Sweet Sparks (5)

sweet sparks

Sweet Sparks

Casts of Chanyeol, Baekhyun and Jinri (OC)

Presented by deera

Friendship. Romance. Series.

Stories Jinri’s To-Be-True Wedding Party | Chanyeol’s Everlast PainJinri’s Unavoidable Problem | Baekhyun’s Cannot-Bare Fear

deera says : Anyone guess Baekhyun already? Or is it Chanyeol? Let me tell you…, but this is a secret :p

Shot 5 : Jinri’s Half-Moon-Curved Lips

“Have you ever heard someone say to you that you have beautiful smile?”

“Someone said it.”

“Kau tidak benar-benar hanya akan menangis kan?”

Jinri pura-pura tidak dengar dan terus menyusut hidung dan matanya yang berair simultan. Ia tidak peduli lagi dengan wajahnya yang tak karuan. Atau yang lebih parah, di hadapan siapa ia kini tengah menangis.

Salah sendiri. Lelaki itu menguak sisi paling sensitif yang pernah Jinri miliki. Ia harus tanggungjawab. Ia harus menunggu Jinri sampai selesai menumpahkan semua keluh-kesahnya dengan menangis keras-keras.

Membuat Baekhyun bingung.

“Hei, kurasa bukan hanya kau yang punya masalah besar. Tidak perlu berlebihan. Keluar lah dari sana dan berkata yang lantang, ‘Hei, Masalah! Aku punya keberanian lebih besar untuk menghadapimu!’”

Setelah Baekhyun berkata begitu, Jinri menghentikan tangisnya sebentar dan sedikit terkesima dengan kata-kata penyemangat itu. Secara harfiah, ia tidak pernah disemangati begitu karena tak ada yang tahu seberapa besar sesuatu itu menghimpitnya terlalu keras.

Saat mendengar itu, ternyata Jinri merasa jauh lebih baik dari sebelumnya.

“Percayalah,”Baekhyun kembali bicara, “hal itu tidak akan membantu banyak.” Tawa lelaki itu menguar di udara.

Jinri menganga. “Apa? Apa maksudmu barusan, hei! Kau mendukungku atau tidak sih?” Ia menyusut ujung matanya yang sudah mulai kering.

Bahu Baekhyun terangkat. “Itu kembali pada dirimu. Kau mau menghadapinya atau terus lari? Sepertinya selama ini kau hanya berlari, lalu kau lelah. Makanya kau menangis.”

Jinri diam. Ah, kenapa lelaki ini sok tahu dan…, sulit untuk diakui kalau Jinri memang merasakannya?

“Aku benar kan? Sudahlah, menangis tak ada gunanya. Sebaiknya kau pulang sana, hujannya sudah reda.”

Keduanya menatap ke arah jendela. Sisa matahari senja menyembul di balik awan-awan mendung. Terdengar Jinri mendengus berat dan bangkit mengambil barang-barangnya. Ransel hitam kini tergantung di sebelah bahunya.

Baekhyun menatapnya miris. “Kau benar-benar ingin langsung pulang? Wajahmu menyedihkan. Aku tidak mau orangtuamu curiga. Bisa saja dia berpikir anak gadisnya ‘dimacam-macami’ oleh seorang bajingan.” Baekhyun menambahkan petik dengan dua jarinya pada kata macam-macam.

Senyum Jinri tipis dan sedih. Raut wajahnya tak terbaca oleh Baekhyun pada jeda sebentar yang tercipta setelah kalimat itu terlontar. Entah kenapa melihat ekspresi itu, separuh perasaan Baekhyun ikut lebur dan terluka bersamanya. Seiring dengan kalimat yang keluar dari bibir Jinri, “Andai saja bisa gitu, aku lebih senang mendengar Ayah dan Ibu mengkhawatirkanku.”

Kini Baekhyun diam. Sesi curhat Jinri sepertinya akan dimulai sebentar lagi. Tapi sebelum tangis mungkin akan tumpah ruah kembali—dan Baekhyun sepertinya sudah mengerti apa dan mengapa—ia memotong kalimat Jinri selanjutnya.

“Apa sudah ada yang mengatakan kepadamu kalau senyummu itu manis, Jinri-ya?” Baekhyun bertanya dengan seringaian jahil di wajahnya. Dan sebelah mata yang mengedip genit.

Jinri terperangah. Pertama, karena pertanyaannya. Kedua, karena gelagat Baekhyun. Ketiga, karena jawaban yang dimilikinya atas pertanyaan itu.

“A-apa? Kenapa kau bertanya begitu?” tanya Jinri panik.

“Tak apa. Hanya saja, kurasa senyummu itu sangat manis. Jadi sering-seringlah tersenyum mulai sekarang. Dan senyumlah dengan tulus. Itu akan mengurangi bebanmu karena berpura-pura.”

Baekhyun mendekatkan tubuhnya ke arah Jinri untuk berbisik, “Kali ini, percayalah padaku. Karena itu benar-benar ampuh.”

Ia kembali menarik dirinya menjauh. Gitarnya dimasukan ke dalam sarung sambil kembali berkata, “Jadi, apa hanya aku yang memuji bahwa senyummu itu manis, Jinri-ya? Aigo, mungkin karena kau tak pernah tersenyum dengan tulus di hadapan orang-orang.”

Jinri mencebik. Ia berjalan ke arah pintu dan menjawab dengan nada diplomatis, “Seseorang telah mengatakannya lebih dulu.”

Cahaya dari luar membuat Jinri nampak seperti siluet bagi Baekhyun yang masih duduk di kursinya dan menatap Jinri yang berdiri di ambang pintu. “Siapa? Ah, sayang sekali aku kalah cepat!”

Jinri kembali tersenyum di balik bayangan tubuhnya. “Chanyeol.” Ia berbalik dan berkata lagi, “Si Bong itu—dia mengatakan hal yang sama padaku.”

Suaranya dari balik lemari baris terluar dekat soffa ruang belajar. Ya, suara seperti dengkuran. Sepertinya ada orang lain di sini bersama Jinri—di dalam perpustakaan sekolah pada Sabtu malam seperti ini. Bagi Jinri, menginap di tempat ini sudah biasa. Ia kenal akrab dengan Petugas Han dan selalu dipinjami kunci saat Jinri bermaksud untuk bermalam. Ia tidak akan macam-macam, hanya belajar seperti membaca dan membuat catatan. Atau kadang  menghafal kosakata bahasa inggris dengan suara lantang.

Terbiasa sendiri dan tanpa rasa takut terhadap makhluk-makhluk tak terlihat, mendapati seseorang yang nyata dan hidup berada dalam satu ruangan yang sama sempat membuatnya panik. Jinri memberanikan diri untuk melihat ke arah suara dan memastikan kalau orang itu bukan orang jahat. Tapi untuk jaga-jaga, Jinri menyambar stik baseball yang disimpan Petugas Han sebagai alat pelindung diri bagi gadis itu.

Dan Jinri bisa bernapas lega kala mendapati sebuah wajah yang dikenalinya menyembul dari balik selimut pororo. Wajah yang tengah pulas tertidur itu sendu dan polos, tidak seperti saat ia terjaga dan bertingkahlaku sebaliknya. Park Chanyeol di sana, meringkuk memeluk tubuhnya sendiri dan terpejam dalam damai.

Jinri tidak bisa diam saja. Ia harus tahu kenapa anak ini berada di sini dengan ransel penuh. Isi kepala gadis itu dibubuhi dengan kesimpulan kalau Chanyeol berusaha kabur dari rumah. Maka dari itu, ia segera mengguncang tubuh si lelaki jangkung hingga terbangun dan mengerjap bingung.

“Kau….” Ia memanggil dengan suara berat dan terbata. Kacau sekali. Rambutnya awut-awutan saat dipaksakan tubuhnya menegak duduk di soffa. “Kenapa kau bisa di sini juga?”

“Hampir setiap Sabtu malam aku di sini, Bong.”

“Itu cukup menjelaskan kehidupanmu yang membosankan.”

“Oh yeah, right. Setidaknya aku tidak perlu kabur dari rumah.”

“Apa yang kau maksud?”

Jemari Jinri menunjuk pada tumpukan barang-barang yang teronggok di ujung soffa dekat kaki Chanyeol. “Lalu apa ini? Mau mengelak?”

Chanyeol mengerjap bingung dan seketika mengerti. “Oh. Jangan sok tahu. Tebakanmu salah.”

“Benarkah? Kalau begitu, pulanglah. Suara mendengkurmu membuatku tidak fokus.”

“Mendengkur? Yang benar saja!”

Ah, rasanya ingin mengulang beberapa menit lalu sebelum membangunkan lelaki itu dan merekam tidurnya yang seperti beruang hibernasi, keluh Jinri dalam hati.

Sebelum menyuarakan pikriannya, dilihatnya Chanyeol tiba-tiba melipat selimutnya dan memasukannya ke dalam ransel. Ia juga memakai kembali sepatunya dan merapatkan resleting jaket.

Keduanya saling pandang.

Chanyeol menyeringai. “Ekspresi itu: kau ingin aku tetap tinggal atau kau tidak ingin aku pergi atau sebaiknya aku di sini atau apa aku gila meninggalkanmu di sini?”

“Kau harus pergi secepatnya,” jawab Jinri cepat.

“Tentu saja.” Chanyeol merespon lagi dengan tak kalah cepat. Ia maju mendekati Jinri dan berkata, “Kalau aku di sini, aku takut akan terjadi hal-hal yang menyenangkan bagiku. Dan hal-hal itu belum tentu akan berakhir menyenangkan untukmu.”

Jinri mengerjap kaget. Ia bergerak mundur menjauhi Chanyeol. “Mesum! Pergi sana!” Jinri melayangkan tendangannya pada angin bekas Chanyeol lewat di hadapannya. Lelaki itu lalu hilang di balik pintu kaca dengan suara langkah kaki yang menjauh.

Tapi lelaki itu tidak benar-benar pergi. Ketika sore berpapasan dengan Petugas Han, ia tahu gadis itu biasa datang. Ia sudah sering dengar kabar bahwa Jinri sering menghabiskan waktu di sana setiap akhir minggu. Ia hanya tidak tahu kalau ucapan itu benar, bukan melebih-lebihkan.

Gadis itu terlahir dari keluarga baik-baik, dengan Ayah dan Ibu yang menyayanginya. Tapi Tuhan lebih mencintai keduanya hingga mereka meninggal saat Jinri masih delapan tahun. Ia lantas tinggal dengan bibinya hanya sampai usianya lima belas, dan kini ia tinggal sendiri di rumah lama orangtuanya dengan uang yang dikirim bibinya sebulan sekali.

Gadis itu bukan gadis sempurna yang orang-orang kira. Ya, dia sempurna. Dia pintar, dia cantik, dia punya banyak teman yang nampak begitu akrab dengannya. Dia juga tidak bodoh untuk menyadari sesuatu yang lain di balik senyum teman-temannya.

“Dia sedang mengalami waktu-waktu yang berat. Tadinya aku tidak ingin mengizinkannya ke perpustakaan, tapi aku juga tidak tega melihatnya meringkuk di rumah,” begitu Petugas Han menjelaskan secara singkat.

Jadilah Chanyeol di sana—yang tadinya memang berniat kabur dari ayahnya dan bermalam—kini ia benar-benar punya alasan masuk akal , kalau tidur dengan sleeping bag menggulung tubuhnya di koridor depan perpustakaan termasuk kategori belajar di rumah teman.

Dan Jinri juga tahu kalau Chanyeol tidak benar-benar pergi. Sesaat sebelum ia keluar rumah, Petugas Han mengiriminya pesan supaya tidak kaget karena ia akan dapat teman malam ini. Lelaki itu diamanati untuk menemani Jinri sampai ia pulang nanti.

“Aku tahu kau di sana, Pak Bong-ah,” seru Jinri pelan namun masih bisa terdengar oleh Chanyeol yang sudah seperti kepompong.

Kepala Chanyeol menyembul dan sebelah tangannya membuka resleting hingga leher yang terbungkus syal. Ia terkesiap mendengar pernyataan itu. “E-eoh. Tak usah pedulikan aku. Belajar saja lah.”

“Tidurlah di sini. Bukankah kau harus menemaniku?”

“Bukankah suara dengkuranku mengganggumu? Tak apa, aku sudah biasa.”

“Kalau kubilang aku takut sendirian….?” Jinri menggantung kalimatnya, mengisyaratkan Chanyeol untuk menggenapkan.

Dan lelaki itu tertawa tertahan. “Katamu, hampir setiap Sabtu malam kau di sini sendirian? Mana mungkin kau tahan melakukannya kalau takut.”

Keduanya kembali diam. Menyelami pikiran masing-masing hingga rasa bersalah pelan-pelan melingkupi baik Jinri maupun Chanyeol.

Karena lelaki itu menemaninya sampai harus tidur di luar.

Karena gadis itu harus terganggu oleh kehadirannya.

“Kalau kukatakan…,” Jinri meneguk ludah, “aku kesepian? Aku lelah berpura-pura? Aku tidak ingin sendirian?”

Jeda menjadi orang ketiga di antara mereka. Jeda yang tidak menjengahkan, justru memberi ruang bagi keduanya untuk bernapas, memahami satu sama lain hingga tak satupun dari mereka ingin beranjak pergi.

“Percaya saja lah,” Chanyeol bersuara dengan gemetar yang membuat Jinri meremang, “kau tidak sendirian. Walaupun tak bisa selalu kau lihat, kau harus yakin.”

Ia juga cepat-cepat menambahkan, “Setidaknya ada aku kalau kau masih ragu dan pesimis.”

Jinri terkikik samar. “Apa kau akan selalu ada di sana, Park Bong?”

“Selama kau percaya. Dan selama kau memanggilku dengan nama aneh itu.”

Lengkungan di atas dagu Jinri serupa bulan sabit tipis sempurna.

“Begitu lebih baik,” Chanyeol bicara lagi, “karena itulah, kau harus terus tersenyum. Kau nampak manis dengan senyum di wajahmu. Aku serius.”

14 thoughts on “Sweet Sparks (5)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s