Wave Find Beach (Chapter 11)

mn(1)

Wave Find Beach (Chapter 11)

Author : Afrannonymous

| Park Chanyeol – Oh Sehun – Lee Soonji – Ma Jinhwa |

| Chaptered || Friendship – Family – Drama || PG -17 |

 

You should read :

Chap 1 | Chap 2| Chap3| Chap 4| Chap 5|

Chap 6| Chap 7| Chap 8| Chap 9| Chap 10|

NOTE :   First, please forgive me T.T. Maapin saya soalnya ni ff hampir punah dari peradaban tanpa ending yang jelas. Alhamdulillahnya saya masih diberi kesadaran untuk menamatkan ff absurd ini :)) Dan, ini adalah nama pena baru yang akan saya gunakan dalam jangka waktu lama (semoga). Oh ya, ff ini juga udah dipublis di wp pribadi. Singkatnya (tanpa cuap-cuap nggak penting lagi xD) enjoy this fanfic with a glass of ice water (sapa tau ntar darah tinggi baca storylinenya yang makin nggak jelas. Hee..hee..)

 

 

 

Warning!! DON’T LIKE, DON’T READ…….

<EXO ♥ JJANG>

 

 

 

 

 

Preview

Chanyeol mendecak karena yang menjawab panggilannya malah operator. Dia pun kembali memencet ‘call’ pada kontak Sehun.

Kumohon angkatlah.

“Jangan tutup teleponnya. Ya, Park Chanyeol! Ya, idiot!!”

“Sekali lagi, untuk peserta nomer 18 diharap bersiap-siap.”

Akhirnya Sehun memilih duduk kembali ke kursinya, dia menyangga kepalanya yang mendadak migrain.

Maafkan aku, Soonji –ya.

Semilir hembusan angin menggoyangkan beberapa helai rambut Chanyeol. Mata lelaki itu pun mulai lelah untuk selalu terbuka, dia merasa masa penghakimannya akan segera tiba.

“Aku akan dibunuh, aku akan mati.”

Park Chanyeol, kau berhutang padaku.

“Apa?! Cepat ke mari!! Kalian berniat menangkapku kan? Atau… kalian mau membunuhku?”

“Apa kabar, sahabat adikku?”

<EXO ♥ JJANG>

            Chapter 11

            Someone P.O.V

            Ketika bencana itu tergambar nyata, usiaku menginjak enam belas tahun. Sebelumnya aku mampu menghadapi itu semua kala mereka saling bertengkar hebat. Aku mampu berdiri sebagai kakak yang tegar untuk dapat menenangkan adikku dari rasa pedih yang menyerangnya. Lambat laun aku sadar bahwa adikku bukanlah adik yang ceria dan penuh semangat seperti dulu. Dia menjalani kesehariannya bagaikan robot, mempunyai raga namun tak dilengkapi jiwa. Hal tersebut tentu menambah sakit dalam hatiku. Apalagi rupanya mereka memutuskan bercerai. Parahnya mereka malah menghilang tanpa memahami perasaan tertekan anak-anaknya yang harus menanggung kasak-kusuk dari mulut racun para tetangga akibat ulah mereka yang mencerminkan perilaku buruk sebagai orangtua. Dan bukan sebatas di lingkungan rumah, di sekolah pun hatiku tak henti dikoyak. Pembullyan, sebuah kata yang menyeretku merasakan neraka dunia lebih dalam. Hingga suatu hari masalah ekonomi mulai membelit dan membuat hidupku serta adikku terjepit. Disebabkan kebencianku terhadap sekolah dan segala tetek bengeknya, aku memilih mengalah. Mengundurkan diri dan berusaha keras mencari penghasilan demi berlangsungnya kehidupan suram ini. Sebelumnya adikku juga ingin berhenti sekolah dan berinisiatif membuat kerajinan tangan seperti jepit, syal dan topi rajut, serta gelang dari biji-bijian untuk kemudian dijualnya, namun dengan tegas aku menolaknya. Aku ingin dia tetap sekolah dan melarangnya bekerja, sebagai kakak pastilah aku memikirkan kebahagiaan adikku satu-satunya. Adik yang harus kulindungi dan kubesarkan hatinya supaya tidak terus-menerus merasa terpuruk. Biarlah aku yang menyemai dan merawat bibit pahitnya, sedang dia yang memetik buah manisnya.

Akan tetapi, begitu aku diterima oleh sebuah komunitas untuk mengais rezeki dengan cara mengamen, perlahan pandangan hidupku diputar balik dengan piciknya. Saat itu aku bersama beberapa bocah lain –yang jika dilihat-lihat akulah yang paling besar atau mungkin paling tua- yang seprofesi berdiri berjajar di sebuah kolong jembatan layang yang sepi guna menyetorkan uang penghasilan, dan inilah kali pertamaku melakukannya. Awalnya seorang pria berotot, berwajah seram, serta hampir seluruh badannya dilapisi tattoo yang bertindak sebagai bos tersenyum dan mengacak rambut seorang anak perempuan –yang kuterka umurnya masih 9 tahun- karena uang yang disetorkannya mencapai target. Tapi bukannya senang mendapat tanggapan baik –menurutku-, dia malah menunduk ketakutan. Berikutnya giliran seorang bocah lelaki yang tubuhnya kurus kering. Dia menyetorkan uangnya dengan gemetar. Dan begitu si bos mengeceknya, rautnya menjadi masam lalu tiba-tiba dia menendang bocah lelaki malang itu hingga terpental. Sontak beberapa bocah menjerit, sementara aku memundurkan posisiku seraya terbelalak tak percaya. Tidak hanya sekali, si bos juga menendang dua anak lain yang penghasilannya kurang. Tak segan-segan dia pun menyuruh kaki tangannya untuk menghajar anak-anak yang berniat kabur. Mereka memukul, menendang, menjambak, menginjak-injak, bahkan melempari anak-anak tak beruntung itu dengan kerikil, sedangkan anak-anak hanya menangis tanpa sanggup memberi perlawanan. Menyaksikan tindakan keji ini membuat amarahku membuncah, mengingatkanku pada percekcokan orangtuaku yang tanpa mereka tahu membuat adikku terisak pilu dengan aku yang memeluknya miris. Kemudian dengan emosi yang meledak-ledak, sekuat tenaga aku mendorong kaki tangan si bos agar menjauh dari anak-anak.

“Berhenti bedebah! Kalian pikir apa hak kalian memukuli mereka?!” teriakku memicu situasi semakin menegang.

Saat kaki tangan si bos bersiap melayangkan bogem mentahnya, dengan cepat si bos mencegah aksi mereka.

“Jangan! Biar aku yang urus”, dan dia berjalan congkak mendekatiku.

“Ow…ow… apa ini? Apakah pahlawan kesiangan baru saja menampakkan taringnya?” tanya si bos remeh.

“Keputusan terbodoh sepanjang hidupku adalah masuk ke mari. Terlibat dengan sekumpulan makhluk tanpa hati yang mengikrarkan diri sebagai penguasa. Lihat saja! Tak akan kubiarkan kalian menghirup napas yang sama dengan anak-anak ini setelah polisi tahu apa yang telah terjadi!” geramku tak menjawab pertanyaannya yang retorik.

“Ha…ha…ha…Mengancam, eoh?” si bos tertawa mengejek sembari menatap rendah diriku.

Kuremas ujung kaosku kuat-kuat, mataku memanas disertai jantungku yang bergemuruh murka. Aku benci para orang dewasa. Aku benci mereka!

‘BUK!’

Si bos limbung beberapa langkah, di sisi lain tanganku membengkak kemerah-merahan.

“Haisshh!!” seorang kaki tangan tak terima dan menarik paksa kerah kaosku.

“Lepaskan!” lagi-lagi si bos mencegah.

“Keunde….”

“Kubilang lepaskan!” nada si bos meninggi, langsung saja kaki tangan itu menghempasku dengan kasar.

Si bos menghampiriku sambil mencetekkan jari-jari tangannya.

“Ucapkan maaf lalu bungkam mulutmu , maka kujamin kau tidak hanya tinggal nama”, gertaknya.

Aku setia memandangnya dengan nyalang, lalu….

“Cih!” kubuang ludahku ke samping kananku, tak sudi.

Napas si bos memburu mengetahui responku, kemudian…

‘BUK!’

‘BUK!’

‘BUK!’

Tahu-tahu kedua lenganku telah ditahan oleh dua orang kaki tangan dan tubuhku disiksa dengan beringas oleh si bos. Kaosku yang semula hanya kotor terkena debu, kini juga dihiasi noda-noda darah yang keluar dari hidung dan mulutku. Tak ada yang menolongku, sebab aku mengerti mereka hanyalah anak-anak yang tak memiliki daya apa-apa selain menerima dan menangis. Bahkan remaja yang berusia 13 tahun ke atas pun berdiam diri layaknya pengecut.

Karena terlampau lemas, aku pun jatuh berlutut dengan lengan yang masih dicekal. Kepalaku yang tadinya menunduk diiringi titik-titik darah yang menetes mengotori alas, mendadak mendongak sebab si bos menjambak rambutku tanpa ampun. Aku sendiri hanya mampu meringis menahan rasa perih disertai napas yang tersengal.

“Anak malang, bagaimana mungkin kau bisa mengadukanku ke polisi kalau nyawamu saja akan berakhir di tanganku? Bagaimana, eoh, pahlawan kesiangan?” cemooh si bos seraya menepuk-nepuk kedua pipiku.

“Tidakkah kau memikirkan adikmu saat kau dengan sok beraninya mengancamku, hah?” tanyanya dengan senyum miring.

Kontan kugerakkan tubuhku –memberontak- begitu makhluk hina itu menyinggung perihal adikku, keluargaku satu-satunya.

“Menjauh darinya, bodoh! Jangan sentuh dia!” teriakku dengan tenaga yang tersisa.

“Ha…ha…ha… siapa di sini yang bodoh sebenarnya? Aku yang tentu saja menyelidiki latar belakang budak-budak seperti kalian yang menawarkan diri untuk bergabung? Atau kau yang merupakan salah satu dari para budak ini yang dengan bodohnya terjebak dalam lingkaran hitam ini?”

“Kau…kau menyelidikiku?” tanyaku waspada.

“Orangtua yang bercerai lalu menghilang. Adik perempuan yang menutup diri namun sangat kau sayangi hingga kau rela putus sekolah dan akhirnya berlabuh sebagai pekerjaku. Sayang, di hari pertamamu kau malah memberiku kesan buruk.”

“Kau… kau siapa?” tanyaku mulai ketakutan. Orang ini mengerikan, dia berbahaya. Aku siap andaikan harus mati di sini. Tapi, tapi adikku…. bagaimana dengannya?

“Ayahmu temanku, tapi dulu. Sebelum pengkhianat busuk melekat pada dirinya. Aku tahu semua tentangmu, ayah-ibumu, juga adikmu. Jujur, aku bisa saja menghabisimu saat kau meminta izin untuk bergabung di sini. Tapi aku kasihan. Ya, melihatmu putus asa setelah ditolak oleh beberapa kafe yang membuka lowongan kerja part time, aku kasihan, bagaimana pun aku pernah berhutang budi pada ayahmu.”

Aku tercenung, penjelasannya begitu sukar kuterima dengan akal sehatku. Kenapa ayah bisa berteman dengannya? Jadi…jadi selama ini ayah bekerja sebagai apa? Apakah seperti yang dilakukan orang ini?  Apakah pakaian kantor yang selalu dikenakannya saat berangkat setiap pagi hanyalah tipuan semata? Apakah karena itu ibu dan ayah bertengkar lalu akhirnya bercerai? Aku benar-benar bisa gila jika memikirkan semua ini.

“Meski pun kau bersikap kurang ajar hari ini, aku masih bisa mengampunimu, membiarkan adikmu tetap tenang.”

Apa? Segera kutatap pria itu dengan mata penasaran.

“Aku tahu kau saat ini membenci orangtuamu.”

Ya, setelah apa yang mereka perbuat, aku marah hingga rasa benci ini tak mampu lagi kuelak. Apalagi dengan semua kebohongan yang mereka –tepatnya ayahku- ciptakan. Membuatku dan adikku dikucilkan. Membuat tetangga semakin gencar bergosip. Membuat sekolah menjadi tempat yang paling ingin kehindari. Aku sudah tak tahan. Aku lelah. Aku ingin mengakhirinya. Dan orang ini hadir ketika aku sungguh tak tahu arah, saat aku membutuhkan pegangan yang dapat membantuku keluar dari sangkar yang mengekang ini.

“To…long, aku….aku tak ta….hu”, ujarku terbata. Aku menyerah, dan orang ini seolah memberiku harapan.

“Teruskan bisnisku”, ucapnya singkat.

“Apa?” aku menatapnya bingung.

“Lepas!” titahnya pada kaki tangannya yang mencekal lenganku, seketika mereka menuruti perintah bosnya.

Si bos lalu memegang kedua pundakku yang lunglai.

“Untuk membalas ayah-ibumu, memperjuangkan hidup adikmu, dan memperbaiki nasib burukmu, maka teruskanlah bisnis yang telah aku dan ayahmu bangun ini. Bisnis yang akan menjungkir balikkan keadaanmu.”

“Bisnis?”

“Ya, bisnis.”

“Apa itu?”

Si bos tersenyum misterius.

            Ini berbanding terbalik dengan hatiku, bisnis ini. Aku tak sanggup, aku pun manusia, tapi…….. dia –si bos- tak membiarkanku mundur. Dia melatihku dengan keras, tak memberiku kesempatan untuk mengabari adikku, tak memberiku kesempatan untuk bersikap baik, melarangku menggunakan perasaan. Hingga beberapa tahun kemudian lahirlah aku yang baru. Dengan seluruh usaha yang dikerahkan dan amanat dari si bos sebelum wafat akibat peluru polisi yang bersarang di dadanya ketika adanya razia, aku pun mampu menangani bisnis itu. Bisnis yang mengharuskanku berperan bak gelandangan, bisnis yang secara tak langsung menyugestiku menjadi monster yang mengerikan. Membuatku kerap menyakiti adikku sendiri, membuatku buta akan nurani, membuat hatiku keras dan dingin melebihi es di kutub.

Namun, rintangan mulai menghadang. Wanita itu ikut campur. Wanita sok baik yang berusaha menjatuhkan bisnis yang telah kurintis sedemikian rupa. Wanita yang kukenal sebagai ibu dari sahabat adikku. Wanita cerdik yang dapat mengendus bisnis gelapku. Wanita yang menjadi ancaman nyata akan kelangsungan bisnisku. Wanita yang berulang kali mencoba mempengaruhiku dengan kata-kata sok bijaknya, sayang hal itu tak mempan. Hingga suatu hari ‘dia’ tiba-tiba datang seraya berkata, “Jika ada beberapa tikus yang berpotensi merusak ladangmu hingga membuatmu merugi, maka sebagai petani langkah yang tepat yaitu…… memusnahkannya.”

Ya, aku setuju, cara tepat untuk melindungi bisnis ini yaitu………….. menghabisi siapa pun yang saling terkait. Tak peduli siapa pun dia, karena nurani itu telah terkubur dalam. Terkubur bersama sosokku yang dulu menyedihkan, terkubur bersama kenangan-kenangan yang tak ingin lagi kuingat. Karena aku bukan lagi Lee Sooyi yang masih menyelipkan kebaikan dalam hatinya. Sekarang aku adalah Wu Yifan, pemilik bisnis perdagangan gelap organ tubuh manusia. Ya, monster mengerikan itu telah merasukiku tanpa menyisakan celah berarti.

<EXO ♥ JJANG>

            Author P.O.V

            Chanyeol’s House, 04.50 pm KST.

Soonji menumpuk hampir semua barang yang ada di loteng untuk mengganjal pintu, karena baginya kunci saja tak cukup. Dia bahkan berjuang mendorong sebuah rak kayu ke depan pintu. Selain itu dia juga menjalin beberapa seprai tak terpakai yang dia temukan menjadi tali yang panjang, dia berencana kabur dengan cara turun melalui jendela loteng menggunakan tali itu. Tetapi…

‘Dok…dok…dok…’

“Jangan sembunyi, bocah! Kau pikir kami tak tahu kau di dalam, hah?!”

Soonji kalah cepat, para orang jahat telah menemukan tempatnya, mereka mulai beraksi merusak pintu.

Sambil menangis Soonji meneruskan aktivitasnya yang tertunda, namun entah kenapa otot tangannya melemah, tangannya bergetar.

“Ayolah… kumohon…”, gumam Soonji panik. Sesekali dia melirik ke pintu, di mana barang yang digunakan untuk mengganjal sedikit bergeser.

“Kumohon….” Tapi tangannya semakin bergetar, tak mampu lagi mengikat satu seprai dengan seprai lain.

“Jinjja….” Soonji menyerah, dia membuang seprainya dan menangis tersedu. Dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.

“Aku akan mati”, gumamnya sedih di sela-sela tangisnya yang kian menjadi.

Sedangkan di luar sana, sang pimpinan hanya menonton anak buahnya yang berjibaku membuka pintu. Bukannya membantu, dia malah menyingkir dan menelepon seseorang.

‘Cek’, gerakan tangan yang hampir menarik pelatuk diinterupsi oleh dering panggilan. Dengan masih mengarahkan pistol ke sasaran, si bos besar –Wu Yifan- mengambil handphonenya dari saku jas lalu mengangkatnya.

“Ada apa?”

“Kami menemukannya.”

“Bukankah tinggal bunuh saja?”

“Anda yakin?”

Yifan tertawa hambar, “Kau pikir aku akan iba walau dia adikku? Dia adalah sahabat dari anak pengusaha itu, jadi secara tak langsung dia terlibat. Apa kau lupa dengan rencana kita? Kita akan membinasakan siapa saja yang termasuk dalam daftar hitam kita, maka bunuh saja dia. Terserah bagaimana pun caranya”.

Baiklah, saya mengerti.”

‘Klik’.

Jinhwa menatap pasrah pistol yang terarah padanya, dia belum siap mati, namun dia tak punya tenaga lagi untuk memikirkan cara melarikan diri.

“Apakah kau punya pesan terakhir?”

“Apa kau juga punya penjelasan terakhir?” Jinhwa balik bertanya dengan sengit.

“Ha…ha… jadi kau tak tahu apa pun?” cemoohnya.

“Sebut saja aku bodoh”, balas gadis itu dingin.

“Asal kau tahu, mereka juga bernasib sama denganmu.”

“Mereka?” dan otak Jinhwa bekerja memproses sesuatu.

“Apa…. apa kau juga melukai Soonji dan Chanyeol?” tanya Jinhwa takut, dadanya mendadak sesak.

“Salahkan ibumu, berpura-pura baik di depan khalayak dan diam-diam membuat bisnisku bangkrut.”

“Bisnis?” Jinhwa kembali berpikir di tengah rasa duka dan amarah yang bercampur.

“Apa bisnis yang kau maksud adalah memperbudak anak-anak? Apa kau pikir itu bisnis?!” Jinhwa naik darah. Di samping ibunya telah disangkut pautkan, kegiatan kotor itu malah disebutnya bisnis.

“Apakah kau gila?!” teriak Jinhwa dengan air mata yang semakin tumpah ruah.

“Kau berani mengataiku gila, bocah?”tanya Yifan tak terima.

“Sekarang bagiku kau bukan lagi kakak Soonji, kau lebih parah dari orang gila, kau hanyalah sampah. Sampah masyarakat yang busuk!”

“Diam!”

Jinhwa memegang lagi pembatas jembatan. Hatinya perih luar biasa. Dia tak ingin mati seperti ini. Terlebih bayangan Soonji dan Chanyeol yang teraniaya menghantui benaknya, dia merasa jahat karena tak mampu menolong mereka, terlebih katanya ibunya yang menjadi alasan hal mengerikan ini dapat terjadi.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Yifan melihat tingkah Jinhwa yang mencurigakan.

“Aku tak sudi mati di tanganmu!” tunjuk Jinhwa marah, dia melongok ke bawah jembatan dengan kalut, namun tak lama kemudian….

‘DOR!’

‘BYUR!’ Bertepatan dengan Yifan yang melesatkan pelurunya, Jinhwa naik ke pembatas dan meloncat, menerjunkan dirinya ke sungai besar yang lumayan dalam, dan untungnya peluru yang tertuju padanya meleset.

Kontan pria-pria itu –termasuk Yifan- menuju pinggir jembatan, melihat ke bawah sana. Dan sosok Jinhwa sama sekali tak menyembul ke permukaan.

Damn!

            Beriak yang muncul di sungai tersebut perlahan menghilang, entah mengapa di dalam sana seakan menyimpan sejuta rahasia.  Lalu latar sungai pun beralih pada langit sore dengan matahari yang semakin ke barat serta gerombolan merpati yang mengepakkan sayap. Namun, langit yang tergambar indah ini tidak selalu diikuti keindahan hidup para keturunan Adam dan Hawa.

Chanyeol’s House, 04.55 pm KST.

‘BRAK!’

Sebuah dorongan keras membuat rak kayu yang mengganjal pintu roboh tepat dua senti di depan Soonji. Soonji terhenyak, dia berdiri menjauh begitu melihat para penjahat tersebut. Dengan nekat, gadis berambut panjang yang dibiarkan tergerai itu memecah jendela berbahan kaca tipis di belakangnya dengan tangan kosong.

‘PYAR!’

Segera diambilnya sebuah kepingan kaca yang berujung tajam tanpa mempedulikan tangannya yang hampir seluruhnya diselubungi darah.

“Jangan mendekat!” ancamnya sambil menodongkan senjatanya.

“Percuma, bocah. Kau kira kami takut?” remeh salah satu anak buah.

“Kubilang jangan mendekat!” teriak Soonji di saat dua orang anak buah maju dua langkah.

“Turunkan benda itu!” titah pimpinan yang berjalan masuk tanpa rasa takut secuil pun.

“Apa kau tuli?!!” seru Soonji dengan mata nyalang.

Pimpinan itu mengeluarkan sebotol kecil wine dari balik jasnya lalu meneguknya.

“Apa kau juga tuli? Turunkan benda itu, maka aku bisa saja memaafkanmu”, sahutnya santai.

“Memaafkanku? Memang apa salahku?”

“Kau berhubungan dengan anaknya.”

“Anak? Apa maksudmu?”

“Ma Jinhwa, salahkan saja ibunya.”

Jinhwa? Apa ini semua terjadi karena ibu Jinhwa? Soonji terguncang, perlahan dia menurunkan tangannya yang menodong.

Namun, Soonji langsung menggeleng dan kembali menodongkan kepingan kacanya.

Mereka pasti menipuku.

“Gotjimal!” seru Soonji tak pecaya. Karena aura setan telah berbaur dengan jiwa mudanya, tanpa diduga Soonji menerjang ke arah pimpinan.

Reflek pimpinan menyiramkan winenya ke muka Soonji, membuat gadis itu menjerit pedih sambil menjatuhkan senjatanya. Dia menutup wajahnya yang terasa terbakar.

‘Buk!’

‘Buk!’

Mendadak seseorang mengayunkan tongkat golf ke kepala para anak buah penjahat, membuat beberapa pingsan dan sisanya berlutut kesakitan. Ketika badan tongkat golf akan mendarat di ubun-ubun pimpinan, dengan gesit dia berkelit dan berhasil merebut tongkat tersebut. Namun, bukannya memukul balik seseorang itu, pimpinan malah melemparkan tongkatnya dan beralih mengayunkan botol wine ke arah Soonji, sebab target pembunuhannya adalah gadis itu, bukan seseorang yang tiba-tiba datang dan bersikap sok pahlawan itu. Di kala botol wine siap mendarat ke kepala Soonji, seseorang itu dengan sigap berdiri di hadapan Soonji, menjadi tamengnya. Dan akhirnya botol wine itu mengenai punggungnya dengan keras hingga botol tersebut terpecah menjadi beberapa bagian. Darah segar pun tanpa ragu merembes di bajunya. Soonji perlahan menjauhkan salah satu tangannya, sebab wajahnya yang kini melepuh terkena air wine berada di bagian yang sedang dia tutupi. Ya, separuh wajahnya telah cacat. Mata Soonji terbelalak begitu tahu siapa yang kini berdiri di hadapannya.

“Sehun –ah….”, dan tangisnya semakin pecah saat Sehun tersenyum lemah padanya.

“Gwaen…chana…Soonji –ya”, lalu Sehun ambruk dengan posisi tengkurap.

“Sehun –ah…”, Soonji berlutut dan tak sengaja menyentuh luka di punggung Sehun.

“Ige…”, Soonji bergetar melihat darah pekat di tangannya.

“Sehun –ah… kumohon bertahanlah. Kau pasti kuat, Sehun –ah… kumohon bertahanlah…”, namun sekeras apa pun Soonji mengguncang pelan bahu lelaki itu, nyatanya mata Sehun telah terpejam rapat-rapat.

‘Tulit…tulit…tulit…’, sepersekian detik kemudian sirine polisi pun mengambil alih ketegangan.

“Haisshh!!” pimpinan melempar sisa pecahan botol di tangannya secara serampangan. Dia lalu mengajak anak buahnya yang masih sadarkan diri untuk melarikan diri secepat mungkin.

“Kajja!!” Meninggalkan seorang remaja yang menangisi remaja lain di depannya.

<EXO ♥ JJANG>

Anyang Hospital – Gyeonggi-do, 10.44 pm KST.

Hampir lima jam lebih remaja yang menjadi korban percobaan pembunuhan itu berbaring tak sadarkan diri di ranjang rumah sakit dengan selang infus dan alat bantu pernapasan yang melengkapi tubuhnya, dialah Park Chanyeol. Elektrokardiografi di sampingnya menunjukkan detak jantung yang tidak stabil. Apalagi perban di perut, lengan, bahkan dahinya, ditambah gips di lehernya, membuat siapa saja yang melihatnya menjadi iba, prihatin. Di kamar rawat Chanyeol yang senyap ini, terdengar seseorang membuka pintu dengan pelan. Lalu masuklah seorang gadis dengan kedua tangan dan separuh wajah yang diperban, tampak noda darah masih merembes di perban salah satu tangannya. Dengan hati-hati gadis itu melangkah menghampiri Chanyeol. Dia berdiri satu meter dari ranjang lelaki bermarga Park tersebut.

“Chanyeol –ah…”, lirih si gadis disertai mata sembapnya.

“Kumohon sadarlah…”, nadanya terdengar menahan sejuta kesedihan.

Namun…..

“Jin…jin….Jin… hwa…ya”, igau Chanyeol dengan suara yang amat lemah, tapi gadis itu mampu mendengarnya, seketika matanya yang memancarkan kesedihan berubah menjadi kekecewaan. Karena tak kuasa berlama-lama di sana, gadis itu pun beranjak keluar.

‘Ceklek’.

Setelah menutup pintu, dia bersandar ke dinding yang ada di sebelahnya.

Kau seperti itu bahkan karena mencari Jinhwa, batinnya sakit.

Dan karena kau pergi aku jadi begini, gadis itu mengusap wajahnya yang dibalut perban.

Tapi kenapa yang kau sebut pertama kali malah gadis itu? lalu air matanya pun itu jatuh karena hati yang merasa terkhianati.

Sehun keluar dari kamar rawatnya sambil menahan sakit di punggungnya. Dia menaiki lift, menuju ke kamar rawat seseorang yang sedari tadi membuatnya khawatir. Begitu lift terbuka, Sehun hanya perlu berjalan sejauh lima meter untuk sampai di depan pintu kamar rawat seseorang itu. Tanpa ragu dia mengetuk pintu.

‘Tok…tok…tok…’ . Namun tak ada respon dari pasien di dalam sana.

Sehun pun mencoba lagi, ‘Tok…tok…tok….’. Namun masih sama.

Ini yang terakhir, batinnya.

‘Tok…tok…tok…’. Semenit berlalu, Sehun pun memutuskan masuk.

‘Ceklek’. Rupanya pintunya tidak dikunci.

Tetapi Sehun terkejut ketika tak melihat seorang pun di dalam. Sembari masih menahan sakit, Sehun mencoba mengetuk pintu kamar mandi yang tersedia, namun sama saja, tak ada tanggapan. Akhirnya dengan memberanikan diri, Sehun membuka pintu kamar mandi yang ternyata juga tak dikunci. Dia semakin panik begitu melihat kamar mandinya jua kosong tanpa seorang pun. Di saat kakinya melaju untuk mencari ke luar, tak sengaja hazelnya menangkap selembar kertas di atas ranjang pasien.

Terimakasih banyak.
Tapi tolong jangan mencariku, aku akan baik-baik saja.

Lee Soonji

Sehun mencelos setelah membacanya, namun detik selanjutnya dia berlari sambil membawa kertas itu, mengabaikan rasa sakitnya. Oh Sehun benar-benar tak mengindahkan pesan tertulis Lee Soonji. Namun, langkahnya terhenti saat melihat sesuatu di lantai, tak jauh dari pintu. Lelaki itu pun berhenti dan memungutnya, dia tak menyadari benda itu ketika masuk tadi, yaitu sebuah foto yang robek menjadi dua. Foto Chanyeol, Soonji, dan Jinhwa yang tengah tertawa bahagia, tetapi foto itu telah terbelah. Di mana sebuah potongan menampilkan Chanyeol dan Soonji, sedang sepotong lainnya menampilkan Jinhwa. Sehun mengamatinya sejenak lalu menyimpannya di saku baju pasiennya, dan dia kembali melanjutkan larinya ke luar kamar pasien.

Sehun terus berlari hingga sampai di lobi dasar rumah sakit, namun kakinya tertahan begitu siaran televisi layar lebar yang dipasang di sana menyiarkan berita orang hilang. Tetapi bukan berita itu fokusnya, melainkan nama seseorang yang baru saja disebutkan oleh reporter.

“Nyonya Lee Boyoung, pengusaha yayasan sosial yang namanya melambung akhir-akhir ini, terlihat histeris begitu keluar dari kantor polisi pusat distrik Anyang untuk melaporkan anaknya yang hilang.”

Sehun pun menoleh ke samping kiri, memusatkan perhatiannya pada televisi.

“Ini adalah laporannya yang ketiga sejak lima jam lalu. Memang terdengar berlebihan, namun Nyonya Lee Boyoung diketahui sangat menyayangi anak gadisnya tersebut. Dan informasi yang baru kami dapatkan, menghilangnya anak gadisnya yang bernama Ma Jinhwa ada kaitannya dengan para bandar perdagangan organ tubuh manusia illegal. Polisi menduga dia diculik oleh mereka. Pernyataan tersebut didukung oleh fakta bahwa para bandar tersebut sering mengirim paket ancaman pada Nyonya Lee Boyoung.  Berikut kami tampilkan beberapa cuplikannya.”

Mata Sehun membulat saat sosok reporter tergantikan oleh video Lee Boyoung yang histeris dan foto ukuran sedang seorang anak remaja di sebelahnya.

Dia….

            Tepat di waktu yang sama, seorang gadis keluar dari kamarnya setelah berjibaku dengan tumpukan pr dan tugas sekolahnya. Dia menuju dapur lalu menuang air mineral ke gelas plastik. Selanjutnya dia membawa gelas itu beserta sepiring buah persik yang disiapkan ibunya menuju kamarnya, tetapi ketika melewati ruang tengah, sebuah berita yang tengah disiarkan di televisi menghentikan langkahnya. Secara tak sadar gadis itu menjatuhkan makanan dan minuman yang berada di kedua tangannya di kala menonton berita tentang penculikan seorang anak pengusaha  bernama Ma Jinhwa.

‘Prang!’ Gadis itu menutup mulutnya karena shock.

Eonni…. , batin gadis itu –Kim Saeron- tak menyangka.

Di sisi lain, bertempat di kediaman keluarga Do. Seorang remaja tingkat satu SMA sebut saja Kyungsoo, melotot terkejut akan berita yang disiarkan di televisi layar datarnya. Masih dalam fase terkejut, Kyungsoo melangkah mundur lalu terduduk di sofa dengan tangannya yang tetap memegang remot.

“Sunbaenim….”, gumamnya dengan suara bergetar.

Andai waktu itu kemampuanku bisa menjangkaunya, kejadian ini pasti dapat diatasi, tapi…. Kenapa aku bodoh sekali? Apa layak aku menganggap buyutku menurunkan keahliannya padaku? Apa pantas aku dianggap titisan cenayang?

Dan rasa bersalah pun hinggap di kalbunya, membuatnya tak henti menyalahkan diri sendiri.

<EXO ♥ JJANG>

 

TBC ^^

 

 

2 thoughts on “Wave Find Beach (Chapter 11)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s