Sweet Sparks (4)

sweet sparks

Sweet Sparks

Casts of Chanyeol, Baekhyun and Jinri (OC)

Presented by deera

Friendship. Romance. Series.

Stories : Jinri’s To-Be-True Wedding Party | Chanyeol’s Everlast Pain |  Jinri’s Unavoidable Problem

Shot 4 : Baekhyun’s Cannot-Bare Fear

“Don’t you have any phobia?”

“I’m kinda hateful of something. You really don’t know about this, do you?”

Baekhyun akan latihan futsal setiap Selasa dan Chanyeol akan menunggunya sambil menggambar dari pinggir lapangan. Keduanya latihan musik di hari Rabu: Baekhyun dengan band-nya sedang Chanyeol dengan anggota tim paduan suara. Chanyeol menjadi pengiring tetap, kadang memainkan gitar, keyboard, atau harmonika.

Ini Selasa sore yang mendung. Baekhyun tiduran di dekat kaki Chanyeol dengan napas terengah. Chanyeol mengangkat wajah dari fokusnya ke buku gambar, menyambar botol minum dan handuk di sebelahnya, lalu melemparkannya pelan ke atas wajah Baekhyun (handuknya saja, botol minumnya ditaruh di samping kepala Baekhyun).

“Bagaimana ini, sepertinya akan hujan. Ah, malas sekali!” gerutu Baekhyun sambil mengelap wajahnya dengan handuk. Keringat benar-benar menetes dari sekujur tubuhnya.

“Ya hujan saja. Basah. Lembab.”

“Dan aku tidak suka.”

“Itu bukan urusanku.”

“Dan kita tidak bisa pulang.”

“Kita? Kau saja. Aku bisa menerobos hujan.”

“Dan sampai rumah kau akan dimarahi karena basah kuyup.”

“Ada jas hujan.”

Aissh, jinjja! Mwolla! Aku tidak akan pulang kalau hujannya belum berhenti.” Baekhyun menendang udara kosong.

“Kita bisa berbagi jas hujan,” ujar Chanyeol pelan dan semoga Baekhyun tidak mendengarnya. Cepat-cepat juga ia menambahkan, “Itu kalau kau mau.”

“Mau! Aku mau! Mau mau mau mau!!!!”

Chanyeol menelan ludah. Itu berarti mereka pulang dengan satu sepeda dengan Chanyeol di kemudi dan Baekhyun duduk di depan. Benar-benar bukan ide yang sama sekali baik, pikir Chanyeol.

Setelah Selasa sore hujan deras dan berakhir dengan tidak happy ending bagi Baekhyun, Rabu sore—lewat pukul lima, dimana seharusnya ia sudah sampai di rumah sejak pukul satu tapi nyatanya masih di ruang latihan karena seseorang bernama Jinri—lagi-lagi tidak berakhir meyenangkan baginya. Hujan turun deras sejak pukul dua lewat lima belas dan benar-benar menahan Baekhyun berdua dengan Jinri.

Pagelaran itu masih dihelat dua bulan lagi, yakni satu minggu setelah ujian kelulusan. Jinri si anak pintar selalu membuat persiapan sejak jauh-jauh hari dan itu membuat Baekhyun pening. Gadis itu minta latihan khusus sebanyak dua kali seminggu—di luar latihan gabungan bersama teman-temannya.

Latihan sudah selesai sejak pukul empat. Hanya saja hujannya belum. Jinri yang terbiasa pulang jalan kaki juga terpaksa menunggu hujan berhenti. Sedangkan Baekhyun—yeah, dia tidak mau ambil risiko gatal-gatal atau sesak napas karena fobianya terhadap hujan dan segala macam genangan air.

Jinri berdiri di depan mading yang masih memajang lirik lagu yang dilihatnya ketika pertama masuk ke ruangan itu. Sedang Baekhyun di pojokan lain tengah memetik senar gitar dan memainkan nada-nada ringan.

“Kyoong-ie.” Jinri memanggil Baekhyun tanpa memindahkan tatapnya dari kertas berisi lirik itu.

Dan tiba-tiba Baekhyun menghentak senar-senar gitarnya dengan keras, menimbulkan bunyi genjreng yang kontras dengan sebelumnya. “Apa sih, motivasimu memanggilku begitu?”

“Lebih mudah saja diucapkan,” kini Jinri memiringkan kepalanya ke tempat Baekhyun berada, “hei, aku tanya serius. Apa ini sebuah lagu?” telunjuk Jinri terarah pada kertas itu.

Baekhyun meregangkan lehernya untuk melihat apa yang gadis itu maksud lalu kembali memangku gitarnya dan berkata, “Kau mau dengar? Aku bisa mainkan.”

Rains are falling, the sparks are dancing while me staring at them lonely

I am not feeling well, I think I would fall but not

Not even fly or walk properly

I don’t lean on something I couldn’t hold

The storm sound strikes me out, the skydrop spins me with fear

But I don’t know why

Just thought of someone drown in the middle of hard waves

But look! That was me with nobody to help

Suddenly a beautiful voice came from another spaces

Said, “Everything is okay”

Even it’s hard, bare it

Baekhyun mengangakat kepala, mendapati Jinri sudah duduk di sebuah kursi lipat di hadapannya dengan mata berkaca-kaca. Ia sedikit terkejut karena gadis itu benar-benar menangis. Jinri menggosok matanya dengan ujung sweater namun Baekhyun menyambar tisu terlebih dulu dan memberikan kepadanya.

“Kau menulisnya dengan baik,” puji Jinri tulus dengan suara agak serak.

“Kenapa kau menangis?” langsung saja Baekhyun bertanya tanpa ragu.

“Tidak—aku tidak menangis.”

Dengusan lolos dari bibir Baekhyun. “Oke, kalau definisimu tentang air mata, hidung dan mata memerah, juga suaramu yang parau barusan itu bukan menangis. Tapi itu tidak masuk akal.”

Baekhyun sama sekali tidak berniat bercanda. Ia justru merasa kalimatnya barusan berisi sindiran. Tapi Jinri tertawa. Walau pelan, rona merah akibat sendu mulai hilang dari wajahnya.

“Apa yang membuatmu menulis ini?” tanya Jinri berusaha tak menyentuh topik sindiran Baekhyun tadi.

“Tidak ada alasan spesial,” Baekhyun mengetuk sekali badan gitarnya dan menunjuk ke arah jendela, “aku menulisnya saat terjebak hujan sialan seperti saat ini.”

Jinri tersenyum samar tapi masih serius menyimak.

“Aku membenci hujan,” ujar Baekhyun.

“Apa itu sesuatu yang kau banggakan?”

“Kau tidak ingin bertanya kenapa? Ah, aku punya sejarah panjang tentang itu dan aku kira aku harus menjelaskanya.”

Tawa Jinri pecah karena ekspektasi meleset Baekhyun. Setelah puas memegangi perutnya sampai terbungkuk, Jinri akhirnya setuju untuk mendengarkan cerita dibalik hujan versi Baekhyun.

Bibir lelaki itu mengerucut gemas. “Kau harus bertanya dulu.”

“Oke,” tawa Jinri tertahan, “kenapa kau membenci hujan, Kyoong?”

“Kuberitahu kau satu rahasia. Sebenarnya aku ini masih satu filial dengan kaktus. Hanya seminim mungkin aku akan berinteraksi dengan air.”

Jinri terkikik dengan intro yang diberikan Baekhyun. Dan itu sepertinya belum seberapa. Tapi dipaksakannya juga untuk bertanya, “Lalu bagaimana dengan mandi?”

“Itu dilema yang masih kuhadapi sampai sekarang. Aku tidak bisa mandi dengan shower karena rasanya sekujur tubuhku seperti dirajam paku,” jawab Baekhyun dengan wajah serius.

Yang seketika membungkam cengiran lebar Jinri.

Baekhyun melanjutkan, “Dan aku tidak bisa masuk dalam bathtub. Aku juga tidak berenang—padahal ibuku mantan atlet renang. Aku tidak bisa masuk dalam air karena rasanya aku akan mati dan tenggelam. Membayangkannya saja aku sudah sesak kehilangan napas.”

“Oke, ini sangat ekstrim, Kyoong,” sahut Jinri akhirnya, “kenapa kau begitu? Kau punya trauma dengan air?”

Lelaki itu berkedip agak lama dan mengangguk samar dengan alis terangkat. “Sewaktu kecil, aku bermain petak umpet dengan teman-temanku. Tanpa sadar, aku berlari jauh dan bersembunyi di sebuah lubang dangkal tapi cukup menyembunyikan tubuhku.”

“Lalu tiba-tiba hujan dan kau berpikir permainan masih berlanjut, sampai airnya memenuhi lubang itu? Dan kau tenggelam?” Jinri berusaha menebak akhir ceritanya.

“Tidak, kau salah. Karena hujan, akhirnya aku memutuskan pulang saja. Aku tidak tahu jalan pulang karena tempat itu cukup jauh dari rumahku. Aku menangis, kedinginan, ketakutan. Berpikir mungkin aku tidak akan pernah bisa kembali.

“Di persimpangan, aku bertemu dengan Chanyeol.” Wajah Baekhyun berangsur cerah setelah hampir memasuki akhir cerita. “Anak itu baru pulang les. Rumah kami dekat jadi saat melihatnya rasanya seperti menemukan keajaiban.”

Baekhyun menambahkan, “Kalau kau rasa ini tidak ada hubungannya dengan tenggelam, memang tidak ada. Hanya saja, melihat air sebanyak itu mengingatkanku kepada rasa takut dan sesak. Ibuku tidak tahu ini dan dulu dia selalu memaksaku untuk belajar berenang. Lalu aku pura-pura tenggelam di kolam yang bahkan hanya setinggi pinggangku. Sampai ia memutuskan kalau aku memang tidak mewarisi bakat renangnya.”

Keduanya larut dalama nostalgia berbeda. Jeda setelah cerita itu usai cukup membuat pikiran Jinri terbang kemana-mana dan Baekhyun mencapai sebuah konklusi baru yang mendadak terlintas di kepalanya.

Setelah berdehem, membuat Jinri kembali menatapnya, Baekhyun bersuara. “Jadi, apa kau sesakit itu?”

Bola mata Jinri membulat sempurna, walau masih tajam di kedua ujungnya. Bibirnya separuh membuka. Ia jelas terkejut dan itu tidak bisa disembunyikan. Lantas ia salah tingkah dengan mengerjap berkali-kali dan membuang pandangnya ke tumpukan kertas di atas meja.

“Apa kau lelah berpura-pura?” tanya Baekhyun lagi.

Yang seketika membuat Jinri memalingkan kembali wajanya ke arah Baekhyun dengan air mata yang tak bisa lagi dibendungnya.

deera says: Annyeong! Ini sudah empat chapter, masih xxx way to go hehe :p entah kenapa kalau aku buat cerita chaptered sedikit sekali responnya hahaha mungkin memang aku ngga bakat bikin cerita panjang-panjang haha tapi aku tidak gentar kok :p buat yang masih baca dan mungkin menunggu kelanjutannya, aku pasti posting sampai tamat kok, tenang aja😀 dan aku ucapkan terimakasih banyaaaakkk *kisses*

12 thoughts on “Sweet Sparks (4)

  1. Hoho.. aq mencium bau2 sesuatu di dialog trakhir,dn apa2an itu,baek sodaraan ma kaktus, mo blg takut aja,mlah muter2 lu baek,dn yeah bkn.a aq nyerah ma PCY,aq tkut di ending mlh dpt zonk, kn ga lucu,pdhl aq udah jd tim sukses.a ceye. Okelah kuserahkan jodoh.a Jinri di tganmu kak 😀

  2. baru ngikutin cerita ini 😊 bagus bgt ceritanya, kak deera nih selalu pinter bikin penasaran😂 yg ngga respon mungkin pada bingung mau respon apa kak, ini alurnya flashback jd banyak mikirnya mungkin hehhehe😅 Well, tep semangat ya kak deera. Makasih udah diposting rutin, penasannya jd keobati terus 😆😆

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s