Clairvoyant (Chapter 1)

clairvoyant

Title : Clairvoyant

By : Vi

Cast : Oh Sehun (EXO), Im Nayoung (OC)

Genre : Fantasy, AU, High School Life, Friendship

Length : Ficlet in Mini Chaptered Story

Rating : T

Disclaimer :

I own the plot and the stories. This story is purely mine, I created it myself from my own wild imagination. Cast besides OC(s) belongs to God and their relatives. I might have posted this story on another blog. Last but not least, please don’t be plagiators and siders! Thank you for your concern.

Artwork by Vi

WARNING FOR TYPOS!

Originally was posted on here

.

.

.

.

.

.

.

 

Hari ini hanya seperti hari-hari biasa lainnya. Murid perempuan populer terlihat sedang berdialog ria di ujung depan kelas, menggosipkan berita terpanas mengenai idola mereka sambil sesekali memoles wajah mereka dengan bedak yang sebenarnya sudah kelewat tebal. Sementara di barisan tengah depan, duduklah murid-murid pintar yang memilih menghabiskan waktunya dengan membaca buku, tentu tak luput dari menguping gosip-gosip itu walau sesekali. Dan di belakang gadis-gadis populer itu, sudah menjadi daerah kekuasaan kumpulan murid pria populer di sekolah mereka. Jangan lupakan para murid yang duduk tepat di tengah-tengah barisan kursi, agaknya mereka murid-murid yang dipaksa memperoleh ranking oleh orang tua mereka, namun terlalu malas untuk menyimak.

Ah, hampir lupa. Di pojok kiri kelas dari pintu masuk, di situ seorang murid pria terlihat benar-benar tak minat dengan keadaan di sekitarnya. Toh, tidak pernah ada yang menganggap eksistensinya. Dan dia tidak keberatan dengan itu. Kepalanya terbaring di atas meja dengan lengan kiri sebagai alas dan menghadap ke dinding kelas. Sebelah tangannya bergerak turun ke saku kemeja seragamnya. Berusaha tak acuh dengan keadaan sekitar dengan menaikkan volume musik pada earphonenya.

Keadaan kelas bertahan seperti itu untuk beberapa saat. Sebelum bel masuk membuyarkan kegiatan mereka masing-masing. Termasuk dengan pemuda itu.

Ini hari Senin dan setiap Senin semua anak-anak di Yeonsa High School akan mengawali hari dengan jam perwalian di tiap kelas. Jadi pada intinya wali kelas masing-masing kelas akan masuk untuk menyampaikan beberapa pengumuman yang sebagian kecil penting dan biasanya, sisanya hanya nasihat dan evaluasi mingguan yang selalu saja diulang-ulang. Ugh, membosankan.

“Selamat pagi anak-anak. Baik, saya tidak ingin basa-basi karena hari ini kita kedatangan murid baru,” tutur sang guru yang membuat riuh kembali menguasai kelas.

Guru Kim keluar sebentar, sepertinya hendak memanggil murid baru yang dimaksudnya tadi. Benar saja, Guru Kim kembali dengan seorang murid perempuan ke dalam kelas. Bisik-bisik sontak bermunculan. Sebelum keadaan semakin ribut, Guru Kim pun mengetuk spidol di podium depan kelas beberapa kali. Usahanya ternyata membuahkan hasil, suasana kembali tenang.

“Baiklah, silahkan perkenalkan dirimu,” ucap Guru Kim yang ditujukan kepada murid baru tadi, sambil mempersilahkan tempat di podium untuk angkat bicara. Gadis itu beringsut maju dengan kepala tertunduk menuju podium kelas.

“Im Nayoung imnida, murid pindahan dari Busan. Mohon bimbingannya.”

Perkenalan yang singkat itu, sangat singkat malah, diakhiri dengan Nayoung yang membungkuk lantas menggeser posisinya.

“Anak-anak, beri tepuk tangan untuk Nayoung. Mulai sekarang Nayoung adalah bagian dari kelas ini dan sekolah ini, jadi tolong saling menjaga dengan baik. Arrasseo?”

Ne, Seonsaengnim!” seru satu kelas serempak, kecuali satu orang yang sedang tertidur di mejanya, tak minat dengan Nayoung.

“Baiklah Nayoung, kau bisa duduk di sebelah Oh Sehun.” Nayoung hanya mengangguk dan berjalan ke arah kursi kosong yang ditunjuk Guru Kim barusan. Melewati satu per satu baris terasa begitu panjang bagi Nayoung. Rungunya terganggu dengan bisikan-bisikan, seperti :

“Kasihan sekali dia harus duduk di sebelah Sehun.”

“Aku turut prihatin dengan nasibnya.”

“Omo! Semoga Nayoung bisa bertahan selama satu tahun penuh duduk bersama si Tak Waras itu.”

Apa maksud mereka? Tidak waras? Nayoung lebih memilih untuk tutup telinga. Hingga akhirnya gadis itu menarik kursi lantas duduk di tempatnya. Jujur saja, Nayoung tidak begitu mengingat wajah-wajah teman sekelasnya karena aksi tunduk-menunduknya tadi selama perkenalan.

Gadis dengan postur tubuh lumayan tinggi itu juga terlihat tidak tertarik sama sekali dengan manusia di sebelahnya. Ia lebih memilih untuk menyimak pelajaran sastra yang baru saja dimulai.

Dan ketika kelas akan berakhir, Guru Kim mengumumkan tugas kelompok yang harus dikumpulkan dua minggu lagi. Dan coba tebak, rekan kerja sekelompoknya hanya boleh dengan teman sebangku.

Di saat teman-teman sekelasnya sibuk membahas tugas mereka, duduklah Nayoung dan Sehun yang sama sekali tak acuh. Namun sastra adalah salah satu pelajaran di mana Nayoung selalu mendapat nilai jelek. Jadi, gadis itu bertekad untuk mengerjakan tugas kelompoknya—dengan Sehun—suka atau pun tidak.

Nayoung menghirup dan menghela napas berat sebelum akhirnya mencoba untuk membuka konversasi, “Em, chogi…Sehun-ssi, kapan kita bisa mulai mengerjakan tugas ini?” Sehun lantas bangkit untuk membenarkan posisi duduknya dari posisinya yang masih tidur membelakangi Nayoung. Kedua manik matanya melirik tajam milik Nayoung.

“Kau ingin mulai kapan?” Sehun balik bertanya. Nayoung tidak menemukan ada yang salah dengan pemuda di sebelahnya ini. Pun tidak menunjukkan gelagat aneh. Ia tampak normal, tapi mengapa seisi kelas menghidarinya? Entahlah, dan Nayoung juga tidak berniat mencari tahu.

“Pulang sekolah ini, bagaimana?”

“Baik,” ujar Sehun singkat sambil mengedikkan bahunya lantas kembali tidur. Nayoung yang tidak terlihat terganggu dengan sikap Sehun, memilih untuk bertopang dagu sambil menatap jendela.

 

****

 

Bel tanda berakhirnya sekolah pun berdering. Membuat semua siswa tergesa-gesa mengemas barang-barang mereka ke dalam tas ransel masing-masing. Semua terlihat terburu-buru, ingin cepat pulang sepertinya. Nayoung pun ikut mengemasi buku-buku dan alat tulisnya. Lain halnya dengan Sehun yang tidak bergeming sedikit pun dari kursinya. Ia hanya duduk sambil menatap lurus ke depan, tidak peduli denan anak-anak lain yang mulai membubarkan diri dari kelas.

Chogi, Sehun-ssi. Tugas kelompok, ingat?”

“Aku menyusul,” lisan Sehun dengan nada yang tak kalah datar dengan ekspresinya.

Huh? Memangnya kau tahu di mana rumahku?” tanya Nayoung bingung. Menyusul katanya? Nayoung bahkan tidak yakin Sehun mengingat namanya, tapi berlagak sok tahu di mana letak rumahnya. Yang benar saja.

Sehun lantas berdiri, masih dengan tatapan lurus ke depan. Sebenarnya Nayoung mulai penasaran, apa papan tulis di depan kelas mereka begitu indah sehingga Sehun tidak bisa sebentar saja menatapnya. Bukan berharap balas ditatap Sehun. Tapi menghargai sedikit lawan bicara dengan menatapnya saat bicara bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan. Oh ayolah kawan, itu merupakan tata krama dasar yang sudah layak dan sepantasnya untuk dilakukan.

“Kau terlalu banyak bertanya.” Setelah selesai mengucapkan kalimat itu, Sehun langsung pergi meninggalkan kelas dan Nayoung yang masih berdiri dengan tangan mengepal di kedua sisi tubuhnya. Baiklah, orang-orang benar mengenai Sehun. Pemuda itu tidak waras dan juga menyebalkan, sangat menyebalkan.

 

****

 

Nayoung turun dari bus, melanjutkan perjalan ke rumahnya dengan jalan kaki. Sepertinya hari ini Nayoung tidak akan bisa mengerjakan tugas sastranya bersama Sehun. Mengingat pria itu meninggalkannya di kelas tadi dan langsung menghilang tanpa jejak saat Nayoung berusaha menyusulnya.

Tanpa terasa Nayoung sudah sampai di jalan setapak gang rumahnya. Gadis itu berjalan sambil memandangi aspal yang menjadi pijakkannya daritadi. Dan seketika terhenti, saat menyadari di depan kakinya, terdapat sepasang sepatu milik sesorang. Gadis itu menoleh ke atas dan secara mengejutkan menemukan Sehun sedang berdiri di hadapannya, di depan ambang pintu rumahnya.

“Kau lama,” ucap Sehun singkat kemudian melanjutkan langkahnya ke pintu pagar milik Nayoung. Sehun menyadari gadis itu masih terdiam di belakangnya lantas menoleh, “Kau ingin mengerjakan tugas atau tidak?”

Lamunan Nayoung buyar seketika. Kepalanya kini dipenuhi dengan berbagai macam pertanyaan. Salah satunya, bagaimana Sehun bisa mengetahui alamat rumahnya. Dan seingatnya ini adalah rumahnya tapi mengapa Sehun masuk duluan? Dasar, tidak sopan. Nayoung pun hanya bisa mendengus kasar dan menyusul langkah Sehun memasuki rumahnya.

 

****

 

“Karya sastra siapa yang akan kita pakai?” tanya Nayoung to the point. Menurut Nayoung waktu adalah uang. Jadi, membuang waktu sama dengan membuang uangnya. Konyol, tapi benar adanya.

“Aku menyukai Daniel Defoe.”

Robinsonade?”

“Kau tahu Dia? Kukira nilai sastramu selalu jelek.”

Ya, nilai sastraku selalu jelek bukan berarti aku tidak menyukai sastra,” Nayoung baru saja akan menyerocos panjang lebar mengenai kegemarannya terhadap Defoe begitu tahu Sehun merupakan salah satu penggemar karyanya, tapi tiba-tiba gadis itu menyadari sesuatu, “Hei, bagaimana kau tahu nilai sastraku jelek, huh?” dengan nada penuh selidik, mata memicing, dan telunjuk yang ditudingkan tepat di depan wajah Sehun, Nayoung bertanya.

Meski begitu, ekspresi pria itu tetap saja seperti triplek, datar, bahkan triplek saja masih memiliki tekstur pada permukaannya. Sehun hanya mengedikkan bahunya sambil berkata, “Hanya menebak.”

Daripada memusingkan masalah sepele ini, Nayoung memilih untuk diam dan mulai mengajak Sehun untuk berdiskusi. Ternyata Sehun tidak sependiam yang Nayoung kira, begitupun sebaliknya. Nayoung sebenarnya bisa menjadi seorang gadis dengan kepribadian yang ceria jika sudah dekat dengan seseorang. Hanya saja tidak ingin terlihat mencolok di antara teman sekolahnya, jadi dirinya lebih memilih opsi aksi bicara-jika-diperlukan-dan-menjauhi-masalah.

Tak terasa sudah dua jam sejak kedatangan Sehun ke rumah gadis dengan rambut hitam panjang itu. Ketertarikan mereka terhadap sastra membuat mereka bisa menjadi dekat jauh lebih cepat daripada yang diperkirakan Nayoung. Bahkan awalnya Nayoung sempat ragu apakah dirinya bahkan bisa sekedar bicara dengan Sehun. Dan di sinilah mereka sekarang tengah asik dalam pembicaraan sejarah sastra klasik. Tidak jarang berbagai argumen mereka layangkan, seperti:

“Tapi Smith adalah seorang idealis yang hanya menyampaikan aspirasinya melalui karyanya.”

“Tetap saja, dia terlalu menyudutkan pihak Inggris, menilai secara subjektif konflik yang terjadi,” debat Sehun. Lihat? Nayoung sendiri tidak pernah menyangka bahwa pemuda dengan ekspresi datar itu bisa berbicara sepanjang tadi. Ya, walau dengan ekspresi datar, tapi tetap saja Sehun yang melontarkan argumen untuk mendebat orang lain merupakan hal yang patut masuk ke dalam tujuh keajaiban dunia. Sebenarnya, teman-tmean sekolahnya lah yang terlalu tidak peduli dengan pemuda berkulit pucat itu, sehingga tidak sadar jika Sehun adalah sosok murid cerdas, hanya saja terlalu malas untuk meladeni ocehan tidak penting kawan sekolahnya. Terlalu membuang waktu dan tenaga.

“Nayoung-ssi, kita bisa lanjutkan lagi lain kali. Kalau begitu aku permisi,” seloroh Sehun seraya membungkuk ke arah Nayoung dan melangkah menuju pintu rumah. Gadis bermarga Im itu lantas bangkit dari duduknya dan mengekor di belakang Sehun, bermaksud untuk mengantarnya hingga sebatas pagar.

Nayoung berdiri di belakang pagar sambil mengamati langkah Sehun yang perlahan menjauh. Tapi saat Sehun baru berjalan sejauh dua meter, pemuda itu berbalik, “Sebaiknya kau cek handphonemu, Ibumu akan marah jika kau tidak mengangkat telepon darinya, bukan?” ucap Sehun sebelum kembali melangkahkan tungkainya menjauh. Dahi Nayoung mengkerut dan hendak menyerukan sesuatu kepada Sehun, tapi ponsel di sakublazernya terlanjur bergetar.

Ne, Eomma?”

 

FIN

A/N :

Ini cerita absurd sangat, kawan. Ini aja bs ngetik ini gara-gara wkt itu hampir muntah pelangi kebanyakn bimbel Bahasa Inggris :” sm kl yg udh g sabar nungguin lanjutannya bs lgsg ke blog pribadi aja di sini.

 

Best regards,

Vi

 

6 thoughts on “Clairvoyant (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s