Another Me (Chapter 4)

IMG-20160130-WA0000

Title                 : Another Me

Author             : Jojjomi

Length             : chapters

Genre              : Fantasy, romance, family

Rating             : T

Cast                 : Kwon Alice, Oh Sehun (EXO), and many more.

A/N                 : this story belong to me. Info tentang makhluk – makhluk fiksi dalam cerita           ini dapat dari beberapa FF fantasy lain dan google tentunya.

 

Chapter 4

Look at the mirror! You’ll find another reflection of yours…

Alice POV-

Suara air yang keluar dari dalam keran menyentuh dinding wastafel keramik memecah kesunyian dalam toilet kastil sekolah. Aku baru saja selesai dari kelas pertahanan. Merasa harus membersihkan tangan dan kemejaku dari debu akibat pertarungan dengan Kyungsoo di arena tadi. Guru malaikat yang baru saja mengajar kelas pertahanan meminta aku dan teman sekelasku melakukan duel sederhana. Beliau memberi kami bulu-bulu halus berwarna putih yang tak lama setelah berada di tangan kami, bulu itu berubah warna. Kami akan berduel dengan anak lain yang memiliki warna sama dengan wana bulu yang kami pegang. Pada akhirnya aku dan Kyungsoo, si elf bermata bulat itu mendapatkan warna bulu yang sama. Warna biru.

Aku mengusapkan air yang berada pada tangkupan tanganku ke wajah. Aahh segar sekali rasanya! Habis-habisan aku bertarung melawan Kyungsoo. Salah satu elf yang juga anggota tim kedisiplinan seperti Yinghan itu bukan termasuk lawan yang mudah dikalahkan. Luar biasa kekuatan elf pemilik sayap berwarna perak itu. Vampir sepertiku memang selalu dibuat kewalahan dengan makhluk yang dapat terbang macam elf. Apalagi kecepatan terbang elf seperti cahaya, tak kalah cepat dari pergerakan vampir. Rasanya aku hampir gila kalau saja Kim Jongsuk, guru baru kelas pertahanan tidak menghentikan pertarungan kami.

“sudah cukup, sebelum kalian benar-benar akan saling membunuh nanti”

Begitu yang ia katakan setelah dengan mendadak terbang dan berhenti ditengah arena diantara aku dan Kyungsoo.

Berulang kali aku membasuh wajahku dengan air, hingga sebuah suara menginterupsi kegiatanku.

“Alice… El?”

Segera aku menghentikan kegiatanku membasuh wajah, menajamkan pendengaranku. Meyakinkan diri kalau suara itu memang memanggil namaku. Menegapkan tubuhku dan sebuah cermin besar aku dapati berada di depanku. Sial! Aku lupa ada begitu banyak cermin di toilet! Pastinya dia…

“El…?”

Sosok itu lagi. Dengan hati-hati aku melirik bayangan itu di cermin. Benar. Dia lagi. Selalu saja! Sekarang dia begitu sering muncul, dimanapun, kapanpun. Sudah lebih dari dua bulan sejak aku melihatnya lagi di kamar mandi dalam kamar asrama.

Baru saja aku ingin melepas segel kekuatanku, tetapi sebuah kalimat berhasil aku tangkap dengan telingaku

“El… apa kau tidak mengingatku?” kalimat itu berhasil keluar dari bibirnya. Membuatku menahan kekuatan yang akan aku lepaskan tadinya. Bicara juga dia akhirnya, bukan hanya menangis sambil mengulurkan tangannya saja.

“bagaimana aku tidak mengingatmu kalau kau setiap hari muncul!” bentakku padanya. Sosok itu hanya menggelengkan kepalanya lemah. Matanya kembali berair, pasti akan menangis lagi.

“aku… aku kau…”

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba saja ia menghilang ketika pintu toilet terbuka dan masuklah vampir muda pemilik manik berwarna biru terang, surainya hitam legam sama seperti milikku tapi dengan sedikit warna coklat terang.

“eonni?!” pekiknya kaget ketika melihatku berdiri didepan wastafel.

“eoh Jennie. Aku fikir siapa. Hey, bukankah kau ada kelas sekarang?”

Jennie ternyata yang memasuki toilet, membuat sosok tadi menghilang sebelum menyelesaikan ucapannya. Ughh membuatku penasaran saja!

“dihentikan lebih awal. Salah satu malaikat, teman sekelasku sayapnya terluka parah ketika melakukan duel dengan Jun” ucapnya seperti malas mengingat kejadian itu lagi.

Hahaha lucu sekali adikku ini. dia memang selalu malas mengingat dan menceritakan kejadian yang sudah lalu, apalagi kejadian itu sama sekali tidak menarik perhatiannya. Aku tau bagaimana Jennie begitu tidak tertarik dengan apapun yang saudara kembarnya miliki dan lakukan.

“hebat bukan Jun sampai bisa membuat malaikat terluka parah? Seharusnya kau bangga punya kembaran sepertinya” godaku pada Jennie sambil mencolek dagu gadis cantik itu.

“ckk! Memangnya kau bangga padanya?” Jennie terlihat sangat kesal.

“tidak sih. Kalau dia sudah bisa membunuh malaikat baru aku akan sangat bangga padanya” sahutku datar. Akan sangat menyenangkan pasti kalau bisa membunuh makhluk tertinggi diantara para iblis. Sejenak aku lupa kalau aku punya sahabat dari kaum malaikat.

“bagus! Jangan pernah membanggakan anak itu. Dia bisa besar kepala!” pekik Jennie sebelum dia menghilang dibalik pintu bilik toilet. Aku tersenyum kecil, menggelengkan kepalaku pelan menatap pintu bilik yang didalamnya ada Jennie.

“aku duluan ya, Jen” ucapku dalam pikiranku padanya. Aku tau dia pasti bisa mendengarnya karena sebelum aku membuka pintu toilet, kudengar dia berteriak menyautiku.

Sepanjang perjalanan menuju ruang makan di kastil asrama aku terus memikirkan ucapan yang dikatakan sosok tadi. Mengingatnya? Apa dia bukan iblis jahat? Atau memang iblis yang pernah aku kenal dulu? Memutar ingatanku pada beberapa tahun sebelum pertama kali aku melihatnya di kamar mandi rumahku. Tapi percuma. Aku tidak bisa mengingat apapun. Rasanya dulu juga aku tidak pernah berteman dengan iblis lainnya selain dengan kaumku sendiri. Memaksa untuk mengingat hal yang sudah lama terjadi membuat kepalaku begitu sakit.

Bicara soal malaikat dan keinginan besarku untuk mengalahkan makhluk itu suatu saat nanti. Tiba-tiba saja aku ingat kalau malaikat mempunyai kemampuan untuk melihat masa depan dan masa lalu makhluk lain. Aku punya sahabat malaikat! Ya, aku bisa menayakan pada Yinghan tentang ini semua. Tapi sepertinya aku harus cerita panjang dulu padanya tentang sosok itu.

Segera aku berlari melewati taman yang membatasi kastil sekolah dengan kastil asrama. Melesat memasuki pintu samping kastil asrama akan mempercepat waktu menuju ruang makan.

“Yi!” teriakku pada gadis malaikat yang sepertinya sedang sibuk dengan vampir jangkung, vampir bodoh yang tiga hari lalu malah membiarkan sahabatnya bertarung habis-habisan dengan werewolf. Yinghan menolehkan kepalanya padaku dengan anggun diikuti vampir bersurai abu-abu disampingnya.

“tak bisakah kau membiarkan temanmu ini bebas sebentar? Membiarkannya menikmati waktunya denganku?” sela Chanyeol sambil melangkah mendekatiku. Menghalangi jalanku untuk mendekat pada Yinghan.

“memang kau menikmati waktumu selama dengannya, Yi?” menghiraukan Chanyeol didepanku, berjalan melewatinya dan bertanya pada malaikat yang sedang tersenyum geli melihatku dan Chanyeol bergantian.

“lumayan. Kalau saja dia tidak terlalu menyombongkan dirinya dan api-api yang selalu muncul tiba-tiba dari tangannya” senyuman Yinghan mengembang. Ia beranjak dari kursinya, menghampiriku dan memeluk lenganku.

“dengar itu Park Chanyeol! Jangan berharap besar pada sahabatku” sedikit menyenggol lengan Chanyeol kemudian pergi meninggalkan Chanyeol setelah mengucapkan kalimat tadi padanya. Aku yakin dia hanya mendengus kesal dan taring-taringnya pasti sudah mencuat keluar. Hahaha aku dan Yinghan tertawa bersama sepanjang jalan keluar dari ruang makan, membayangkan bagaimana ekspresi Chanyeol setelah itu.

Sejak tahun pertama, Chanyeol sudah menyukai Yinghan. Laki-laki itu terlalu memperlihatkan gelagatnya yang menyukai sahabatku. Lagipula siapa yang tidak menyukai Yinghan? Dia cantik. Sangat cantik bahkan. Bobby juga salah satu dari sekian banyak laki-laki yang mengagumi kecantikan Yinghan. Apapun akan Chanyeol lakukan untuk menarik perhatian malaikat pujaannya. Dia dekat dengan kakak Yinghan, Luhan. Sangat dekat kalau menurutku. Beberapa kali mereka terlihat mengobrol bersama di ruang santai. Membuatnya besar kepala, merasa sudah selangkah lagi pasti akan mendapatkan Yinghan. Mereka sering terlihat ngobrol berdua, ya aku tidak tau apa Yinghan juga tertarik padanya karena Yinghan selalu bersikap ramah pada siapapun.

“Yi, ada yang ingin aku tanyakan padamu” aku menarik lengannya, menyuruhnya untuk berhenti di tangga menuju halaman belakang kastil asrama. Disini selalu sepi, aku rasa tidak apa jika bercerita di sini.

“soal Chanyeol?” wajahnya terlihat begitu geli berusaha menebak apa yang akan aku tanyakan. “atau… soal Kim Jongin? Hey, kau tau Chanyeol cerita padaku kalau sahabatnya itu menyukaimu, El! Tidakkah kau sadar kalau sifat Jongin yang selama ini selalu kau anggap menyebalkan karena selalu menggodamu itu karena memang dia benar-benar menyukaimu” kalimat Yinghan soal Jongin otomatis membuatku tertegun. Hah? Suka? Gila! Apalagi oleh Jongin. Tidak akan mau! Anak itu sama saja dengan Bobby, woman criminal. Sudah ada cap jelek super besar di keningnya kalau dia patut untuk dihindari. Nomor satu!

“ughh… tidak tidak! Bukan Chanyeol, bukan juga Jongin! Aku bukan ingin membicarakan masalah laki-laki denganmu. Soal yang lain… sesuatu yang perlu aku ceritakan padamu dahulu” aku mengajak Yinghan untuk duduk pada anak tangga. Mulai menceritakan semuanya, awal mula aku melihat sosok misterius itu.

Wajah Yinghan berubah begitu serius selama mendengar ceritaku. Tidak menyela sedikitpun, aku rasa ia sedang mencoba mencerna dan mencari tau apa yang sebenarnya terjadi padaku. Ya mungkin saja.

“jadi sebenarnya aku ingin kau melihat masa laluku, Yi. Coba cari tau apa aku pernah bertemu atau mengenal seseorang, hantu, ablis atau apalah itu. Aku mohon…” tanganku meraih tangan Yinghan yang sedang bertumpu diatas pahanya. Menggenggam tangan lembut malaikat itu dengan erat, dengan maksud agar ia mau menolongku.

Malaikat yang duduk didepanku tidak kunjung menjawab permintaanku. Ia hanya diam dengan pandangan matanya sesekali mengarah ke lain arah seperti orang bingung.

“Xi Yinghan?” kembali aku memanggilnya.

Gadis itu reflek memfokuskan pandangannya kembali padaku. “sebenarnya… aku minta maaf, El. Aku…”

“tidak bisa membantuku?” suaraku sedikit menyiratkan kekecewaan. Padahal aku berharap Yinghan bisa sangat membantuku.

“bukan. Aku minta maaf sebelumnya… tapi, aku tidak bisa melihat apapun di masa lalumu. Gelap.” Ucapnya lirih. Sangat lirih. Kalau saja keadaan tidak sepi dan tidak ada angin yang berhembus membawa suaranya menguar di telingaku pasti aku tidak akan dapat mendengar apa yang Yinghan katakan.

“gelap? Kemampuanmu tidak mungkin hilang kan?” tanyaku meyakinkan, tidak mengerti dengan apa yang ia maksud soal masa laluku yang terlihat gelap. Malaikat bermarga Xi itu hanya menggeleng lembut. Ada kesedihan dibalik tatapan matanya padaku. Hey? Ada apa huh? Apa itu berarti ada kesalahan pada diriku yang membuatnya tidak bisa melihat masa laluku?

“masa depanmu juga tidak bisa aku lihat, El. Hanya cahaya putih tak ada apapun”

Sial! Sial sial sial! Apa – apaan ini semua hah?! Seorang malaikat tidak dapat melihat masa laluku juga masa depanku? Apa makhluk yang selalu menggangguku itu yang membuatku seperti ini?

Pundakku ditarik tiba-tiba oleh Yinghan. Dia memelukku begitu erat, mengelus punggungku dengan lembut.

“tak apa, tak ada yang salah denganmu” bisik Yinghan tepat di telingaku. Aku tau dia hanya berusaha menenangkan aku. “lebih baik kau bertanya pada orang tuamu. Mereka pasti yang paling tahu soal apapun tentangmu, El. Setidaknya agar semua ini cepat selesai. Kau bisa tenang nantinya, tidak harus ketakutan setiap mendekati benda – benda yang dapat memantulkan bayangan dirimu.” kalimat dan senyuman Yinghan setidaknya membuatku sedikit tenang.

Harus menunggu waktu libur akhir tahun kalau ingin bertanya pada daddy dan mommy. Jadi selama menunggu waktu liburan aku harus bertahan dengan kemunculan sosok itu? Haah!

Baru beberapa langkah aku keluar dari ruang makan, aku merasakan aura vampir. Kekuatannya lumayan besar juga membuatku sedikit sesak akibatnya. Memperlambat langkahku sambil tetap waspada dengan keadaan sekitar koridor yang aku lalui.

Dalam benakku bertanya, siapa yang berani melepas kekuatannya pada jam seperti ini? sekarang memang belum jam malam, masih ada beberapa anak di dalam ruang makan dan ruang santai tapi pastinya mereka tidak akan sebodoh ini pamer kekuatan malam-malam kalau tidak mau berakhir dengan hukuman.

Seorang guru tidak mungkin dengan sengaja melepas kekuatannya jika tidak di dalam kelas. Tidak mungkin juga kalau ini kekuatan milik musuh atau penyusup. Sistem pengamanan Cove Crown superrrr ketat, bahkan semut tidak akan bisa menyusup kedalam lingkungan sekolah.

Atau kepala sekolah? Biarpun beliau selalu menyegel kekuatannya tetapi aura yang ia miliki begitu besar, terkadang juga dapat membuatku sesak. Ah bodoh! Kepala sekolah itu malaikat, dan yang kini aku rasakan adalah aura vampir.

Siapa ini eh?! Sialan! Semakin aku mendekat pintu samping kastil asrama, rasa sesak semakin besar menyerangku. Kalau saja aku dalam keadaan lemah mungkin aku sudah ambruk dan tidak kuat untuk berdiri sekarang.

Srrakkk

            Aku menghentikan langkahku begitu mendengar suara seperti sesuatu terseret dari arah pintu besar tidak jauh didepanku. Pintu itu pintu samping kastil asrama. Memundurkan langkahku ketika merasa ada sesuatu yang akan masuk melalui pintu itu. Meskipun aku merasa kekuatan yang aku rasakan tadi mulai perlahan melemah, tapi tetap saja aku harus ekstra waspada.

“Oh Sehun?” bisikku ketika mengetahui siapa yang muncul dibalik pintu. Otot-ototku perlahan mengendur dari ketegangan beberapa saat tadi, merasa lega ternyata aura kekuatan itu milik Sehun. Bukan musuh atau penyusup.

Sehun datang dari arah pintu. Berjalan terseok-seok, terlihat seperti menyeret kaki-kakinya yang panjang. Anak itu hanya mengenakan jaket abu-abu yang dikancingkan, dapat aku lihat dia tidak mengenakan apapun lagi dibalik jaketnya. Wajah pucat Sehun terlihat begitu kelelahan, penuh luka disana sini. Luka-lukanya menutup begitu lama dari biasanya.

Sejenak aku teringat kalau anak itu pasti baru selesai menjalani hukuman dari Mr. Kangin. Yang aku tau akibat ulahnya bersama Tao tiga hari lalu membuat mereka mendapat hukuman tambahan jam latihan dengan Mr. Kangin. Bukan hanya tambahan jam latihan aku rasa, lebih kepada sebuah hukuman fisik tapi diperhalus menjadi jam latihan tambahan. Mungkin itu sebabnya Sehun melepas segel kekuatannya, mungkin juga dia lupa menutupnya kembali karena terlalu lelah.

Kejam? Tidak ada kata kejam bagi Mr. Kangin. Guru kelas pertahanan khusus untuk murid tahun empat dan lima. Kalau saja Cove Crown adalah sebuah kerajaan, beliau pasti akan menjabat sebagai panglima perang. Vampir kuno dengan kemampuan luar biasa. Tak ada yang akan mengerti kenapa beliau menghabiskan beberapa puluh tahun hidupnya mengabdi sebagai guru di Cove Crown.

Aku hanya diam berdiri di dekat sebuah patung ular tak jauh dari pintu dimana Sehun baru saja masuk. Sesekali vampir itu berpegangan pada dinding untuk menumpu beban tubuhnya.

Dia kelelahan dan lapar, sangat lapar sepertinya. Tetapi keadaan tubuhnya membuat dia tidak bisa bergerak cepat seperti biasanya. luka di beberapa bagian pada wajah dan tubuhnya juga tidak bisa menutup cepat. Herannya, dalam keadaan sekacau itu aura kekuatan Sehun masih sangat kuat dan masih bisa membuat makhluk lain disekitarnya terasa sesak.

Sudahlah, mungkin dia ingin pergi ke ruang makan untuk meneguk berkantung-kantung darah disana. Lebih baik aku segera kembali ke kamar.

Kembali aku berjalan menuju tangga diujung koridor. Sehun menyadari keberadaanku, manik hijaunya menatapku yang berlalu melewatinya. Memang sengaja aku mengacuhkannya, mau apa juga aku harus menghampirinya kemudian bertanya bagaimana keadaannya. Ewh! Sama sekali bukan aku!

Lagi-lagi belum jauh aku berjalan, aku mendengar suara berdebum dari arah belakangku. Seperti suara seseorang terjatuh. Berusaha untuk mengabaikan suara tersebut dengan melanjutkan jalanku tapi entah kenapa seperti ada yang membisiki telingaku untuk melihat ke belakang, memastikan kalau suara tadi bukan ditimbulkan oleh Sehun. Ya sekeras apapun aku mengabaikannya, akhirnya aku membalikkan badanku juga. Mendapati Sehun sudah terduduk lemah di tempatnya tadi. Berulang kali dia berusaha berdiri tetapi berulang kali juga dia gagal. Apa aku harus menolongnya? Tidak! Tidak ada urusannya denganku!

 

Sehun POV-

Seluruh bagian tubuhku rasanya akan terpisah satu persatu. Tiga hari aku sudah menjalani hukuman dari Mr. Kangin, sisa empat hari lagi tapi aku tidak yakin apa energiku masih bisa bertahan sampai besok. Guru sialan itu melarangku mengkonsumsi darah selama menjalani hukuman darinya. Tidak ada istirahat. Biarpun hukuman ini berbentuk latihan tapi tetap saja dia terlalu serius dengan latihan ini. dia menggunakan seluruh kekuatannya untuk melawan aku dan Tao. Mau aku dan werewolf sialan itu sekuat apapun diumur kami yang terhitung bayi untuk Mr. Kangin juga tidak akan pernah bisa mengimbangi setiap serangan yang dia berikan.

Kematian terasa menyambut di hadapanku, sedang merentangkan tangannya sambil tersenyum lebar kalau saja aku tidak segera meneguk berliter-liter darah sekarang juga. Sengaja aku melewati pintu samping agar cepat menuju ruang makan. Mati-matian berjalan menuju kastil asrama, kalau bisa teleportasi seperti para malaikat mungkin sudah aku lakukan sejak tadi.

Setelah akhirnya memasuki kastil asrama dengan penuh perjuangan dan menahan sakit disana sini, tanganku segera meraih dinding koridor, mencari tumpuan karena rasanya tubuhku semakin melemah saja. Aku melihat gadis vampir yang entah kenapa menganggu pikiranku dua bulan terakhir ini. dia berjalan dari arah ruang makan, sempat memperhatikanku ketika aku baru memasuki kastil kemudian kembali berjalan melewatiku begitu saja.

Sialan! Tubuh ini semakin tidak berguna saja! Perlahan mengangkat kakiku untuk kembali melangkah menuju ruang makan tapi rasanya aku kehilangan keseimbangan dan terjatuh lumayan keras menabrak lantai koridor. Menggunakan kedua tanganku untuk menumpu beban tubuhku, berusaha kembali berdiri tapi percuma saja. Aku sudah sangat lemah. Yang aku butuhkan hanya darah sekarang juga! Sial!

“jadi yang seperti ini vampir idola para gadis seluruh Cove Crown? Seperti ini vampir yang tiga hari lalu mengacau taman di sebelah kastil asrama? Menyedihkan!” suara feminin milik vampir yang aku kenal datang dari belakangku. Hingga detik selanjutnya aku merasa ada tangan lembut yang meraih lenganku, membantuku berdiri kembali. Aku menggerakkan kepalaku kesamping, memastikan kalau vampir yang menolongku itu benar….

“Alice?” bisikku lemah. Gadis itu hanya mendecih sebal dan membawaku ke ruang makan.

Alice? Kwon Alice? Vampir sombong itu menolongku? Apa aku berhalusinasi? Tapi rasa sakit di sekujur tubuhku masih begitu terasa nyeri jadi ini pasti bukan halusinasi. Alice benar-benar membantuku untuk ke ruang makan. Tumben sekali. Sangat jarang aku melihatnya sepeduli ini pada yang lainnya. jangankan menolong, sekedar menolehkan kepalanya dan bertanya bagaimana keadaan teman-teman yang lain saja tidak pernah ia lakukan. Sekalipun tidak pernah. Kecuali pada sahabatnya dan kedua kakaknya.

Beberapa anak-anak yang masih tersisa di dalam ruang makan bergegas membantu Alice untuk membawaku menuju meja makan. Mereka mendudukkanku di meja makan tak jauh dengan pintu dapur.

“guru itu benar-benar gila! Tao terbaring lemah di kamarnya sekarang, kakinya masih belum kembali sempurna akibat pertarungannya denganmu tiga hari yang lalu tetapi sudah dipaksa mendapat hukuman macam begini” itu suara werewolf yang aku tau terkadang bercanda dengan Chanyeol. Kim Jongdae. Satu-satunya werewolf yang bisa akrab dengan vampir anti werewolf macam Park Chanyeol.

Berkantung-kantung berisi darah akhirnya tersedia di mejaku. Segera aku menyambar satu kantung terdekat, tanpa gelas aku langsung meneguk darah dari dalam kantung. Sama sekali tidak memperdulikan riuh anak-anak lain yang ribut menanyakan apa saja yang sudah dilakukan Mr. Kangin padaku dan Tao.

Hingga kantung ke enam aku berangsur mendapatkan energiku kembali. Luka-luka di wajah dan tubuhku sudah menutup sempurna. Lengan dan pergelangan kakiku yang patah sudah kembali normal. Perlahan mengedarkan pandanganku ke sekeliling ruang makan, berusaha mencari keberadaan Alice.

“kemana Alice?” tanyaku pada elf yang terduduk di seberang meja makan.

“langsung pergi setelah berhasil membawamu kemari” jawabnya sambil menatap kantung-kantung darah di meja dengan jijik. Sayap dibalik punggungnya berkepak. Cahaya merah terang keluar akibat kepakannya. “aku heran kenapa dia mau menolongmu. Dia kerasukan hantu?” ucapnya lagi sambil mencondongkan tubuhnya.

“itu juga yang aku pikirkan sejak tadi, Baek. Hantu macam apa yang berani merasuki vampir menyebalkan seperti Alice” kali ini Jongdae yang masih berdiri diujung meja makan menyauti perkataan Baekhyun, si elf pemilik sayap berwarna merah terang. Aku hanya mengendikkan bahu acuh sambil melanjutkan menyesap darah pada kantung-kantung yang masih tersisa di meja. Peduli apa dengan Alice. Yang terpenting sekarang adalah mengumpulkan tenaga untuk kembali menjalani hukuman besok.

 

-TBC-

5 thoughts on “Another Me (Chapter 4)

  1. woow …ini cerita seru dan keren bgt….
    tapi jangan lama” ya updatenya🙂
    alice-sehun aq brharap mereka bisa saling suka,hehehe….
    masih penasaran bgt dgn masa lalu alice???
    oke ditunggu next ceritanya ya kak…
    semangat buat nulis🙂

  2. thoor daebak ceritanyaa… lanjutin ya lanjutiin. (iya dong) #eyaa hehehe. penasaran dengan something yang ganggu alice. kesian abang sehun ckck.
    jan lama lama ya ngepost nya..
    #hwaiting

  3. Ini cerita sumpah keren dan seru banget thor… sumpah setiap buka exo fanfic pasti ngecek ini tapi belum di update” dan sekarang di update dan sumpah seneng banget… lanjutin lagi ya thor… tapi jangan lama lama.. 화이팅!

  4. Ngeri banget hukuman mr. Kangin uuhh …
    Alice baik juga ama sehun, apa jangan” yg dibilang baekhyun bener lagi ?? Alice kesurupan O.O wkwkwkkk …

    Lanjuuuuuttttttt authorrrr
    semangka ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s