All-Mate 911 (Chapter 11)

img_2531

All-Mate911

A fanfiction by marceryn

Rating : PG-15

Length : Multichapter

Genre : AU, romance

Casts : EXO’s Chanyeol, Ryu Sena [OC], supporting by EXO’s members and others OCs

Disclaimer :: Except the storyline, OCs, and cover, I don’t own anything.

 (dipublikasikan juga di wattpad pribadi)

 

~all-mate911~

-berapa kali seseorang dapat jatuh cinta dalam satu kehidupan?-

 

Tadinya suasana sudah mulai membaik bagi Sena. Ia menggerakkan tubuhnya dengan sembarangan dan tertawa bersama Minseok. Ketegangan yang dibawanya dari bar tadi mulai menguap di antara ingar-bingar musik dan kilas lampu warna-warni.

Lalu tiba-tiba semua gelap.

Maksudnya gelap sungguhan. Musik dan lampu padam dan semua orang di lantai dansa serentak terkesiap, mengira ada kebakaran entah di mana di gedung ini atau mungkin gempa bumi. Seorang laki-laki gempal yang sepertinya setengah mabuk nyaris terhuyung menabrak Sena, tapi Minseok menariknya menghindar tepat waktu.

“Apa yang terjadi?” ia mendengar Minseok bertanya dengan nada bingung.

“Aku tidak ta—”

Jawaban Sena terputus oleh denging pendek dari pengeras suara, lalu suara itu, suara paling menyebalkan di dunia terdengar, “Drop the beat!

Musik kembali menyala bersamaan dengan cahaya lampu sorot biru dan hijau melesat dari podium DJ dan Sena melihat si Idiot itu di sana, memakai headphone dan mengutak-atik papan kontrol, menciptakan serangkaian bunyi aneh yang membuat orang-orang berseru kegirangan dan melompat-lompat seperti terkena kejut listrik.

“Bukankah itu Chanyeol?” Minseok menyuarakan pikiran Sena tepat waktu.

Sena tidak bisa menjawab, bahkan tidak bergerak, saking terkejutnya. Apa yang Idiot itu lakukan di sana?

Dan sial—tapi benar—di bawah cahaya samar-samar dari meja DJ, Chanyeol tampak sedikit keren. Mungkin hanya karena ia tinggi. Atau karena Sena baru tahu bahwa Chanyeol punya keahlian (misalnya, merusak lampu kelab malam).

Sebagian besar perempuan di sini jelas berpendapat sama—bahwa Park Idiot terlihat keren—karena mereka berkerumun ke arah sana dengan pekikan yang membuat telinga Sena sakit.

Chanyeol jelas menikmati perhatian mendadak yang diterimanya, jika dinilai dari seringaian berpuas diri yang dipajang di wajah laki-laki itu, dan hentakan musik electro yang semakin cepat, seakan-akan ia berusaha pamer, yang mungkin memang sedang dilakukannya.

Musik yang cepat itu berhenti mendadak. Chanyeol meraih mikrofon dari bawah meja dan berbicara pada penontonnya, “Kalian tahu namaku?”

Kerumunan itu menyahut dengan seruan riuh rendah yang sama sekali bukan jawaban, tapi Chanyeol menganggapnya sebagai tidak.

Sambil tersenyum sok manis, Chanyeol memperkenalkan diri tanpa diminta, “Apa kabar? Namaku Park Chanyeol.”

Para penontonnya berseru melengking, membuat Sena heran apakah tenggorokan mereka semua tidak sakit.

Chanyeol tertawa (pura-pura) malu-malu dan berkata, “Maaf, teman-teman, aku tidak bisa membagikan nomorku. Aku sudah punya pacar.”

Sena baru akan bersedekap dan memutar bola matanya kalau saja saat itu Chanyeol tidak menolehkan kepala tepat ke arahnya. Sena sangsi Chanyeol bisa menemukannya di tengah-tengah keramaian yang ribut melolong kecewa, tapi sepasang mata itu benar-benar menatapnya.

Seolah itu kurang meyakinkan, Chanyeol mengarahkan telunjuknya dan berkata dengan sangat jelas, “Hei, kau yang berdiri saja di sana. Sayang, kau melihatku, kan?”

Gadis-gadis yang berdiri di depan Sena menjerit-jerit, berpikir kalau Chanyeol menunjuk salah satu dari mereka. Sayangnya Sena tidak bisa mendengar suara ribut itu di antara debar jantungnya sendiri. Memalukan. Membunuhnya tidak lagi cukup. Sena mempertimbangkan untuk memasang foto Chanyeol di situs lelang barang bekas.

Chanyeol kembali meluruskan pandangan dan bicara dengan penontonnya, “Oke, ini yang terakhir. Bring the beat back!

Sena bersumpah, ketika ketukan pertama musik terdengar, jantungnya hampir melompat menerobos tulang rusuknya.

 

***

 

Setelah penampilan singkatnya berakhir, Chanyeol keluar dari podium DJ dan menyelinap di antara orang-orang sampai ke tempat Sena dan Minseok berdiri. Ia langsung mengalungkan lengan kirinya di bahu Sena seakan-akan ia sudah melakukannya setiap hari dan menyapa Minseok, “Hai, Hyeong.”

Ia mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Minseok. “Tadi itu bagus.”

“Aku hanya mempraktekkan apa yang pernah Hyeong ajarkan dulu dan berimprovisasi,” balas Chanyeol, mencoba merendah diri, sayangnya tidak terlalu berhasil. Tapi siapa peduli. Ia menoleh pada Sena dan bertanya, “Kau suka?”

“Bagian remix-nya? Oke. Saat kau menyebut ‘sayang’? Tidak oke.”

“Jangan khawatir. Satu-satunya ‘sayang’-ku hanya kau.” Lalu tanpa berpikir, Chanyeol mengecup sekilas pipi Sena. Sungguh, ia tidak tahu apa yang merasukinya. Mungkin adrenalin yang ia rasakan di atas podium tadi masih tertinggal. Sena sontak memberinya tatapan membunuh, tapi syukurnya gadis itu tidak menamparnya atau semacamnya.

Setidaknya kecupan singkat itu memberi efek yang Chanyeol inginkan—membuat sepasang mata Minseok melebar karena terkejut.

Tiffany melenggang menghampiri mereka dan langsung berkata sambil bersedekap, “Ya, Park Chanyeol, bisakah kau sebentar saja tidak memamerkan diri?”

“Bagaimana, ya? Aku tahu aku keren,” balas Chanyeol dan menyengir.

Tiffany lantas mengalihkan mukanya dari Chanyeol pada Minseok dan tersenyum lebar. “Oh, Minseok Oppa! Apa kabar?”

“Baik. Kapan kau kembali dari L.A?” jawab Minseok ramah sambil menjabat tangan yang Tiffany ulurkan.

“Sekitar seminggu yang lalu. Oppa sendiri? Kapan kembali dari Beijing?”

“Dua bulan yang lalu. Karena Junmyeon-ie menikah.”

“Ah, benar. Sayang sekali aku tidak sempat datang ke pestanya,” kata Tiffany. Dahinya mengerut dan bahunya sedikit merosot untuk menunjukkan ekspresi benar-benar menyesal. “Mungkin aku harus mengunjunginya segera.”

Chanyeol tidak bisa tidak memerhatikan Sena mendengus pelan. Entah gadis itu kesal karena Tiffany sengaja mengabaikannya atau keberadaannya saja sudah membuatnya terganggu. Perempuan yang menyimpan dendam memang menyeramkan.

“Oh, kalian semua ada di sini.” Baekhyun muncul entah dari mana di saat yang tepat (seperti biasa) untuk menyela pembicaraan itu. “Kalian hanya akan berdiri saja di sini? Ayo, kita cari tempat untuk duduk dan mengobrol.”

“Kurasa sebaiknya aku tidak ikut,” Minseok menolak dengan halus. “Aku tidak ingin mengganggu acara kalian.”

Baekhyun membuka mulut untuk membantah, tapi Chanyeol lebih cepat, “Tidak apa-apa, Hyeong. Kau teman kami juga. Kau tidak keberatan, kan, Sena-ya?”

Sena tersentak kecil karena tiba-tiba ditanya, tapi kemudian mengangguk.

Jadi mereka pindah ke area duduk yang dilengkapi berpasang-pasang sofa dan meja kaca, agak jauh dari lantai dansa. Mereka menemukan meja panjang dengan enam sofa tunggal diletakkan berhadap-hadapan. Baekhyun duduk di paling ujung, Sena duduk di sebelahnya, lalu Chanyeol di ujung yang lain. Tiffany duduk di hadapan Chanyeol, jadi Minseok duduk di hadapan Sena.

Tiffany memesan sebotol wine yang sewarna dengan gaun ketatnya dan menuangkannya untuk mereka semua. Selama beberapa menit pembicaraan mengalir perlahan, lalu Baekhyun mengusulkan, “Hei, minum seperti ini saja tidak seru. Ayo kita main ‘I Never’.”

Minseok mengerutkan dahinya tidak mengerti, begitu juga Sena.

“Permainannya mudah. Seseorang mengakui hal yang tidak pernah dilakukannya, dan kalau kau pernah, kau harus minum segelas bir,” Baekhyun menjelaskan.

Ini salah satu permainan yang populer sewaktu Chanyeol masih kuliah. Ia dan teman-teman sekelasnya sering pergi minum dan memainkan permainan pengakuan untuk membuat salah satu dari mereka mabuk sampai tidak bisa pulang.

Baekhyun memesan beberapa botol bir dan menuangkan lima gelas masing-masing untuk mereka. “Siapa yang mau mulai?”

“Aku, aku.” Tiffany menegakkan punggung dan menatap lurus ke arah Sena. “Aku tidak pernah berbohong demi reputasi.”

Sena memicing ke arah Tiffany seakan ingin memotong leher gadis itu, tapi kemudian dengan gagah mengangkat gelas dan menghabiskan bir keduanya dengan mudah. “Giliranku?” Tanpa menunggu persetujuan, ia berkata, “Aku tidak pernah melihat teman sekelasku jatuh dari tangga.”

Bibir Tiffany menipis sebelum ia meraih gelasnya.

“Minseok Hyeong, kau duluan,” kata Baekhyun.

Minseok menatap Sena sedetik, kemudian menoleh ke arah Chanyeol sekilas dan kembali pada Sena. Ia berkata setelah berpikir beberapa saat, “Aku tidak pernah pura-pura jatuh cinta.”

Chanyeol melirik Sena dan melihat wajah gadis itu menegang, seperti yang selalu terjadi jika seseorang menyebut nama Kim Minseok. Tidak ada satu pun yang mengangkat gelas.

Entah raut wajah Sena yang membuat Chanyeol gemas atau ia hanya penasaran, kalimat berikut meluncur dari bibirnya begitu saja pada gilirannya, “Aku tidak pernah berharap untuk kembali pada orang yang meninggalkanku.”

Pernyataannya jatuh seperti bom di udara—mendadak meja yang mereka tempati hening. Bahkan Baekhyun tidak tertawa. Lalu, bom kedua mendarat ketika Minseok meraih gelasnya dalam diam dan minum. Dan, Chanyeol bersumpah, ia bisa mendengar Sena menahan napas.

Oh, well, biarlah.

Minseok meletakkan gelasnya dan berkata, “Haruskah aku mengakui sesuatu lagi?” yang tentu saja hanya pertanyaan retoris. Tanpa menunggu disetujui, ia melanjutkan, “Aku tidak pernah menyesali apa yang terjadi di masa lalu.”

Chanyeol tidak berpikir sebelum meraih gelasnya dan menghabiskan birnya dalam tegukan cepat. “Ada satu hal yang benar-benar kusesali,” katanya. “Itu adalah bahwa aku bersikap sangat jahat dan bodoh di masa lalu, dan perbuatanku menyakiti orang lain. Aku berniat untuk tidak mengulanginya lagi sekarang untuk alasan apa pun. Tiffany, kurasa kau juga harus minta maaf.”

Tiffany yang sedari tadi hanya mendengarkan tersentak saat Chanyeol bicara langsung sambil menatapnya. “Apa?”

“Kau harus minta maaf pada Sena.”

Apa?”

“Kau dengar aku.”

Mereka beradu pandang selama beberapa detik, sampai Tiffany mendengus dan berdiri dari sofanya. “Kau sudah mabuk, kan, Park Chanyeol? Permainan ini bodoh.”

“Ayo kita berhenti di sini,” gumam Sena dan menghabiskan birnya, mungkin lebih karena tidak ada yang bisa dilakukan dan ia lebih suka menghindari tatapan orang lain.

“Ada satu lagi,” Chanyeol mendapati dirinya melanjutkan tanpa bisa ditahan. Ia menoleh pada Minseok dan secara khusus bicara padanya. “Aku berbohong. Kami berdua tidak pacaran. Dia menolak perasaanku.”

Chanyeol merasakan tatapan Sena menusuk dari sebelahnya, tapi ia harus mengatakannya.

“Meski begitu, bisa bersamanya saja sudah cukup untuk membuatku bahagia, dan ke depannya aku ingin terus berada di sisinya. Kuharap Hyeong juga segera menemukan orang yang seperti itu untukmu.”

Kemudian Chanyeol berkata, “Ayo, kita pulang,” sebelum meraih tangan Sena, lalu ia berdiri dan mereka beranjak dari sana.

 

***

 

Sena bertanya-tanya apakah Chanyeol hilang akal. Itu bisa menjelaskan kata-katanya yang tidak masuk akal.

Ya, Park Chanyeol!”

Chanyeol menghentikan langkahnya dan Sena otomatis ikut berhenti untuk melihat Baekhyun yang berlari-lari kecil menyusul mereka.

Baekhyun bersedekap di depan Chanyeol dan berkata lancar, “Apakah itu tadi pernyataan cinta? Karena kedengarannya lemah sekali. Jangan-jangan kau memang mabuk. Sena-ya, apa kau bisa menyetir pulang?”

Sebelum Sena sempat membuka mulut, Chanyeol membalas, “Satu, itu bukan pernyataan cinta. Kedua, aku tidak mabuk. Tiga, tidak, Sena tidak bisa menyetir.”

Baekhyun tidak terkesan dengan penjelasan Chanyeol. Ia hanya mendengus dan berkata sarkastik, “Kau butuh bantuan, tahu tidak?”

Lalu Sena mendapati tangannya lepas dari pegangan Chanyeol ketika Baekhyun menariknya ke dalam pelukan ala beruang. Sena terkejut sampai tidak bisa bernapas. Begitu juga Chanyeol.

Chanyeol sadar lebih dulu dan buru-buru menarik Sena kembali. “Ya, apa yang kau lakukan?!”

Baekhyun mengedip pada Sena seakan-akan ia memeluk semua orang sepanjang waktu. “Sampai bertemu lagi. Aku akan meneleponmu.”

Sena merasakan wajahnya menghangat dan terus menghangat sampai ke akar rambut. Tapi ia lebih memilih kembali ke saat itu dan dipeluk-peluk lagi oleh Baekhyun daripada duduk di mobil bersama Chanyeol saat ini, karena keheningan begitu kental di udara sampai-sampai membuatnya sesak.

Syukurnya, Chanyeol memutuskan memecahkan keheningan itu. “Jadi, aku harus minta maaf atau tidak?”

Sena tahu apa maksudnya. Perkataannya pada Minseok tadi. “Tidak,” ia menjawab pelan. “Kurasa lebih baik begitu.”

“Katakan dengan jujur,” nada bicara Chanyeol berubah lebih dalam dan serius, “kau masih mencintainya?”

Sena diam. Ia tidak yakin ‘masih mencintai’ adalah definisi yang tepat dari perasannya sekarang. Ia bahkan tidak yakin apakah ia pernah mencintai Minseok seperti yang ia pikirkan. Kalaupun itu benar, Sena harus apa? Tidak ada. Minseok lebih baik tanpanya, dan Sena rasa ia lebih baik tanpa Minseok.

Sepertinya Chanyeol salah mengartikan diamnya, karena tahu-tahu ia berkata jengkel, “Kalau aku tahu kau masih begitu memikirkannya, seharusnya tadi aku bilang saja ‘hei, jangan lihat-lihat pacarku!’ lalu meninju hidungnya sampai patah.”

“Setidaknya Minseok orang baik,” sahut Sena. “Bagaimana bisa kau pacaran dengan Miyeok? Dia mengerikan.”

“Hanya karena kau dan dia tidak berteman bukan berarti dia jahat,” balas Chanyeol. “Maksudku, kalian tidak pernah benar-benar bertengkar, kan?”

Memang, Sena dan Tiffany tidak pernah benar-benar saling menjambak atau semacamnya, tapi tetap saja, Tiffany ada di sana ketika ia jatuh. Sena bertaruh Tiffany pasti tertawa puas begitu ia tahu bagaimana hidup Sena setelah kejadian itu. Entah karena alasan itu, atau Sena hanya kesal Chanyeol membela Tiffany, ia mendesis, “Hentikan mobilnya.”

“Apa?”

“Kubilang berhenti!”

Tersentak karena dibentak, Chanyeol memutar setir ke bahu jalan raya dan menginjak pedal rem. Sebelum ia sempat bertanya, Sena sudah membuka pintu mobil dan melompat turun, tidak lupa membanting pintunya sekeras mungkin.

Chanyeol langsung menyusulnya sebelum ia berjalan jauh dan meraih sikunya. “Demi Tuhan, Ryu Sena, kau mau apa?”

Sena menyentak lepas pegangan Chanyeol dari tangannya. Ia berbalik, tapi laki-laki itu menyambar tangannya lagi.

“Jangan konyol.” Sekarang Chanyeol ikut terdengar kesal. “Kau mau ke mana sendirian pada jam seperti ini?”

Sena melepaskan dirinya lagi. “Bukan urusanmu,” geramnya, lalu berbalik kanan dan berderap.

Ini sesuatu yang memalukan untuk diakui, tapi belum juga lima langkah Sena berjalan, ia berbalik lagi menghampiri Chanyeol ketika menyadari ada yang hilang dari saku belakang celana pendeknya.

“Dompetku.”

Chanyeol mengerjap pada Sena yang menengadahkan tangan di depan dadanya. “Apa?”

“Dompetku,” ulang Sena. “Jangan bercanda, Park Idiot. Semua uang dan kunci kamarku ada di sana.”

“Apa? Aku tidak mengambilnya! Kau pasti menjatuhkannya!” elak Chanyeol.

Sena melangkah lebar ke arah mobil dan memeriksa kursi depan di mana ia duduk tadi, tapi dompetnya juga tidak ada di sana. Apakah ia menjatuhkannya di kelab? Kapan? Saat ia menari? Saat mereka berlima duduk? Sena tidak tahu. Ia tidak mengecek dompet dan ponselnya sama sekali dari tadi.

“Ada?” tanya Chanyeol di belakangnya.

“Apa kau melihatku memegang dompet?” balas Sena ketus. Ia merogoh ponselnya di saku yang lain dan menelepon Sehun, tapi ponselnya tidak aktif. Ia ganti menelepon Jimin, tapi tiga panggilannya tidak dijawab satu pun. Oh, ini benar-benar masalah. Sekarang bagaimana Sena pulang? Sudah terlalu larut malam untuk mengetuk rumah pengurus gedung dan minta kunci cadangan, ia tidak tahu di mana tepatnya Sehun menginap, dan tidak mungkin ia muncul di rumah Jimin begitu saja—otaknya bisa cacat kalau melihatnya bersama Luhan. Atau ia mendobrak saja pintu kamarnya? Berapa kira-kira biaya ganti rugi yang harus ia bayarkan nanti?

Chanyeol menyandarkan satu bahunya pada sisi mobil dan bersedekap. “Jadi, kau butuh bantuan?” tanyanya dengan nada sok manis.

Sena lebih suka botak daripada meminta bantuan Chanyeol, tapi ia tidak punya pilihan. “Telepon Baekhyun, suruh dia mencari dompetku.”

“Hmm… tidak mau.”

“Kalau begitu pinjamkan aku lima puluh ribu won. Aku akan mengembalikannya besok.”

“Hmm… kau tidak memintanya dengan baik, jadi, tidak mau.”

Demi Tuhan, Sena akan membunuhnya. Membunuhnya, menghidupkannya, lalu membunuhnya lagi. Tapi, itu nanti. Sekarang ia menarik napas dalam dan berkata lamat-lamat, “Park Sajangnim… bolehkah Anda… meminjamkan lima puluh ribu won… pada saya?”

“Yah, bagaimana ini?” kata Chanyeol dibuat-buat. “Aku mau saja, tapi aku juga tidak punya uang tunai.”

Sena menggigit lidahnya untuk menahan sumpah serapah yang ingin ia ludahkan ke wajah Chanyeol.

Dengan senyum penuh kemenangan, Chanyeol berkata, “Kau bisa pulang denganku ke apartemenku. Yah, itu kalau kau mau. Tapi kurasa kau tidak punya pilihan lain, kan, Ryu Sena?”

Kepala Sena sakit karena minuman ditambah harus menghadapi Park Idiot. Dengan malu dan berat hati, ia mengikuti Chanyeol yang sudah lebih dulu kembali ke belakang kemudi dan duduk di kursinya sebelumnya. “Biar kuperingatkan dulu,” desis Sena sambil memasang sabuk pengaman, “aku hanya ikut denganmu karena terpaksa. Dan aku pernah belajar wushu. Kalau kau menyentuhku, aku akan mematahkan lehermu.”

 

***

 

Chanyeol membuka pintu apartemennya dan menepi untuk membiarkan Sena lewat lebih dulu, yang dilakukan gadis itu sambil memicing ke arahnya seakan-akan dirinya adalah pesakitan yang harus diasingkan ke pulau terpencil. Sungguh, antipati Sena terhadapnya ini kadang tidak sehat. Chanyeol bukannya menderita ebola.

Sena berjalan masuk sampai ke tengah ruangan, lantas belum apa-apa sudah berkata, “Kau sering membawa pulang perempuan, ya?”

Chanyeol berbalik setelah menutup pintu dan menghela napas, lalu melempar kunci mobil dan dompet sembarangan ke atas sofa. “Kesimpulan dari mana lagi itu?”

Sena menatap sekitarnya dengan pandangan menilai. “Apartemenmu tidak berantakan. Kalau kau sering membawa pacarmu pulang, kau pasti sering beres-beres. Atau setidaknya pacarmu pasti beres-beres untukmu.”

“Itukah yang akan kau lakukan untuk pacarmu? Membereskan rumahnya?”

“Euh. Tentu saja tidak. Kau pikir aku pesuruh?” balas Sena ketus. “Tapi itu yang biasanya dilakukan perempuan, kan?”

“Aku tidak kenal satu pun perempuan yang membereskan rumah pacarnya,” jawab Chanyeol datar. “Dan aku tidak punya pacar. Tidak sampai kau bilang iya.”

Sena mendengus. “Lucu sekali.”

“Memang.” Lalu, meskipun tidak benar-benar perlu, Chanyeol menambahkan, “Ada bibi yang datang tiga hari sekali untuk merapikan apartemen. Dia baru datang kemarin, jadi tempat ini belum berantakan lagi.”

Chanyeol berjalan ke arah dapur untuk mengambil sebotol air mineral dari kulkas. Saat ia kembali ke ruang tengah, ternyata Sena sudah menyibakkan tirai dan dan menemukan pintu kaca ke balkon kecil yang biasanya dimanfaatkan tetangga lainnya untuk menaruh pot tanaman hias. Chanyeol biasanya menggunakannya untuk menjemur handuk.

Saat Chanyeol menghampirinya, Sena sedang menarik udara malam banyak-banyak ke dalam paru-parunya dan menghembuskannya keras-keras. Ia melongokkan kepalanya ke bawah dan bertanya, “Seberapa tinggi ini? Kalau kau melompat, apa kau mati?”

Sebelum Chanyeol memikirkan jawaban sarkastik yang jenius (“Kecuali kau Cat Woman, tentu saja. Ini lantai empat belas!”) ia melihat Sena melepaskan satu sepatu hak dari kakinya dan menjatuhkannya ke bawah. Chanyeol membulatkan kedua matanya. “Ya, apa yang kau lakukan?”

Sena menonton sepatunya meluncur dalam hitungan detik dan mendarat di trotoar yang syukurnya lengang. Seseorang bisa saja terluka. “Wah,” gumamnya kagum. “Jauh juga.”

Chanyeol hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dalam diam dan kembali meluruskan pandangannya. Masa bodohlah. Ia tidak akan pernah mengerti Ryu Sena.

Sena menoleh pada Chanyeol dan berkata, “Aku pernah membaca entah di mana, katanya waktu terbaik untuk mengambil keputusan adalah pukul setengah dua belas malam.”

Chanyeol membuka botol airnya dan minum. “Kalau semua orang menunggu pukul setengah dua belas malam hanya untuk mengambil keputusan, Korea Selatan tidak akan menjadi negara maju.”

Sena berdecak dan menggerutu, “Betapa sempitnya pikiranmu.”

Chanyeol memutar badan menghadap Sena dan bersedekap. “Kau bisa bersikap ramah pada Jongdae yang baru kau kenal, pada Baekhyun, bahkan pada Kim Minseok, tapi kau selalu marah-marah padaku. Sebenarnya masalahmu apa?”

“Kau sendiri pergi dengan si Miyeok. Kalau kau memang peduli, kau seharusnya tinggal.”

“Kau yang menyuruhku pergi saja!”

“Dan kau tidak menolaknya, kan?”

Bagus sekali, salahkan saja semuanya pada Park Chanyeol. “Ya, Ryu Sena, kau tahu apa perbedaan laki-laki dan perempuan?” tanyanya, tanpa benar-benar meminta jawaban. “Ketika jatuh cinta, laki-laki mungkin melihat banyak perempuan, tapi yang dipikirkannya hanya satu, sedangkan perempuan hanya melihat satu laki-laki sementara ada banyak yang lainnya di pikirannya.”

“Dari mana kau tahu? Memangnya kau pernah jadi perempuan?” balas Sena.

“Maksudku adalah,” Chanyeol menarik napas sesabar mungkin, “tidak perlu cemburu. Aku jatuh cinta padamu, bukan padanya.”

Chanyeol sempat berpikir Sena akan memukulnya, tapi gadis itu hanya mengambil botol air dari tangannya dan menghabiskannya, kemudian dan berkata, “Saat aku jatuh dulu, itulah yang kupikirkan. ‘Ah, aku mati’. Aku panik. Dan takut. Tapi akhirnya tidak ada apa-apa.” Sena tersenyum miring. “Mati sendirian. Kurasa itu tidak lebih buruk daripada hidup.”

Kenapa pembicaraan ini jadi serius sekali? Chanyeol melirik Sena untuk mengecek apakah ia mabuk, tapi tatapannya fokus. Mungkin benar kata orang, pembicaraan tengah malam adalah yang paling jujur.

“Menurutku, hidup ini hanya serangkaian pertemuan dan perpisahan. Semakin banyak pertemuan yang terjadi, semakin cepat hidup ini berakhir,” lanjut Sena dengan nada merenung. “Mungkin aku sudah mempercepat waktuku beberapa tahun karena aku sudah menemui puluhan orang dengan All-Mate. Yah, semoga saja. Hidup ini brengsek, terutama kalau kau tidak punya apa-apa. Tapi kurasa kau tidak mengerti, karena kau punya segalanya. Mungkin karena itu aku membencimu. Atau kau memang menyebalkan. Dan aku tidak cemburu. Terserahlah. Aku masih haus. Aku akan mengambil air lagi.”

Sepasang mata Chanyeol mengikuti Sena berbalik dan berjalan tertatih-tatih dengan satu sepatu kembali ke dalam, dan berikutnya ia mendapati kedua tungkainya bergerak menyusul gadis itu ke dapur. Setelah menenggak setengah air di dalam botol lainnya di depan pintu kulkas yang terbuka, Sena baru menutupnya dan berbalik, dan tepat di sana Chanyeol mencium bibirnya begitu cepat sampai napasnya sendiri tercekat di tenggorokan. Bibir Sena terasa dingin karena air yang baru saja diminumnya, dan rasanya menyenangkan, tapi tidak lebih menyenangkan daripada saat Sena berpegangan pada bagian pinggang kausnya dan balas menciumnya.

Chanyeol mengerti sekarang kenapa gadis-gadis pendek sangat imut, karena dengan perbedaan tinggi yang jelas, Sena harus berusaha untuk mencapai bibirnya dengan benar. Jadi ia menunduk lebih rendah untuk memudahkan gadis itu.

Ketika ciuman itu semakin dalam, Chanyeol merasa lututnya akan ambruk kapan saja, tapi ia tidak ingin berhenti. Sena sepertinya merasakan bebannya yang tidak stabil, karena berikutnya Chanyeol mendapati dirinya didorong ke ruang tengah dan mendarat duduk di sofa, lalu Sena menumpanginya dengan kedua lututnya mengapit kakinya. Chanyeol tidak pernah berpikir dirinya punya kecenderungan ke arah submissive, tapi diperangkap seperti ini anehnya membuatnya senang.

Baiklah, mungkin Sena setengah sadar dan tidak tahu apa yang sedang dilakukannya, tapi Chanyeol akan memikirkan masalah itu nanti.

“Kau bilang aku tidak boleh menyentuhmu,” Chanyeol bergumam di antara napasnya. “Kurasa sekarang kau yang sedang menyentuhku.”

“Aku berubah pikiran.”

“Kau yakin? Kalau begitu sebaiknya kau menulis pernyataan yang ditandatangani. Untuk jaga-jaga, kau tahu. Karena taruhannya leherku dan seandainya—”

“Oh, diamlah,” Sena memotongnya dengan nada paling otoriter dan meletakkan kedua tangannya di lekukan leher Chanyeol, dan ia nyaris tersentak karena dinginnya jemari gadis itu.

Sementara bibir mereka kembali bertemu, tangan Chanyeol terangkat menyingkap kemeja Sena dari punggungnya, dan ternyata tidak hanya tangannya, tubuhnya juga dingin. Sentuhannya membuat Sena menarik wajahnya seketika dan berkata, “Tanganmu panas sekali. Kau sakit?”

Chanyeol menatap lurus ke arah mata Sena dan membalasnya, “Tanganmu dingin sekali. Kau takut?”

“Tidak.”

Chanyeol menarik Sena lebih dekat dan menciumi garis tulang rahangnya, tapi saat itu jarinya tidak sengaja menyapu carut yang terasa janggal di punggung bagian bawah Sena. Ia berhenti. Gadis itu ikut membatu.

“Apa—” Chanyeol tidak menyelesaikan pertanyaannya karena mendadak ia sadar. Bekas jahitan. Operasi. Tangga. Ah, benar. Ini bekas luka sepuluh tahun yang lalu.

Sebelum suasana rusak (lagi, seperti biasa) karena hal-hal yang tidak ingin mereka bahas, Chanyeol segera melontarkan hal pertama yang muncul di pikirannya, “Aku selalu ingin punya bekas luka. Pasti keren. Aku akan sering pergi berenang untuk memamerkannya.”

Sena mendengus tertawa. “Kau tidak waras.”

Chanyeol menyetujui dalam hati. Ia memang tidak waras. Kalau ‘tidak waras’ artinya sama dengan ‘jatuh cinta’.

 

=to be continued=

 

LOL haha another slow update. Maaf. Sindrom males #plak

Dan aku nggak yakin apakah chapter berikutnya bakal kukirim ke blog sini sebenernya, karena yah… kadang aku harus baca ulang dan ngedit bagian2 yang nggak appropriate(?) dan seringnya males banget ngerjainnya *iya tabok aja* dan yah, jadinya begini nih, kelewat selow. Lol. Tapi aku usahakan deh. Oke? Hehe aku cinta kalian! #alay

Rin❤

11 thoughts on “All-Mate 911 (Chapter 11)

  1. Ceritanya keren. Penasaran apa chanyeol sama sena bakal jadian? Next chapnya di tunggu. Lama banget ga di update ini Ff. Sangat ditunggu next chapnya author jim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s