Sepatu

poster ff

 

Title                 : Sepatu

Author             : Amarga Naitama

Editor              : Anmaha Asti

Cast                 : Yeon (OC)

Kim Minseok (EXO)

Genre              : Song fic, romance, friendship, sad

Length             : Ficlet

Rating             : PG

Disclaimer      : Minseok belongs to God, his parents, and SM. Poster credits to Google and edited by me. OC and this story belong to me. This story inspired by Tulus – Sepatu.

                         Notice : FF ini pernah di-publish dengan tokoh yang berbeda.

                        Happy reading^^

All Yeon POV

Hai, namaku Yeon. Di sini aku ingin menceritakan semua isi hatiku tentang seseorang, yang sekarang entah di mana.

Baiklah, mari kita mulai.

***

Kita adalah sepasang sepatu

Selalu bersama, tak bisa bersatu

Kita mati bagai tak berjiwa

Bergerak karena kaki manusia

Bisa dikatakan aku adalah seorang perempuan yang beruntung. Ya, aku beruntung karena memiliki seorang sahabat yang hampir setiap waktu selalu di sampingku. Namanya Kim Minseok, setiap hari aku selalu menghabiskan waktu dengannya. Mengobrol, bercanda, belajar, bermain, sampai menceritakan apa yang pernah kita berdua alami. Semua berjalan bagaikan aku dan dia ditakdirkan untuk selalu bersama.

Perempuan dan laki-laki tak selamanya akan menjadi sahabat. Keduanya atau salah satu dari mereka pasti ada yang memiliki perasaan cinta terhadap sahabatnya.

Mungkin kalian pernah mendengar pernyataan di atas, dan mungkin kalian tidak percaya. Tapi bagiku, itu merupakan sebuah kenyataan.

Ya, aku mencintai Minseok. Bukan, aku bukan mencintainya sebagai sahabat saja, tapi lebih dari itu. Awalnya aku selalu mengelak perasaanku yang satu ini, namun pada akhirnya aku menyerah. Aku mengakui bahwa aku mencintai Minseok, lebih dari seorang sahabat.

Aku tidak pernah menceritakan perasaanku padanya. Kubiarkan hati ini memendamnya sendiri, tanpa ada seorang pun yang tahu. Kupikir itu akan lebih baik. Aku takut Minseok akan menjauhiku bila dia mengetahui bahwa aku mencintainya. Kalau pun kami berpacaran lalu tiba-tiba hubungan kami kandas di tengah jalan, persahabatan kami menjadi renggang dan canggung. Itu lebih menakutkan. Maka kuputuskan untuk menyimpan semuanya di dalam hati, dan tak pernah membicarakannya.

Mungkin kami ditakdirkan bersama, namun kami tak kan pernah bersatu.

***

Aku sang sepatu kanan

Kamu sang sepatu kiri

Ku senang bila diajak berlari kencang

Tapi aku takut kamu kelelahan

Ku tak masalah bila terkena hujan

Tapi aku takut kamu kedinginan

Egois merupakan sikap yang tidak baik, karena itu akan merugikan diri sendiri dan orang lain. Oleh sebab itu, aku selalu berusaha untuk tidak bersikap egois kepada Minseok. Mulai dari hal-hal sepele, sampai hal yang besar. Termasuk untuk urusan, ehm, cinta.

Salah satu alasan mengapa aku tidak pernah mengatakan perasaanku padanya karena aku tidak ingin egois. Aku tidak ingin memaksa Minseok agar mencintaiku. Apa arti cinta jika itu hanyalah sebuah paksaan? Jika kau memaksa seseorang yang kau cintai agar mencintaimu, maka kau telah melukainya. Dan tentu saja cinta itu tidak akan tulus dari hati.

Jadi biarkan aku saja yang merasakan pahitnya cinta, tanpa membaginya kepada Minseok. Cukup aku yang terluka, jangan dirinya.

***

Kita sadar ingin bersama

Tapi tak bisa apa-apa

Terasa lengkap bila kita berdua

Terasa sedih bila kita di rak berbeda

Di dekatmu kotak bagai nirwana

Tapi saling sentuh pun kita tak berdaya

“Yeon.” Panggil Minseok.

“Hm?” sahutku dengan nada malas.

“Aku ingin sekali kita selalu bersama.”

“Kau yakin?”

Yeah, aku merasa nyaman jika kau ada di dekatku.”

“Aku pun berpikir begitu. Tapi bagaimana jika kita terpisah, ya?”

“Mungkin aku akan masuk UGD karena berpisah denganmu.”

“Huh, konyol sekali. Mana bisa masuk UGD gara-gara itu.”

“Hahaha.. Tapi aku benar-benar ingin selalu bersamamu.”

“Terserah kau lah.”

Percakapan di atas merupakan salah satu obrolanku dengan Minseok di sebuah taman. Saat itu kami sedang duduk di rumput taman dan mengobrol ngalor ngidul. Dia berkata bahwa ia ingin selalu bersama denganku. Jujur hatiku ingin terbang saat itu juga, dan ku harap Minseok tidak menjatuhkan hatiku ke dasar jurang.

Perasaanku bercampur antara gembira dan… sedih. Yah, kami memang selalu ingin bersama, tapi dengan itu pula lambat laun hatiku semakin terluka.

Karena sedekat apa pun dia dariku, aku tetap tak bisa memilikinya.

***

Kala itu aku berada di bandara untuk mengantar Minseok. Ia akan melanjutkan sekolah di luar negeri dan tinggal di sana bersama paman dan bibinya. Dan itu berarti aku akan jauh dengannya.

“Min…” aku memanggil Minseok dengan suara yang sedikit serak.

“Ya? Kenapa, Yeon?” sahutnya sambil menurunkan koper terakhir miliknya.

“Mmm… Sampai kapan kau akan tinggal di sana?”

Minseok terdiam sejenak, lalu menarik napas dan menghembuskannya. “Entahlah, mungkin aku akan kembali tiga atau empat tahun lagi.”

Tiga atau empat tahun lagi? mengapa begitu lama?

“Kau tidak usah khawatir,” ujar Minseok seraya tersenyum, “kita kan bisa chatting tiap hari, dan sesekali kita akan ber-video call.” aku menanggapi perkataannya dengan senyuman pahit.

“Berjanjilah satu hal padaku,” Minseok berkata lagi, “jangan pernah melupakanku dan semua yang pernah kita lewati bersama.”

Aku menganggukkan kepalaku, “Tentu. Aku tidak akan melupakan semuanya.” Oh ayolah, bagaimana bisa aku melupakan seseorang yang telah mengisi hatiku selama ini?

Kulihat ia tersenyum memamerkan gigi-giginya, lalu melihat ke layar jadwal penerbangan. “Kurasa aku harus masuk sekarang, pesawat akan terbang beberapa jam lagi.” Seketika air mataku jatuh, setelah aku berupaya untuk menahannya.

Minseok yang melihatku menangis langsung memelukku, membiarkanku menangis sepuasnya hingga bajunya basah karena air mata. Setelah beberapa saat, ia melepaskan pelukannya.

“Min, pergilah. Nanti kau ketinggalan pesawat.” Aku menyuruh Minseok masuk ke dalam bandara.

“Tapi… Apa kau tidak apa-apa?” ucapnya ragu.

“Tak usah pikirkan aku. Aku akan baik-baik saja, kok.”

“Uhm, baiklah. Aku pamit dulu ya.”

“Jaga kesehatanmu selama di sana, Min.” Minseok menganggukkan kepalanya seraya tersenyum, ia menarik kopernya dan berjalan menuju pintu masuk. Aku melambaikan tangan kepadanya, dan ia melambaikan tangannya juga.

Lambat laun, aku tak dapat melihat dirinya lagi. Minseok sudah masuk ke dalam bandara. Aku hanya tersenyum pahit diiringi dengan air mata yang sesekali jatuh, air mata kesedihan.

Minseok meninggalkanku dengan sekeping hati yang terluka, menggenggam perasaan yang tak tahu harus kuapakan. Entahlah, apakah perasaan ini harus ku pendam hingga nanti, ataukah melupakannya dan mencari cinta lainnya. Minseok, andaikan kau mengerti perasaanku sekarang.

Ditinggalkan seseorang yang kau cintai diam-diam tentu menyakitkan. Tapi sekali lagi, aku tidak ingin egois. Biarkan ia menentukan apa yang ia inginkan, jangan sampai aku hanya menjadi beban untuknya.

Dan biarkan aku menutup rapat rahasiaku tentang perasaan ini darinya, walau pada akhirnya hatiku yang akan semakin sakit. Aku mencintai Minseok tanpa berharap dia akan membalas perasaanku.

Karena aku tahu, cinta tak harus memiliki.

Cinta memang banyak bentuknya

Mungkin tak semua, bisa bersatu

-End-

Thanks for reading^^ Maaf kalo banyak kekurangan seperti alur yang terlalu cepat atau gak dapat feel-nya dan lain-lain di FF ini >-< Mohon kritik dan saran ya, semoga di FF selanjutnya bisa lebih baik lagi J

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s