Sweet Sparks (2)

sweet sparks

Sweet Sparks

Casts of Chanyeol, Baekhyun and Jinri (OC)

Presented by deera

Friendship. Romance. Series.

Stories : Jinri’s To-Be-True Wedding Party

Shot 2 : Chanyeol’s Everlast Pain

“You! Chicken!”

“I don’t care!”

Mungkin Baekhyun lupa kalau Chanyeol baru siap pukul tujuh-dua lima setiap paginya, karena tepat tujuh-sepuluh, Baekhyun sudah memacu sepedanya menuju rumah Chanyeol. Tujuh belas tahun ke belakang, mereka sudah tinggal di lingkungan yang sama. Itu berarti sejak mereka lahir.

Lelaki itu duduk di teras rumah Chanyeol yang sejuk dan dipenuhi bunga mawar. Lima menit pertama dihabiskan Baekhyun dengan menggumam, “Aigo, yeppuda,” kepada setiap mawar merah, putih, kuning, violet, dan merah muda di sana.

“Apa yang kau lakukan?”

Baekhyun menoleh dan tiba-tiba sudah ada Chanyeol di belakangnya dan membisikan empat kata itu di telinganya. “Kau mengagetkanku!” Baekhyun terlonjak kaget dan mengelus dadanya.

Chanyeol beralih menuju garasi dan menggiring sepedanya keluar. Ia menduduki sadelnya, menginjak sebelah pedal sedang kaki yang lain masih menjejak tanah. “Ayo berangkat.”

Sepeda Chanyeol terlebih dulu membelah angin pagi dan berlalu meninggalkan Baekhyun beberapa meter di depan. Sedang Baekhyun masih sibuk menarik resleting hoodie, memakai kupluk, dan kacamata beningnya sebelum menaiki sepeda dan menyusul Chanyeol.

Setelah mereka sejajar, Chanyeol mulai bicara, “Kau sudah belajar untuk kuis dadakan hari ini, Baek?”

“Kuis? Aku tidak tahu bahkan ada kuis. Lagipula, bagaimana kau bisa tahu ada kuis dadakan? Bukan lagi mendadak kalau kau sudah persiapan, bukan?”

Chanyeol mendengus. “Jung ssaem membocorkannya minggu lalu—memangnya kau tidak dengar?”

“Tidak. Sepertinya aku sedang menonton episode terbaru One Piece—kan, terbit setiap Kamis. Ah, aku penasaran apa yang terjadi pada si cantik Robin?” Kepala Baekhyun tengadah, menerawang.

“Kalau kau tidak belajar di rumah, setidaknya kau dengarkan ssaem di kelas,” ujar Chanyeol menasehatinya.

“Aku dengaaaarr,” sahut Baekhyun panjang sambil menambah kecepatan sepedanya mendahului Chanyeol.

Sekeras apapun ia memperingatkan, Baekhyun tetap tak akan menganggap serius perkataan Chanyeol. Walaupun itu baik dan Baekhyun pun menghargai usaha kecil Chanyeol, tapi laki-laki remaja sudah sewajarnya seperti itu: menjadi nakal dan pembangkang. Karena selalu sempurna dan taat aturan itu membosankan.

Dan andai saja Chanyeol bisa seperti itu.

Di tahun terakhir mereka sekolah, Chanyeol diharuskan oleh ayahnya untuk tembus ke S.N.U dan mengambil konsentrasi engineering.

Itu tidak mudah, batin Chanyeol. Dan oleh karenanya ia tidak punya waktu lagi untuk sekali-kali mengikuti egonya. Noona yang empat tahun lebih tua sudah masuk kampus kenamaan itu lebih dulu dan mendalami bisnis. Itu lebih mudah, pikir Chanyeol. Salah sendiri, suruh siapa terlahir menjadi laki-laki, memikul nama keluarga—nama besar ayahnya—yang sama sekali tidak diinginkannya, terlebih menjadi adik dari seorang calon-lulusan-terbaik.

Kalau itu Baekhyun, ia tidak akan seruwet Chanyeol. Mudah saja, ia akan menujukkan kebodohannya (karena teknik bukan bidang yang digemarinya, jadi sudah pasti nilai-nilainya tidak akan memenuhi syarat kelulusan), mengatakan bahwa yang disukainya adalah musik (Baekhyun benar-benar memiliki suara yang bagus!), dan menunjukkan keseriusan dalam bidang itu.

Segumpal kertas menggelinding di atas buku tulis Chanyeol yang terbuka di pertengahan kelas ilmu alam. Alisnya nyaris tertaut, tapi dibukanya juga kertas itu.

Aku tidak akan ikut kelas sore ini. Aku mau latihan saja dengan band. Tolong isikan absenku ya!

Lengkap dengan emotikon cium. Apa-apan ini, Chanyeol menggumam, menoleh pada Baekhyun yang memang sedang menumpukan kepala dengan tubuh menghadap padanya dan mengedipkan sebelah mata. Chanyeol pura-pura muntah. Baekhyun terkikik.

Gumpalan kertas kembali kepada pemiliknya. Dengan semangat, Baekhyun membuka dan membaca isinya.

Alasan apalagi yang harus kupakai? Minggu lalu sakit kepala, dua minggu lalu demam. Apa sekarang sakit gigi? Sakit hati? Sakit jiwa?

Dan kini tawa Baekhyun terdengar sampai ke meja ssaem yang sedang menulis. Membuat seisi kelas menatap ke arahnya. Ia membalasnya dengan cengiran dan maju ke depan kelas untuk mengerjakan soal di papan tulis.

“Apa angka-angka ini terlihat begitu lucu, Byun Baekhyun?”

“Tidak. Chanyeol yang lucu, Ssaem.”

Seperti petir yang menyambar di siang bolong, Chanyeol membeku saat kini semua mata melihat ke arahnya. Termasuk Ssaem yang tengah membenarkan letak kacamatanya. Tak butuh waktu lama sampai keduanya keluar kelas dan berlutut dengan tangan terkepal di udara.

“Sudah lama tidak begini,” sahut Baekhyun. Chanyeol hanya diam tak menanggapi sahutan Baekhyun, karena itulah lelaki dengan mata sipit itu menyikut lengannya hingga ia hilang keseimbangan dan jatuh ke sisi. Baekhyun tertawa tertahan.

Chanyeol membalas dengan men-tackle betis Baekhyun hingga anak itu jatuh terjembab ke depan. Tawa mereka pecah dan seketika saja terdengar suara melengking ssaem dari dalam kelas, “MASIH ADA YANG LUCU HAH??!!”

Keduanya serentak kembali berlutut masih dengan cengiran di wajah mereka dan menjawab, “Tidak ada, Ssaem!!”

Pemandangan asing ini membuat semua orang yang ada di ruangan itu terdiam, saling pandang, dan bertanya-tanya. Hanya bunyi detik jam dan ketuk ujung sepatu yang terdengar, membuat kesan mencekam yang begitu magis. Kuncir rambut cokelatnya bergoyang saat ia berjalan maju dan melihat tulisan-tulisan yang tertempel di dinding.

Sadar kalau sedang diperhatikan, gadis itu memutar tubuhnya dan mendapati mata-mata itu memang melihat ke arahnya. “Abaikan saja aku. Kalian bisa lanjutkan kegiatan.”

Di detik yang sama, kegaduhan ruang latihan band kembali. Gadis itu melongo tak percaya begitu drastis suasana saat ia baru memasuki ruangan itu dengan situasi saat suara-suara alat musik berdentum di telinganya. Dan ia kembali tertarik dengan sebuah kertas berisi lirik lagu yang ditulis tangan.

“Hei, kau!” Sebuah suara membuyarkan lamunannya

“Yang kau maksud…, aku?” tanya gadis itu dengan suara tinggi yang dibuat-buat sambil menunjuk dirinya sendiri.

Dan kedua tatap mereka bertemu untuk pertama kalinya.

17 thoughts on “Sweet Sparks (2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s