Unpredictable You (Chapter 10)

unpredictable you2

Unpredictable You (Chapter 10)

 

Title                        :               Unpredictable You

Author                  :               Mee-icha

Length                   :               Chapter

Genre                     :               School Life, Friendship

Main Cast              :               Nam Ji Hyun, Kris , Kai

Support Cast         :               Min Young, and others (find when you read it ^_^)

Author Note       :               Well, I am back. Here I am again. Sorry for late update. There is many things happened in my life made me quite hard to continue my writing for a while. For those who’s always waiting for this FF, I sent you my deep sorry. Well, enjoy the story🙂

Nah, cerita kali inicumaberisiceritapendeksaja.Akubenar-benarkehilangan mood dan ide melanjutkanceritaini.Banyak ide berseliwerandikepalakutapibelumnemubenangmerahjikadicurahkandisini.Apalagi drama yang terakhirkutontonadalah DOTS, yang katanyaadalahsalahsatudramafenomenal.Jadilah yang berseliwerandiotakkutentang army gitu.Hahaha…

Tapikuharapdenganniatbaiktetapmelanjutkanceritacukupmembuat kalian puaswalauhanyasementara.Semogaakubisacepatmenemukansemangatdan mood melanjutkanceritanyalebihbaiklagi.

Last but not the least. Well, I hope all of you will like it. But always feel free to tell me if you disappointed with this chapter. Well, enjoy it and don’t forget to write your comment.

^^^

“Sekarang bagaimana?” Namja itu memilih membelakangi lawan bicaranya sambil menatap sang surya masih setia bersembunyi diantara awan kelabu sejak pagi tadi.

“Apanya yang bagaimana?” Suara seorang yeoja terdengar diantara kesibukan membaca buku komik kegemarannya.

“Menurutmu, harus kuapakan anak itu?”

“Memangnya mau kau apakan lagi dia? … Sudahlah, bukannya kau sudah menakut-nakuti dia habis-habisan. Dia sudah mengaku dan kau sudah membuatnya merasakan semua hal yang kualami karenanya. Kurasa anak itu juga tidak akan berani lagi menggangguku jika aku sudah kembali sekolah nanti.” Yeojaberbalutseragampasienrumahsakititu menghela nafas jika mengingat bagaimana namja tersebut begitu mudah mengambil keputusan yang akan berdampak besar untuknya.

“Hmmm… mungkin saja dia sudah pindah sekolah saat kau masuk sekolah lagi.” Namja itu menyeringai kecil.

Oppa! Kau melakukan apa lagi padanya??” Kali ini yeoja tersebut sudah tidak bisa menahan lagi rasa kesalnya. Oppa-nya ini kadang tidak berpikir panjang untuk hal yang dilakukannya.

Namja itu langsung berbalik badan dan menatap menyelidik kepada sang yeoja yang adalah adiknya tercinta, Ji Hyun. “Ji Hyun-a, yakin kau sedang sakit? Kau terlihat sangat bugar untuk bisa berteriak seperti itu padaku.”

Oppa, aku tanya, apa lagi yang oppa lakukan padanya?” Ji Hyun terlihat berbicara sambil mengatup bibirnya. Ah, terkadang dia bisa hilang emosi karena oppa-nya ini.

Sang oppa, Lay, hanya menyandarkan tubuhnya didinding sambil melipat kedua tangannya. “Mmm… hanya memberinya sebuah kesempatan saja. Dia mau keluar dari sekolah itu dengan nama baik atau… keluar dengan tatapan mengerikan dari seluruh penjuru sekolah sambil dipermalukan. Aku baik ‘kan?” Ujarnya santai kemudian menyengir lebar.

“Ah, oppa!”

Wae? Ada yang salah? Siapa suruh dia mengganggumu?” Balas Lay tidak kalah ngotot(?).

Ji Hyun meletakkan komik yang sejak tadi dipegangnya. “Tapi itu ‘kan bukan kesalahan dia sepenuhnya.”

“Bagaimana tidak salah, jika dia memang menyukai orang itu seharusnya dia bahagia jika orang itu bahagia atau sekalian saja dia pacari orang itu? Kenapa harus melukaimu seperti ini? Dia bodoh atau apa sih!” Lay kembali membuang pandangan kesalnya kearah jendela. “Ji Hyun-a…” Ekspresi Lay berubah seketika serius “Jika, jika… Ini hanya jika. Jika dari awal kau sudah tahu penyebab semua ini adalah orang itu. Kau akan menjauhinya atau tetap bergaul dengannya?”

“Ne?”

“Kau menyukainya?” Lay memperjelas maksudnya.

Ji Hyun menyerngit memandangi Lay, mencoba mengerti arah pembicaraan oppa-nya ini. Perlahan Ji Hyun menyandarkan tubuhnya pada dinding tempat tidurnya. Dia sudah mengerti maksud pertanyaan itu. Helaan nafas terdengar pelan seraya dia mulai tenggelam dalam pikirannya sendiri.

“Aw..” Ji Hyun mengaduh sambil mengelus keningnya yang sentil(?) pelan Lay. “Oppa, wae?

“Kau terlalu serius. Umurmu masih terlalu muda untuk memasang wajah seserius itu, apalagi untuk masalah seperti ini saja.” Jelas Lay santai.

Ji Hyun hanya menatap kesal dikatakan seperti itu.

“Jangan menatapku seperti itu. Apa pertanyaanku memang terlalu sulit untukmu? Kalau suka, ya bilang suka. Kalau tidak, ya bilang saja tidak suka dan kalian cukup berteman saja. Kenapa susah sekali menjawabnya?” Lay mencibir kearah Ji Hyun “Atau… atau… jangan-jangan kau memang menyukainya.”

“A… a… aku ti… tidak pernah berkata seperti itu.” Balas Ji Hyun agak tergagap.

“Memang. Kau memang tidak berkata seperti itu. Tapi gerak-gerikmu itu sudah memperjelas jawabanmu. Well, then it’s worth it.

“What is it?”

“Kurasa dia juga menyukaimu.” Lay memperhatikan ekspresi Ji Hyun saat ucapantersebut meluncur dari mulutnya. “Sudah kukatakan ‘kan padamu, kalau dia orang yang paling panik dan khawatir dengan kondisimu. Tapi kalau ditelusuri, dia juga penyebab kau jadi begini. Atau mungkin sikapnya itu karena dia merasa bertanggung jawab atas apa yang terjadi padamu?”

Ji Hyun tidak berkata apapun. Dia kembali bungkam seribu bahasa jika pembicaraannya sudah kembali pada objek tersebut.

“Apa lagi yang kau pikirkan sampai seserius itu? Kau bingung dia menyukaimu atau tidak? Kurasa sebentar lagi dia akan datang. Kau tahu, dia tidak pernah absen sehari pun menjengukmu. Tanyakan saja langsung padanya saat dia datang nanti. Atau kau mau aku yang menanyakannya?” Lay terlihat bersemangat menggoda adiknya.

Oppa, awas saja kalau kau berani bicara macam-macam padanya. Aku akan marah besar padamu.” Ancam Ji Hyun.

Pada saat bersamaan pintu ruang inap Ji Hyun terbuka. “Bicara apa? Dengan siapa? Kenapa kau mesti marah?” Pertanyaan itu mengalir begitu saja dari mulutnya saat sudah berdiri tepat didepan ranjang Ji Hyun.

“Akhir kau datang juga. Aku lapar.” Seru Lay sambil berjalan mendekati namja yang sedang berdiri dengan ekspresi penasaran.

“Maaf Hyung, tadi aku harus mengerjakan tugas tambahan dari Kim songsaenim.” Balasnya sambil menyerahkan pizza yang sejak tadi dibawanya.

Ji Hyun memandang sikap akrab Lay pada tamunya itu dengan tatapan kebingungan. “Oppa, kau mengenal sunbae?”

“Ah… aku belum pernah cerita ya kalau anak ini adalah temanku main basket.” Ujar Lay yang sudah duduk disofa sambil mulai menikmati pizza pesanannya.

“Oh ya? Kapan kau mengenalnya?” Rasa penasaran seketika membuncah dikepalaJi Hyun namun Lay sepertinya tidak tertarik untuk menjawab pertanyaan adiknya tersebut.

“Sudah cukup lama. Panjang ceritanya kalau aku harus menjelaskan sekarang.” Ujar namja yang masih setia berdiri dihadapan Ji Hyun. Mau tidak mau Ji Hyun kembali memusatkan perhatiannya pada sosok tersebut. “Jadi, bagaimana kabarmu Ji Hyun-si?”

“Mmm, baik. Sunbae tumben kesini?” Balas Ji Hyun agak gugup.

“Tumben?” Kali ini Lay yang bersuara. “Kai setiap hari datang ke rumah sakit ini sejak kau dirawat disini. Hanya saja kau selalu tidur saat dia datang… hahaha…”

Ji Hyun seketika melebarkan matanya karena tidak percaya. “Jinjja, sunbae? Keundae, Waeyo?”

“Ne.” Jawab Kai dengan poker face khasnya. “Wae, andwae?”

Ji Hyun menggeleng cepat. “Aniyo. Keunyang…” kemudian memilih mengalihkan pandangannya kearah lain.

“Sepertinya… kau mengharapkan kehadiran orang lain ya?”

“Bukan begitu. Bukan itu maksudku.” Jawab Ji Hyun cepat, takut membuat sunbae-nya itumerasatidak nyaman.

“Memangnya apa maksudmu?” Entah ini cuma pertanyaan iseng atau benar-benar ingin tahu apa yang ada didalam kepala gadis itu.

“Ah, oh, itu, mmm… itu…” Ji Hyun hanya bisa gelagapan sambil memutar matanya ke segala arah.

“Kalian berdua sebenarnya sedang apa sih? Kai, sini makan pizza dulu. Anak itu baru bangun tidur, nyawanya masih antara ada dan tiada. Jadi tidak usah mengajaknya bicara. Kebanyakan ngawurnya.” Lay melirik singkat pada Ji Hyun yang tersenyum masam padanya. Namun, sesaat kemudian Ji Hyun terlihat mendesah lega.

Kai mulai gigitan pertamanya dengan obrolan ringan antara dirinya dan Lay. Obrolan yang dimulai dengan basa-basi pertanyaan tentang kabar dan aktifitas sehari-hari berubahmenjadi lebih seru saat memasuki perbincangan tentang tema basket. Sesekali Kai berusaha mencuri pandang pada Ji Hyun yang sedang duduk bersandar diranjangnya. Beberapa pertanyaan berlalu-lalang melintas dikepalanya tapi belumbisa berucap menyampaikannya. Satu-satunya hal yang bisa membuat tenang adalah kenyataan bahwa keadaan Ji Hyun jauh lebih baik dari hari pertamanya berkunjung keruang rawat inap tersebut.

Kai yang tanpa sadar sudah meraih potongan pizza ketiganya tiba-tiba tersedak saat pelan mendengar pertanyaan Lay. “Kai, kau kenal siswa yang bernama Kris disekolahmu?”

Setelah meneguk soft drink miliknya, Kai berkata “Waeyo, hyung?”

“Aku hanya penasaran beberapa hal tentangnya. Hmm… Dia orangnya seperti apa? Dia pemain basket juga?”

Kai hanya memainkan sisa pizza ditangannya tapi berniat menghabiskan makanan tersebut. Nafsu makannya tiba-tiba hilang saat mendengar nama seseorang yang (pernah) menjadi sahabat sejatinya itu. “Dia ketua klub basket.”

“Sudah kuduga. Postur tubuh tinggi dan atletis seperti dia memang cocok jadi pemain basket, ketua klub pula posisinya.” Ujar Lay santai sambil meraih satu lagi potongan pizza. “Berarti kalian satu klub ‘kan? Kalian pasti berteman dekat. Menurutmu, dia orangnya seperti apa?”

“Dia baik.” Jawab Kai singkat. Dia berusaha mencari jawaban se-natural mungkin namun tidak bisa dipungkiri hatinya kebat-kebit(?) tak menentu.

“Baguslah kalau begitu. Setidaknya hal itu bukan cuma asumsiku saja.”

Kai merasa dia sudah membuat kesalahan dalam hidupnya. Dengan sedikit berhati-hati, dia bertanya pada Lay “Me…mang…nya ada apa, hyung?

Lay melirik singkat pada Ji Hyun yang ternyata sedang sibuk dengan ponselnya. “Sebenarnya aku tidak ingin membahas ini denganmu, tapi aku tidak kenal dekat dengan teman satu sekolahnya adikku itu. Jadi ya hanya untuk melegakan pikiranku saja makanya aku mengatakan ini padamu. Tapi kau harus janji jangan mengatakan hal ini pada siapapun, termasuk Ji Hyun dan teman klubmu itu.” Sekali lagi Lay menatap was-was pada Ji Hyun lalu mendekatkan wajahnya pada Kai sambil berucap pelan. “Kurasa Ji Hyun menyukai si Kris itu dan sebagai namja aku bisa melihat jelas kalau si Kris itu juga menyukai adikku.” Lay kembali duduk santai dimejanya tanpa memperhatikan perubahan raut wajah Kai sama sekali.

Kai menegang dikursi duduknya sambil menatap Ji Hyun yang masih sibuk dengan ponselnya. Berat rasanya untuk sekedar menelan ludah dimulutnya. Dadanya seakan terasa terhimpit. Ada rasa sakit yang seakan menusuk ulu hatinya.

“Bagaimana menurutmu, kalau meraka jadian, mereka akan jadi pasangan yang serasi ‘kan?”

Pertanyaan Lay tersebut kembali membuat Kai memfokuskan pikiran pada namja dihadapannya itu. Tapi itu sulit. Menjadi lebih sulit saat dia mulai mencerna kalimat yang baru saja keluar dari mulut namja itu.

Hyung, aku pulang dulu. Aku baru ingat kalau eomma memintaku pulang cepat untuk membantunya. Maafkan aku, hyung. Aku pulang dulu.” Ujar Kai langsung bangkit berdiri dan keluar ruang tersebut tanpa mau menyapa Ji Hyun terlebih dahulu. Kakinya lemas setelah beberapa langkah menjauh dari ruang rawat Ji Hyun. Entah berapa lama dirinya terduduk disalah satu bangku dilorong rumah sakit tersebut.

***

“Hyung…!” Kris sedikit berteriak memanggil Lay yang siap-siap berbelok arah.

“Oh, Kris. Kebetulan kau datang, temani Ji Hyun. Aku mau mengurusi beberapa dokumen administrasi. Ji Hyun keluar sore ini.” Ujar Lay begitu Kris sudah berada dihadapannya.

“Min Young belum datang? Tadi saat jam makan siang, dia bilang akan ke Rumah Sakit untuk bertemu Ji Hyun.”

“Oh, dia sudah datang. Tapi cuma sebentar terus langsung pulang karena dapat ditelepon oleh eomma-nya. Sepertinya ada hal yang cukup penting makanya dia langsung pamit pulang begitu menutup telepon dari eomma-nya.” Lay menjawab sambil mengingat kejadian beberapa menit lalu. “Sudahlah, aku harus cepat mengurusi administrasi ini dan membawa Ji Hyun pulang. Eomma akan tiba 2 jam lagi dan dia ingin mengajak kami makan malam dirumah. Aku sudah mengatakan padamu ‘kan kalau orangtua kami tidak boleh ada yang tahu tentang masalah ini?”

Kris hanya mengangguk cepat dan dalam beberapa detik Lay sudah menghilang dibalik tikungan gedung menuju bagian administrasi. Kris melanjutkan perjalanan menuju ruang rawat inap Ji Hyun.

Kepala Ji Hyun langsung menoleh saat pintu ruang rawat inapnya terbuka. Dia terdiam beberapa detik sebelum akhirnya bersuara untuk menyapa Kris. “Oh, Hai sunbae.”

“Mmm… Hai. Bagaimana kondisimu hari ini?” Balas Kris saat sudah masuk keruang itu.

Ji Hyun memandang tubuhnya dari bawah keatas. Berantakan, pikirnya sambil mendecak pelan. Tiba-tiba saja dia menyesal membiarkan Kris melihatnya dalam kondisi seperti ini. rambut hanya terikat asal-asalan, baju seragam rumah sakit yang terlihat kusut dan sandal seadanya. “l’m good.” Ujar Ji Hyun cuek setelah beberapa saat. “Sunbae, ada apa kesini?”

Kris sudah menduga pertanyaan ini pasti akan dilontarkan Ji Hyun, entah itu serius atau sekedar basa-basi. Dan Kris sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan satu ini. “Menjengukmu, memangnya apa lagi?”

Meski sempat tertegun dengan jawaban cepat dan singkat itu, Ji Hyun akhirnya memilih mengangguk singkat, “Ah, ne. Tapi sebentar lagi aku akan check out dari sini.”

“Aku tahu. Tadi Lay hyung sudah mengatakannya padaku.” Kemudian Kris hanya bisa menelan ludah sambil mengetuk-ngetuk lengan sofa yang didudukinya. Hanya ada diam diantara mereka. Dua-duanya bingung mencari topik pembicaraan untuk mencairkan suasana awkward ini.

“Ka…”, “Sun…” Pada Kris mau mulai berbicara, ternyata bersamaan dengan Ji Hyun yang akan mulai berbicara juga. Beberapa detik kemudian kedua makhluk itu kembali diam tanpa kata, membuat keadaan semakin awkward.

Ji Hyun memutuskan untuk kembali membuka suara setelah melirik singkat pada Kris yang sedang tertunduk. “Sunbae, tadi mau mengatakan apa?”

Kris langsung mengangkat kepalanya karena tertegun. “Oh, itu. Kapan kau akan mulai masuk sekolah lagi?”

“Minggu depan, kurasa. Atau mungkin… besok supaya eomma tidak curiga dengan insiden ini.” Ji Hyun menjawab pelan. “Sunbae…”

“Ne?”

“…Gumawo.” Ucap Ji Hyun tulus saat matanya bertemu dengan mata Kris.

Kris mengangguk pelan menanggapinya. “Kenapa kau tidak lapor ke songsaenim saat insiden yang pertama itu?”

“Karena kupikir tidak akan ada yang kedua. Aku hanya ingin menjalani sekolahku dengan tenang. Lagi pula, bullying seperti ini bukan hal baru bagiku.”

“Kau sering di bully?” Spontan Kris bertanya setelah mendengar pengakuan Ji Hyun barusan.

Ji Hyun menanggapinya dengan tertawa kecil seakan-akan ucapan Kris itu adalah hal yang lucu. “Tidak sering. Tapi setidaknya setiap kali aku berganti sekolah, aku akan mengalami ini sekali disetiap sekolah.” Seketika senyum miris terpampang diwajahnya saat memory tidak menyenangkan itu berputar dikepalanya.

Kris entah kenapa hanya bisa diam terpaku melihat ekspresi Ji Hyun. Matanya menghunus(?) tajam pada mata Ji Hyun walaupun sebenarnya gadis itu masih belum menyadarinya.

Sunbae… kenapa menatapku seperti itu?” Ujar Ji Hyun begitu menyadari tatapan Kris.

Kris menghembuskan nafasnya perlahan. “Kau hebat”

“Mmm?” Ji Hyun kaget mendengar ucapan Kris.

“Apa yang bisa kubantu? Mau kubawakan tas ini?” Tunjuk Kris pada satu tas yang berada disamping kiri Ji Hyun.

“Aniya. Gwencana. Oh ya, sunbae sudah berbaikan dengan Kai sunbae?” Kris langsung berbalik kembali menoleh pada Ji Hyun.

“Aku tidak pernah menganggap bahwa aku sedang bertengkar dengannya. Aku lebih memilih menyebut kondisi ini sebagai selisih paham saja…” Kris terlihat berkontemplasi.

“Terus sunbae sudah menjelaskan selisih paham ini? Bukankah Kai sunbae sudah masuk sekolah, jadi seharusnya kalian sudah kembali berkomunikasi ‘kan?”

Kris bereaksi cepat dengan pertanyaan Ji Hyun tersebut. “Kau tahu dari mana Kai sudah masuk sekolah? Kau bertemu dengan Kai? Apa dia datang kesini?”

Ji Hyun mengangguk pelan. “Ne. Kemaren sore setelah pulang sekolah dia kesini. Malah kata Lay oppa, Kai sunbae setiap hari kesini hanya saja aku selalu sedang tidur…”

“Setiap hari?” Sergah Kris cepat.

Ne. Hal itu saja sudah cukup membuatku kaget. Ternyata ada hal yang lebih mengagetkan. Lay oppa dan Kai sunbae sudah kenal lama dan aku baru tahu kemarin.” Ji Hyun berucap polos merasa seakan dibohongi.

Kris hanya mengangguk pelan sambil menggumam tidak jelas. Pandangannya bergerak tak menentu pada setiap sudut ruang inap tersebut.

“Hei, kajja. Kita harus cepat tiba dirumah sebelum eomma. Semua tasmu, nanti biarkan saja dimobilku. Kita tidak punya waktu untuk mampir ke apartemenmu dulu. Jam segini jalanan sudah mulai macet.” Lay menerobos masuk diiringi dengan ucapan panjangnya tanpa memperhatikan apa yang sedang berlangsung disana. “Kalian berdua sedang apa sebelum aku masuk?” Ucap Lay seakan mencurigai sesuatu.

“Kami hanya mengobrol.” Balas Ji Hyun santai.

“Oh ya?” Kali menatap Kris

Ne, hyung. Kami hanya mengobrol. Tidak lebih dan tidak kurang.” Jawab Kris cepat dan tegas.

“Padahal kalau lebih juga nggak masalah. Aku setuju kau dengan anak itu…” Lay menunjuk Ji hyun dengan gerakan dagunya.

“Oppa!”Bentak Ji Hyun

“Ne?”Kris tertegun bercampur bingung.

“Jangan dengarkan. Dia suka ngomong seenaknya.” Ji Hyun menatap Kris. Kemudian langsung menarik Lay keluar sebelum dia dipermalukan oleh oppa-nya lebih jauh.

To Be Continued

So, how is it after you read it?

Sorry for typo

 

One thought on “Unpredictable You (Chapter 10)

  1. Uwaa authornim finally youre back! Aku inget banget nih sama FF inii , salah satu FF yang pertama kali aku baca pas tau fanfiction, tapi ga di lanjut” tapi akhirnya lanjut dehhh senenggg 😘😍

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s