Clairvoyant (Chapter 2)

clairvoyant

Title : Clairvoyant (Chapter 2)

By : Vi

Cast : Oh Sehun (EXO), Im Nayoung (OC)

Genre : Fantasy, AU, Mystery, High School Life, Friendship

Length : Ficlet in Mini Chaptered Story

Rating : T

Disclaimer : I own the plot and the stories. This story is purely mine, I created it myself from my own wild imagination. Cast besides OC(s) belongs to God and their relatives. I might had posted this story on another blog. Last but not least, please don’t be plagiators and siders! Thank you for your concern.

Artwork by Vi

WARNING FOR TYPOS!

Originally was posted on here

.

.

.

.

.

Satu bulan Nayoung mengenal Sehun. Siapa yang menduga seorang gadis yang ingin tidak terlihat eksistensinya bisa berteman baik dengan pemuda yang paling dihindari oleh seisi sekolah? Kalau dipikir-pikir lagi sebenarnya berteman dengan Sehun tidak terlalu buruk, tidak buruk sama sekali malah. Nayoung bisa memiliki teman tanpa harus repot-repot mendapat perhatian dari seisi sekolah, karena siapa juga yang ingin peduli dengan Sehun dan Nayoung?

“Sehun-ah, aku ingin bertanya sesuatu,” lisan Nayoung sambil menikmati semilir angin di balkon atap sekolah. Tenang saja, mereka tidak membolos pelajaran. Lagipula ini sedang jam istirahat dan mereka lebih memilih menghabiskan waktu istirahat dalam keheningan daripada menghadapi bisingnya suasana kantin. Memilih larut dalam keheningan, membiarkan kebisuan yang berbicara, dan mereka menyukai hal itu. Salah satu faktor Sehun cocok berteman dengan Nayoung, sama-sama membenci perhatian berlebih dan meyukai keheningan.

Sehun tidak menoleh namun merespon, “Hm, tanyakanlah.” Nayoung lantas menoleh menatap sisi wajah Sehun dari samping. “Kau tidak memilik teman karena ingin atau takdir?” Sehun mendengus kasar mendengar pertanyaan Nayoung.

“Aku tidak yakin dengan itu. Orang-orang hanya tidak bisa menerimaku saja kurasa. Kata mereka aku berbeda dan sepertinya mereka takut akan perbedaan,” ucap Sehun tak acuh sembari mengedikkan bahunya. Jujur, sampai saat ini, Nayoung tidak mengerti mengapa seisi sekolah menjauhi Sehun. Mungkin memang Sehun terlihat cuek dan sangat irit bicara pada awalnya. Tapi ia akan berubah drastis saat kalian mengenalnya. Padahal anak itu lumayan juga untuk dijadikan teman. Pemuda itu cerdas, wajahnya juga tampan jika diperhatikan, namun sayang, dunia yang mereka tempati ini terlalu kejam untuk menyadari itu semua.

Nasib itu pilihan sedangkan takdir sudah ditentukan tapi bisa diubah. Setidaknya itulah yang dipercaya Nayoung. Nayoung memilih untuk tidak terlihat tapi takdir mempertemukannya dengan Sehun. Ketika takdir mengirimnya ke sekolah baru, Nayoung memilih untuk berteman dengan Sehun. Hidup adalah sebuah pilihan. Jalan mana yang kau pilih akan menentukan nasibmu, dan kau bisa mengubah takdirmu. Hanya saja, alur cerita mana yang kau pilih untuk kau arungi akan menentukan akhir dari kisahmu. Hidup itu indah tapi rumit.

“Kau tahu, kau sebenarnya anak yang baik, wajahmu juga lumayan,” gumam Nayoung tapi masih bisa tertangkap dengan jelas oleh rungu Sehun. “Jadi kau baru saja mengakui kalau aku tampan?” goda Sehun membuat Nayoung memutar kedua bola matanya malas.

“Cih, percaya diri sekali kau, Oh Sehun. Dan aku bilang lumayan, bukan tampan,” desis Nayoung. Sehun hanya terkekeh. Lihat? Semua sisi yang tidak pernah ditunjukkan seorang Oh Sehun akan keluar jika sudah bersama dengan Nayoung. Nayoung juga tidak pernah membayangkan akan terukir seulas senyum di wajah seorang Oh Sehun. Apalagi kekehan seperti barusan.

Kalian hanya perlu melihat lebih dekat di sekitar kalian, maka kalian akan menemukan keindahan yang tidak pernah kalian lihat sebelumnya. Dunia terlalu memandang sebelah mata seorang Oh Sehun. Well, mungkin memang sudah takdir Sehun. Lagipula dirinya juga tidak pernah keberatan dengan takdirnya itu.

Tiba-tiba Sehun angkat bicara, “Nayoung, kau pernah membolos kelas?” Nayoung menggeleng kemudian menjawab, “Dan aku tidak berniat untuk mencoba.” Kini giliran Sehun yang memutar bola matanya jengah. “Lihat, siapa yang mencoba untuk menjadi murid teladan di sini?”

“Aku hanya tidak ingin mencari masalah, Oh Sehun.”

“Baiklah, baiklah, Nona Im.”

Mereka kembali bungkam. Dan keheningan harus rela mereka lepaskan kala bel tanda istirahat berakhir tengah berdering. Tanpa pikir panjang, Sehun lekas menyambar dan menarik lengan kiri Nayoung.

YA! Kau mau apa denganku?!”

“Sssst, diamlah atau kita akan ketahuan.”

Sehun kembali menarik Nayoung setelah sebelumnya sempat berhenti untuk bersembunyi di balik tembok. Ya, Sehun sedang menjalankan aksi kabur dari sekolah. Mereka mengendap-endap seperti hendak menyelundupkan barang ilegal, aksi ilegal lebih tepatnya. Nayoung tidak sempat protes karena diseret Sehun. Sehun selalu punya alasan untuk semua perangainya mulai dari yang masuk akal sampai yang tidak bisa dinalar. Jadi Nayoung memilih diam dan pasrah dengan Sehun.

Napas mereka memburu dan keduanya tertunduk mencoba mengais oksigen karena pasokan yang menipis. Mereka hampir tertangkap satpam penjaga sekolah tadi jika terlambat sedetik saja. Beruntung, Sehun mendarat di balik dinding sekolah tepat waktu. Kini mereka sudah berada di luar kawasan sekolah.

“Kau,” tuding Nayoung pada Sehun, “harus bisa memberikan alasan yang logis kali ini.” Nayoung masih berusaha mengatur napasnya yang tersengal. Sama halnya dengan Sehun.

“Percayalah, Lee Saem akan marah besar-besaran jika kita masuk kelas tadi. Kau tidak mengerjakan tugas matematikamu, bukan?” Bagaimana Sehun bisa tahu? Mengesampingkan kuriositasnya, Nayoung hanya mengangguk heran. Lalu Sehun kembali mengeluarkan vokalnya, “Begitu pun dengan seisi kelas, tidak ada satu pun yang membuat tugasnya. Bayangkan bagaimana murkanya Lee Saem jika mengetahui hal itu.”

Nayoung tidak ingin membayangkannya. Guru Lee adalah salah satu guru yang terkenal galak. Akan menghukum tanpa ampun bagi murid yang tidak mengerjakan tugasnya. Bukan hukuman fisik. Jauh lebih mengerikan daripada itu. Percayalah, kau tidak ingin tahu. Tapi tunggu dulu…

Ya, bagaimana kau tahu bahwa seisi kelas tidak mengerjakan tugas rumah mereka? Biar kutebak, hanya firasat?”

“Anak pintar.”

“Oh Sehun, aku mulai curiga, yang kau bilang firasat itu masalahnya selalu benar,” timpal Nayoung dengan mata memicing sambil memajukan wajahnya ke Sehun, menatap pemuda itu penuh curiga.

Eyy, anggap saja kadar keberuntunganku berada di atas rata-rata orang pada umumnya.”

Mendengar jawaban kawannya itu, Nayoung membuat gestur muntah yang dibuat-buat. Sehun orang yang seratus kali lebih menyebalkan dari sebelum mereka berkenalan. Tapi dalam artian baik tentu saja. Nayoung juga bingung, bagaimana bisa menyebalkan merupakan hal yang positif?

 

****

 

 

Nayoung dan Sehun menghabiskan waktu mereka di pusat game arcade. Sehun handal dalam permainan seperti ini. Tapi tidak dengan Nayoung. Gadis itu terus saja kalah telak dari Sehun setiap mereka berduel. Sungguh sial. Bahkan Nayoung sampai lupa dengan detensi yang mungkin menunggunya besok di sekolah karena terlalu fokus memutar otak untuk mengalahkan Sehun. Nayoung akhirnya menyerah melawan  Sehun. Ia hanya menjadi bahan olokkan Sehun setiap kali kalah dan masalahnya Nayoung selalu kalah. Tidak adil.

Akhirnya mereka menyudahi permainan mereka. Memilih untuk berkunjung sebentar ke kedai es krim favorit Nayoung. Awalnya Sehun menolak, makan es krim sama sekali bukan gayanya. Tapi daripada terus mendengar Nayoung merengek hingga telinganya panas, lebih baik menemani Nayoung untuk mampir sebentar membeli es krim.

Agaknya wajah Sehun terlihat sedikit gelisah. Sebenarnya ada alasan lain mengapa dirinya mengajak Nayoung untuk kabur dari sekolah.

Mereka keluar dari kedai es krim dengan Nayoung yang sibuk menjilati es krim vanilanya dan Sehun yang menggenggam satu cone es krim coklat di tangan kirinya. Kalau bukan karena paksaan Nayoung, Sehun tidak akan pernah rela lidahnya mencicipi olahan manis berbahan dasar krim itu.

Saat mereka melintas di depan sebuah toko alat elektronik, tiba-tiba langkah Nayoung terhenti. Gadis itu mematung melihat berita yang terpampang pada layar televisi di etalase kaca toko. Sehun menyadari bahwa Nayoung tidak lagi berjalan berdampingan di sebelahnya. Tanpa pikir panjang Sehun langsung berlari menyusul Nayoung yang masih berdiri tak bergeming sama sekali di depan toko elektronik tadi. Es krim vanila gadis itu sudah bernasib mengenaskan di aspal trotoar. Oh tidak, Sehun terlambat. Nayoung sudah melihat berita itu.

Aaargh! Kenapa aku bisa begitu ceroboh?” monolog Sehun pada dirinya sendiri sambil berlari menghampiri gadis yang mengenakan seragam sekolah yang sama dengannya itu.

“Nayoung….” gadis itu serta-merta menoleh mendengar bass Sehun menyapa rungunya. Nayoung tidak percaya dengan apa yang dilihatnya barusan. Dan Sehun sepertinya mengetahui sesuatu tentang ini. Ini sudah terlalu tidak masuk akal untuk disebut sebagai kebetulan yang didasarkan pada sebuah firasat.

 

Kebakaran besar terjadi di Yeonsa High School. Diduga korsleting listrik menjadi pemicunya. Para petugas telah berhasil memadamkan si jago merah. Sejauh ini ada dua korban luka bakar berat dan sepuluh korban luka bakar ringan. Petugas medis kini sedang berusaha semaksimal mungkin untuk menolong dan mengevakuasi para korban yang bertahan. Gedung sekolah mengalami kerusakan yang cukup parah.

Begitulah bunyi berita yang baru saja Nayoung dengar dari reporter di layar kaca sana.

Nayoung sudah menduga ada yang aneh dari gelagat Sehun. Setiap Sehun mengajaknya pergi pasti selalu terjadi sesuatu, seakan Sehun tahu bahwa sesuatu yang buruk akan menimpa Nayoung. Kini Sehun tengah berdiri di samping Nayoung dengan raut cemas bercampur takut.

“Oh Sehun, katakan padaku kalau ini juga firasatmu,” nada bicara Nayoung terdengar lemah. Suara gadis itu sedikit bergetar dan seperti sedikit takut. Gadis itu pun memberanikan diri untuk kembali memverbalkan keraguan yang daritadi membelengguh benaknya.

“Kau…tolong katakan bahwa kau tidak tahu hal ini akan terjadi.”

“Nayoung….”

“Siapa kau sebenarnya?”

FIN

 

A/N :

Ini cerita absurd yang teramat sangat, jd maafkan. Aku bayangin Sehun jd ala2 dukun cenayang gt :”v

Malah lawak wkwkwk.

 

Best regards,

Vi

9 thoughts on “Clairvoyant (Chapter 2)

  1. Fin???? ini udh final?? udh end??? udahan? udh gtu aja?? nggc ada klnjutannya???? aigoooooo msak udh final??? lnjutin pliiiiiiiis……Aq pnsaran bgt ma crita Ini….Authooooor pliiiiiiiis next next next…..ne…??? 😊😙😀😃😄

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s