Did You See? ( Chapter 3 )

DYS POSTER

DID YOU SEE?

Author : Bitebyeol – Main Cast : Park Chanyeol & Ahn Alessa – Other cast will find by yourself – Genre : Romance, Family – Length :  Chaptered – Rating : Teen

I own the plot

https://hanajinani97.wordpress.com/

Sorry for Typos!

.

PROLOGPART 1PART 2

.

.

 “O.oppa..”

Lirih dan tersendat, hanya sebuah kata yang mampu Alessa ucapkan. Kepalanya semakin berdenyut cepat beriring dengan nafas yang turut terburu. Lengan yang merengkuh tubuh Alessa begitu kokoh. Gerakannya menghusap punggung membuat Alessa semakin kencang mengeratkan cengkeraman pada lengannya. Kendati gelap, hanya bayangan samar serta aroma musk yang tertera jelas menaungi indera gadis itu.

Lampu-lampu mulai menyala kembali menerangi seisi rumah. Penerangan juga membuat kedua sosok yang tengah saling memeluk bersandarkan dinding pantry tersebut terlihat jelas.Cengkeraman Alessa yang sudah meluruh sejak tadi, tak membuat pemuda itu melepaskan tautannya. Tubuh ramping Alessa begitu ringan ketika ia mulai mengangkat dengan satu kali gerakan. Gadis itu sudah tidak sadarkan diri dengan surai berantakan serta wajah dihiasi peluh dan sisa air mata.

“Astaga, Nona! Nona Alessa!”

Chanyeol tidak mempedulikan kepanikan para pelayan yang terkejut melihat Alessa dalam gendongannya. Langkah panjangnya dengan cepat menapaki anak-anak tangga menuju kamar Alessa yang terletak di lantai dua. Meninggalkan para pelayan yang sebagian saling tatap dengan raut wajah takut. Mereka tahu betul bahwa nona muda mereka memiliki phobia gelap sedemikian parah.

Salah seorang diantara pelayan tersebut mengambil inisiatif mengikuti Chanyeol dan membukakan pintu kamar gadis itu. Salah satunya lagi membawakan segelas air minum dan sebuah handuk bersih. Mereka hanya mampu menunduk dari ambang pintu menghindari tatapan dingin dari Chanyeol. Pemuda itu berisyarat melalui gerakan mata agar mereka segera pergi.

Chanyeol meletakkan tubuh yang berada dalam gendongannya pada ranjang dengan hati-hati. Ia membetulkan letak bantal yang menjadi tempat berbaring Alessa dengan gerakan pelan.

Mendudukkan diri pada pinggir ranjang, lengan Chanyeol mulai terulur menepikan surai yang menutupi wajah Alessa. Gadis itu terlihat kacau, Chanyeol menyentuhkan tangannya untuk memeriksa sekilas. Nafas dan denyut nadinya terdengar beraturan. Chanyeol berfikir akan lebih baik membiarkan Alessa beristirahat

Chanyeol belum juga beranjak. Pandangannya mengamati seisi kamar bernuansa feminim itu dengan perlahan. Berkali-kali kelopak mata Chanyeol mengerjap. Sebenarnya ia tak suka berada di tempat yang terlampau banyak cahaya seperti ini. Satu hal yang menarik perhatian Chanyeol, hingga ia mulai mengerti. Tepat pada dinding di atas ranjang Alessa telah di desain sebuah lampu berbentuk minimalis memanjang. Sepertinya hanya berguna secara otomatis jika terjadi pemadaman seperti tadi.

Phobia gadis ini ternyata cukup parah

Bunyi dering ponsel mengalihkan perhatian Chanyeol lagi. Jelas itu bukan dering ponsel miliknya dan suaranya bersumber di dekat pembaringan Alessa. Ah Chanyeol teringat ketika membawa Alessa tadi, ponsel tersebut sempat terbawa olehnya . Suara dering ponselnya cukup mengganggu jika mengingat Alessa belum sadarkan diri. Alis Chanyeol terangkat saat mendapati siapa penelepon tersebut. Menilik jarum jam hampir menunjukkan pukul 4 pagi, mungkin saja itu adalah sebuah telepon penting.

“Anyeonghaseyo, Sajangnim.” Chanyeol akhirnya mengambil tindakan. Pemuda itu sedikit berjalan menjauh dari tempat tidur Alessa.

Ada jeda sejenak dari seberang sana sebelum melanjutkan.

Chanyeol? Mengapa kau yang mengangkatnya? Dimana Alessa? Apa terjadi sesuatu?”

Mengetahui suara berat milik Chanyeol, pertanyaan Ahn Jaehyun terdengar bertubi-tubi.

“Nona Alessa sedang tertidur di kamarnya. Beberapa saat lalu terjadi pemadaman listrik di sini.”

Bibir pemuda itu mengukir senyum meski Ahn Jaehyun tak mungkin dapat melihatnya. Helaan nafas Jaehyun terdengar pelan seusai penjelasan Chanyeol. Sebelumnya ia juga telah mengatakan kepada Chanyeol mengenai phobia yang diderita Alessa.

“Benarkah? Bagaimana keadaannya sekarang?”

“Saya menemukannya sedang ketakutan di pantry ketika pemadaman itu terjadi. Jangan khawatir Sajangnim, Nona Alessa baik-baik saja.”

Ada sedikit kelegaan terasa dari sana.

Chanyeol ?”

“Ye, Sajangnim. Apakah ada yang hendak Anda sampaikan lagi?”

Kudengar dari Minseok bahwa kau baru saja mengalami kecelakaan?”

Lengkungan di bibir Chanyeol sedikit memudar. Tubuhnya bergerak menoleh pada sebuah cermin yang terdapat pada salah satu sisi kamar Alessa. Di sana terlihat pelipisnya di balut oleh plester dan kapas menutupi jahitan akibat benturan keras itu.

“Benar , Sajangnim. Tapi, saya tidak apa-apa.”

Chanyeol tak menyadari kekhawatiran Ahn Jaehyun. Sejak Minseok mengabari keadaan Chanyeol, ia terus menelepon pada ponsel wakil direkturnya namun tak pernah tersambung sebab benda itu telah kehabisan daya. Sudah tentu Minseok memberitahu perihal semua ini pada Jaehyun.

Tidak apa-apa kau bilang? Bagaimana dengan keadaan mobilmu yang hancur parah? Kau juga terluka bukan?”

Chanyeol hanya dapat mengiyakan dengan berat hingga Jaehyun kembali berbicara.

 

Baiklah Chanyeol, jaga dirimu dan tolong terus awasi Alessa. Aku akan segera memesankan mobil baru untukmu nanti.”

Sambungan telepon itu akhirnya terputus setelah Jaehyun mengabaikan penolakan Chanyeol. Ponsel Alessa yang tergenggam di tangan Chanyeol perlahan menyentuh tergeletak pada meja belajar. Chanyeol mengerti bahwa ia tak akan bisa menolak dari semua perkataan Jaehyun. Ucapan Jaehyun bagai perintah untuknya, untuk waktu yang sebentar lagi akan berakhir.

Langkah Chanyeol kembali terjalin menuju tempat tidur .Sebuah lenguhan kecil di barengi pergerakan samar terjadi di sana. Alessa terlihat seperti tengah tertidur pulas. Handuk bersih pada akhirnya Chanyeol gunakan untuk menyeka titik-titik peluh pada wajah mungil itu. Begitu lembut Chanyeol melakukannya hingga tak mungkin sampai mengusik si putri tidur.

Sial

Chanyeol mengumpat dalam hati dengan tubuh sedikit menegang. Chanyeol meletakkan kembali handuk itu pada sebuah wadah di meja nakas. Bodohnya ia baru menyadari perihal ini. Gaun tidur gadis itu hanya sampai sebatas lutut dengan bahan putih tipis menerawang lekuk tubuh.Dan juga potongan cukup rendah pada belahan dada. Di dukung pula oleh rambut yang terurai tak beraturan berkesan indah.

Bagaimana mungkin gadis berusia muda seperti Alessa memakai gaun tidur yang teramat menggoda di mata Chanyeol?

Saliva Chanyeol tertelan samar seiring pergerakan jakunnya. Ingatlah Chanyeol, sepasang paha mulus itu baru saja tersentuh oleh lenganmu saat menggendongnya tadi!

Dengan cepat Chanyeol meraih selimut dan menutupi tubuh Alessa hingga mencapai dadanya. Chanyeol membuang wajah ke arah lain setelah berkali-kali bagian itu membuatnya cukup berkeringat. Decakan yang sulit diartikan meluncur dari bibir Chanyeol. Ia nyaris dehidrasi jika tak segera menenggak habis segelas air yang dibawakan oleh pelayan tadi. Pemuda itu segera mengatur suhu ruangan dan dengan tangan terkepal ia melangkah lebar-lebar menuju pintu sebelum hilang kendali.

Seberkas cahaya mentari pagi mencela melalui tirai membuat matanya memicing. Alessa terbangun dengan kepala pening berusaha memfokuskan keadaan sekitar. Ranjang berbusa empuk menopang tubuh mungilnya enggan berderit. Seisi kamarnya telah terang terbiaskan pancaran lembut keemasan di sela jendela. Kelegaan terhantar menyapa Alessa setelah ia melewati mimpi buruk berkepanjangan.

Pintu kamarnya di dorong dari arah luar menampakkan dua orang pelayan wanita. Sebuah nampan berisi sarapan pagi di bawa oleh salah satunya. Sementara salah seorang pelayan lain segera mempersiapkan air hangat untuk Alessa mandi.

“Bibi. Terimakasih sudah membawaku ke kamar.” Ingatan Alessa masih terputar jelas bagaimana ketakutannya kembali kambuh saat pemadaman listrik itu terjadi. Gadis itu memegang sisi wajahnya yang terasa lembab bersisa tangis.

Pelayan itu tersenyum setelah meletakkan sarapan pagi untuk Alessa. Tangannya yang cekatan mulai melipat selimut yang telah disingkap oleh nona mudanya.

“Maaf, Nona. Sepertinya ucapan terimakasih tidak seharusnya diterima oleh saya seorang. Karena bukan seorang diantara kami yang melakukan semua itu.”

Pelayan yang telah selesai menyiapkan air hangat berdiri di ambang kamar mandi, mengisyaratkan kepada Alessa bahwa semuanya telah siap.

“Maksudmu?” Langkah kaki Alessa terhenti menatap pelayan yang tengah merapikan tempat tidurnya.

“Tuan Park Chanyeol yang telah menolong dan membawa Nona ke kamar.”

Alessa melirik pelayan lain di hadapannya, pelayan itu menunduk dan turut berucap membenarkan.

“Benar Nona, Tuan Park juga yang menunggu Anda hampir setengah jam sejak Nona tidak sadarkan diri.”

Park Chanyeol. Kenapa pemuda itu yang harus memeluknya?

Setelah menyelesaikan kegiatan mandi dan berbenah diri, Alessa segera menuruni anak-anak tangga dan berjalan menuju serambi depan. Di ambang sana matanya menemukan punggung seseorang yang tengah lurus menegak ke arah sebuah mobil di hadapannya.

Lengkungan kecil terpatri pada bibir penuh pria bernama Park Chanyeol tersebut. Genggaman tangannya berisikan lempengan kunci dari sebuah mobil putih buatan Italia yang terparkir dengan manis. Ahn Jaehyun selalu menepati perkataannya, sesuai janjinya di telepon ia telah mempersiapkan sebuah Maserati Gran Turismo untuk Chanyeol. Menaksir harganya, tak sulit bagi kekayaan yang di miliki Ahn Jaehyun meski ia membelinya dalam jumlah selusin.

“Park Chanyeol-ssi.”

Tak perlu tersadar dua kali, Chanyeol telah tahu siapa pemilik suara feminim tersebut. Lelaki itu segera menggeser posisinya sembari membungkuk sopan.

“Selamat pagi, Nona.”

“Hari ini aku sedang tidak ingin mengendarai mobil. Jadi, kau yang harus mengantarku.”

Pintu mobil di hadapannya terbuka melalui lengan Chanyeol, mempersilahkan Alessa untuk memasukinya. Bibir tebal Chanyeol terkatup oleh senyuman penuh kebanggaan.

Alessa memperhatikan Chanyeol yang mengitari mobil menuju setir kemudi. Ia tak dapat menyembunyikan rasa keheranan melihat dahi Chanyeol yang terplester. Dan lagi wajah pria itu tampak sedikit pucat dengan beberapa goresan di pipi. Alessa ingin bertanya. Namun, ego mengalahkan segalanya. Bibir Alessa tetap setia mengatup sampai Chanyeol mulai menjalankan mobil menuju luar gerbang. Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang. Selama beberapa saat hanya keadaan hening yang menyelimuti mereka.

“Chanyeol-ssi.” Alessa menyisihkan kegiatan merenungnya. Lagi-lagi pemikirannya hanya terusik oleh pertunangan Luhan dan Irene.

Mobil yang di kemudi oleh Chanyeol terhenti oleh lampu merah. Ia menoleh ke arah Alessa. Gadis itu tengah memperhatikan pejalan kaki yang melewati zebra cross. Rambu lalu lintas mulai berganti dengan warna hijau menandakan mobil mereka di haruskan kembali berjalan.

“Ya, Nona.”

Setir itu di putar oleh Alessa saat Chanyeol hendak membelokkan arah mobil ke lajur kanan. Itu adalah rute yang seharusnya jika mereka akan pergi menuju kampus Alessa. Tetapi yang diakibatkan kini, Chanyeol terpaksa mengendalikannya ke arah lain. Tak terelakkan lagi suara bising klakson kendaraan dari belakang terdengar. Kali ini Chanyeol lebih cekatan dan berkonsentrasi menyetir. Ia berusaha mengendalikannya dengan normal. Chanyeol menggertakkan rahangnya dalam diam. Berfikir bahwa hal seperti itu yang telah di lakukan Alessa sehingga menyebabkan kecelakaan menimpa Chanyeol.

“Apa yang Nona lakukan??”

“Aku tidak ingin ke kampus Chanyeol-ssi. Bawa aku kemana saja asal jangan ke kampus.”

Chanyeol melirik jam di pergelangan tangannya, masih tersisa waktu setengah jam sebelum kelas Alessa di mulai. Gadis ini benar-benar banyak macamnya! Sekali lagi ia hampir saja melenyapkan nyawa orang lain. Tak peduli lagi Chanyeol menginjak pedal gas hingga kecepatan di atas rata-rata. Test drive, pikir Chanyeol.

Tetapi ekspresi wajah Alessa terlihat tenang seolah Chanyeol mengendarai biasa saja. Berbanding terbalik dengan ketakutannya ketika insiden pemadaman listrik itu terjadi . Sungguh menjengkelkan, ingin sekali Chanyeol melontarkan ejekan bagaimana sikap Alessa bagai anak kecil malam tadi.

Beberapa menit kemudian mobil itu telah berhenti pada sebuah bangunan tinggi menjulang bertuliskan ‘Ahn Corporation’. Alessa melayangkan tatapan protes kepada Chanyeol yang membawanya ke perusahaan. Di dalam sana ia tahu begitu banyak hal memusingkan yang tidak ia sukai. Masalah orang tua, para pemikir dan pekerja keras. Betapa membosankan!

“Tempat inilah yang terbaik selain kampus Nona.” Chanyeol menyunggingkan smirk misterius sambil melepaskan seat beltnya. Mau tak mau Alessa ikut turun setelah teringat keinginannya untuk tidak ke kampus hari ini. Jujur saja ia sedang menghindari Luhan. Bahkan sedari tadi ia sengaja tidak mengaktifkan ponselnya.

High heels setinggi dua belas senti teramat menyulitkan untuk mengikuti langkah Chanyeol yang lebar. Gadis mungil itu tertinggal di belakang mengimbangi Chanyeol dengan susah payah.

“Chanyeol-ssi. Bisakah kau berjalan dengan pelan saja. Aakh.-”

Suara rintihan terdengar.

Tidak beruntung, Alessa terjatuh. Ia terduduk meringis memegang pergelangan kakinya yang terasa sakit. Pegawai yang berada di sekitar memandangnya prihatin. Chanyeol membuang nafas beberapa langkah di depan Alessa , ia berbalik memastikan kondisi gadis yang di cap manja itu.

“Aa. Chanyeol-ssi.” Alessa menggigit bibirnya saat Chanyeol melepas sepatu dengan heels runcing itu dari kakinya. Memerah, ya pergelangan kaki mulus itu memerah. Mengapa gadis ini gemar sekali menyakiti bagian tubuhnya sendiri?

Gwenchanha? Nona masih bisa berjalan?” Astaga , cairan itu menggenang di pelupuk mata Alessa. Gadis itu mencoba bangkit berdiri dengan uluran tangan Chanyeol.

“Sakit.”

Gadis ini sepertinya ditakdirkan untuk merepotkanmu Chanyeol. Batin Chanyeol terus saja bersuara. Pemuda itu menggeram halus. Kedua lengannya mengangkat tubuh mungil itu dengan segera. Ala bridal. Seperti yang di lakukan Chanyeol beberapa waktu lalu. Tiap pasang mata di lorong kantor menatapnya dengan sorot keheranan. Tetapi Chanyeol tetap menumpu tubuh Alessa meski ia mulai memasuki sebuah lift. Identitas Alessa sebagai putri tunggal Ahn Jaehyun tak perlu di pertanyakan lagi, seisi pegawai telah mengenalinya. Dan posisi Chanyeol sebagai wakil direktur, pegawai kesayangan Jaehyun, sangat menegaskan kewenangannya di perusahaan ini.

Bruk

Chanyeol menjatuhkan tubuh Alessa pada sofa empuk di ruangannya. Ia tahu sejatinya gadis manja itu tengah berpura-pura menahan sakit yang tidak seberapa. Sakit yang diakibatkan oleh dirinya sendiri.

“Apakah ini sakit sekali?” Chanyeol berlutut mengoleskan obat pada pergelangan kaki kiri Alessa. Sengaja ia menekankannya dengan gerakan kuat sampai disadari oleh ekor matanya ekspresi Alessa berjengit terkejut.

“Nona duduk saja di sini sambil menunggu saya bekerja.”

Chanyeol mengangkat tubuh berjalan kearah kursi kerjanya. Di atas meja ada beberapa tumpukan kertas yang sebenarnya bukan berkas perusahaan. Pemuda itu sengaja menyibukkan diri, namun penglihatannya tidak lepas memperhatikan Alessa. Gadis yang berusaha mengusir kejenuhannya itu tengah mengamati ruangan Chanyeol. Ruang kerja yang luas ini berdesain mewah dan di lengkapi perabotan kelas impor. Jika di lihat-lihat Chanyeol selalu mendapat perhatian istimewa dari Ahn Jaehyun. Alessa mulai berpikir sehebat apa Park Chanyeol ini sampai ayahnya begitu mempercayakan dirinya .

Menit demi menit mulai berlalu. Seperti yang telah di duga Alessa, bahwa ia akan mati karena bosan. Di atas meja kerjanya, Chanyeol terlihat setia bergelut diri dengan urusannya. Entah apa yang sedang pria itu lakukan, Alessa jelas tak ingin tahu. Sejak tadi, ia mengisi perut dengan kue kering yang tersedia di ruangan Chanyeol. Sesekali mengubah posisi duduk ataupun memperhatikan penampilannya melalui cermin kecil yang selalu ia bawa. Namun, pada akhirnya ia menyerah.

“Chanyeol-ssi. Bukankah kau sangat suka mempersingkat waktu?” Alessa berkata. Cukup berhasil mengalihkan perhatian Chanyeol dari berkas-berkasnya. Pemuda itu sangat tahu bahwa Alessa tengah menyindir perbuatannya saat di butik.

“Sampai kapan kau sibuk dengan berkas-berkas itu? Bukankah ini sudah waktunya makan siang?”

Chanyeol menaikkan sisi wajahnya. ” Nona benar, ini sudah jam makan siang.”

“Kalau begitu lebih baik kita keluar untuk makan.”

Belum sempat Chanyeol menjawab, sebuah dorongan pintu menampakkan Minseok. Seperti biasa, sebuah kotak makan ekstra berada di tangan pria itu. Chanyeol tersenyum sedih melihatnya.

“Chanyeol? Aku mengira kau tidak akan bekerja hari ini. Kondisimu sudah benar-benar sudah membaik?”

Sedikit keterkejutan di tunjukkan oleh Minseok.

“Hmm ya, tidak ada masalah.”

“Seorang pegawai mengatakan kau datang beberapa jam lalu. Aku ada di ruanganku, jika butuh sesuatu, hubungi aku segera.” Chanyeol mengangguk menanggapi perkataan Minseok.

Minseok turut melemparkan senyumannya menyadari Alessa berada di ruangan Chanyeol.

“Baiklah, Pusajangnim. Ini makan siangmu. Kau harus menghabiskannya.” Minseok meletakkan kotak makan itu di hadapan Chanyeol. Terlihat ia menerimanya dengan pandangan tertegun. Chanyeol menundukkan sedikit kepala dan bernapas tertahan.

“Minseok Hyung. Katakan padanya agar jangan merepotkan diri seperti ini.” Minseok mengerjap pelan mendengar nada rendah Chanyeol. Selama ini , Chanyeol telah mengetahui bahwa ibunya selalu datang ke kantor.

“Chanyeol-ah. “

Alessa mengamati interaksi diantara keduanya dengan pandangan tak mengerti. Pada akhirnya Minseok melirik sedikit pada gadis itu kemudian berbalik meninggalkan mereka hingga pintu ruangan Chanyeol kembali tertutup.

Chanyeol membereskan kertas-kertas dari mejanya. Ia meraih kotak makan tersebut dan membawanya pada meja di hadapan Alessa. Kepulan makanan nikmat tercium begitu Chanyeol membuka wadah. Didalamnya terdapat berbagai macam makanan rumahan yang sehat dan terlihat menggiurkan.

Chanyeol menyodorkan separuh makanannya ke hadapan Alessa. Tetapi ia terlihat bergeming, gengsi sebesar gunung itu masih saja menjulang kokoh meski perutnya meronta sejak tadi.

“Nona, makanlah.” Chanyeol berkata dengan mulut berisi makanan. Ia mengernyit melihat Alessa yang terdiam.

“Apa Nona sedang diet? Bukankah Nona tadi berkata ingin makan? ” Chanyeol mengarahkan sumpitnya mengambil makanan lain. Cukup paham dengan gadis yang bersikeras mempertahankan tubuh langsingnya.

“Ah, saya lupa. Hanya terdapat sepasang sumpit dan satu sendok.” Chanyeol akhirnya menggeser duduknya lebih dekat dengan Alessa. Ia mengarahkan sepotong daging ke depan bibir Alessa dengan sumpitnya. Mau tak mau gadis itu akhirnya membuka mulut. Kunyahan pertama, rasa lezat tak dapat terhindarkan. Lalu selanjutnya, entah berapa banyak makanan yang disuapkan oleh Chanyeol. Hingga pria itu menyerahkan sumpitnya pada Alessa.

“Chanyeol-ssi. Makanan ini benar-benar enak.”

Kotak berisi makanan itu kini hampir tidak bersisa lagi. Karena tergesa, Alessa sampai tersedak. Buru-buru Chanyeol menyodorkan sebotol air minum padanya.

“Jangan banyak bicara ketika sedang makan. Tentu saja makanan ini enak”

Alessa menepuk-nepuk dada dengan sebelah tangan. Bulu mata lentiknya mengerjap bak lambaian nyiur. Keangkuhan sedikit memudar dari wajah cantik itu dan malah terkesan bodoh di mata Chanyeol. Gengsi setinggi gunung itu perlahan runtuh. Kesan anggun pada saat makan pun telah Alessa singkirkan jauh-jauh. Toh, ia sedang berada di hadapan seorang body guard, bukan berada di tengah teman-temannya.

Bibir Alessa kembali terbuka.

“Siapa yang membuatnya? Sepertinya makanan seperti ini tidak biasa di jual di luar. Apa semua ini buatan kekasihmu?”

“Bukan. Ibuku yang membuatnya.”

“Oh, Ibumu ya. Hmm Ibuku tidak pernah membuat masakan rumah seperti ini.” Entah kenapa sorot gadis itu terlihat sendu di mata Chanyeol.

“Chanyeol-ssi.”

Pemuda itu telihat menerawang ke arah lain. Alessa tak menyadari bahwa Chanyeol sedang berusaha menyembunyikan sisi lemahnya. Alessa mendesah dengan nada bosan. Chanyeol tidak menanggapi ucapannya lagi. Pemuda itu membereskan kotak makannya dan kembali berjalan ke meja kerja.Alessa memilih tidak terpengaruh. Seperti biasa ia tak peduli dengan kegiatan Chanyeol, ia bangkit berdiri. Ternyata pergelangan kakinya tak begitu sakit ketika di gerakkan. Alessa tak ingin lagi memakai high heels tadi. Ia membiarkan kaki telanjangnya menyentuh lantai marmer ruangan Chanyeol. Langkahnya terajut perlahan menuju sesuatu yang menarik perhatiannya. Sebuah meja billiard.

Insert

Kesan homey sangat terasa di ruangan Chanyeol. Seakan bekerja di rumah sendiri.Di kediaman Alessa, terdapat perlengkapan serupa milik Ayahnya. Sepertinya Chanyeol juga memiliki hobi yang sama dengan Ahn Jaehyun, sampai-sampai ia melengkapi ruangannya dengan satu set meja billiard.

Alessa mengambil salah satu stick. Sebenarnya ia samasekali tak dapat bermain billiard. Namun kali ini pada akhirnya ia tertarik dengan permainan itu. Alessa terkekeh pelan tatkala bidikannya menyebabkan bola billiard berhambur kemana-mana. Sangat jauh dari kesan tepat, gadis itu hanya ingin menyenangkan diri.

“Bukan seperti itu cara menggunakannya.”

Suara berat sang pemilik ruangan berdehem pelan di belakang. Alessa terkisap. Ah ia ceroboh tidak meminta izin terlebih dahulu. Ia merutuki tindakannya yang diluar kebiasaan sepanjang hari ini. Dimana Ahn Alessa yang penuh keanggunan?

Alessa bersiap meletakkan kembali sticknya, tetapi sebuah lengan mengarahkannya dari sisi belakang tubuh. Aroma musk itu terhela amat lembut, bahkan ia dapat merasakan dada bidang Chanyeol menyentuh punggungnya.

“Bungkukkan tubuhmu seperti ini.”

Alessa hanya dapat terdiam mengikuti instruksi Chanyeol.

“Jangan terlalu kaku Nona. Tubuhmu harus condong dengan rileks.” Chanyeol membenarkan posisi tubuh dan juga genggaman tangan Alessa.

“Konsentrasi dan arahkan sticknya lurus sejajar dengan bola di sana” Chanyeol menunjukkan sebuah bola berwarna merah yang menjadi sasaran. Tangan besar pria itu tepat bersentuhan dengan tangan Alessa.

“Ayunkan tangan dengan bahu.Namun, tangan harus lebih leluasa mengayun stik dengan lurus. Seperti ini.” Lengan Chanyeol kembali jatuh menekan bahu Alessa , membimbing gadis itu untuk mengayunkan stik dengan gerakan lurus. Tubuhnya yang berada tepat dibelakang Alessa membuatnya nyaris terlihat sedang memeluk. Bahkan karena teramat dekat, helaan nafas Chanyeol terhela jelas pada sisi wajah Alessa.

Dengan konsentrasi penuh, stick tersebut terayun kedepan. Lurus membentur bola dan bergulir menuju bola berwarna merah. Gulirannya terus meluncur pada sekat pinggir alas dasar dan lolos memasuki lubang di ujung.

“Hmm, cukup bagus untuk pemula.” Chanyeol menjauhkan tubuhnya dari Alessa. Karena Chanyeol cukup mahir memainkan billiard, ia tahu yang mana pemain profesional dan amatir. Pemuda itu merapikan bola dan membuatnya terkumpul di tengah dengan bantuan benda berbentuk segitiga.

Tidak disadari di dalam dada Alessa bergemuruh sedikit kekaguman. Gadis itu meletakkan sticknya. Ia memperhatikan teknik Chanyeol dalam bermain billiard yang sungguh membuatnya terkesan. Tetapi sekali lagi tiada decak kagum ataupun pujian yang terdengar, sebab bagi Alessa itulah yang terbaik dibanding menunjukkannya secara langsung. Tetap saja, bongkahan sebesar gunung menjadi dinding keangkuhannya.

Waktu berlalu tanpa terasa, sampai akhirnya Alessa meminta pulang dan tentu saja Chanyeol menurutinya. Gadis itu memutuskan memakai kembali high heelsnya daripada bertelanjang kaki di hadapan para pegawai. Lagipula ia juga tak ingin Chanyeol menggendongnya untuk yang ke tiga kali. Sejak melihat kepiawaian Chanyeol dalam bermain billiard, keseganan Alessa sedikit mencuat ke permukaan. Meski sedikit berjalan timpang, ia menolak ketika Chanyeol menawarkan bantuannya. Saat ini mereka sedang berjalan di basement menuju mobil. Namun, pergerakan keduanya terhenti , terlebih Alessa. Perasaan sesak itu datang kembali saat seorang pemuda berjalan mendekat. Ia mengenakan setelan jas  yang menambah kesan berkelas yang resmi.

“Park Chanyeol Sajangnim?  Sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya?” Pemuda itu menoleh pada Alessa sejenak sebelum akhirnya menjabat tangan Chanyeol.

“Namaku Luhan. Rasanya rapat tadi tidak lengkap tanpa Anda.”

“Luhan Oppa? Kenapa bisa di sini?”

Alessa tidak menyangka Luhan berada di perusahaan ayahnya.

“Oh, Alessa. Ayah menugaskanku untuk menghadiri rapat antar perusahaan di sini.”

Tidak mengherankan, keluarga Luhan memang merupakan pebisnis Korea-China.

“Kau sudah selesai Oppa? Jika sudah, aku akan pulang. Chanyeol-ssi, kau juga tidak ada urusan lagi kan?” Alessa mendongak menatap Chanyeol. Pemuda itu hanya mengangguk samar. Chanyeol merasakan ada kesan dekat diantara  mereka. Ia mengucapkan salam pada Luhan dan segera membukakan pintu untuk Alessa.

Kali ini Chanyeol sedikit mempersiapkan diri, sebaiknya tidak menjalankan mobil terlebih dahulu . Ia memperhatikan Alessa yang tengah mengenakan seat beltnya.

“Chanyeol-ssi.”

“Ya, Nona. Sekarang langsung pulang ke rumah Nona, bukan?”

“Chanyeol-ssi. Kau itu pengawalku kan, yang akan selalu melindungiku?”

Chanyeol terdiam beberapa saat mendengar Alessa yang dengan tiba-tiba mengambil sebuah topik pertanyaan. Pandangan gadis itu menerawang kedepan dengan netra yang mulai berkaca-kaca. Matanya tak lepas mengawasi pergerakan Luhan, hingga pria itu memasuki mobil dan menghilang dari pandangan. Chanyeol terkejut, bahunya terasa berat. Alessa, gadis itu menjatuhkan kepala pada sisi bahu Chanyeol

“Ya, Nona.Begitulah yang tertulis di kontrak.”

“Bersedia melindungiku dari apapun kan?”

Chanyeol mengangguk.

“Benar, Nona.”

“Kalau begitu,.. bisakah kau melindungi hatiku, juga?”

TBC

A/N : Halo, adakah yang membaca? Tulis komentar dan review ff ini dibawah ya.s

Iklan

4 thoughts on “Did You See? ( Chapter 3 )

  1. Em thor knpa chanyeol dingin bgt sih,,, tpu allesa manja sekali hahaha suka tapi thor tdi sempet mampir ke web nya hehehe enggk sbar nunggu yg ke 8 buruan dong thor pasang seru nih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s