The Series of Mortality : I AM SASAENG

I AM SASAENG

The Series of Mortality : I AM SASAENG

Author : YuraKim

Genre : thriller,romance// Length : oneshot // Rating : PG-15

Cast : Chen,Suho

Support Cast : Chorong and others

Note : Maaf kalau aku buat karakternya bener-bener OOC, beda dari yang aslinya. No plagiarism and sider ya , cerita ini murni hasil pemikiran author  HAPPY READING!^^~

Jam di kota Seoul sudah menujukkan pukul 10 malam, namun lampu-lampu kota masih terang dan jalanan masih ramai. Masih banyak yang berlalu lalang, entah itu manusia yang berjalan kaki ataupun kendaraan yang mereka tumpangi. Tak terkecuali sebuah stadion megah di tengah kota. Tampak banyak orang berhamburan keluar stadion dengan wajah yang gembira tanpa menunjukkan rasa lelah mereka, meskipun hari sudah larut.

/FLASHBACK/

Dentuman lagu EDM memenuhi seisi ruangan stadion. Terlihat dua namja tampan dan gagah beserta para dancernya berada di atas panggung. Mereka berdua  menari serta menyanyikan beberapa lagu sebagai pembuka acara.

“Annyeong hasseyeo, kami adalah D’JZ” , seru dua orang yang berdiri di atas panggung serempak. Terdengar sambutan meriah dari fans-fans mereka yang totalnya sekitar 1.000 orang sambil mengangkat lightstick mereka yang berwarna deep green.

“Perkenalkan namaku JoonMyeon, leader dan main dancer dari D’JZ. Stage name ku Suho” ujar namja yang berdiri di sebelah kanan.

“Namaku Jongdae, main vocal dan maknae dari D’JZ, Stage name ku Chen” ujar pria di sebelahnya.

Setelah kedua member memperkenalkan diri, mereka memulai konser debut pertama mereka dengan sangat antusias dan senang.

/FLASHBACK END/

Kini D’JZ sudah resmi debut . Dua orang itu terlihat memesan sebuah kafe untuk berpesta, tidak lupa disertai sebuah kue tart besar dan beberapa botol soju.

“Yeah! Akhirnya kita berhasil debut dengan sukses, mari kita rayakan!” teriak Suho mengangkat gelas berisi soju dan menyulangkan gelasnya kepada gelas Chen dan staff yang lain.

 

CHEN POV

Aku tidak menyangka bahwa kami berdua sudah resmi menjadi seorang artis. Sudah 4 tahun sejak pertama kali kami menjalani masa training, waktu seakan berputar sangat cepat. Lihatlah hyungmu Chanyeol, mulai sekarang aku akan berusaha memperbaiki keadaan ekonomi keluarga kita. Meskipun eomma masih sangat sedih karena kehilangan dirimu, tapi ia tak perlu khawatir akan kebutuhan nya sehari-hari.

“Hyung dimana adik perempuanmu? Katanya kau ingin membawanya kesini?” tanya ku kepada Suho yang sedang memakan spagetthi di depannya.

“Eoh? Mungkin sebentar lagi sampai” jawabnya sambil tetap memakan spagetthi. Harap dimaklumi, Suho adalah penggila spagetthi, bahkan selama kami dalam masa training, dia selalu minta makan spagetthi.

Tak sampai lima menit kami menunggu, tampak seorang yeoja berbalut dress kuning selutut berjalan ke arah kami dengan senyuman manisnya.

“Maaf aku terlambat, tadi ada sebuah kecelakaan di jalan sehingga macet. Ah, selamat untuk debut kalian ya, sukses selalu dengan karya-karya barunya. Terima kasih untuk para staff yang sudah berjuang keras membantu oppa ku dan teman disampingnya ini” ujar yeoja cantik itu menyodorkan tangan satu-satu ke arah kami yang ada disana.

Kini ia menyodorkan tangannya kepadaku, dan kusambut dengan genggaman lembut dari tanganku.

“Siapa namamu? Kau terlihat lebih cantik saat aku bertemu denganmu langsung daripada melihat fotomu di handphone”, ujarku lancar tanpa kegugupan sedikitpun. Entah darimana aku mendapatkan keberanian ini.

“Namaku Chorong, terimakasih untuk pujiannya” ia menjawab dengan sebuah senyuman manis. Astaga, aku bisa diabetes lama-lama jika melihatnya begini setiap hari.

“Heh jangan sentuh adikku lama-lama, aku cemburu” ujar Suho melepas genggaman tangan kami berdua.

“Oppa, aku kan hanya kenalan jangan cemburu dong. Bahkan aku belum mengetahui siapa nama namja tampan itu” ujar Chorong memeluk lengan Suho manja.

“Namaku Chen” ujarku dengan senyuman lebar yang menghiasi wajahku, dan dibalas yeoja itu dengan sebuah senyuman yang masih sama dengan senyuman sebelumnya.

TWO YEARS LATER

Sejak kami bertemu dua tahun lalu, hubunganku dengan Chorong lumayan berkembang. Dia sering main ke dorm kami, meskipun dia sangat sibuk kuliah tapi hampir setiap hari ia menyempatkan waktu kesini. Bahkan, ia sering menonton konser kami dan beberapa kali mengajakku jalan-jalan disaat aku ada waktu senggang.

“Oppa, kajja kita pergi ke namsan tower. Kebetulan cuacanya bagus, makan malam nanti aku traktir oppa jika mau pergi bersama”, ujar Chorong yang kini sedang memasang muka manja nya di depanku. Spontan ku  cubit pipi chubby nya dengan kedua tanganku.

“Ne cantik, ayo kita pergi. Hyung, mau ikut?” tanyaku pada Suho.

“Aku hari ini ada pemotretan, kau pergi saja dengan dia. Aku tidak mau mengganggu acara date kalian”, ujar Suho yang tengah menata style rambutnya

“Baiklah, aku pergi dulu hyung”, ujarku merangkul Chorong.

Aku dan Chorong menaiki mobil sport hitamku menuju Namsan. Sepanjang perjalanan kami bercanda, dia sangat pintar membuat lelucon agar aku tertawa. Aku bersyukur bisa mengenal wanita luar biasa yang ada di sampingku saat ini.

CHEN POV END

Malam hari ini Namsan tower terlihat lebih ramai dari biasanya. Banyak pasangan yang tengah mengukir nama mereka berdua di atas sebuah gembok, mengunci nya di pagar-pagar pembatas menara, dan membuang kunci nya bersama-sama. Sungguh pemandangan yang romantis.

“Oppa, happy white day!” ujar Chorong menyodorkan sebuah kotak berwarna hitam kepada Chen

“White day? Aigoo aku lupa! Besok aku akan membelikanmu sesuatu ya. Terima kasih banyak” Chen menepuk kepalanya sendiri karena dia selalu lupa tanggal. Bahkan tanggal ulang tahunnya sendiri juga selalu lupa.

“Buka lah oppa, aku yakin kau pasti menyukainya” ujar Chorong dengan penuh harapan.

“Uwaa! Kau membuatnya sendiri?” Chen berdecak kagum sembari mengeluarkan sebuah syal berwarna coklat muda yang ada di dalam kotak hitam.

“CC?” tanya Chen bingung saat memperhatikan sebuah inisial kecil yang terdapat pada ujung syal.

“Chen-Chorong. Aku harap kita bisa bersama terus” Chorong memasang raut muka bahagia setiap kali ia ada di samping Chen.

“Aku juga Chorong” Chen mengusap rambut Chorong dengan lembut.

Sebuah blitz kamera menyorot kedua orang yang sedang duduk di bangku taman.

“Ah sial aku lupa mematikan blitz nya,tapi aku berhasil mengambil fotonya.. sungguh tampan”, ujar si pembawa kamera yang secepat kilat menghilang dari sorotan mata Chen.

“Dia pasti sasaeng yang dulu pernah menguntitku di back stage. Saat aku pergi sendiri tanpa pengawasan manager atau Suho, ia pasti selalu ada di sana” jelas Chen kepada Chorong dengan wajah agak kesal, dan kemudian menarik tangan Chorong untuk pulang.

SKIP

Chen terbangun pada pukul 8 pagi dari tidurnya semalam. Ia berjalan malas ke wastafel di depan kamar mandinya, menggosok gigi dan keluar kamar untuk sarapan.

“Chen, ige mwoya? Wartawan menangkapmu berkencan dengan adikku” pernyataan yang Suho lontarkan mengagetkan Chen, sehingga roti yang berada di tanganya hampir saja terlempar. Chen segera berlari ke ruang tengah untuk melihat artikel di dalam laptop Suho.

“Heol ini pasti ulah sasaeng gila itu, dia membuat hidupku tidak tenang” ujar Chen memakan roti nya dengan kasar.

“Sasaeng yang kapan hari menguntitmu di backstage? Sasaeng yang suka kau ceritakan padaku? Sudah biarkan saja, aku juga punya sasaeng gila. Ia bahkan memintaku untuk tidur dengannya”

Chen hampir saja menyemburkan susu yang baru saja diminumnya.

“Tidur denganmu? Mengapa para sasaeng ini sungguh menyeramkan apa salah kita hyung!” teriak Chen seperti anak kecil yang sedang meminta mainan.

SKIP

Malam harinya, Chen tidak dapat memejamkan matanya. Ia terus saja membalikkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Tiba-tiba matanya menangkap sesosok makhluk yang tengah mengintipnya dari balik jendela kamar. Begitu ia menyadari bahwa Chen menemukannya, ia langsung kabur secepat kilat. Chen segera menutup korden kamarnya dan membangunkan Suho.

“Hyung! Aku melihat sasaeng itu lagi, aku tidak bisa tidur” Chen menggoyang-goyangkan tubuh Suho dengan keras

“Tidurlah sebelum ku terkam dirimu” Suho menarik selimutnya lebih ke atas.

“Hyung ayolah temani aku. Kau tau kan aku takut sendirian”

Tidak ada jawaban dari Suho

“Terserah hyung, kau jahat sekali” Chen mempoutkan bibirnya. Ia masih saja memperhatikan Suho tidur, yah daripada tidak ada kerjaan lain.

Chen kemudian memilih untuk berjalan keluar kamarnya. Ia membuka sebuah ruangan yang biasanya selalu terkunci rapat. Suho mengatakan bahwa ruangan itu adalah gudang yang sangat kotor sehingga manager melarang mereka masuk ke dalam sana. Anehnya, malam itu Chen mendapati ruangan tidak terkunci. Ia membuka pintu perlahan, takut jika seseorang memergokinya karena mendengar bunyi pintu terbuka. Chen menekan saklar lampu yang ada di samping pintu, kalau-kalau masih bisa menyala. Lampunya dapat menyala, walaupun hanya remang-remang. Chen lekas menutup pintu itu kembali kemudian menjelajahi ruangan itu. Tidak banyak isinya, hanya sebuah lemari tua besar, meja dengan beberapa laci, kursi yang berada tepat di depan meja, dan sebuah komputer yang berada di atas meja.

Chen yang sangat penasaran mengapa manager tak pernah mengijinkan mereka masuk, mulai membuka laci meja satu persatu. Di dapatinya sebuah map besar yang berat di dalam sana. Dengan hati-hati, ia membuka lembaran map itu secara perlahan.

BUK!

Chen menjatuhkan map tersebut begitu ia mengetahui apa isi map tersebut. Di dapatinya sebuah foto dirinya dengan Chorong kemarin malam, namun wajah Chorong sudah tertutup dengan tinta merah bahkan bertuliskan kata-kata makian. Ia sangat gemetar dan hendak pergi meninggalkan ruangan itu. Baru saja ia ingin memutar knop pintu, seseorang masuk menggunakan jaket merah, menutup dan mengunci pintu tersebut, kemudian segera menyergap Chen yang berada di depannya.

“Kau sasaeng yang selalu mengikuti ku kemanapun aku pergi kan!Suho hyung tolong aku!” teriak Chen yang kini telah terpojok di tembok.

“Untuk apa kau berteriak, jika orang yang kau teriaki sedang berada di depanmu”

“Maksutmu?”

Sasaeng itu membuka hoodie dan masker yang sedari tadi menutupi wajahnya.

“Hy..hyung? Apa yang kau lakukan?” Chen benar-benar ketakutan

“Sudah lama aku menunggu kesempatan ini, kau sangat tampan” Suho mengelus pipi Chen dengan lembut dan mendekatkan wajahnya kepada Chen.

“Aku sangat terobsesi padamu sejak kita menjadi trainer bersama, aku terobsesi pada wajahmu dan tubuhmu. Segala yang kau lakukan benar-benar membuat hatiku senang, hanya saja aku tak mau melihatmu berkencan dengan perempuan. Tinggalkan adikku atau kubunuh kalian berdua” ujar Suho kemudian merobek paksa kaos yang tengah di gunakan Chen, dimana kini abs nya telah ter ekspos dengan sempurna. Chen yang memastikan dirinya pasti kalah kekuatan, hanya bisa pasrah tanpa menatap wajah Suho sedikitpun.

Tanpa permisi, Suho kemudian melumat kasar bibir Chen. Chen melihat sebuah celah yang tengah dibuat Suho, yaitu ia tak memegangi tangan Chen. Ia tau bahwa kunci masih menempel pada knop pintu. Ia mengumpulkan seluruh kekuatannya, kemudian menonjok Suho tepat di pipi kanannya. Suho kemudian jatuh tertelungkup di lantai, sementara Chen berlari menuju pintu dan keluar dari sana.

Chen kaget, begitu juga dengan beberapa orang yang ada di hadapannya saat ini.

“Apa yang Suho oppa lakukan padamu?Wajahmu sangat pucat oppa” Chorong yang ada di hadapannya saat ini menghampiri Chen yang tengah menunjukkan wajah pucatnya. Chorong memeluk Chen dan berusaha menenangkannya.

Seorang detektif dan beberapa polisi yang ada disana, masuk ke dalam ruangan dimana Suho berada.

“Kenapa kau bisa ada disini? Untung kalian ada disini, Suho hyung mencoba membunuhku jika kita tidak berpisah” ujar Chen masih memeluk Chorong.

SKIP

ONE WEEK LATER

Sepulang acara pers conference yang di adakan oleh agensi D’JZ terkait penambahan tiga member baru yaitu Jungkook, Sungjae, dan Woozi, Chen mengajak Chorong ke suatu tempat.

Chen menaruh se buket bunga mawar putih yang di kelilingi oleh baby breath, di atas sebuah gundukan tanah dengan batu nisan bertuliskan Lee Byul Rim.

“Eomma, aku membawa seorang wanita bersamaku. Namanya Chorong, orang yang sama yang selalu aku ceritakan kepada eomma di setiap doa ku. Aku meminta ijin kepada eomma, aku ingin menikahinya tolong restui kami” Chen memegang batu nisan itu dengan raut wajahnya yang sedih campur bahagia.

“Ahjumma, aku meminta restu padamu ya. Ijinkan kami menjalin hubungan sebagai seorang kekasih, dan kami akan menikah beberapa bulan lagi”

/FLASHBACK/

Chen tengah menyiapkan sarapan pagi untuk dirinya, Suho, dan adik perempuan Suho yang baru saja ditemuinya kemarin,Chorong.

“Tidak biasanya eomma tidak mengangkat teleponku” Chen bergeming sendiri sambil menaruh piring berisi makanan di meja ruang TV.

“Itu kecelakaan yang kemarin aku lihat, kasihan sekali ahjumma itu” Chorong mengambil sepotong kentang di atas piring dan memakannya

Chen terbelalak begitu melihat berita yang baru saja ditayangkan di televisi. Ia segera mencari nomor telepon kantor polisi di daerah Itaewon dan menghubungi tempat itu. Wajahnya tampak pucat setelah mendengar berita yang baru saja di katakan seseorang di seberang. Chen mengambil mantel dan maskernya, kemudian mengajak Suho dan Chorong untuk ikut bersama dirinya. Pipinya sudah basah dengan air mata saat ia hendak memasuki mobil milik Suho.

/FLASHBACK END/

Kini Chen dan Chorong beralih menuju blok lain dari pemakaman itu, dan berhenti di depan dua gundukan tanah yang bersebelahan letaknya.

“Chanyeol a, ini calon kakak iparmu yang adalah mantan adik kelasmu, dia cantik kan? Jika kau masih hidup mungkin kita akan berkelahi untuk mendapatkannya.” Chen tertawa kecil kemudian menaruh beberapa tangkai mawar putih di atas gundukan tanah itu.

“Hyung, maafkan aku tidak sengaja melukaimu waktu itu. Jika aku tidak masuk kedalam sana, atau aku membawamu ke rumah sakit lebih cepat, kau pasti masih bisa menemani hari-hari kami. Aku dan Chorong akan berkencan, kami akan menikah tolong restui kami” Chen menaruh beberapa tangkai bunga terakhir di atas gundukan tanah di samping makam adiknya, yang bertuliskan Kim JoonMyeon. Terdapat sebuah senyum getir di wajah Chen, menahan kesedihannya yang ia pendam sendiri. Ketiga orang terdekatnya sudah pergi.

“Oppa, maafkan aku tidak bisa menjagamu dengan baik” Chorong memasang wajah kecewanya. Chen yang sedari tadi menahan tangisannya, akhirnya menumpahkan semua air matanya tanpa terkecuali.

“Sudah jangan menangis oppa, ini semua bukan salahmu”Chorong memeluk Chen dengan lembut sambil mengusap kepala Chen agar ia berhenti menangis.

 

 

Jika sasaeng yang sering memotretku itu Suho, lalu siapakah orang yang menguntitku di backstage dan mengintip dari jendela kamarku?

/Flashback/

Chen tengah bersiap untuk naik ke atas stage bersama dengan Suho. Ini adalah kali pertama mereka mengadakan konser di Jepang, yang merupakan konser ke lima mereka. Mereka tampak berjalan keluar dari ruangan makeup, dan dipandu oleh promotor beserta manager untuk naik ke atas panggung. Chen merasakan ada seseorang mengikuti mereka berdua.

CHORONG POV

“Kau adiknya Suho? Untuk apa menguntit mereka?” tanya manager nim kepada ku, saat Chen dan Suho oppa sudah naik ke atas stage.

“Ah, anneyong manager nim. Aku ingin berbincang-bincang sebentar denganmu, ada waktu?” tanyaku sambil melepas topi hitam di kepala ku.

 

“Mwo? Oppa mu mantan sasaeng boyband papan atas? Dan dia juga seorang gay? Aku tidak mudah mempercayai seseorang, apalagi menyangkut artis yang aku layani meskipun kau adalah adiknya sendiri.” Manager nim sudah memasang raut wajah tidak percaya. Aku tau bahwa itulah ekspresi yang akan dikeluarkan seseorang jika aku menceritakan keadaan oppa ku. Bahkan eomma dan appa juga tidak percaya padaku saat aku menceritakan hal ini pada mereka pada awalnya.

“Aku ingin berbicara pada CEO sajangnim, sebenarnya aku juga tidak mau mengungkap masalah ini. Tapi jika dibiarkan, aku takut akan terjadi apa-apa dengan Chen oppa. Eomma dan appa yang menyuruhku untuk mengikuti mereka saat aku ada waktu senggang dan memastikan bahwa penyakit Suho oppa tidak kambuh lagi. Akan aku buktikan manager nim bahwa perkataanku terkait Suho oppa tidak salah, aku memiliki sebuah rencana”, ujarku mantap untuk membuat manager nim percaya.

SKIP

Malam hari pukul 10 malam. Ini sudah setahun setengah sejak aku berniat meluncurkan sebuah misi untuk membuat CEO dan manager nim percaya. Saat D’JZ tengah melakukan konser di New York dua minggu lalu, aku meminta izin kepada CEO untuk memasang CCTV di kamar Suho dan Chen oppa. CCTV yang baru saja aku beli ukurannya sangat kecil, dan aku selipkan di balik tumpukan buku-buku di sudut atas ruangan, namun tetap dapat menampakkan seluruh isi ruangan. Kemudian aku juga memasangnya tepat di belakang lampu tidur di sisi di mana Suho oppa tidur. Kini aku beranjak menuju ruang tengah, memasang CCTV di belakang TV dan menyorot sebuah ruangan terlarang.

Sebuah kunci tertancap di knop pintu. Aku membuka pintu itu dan mencari folder-folder di dalam sana. Kutemui isinya sama, tumpukan foto-foto namja tampan. Ini seperti yang ia lakukan bertahun-tahun silam saat ia menggandrungi sebuah boyband papan atas dan membuat sebuah ruangan rahasia di dalam kamarnya yang berisikan hal-hal yang menurutku menjijikkan.

Saat aku tengah mencari buku milikku yang telah dipinjamnya selama setengah tahun pada rak buku, aku tidak sengaja mendorong satu buku yang ternyata sebuah sensor untuk membuka ruangan berlampu merah remang. Aku masuk perlahan, dan ku temui banyak majalah dewasa disana dan juga foto laki-laki yang menampilkan abs mereka. Aku segera memotret ruangan itu yang niatnya akan aku tunjukkan pada kedua orang tua ku dan berlari keluar, mendorong rak buku itu dan ruangan itu seketika tertutup. Itulah awal mula mengapa aku bisa mengetahui bahwa Suho oppa selama ini tidak beres.

Mungkin kalian mengira aku gila melakukan hal ini untuk memergoki oppa ku sendiri? Tapi aku sangat mencintai Chen oppa dan aku tidak mau ada hal buruk yang menimpanya.

Melalui sebuah layar monitor laptop yang sebelumnya sudah aku sambungkan dengan CCTV tanpa kabel menggunakan sebuah aplikasi yang menampakkan ketiga sisi itu, aku dapat menangkap bahwa Suho oppa tidak tidur. Ia justru memperhatikan sebuah foto yang ketika aku zoom, adalah foto Chen oppa. Ia memandang foto itu dengan tatapan tidak biasa, sebuah tatapan penuh kesenangan?

Ku beranikan diriku untuk memperhatikan mereka lebih dekat. Aku berjalan dari mobil milik managernim, yang di dalamnya ada CEO,manager, dua polisi, dan juga tuan Oh Sehun sebagai seorang detektif handal, menuju jendela kamar milik mereka berdua tidur. Kudapati Chen oppa tidak tidur, karena aku takut jika tiba-tiba Suho oppa berlaku tidak benar terhadap Chen oppa.

Sepasang mata dengan tatapan tajam menatapku secara dalam, yang sontak membuatku kaget dan hampir tersandung batu saat aku kabur. Aku segera masuk ke dalam mobil manager nim, untung saja Chen oppa tidak mengejarku sampai keluar rumah.

Sekitar 15 menit, kemudian aku melihat Chen oppa berjalan keluar kamar. Setelah ia menutup pintu kamar, ia berjalan menuju sebuah ruangan yang ternyata tidak dikunci oleh Suho oppa.

Di sisi lain, tampak Suho oppa masih pura-pura menutup matanya dibalik selimut tebal. Selang dua atau tiga menit kemudian, ia beranjak keluar dari selimutnya, membuka lemari pakaian dan memakai sebuah hoodie hitam. Mau apa dia? Tanya ku kepada semua orang yang ada di dalam mobil.

“Dia akan menemui Chen mu di ruangan sebelah kamarnya, gerak-gerik nya sangat mencurigakan” ujar tuan Sehun yang tengah duduk di sebelahku, sambil membenarkan kacamatanya.

Benar dugaan tuan Sehun, ia berjalan keluar dari kamar perlahan. Namun ia tak langsung menuju ruangan itu, melainkan mendekat ke arah TV. Ia membungkuk sedikit, tepat di depan CCTV yang aku pasang. Dengan smirk nya, ia kemudian menghantam CCTV yang ada disana hingga salah satu sisi layar monitorku buram dan lost connection.

Aku segera mengajak semua yang ada di dalam mobil untuk turun.

“Perhatikan langkah kalian, satu hentakkan kaki bisa membuat semuanya kacau” ujar tuan Sehun memimpin pasukan kami untuk menyerbu Suho oppa.

Kami masuk perlahan menuju ruang tengah, dan kudapati Chen oppa berlari keluar ruangan terlarang itu dengan wajah pucat dan nafas yang sudah hampir habis.

 

“Dia sudah tidak bernyawa, aku akan memanggil ambulance dan tim forensik untuk mengurus ini” ujar tuan Sehun yang memeriksa detak jantung Suho oppa. Ku lihat darah mengucur keras dari kepalanya akibat terhantam lantai.

“Hyung?” Chen oppa berlari ke arah Suho oppa yang sudah tergeletak tidak bernyawa dengan wajahnya yang sudah dibanjiri air mata.

“Ini bukan salahmu, melakukan perlawanan untuk menjaga diri bukan tindakan kriminal. Aku tau ini berat bagimu karena kehilangan seorang teman dekat, tapi ini jauh lebih baik karena aku pernah menangani kasus serupa” kulihat tuan Sehun menepuk pundak Chen oppa yang masih berlutut memeluk Suho oppa

Tuan Sehun berjalan menuju tempat aku berdiri dan memandangku dengan tatapan berwibawanya.

“Aku turut berduka cita atas kematian kakak laki-laki mu. Jika kita lebih cepat meringkus mereka, maka hal ini tidak akan terjadi, namun ia harus dibawa ke tempat rehabilitasi” tuan Sehun berjalan agak jauh dari diriku, kemudian menelfon rumah sakit dan tim forensik , yang mungkin adalah temannya juga.

Aku menahan air mataku agar tidak jatuh. Maafkan aku oppa, tapi aku tidak pernah berniat untuk menghilangkan nyawa mu. Jika saja aku lebih cepat, jika saja….

 

 

THE END

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s