PROMISE (약속) – Chapter 3

Poster Promise (약속)

Tittle                : PROMISE (약속)
Author             : Dwi Lestari
Genre              : Romance, Friendship

Length             : Chaptered

Rating             : PG 17+

Main Cast        : Han Sae Ra (Elena), Park Chan Yeol (Channyeol)

Support Cast   : Byun Baek Hyun (Baekhyun), Oh Sehun (Sehun), Kim Jong Dae (Chen), Zhang Yi Xing (Lay), and other cast.

Disclaimer       : Alur dan ceritanya murni buatan saya.

Author’s note  : Jika ada kesamaan nama, tokoh, alur dan lainnya itu hanyalah unsur ketidaksengajaan. Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa komennya. No kopas, no plagiat. Typo bertebaran

 

 

CHAPTER 3

Neo….”, kata Saera.

Namja itu hanya tersenyum. “Tak disangka kita akan bertemu lagi Elena”, kata namja tersebut.

“Park Chanyeol-ssi. Untuk apa anda kemari?”, tanya Saera.

“Seharusnya aku yang bertanya padamu. Untuk apa kau kesini”, kata namja yang dipanggil Chanyeol.

Dari arah dalam datanglah direktur Kim. “Ow, ada tamu rupanya. Apa anda mengenalnya nona Han?”, tanya direktur Kim?.

“Hanya pernah bertemu sekali”, kata Saera. “Aku akan membantu Baekhyun”, lanjut Saera. Dia bergegas meninggalkan direktur Kim dan Chanyeol.

“Ada perlu apa tuan datang kemari”, kata direktur Kim.

“Kau tidak ingat denganku hyung?”, kata Chanyeol.

Direktur Kim berusaha mengingatnya. “Ah, Park Chanyeol”, katanya. Chanyeol kemudian mengangguk. Direktur Kim kemudian memeluknya. “Bagaimana kabarmu? Ini sudah lebih dari 20 tahun dan kau baru datang kemari. Ckckck, apa hidupmu sekarang sudah enak sampai kau melupakan tempat ini”, kata direktur Kim panjang lebar. Dia kemudian melepaskan pelukannya.

“Bukan begitu hyung. Ceritanya panjang”.

“Sudahlah, masuk dulu”.

Mereka kemudian masuk ke rumah. Saat melewati dia memandang Elena sebentar. Chanyeol cukup heran, mengapa Elena bisa berada di tempat ini. Dia berniat menanyakannya, namun direktur Kim mengajaknya ke ruang lain. Dengan terpaksa Chanyeol mengikuti direktur Kim.

“Mereka siapa hyung?”, tanya Chanyeol.

“Ow, mereka. Dia dokter Byun Baekhyun. Dia sebulan sekali kemari untuk memeriksa kesehatan anak-anak disini. Dia juga sering menyumbangkan dana untuk tempat ini. Dia bahkan tidak pernah meminta imbalan dari pekerjaannya. Dan yeoja yang bersamanya adalah dokter Han Saera. Dia seorang Psikiater, dia temannya dokter Byun. Ini kali pertamanya dia datang kemari”.

“Han Saera, bukankah namanya Elena”.

“Bukan, dia memperkenalkan diri dengan nama Han Saera”.

“Ah, tentu dia menggunakan nama lain. Jadi nama aslinya Han Saera”.

Wae? Apa kau mengenalnya”.

“Hanya pernah bertemu sekali”.

“Kau belum menceritakannya, bagaimana mungkin kau baru datang setelah lebih dari 20 tahun. Selama ini kau ada dimana?”.

“Aku tinggal di Amerika. Baru sekitar tiga bulan sejak kepindahanku ke Korea. Dan baru sekarang aku bisa kesini”.

“Bagaimana kabar Kim ahjumma dan ahjussi?”.

“Mereka baik-baik saja. Hanya saja sekarang mereka sedang liburan ke Mokpo. Mereka merindukan kampung halamannya”.

“Jadi kau sendirian sekarang?”.

Aniya. Aku bersama istriku”.

Jinja. Jadi hyung sudah menikah”.

Dari arah lain datanglah seorang perempuan membawa minuman. Dia menaruh minuman tersebut di atas meja.

“Nah ini istriku. Sayang, kenalkan dia Park Chanyeol”, kata direktur Kim.

Annyeong haseyo. Kim Hae Woo imnida. Jadi dia yang bernama Chanyeol. Senang bertemu anda Park Chayeol-ssi”, kata istrinya.

“Senang bertemu anda Haewoo noona”, kata Chanyeol.

“Maaf aku tidak bisa menemanimu mengobrol, aku harus mempersiapkan makan untuk tamu kita. Saya permisi dulu”, kata Haewoo.

Ne. Gwenchana”, kata Chanyeol.

Haewoo segera meninggalkan mereka berdua. “Minumlah dulu”, kata direktur Kim.

Ne, hyung”, Chanyeol kemudian meminum minuman yang disuguhkan.

“Apa kau datang kesini untuk bertemu Nami”.

“Tentu saja. Kau lebih memahamiku dari siapapun hyung”.

“Mungkin ini akan mengakitimu saat kau tahu kebenarannya nanti”.

“Apa maksudmu hyung?”.

“Kau tahu, setelah kepergian Nami selalu menyendiri. Apalagi setelah mendengar berita jika pesawat jurusan Amerika mengalami kecelakaan. Dia berubah menjadi gadis yang pendiam. Aku sering melihatnya menangis sendirian”.

“Tapi itu bukan pesawatku. Aku menaiki pesawat itu, karean aku menunda perjalananku sehari”.

“Dengarkan dulu, aku belum selesai”.

“Baiklah, kau bisa melanjutkannya”.

“Kami tidak tega melihatnya seperti itu. Kejaiban datang, 3 bulan kemudian datanglah seorang keluarga yang ingin mengadopsi seorang putri. Mereka memilih Nami. Dia terlihat bahagia dengan keluarga barunya. Dia menjadi gadis yang ceria lagi. Mereka kemudian membawa Nami ke Seoul. Namun saat perjalanan menuju Seoul, mobil mereka mengalami kecelakaan dan masuk jurang. Sehari setelah kecelakaan tersebut, mayat mereka ditemukan”.

“Tidak mungkin. Ini tidak mungkin. Kau pasti bohongkan hyung, kau bohongkan. Katakan kalau kau hanya berbohong hyung, ayo katakan. Tidak mungkin Nami…”. Chanyeol menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dia masih tidak percaya dengan semua perkataan direktur Kim. Dia berharap semua itu hanya bohong.

“Dengarkan aku, mayatnya belum ditemukan sampai sekarang. Ada kemungkinan dia masih hidup, tapi kemungkinan itu sangat kecil. Selama sekitar seminggu mereka terus mencari mayatnya dan mereka tidak menemukannya. Karena itu, mereka menghentikan pencarian dan menyatakan jika Nami sudah tiada. Itulah kepercayaan kami, karena tidak mungkin ada yang selamat dari kecelakaan hebat itu”.

“Jadi hyung juga percaya kalau dia sudah tiada?”.

Ne. Tidak ada kabar tentangnya sampai sekarang”.

Chanyeol hanya membuang nafas pasrah. Dia bagai disambar pentir disiang bolong mendengarnya. Dia merasa sangat menyesal telah meninggalkan nami seorang diri. Seharusnya dia mengajaknya kala itu. tapi apa mau dikata, takdir berkata lain. Dia harus kehilangan gadis yang amat sangat disayanginya.

“Tenanglah Chanyeol”, kata direktur Kim sambil menepuk-nepuk punggung Chanyeol untuk menenangkannya.

Hyung, seharusnya aku tidak meninggalkannya. Seharusnya aku membawanya saat itu. kenapa dia harus meninggalkanku dengan cara seperti ini. Kenapa hyung? Kenapa?”. Chanyeol berkata sambil menangis.

Tak tega melihat Chanyeol bersedih, direktur Kim memeluknya. “Tenanglah, mungkin ini memang jalan Tuhan yang dipilihkan untukmu. Kau harus sabar Chanyeol-ah”.

Chanyeol kemudian menghapus air matanya dan melepas pelukan direktur Kim. “Dia belum mati hyung, aku yakin itu. Bagaimanapun caranya, aku akan tetap mencarinya”, kata Chanyeol dengan mantap.

“Apa kau yakin?”.

“Emh. Semua itu berawal dari keyakinan, hyung”.

Arra. Aku hanya takut kau tambah kecewa saat kau tahu kenyataannya”.

Hyung tenang saja. Aku bukan anak kecil lagi sekarang”.

“Baiklah, terserah kau saja”.

Gomawo hyung”.

Ne”.

“Kim ahjussi dan Kim ahjumma mendapat salam dari eomma”.

“Nanti akan ku sampaikan saat mereka sudah kembali. Apa kau mau langsung pulang?”.

Ani. Aku akan berkeliling sebentar”.

“Baguslah! Nikmati saja. Aku harus menemui dokter Byun dulu”.

Ne”.

Direktur Kim kemudian meninggalkan Chanyeol sendirian. Dia melihat sekelilingnya. Terdapat banya foto tergantung di dinding. Chanyeol mengamati satu per satu foto-foto tersebut. Itu adalah foto anak-anak yang tinggal di tempat tersebut. Dia tersenyum, saat melihat foto dengan pose yang lucu.

Saat tengah asyik mengamati foto-foto itu, Chanyeol mendengar anak-anak sedang tertawa. Dia tertarik dengan suara tersebut. Dia lalu berjalan mendekati asal suara. Sampai di ruang tersebut, dia tahu penyebabnya. Disana terlihat Elena tengah menceritakan kisah yang lucu. Dia bahkan tersenyum saat mendengar kisah yang diceritakan Elena.

Chanyeol berdiri di depan pintu ruangan tersebut dengan tangan dimasukan dalam saku celananya. Cukup lama dia mengamati Elena yang tengah asyik bercerita. Dia dibuat heran sekaligus kagum pada Elena. Mungkin dia memang seorang pelacur, tapi hatinya sungguh baik.

“Aku tidak pernah melihat anda sebelumnya”, kata Baekhyun yang otomatis membuat Chanyeol menoleh padanya.

“Ah, ne. Ini pertama kalinya aku datng kemari setelah sekitar 20 tahun lebih aku meninggalkan tempat ini”, kata Chanyeol.

“Ow. Kenalkan, aku Byun Baekhyun. Ini kunjunganku ke 10 di tempat ini”. Baekhyun menulurkan tangannya.

Chanyeol membalas uluran tangan Baekhyun, “Aku Park Chanyeol”.

“Park Chanyeol, S&C Group?”.

Ne, anda benar”.

“Untuk apa anda datang kemari?”.

“Dulu aku pernah tinggal disini”.

“Ow”.

“Direktur Kim bilang, kalau yeoja itu temanmu?”, kata Chanyeol sambil menunjuk ke arah Elena.

Ne. Aku sudah mengenalnya sejak kami berusia 8 tahun. Bukankah dia terlihat ceria”.

“Emh”.

Geundae, sebenarnya hatinya sangat menderita”.

Mwo?”.

“Ah, bukan apa-apa”.

“Jadi kau tahu kalau dia seorang…..”.

Wae? Apa kau salah satu pelanggannya?”.

Chanyeol hanya diam. “Pantas saja dia terlihat aneh saat melihatmu”, tambah Baekhyun. Baekhyun kemudian berjalan mendekati Elena. Chanyeol masih terdiam di tempatnya.

“Saera-ya, kau sudah selesaikan. Kajja kita pergi. Bukankah kau ingin mengunjungi ibumu!”, kata Baekhyun saat telah tiba didekat Saera.

Ne, kajja. Anak-anak kakak pergi dulu ya”, kata Saera.

“Apa eonni tidak akan kemari lagi”, tanya Seulbi.

“Kalau itu eonni tidak bisa berjanji Seulbi-ya. Jika ada waktu, eonni pasti akan datang kemari”.

“Apa eonni janji?”.

Ne”, kata Saera sambil mengusap kepala Seulbi.

“Nah, anak-anak dokter Byun pamit dulu. Bulan depan kita akan bertemu lagi”.

Ne. Hati-hati dokter Byun. Hati-hati dokter Han. Terima kasih untuk waktunya. Annyeonghi gaseyo”, kata anak-anak itu serempak.

“Terima kasih dokter Byun dan nona Han”, kata direktur Kim.

“Sama-sama. Kami permisi dulu”, kata baekhyun.

Ne. Hati-hati di jalan”.

Baekhyun dan Saera membungkuk hormat, lalu pergi meninggalkan mereka. “Kami permisi dulu Park Chanyeol-ssi”, kata Baekhyun. Sementara Saera hanya membungkuk hormat. Chanyeol belum sempat menjawab, Baekhyun sudah menarik tangan Saera dan membawanya keluar dari ruangan itu. Baekhyun baru melepaskannya saat sampai di dekat mobilnya.

Wae?”, tanya Saera.

“Apa maksudmu?”, kata Baekhyun.

“Kau terlihat marah. Apa kau mengenalnya?”.

Nugu?”.

“Dia”.

“Park Chanyeol maksudmu?”.

“Eoh”.

“Aku bahkan baru tahu tadi”.

“Ow”.

“Kau yang terlihat aneh saat melihatnya”.

Jinja?”.

“Apa dia salah satu pelangganmu?”.

“Kami hanya baru sekali bertemu”.

“Ow, ya sudah. Kita mampir ke tempat ibumu dulu”.

“Emh”.

Baekhyun kemudian memasuki mobilnya, begitu juga dengan Saera. Namun saat akan memasuki mobil dia tak sengaja melihat ke arah bangku taman dekat mobil Baekhyun. Dia seperti pernah melihat tempat itu sebelumnya. Saera mengurunkan niatnya untuk memasuki mobil Baekhyun. Dia berjalan menuju bangku taman tersebut. Dia lalu duduk dibangku itu.

Saera memejamkan matanya, mengingat kejadian yang pernah dialaminya. Dia teringat dengan mimpi yang selalu mendatanginya. Ya, dibangku itulah anak kecil bernama Mikky memberikan kalung itu. melihat hal itu, Baekhyun juga turun kembali dari mobilnya dan menyusul Saera.

Wae? Apa kau masih ingin disini?”, tanya Baekhyun.

Refleks Saera membuka matanya. Dia melihat Bekhyun telah berdiri dihadapannya. “Kau ingatkan mimpi yang pernah aku ceritakan padamu. Disinilah dia memberiku kalung ini”, kata Saera.

“Kau yakin?”.

Saera mengangguk dengan mantap. Saat itulah sekelebat kejadian melayang dalam fikirannya. Kejadian dimana dia mendapat keluarga baru. Yang sekaligus mendaji awal penderitaannya. Dan itu membuat kepala Saera menjadi sakit. “Aw”, Saera merintih karena kepala semakin sakit. Dia memegang kepalanya untuk mengurangi rasa sakitnya.

“Saera, gwenchana”, tanya Baekhyun.

Saera tidak merespon pertanyaan Baekhyun. Dia mereasa kepalanya semakin sakit, seiring dengan datangnya kejadian-kejadian yang terlintas dalam fikirannya. “Aw”, rintih Saera lagi. Tak lama setelah itu, dia ambruk ke tanah jika Baekhyun tidak menangkapnya.

***

 

Saera akhirnya membuka matanya setelah hampir seharian tak sadarkan diri. Dia mengedarkan pandangan kesekeliling tempatnya terbaring. Dia belum pernah melihat ruang itu sebelumnya. Ini bukan kamarku maupun kamar Baekhyun, pikirnya. ‘Baekhyun, tunggu! Bukankah aku seharusnya bersamanya tadi. Sekarang dimana dia? Dan sebenarnya aku ada dimana?’, katanya dalam hati.

Dia berusaha mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Dia dapat mengingat jika sebelumnya dia berada di Love House, Tongyeong. Dia mendengar pintu ruangan tersebut dibuka. Dia menoleh ke arah pintu tersebut. Baekhyunlah yang membuka pintu.

“Kau sudah sadar?”, tanya Baekhyun. Saera menganguk. Baekhyun mendekati Saera dan duduk disampingnya.

“Aku ada dimana?”, tanya Saera.

“Kau ada di rumah sakit”.

Saera melihat infus tertancap di tangan kirinya. Baekhyun benar kalau dia berada di rumah sakit. “Aku baik-baik sajakan?”, tanya Saera.

“Emh. Kau hanya perlu istirahat. Dan jangan paksakan dirimu untuk mengingat sesuatu. Itu akan mempengaruhi kesehatanmu”.

Wae?”.

“Itu efek dari kecelakaanmu sewaktu kecil”.

Saera berusaha untuk duduk, dia dibantu oleh Baekhyun. “Jam berapa sekarang? Aku harus berangkat kerja, kemarin aku sudah tidak masuk. Kim ahjussi pasti akan marah padaku?”.

“Tenanglah. Ini sudah jam 11 malam. Kau sudah terlambat. Aku sudah menelfon Kim ahjussi tadi. Dia memperbolehkanmu istirahat untuk beberapa hari sampai keadaanmu benar-benar baik”.

Saera hanya menatap Baekhyun dengan tatapan yang sulit diartiakan. “Wae? Kenapa menatapku seperti itu?”.

Ani. Gomawo, Baekhyun-ah”.

Baekhyun hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Tiba-tiba saja terdengar bunyi perut Saera. Baekhyun tersenyum mendengarnya. Dia tahu kalau Saera belum makan semenjak dari Tongyeong.

“Kau lapar”, tanga Bakhyun.

Ne. Aku makan saat sarapan”, kata Saera.

“Tunggu sebentar, akan aku carikan makanan”.

“Emh. Jangan lama-lama”.

Arraseo”.

***

“Apa yang ingin kau laporkan Kyungsoo?”, tanya Chanyeol pada pria yang kini tengah berdiri di depan meja kerjanya.

“Aku sudah tahu siapa yang menemukan Lee Nami”, kata Kyungsoo.

“Katakan, siapa?”.

“Dia adalah Han Moonjae, seorang jaksa terkenal pada masa itu. Dia baru saja kehilangan salah satu putrinya saat itu. Dia merasa sangat kehilang putrinya, karena itu saat menemukan Nami, dia tidak melaporkannya. Dan menjadikannya putri penggati dari putrinya yang telah tiada”.

“Jadi maksudmu Nami hidup sebagai orang lain”.

Ne. Karena kecelakaan yang menimpa Nami sangat parah, dia kehilangan semua ingatannya. Dan hal itu menguntungkan untuk Han Moonjae”.

“Lalu dimana dia sekarang?”.

“Dia tinggal di Seoul selama ini. Geundae, salah satu putrinya bunuh diri 10 tahun yang lalu. Aku tidak tahu apakah itu Nami atau putri kandung Han Moonjae. Karena memang tidak banyak yang tahu hal ini. Dan Han Moonjae sudah meninggal tiga tahun lalu. Dia juga bunuh diri setelah menjual putrinya karena terjerat hutang. Karena setelah salah satu putrinya bunuh diri, dia sudah tidak lagi fokus pada pekerjaannya hingga ia dipecat dan menjadi seorang penjudi. Mungkin untuk lebih jelasnya anda bisa menanyakannya pada istrinya. Setelah kepergiannya, istrinya pulang ke kampung halamannya di Tongyeong. Dia menjual tteobokki di sana.”.

“Dimana dia menjual putrinya?”.

“Dari informasi yang ku dapat, dia menjualnya kepada Kim Dongman pemilik Empire Night Club”.

“Empire Night Club”.

Ne”.

“Siapa namanya?”.

“Han Saera, atau lebih dikenal Elena”.

“Elena?”, kata Chanyeol dengan nada memastikan jika dia tidak salah dengar.

Ne. Dia juga menjadi Psikiater di rumah sakit Haneul”.

“Baiklah, aku mengerti. Kau boleh pergi”.

“Ne”. Kyungsoo membungkuk hormat sebelum meninggalkan ruangan Chanyeol.

Chanyeol hanya bisa menyandarkan punggunya di kursi tempat duduknya setelah kepergian Kyungsoo. Dia membuang nafas pasrah mendengar kenyataan yang menyakitkannya.

“Bagaimana mungkin bisa terjadi. Minnie, kau dimana sekarang?”.

Dia sudah tidak dapat fokus lagi dengan pekerjaannya. Dia memutuskan untuk pergi menemui istri Han Moonjae untuk memastikannya.

***

Saera kini tengah berdiri di depan sebuah rumah makan. Dia meyakinkan dirinya sebelum masuk ke rumah makan tteobokki. Saera sempat ragu ketika akan membuka pintu rumah makan tersebut. Dia mengambil nafas panjang untuk meyakinkan dirinya. Setelah merasa yakin, Saera memasuki rumah makan tteobokki tersebut. “Eoseo Oseyo”, kata seorang ahjumma yang masih sibuk membersihkan meja.

Saera berjalan mendekati ahjumma tersebut. dia berhenti tepat dibelakan ahjumma itu. Saera hanya memperhatikan apa yang dikerjakan oleh ahjumma itu. “Silahkan duduk”, kata ahjumma itu lagi tanpa melihat ke arah Saera”.

Eomma”. Hanya itu yang keluar dari mulut Saera.

Ahjumma itu menoleh. Ahjumma itu sangat kaget saat mengetahui jika itu Saera. Dia hanya menatap dengan tatap bersalah. Dia tak menyangka jika putrinya kan mengunjunginya. Dia segera memeluk Saera. Mereka diam beberapa saat, masih dalam keadaan berpelukan. Ahjumma itu, menangis dipelukan Saera.

Eomma. Bagaimana kabarmu? Kau tahu aku sangat merindukanmu!”, Saera juga mengeluarkan air matanya.

Ahjumma itu melepaskan pelukannya. Dia menyuruh duduk Saera. “Nado. Eomma juga merindukanmu. Maafkan eomma, eomma tidak bisa membantumu saat itu. Eommalah yang bersalah, seharusnya aku bisa mencegah appamu saa itu, tapi eomma…”, kata eommanya Saera dengan menggenggam tangan Saera.

“Ssst…ssst…ssst”, Saera memotong pembicaraan eommanya. “Semuanya sudah terjadi, jangan bahas masalah itu lagi. Aku kesini hanya untuk mengetahui kabar eomma”.

Eomma baik-baik saja, seperti yang kau lihat sekarang. Bagaimana denganmu sayang? Dan bagaimana kau tahu kalau eomma di sini?”.

“Aku baik-baik saja eomma. Baekhyun selalu ada untukku, karena itu aku pasti akan baik-baik saja. Baekhyun juga yang memberitahuku kalau eomma ada disini. Sebenarnya kemarin aku akan berkunjung kesini, namun karena ada sedikit masalah jadi aku menundanya”.

“Baekhyun!”, tanga eomma Saera memastikan.

“Bukankah dia pindah ke Belanda?”.

“Seharusnya memang begitu, tapi dia tidak ikut orang tuanya karena menghawatirkanku”.

“Bukankah dia selalu begitu”.

Saera tesenyum. “Kau benar eomma. Untuk saat ini aku tidak khawatir, namun untuk selanjutnya aku merasa sangat khawatir. Aku hanya takut yeojachingunya akan salah paham pada kami”.

“Memangnya kekasihnya ada dimana sekarang?”.

“London. Dia melanjutkan S2 nya disana. Kurasa dia akan lulus tahun ini”.

“Kau tinggal dimana selama ini?”.

“Awalnya aku tinggal di tempat Kim ahjussi. Setelah cukup mendapat uang aku membeli sebuah apartemen. Tapi kadang Baekhyun juga menyuruhku untuk menemaninya di rumahnya”.

“Jadi kau masih bekerja untuk Kim Dongman?”.

“Emh. Karena hutang appa belum terlunasi maka aku masih harus bekerja untuknya. Gwenchana eomma, ini untuk kalian”.

“Ini bahkan sudah 3 tahun sayang. Eomma benar-benar merasa sangat bersalah. Padahal kau bukanlah putri kandungku tapi kau rela melakukannya untuk kami”.

Deg. Saera merasa tersambar petir disiang bolong saat tahu mendengar perkataan eommanya. “Bukan putri kandungmu. Maksud eomma apa?”, tanya Saera.

Raut wajah eomma Saera berubah khawatir. Dia tak sengaja mengungkap rahasia yang sudah disimpan rapat selama ini bersama suaminya. “Itu…”, eomma Saera tidak melanjutkan kata-katanya.

“Katakan eomma, apa maksudnya? Apa aku benar-benar bukan putri kandungmu?”, kata Saera dengan nada meminta penjelasan.

“Bukan begitu maksudku”.

“Jadi benar dugaanku selama ini. Pantas saja aku tidak pernah merasa dekat dengan Sora. Mereka bilang saudara kembar punya ikatan batin yang kuat, tapi aku tidak pernah merasa seperti itu dengan Sora. Saat makanpun aku merasa seperti orang lain, kalian semua menyukai kepiting, sedangkan aku, aku justru alergi kepiting. Dan juga appa lebih menyayangi Sora dinading aku, dia bahkan merasa sangat terpukul setelah kepergian Sora. Jadi karena memang aku bukan putri kandung kalian”. Saera mengatakan semua itu dengan mata berkaca-kaca.

“Sayang bukan seperti itu”.

“Lalu seperti apa eomma? Apa Sora tahu jika aku bukan saudara kembarnya? “.

Ani, dia tidak tahu. Dia memang memiliki saudara kembar, tapi dia sudah tewas. Appamu merasa terpukul saat itu. Lalu dia menemukanmu. Kau kehilangan semua ingatanmu saat itu dan itu membuat appamu gelap mata. Dia tidak melaporkannya pada polisi dan mengangkatmu menjadi pengganti Saera. Sebenarnya aku sudah melarangnya, tapi dia sangat keras kepala. Karena itu, kami meyimpan semua rahasia itu rapat-rapat. Maafkan eomma sayang”.

“Kenapa kalian tidak pernah bilang dari awal. Jika saja aku tahu lebih awal, rasanya tidak akan sesakit ini eomma”.

“Maafkan eomma sayang”.

“Cukup, Hikz…hikz… Kenapa kalian tega padaku, kenapa?”, Saera segera berlari keluar. Dia masih dalam keadaan menangis. Dia bahkan tidak menghiraukan ibunya memanggilnya. “Saera-ya tunggu”. Saera terus berlari menjauh dari rumah makan tersebut. Dia hanya berharap semua yang didengarnya tadi tidaklah benar. Dan tiba-tiba, bruk.

 

— TBC —

 

Hayo siapa itu yang jatuh? Jangan lupa komennya ya. Semoga gak bosen dengan FF ini.

Salam hangat: Dwi Lestari…..

4 thoughts on “PROMISE (약속) – Chapter 3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s