oleh Chanyeol, terlihat mata gadis itu juga berkaca-kaca. Mereka berlima tanpa sadar berlinang air mata, saling bersandar, dan saling menguatkan. Entah mengapa, saat-saat seperti ini terasa begitu berharga.

Mulai esok tak ada lagi pemandangan mengerjakan PR saat sebelum bel dan lucunya selalu saja buku milik Sehun yang mereka copy, tak akan ada lagi kegiatan menyanyi di depan kelas sampai di tegur oleh guru, tak ada lagi berbagi bekal makanan saat jam makan siang, dan tak tak ada lagi yang harus bekeliling lapangan karena terlambat masuk sekolah. Tak akan ada lagi kebersamaan itu. Masa SMA sudah berakhir. Kini mereka berlima melanjutkan impian mereka masing-masing, menuju pintu kehidupan yang ‘mungkin lebih keras’ dari sebelumnya yang hanya berkutat dengan tugas dan PR. Mereka akan tumbuh dewasa dengan jalannya sendiri, dan pasti akan merindukan masa-masa itu. Pasti.

***

Saerin memandang haru penuh rindu sekali lagi rumah yang sudah belasan tahun ia tempati, dari ia baru lahir hingga tumbuh remaja seperti sekarang ini. Banyak sekali kenangan manis bersama Ayahnya disana, kini ia harus mencoba melepaskan semuanya. Meski melepaskan bukan berarti ia melupakan.

“Park Saerin, kajja” ucap eommanya dari dalam mobil. Gadis itu mengangguk pelan kemudian masuk. Ekspresi wajahnya terlihat sedih.

“Gwenchana?” tanya beliau memastikan keadaan anaknya.

“Ne” jawab Saerin singkat sambil memakai sabuk pengaman.

“Apa ada seseorang yang ingin kau temui sebelum pergi?”

“Ani-ya. sudah semuanya” Saerin mengalihkan pandangannya ke luar, melihat kembali rumah yang sebentar lagi ia tinggalkan dan memulai kehidupan barunya di AS bersama keluarga baru pula.

Eommanya telah menemukan belahan jiwa yang baru dan berencana menikah dan hidup disana, Saerin awalnya tak menerima kenyataan itu tapi lambat laun ia sadar jika dirinya tak boleh egois. Eomma membutuhkan seseorang yang bisa menjaga dan menyayanginya. Beliau butuh teman hidup, meski akan memulai kehidupan yang baru tak berarti melupakan kehidupan yang sebelumnya.

“Bagaimana dengan teman-temanmu? Mereka tidak mengantarmu ke bandara?” tanya beliau menatap lurus kedepan, namun sesekali melihat wajah anaknya.

Aniya, mereka kularang untuk membuang waktu. Mereka harus belajar untuk ujian masuk universitas” jawab Saerin memandangi potret dirinya bersama keempat sahabatnya di layar ponsel sambil tersenyum sedih. Ia pasti merindukan teman-teman sakit jiwanya itu.

“Bagus sekali. Kau juga harus mempersiapkan dirimu, AS lebih sulit dari yang kau pikirkan. Mungkin saja kau bisa masuk di Harvard, atau Stanford, atau mungkin MT” ucap beliau sambil menerawang bahagia membayangkan bagaimana jika anaknya berhasil masuk di kampus impian semua orang di dunia itu.

“Hentikan saja. mana mungkin aku masuk kesana, hanya orang-orang jenius yang bisa” jawab Saerin mencoba menyadarkan eommanya dari imajinasi sesatnya. Tapi, bicara soal jenius ia jadi teringat oleh seseorang. Siapa lagi jika bukan Oh Sehun. Pikirannya melayang jauh kembali ke kejadian kemarin saat di sekolah. Saat dirinya berlari sambil menangis karena Sehun secara tak langsung menolaknya.

Saerin terus berlari kencang menyusuri beberapa koridor setelah mendengar ucapan maaf dari Oh Sehun. Ia sampai di bangku taman yang tampak sepi. Seperti sebuah kapas yang terombang-ambing bebas gadis itu terlihat tak berdaya. Saerin duduk di bangku taman yang memanjang, gadis itu menangis sambil menutup wajah dengan kedua tangannya. Jadi beginikah rasanya patah hati?

“Park Saerin. YA. aku mencarimu kemana-mana” ucap Sehun dengan nafas memburu, nampaknya ia baru saja berlari. Saerin yang menyadari kehadiran Sehun, segera bangkit berniat untuk pergi namun Sehun menghadang langkahnya.

“Park Saerin” panggil lelaki itu berdiri tepat di depan Saerin yang menundukkan kepalany. isak tangis gadis itu masih terdengar meski ia mencoba menahannya.

“Kau menangis?” tanya Sehun menundukkan sedikit kepalanya hingga sejajar dengan wajah Saerin. melihat hal itu, Saerin melepaskan tangisnya. Gadis itu menangis kencang sejadi-jadinya. Sehun tercengang melihat pemandangan dihadapannya, apa itu karena dirinya? Apa ia membuat Saerin menangis?

“Ullijima~” ucap Sehun mencoba menengkan Saerin namun gadis itu tak juga meredakan tangisnya. Sehun menggaruk tengkuknya bingung. Mata elangnya menatap mata Saerin yang memerah dan berkaca-kaca, darahnya berdesir melihat mata indah yang tengah menangis itu.

“Apa kau menangis karena aku?” Sehun memberanikan dirinya menanyakan hal itu pada Saerin. tiba-tiba saja, pukulan pelan namun bertubi-tubi ia dapatkan karena saat ini Saerin tengah memukul dada bidangya sambil terus menangis. Sehun menggigit bibir bawahnya merasakan sakit yang ia rasakan, bukan karena pukulan dari Saerin, melainkan perasaannya terluka karena Saerin menangis akibat ulahnya.

“Park Saerin, kau tahu kenapa aku melingkarkan jaket ini ke pinggangku? Sehun menatap jaket yang melingkar di pinggangnya kemudia beralih menatap Saerin yang masih terus terisak. Gadis itu menggeleng pelan.

“Karena aku… ngompol” cengir Sehun membuka jaket itu. Sehun sukses membuat Saerin tertawa terbahak-bahak. Dengan cepat suasana hati Saerin berubah.

“YA. Pabbo-ya! pasang lagi. aarghhh menggelikan sekali….” Saerin tertawa disela-sela tangisnya, ia mengusap kasar air matanya sambil terus tertawa melihat kebodohan Sehun. pria itu selalu tampak bodoh dan polos. Sehun tersenyum melihat Saerin akhirnya tertawa karenanya. Saerin menangis karena Sehun ia juga tertawa karena Sehun. Gadis tertawa seolah tak ada yang terjadi sebelumnya.

“Kau mau kuceritakan sesuatu?” tanpa menunggu jawaban dari gadis itu yang masih sedikit tertawa geli, Sehun menceritakan sebuah cerita kepada Saerin.

“Ada seorang pria yang tergesa-gesa pergi ke toilet, saat berlari menuju tempat itu, tiba-tiba saja seorang gadis muncul dan bertanya padanya bagaimana perasannya pada sang gadis” Sehun menggantungkan kalimatnya, menatap Saerin tengah duduk dan menatapnya pula. Kedua mata gadis itu terlihat sembab, Sehun tersenyum hangat. Senyum yang sudah tak pernah lelaki itu tunjukkan akhir-akhir ini. Dada Saerin berdesir seketika.

“Karena ia terburu-buru, sang lelaki mengatakan “mianhe..” namun belum sempat melanjutkan kalimatnya. Sang gadis pergi begitu saja meninggalkan dirinya, lelaki itu pun mengejarnya namun, sayang hanya beberapa langkah, ia kelepasan, lelaki itu pipis dicelana. Padahal, ia ingin mengatakan, mianhe… aku akan ke toilet sebentar. Tapi, semua itu terlambat karena sang gadis telah pergi meninggalkannya”

“dan sebenarnya, lelaki itu sangat ingin mengatakan jika ia akui tak bisa lepas dari sang gadis. Semakin ia melupakannya, semakin besar rasa rindunya pada sang gadis. Lelaki itu ingin sekali pergi menyusulnya seraya berkata, Aku tidak pernah bisa melupakanmu” Sehun mengakhiri ceritanya, ia ikut duduk di bangku itu. Kini, mereka berdua saling duduk di ujung bangku dengan jarak yang lumayan jauh. Tiba-tiba saja keadaan berubah hening sejenak.

“Park Saerin” panggil Sehun. gadis yang dipanggil Saerin itu menolehkan kepalanya.

“Hm?” tanya Saerin yang sudah sepenuhnya reda dari tangisnya, justru wajahnya terlihat sedikit lebih berseri-seri setelah mendengar cerita dari lelaki disampingnya.

“Menurutmu, apakah sang pria layak mendapatkan kesempatan kedua untuk mengatakan pada sang gadis jika ia sangat merindukannya?” tanya Sehun menatap Saerin dari samping dengan raut wajah nervous. Jujur saja, Saerin adalah yang pertama baginya.

“Um…. Tentu saja” jawab Saerin sambil tersenyum kearah Sehun. kedua pipinya merah tersipu malu. Gadis itu kemudian menundukkan wajahnya sambil terus tersenyum. Sehun mengelus dadanya dan menghembuskan nafas lega mendengar jawaban dari Saerin. Pria itu juga ikut tersenyum kikuk.

“Ehm.. Igo” ucapnya sembari menyerahkan sebuah kotak berwarna merah muda. Saerin mengambil kotak itu dengan penasaran. Matanya berbinar ketika melihat isi dalam kotak, sebuah jam tangan berwarna pink pastel yang sangat manis.

“Jam tangan” ucap gadis itu dengan berbinar-binar disertai senyuman lebar. Pria itu menatap gadis disampingnya tanpa berkedip, “Park Saerin kenapa kau sangat manis di mataku?” batin pria itu menatap kagum Saerin, semakin ia menatap wajah Saerin, semakin terlihat sangat menarik di matanya.

“Mulai sekarang, pakai itu kapanpun dan dimanapun, karena kau harus tahu kapan saatnya harus pulang. Kau tidak tahu kan bagaimana tersiksanya menunggu itu” ekspresi Sehun terlihat sedikit cemberut. Saerin yang melihat itu, lagi-lagi tersenyum dibuatnya.

“Memangnya kau pernah tahu rasanya menunggu?” tanya gadis itu menghadapkan tubuhnya kesamping, menghadap Sehun.

“Setelah ini, tak lama lagi” jawab Sehun menatap Saerin yang tengah menatapnya. Keduanya saling menatap dan saling tersenyum, namun sedetik kemudian mengalihkan padangannya karena sama-sama terlihat kikuk. Saerin menatap rumput hijau di hadapannya, entah mengapa dimatanya rumput itu tiba-tiba dipenuhi bunga-bunga yang sangat cantik, Saerin menggeleng pelan, Ia pasti sudah gila. Gila karena Oh Sehun.

Saerin kembali tersenyum geli jika mengingat kejadian itu, “Oh Sehun bodoh….” Gadis itu bergumam sambil tersipu malu, jika dipikir-pikir Oh Sehun adalah pria yang romantis meski dengan gayanya sendiri. Bahkan orang jenius bisa terlihat bodoh jika sedang jatuh cinta. Saerin memejamkan matanya, “semua kenangan di Seoul tidak akan pernah aku lupakan” batinnya sembari menggenggam erat jam tangan pemberian Sehun.

“Dan …. Aku pasti kembali” gumamnya pelan.

-END-

Visit my blog https://rindaapus.wordpress.com/

4 thoughts on “Senior High School (Oneshot)

  1. ini butuh sequel dong kak…
    bikin kelanjutan saat saerin udh kmbali ke seoul dan akhirnya ktemu sehun lagi gitu…
    buat mreka happy end🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s