Sweet Sparks (3)

sweet sparks

Sweet Sparks

Casts of Chanyeol, Baekhyun and Jinri (OC)

Presented by deera

Friendship. Romance. Series.

Stories : Jinri’s To-Be-True Wedding Party | Chanyeol’s Everlast Pain

Shot 3 : Jinri’s Unavoidable Problem

“Be tough, Jinri-ya.”

“I’m torn already.”

“Apa yang kau lakukan di sini?”

“Kau bisa memanggilku dengan namaku.”

“Aku tahu kau terkenal, tapi kau harusnya punya etika ketika baru memasuki sebuah tempat—apa itu tidak ditulis di buku tebalmu?”

Gadis itu meringis kesal. Ia menurunkan kacamata dan mengantonginya. Lantas, kedua tangannya bersidekap di depan dada. “Aku tidak tahu kepada siapa aku harus mengenalkan diri. Kalian semua diam saja saat aku masuk ke sini.”

“Itu karena kau tidak berkata ‘permisi’ atau ‘halo’ saat masuk. Kau pikir ini tempat yang bisa dengan mudah semua orang datangi? Ya, walaupun kau anak paling pintar di sekolah ini.”

“Baiklah.” Ia meyerah. Kedua tangannya terkepal di sisi karena geram dan ia membungkukkan tubuhnya sedikit. “Halo, namaku Min Jinri dari kelas unggulan 3-A. Maksud kedatanganku ke sini adalah ingin meminta bantuan kepada kalian—anggota band sekolah ini—dalam acara pagelaran sekolah. Mohon bantuannya.”

Sekali lagi ia membungkuk.

“Oh, begitu,” anak lelaki itu maju mendekati Jinri dan mengulurkan tangannya, “mungkin kau tidak mengenalku. Jadi aku harus menyebutkan namaku kan? Aku Byun Baekhyun: lead vocal sekaligus ketua kegiatan ini.”

“Ah, jadi kau. Aku harus berurusan denganmu?”

“Tergantung. Kau membutuhkan apa? Suara? Gitar? Keyboard? Perlengkapan EDM? Drum? Bass? Kajoon?”

“Stop!” Jinri mengangkat tangannya tepat di depan wajah Baekhyun. “Aku membutuhkan kalian semua. Dan kurasa aku cukup bicara denganmu saja.”

Baekhyun menggumam tak yakin. “Kurasa kau tidak mengerti konsep apa yang kau butuhkan dari kami.”

Dan Jinri mendengus sangat kesal sampai kedua tangannya berkacak di pinggang kecilnya. “Konsep apalagi? Aku hanya ingin partisipasi kalian untuk membantu kelasku yang sama sekali tidak mengenal musik tapi karena pageralaran sialan itu, kami harus menampilkan sesuatu! Tidak bisakah kau membuat ini mudah?”

Tawa Baekhyun menghambur.

“Cepat katakan saja, kapan kalian akan membantu kami latihan dan semacamnya? Eoh?”

Baekhyun mengantongi dua tangannya di balik saku celana. Senyumnya miring. “Datanglah lagi besok. Pikirkan dulu, kau ingin melakukan pertunjukkan seperti apa, temanya apa, lalu apa saja yang kira-kira kau butuhkan.”

Jinri mendengus. Ia menerima tawaran Baekhyun walaupun setengah hati. Dan begitu keluar dari sana, ia langsung berbelok menuju ruang latihan paduan suara. Berharap kalau orang-orang di sana tidak serumit lelaki tadi yang bicara hal-hal yang tidak begitu dipahaminya. Kenapa harus ada musik sih, di dunia ini? jeritnya dalam hati.

“Tidak ada ketua dan pengurus?” tanya Jinri dengan dahi berkerut.

Itu adalah jawaban paling tidak masuk akal yang didengarnya pertama kali saat masuk ke ruang latihan paduan suara. Berkaca dari pengalaman sebelumnya, ia akhirnya datang ke sana, mengucapkan salam, memperkenalkan diri, dan mengajukan maksudnya ingin bertemu dengan ketua kegiatan ini.

“Lalu bagaimana selama ini kalian latihan?” tanya Jinri.

“Kami dipandu oleh dirigen. Tapi dia juga bukan ketua kami. Ah, kalau kau bicara tentang pembimbing, kau bisa bertemu langsung dengan Ahn Ssaem—guru musik. Dia selalu mendampingi kami kalau sedang lomba.”

Tidak, guru tidak boleh tahu aku meminta bantuan pada klub, kata Jinri membatin.

“Tapi dirigen kami sedang sakit, jadi kami latihan tanpa pemandu.”

Oh, apalagi ini.

“Ah, kau bisa bertemu dengan Chanyeol. Dia pemain musik tetap kami,” ujar gadis yang ditanyai Jinri sedari tadi.

“Ya ya ya. Dia saja. Mana orangnya?”

Gadis itu menunjuk seorang lelaki tinggi yang sedang memasang jam dinding dengan menaiki sebuah kursi. Tanpa pamit, Jinri segera menghampiri lelaki itu. Saat akhirnya ada kesempatan bicara, ia langsung mencecar cepat dan panjang mengutarakan tujuannya datang.

Lelaki itu mengerjap pelan. Disadarinya bahwa ini kali pertama mereka berada berhadapan dan bicara satu sama lain.

“Lalu untuk apa kau datang kemari?” Chanyeol bertanya dengan nada kelewat datar.

“Bukankah itu sudah jelas?” suara Jinri naik beberapa oktaf hingga mencuri perhatian gadis-gadis yang sedang pemanasan sebelum latihan.

Chanyeol mencebik. “Kalau kau ingin main musik, ya pergilah ke klub musik. Untuk apa kau datang ke klub paduan suara?”

“Kau bisa mengajariku bernyanyi!”

“Hei, band dan paduan suara itu berbeda. Kau ingin menampilkan apa saja,  kau tidak paham.”

Jinri terpejam sebentar, mengatur napasnya, dan mengigit bibirnya menahan kesal. “Kau punya alat musik kan? Dan kau bisa bernyanyi kan? Lalu apalagi yang kurang untuk kau bisa mengajariku?”

“Konsep.”

Astaga, itu lagi!

“Kau mau musik yang bagaimana? Ballad kah? Blues? Jazz? Akustik?” Chanyeol mengetuk jarinya di atas meja beberapa kali. Ia mendekat ke arah Jinri dan berkata dengan nada rendah. “Kurasa isi kepalamu terlalu berat ke kiri? Cobalah lebih rileks dan miringkan ke kanan sedikit, eoh?”

Tenang, Jinri, kau bisa.

Jinri membuka matanya yang kembali terpejam menahan amarah. “Baiklah. Aku akan datang lagi padamu dengan KONSEP yang kau maksud.” Penekanan pada kata keramat itu seolah mewakili seluruh kekesalannya seharian ini.

Jinri keluar dari sana dengan dada naik turun dan perasaan berantakan. Kenapa begitu sulit untuk mengurus hal satu ini?

Brak!

Chanyeol dan Baekhyun mendongak, mendapati wajah datar Jinri di sana. Bunyi tadi berasal dari secarik kertas yang dihentakkan di atas meja saat gadis itu datang dan memasuki kelas.

“Oh, untung saja kalian sekelas jadi aku tidak perlu dua kali menjelaskan,” Jinri menegakakan tubuhnya dan melipat tangannya sebelum melanjutkan, “aku ingin menggabungkan band dan paduan suara.”

Dahi Chanyeol mengerut dan mata Baekhyun berkedut mendengarnya.

“Kau mau…, apa?” tanya Baekhyun yang merasa mungkin salah dengar.

“Kau tuli atau apa, Baekyoong?” tanya Jinri sinis.

M-mwo? Kau memanggilku apa?” Baekhyun sudah mau berdiri dan menantang Jinri kalau saja dia tidak ingat bahwa ia sedang berhadapan dengan seorang gadis.

“Apa kau yakin?” kali ini Chanyeol yang bicara. “Kau sudah berdiskusi dengan teman-temanmu?”

Jinri mengangkat bahu. “Untuk apa? Mereka pasti setuju dengan semua rencanaku. Mereka tinggal ikut saja.”

Chanyeol menghembuskan napas pelan. “Kemari kau, duduklah.”

Sesaat setelah Jinri menarik kursi, duduk, dan menumpangkan kaki, Chanyeol memulai kalimatnya, “Jumlah teman-temanmu berapa sekelas? Lalu berapa orang yang familiar dengan musik? Berapa yang bisa bernyanyi—minimal tahu nada dan kunci? Berapa yang bisa memainkan alat musik? Lalu alat musik apa saja? Kalau hanya recorder atau pianika, sepupuku umur empat tahun juga bisa.”

Jinri meneguk ludah.

“Lalu, lagu apa yang ingin kau nyanyikan?” tanya Baekhyun.

Heal the World. Yang mudah saja.”

“Kau bilang mudah? Memangnya kau pernah menyanyikannya?”

“Tidak. Tapi kurasa lagunya sederhana, jadi tidak akan terlalu sulit…, kan?” Jinri sendiri tak yakin dengan apa yang diucapkannya.

“Kembali lagi lah dengan konsep baru!” Baekhyun menyurungkan kertas yang tadi dibawa Jinri.

“Itu terlalu lama. Pagelarannya sebentar lagi.” Chanyeol menolak mentah-mentah ide Baekhyun.

Majayo! Dia benar. Kalian juga kan, harus mempersiapkan pagelaran dan membantuku. Pikirkan baik-baik.” Jinri mengiyakan dengan antusias.

“Begini saja. Kau cari temanmu yang bisa bermain alat musik apapun. Dan kau, buatlah puisi yang bagus. Lakukan musikalisasi puisi saja. Itu mudah.” Ide Chanyeol terdengar sangat brilian di telinga Jinri.

“Apa itu bisa disebut pentas seni, Yeol? Kurasa tidak,” sahut Baekhyun sambil mengelus dagu dan memiringkan kepalanya.

Clap! “Kau jenius, Bong!” Jinri bertepuk tangan dan sontak berdiri kegirangan.

M-mwo? Bong?” Chanyeol mengerjap tak percaya, gadis ini mengubah-ubah nama orang seenaknya.

“Bagaimana kalau perkusi?” Baekhyun melontarkan ide lainnya yang tak kalah terdengar cemerlang bagi Jinri. “Perkusi tidak perlu bernyanyi. Dan kurasa, anak-anak otak kiri ini bisa menghafal ketukan dengan mudah. Tidak perlu pusing soal nada bukan?”

“Kau hebat, Kyoong! Kalian luar biasa!!” Jinri mengangkat dua jempolnya lalu bertepuk tangan heboh. Tapi tiba-tiba ia berhenti. “Lalu untuk apa kalian memaksaku untuk membuat konsep kalau pada akhirnya kalian yang akan memberikan ide?”

“Aku setuju dengan perkusi.” Chanyeol menganggukan kepala. “Satu kali latihan juga pasti langsung bisa. Tinggal menghafal saja.”

“Nah, sekarang ini tugasmu.” Baekhyun menarik kertas yang tadi diberikannya pada Jinri dan menuliskan beberapa baris di sana. “Kau cari dan amati video pertunjukkan perkusi di internet. Lalu tentukan kau mau membawakan yang mana, nanti setelahnya akan kubantu untuk mencari ketukannya. Atau kau juga bisa membawakan sebuah lagu. Tapi Heal the World tidak cocok untuk dibawakan perkusi. Yah, pokoknya tonton dulu saja videonya.”

Jinri menerima kertas itu dengan sumringah. “Assa! Baiklah. Aku akan datang lagi besok. Sampai jumpa, BongKyoong!!”

Lalu gadis itu berlalu dari hadapan mereka secepat bagaimana ia datang. Baekhyun dan Chanyeol berpandang-pandangan sesaat sebelum terdengar kekehan Baekhyun dan tawa tertahan Chanyeol.

“Seumur hidup aku di sekolah ini, mengenal gadis itu, belum pernah kulihat ia tersenyum secerah tadi,” komentar Baekhyun sambil merebahkan punggungnya.

Chanyeol tertawa pelan dan segera mengunci kepala Baekhyun dengan lengan besar miliknya. Ia memutar-mutar sebelah telinga Baekhyun dan menjitak puncak kepala lelaki itu. “Ayo ke kantin! Aku lapar.”

15 thoughts on “Sweet Sparks (3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s