Thank You

Author             : Nikky-Chan

Tittle                : Ada Yang Aneh Dengan Baekhyun

Cast                 : Baekhyun, Chanyeol, Jihyun, dll.

Genre              : Family, Slide of Life, Tragedy (Maybe)

Lenght             : OneShoot

Rating             : T ajah..

 

Hari Pertama

 

Baekhyun terbangun dan semua gelap di matanya. Mengumpat dalam hati merutuki kesialannya. Tangannya merogoh saku jaket yang dikenakannya, mengambil HP dan melihat jam yang tertera.

“Sial. Sebentar lagi ujian masuk di mulai”

 

Baekhyun berangkat untuk mengikuti Ujian masuk Universitas Seoul menggunakan kereta. Dan di tengah jalan sebuah gempa membuat kereta bergoyang, sepertinya setelah itu dia tidak sadarkan diri.

 

Hanya cahaya kecil yang tertangkap oleh matanya. Baekhyun bangun dan melihat keadaan sekitar. Banyak orang yang terluka dan bahkan tidak sadarkan diri.

 

“To-long…”

 

Suara seseorang yang tengah merintih kesakitan tertangkap indra pendengarannya. Sepertinya pemuda itu mengecek keadaan kereta padahal dirinya sedang terluka. Baekhyun bergegas berjalan ke arahnya.

 

“Kau baik-baik saja? Apa kau merasa pusing?”

 

“Tidak”

 

Baekhyun merobek kain yang menggantung di jendela untuk digunakan menutup luka di kepala pemuda itu. “Apa kau merasa mual? Kau masih sadarkan?”

 

“Aku tak apa. Apa kau dokter?”

 

“Bukan, aku hanya siswa biasa”

 

Setelah selesai membalut luka pemuda itu, Baekhyun memapahnya dan membawanya keluar. Keduanya terdiam mendapati jalan keluar mereka tertutup reruntuhan terowongan. Baekhyun meraih ponselnya, siapa tahu bisa di gunakan untuk menghubungi seseorang untuk meminta bantuan.

 

“Sial tidak ada sinyal?”

 

“Siapa namamu?”

 

Baekhyun menoleh, “Byun Baekhyun, seharusnya hari ini aku mengikuti ujian masuk universitas. Tapi sepertinya tidak bisa ya..”

 

Pemuda yang dipapahnya mencoba tersenyum sambil menepuk pundaknya. “Aku Chanyeol. Sepertinya nasibmu sedang sial ya Baek. Tapi akan lebih sial lagi kalau kau terjebak disini selamanya dan tidak bisa keluar.”

 

“Kau benar”

 

Mereka kemudian membantu penumpang lain untuk keluar dari kereta. Masinis keretanya juga terluka cukup parah sehingga mereka harus membopongnya dengan hati-hati. Baekhyun membantu mengobati luka-luka para korban dengan peralatan seadanya. Kebetulan sekali dia akan mengikuti ujian untuk kuliah kedokteran. Jadi kalau hanya perlatan P3K saja sih dia membawanya di dalam tas.

 

“Terima kasih..” Han Tae Kang, masinis kereta yang sepertinya menderita luka paling parah. Baekhyun dan Chanyeol bahkan harus menjebol kursi dan membawanya keluar agar pria paruh baya itu bisa duduk dengan nyaman.

 

“Bagaimana kalau kita mencoba mencari jalan keluar lagi?” usul Chanyeol.

 

“Bukankah jalannya sudah tertutup?” Baekhyun mengeluarkan ponselnya, dan masih tidak ada sinyal disana. “Sinyalpun tidak ada, kita tidak bisa memanggil bantuan”

 

“Sisi yang satu lagi?”

 

Baekhyun tersenyum senang, “Kau benar”

 

Kedua pemuda itu langsung berlari menuju harapan mereka satu-satunya saat ini.

.

.

Oppa, bagaimana dengan sekolahmu?” Byun Jihyun. Alasan seorang Byun Baekhyun untuk tetap hidup di dunia yang kejam ini. Gadis manis yang selalu ceria itu merupakan adiknya sekaligus keluarga kandung satu-satunya yang dimilikinya. Tapi sayangnya, sejak kecil tubuhnya lemah. Jadi hanya bisa berbaring di tempat tidur setiap harinya. Setahun ini kondisinya memburuk, jadi dia membawa Jihyun ke rumah sakit.

 

“Tak ada yang spesial. Mereka bercanda yang aku tidak mengerti dimana letak lucunya. Bermain game dan nongkrong di kafe, kupikir hal itu tidak ada gunanya. Hanya membuang-buang waktu saja”

 

“Bukannya itu menyenangkan? Bisa bermain dengan teman-teman”

 

Baekhyun tersenyum sendu. Jika saja dia bisa jujur, setiap hari dia harus bekerja untuk mencari uang. Untuk hidupnya, dan pengobatan adiknya. Pemuda itu bahkan tidak peduli bahwa dia tidak bisa makan dengan teratur. Pulang ke rumahpun hanya untuk tidur saja.

 

“Lebih menyenangkan lagi jika kau ikut bersamaku”

 

“Yah.. seandainya aku bisa. Kita pasti bisa bermain bersama. Tapi…”

 

Melihat perubahan raut wajah adiknya, Baekhyun langsung membuka tasnya dan mengambil sesuatu disana.

 

“Ngomong-ngomong… ini” Baekhyun menyerahkan sebuah bungkusan coklat pada adiknya “Ini adalah seri ketiga dari novel My Soul, karya Kim Joon Myeon bukan?”

 

“Kau benar. Terima kasih Oppa

 

Baekhyun tersenyum, mengusak rambut adiknya gemas. Dalam hati selalu merapalkan doa agar adiknya bisa sembuh dan menikmati harinya seperti gadis-gadis kecil seusianya. Berlarian, bermain ayunan, bermain pasir, sepertinya Jihyun tidak pernah melakukan hal itu karena tubuhnya yang lemah.

.

.

.

Hari Kedua.

 

Mau tidak mau, semua menunjuk Baekhyun sebagai pemimpin. Karena pemuda itu yang membantu untuk mengobati keluhan-keluhan sakit dari para korban lain. Pembagian makanan dan minuman seadanya pun diberikan secara rata.

 

“Kita pasti selamat. Aku yakin itu” padahal dua jalan keluar mereka sudah ditutupi bebatuan.

 

Han Tae Kang tersenyum melihat semangat masa muda Baekhyun. Jadi teringat masa mudanya sendiri yang tidak kenal dengan yang namanya putus asa.

 

“Aku sudah tua. Tidak selamatpun tidak masalah. Di rumah, istri dan anakku mungkin sedang khawatir saat ini. Tapi menjadi masinis merupakan bagian dalam hidupku, mati sekarangpun tak masalah” katanya.

 

“Mana boleh seperti itu? Hidup itu harus diperjuangkan, bukan karena kau begitu mencintai pekerjaanmu jadi kau rela mati selama itu di tengah-tengah menjalankan tugasmu. Bagaimana dengan anak dan istrimu?”

 

Tae Kang terkekeh di tengah rasa sakit yang mendera kepalanya. Matanya melirik ke arah sepasang muda-mudi yang saling menguatkan satu sama lain. Mereka duduk bersama dengan tangan yang saling bertautan. Bersyukur mereka tidak mengalami luka yang parah seperti dirinya. Ah, apa jika ada istrinya di saat seperti ini, mereka akan seperti itu juga. Menyalurkan rasa aman di tengah-tengah kegalauan hidup yang di ambang kematian. Pria tua itu geli sendiri dengan pemikirannya. Istrinya terlalu baik untuk bersikap seperti itu. Palingan istrinya akan terus-terusan mengomel, menceramahi tingkahnya yang terlihat lebih mencintai pekerjaan dibandingkan keluarga. Tapi di samping itu, juga tidak bisa berhenti menangis karena penderitaan yang tengah di alami suaminya.

 

“Hey kau yang disana. Apa yang kau bawa?” teriak seorang pemuda. Baekhyun tidak tahu siapa namanya. Seorang pemuda lain keluar dari kereta dengan membawa beberapa botol air. Hanya dengan melihatnya saja dia bisa menyimpulkan apa yang sedang terjadi. Pemuda itu mencuri botol air persediaan mereka. Diapun bergegas berlari diikuti Chanyeol yang mengetahuinya juga.

 

BRUK!

 

Air yang dibawanya jatuh dan tumpah terbuang begitu saja.

 

“APA? KALIAN MAU MENGHINAKU KARENA MELAKUKAN INI? SILAHKAN SAJA” teriak pemuda itu.

 

“Lihat, apa yang dilakukannya. Dia bahkan membuat kita kehilangan air yang sangat berharga saat ini.” Ujar seorang wanita.

 

Baekhyun menghela nafas. Hal seperti ini sudah sewajarnya terjadi. Jika saja dirinya tidak berpikir waras, mungkin dia akan melakukannya juga. Tapi mungkin harus siap-siap saja di hajar orang-orang. Mau lari kemana? Kan tidak ada jalan keluar.

 

“Tidak apa. Air yang terbuang itu adalah bagianku, aku tidak akan minum demi kalian. Jadi kumohon hentikan pertengkaran ini. Ini bukan saatnya kita untuk bertengkar.”

 

Kemarahan orang-orang tak benar-benar pudar, hanya saja mereka memilih diam setelah mendengar Baekhyun berkata seperti itu dan kembali beristirahat di tempat mereka tadi. Baekhyun berdecak kagum dalam hati. Ah, bisa-bisanya mereka masih memikirkan diri sendiri di saat seperti ini.

 

“Tak apa Baek, kau bisa mengambil bagianku setengahnya”kata Chanyeol.

 

“Maaf ya”

 

Chanyeol merangkul pundaknya, “Bukan salahmu bodoh”

.

.

.

Baekhyun memasuki kamar rawat adiknya secara diam-diam ketika jam besuk habis. Dia sudah berjanji untuk membawanya jalan-jalan di malam tahun baru. Salju tidak turun terlalu lebat, Jihyun pasti bisa bertahan.

 

“Kita mau kemana?” tanya Jihyun.

 

“Hmm.. kemana ya? Bagaimana kalau ke taman kota, disana ramai dan banyak lampu yang berkelap-kelip”

 

Baekhyun menggendong Jihyun di punggungnya. Berjalan diam-diam keluar dari rumah sakit.

 

Di luar, banyak orang yang berjalan kesana-kemari. Lampu yang berkelap-kelip dan salju putih bersih yang turun dari langit. Sekarang masih jam 10 malam masih ada waktu dua jam lagi sebelum pesta kembang api dimulai.

 

“Disini dingin sekali…” gumam Jihyun.

 

Baekhyun terkekeh. Tentu saja dingin, mereka sedang berada di jalanan di musim dingin pula. Kalau mau hangat, ya di ruang rawat Jihyun tadi. Tapi pemuda itu yakin, adiknya akan terus merasa bosan sepanjang waktu disana. Karena itulah dia nekat membawa Jihyun keluar di cuaca seperti ini. Dia juga sudah memakaikan adiknya beberapa lapis jaket tebal agar tidak kedinginan.

 

Seorang pria berbalut pakaian santa memberi mereka sebuah balon. Jihyun menerimanya dengan senang hati. Berkali-kali tergelak santa berkulit hitam dengan perut buncit tadi. Padahal biasanya kan kulitnya putih, gumam Jihyun.

 

“Apa kau mau membeli sesuatu?” tanya Baekhyun.

 

“Hot Chocolate bagaimana?”

 

“Memang boleh?”

 

“Kan untuk menghangatkan tubuh, tentu saja boleh”

 

Baekhyunpun berjalan membawa adik di gendongannya memasuki sebuah cafe. Lalu memesan dua gelas cokelat panas untuk mereka. Diapun membawa adiknya pada salah satu meja kosong di cafe itu. Karena ini memang sudah janjinya, dari kemarin-kemarin Baekhyun sudah menyiapkan uang untuk menyenangkan adiknya.

 

Keduanyapun mengobrol, mengomentari beberapa pengunjung yang terlihat bermesraan atau bertingkah konyol tak jauh dari meja mereka. Terbawa suasana hingga melupakan penderitaan yang mereka rasakan selama ini. Tak lama kemudian seorang pelayan datang dengan sebuah nampan. Dua Hot Chocolate dan semangkuk kue kering yang masih hangat. Jihyun berterima kasih dengan senyum lebar. Membuat si pelayan mau tidak mau gemas dan mengusak rambut gadis kecil itu.

 

“Ahh.. Hot Chocolate memang sangat nikmat”

 

“Apa kau senang?”

 

Jihyun mengangguk, “Tentu saja” jawabnya sambil menunjukkan deretan gigi rapinya.

.

.

.

Hari kelima.

 

Keadaan terlihat semakin suram. Persediaan makanan tinggal sedikit dan tidak cukup untuk dibagikan ke seluruh korban.

 

Di tengah-tengah tenaga yang semakin menipis, Baekhyun memfokuskan dirinya untuk merawat masinis tua yang semakin pucat dari hari ke hari. Meskipun masih bernafas, tapi sudah tiga hari ini Han Tae Kang tidak sadarkan diri.

 

“Han Tae Kang-sshi… bertahanlah.” Pekik Baekhyun yang melihat pria tua itu kesulitan bernafas. Menarik perhatian korban lain yang kini menatap mereka nanar. Semuanya menundukkan kepala pasrah. Mereka sudah berjuang untuk bertahan hidup hingga hari ini dengan persediaan seadanya. Tapi pada akhirnya salah satu dari merekapun mati. Han Tae Kang tidak bergerak sama sekali. Dia memang sudah tidak kesulitan bernafas lagi.Tapi ketika Baekhyun memeriksa lebih lanjut, tak ada lagi denyutan di nadinya.

 

Habis sudah hidup mereka. Mau berjuang sekuat apapun. Dengan posisi mereka seperti sekarang, sudah tidak ada gunanya lagi. Sekalipun ada seseorang yang mengerti ilmu kedokteran di antara mereka. Kalau tidak ada makanan, apa yang bisa mereka gunakan untuk bertahan hidup di dalam terowongan kereta seperti ini.

 

Baekhyun menatap wajah damai masinis tua itu dengan air mata yang mengalir. Merasa gagal melakukan kewajibannya, meskipun dari awal dia tahu pria tau itu bahkan sudah menyerah sebelum dia memberinya pertolongan pertama. Chanyeol yang melihat teman yang dikenalnya beberapa hari ini menangis, ikut duduk di sampingnya sambil merangkul pundaknya memberi semangat. Menyampaikan bahwa perjuangannya itu tidaklah sia-sia. Karena setidaknya Han Tae Kang tidak benar-benar putus asa dan berjuang sampai akhir hidupnya.

 

“Kau sudah melakukannya dengan baik Baek. Kami semua bangga dan berterimakasih padamu”

.

.

.

Hari ketujuh.

 

Baekhyun bahkan sudah tidak kuat mengangkat tubuhnya. Sudah tidak ada makanan dan minuman sejak kemarin. Mereka semua hanya bisa terbaring lemah di atas tanah sambil memandang langit-langit terowongan yang terlihat hampa.

 

“Bantuan pasti akan segera datang, bertahanlah Baekhyun..” suara Chanyeol yang terdengar lirih itu seolah mengisyaratkan pemuda itu masih memiliki keyakinan bahwa mereka pasti selamat.

 

Tapi sudah seminggu dan ini sudah melebihi batas. Bantuan tidak kunjung datang. Tidak ada tanda-tanda batu-batuan yang menutupi jalan keluar akan terbuka. Dengan sisa tenaganya Baekhyun meraih sakunya dan mendapatkan formulir kecil untuk mendonorkan organ tubuh. Setidaknya, jika harus mati disini, Baekhyun harus melakukan sesuatu yang berguna. Keinginannya menjadi dokter memang tidak tercapai. Tapi dengan mendonorkan organ tubuhnya yang selamat, diapun juga bisa menyelamatkan nyawa orang lain.

 

Baekhyun melingkari beberapa persyaratan yang menyatakan bahwa dirinya sehat-sehat saja sebelum meninggal. Tidak memiliki riwayat penyakit mematikan atau apapun. Melihat Baekhyun yang berjuang sampai seperti itu, Chanyeolpun berteriak dengan sisa tenaganya yang masih ada agar seluruh korban yang masih sadarkan diri melakukan hal yang sama seperti Baekhyun. Mungkin memang sudah tidak ada jalan lain lagi. Semua orangpun melakukan hal yang sama seperti Baekhyun dengan tangan gemetar.

 

‘Tuk’

 

Pulpen yang di pegang Baekhyun terjatuh bersamaan dengan jatuhnya kerikil-kerikil kecil yang menutupi jalan keluar .

 

Brruuukk.. brukk!

 

Beberapa batu besarpun ikut terjatuh, memperlihatkan secercah cahaya yang menyinari wajah Baekhyun yang menatap kosong langit-langit terowongan. Chanyeol berusaha bangkit dari posisi berbaringnya.

 

“Baek, bantuan sudah datang. Sebentar lagi kita akan selamat..”

 

Tapi Chanyeol tidak mendapat respon apapun selain tatapan kosong Baekhyun. Dengan isak tangis, Chanyeol bangkit dan berjalan menuju tubuh Baekhyun yang terkulai lemas. Mengguncang-guncang tubuhnyapun Chanyeol tak mendapatkan respon dari temannya itu. Beberapa korban lain mulai terdengar terisak. Bahkan seorang gadis SMA yang selalu bersama dengan kekasihnya itupun menangis dengan keras.

 

“Padahal bantuannya sudah datang, seharusnya kau bertahan sedikit lagi. Bukankah kau mau mengikuti ujian masuk universitas agar menjadi seorang dokter..”

 

Beberapa tim penolong berdiri tak jauh dari mereka dengan memasang wajah menyesal. Apalagi melihat seluruh korban gempa yang terjebak itu menangis.

 

“Apa yang harus kuucapkan tentang semua ini?” Chanyeol menghapus air matanya dengan kasar, dan mengusap ingusnya dengan lengan bajunya yang kotor. “Terima kasih Baek, kau sudah melakukan tugasmu dengan baik.”

.

.

.

Baekhyun membawa kembali Jihyun di punggungnya. Kembali menapakkan kaki di jalanan dingin. Semakin malam rasanya semakin dingin. Tapi Baekhyun terus berjalan, Jihyunpun tetap merangkulkan kedua lengannya di leher Baekhyun dengan satu tangan membawa balonnya.

 

“Oppa.. terima kasih. Hari ini menyenangkan sekali.”

 

“Hmm.. tentu saja. Kalau kau mau, aku akan bekerja lebih keras lagi mulai sekarang. Kita akan lebih sering keluar bersama seperti sekarang. Menikmati Hot Chocolate di cafe dan juga kue-kue yang masih hangat. Ah.. kalau kau mau tahun depan aku bisa menggendongmu lagi lalu kita akan berkeliling seperti sekarang.”

 

“Hmm.. tapi sekarang aku mengantuk.”

 

Baekhyun tersenyum pedih. “Jangan tidur dulu Jihyun-ah. Kita masih belum melihat pohon natal super besar yang ada di tengah kota. Oh iya, kalau tidak salah di dekat pohon itu ada sebuah toko boneka yang bagus. Kalau kau mau aku bisa mengajakmu kesana dan membeli salah satunya. Aku tahu kau sangat suka boneka beruang bukan.”

 

Balon di tangan Jihyun terlepas. Melihat balon berwarna biru itu terbang Baekhyun hanya diam saja, kemudian memilih melanjutkan bicaranya.

 

“Aku baru ingat, Novel kedua karya Kim Min Seok yang berjudul Oblivion akan segera rilis. Aku sudah memesan pada pemilik toko buku tempatku biasa membeli novel agar mereka mau menyisakan satu novelnya untuk kubeli. Untung saja aku berlangganan pada mereka, jadi mereka dengan senang hati menerima permintaanku. Di tambah lagi, bos di tempat kerjaku sekarang lebih baik daripada bos-bosku yang sebelumnya. Dia mengijinkanku untuk lebih sering menjagamu karena lagipula usiaku ini masih terlalu muda untuk bekerja. Jadi dia memperlakukanku dengan baik seperti anaknya sendiri. Dia bilang, melihatku seperti melihat dirinya sendiri di masa lalu. Lalu…”

 

Baekhyun sadar. Sepanjang perjalanan malam itu dia hanya bicara sendiri. Adiknya sudah tidur sejak tadi setelah mengucapkan ‘terima kasih’ seperti biasanya. Dia terus melanjutkan bicaranya, sekalipun adiknya tidak menyahuti. Sekarang, besok ataupun besoknya lagi. Dan besoknya lagi… lalu besoknya lagi.

 

END

 

Referensi kisah hidup Otonashi Yuzuru sebelum meninggal di anime Angel Beats! Bukan referensi sih.. ini kisah hidupnya versi Nikky-Chan. Ngetik sambil ngantuk-ngantuk sambil dengerin ‘Shining in the sky’ OSTnya anime Clannad. Bayangin kalo Yuzuru itu Baekhyun lumayan nyesek juga /hikz..

Sebenarnya fict ini udah jadi dari bulan lalu gara-gara baper nonton Angel Beats! Hehehe… maafin kalo ada typo yak~ suer… ini ngetiknya ngantuk-ngantuk, tapi pas bagian akhir sebenere juga gak tega /hikz (2)… karena versi Nikky-Chan, maunya di pakek Happy End. Tapi kayake gak seru/di gampar

Mian kalau kurang feel.. aku lebih sering bikin humor sih sebenere, hehehehe

Iklan

4 thoughts on “Thank You

  1. Dari awal baca langsung ngeuh sama anime angel beats 😂 langsung inget sama tenshi yang baru di tembak yuzuru tapi detik itu juga pergi ninggalin yuzuru buat selamanya 😭😭

  2. Hiks hiks……walopun sedih tapi ceritanya keren.ga semua cerita berakhir bahagia ….dan salut buat kamu authornim yang telah rela salah satu tokoh utamanya tidak selamat…..two thumbs up……keep writing

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s