Clairvoyant (Chapter 3)

clairvoyant

Title : Clairvoyant (Chapter 3)

By : Vi

Cast : Oh Sehun (EXO), Im Nayoung (OC)

Genre : Fantasy, AU, Mystery, High School Life, Friendship

Length : Ficlet in Mini Chaptered Story

Rating : T

Disclaimer : I own the plot and the stories. This story is purely mine, I created it myself from my own wild imagination. Cast besides OC(s) belongs to God and their relatives. I might had posted this story on another blog. Last but not least, please don’t be plagiators and siders! Thank you for your concern.

 

Artwork by Vi

 

WARNING FOR TYPOS!

Originally was posted on my personal blog

.

.

.

.

.

Nayoung akhirnya lagi-lagi pindah sekolah akibat kebakaran yang menimpa sekolah barunya. Dan coba tebak apa? Sehun masuk ke sekolah yang sama dengannya. Dari ratusan sekolah di Seoul kenapa harus di sini, Oh Sehun? Entah takdir atau bagaimana, mereka menjadi teman sebangku lagi. Wow, Nayoung merasa hidupnya tidak bisa lebih baik lagi.

Jujur saja, semenjak kebakaran sekolahnya, Nayoung menjadi sedikit menjaga jarak dari Sehun. Yang dimaksud dengan menjaga jarak sedikit dalam kamus Nayoung adalah dengan tidak pernah menemui Sehun lagi. Bahkan mereka tidak menemui satu sama lain selama seminggu penuh setelah kejadian itu. Sampai detik ini malah.

Mereka terlihat seperti orang asing di sekolah. Barang hanya untuk sekedar melirik satu sama lain pun tidak sama sekali. Nayoung kembali menjadi si gadis pendiam yang ingin hidup jauh dari masalah dan Sehun pun tetap menjaga popularitasnya sebatas anak yang—lagi-lagi—dihindari seisi sekolah.

 

****

 

Entah déjà vu atau memang takdir dan seisi dunia seakan mempermainkan Nayoung. Gadis itu harus kembali mencicipi ketidakberuntungannya sepanjang masa saat tadi Guru Choi memberi mereka tugas kelompok. Dan kalian bisa menebak bukan siapa partner Nayoung? Tidak lain dan tidak bukan adalah Oh Sehun. Nayoung merutuki nasib sialnya dengan menggumamkan umpatan kecil, nyaris seperti bisikan, namun rupanya volume yang ditimbulkan dari vokalnya masih dapat sampai ke rungu kawan sebangkunya.

 

“Aku mendengar itu,” ucap Sehun. Jantung Nayoung berdebar mendengar suara Sehun. Bukan debaran jantung seperti ketika kita jatuh cinta. Lebih kepada debaran jantung takut ketahuan dan sejenisnya. Nayoung kembali merutuki mulutnya yang lancang mengumpat di sebelah seorang Oh Sehun.

“Jadi, kapan kita bisa mulai?” tanya Nayoung takut-takut. Sementara Sehun hanya memberi jawaban dengan mengedikkan bahunya. Sangat Oh Sehun.

“Besok saja kita kerjakan di rumahku. Hari ini aku tidak bisa,” timpal Nayoung yang kelihatan seperti berbicara dengan dirinya sendiri karena tidak mendapat jawaban dari lawan bicaranya. Bukan tidak bisa sebenarnya, Nayoung hanya ingin mengulur waktu untuk tidak bertatap muka dengan Sehun. Yeah, kalian pasti tahu alasannya, bukan?

Ketika bel istirahat berbunyi, Nayoung terlihat sedang mengobrak-abrik isi tasnya. Sepertinya sedang mencari sesuatu. Di kelas kini tinggal terdapat dirinya dan Sehun. Nayoung terlalu sibuk dengan tasnya sehingga tidak sadar bahwa manusia di sampingnya kini tengah asyik menjadikan dirinya sebagai objek pengamatan kedua obsidiannya. Sehun hanya bisa menggeleng-geleng dalam diam melihat tingkah Nayoung.

“Terselip di buku sains.”

Huh?”

 

“Tugas sejarahmu, bodoh.”

Sehun lantas bangkit dan berjalan keluar kelas meninggalkan Nayoung membisu di tempat ketika mendapati “sesuatu” yang baru saja membuat dirinya mengobrak-abrik seisi tas ranselnya. Tugas sejarahnya benar-benar terselip di antara halaman-halaman buku sainsnya.

 

 

****

 

Murid-murid kelas terlihat sibuk mengemasi barang-barang mereka. Memang sudah seharusnya seperti itu karena bel pulang sudah berdering. Kecuali satu anak yang terlihat tidak tertarik sama sekali dengan kegiatan membenahi buku-buku pelajarannya. Sehun, pria itu hanya diam dalam posisi tidurnya dengan tangan yang menutupi seluruh wajahnya.

Di sisi lain Nayoung juga agaknya tidak peduli dengan Sehun. Dirinya bergegas pulang mengingat jam pulang sekolah di Korea yang larut. Meninggalkan Sehun yang sejatinya hanya berpura-pura tidur sedari tadi.

Sehun terdiam dengan posisi yang sama untuk beberapa saat sebelum tersentak karena sesuatu. Karena Nayoung. Ia berlari sekuat tenaga menyusuri koridor sekolah yang sudah kosong dan gelap. Sehun tidak akan bisa memaafkan dirinya jika sesuatu sampai terjadi pada Nayoung.

 

****

 

Nayoung baru saja turun bus sekolah dan hendak menyebrang jalan ketika suara klakson mobil terdengar memekakkan telinga. Gadis itu merasa ada yang menariknya dan ia terjatuh, tapi aneh, dirinya tidak merasa sakit sedikit pun. Nayoung membuka kedua matanya yang sempat terpejam karena refleks serta-merta mendapati wajah Sehun tepat di depan wajahnya.

Mereka benar-benar dalam posisi yang canggung, Sehun berada di bawah sebagai bantalan peredam jatuh Nayoung. Sementara gadis itu tidak juga bangkit dari posisinya. Mungkin Nayoung masih syok atau karena alasan lain yang hanya dirinya dan Tuhan yang tahu.

Sehun buru-buru berdiri dan berdeham beberapa kali akibat atmosfer canggung yang sempat melanda mereka tadi. Nayoung sendiri, gadis itu berusaha menyembunyikan wajahnya yang sudah semerah kepiting rebus.

Pria Oh itu kembali berdeham sebelum akhirnya berbicara, “Em…kau tidak apa-apa?” Nayoung terkesiap mendapat pertanyaan dari Sehun. Nayoung, tenangkan dirimu, dia hanya Oh Sehun, bukan monster, batinnya. Alih-alih menjawab, Nayoung justru hanya mengangguk cepat.

“Bagus, karena aku rasa kita perlu meluruskan sesuatu di sini,” Sehun kembali berujar. Nayoung hanya menautkan kedua alisnya bingung. Belum sempat dirinya memberikan respon, Sehun sudah menyeret Nayoung. Dan sepanjang memori Nayoung berputar, terakhir kali pemuda itu menariknya, Nayoung harus rela sekolahnya luluh lantah dengan tanah akibat kebakaran. Benar-benar ingatan yang tidak ada bagus-bagusnya sama sekali.

 

****

 

Nayoung masih berusaha mencerna penjelasan Sehun beberapa menit yang lalu. Gadis itu tidak percaya bahwa Sehun benar-benar berbeda dari orang pada umumnya. Berbeda secara harafiah. Sekarang Nayoung tahu mengapa Sehun bisa mengetahui rumahnya saat pertama kali mereka bertemu, atau bisa mengetahui kejadian naas itu sebelum peristiwa itu bahkan belum terjadi, dan jangan lupakan waktu Sehun menyelamatkan Nayoung saat hampir tertabrak mobil tadi.

Gadis berdarah Korea itu baru menyadari kalau selama ini Sehun selalu membuatnya teerhindar dari masalah. Dan kenapa baru sekarang Nayoung menyadari kejanggalan ini? Dari awal gadis itu harusnya sudah curiga dengan perangai Sehun yang suka muncul tiba-tiba tanpa diundang. Mungkin dirinya hanya terlalu tidak mempermasalahkan kehadiran Sehun. Toh, tidak pernah merugikan juga mendapati teman sebangkunya itu hadir di dekatnya.

Awalnya Nayoung menjadi sedikit takut dengan Sehun. Meski akhirnya gadis itu percaya kepada Sehun setelah Sehun bercerita panjang lebar dan Nayoung hanya mendengarkan sambil sesekali mengangguk.

“Jadi…kau itu peramal?”

Clairvoyant tepatnya, kapabiltas kami jauh lebih superior daripada peramal. Aku bahkan bisa melakukan pembajakan otak orang lain dengan mudah. Sudah sejak lama kami hidup di antara kalian manusia biasa dan kalian tidak pernah menyadarinya.” Nayoung merosot menyandarkan diri pada bangku taman. Mereka sedang berada di taman kota terdekat omong-omong. Sehun memutuskan untuk menyeret Nayoung ke taman dan mendengarkan penjelasannya. Benar-benar merepotkan. Rahasia yang Sehun tutupi selama hidupnya di dunia ini akhirnya harus rela ia bongkar kepada seorang gadis berusia tujuh belas dengan embel-embel marga Im yang sekarang sedang duduk persis di sampingnya.

 

Whoa…aku tidak percaya ini,” seloroh Nayoung dengan menatap kosong ke depan. Keheningan kembali berkuasa selama beberapa saat sebelum Nayoung menyadari sesuatu, lantas membenarkan posisi duduknya dan menatap Sehun dengan sorot tajam.

 

“Kau tahu sekolah akan kebakaran dan kau hanya diam saja?” Sehun hanya mengedikkan bahunya. Membuat Nayoung kesal setengah mati. Apa Sehun hanya bisa menjawab dengan mengedikkan bahunya itu? Sungguh menyebalkan. Nayoung bahkan tidak membutuhkan satu kalimat penuh sebagai jawaban. Ya atau tidak yang keluar dari kedua bibir Sehun bahkan sudah lebih dari cukup bagi Nayoung.

“Kenapa kau tidak beritahu yang lain? Apa kau tidak kasihan dengan anak sekolah kita yang terluka?”

“Apa kau pikir mereka akan mendengarkanku? Mereka menganggapku tidak waras, ingat? Dan itu….menjadi salah satu alasanku mengapa aku tidak ingin mempunyai teman.”

“Apa?”

“Karena aku bisa melihat apa yang akan terjadi, aku tidak ingin mengkhawatirkan setiap nasib orang yang kukenal. Membuang waktu dan tenaga. Well, setidaknya jika tidak ada yang peduli denganku maka aku juga tidak harus peduli pada mereka, bukan?” jelas Sehun panjang lebar. Nayoung masih saja terpaku di tempatnya. Dirinya masih tidak percaya ada manusia dengan kemampuan seperti Sehun dan kalau Nayoung tidak salah dengar, tadi Sehun bilang masih banyak orang yang memiliki kemampuan sepertinya. Hanya saja setiap clairvoyant mempunyai kemampuan yang berbeda-beda. Astaga, Nayoung merasa dirinya sudah mulai gila.

 

“Lalu bagaimana denganku? Jadi selama ini kau peduli padaku?” goda Nayoung. Gadis itu menampilkan seringai menggodanya pada Sehun yang dibalas desisan oleh orang di sampingnya itu. Tapi tanpa disangka, Sehun membalas pertanyaan Nayoung.

“Entahlah, kau….berbeda dari yang lain. Aku juga tidak begitu mengerti mengapa aku peduli dengan gadis bodoh sepertimu,” jawab Sehun seadanya. Nayoung sedang tidak bisa marah saat ini. Pikirannya terlalu kalut dengan fakta bahwa teman sebangkunya itu memiliki kemampuan yang belum pernah ia dengar sebelumnya.

Ada jeda keheningan beberapa saat sebelum Nayoung tiba-tiba menoleh ke arah Sehun—lagi. “Jangan bilang kau juga bisa membaca pikiran orang lain,” sergah Nayoung penuh curiga. Sehun mengangguk dan gadis yang duduk di sampingnya itu hanya bisa membelalakkan matanya sempurna. Jadi selama ini Sehun bisa membaca apa pun yang dipikirkannya? Nayoung membatin.

“Kalau pikiranmu sedang kosong seperti sekarang aku dengan mudah bisa mengetahui apa saja isi otak udangmu itu. Tapi sedikit sulit jika orang lain sedang tidak melamun,” seloroh Sehun yang membuat Nayoung semakin terkesiap. Dirinya bahkan belum memverbalkan pertanyaan yang masih berputar-putar di kepalanya tapi seorang Oh Sehun langsung dengan mudah menjawabnya.

Daebak,” Nayoung hanya bisa menggumam mendengar jawaban Sehun. Sepertinya Nayoung harus mulai waspada dan tidak boleh melamun jika berdekatan dengan Pria Oh yang satu ini.

 

“Tapi kau melamun terus daritadi, Nayoung,” ucap Sehun polos. Membuat Nayoung kembali melongo tidak percaya menatap Sehun.

YA! Berhenti melihat isi kepalaku!”

 

FIN

A/N :

Ini udh akhir beneran. Ciusan, ga boong deh. Maaf akhiranny absurd jg, ya sebelas-dua belas sm authornya lah, ya :v. Bingung mau ngomong apa wkwkwk. Pokoknya, terima kasih banyak utk yg udh ngikutin cerita absurd ini dr awal sampe akhir. Semoga ga muntah, kl dilain waktu ketemu FF-ku lg, ya :’v.

Best regards,

 

Vi

2 thoughts on “Clairvoyant (Chapter 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s