Ravens: The Chinese Danger (Chapter 6)

ravens-new-poster-fast7-theme

RAVENS THE CHINESE DANGER
Chapter
6

Author
@galaxysyf

Genre
Action, Crime, Multicultural, OOC

Rating
PG-15

Cast
Kris Wu / Wu Yi Fan 吴亦凡 || Xi Lu Han 西鹿晗 || Huang Zi Tao 黄子韬 || Lay / Zhang Yi Xing 张艺兴 || Xia Zi Liu 侠字刘 (OC)

Disclaimer
It’s all not mine but storyline and OC.

Length
Chaptered

Prolog | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5

****

South Korea Police Department, Seoul

 

Dari sekian banyak meja yang ada di lantai bagian kejahatan berat, hanya ada satu meja yang lampunya masih menyala. Seorang polisi yang rela kerja lembur disaat polisi lain sudah pulang ke rumah mereka masing-masing. Pria bernama Oh Sehun itu memang tak mengenal kata berhenti jika sudah dihadapkan dengan tugas dan kasus.

Dia sudah mengisi ulang cangkir kopinya sebanyak 4 kali. Itu artinya dia sudah minum 4 gelas kopi selama berberapa jam terakhir. Sehun bukanlah tipe orang yang addicted terhadap kopi, tapi demi tetap terjaga semalaman, dia rela minum sebanyak apapun.

Di atas meja terlihat banyak sobekan kertas yang digulung seperti bola.Selama berjam-jam, Sehun sudahmemikirkan berberapa kemungkinan bagaimana sebuah kejahatan bisa terjadi hanya dengan menganalisanya—menuliskannya di atas kertas. Namun setiap analisis yang dibuatnya akan berakhir dengan jalan buntu. Sebanyak apapun dia mencoba.Terkadang dia merasa dia butuh lebih banyak informasi, data dan bukti. Tapi sejauh ini, kasus yang ia tangani masih minim informasi.

Pada saatnya Sehun mulai menyerah.Dia meletakkan pensil yang sedari tadi digunakannya begitu saja akibat rasa lelah yang langsung menyerangnya. Tubuhnya juga mulai terasa pegal luar biasa karena terlalu lama duduk dengan posisi yang sama selama berjam-jam. Wajar jika dia merasa lelah dan pegal-pegal.Untuk alasan itu, dia memulai gerakan peragangan sebelum semua ototnya jadi tegang akibat kurang rileks.

Diliriknya alroji yang ia kenakan di pergelangan kanannya. Sudah larut memang karena sekarang ini hampir jam setengah 2 pagi.Bukan hal yang baru bagi Sehun, tapi tetap saja larut. Keputusan untuk pergi meninggalkan kantor dan kembali ke rumahakan menjadi keputusannya yang paling bijak saat ini. Tapi sebelum itu, dia harus bertanggung jawab dengan semua sampah yang ada di atas mejanya.Seorang polisi teladan tidak mungkin meninggalkan mejanya berantakkan.

Lebih dari 10 kertas bekas dibuangnya ke tempat sampah kecil di bawah mejanya. Berberapa sisa bungkus makanan yang isinya habis ia makan saat bekerja tadi juga tak dilewatkannya. Dia kembali memastikan semua alat tulis yang dipakainya tadi sudah ia bereskan dan sudah ia masukkan ke dalam wadah gelas khusus untuk pensil dan pulpen. Yang harus dilakukannya sekarang hanya pergi ke mobil yang diparkirnya di tempat parkir—tentu saja—dan kemudian pulang.Dia tak perlu membawa salah satu dari pekerjaan pulang kali ini. Kerja lembur hingga jam setangah 2 pagi telah menandakan kalau Sehun telah bekerja keras sehingga tidak perlu ada pekerjaan rumah untuknya.

Gedung ini sudah jadi sepi sejak 4 jam yang lalu. Normalnya, jam kerja seorang polisi di kantor hanya sampai jam 9. Bisa dipastikan pula lapangan parkir mobil sudah benar-benar kosong.Hanya ada satu mobil berwarna silver di lapangan parkir kantor polisi yang sudah pasti adalah mobil Sehun. Tidak mungkin ada mobil lain yang masih terparkir disana. Bahkan di sana hanya ada 2 orang penjaga yang bekerja untuk jam malam.

“Belum pulang?” ujar salah satu polisi penjaga itu.

Sehun menyeringai.“Ini baru mau pulang,” ucapnya seraya membuka pintu mobilnya.

Mobil silver itu dengan cepat menyala saat dihidupkan pemiliknya. Tak ada alasan untuk Sehun berlama-lama di tempat kerjannya ini.Dia harus cepat pulang sebelum matanya semakin sulit untuk dibuka.Perlahan mobil itu melaju keluar dari halaman gedung kepolisian. Meski ini sangat larut—bahkan menjelang pagi—dan jalanan sangat sepi, Sehun akan tetap mentaati peraturan lalu lintas. Bukan karena dia ingin menjadi contoh yang baik, melainkan dia tahu akan ada polisi yang berjaga di berberapa jalan untuk memantau kondisi lalu lintas.

Dalam perjalanannya, Sehun kembali ke dalam pikirannya tentang tugas besar yang diterimanya bersama dengan Inspektur Suho. Sesekali dia merasa ingin menjalankan tugasnya yang berat itu dengan baik untuk mendapatkan nama yang bagus di kepolisian. Dia mungkin bukanlah polisi dengan pengalaman keja bertahun-tahun, tapi dia yakin dia bisa.Dia sudah menjalani pelatihan luar biasa sebelum bisa menjadi seorang polisi.Lagipula, ada sesuatu yang membuatnya jadi tambah semangat.Sesuatu yang sebenarnya aneh untuk didengar dan dipikirkan.Tapi hal yang aneh lebih baik disimpan untuk dirinya sendiri.Jangan sampai ada yang tahu.

 

Mata Sehun yang semula terfokus pada jalanan telah menangkap sesuatu di sisi kiri jalan. Awalnya dia tidak yakin dengan apa dilihat di atas trotoar. Seseorang tergeletak di sana, terbaring tak bergerak. Naluri Sehun sebagai seorang polisi membuat pedal rem diinjaknya dalam sampai mobil miliknya itu berhenti begitu saja dengan suara decitan keras akibat gaya gesek antara ban karet dan aspal jalanan.

Dengan langkahnya cepat, Sehun mendekati orang itu.Seorang wanita.Sehun tak bisa melihat wajahnya karena tertutupi oleh rambutnya yang panjang dan cukup lebat.Hal lain yang terlihat adalah kaos putih yang dikenakan wanita itu sudah basah berwarna merah akibat darah. Dia tertembak.Dugaannya itu diperkuat setelah Sehun melihat selongsong peluru yang tak jauh dari tubuh wanita itu.

Hal pertama yang dilakukan Sehun adalah meraih pegelangan tangan wanita itu.Memastikan apakah wanita itu masih hidup atau tidak.Jaket yang dikenakan wanita itu sempat menjadi sedikit masalah, tapi Sehun pasti bisa menanganinya.

Ada!pikirSehun yang telah menemukannnya. Denyut nadi yang masih bisa dirasakannya meski lemah.Masih ada kesempatan untuk menyelamatkan wanita ini.

Ada segudang pertanyaan yang muncul di dalam pikiran pria itu.Melihat kondisi saat ini dan situasinya.Bagaimana seorang wanita bisa tertembak di pagi buta dengan tak ada seorang pun yang melihatnya atau menemukannya?Hal yang pertama terlintas di otak Sehun adalah gangster yang akhir-akhir ini main berulah.Hanya itu yang menurut Sehun masuk akal untuk saat ini.

Tangan Sehun secara reflek bergerak untuk menyingkirkan ribuan helai rambut yang menutupi wajah wanita itu. Dia ingin tahu—tentu saja—wajah dari wanita malang yang menjadi korban aksi penembakan di pagi buta seperti ini.

Perasaan kaget langsung menyelimutinya. Melihat salah satu musuhnya tergeletak meregang nyawa dengan luka tembak—di kota yang tak pernah dipikirkan olehnya ataupun atasannya dimana The Ravens berada—bukan sesuatu yang biasa. Terlebih dia menemukannya secara tak sengaja.

“Li—Liu?” ucapnya spontan.

Sehun jadi bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Dia tidak tahu harus bagaimana dengan masalah yang ia hadapi. Hati Sehun penuh dengan perasaan aneh yang siap menentang pikirannya.Entah dia harus menyelamatkan nyawa Liu dengan membawanya ke Rumah Sakit atau tidak. Tapi jika Liu dibawanya ke Rumah Sakit, Suho pasti akan mudah menangkapnya dan akan membuat wanita itu bicara soal keberadaan Kris.

Dia tidak punya waktu untuk berpikir, tapi dia tahu harus melakukan apa.

Sehun langsung bergerak cepat mengangkat tubuh Liu dan membawanya masuk ke dalam mobilnya. Dia juga mengambil selongsong peluru yang ditemukannya tadi supaya tidak akan ada yang tahu kalau ada seseorang yang tertembak ataupun curiga dengan darah yang ada di trotoar. Dengan begitu, mungkin orang akan mengira kalau darah itu adalah darah hewan liar atau yang lain, tapi bukan darah manusia.

Mobil Sehun melaju cepat menuju ke sebuah Rumah Sakit terdekat. Kakinya terus menginjak pedal gas lebih dalam dari seharusnya. Jalanan yang sepi seolah mendukung aksi gilan dalam mengendarai mobi.Dia tidak peduli kalau akan melanggar peratuan lalu lintas tentang batas maximun kecepatan laju mobil. Yang terpenting baginya adalah dia bisa sampai di Rumah Sakit secepat mungkin.

Semua Rumah Sakit seharusnya buka 24 jam apalagi untuk UGD. Hal itu menjadi harapan Sehun saat dia memarkir mobilnya sembarang di depan lobby Rumah Sakit dan secepat mungkin membawa Liu berlari masuk ke dalam Rumah Sakit. Berberapa perawat yang melihatnya bergegas datang dan mendorong ranjang beroda untuk membawa tubuh Liu yang tak sadarkan diri dengan luka tembak di perutnya.

“Aku ingin bicara dengan dokternya,” ujar Sehun cepat.

Dia bertemu dengan seorang pria yang berpakaian seperti pada umumnya seorang dokter saat berberapa perawat membawa Liu untuk segera ditangani. Dokter dengan kepala yang mulai beruban itu sepertinya adalah dokter yang akan menangani Liu.Wajahnya terlihat ikut panik ketika melihat bagaimana paniknya wajah Sehun yang penuh dengan keringat dingin.

“Apa yang terjadi?” ujar Pak Dokter bertanya.

“Dia tertembak.Aku ingin operasi di lakukan sekarang juga.Keluarkan peluru itu dan aku ingin wanita itu dirawat di rumahku,” pinta Sehun dengan nada bicaranya yang tergesa-gesa.

“Maaf, tapi aku tak bisa melakukan itu. Prosedurnya—“

“Jangan bicara soal prosedur padaku!” potong Sehun cepat.“Aku ini polisi. Kau tidak perlu khawatir akan menyalahi prosedur. Aku ingin wanita itu sudah ada di rumahku sebelum matahari terbit. Dan jangan ada catatan tentang dia! Aku akan tanggung semuanya.”

Dokter itu terdiam sejenak.Ini kasus pertama yang dihadapi dokter itu selama dia bekerja.Merahasiakan keberadaan seorang pasien adalah sesuatu yang baru. Takut akan melakukan sebuah kesalahan dirasakan dokter itu sekarang. Namun Sehun berusaha keras untuk membuat dokter itu bersedia membiarkan Liu berada di rumahnya dan merahasikan kehadiran Liu di Rumah Sakit ini seperti wanita itu tak pernah datang.

“Ingat, dok! Jangan ada catatan soal wanita itu! Kau hanya perlu membawanya ke rumahku.Lebih baik dia ada disana. Aku akan menyewa jasa perawat di Rumah Sakit ini untuk menjaganya. Tak ada yang perlu dikhawatirkan.”

Dokter nampak ragu, namun pada akhirnya dia mengangguk tanda setuju.Operasi pengeluaran peluru dari perut Liu dilakukan pada saat itu juga.Seharusnya tidak butuh waktu yang lama sehingga Liu bisa dibawa ke rumah besar—yang merupakan peninggalan keluarga Oh yang menjadi milik Sehun—sebelum matahari terbit. Karena sebelum pukul 7 pagi, tidak akan ada polisi yang pergi untuk berangkat bekerja, termasuk Inspektur Suho.

 

_______

Sudah berhari-hari semenjak The Ravens kehilangan salah satu anggotanya.Atmosfer di rumah itu masih kelabu dan penuh duka.Rumah itu menjadi sepi tanpa ada obrolan berarti antar member.Tak terdengar lagi suara Liu di rumah itu yang selalu memarahi Tao seperti seorang kakak yang memarahi anak bungsunya yang nakal.Tidak ada lagi suara candaan Luhan bersama Liu yang selalu terdengar setiap siang.Ataupun suara Lay dan Liu yang memasak makan malam bersama.

Rutinitas The Ravens berubah drastis sejak tak adanya Liu diantara mereka. Tak ada lagi Liu yang akan selalu pergi setiap pagi untuk membeli sarapan. Hanya Lay yang bisa melakukan itu. Tidak akan ada Liu yang memasak makanan untuk makan siang dan makan malam. Hanya Tao dan Luhan yang akan pergi untuk membeli makanan di box yang praktis.

Biasanya, setiap malam, kelima member akan selalu berkumpul di meja makan bagaimanapun keadaan mereka. Sekarang hanya 3 orang yang duduk di meja makan untuk makan bersama selama Kris terus mengurung dirinya dalam kamar, tak mau keluar tanpa terkecuali.

Mereka semua mengalami mental breakdown sejak hari itu.Terlebih Kris yang mengalami guncangan hebat pada kondisi psikisnya.Mentalnya bisa jadi sangat terganggu.Seharian dia hanya berada di dalam kamarnya, merenungkan semua hal buruk yang terjadi. Tak berhenti dia menyalahkan dirinya sendiri dengan apa yang menimpa Liu.Lay yang selalu mengantarkan makanan ke kamar Kris selalu bisa mendengar isakkan pria itu meski dia tidak bisa melihat wajah Kris.

Selama berberapa hari terakhir, Luhan dan Lay menunggu sesuatu dari acara TV setempat.Menunggu berita tentang ditemukannya mayat seorang wanita di pinggir jalan.Namun selama berberapa hari juga, mereka tidak mendengar adanya berita itu. Mereka ingin tahu apa polisi bisa menemukannya dan kemudian mereka bisa mencari tahu dimana jasad Liu akan dimakamkan.

“Sampai kapan kita mau menunggu berita yang tidak akan pernah disiarkan itu, hah?” kata Luhan jenuh.

Mendengar abangnya sudah meneluh, Lay meraih remote TV dan menekan tombol power off cepat. Sudah tak ada gunanya lagi menonton TV dan menunggu berita yang tidak akan pernah ada. Hal itu hanya akan membuang-buang waktu.

“Tapi bukankah aneh?” ucap Lay. “Bagaimana bisa tak ada berita tentang Liu?Yongguk tidak mungkin membuang mayat Liu.Dia pasti akan membiarkannya tergeletak di jalan supaya polisi atau warga sipil yang menemukannya.”

“Mungkin polisi menemukannya, tapi tidak membiarkan wartawan sampai membuat berita tentangnya.Polisi Korea masih menahan informasi apapun tentang kita ke media selama kita tidak mengancam pertahanan Korea Selatan,” ujar Luhan.“Mungkin kita yang harus mencari tahu sendiri dimana Liu dimakamkan.”

“Tapi terlalu berbahaya untuk hal itu sekarang.Jika polisi menemukan jasad Liu, itu artinya mereka tahu kalau kita ada di Seoul.Tim dari Inspektur bernama Suho itu akan melakukan pencarian di seluruh kota meski dalam ukuran kecil dan dirahasiakan dari publik,” kata Lay panjang lebar.

“Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Luhan.

“Kita hanya bisa diam sekarang ini.” Lay melangkah meninggalkan Luhan yang masih duduk malas di sofa yang berhadapan langsung dengan TV.

Dia ingin melakukan apa yang sudah gagal ia lakukan selama berberapa hari terakhir; membujuk Kris untuk keluar dari kamarnya. Langkahnya mantap menuju pintu kamar Kris yang sudah sekian lama tertutup itu. Perkiraanya kali ini adalah Kris akan menolak ajakkannya lagi seperti sebelumnya. Tapi Lay tidak akan menyerah sampai leader dari The Ravens itu berhenti mengurung dirinya sendiri dan berhenti untuk menyalahkan dirinya sendiri dengan apa yang menimpa Liu.

Di dalam kamarnya, Kris hanya duduk di atas lantai dengan bersandar pada dinding dalam kondisi kamar yang gelap tanpa ada lampu yang ia nyalakan. Matanya melatap ke arah jendela yang memberinya satu-satunya sumber cahaya yang bisa dilihatnya. Air matanya seakan sudah kering—dia sudah tak bisa menangis lagi karena air matanya tidak akan bisa mengalir lagi dari kedua matanya.

Penyesalan adalah penyakit terparah yang menyerang pria itu saat ini.Ambisinya membuatnya menjadi egois hingga dia tidak memikirkan apapun selain balas dendam.Seharusnya dia bisa mendengarkan Liu.Tentang perasaan wanita itu yang tak yakin dengan misi The Ravens yang gagal total.

Puncak dari rasa penyesalan Kris adalah saat dia mengetahui kenyataan kalau dia tidak bisa menepati janjinya pada Liu.Untuk menjaganya dan melindungi wanita itu. Dia telah berkata kalau dia tidak akan membiarkan apapun terjadi. Namun kenyataannya justru dia kehilangan Liu.

Tok… Tok… Tok…

“Kris!”

Lay mengetuk pintu kamar itu sambil berteriak. Memanggil dengan cara baik-baik bukan lagi cara yang efektif untuk membuat Kris keluar dari kamarnya.“Kris! Sampai kapan kau mau mengurung diri di kamar begini?Kau hanya menyiksa dirimu sendiri. Berhentilah menghukum dirimu sendiri.Kris!”

Kris tetap diam. Tak mau menanggapi seperti hari-hari sebelumnya.Tubuhnya pun sudah malas, bahkan untuk berdiri.

DUKK… DUKK…

“HEY! KRIS! KAU MAU TERUS BERADA DISANA, HAH? SAMPAI KAPAN?”

Itu suara Luhan—yang menggedor-gedor kasar pintu kamar Kris. Lama kelamaan laki-laki itu jadi emosi sendiri melihat sikap Kris sejak kehilangan Liu. Semua member juga merasa duka yang sama, tapi bagi Luhan sikap Kris terlalu berlebihan.

“Ayo lah, ge!Diantara kita semua, bukan cuma kau yang berduka atas kepergian jiejie.”

Suara Tao ikut terdengar. Semua member tersisa sudah berkumpul di depan pintu kamar Kris. Mereka semua mencoba—setidaknya—membuat Kris membuka pintu kamarnya dan membiarkan member yang lain masuk.

Just… Leave me alone, guys.”

Akhirnya suara Kris terdengar, meski itu masih berupa ungkapan menolak untuk keluar dari kamarnya.Suaranya terdengar berat seolah dipaksakan. Tak ada lagi yang bisa dilakukan Lay atau yang lainya selai menunggu Kris keluar dengan sendirinya.

“Biarkah saja lah dia! Capek sendiri nanti kalau terus mengurus pria keras kepala itu,” ketus Luhan yang mulai melangkah pergi dan bertingkah seolah tak perduli lagi.Bahkan seorang Luhan sudah menyerah untuk mengurus leadernya sendiri.

Mungkin hanya Lay dan Tao yang belum menyerah juga dengan sikap Kris yang berubah drastis semenjak kepergian Liu. Entah sampai kapan The Ravens akan terus seperti ini. Jika saja Kris ataupun member The Ravens tahu kalau Liu masih hidup.

_______

Tempat itu adalah sebuah apartemen mewah di pusat kota Seoul. Tak ada yang curiga kalau salah satu kamar di apartemen itu adalah milik dari The Hurricanes.Meski secara teknis, apartemen itu beratas namakan Bang Yongguk sebagai pemilik sah.Tempat itu memang bukan satu-satu tempat persinggahan anggota The Hurricanes.

Himchan adalah pemilik dari salah satu rumah mewah di sebuah komplek elit kelas atas. Tak jarang The Hurricanes akan memilih tempat itu selain dari apartemen milik Yongguk. Rumah Himchan menjadi tempat paling aman—untuk menyimpan berberapa barang ilegal; seperti senjata yang izin beredarnya sudah pasti tidak ada—jika dibandingkan dengan apartemen milik Yongguk.

Sedangkan yang lain, mereka punya rumah mereka sendiri. Tapi waktu mereka akan lebih banyak dihabiskan di apartemen Yongguk sebagai basecamp mereka. Seperti yang terjadi saat ini.

Bisa dilihat, Yongguk sedang menunggu sesuatu dari kotak hitam flat yang bernama TV. Hampir seluruh siaran berita Korea yang tonton, tapi tak ada satupun acara berita menyiarkan kabar tentang apa yang dia cari.

Zelo yang dari tadi duduk di sebelah Yongguk mulai bosan dengan apa yang ditonton leadernya itu. Dia ingin sekali menonton acara TV lain selain berita membosankan yang hanya menyiarkan berita berlevel standar bagi The Hurricanes.

Hyung,” kata Zelo.“Boleh ku ganti channelnya, nggak?”

No,” jawab Yongguk singkat dengan suara beratnya yang terdengar menyeramkan.

Seketika Zelo kembali diam. Hanya satu kata tapi mampu membuat Zelo tidak lagi bicara. Sebagai member termuda, Zelo punya rasa takut yang cukup tinggi terhadap Yongguk jika dibandingkan dengan member yang lain.

“Sebenarnya apa yang kau tunggu, hyung?” sambar Daehyun—laki-laki yang datang dengan sepiring cheese cake di tangannya.Mulutnya seakan tidak bisa berhenti mengunyah setelah sepotong cheese cake sudah berada dilahapnya.

“Ingat anggota wanita dari The Ravens itu?” ucap Himchan—yang melangkah jalan menuju tempat ketiga anggota lainnya berkumpul—mencoba mengingatkan apa yang pernah leader mereka lakukan berberapa waktu lalu.

“Yang baru kau bunuh itu, kan?” tanya Zelo memastikan.

“Iya.Aku ingat. Memangnya kenapa?” tanya Daehyun menambahkan dengan tampangnya yang masih belum mengerti.

“Tidak ada berita tentang wanita itu.Padahal aku meninggalkan mayatnya di jalanan.Seharusnya ada berita tentang penemuan mayat wanita di tengah jalan.Tapi sama sekali tidak ada,” ujar Yongguk seraya jempolnya yang menekan tombol power off pada remote TV yang dipeganggnya.“Ngomong-ngomong, apa pria itu sudah telpon lagi?”

Himchan menggeleng cepat.“Belum.Tapi dia sudah kirim email.Dia minta kita melakukan sesuatu.”

“Apa yang dia bilang?”

Laki-laki tertua setelah Yongguk itu mulai mengalihkan fokusnya pada layar ponselnya—mencari email yang sengaja sudah ia simpan agar mudah menemukannya saat ia butuh.

“Misi yang sangat menarik, loh.Sangat menantang tapi cukup beresiko,” ujar Himchan seraya menyerahkan ponselnya pada Yongguk supaya pria itu bisa membaca isi email itu sendiri.

Mata Yongguk sedikit melotot untuk sesaat setelah membaca isi email itu. Untuk misi suruhan orang lain, misi itu cukup beresiko dengan level tantangan yang tinggi. Zelo dan Daehyun yang penasaran ikut bergabung untuk mengintip misi macam apa yang akan mereka jalankan.

“Membunuh petinggi kepolisian. Wow… Itu tidak biasa,” gumam Zelo setengah kaget melihat isi email itu.

“Apa pria itu sudah gila?Bisa mati kita nanti,” hardik Daehyun.Membayangkan mereka membunuh petinggi kepolisian dalam rangkan memenuhi keinginan seseorang memang terdengar gila dan sangat berbahaya.

“Huft… Baru saja selesai dengan urusan The Ravens, pria itu sudah memberatkan ku saja,” keluh Yongguk seraya menyandarkan malas tubuhnya pada sofa empuk yang sedari tadi didudukinya.

“Setidaknya dia sendiri yang akan menjamin misi ini supaya tidak sampai ketahuan termasuk identitas kita. Kau tahu kan siapa dia? Dia bisa mengatur semuanya,” ujar Himchan meyakinkan.“Tertulis di email.”

Yongguk memeriksa kembali email itu. Memang ada paragraf yang terlewat olehnya.Isinya sulit terduga bahkan tak terpikirkan olehnya sedikit pun.Dan seketika sebuah senyuman sinis tergambar jelas di wajah itu.Pastilah sesuatu yang menyenangkan hatinya yang bisa membuat pria kejam itu tersenyum seperti itu.

“Apa yang dia bilang, hyung?” tanya Zelo penasaran.

“Dia bilang, dia akan buat seolah pembunuhan ini dilakukan oleh The Ravens.”

 

_______

Cahaya mentari bersinar hangat melewati gorden tipis di jendela kamar., menyinari Kris yang sedang duduk dipinggiran ranjangnya, memandangi sebuah foto di layar ponselnya. Dia bisa dilihat keceriaan 2 orang yang tertawa ke arah kamera; pria dan wanita yang sedang menikmati liburan ilegal mereka di pantai Lombok setahun lalu. Itu adalah salah satu foto favoritnya bersama Liu yang ia punya.Masih terbayang olehnya sosok Liu meski sudah berberapa hari berlalu. Dia masih tidak bisa memberanikan diri untuk bertemu dengan anggota The Ravens yang lain. Dia masih menganggap bahwa kejadian itu adalah kesalahannya.

Dia rindu wanita itu.

Setidaknya tidak ada lagi air mata.Hanya rasa sedih yang berlarut-larut dalam hatinya.Sesekali dia menghela nafas beratnya disela kesedihannya.Dia pun sudah mulai belajar untuk meng ikhlaskan meski rasanya masih berat.Memang berat untuk menerima kenyataan.Tapi dia tidak bisa berbuat banyak selain merenungkan segalanya.

Tok.. Tok..

Seseorang mengetuk pintu.Mungkin salah satu member yang masih berusaha mencoba untuk membuat Kris keluar dari kamarnya.Sudah saatnya Kris mulai kembali ke dunia nyata—terbebas dari jeratan kesedihan.Bahkan Kris tidak lagi ingin diam lagi saat ada member yang mengetuk pintu kamarnya.

Come in!” ucap Kris tanpa mau berbalik untuk menghadap pintu.

Pintu itu terbuka hingga terlihat seorang pria; Lay yang berdiri disana memandangi punggung Kris yang membelakanginya. Akhirnya dia bisa juga menemui Kris yang hampir tak pernah ia lihat wajahnya berberapa hari terakhir ini. Ditutupnya kembali pintu itu secara perlahan namun tidak lambat.Terdengar bunyi klik ketika pintu benar-benar tertutup.Lay mengambil langkah yang lain dan menelusuri bagian kamar Kris menuju ke sebuah kursi—tepatnya ke hadapan Kris.

Kris belum bisa beralih dari layar ponselnya bahkan hanya untuk melirik ke arah Lay. SetidaknyaLaymasih bisa mengerti kondisi Kris saat ini. Dia mengerti kalau leadernya itu masih dalam keadaanshock berat, mengingat seberapa dekat Kris dan Liu yang sudah saling mengenal sejak mereka berdua masih SMP.

Kris,”ucap Lay memulai. “Aku—“

“Aku minta maaf, Lay,” kata Kris memotong.

Lay diam terkejut. Ini pertama kalinya dia mendengar Kris minta maaf disaat suasana yang seperti ini.Pria jangkung itu terlihat sangat menyesal jika dilihat dari ekspresi wajahnya.

“Maaf untuk apa?”

“Semua ini salahku.Aku sadar, ternyata selama ini aku terlalu egois.Kulibatkan kalian dalam usahaku membalaskan dendam pribadiku.Kubuat kalian tidak bisa merasakan bebasnya hidup tanpa takut terhadap polisi.Kalian melepaskan karir kalian hanya untuk kepentinganku.Dari awal memang sudah menjadi kesalahanku,” ujar Kris dengan penuh penyesalan dan rasa bersalah.

“Tidak, Kris! Kita semua sudah sepakat, kalau apapun masalahnya, apapun misi kita, kita akan tetap menjadi seperti ini. Mau itu membunuh ketua mafia atau membalaskan dendamu pada The Hurricane, kita tetap akan ikut. Tidak masalah kalau kami akan kehilangan karir kami dan menjadi kriminal tanpa bisa merasakan bebasnya hidup damai. Karena kami disini bersamamu, Kris­!” kata Lay dengan semangatnya.

“Liu sudah menunjukkan, bahwa dia rela mati demi kau.Supaya kau bisa memulai kembali. Ku harap kau tidak akan berhenti hanya karena ini. Karena jika kau memutuskan untuk berhenti, kau akan membuat pengorbanan Liu sia-sia,” sambungnya.

Kris merenungkan perkataan Lay berusan. Kata-kata itu sperti sebuah pukulan untuk Kris kembali bangkit. Memang benar, jika Kris berhenti, pengorbanan Liu akan jadi sia-sia.

Lay mungkin bisa menjadi satu-satunya anggota yang mampu membangkitkan Lay secara mental—mengingat jika dia adalah seorang dokter. Lay juga mampu meyakinkan Kris yang ragu untuk lepas dari keterpurukkannya. Seperti apa yang dilakukan pria itu untuk meyakinkan Kris di hari dimana Lay menjadi anggota The Ravens.

To be continue

A/N Annyeong^^ Udah lama setelah terakhir kali aku update RCD >< Maaf yaa karena ngirim chapter ini kelamaan. Semoga bisa menghibur ya chapter ini^^ See you di next chapter😀

Makasih ya udah mau mampir dan meninggalkan jejak^^

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s