You and I – For You (chapter 5)

IMG_20160307_182445

You and I – For You (5)

Author        : mardikaa_94

Genre          : romance, gatau apaan lagi (?)

Length        : chaptered

Rating         : teen, PG 17

Cast            : Park Chanyeol, OC, and others

Stories        : You and I – Zing (1) | You and I – Blind Date (2) | You and I – First Meet (3) | You and I – Long Time No See (4)

~happy reading~

“dulu aku adalah gadis jahat, sombong, dan dingin. Mencelakai siapa saja yang hendak mendekati Chanyeol Oppa. Selalu seperti itu, melakukan semua itu dibelakangnya. Berpura-pura menjadi baik bila sudah didepannya. Aku mencintainya, bahkan sampai tergila-gila rasanya. Aku tahu apa yang kurasakan ini terlalu berlebihan, makanya aku menyerah. Menerima perjodohan yang diajukan oleh ayah.”

Chae Yoon tak berkedip sedetikpun, matanya masih sibuk melotot memperhatikan Yonggi.

“jadi, tolong jaga Chanyeol Oppa untukku, Chae Yoon-ah.”

“eeeh, sebentar. Kamu bilang kamu mencintainya, kan?”

Yonggi mengangguk, masih tetap meminum jus mangganya.

“kenapa tidak berusaha dengan menunjukkan padanya kalau kamu sudah berubah?”

Yonggi menggeleng, mulutnya masih penuh dengan jus mangga.

“kenapa?”

Dia mengelap mulutnya yang sedikit basah, lalu duduk menghadap Chae Yoon, “kupikir aku sudah menemukan orang lain.”

~000~

jongin kembali duduk dikursi kuasanya, tersenyum sambil menyesap kopi hitam diatas mejanya, lalu mengucap sebaris kalimat sambil terkekeh pelan.

“tumben sekali kamu kesini. Butuh uang?”

Manusia dihadapannya langsung duduk tanpa diperintah. Mendengus sebal lalu menjawab dengan nada naik satu oktaf.

“ya! Semiskin itukah aku dimatamu, Jongin?!”

“itu kenyataan, Baekhyun.”

“sudahlah, kapan ayahku pulang?”

Jongin menengok sebentar kearah kalender, lalu tersenyum, “mungkin lima hari lagi.”

“baguslah.”

“kenapa? Apa sekarang kamu tertarik untuk duduk sepanjang hari sambil menatap layar computer?”

“sepertinya. Aku akan mencoba pekerjaan membosankan yang menghasilkan banyak uang.”

“oh ayolah, kamu bisa bekerja ditempatku.”

“tempatmu lebih tak menarik. Harus melayani berjuta manusia dengan senyum hangat. Berpura-pura ramah didepan semua orang. Aku tak mau mengorbankan gigiku yang rapih hanya untuk menyengir seperti idiot.”

Jongin terbahak, matanya sampai mengeluarkan sedikit air mata, menatap sepupunya yang hanya terdiam dengan wajah sok angkuh yang malah membuat Jongin jijik.

“hei, kau kenal Chae Yoon, kan?”

“maksudmu temannya Minsoo?”

“ah, iya. Namanya Minsoo, ya?”

Mata Baekhyun sedikit memicing, seperti memberi peringatan yang tak disadari oleh Jongin, “kenapa dengannya?”

“dia cantik.”

“memang.”

“sepertinya temanku menyukainya.”

“siapa?”

“rekan kerjanya yang baru, Oh Sehun.”

~000~

“kenapa wajahmu lesu begitu?” Chae Yoon duduk di kursi samping Minsoo, sambil menaruh coklat panas kesukaan Minsoo diatas meja kerja sahabatnya itu.

“kondisi ayahku memburuk.”

“sudah kubilang pergi saja.”

Minsoo menggeleng lemah, matanya jadi sedikit berair.”tidak, besok aku akan pergi ke Jeju.”

Chae Yoon menghela napasnya sebentar, lalu mengusap pundak Minsoo pelan, “jangan paksakan dirimu, oke?”

Minsoo hanya mengangguk, sedikit mengusap pelan sudut matanya, sambil membiarkan Chae Yoon berlalu meninggalkannya.

Sedetik kemudian, tangis Minsoo pecah begitu saja. Sudah tak kuat menahan sakit hatinya, menghawatirkan ayahnya yang sedang dalam kondisi koma. Dia ingin pulang, melihat ayah tercinta yang berada di Jepang, menciumi pipi ayahnya yang mulai mengerut. Takut bahwa ini adalah saat terakhir sang ayah. Tapi, ini juga sebuah mimpi Minsoo, mimpinya sejak kecil, mempunyai proyek besar yang menguntungkan. Tadinya, dia berniat akan memamerkan keberhasilannya pada sang ayah. Tapi takdir sudah berkata lain, ayahnya malah harus berbaring dirumah sakit dengan selang yang melilit tubuhnya yang renta.

Dia sedikit mengangkat wajahnya, menghapus air matanya, saat layar HP-nya berkedip dan menunjukkan nama Baekhyun.

Dia menekan tombol merah, seraya berkata, “maaf, Baek. Aku tak ingin diganggu.”

~000~

“kenapa tidak diangkat? Sialan.” Sehun mendengus sebal, ini sudah kelima belas kalinya dia menelpon Minsoo, tapi tak satupun panggilannya yang dijawab oleh wanita itu.

Sehun kembali menjatuhkan punggungnya keatas kursi kuasanya, tidak mengerti kenapa dirinya bisa sekhawatir ini pada Minsoo.

Dia tahu pasti ada yang tidak beres dengan Minsoo, dia tahu pasti Minsoo sedang tidak baik-baik saja. Tapi mau bagaimana lagi, kalau dia menelpon Chae Yoon, tamat sudah hidupnya.

Tak lama, pintu besar yang terbuat dari kaca didepan Sehun berbunyi, dan muncullah seorang paruh baya yang sangat dikenalnya. Dengan senyumnya yang hangat, pria paruh baya itu mengulurkan tangannya, bermaksud untuk menyerahkan dokumen penting pada Sehun.

“besok kita akan berangkat pukul tujuh Tuan, dan kita akan berada disana selama dua minggu. Waktunya diperpanjang karena permintaan Klien, Tuan.”

“eoh, terimakasih.”

“kalau begitu saya permisi.” Pria itu melangkah mundur, membungkuk lalu menghilang dibalik pintu besar didepan Sehun.

~000~

“salah ya jika aku datang kesini?” Chanyeol sedikit menerawang ruang kerja Chae Yoon, memperhatikan setiap detail perabotan yang ada.

“tidak, hanya saja harusnya kau bilang lebih dulu.”

“bahkan kau tak menyuruhku duduk.”

Chae Yoon hendak membuka mulutnya, tapi terhenti saat Chanyeol menarik kursinya dan menariknya untuk duduk di sofa bersama Chanyeol.

“aku haus.” Cengiran itu kembali muncul untuk kesekian kalinya, dan dibalas oleh decihan kecil Chae Yoon.

“sebentar.” Chae Yoon hendak berdiri, memanggil pelayan untuk membuatkannya minuman. Tapi lagi-lagi Chanyeol menghentikannya.

“ayo ke kedai di depan sana.”

Entah Chae Yoon yang tidak sadar atau memang hanya membiarkannya begitu saja kalau Chanyeol sedang menggandengnya menuju kedai didepan sana, menjadi tontonan menarik bagi pegawai dikantornya, membuat beberapa karyawan disana bergosip jika CEO mereka, sudah mempunyai pacar baru.

Tak sampai sepuluh menit, mereka sudah memesan dua bubble tea dengan rasa coklat dan vanilla, meminumnya sambil menghabiskan waktu berdua. Membicarakan urusan kantor dan pribadi. Sedikit digunakan Chanyeol untuk mengetahui lebih banyak tentang wanita didepannya ini.

Chae Yoon ingat sesuatu, lalu merapihkan letak duduknya, dan melanjutkan, “apa kamu membenci Yonggi?”

Chanyeol sedikit tersedak, bahkan matanya membulat sempurna, “maksudmu apa?”

“kelihatannya kalian tidak baik-baik saja.”

“begitu, ya.” Chanyeol manggut-manggut, ekspresinya terlihat sangat tenang, yang malah membuat Chae Yoon sedikit terganggu.

“kenapa wajahmu begitu?”

“lalu aku harus bagaimana?” kali ini wajahnya malah terlihat polos, Chae Yoon berteriak dalam hati. Memaki Chanyeol sampai ingin menjambak rambutnya.

“kenapa kau membencinya?”

“aku tidak membencinya.”

“Demi Tuhan Park Chanyeol!” Chae Yoon kelepasan, sedikit memukul meja sampai membuat minumannya nyaris tumpah. Bahkan Chanyeol sedikit mundur saking terkejutnya.

“maaf.” Chae Yoon menunduk, sedikit menggaruk tengkuk dan kembali meminum bubble tea-nya.

Chanyeol berdehem sebentar, “begini,” katanya lalu menegakkan punggung, “aku tidak membencinya, hanya bisa dikatakan sedikit terganggu, aku juga tidak menyukainya.”

“aku tidak bertanya soal itu.”

“terserah. Yang penting, dia juga sudah dijodohkan oleh ayahnya, dan dia menerimanya.”

“lalu?”

“lalu apa?”

Chae Yoon mengambil napas panjang. Laki-laki ini benar-benar.

“apa kau tahu bahwa dia sangat mencintaimu? Dan kamu malah mebuangnya seperti itu? Dan sekarang kamu tidak merasa bersalah atau terimakasih bahwa dia sudah melepasmu begitu saja?”

“lalu apa yang harus aku lakukan?”

“Demi Neptunus,” Chae Yoon mengusap wajahnya, sedikit memijit pelipisnya dan membenarkan tatanan rambutnya, “kau tidak mau mengucapkan minta maaf?”

“apa itu harus? Aku tidak memintanya untuk mencintaiku, aku juga tidak memintanya untuk menjauhiku, atau membenciku. Aku bahkan tidak pernah membencinya.”

Chae Yoon berdecih kecil, sambil menaikkan satu alisnya. Membuat Chanyeol terpojok dan akhirnya mengalah.

“baiklah, malam ini aku akan minta maaf.”

~000~

“tumben Oppa mengajakku kemari.”

“maaf,” Chanyeol menunduk, sedikit menutupi wajahnya yang lelah.

“kenapa Oppa minta maaf?”

Sialan. Kenapa Chanyeol jadi terbawa suasana begini?

“aku minta maaf, untuk semuanya.”

Bagus. Yonggi diam, tak menjawab sepatah kata pun, makin membuat Chanyeol merasa bahwa memang dia sudah menjadi lelaki jahat.

Sekarang, Chanyeol benar-benar merasa bersalah.

“aku—ingin minta maaf karena su—,”

“tidak apa-apa,” Yonggi mengusap tangan Chanyeol, sambil tersenyum tulus dengan mata memerah.

Chanyeol mendongak, mendapati Yonggi yang sedang menahan tangisnya.

“aku tahu aku jahat, mengabaikanmu begitu saja. Jadi, tolong maafkan aku.”

“tidak semua cinta harus memiliki, Oppa. Cinta juga tak bisa dipaksakan. Jadi, tak apa bila Oppa tidak mencintaiku. Aku juga sadar bila aku terlalu mencintai Oppa. Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, bukan?” Yonggi kembali menghapus air matanya, tapi tetap dengan senyum yang menghiasi bibirnya.

“lagipula, bulan depan aku akan pindah ke New York. Memulai hidup baru yang bahagia. Jadi, Oppa tak perlu merasa bersalah dan khawatir.”

Chanyeol terdiam, lidahnya beku. Bahkan matanya tak berkedip sejak tadi. Inikah Yonggi yang selama ini dia kenal?

Yonggi yang menyebalkan, Yonggi yang selalu mencelakai orang-orang yang mendekati Chanyeol, Yonggi yang rela melakukan apa saja asalkan Chanyeol jadi pacarnya,

Yonggi yang…

Yonggi yang…

Pikiran Chanyeol berkecamuk, tak tahu apa yang harus dia ucapkan. Malah perasaan kelabu yang menghiasi hatinya kini, tersesat antara rasa bersalah dan menyesal.

Chanyeol sedikit menyesal karena telah mengabaikan Yonggi.

Tapi Chanyeol tak boleh seperti ini, lagipula Yonggi juga akan bahagia. Memulai hidupnya yang sempurna di New York bulan depan. Jadi, malam ini, dia akan membuat malam yang tak terlupakan bersama Yonggi.

~000~

“kemana dia? Kenapa tidak diangkat?” ini sudah kesekian kalinya Baekhyun menelpon Minsoo. Tapi ponsel wanita itu selalu tidak aktif. Apa ini karena kondisi ayahnya? Atau pekerjaannya? Atau dia sakit?

Baekhyun sampai pusing memikirkannya, sedari tadi hanya mondar-mandir di apartemennya yang kecil, bahkan dia bolos kerja hanya untuk memikirkan kemana Minsoo pergi.

Dia berpikir keras, mengetukkan ponsel ke dahinya yang putih, memikirkan kemana, dengan siapa, dan apa yang dilakukannya.

Baekhyun hapal betul bagaimana sifat sahabatnya itu. Keras kepala dan angkuh. Tapi mudah luluh hanya dengan se-cup eskrim dan sebatang permen kapas. Mudah marah tapi mudah memaafkan, punya kebiasaan menggelembungkan pipinya, bisa menjadi patung bila sudah salah tingkah, sangat marah bila dibilang mempunyai badan pendek, suara cempreng, dan rambut ikal. Benar-benar tidak tahan dengan dingin dan pipinya akan merah bila dia sedang flu. Baekhyun jadi tersenyum bila mengingat wajahnya yang seperti itu.

Jadi, Minsoo itu wanita yang lucu, bukan?

Dia terdiam, kembali teringat dengan perkataan Jongin. Laki-laki yang bernama Shun itu menyukai Minsoo, dan mereka sudah menjadi teman sekarang, apalagi waktu itu Minsoo sangat membanggakan ketampanan Sehun. Baekhyun menggeleng, mengacak rambutnya dan berbaring diatas kasur dengan tergesa, mengusap wajahnya kasar, dan memejamkan mata.

Jadi, dia punya ‘saingan’?

Tak menggubris manusia yang bernama Sehun itu, dia teringat akan Chanyeol, mungkin lelaki itu tahu dimana Minsoo, kalau tidak, dia bisa bertanya pada Chae Yoon.

Dia mengetik nomor Chanyeol secepat kilat, lalu dengan tergesa segera menempelkannya ditelinga.

~000~

Chanyeol merapatkan blazernya tepat dibadan Chae Yoon, membuat wanita itu terkejut dan gugup.

“apa yang kau lakukan?”

“tidak dingain? Yasudah.” Chanyeol hendak menarik blazer itu, tapi Chae Yoon menggeleng dan sedikit mundur.

“terimakasih.”

Mereka diam sebentar, sampai suara ponsel Chanyeol berbunyi. Menampilkan nama Baekhyun disana, lalu tanpa pikir panjang, dia angkat telponnya.

“ada apa, Baek?”

“kau sedang bersama Chae Yoon tidak?”

Chanyeol melirik sedikit kearah Chae Yoon yang sedang menyeruput secangkir coklat panas diatas ayunan kayu dibelakangnya, lalu melanjutkan, “iya. Kenapa?”

“aku ingin bicara padanya. Cepat berikan telponnya.”

“baiklah.” Chanyeol melangkah mendekati Chae Yoon, lalu menyodorkan ponselnya ditelinga wanita itu.

“halo?”

“ini Chae Yoon, kan?”

“iya, kenapa?”

“apa kau tahu Minsoo ada dimana? Sudah kutelpon tapi ponselnya malah tidak aktif.” Chae Yoon diam sebentar, meresapi kata-kata yang dilontarkan Baekhyun. Laki-laki ini sepertinya sangat cemas.

Dia hanya bergumam, tapi ajaibnya masih terdengar oleh Baekhyun, “mungkin ini perihal ayahnya.”

“aku juga berpikir begitu. Lalu kira-kira dimana dia?”

Hening, mereka semua sedang berpikir sekarang. Mengingat-ingat tempat apa yang senang dikunjungi Minsoo.

Chae Yoon berpikir, lalu tak lama, dia ingat sesuatu.

~000~

“ah. Masa bodohlah!”

Sehun mengambil ponselnya, mengetik sebuah nomor, dan memaki karena tidak diangkat.

“sialan. Kenapa tidak ada yang menjawab telponku, sih?”

Dia menggaruk kepalanya, terlalu frustasi tanpa tahu apa sebabnya. Lalu tak lama, ponselnya bergetar dan menampilkan nama Minsoo.

“YA! KEMANA SAJA KAMU MINSOO?” Sehun tak dapat menahan emosinya, biarlah, biar Minsoo tahu seberapa besar dia mengkhawatirkan wanita itu.

Minsoo diam saja, sebenarnya hanya terdengar suara air dan suara tangisannya. Lalu Sehun ingat sesuatu, sial. Sekarang hujan dan Minsoo sedang berada diluar.

“kau ada dimana, Minsoo? Jangan keluar. Ini sedang hujan.”

“maaf, Sehun-ssi, mungkin besok aku tidak bisa pergi denganmu.”

Mati. Hanya itu yang Sehun dengar dari ponselnya. Suara Minsoo benar-benar serak. Seperti habis menangis semalaman. Ada apa ini? Kenapa Minsoo menangis?

Sehun tak tinggal diam, dengan cepat, dia ambil kunci mobilnya.

~000~

Minsoo menangis, meluapkan segala emosinya dibukit belakang sekolahnya dulu. Ini adalah tempat favoritnya, dia akan meluapkan segala emosinya ditempat ini. Entah itu senang, sedih, marah, apapun. Dan sekarang, dia menangis untuk melepaskan kesedihannya.

Dia menangis, meraung, memaki dirinya sendiri karena tidak bisa pulang untuk ayahnya. Tanpa pernah tahu bahwa dibelakang sana, Baekhyun berdiri mematung dengan payung yang menggantung ditangannya.

“hobimu itu menghilang dan membuat semua orang khawatir, ya?”

Minsoo tersentak, menghapus kasar air matanya dan menengok kebelakang. Melihat Baekhyun yang sekarang memayunginya dengan ekspresi kesal dan khawatir yang sangat kentara diwajahnya.

“bangun, disini dingin.” Baekhyun menarik lengan Minsoo dengan sedikit paksaan, mencoba bersabar saat Minsoo menolaknya.

“kenapa? Kau mau mati kedinginan?”

“minsoo menggeleng, “aku hanya—,”

“hanya apa? Ayo cepat pulang.”

Minsoo tetap menggeleng, masih dalam posisi duduk, dia tarik kembali tangannya dari genggaman Baekhyun.

Baekhyun menunduk, mensejajarkan tinggi badannya dengan tinggi Minsoo, memegang bahu wanita kesayangannya dengan tatapan sabar andalannya.

“Son Minsoo. Ini sudah larut, ayo pulang. Sekarang.”

“kenapa kau memaksaku? Aku tid—,”

“APA KAU TAHU SEBERAPA BESAR KHAWATIRNYA AKU?”

Baekhyun sedikit mengguncang bahu Minsoo, tidak tahan pada keadaan. Dia kesal, kenapa Minsoo tak pernah sadar bahwa dia sangat menyayangi wanita itu.

Minsoo diam, matanya kembali memerah, lalu dalam keheningan, Baekhyun menarik pelan kepala Minsoo, membuatnya bersandar dibalik punggung lelaki itu, melingkarkan tangannya dibahu Minsoo yang bergetar, mengelus sayang rambut ikal wanita kesayangannya.

Tanpa pernah tahu bila jauh dibelakang sana, Sehun terdiam dengan payung yang masih menggantung ditangannya.

Siapa?

~000~

Minsoo diam, bahkan handuk itu masih bertengger manis diatas kasur. Baekhyun yang baru kembali dari dapur untuk membuat teh hangat, segera mengambilnya dan mengusap pelan tubuh Minsoo yang basah.

“jangan dipikirkan, ayahmu pasti baik-baik saja.” Dia melirik Minsoo sebentar, tapi wanita itu tak bergeming sedikitpun.

Dia hembuskan napasnya kasar, susah sekali membujuknya. Lalu dia berjalan menuju nakas, mengambil kotak kecil berwarna merah hati, lalu dengan pelan, menyodorkannya tepat didepan wajah Minsoo.

“untukmu.”

Minsoo mendongak, mendapati kotak itu terbuka dan menampilkan kalung cantik dengan liontin berlian berwarna ungu.

Baekhyun mengambilnya, lalu memasangkannya tepat dileher Minsoo, membuat jarak wajah mereka hanya terpaut setengah senti. Bahkan Minsoo bisa merasakan deru napas Baekhyun yang tenang, yang malah membuat jantungnya berdegup tak karuan.

Dan, entah siapa yang memulai duluan, bibir mereka sudah bertemu. Saling bersentuhan dalam rasa yang indah, makin dalam saat Minsoo melingkaran tangannya pada leher Baekhyun, sedikit mendesah saat Baekhyun menggigit bibir bawahnya.

Ini sangat memabukkan, dan menurut Minsoo, ini sangat menyenangkan. Dia tak pernah tahu bahwa Baekhyun, laki-laki konyol yang sudah menemani hidupnya, adalah laki-laki seperti ini. Bahkan dia melupakan masalah ayahnya.

Rasanya manis, lebih manis dari gula didapurnya. Bahkan dia berharap waktu berhenti hanya untuk malam ini.

“aku mencintaimu, Son Minsoo.”

TBC

 

 

 

 

 

5 thoughts on “You and I – For You (chapter 5)

  1. Hy thor..aku suka bgt baca ff kamu hehe
    Selain cerita yg menarik, ada 2 dri trio bangsat disini yg jdi bias aku😂💕
    Chapter ini bener2 complicated feel..makin bikin kepo ama kelanjutannya. Daebak. keep writing thor😍😘💞

  2. Wuaahhhh jadi tambah penasaran sama next chapter….ceritanya bagusss banget..kalo punya 10 jempol AQ kasih semua buat kamu authornim…..next chapternya ditunggu y

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s