First Love (chapter 5)

first-love

First Love – chapter 5

Author       : Mardikaa_94

Genre         : school life, romance, friendship

Length       : multi chaptered

Rating        : PG-15

Main Cast  : Song Chae Yoon (you), Oh Sehun, Park Chanyeol, Kim Jongin, Byun Baekhyun

~happy reading~

“waah, sepertinya matahari itu akan naik ke permukaan.”

“iya. Kau mau lihat? Aku temani.” Chae Yoon tersenyum pada Nara. Menggandeng lengannya dan berjalan menuju pintu depan.

“ya! Kalian mau kemana?” Jongin berlari menghampiri mereka berdua. Rambutnya masih basah dan badannya hanya tertutup piyama dan handuk.

“kenapa? Kau menghawatirkanku, ya?” Nara tersenyum menggoda kearah Jongin, sambil sesekali mencolek lengan Jongin.

“sudahlah. Lupakan.”

~000~

“waaah indahnyaaa.” Nara membentangkan tangannya dan menghirup udara bebas sebanyak yang dia bisa. Merasakan sejuknya angin laut saat pagi hari. Ditambah cuaca dingin seperti ini. Dibelakang sana, Chae Yoon hanya bisa merapatkan jaketnya dan tersenyum simpul.

Dia tidak seburuk yang mereka pikirkan.

“ya. Kim Nara.” Nara menoleh. Mendapati Chae Yoon yang sedang berjalan menghampirinya. Keduanya sama-sama tersenyum. Disaat mereka sudah berdiri sejajar, Chae Yoon berkata tanpa menoleh pada Nara.

“kenapa mereka menganggapmu menyebalkan?”

Nara tersenyum sambil memandang matahari yang siap menampakkan dirinya dibumi.

“entahlah. Mungkin—karena kejadian itu.”

Kini, kedua alis Chae Yoon berkerut. Dia segera menoleh ke sumber suara. Mendapati Nara yang sedang tersenyum kearahnya.

“kejadian—apa?”

~000~

“ya! Jongin. Itu punyaku! Kembalikan!” seorang bocah kecil yang sedang berusaha mengambil mainannya dari tangan temannya mulai merengek karena mainannya tidak berhasil dia dapatkan.

“Baekhyun-ah, bisakah kau membantuku?” kali ini, bocah itu meminta bantuan pada temannya yang lain. Melihat tidak ada respon dari temannya itu, dia mendengus sebal. Mengambil ancang-ancang untuk menjitak kepala temannya. Dan pergerakannya terhenti kala kedua telinganya mendengar suara ribut dari luar kamarnya.

“apakah kamu tidak tahu rasanya menjadi aku? Aku lelah! Aku lelah hidup miskin bersamamu, Park Jongsuk!”

“mengapa kamu seperti ini?! Bukankah kita sudah berjanji untuk—“

“persetan dengan janji sialan itu! Aku muak dengan semua ini!”

“bagaimana dengan Chanyeol?”

Hening. Tidak ada suara setelahnya. Ketiga bocah yang tadi mendengarkan hanya diam ditempat. Tidak berminat membuat suara atau pergerakan. Sampai salah satu dari mereka memecah keheningan.

“pulanglah teman-teman, kita bermain lagi besok.” Bocah itu berkata pada kedua temannya dengan senyuman. Tapi, kedua temannya lebih dari peka untuk mengetahui maksudnya yang sebenarnya.

“baiklah, Chanyeol-ah. Kami pulang dulu. Annyeong.”

Jongin dan Baekhyun meninggalkan Chanyeol sendiri. Didalam kamarnya yang luas dan dingin. Chanyeol kecil hanya bisa menangis. Menangis dalam diam dan mengerang dalam hati. Rasanya sakit. Sakit sekali sampai untuk bernapas saja rasanya sulit. Kenapa orangtuanya begitu jahat?

Sampai suatu hari, saat Chanyeol baru pulang dari sekolah. Dia melihat semuanya. Dia melihat dengan matanya sendiri. Mendengar dengan telinganya sendiri. Dan sakit dengan hatinya sendiri.

Didepan sana, di dalam kamar orangtuanya, Chanyeol melihat mereka bertengkar lagi. Tapi kali ini berbeda.kali ini, menurut Chanyeol, lebih menyeramkan dan menyakitkan dari biasanya.

“kenapa kamu melakukan ini, Park Cheonsa?!”

“jangan panggil aku dengan margamu lagi! Namaku Lee Cheonsa!”

“aku mencintaimu! Siapa yang akan mengurus Chanyeol nanti?”

Mereka sudah berada didepan pintu kamar. Menyudahi aktivitasnya kala melihat Chanyeol yang sedang berdiri mematung di ujung tangga. Cheonsa terdiam. Matanya menatap Chanyeol lekat. Meluapkan semua rasa sayang pada anak semata wayangnya. Dia berjalan menghampiri Chanyeol. Meninggalkan  Jongsuk dibelakang sana. Tangannya terbuka lebar, hendak memeluk malaikat kecil yang sangat dicintainya.

Tapi pergerakannya terhenti saat Chanyeol melangkah mundur. Senyum yang tadinya mengembang dibibir Cheonsa kini hilang entah kemana. Chanyeol kecil meremas ujung bajunya, menundukkan kepalanya, dan menggeleng pelan.

“kenapa sayang?”

“kenapa ibu meninggalkan ayah?”

Cheonsa terperanjat. Diam seribu bahasa. Sibuk memikirkan kalimat apa yang pantas didengar Chanyeol. Tapi pemikirannya buyar kala suara berat Jongsuk menginstrupsi.

“ayah bangkrut, Chanyeol. Ibumu hanya pergi untuk mencari pekerjaan. Tidak akan lama. Setelah itu, ibumu pasti akan kembali.” Jongsuk tersenyum menenangkan. Tangannya terulur memegang bahu kecil Chanyeol.

Chanyeol menoleh pada Cheonsa. Memastikan jika apa yang dikatakan ayahnya itu benar.

“ibu dan ayah tidak bohong, kan?”

 “tentu saja tidak. Sekarang,” Cheonsa tersenyum lembut. Tangannya terulur menggapai tangan mungil Chanyeol. “kau mau ikut ibu?”

“kemana?”

“kesuatu tempat yang jauh. Bagaimana? Disana kau akan bertemu dengan banyak teman baru, sekolah baru, lingkungan baru. Bagaimana?”

Chanyeol melihat Jongsuk yang hanya tersenyum getir. Memasang tampang tidak mengerti akan apa yang dijelaskan ibunya. Lalu, dia alihkan pandangannya pada Cheonsa, melihat bahwa wanita tu kini sedang tersenyum meyakinkan kearahnya. Dia teringat pada dua sahabtnya—Jongin dan Baekhyun. Dia tidak bisa meninggalkan mereka sendiri.

“bagaimana dengan ayah?”

“ayah tetap disini.”

Chanyeol melihat lantai marmer dibawah kakinya. Menimang  permintaan sang ibu. Sampai akhirnya. “tidak mau. Aku ingin bersama ayah.”

Jongsuk tersenyum lebar. Merasa jika masih ada yang peduli padanya. Dia segera memeluk Chanyeol. Mengucapkan banyak terimakasih pada Tuhan yang telah memberinya anak baik seperti Chanyeol.

“ayah kenapa?”

Jongsuk melepas pelukannya. Memegang bahu putra kesayangannya, lalu tersenyum. “tidak apa-apa.”

Cheonsa menghapus kasar air matanya. Merasa sakit saat sang anak lebih memilih Jongsuk ketimbang dirinya. Dengan segenap kekuatan hatinya, dia tersenyum untuk Chanyeol. Tersenyum sehangat dan selembut yang dia bisa. Dia mengelus sayang ujung kepala anaknya. Menahan air mata yang siap meluncur kapan saja.

“ibu akan kembali. Kau tenang saja. Jadilah anak yang baik. Turuti semua perkataan ayahmu. Kau mengerti?”

Chanyeol kecil mengangguk pelan. Tersenyum kala ibunya mencium ujung kepalanya.

“kapan ibu akan kembali?”

“secepat yang ibu bisa.”

Cheonsa bangkit, melangkah keluar dengan berat hati. Tidak sanggup untuk meninggalkan Chanyeol sendiri. Dia tidak ingin menjadi miskin. Dia tidak ingin anaknya menderita karena keuangan ayahnya yang turun drastis. Tapi, mau bagaimana lagi. Selain karena Jongsuk bangkrut, dia pergi karena seseorang yang dicintainya.

Chanyeol berlari kearah Cheonsa. Mendekap kaki jenjang Cheonsa.”ibu berjanji kan?”

Cheonsa berlutut, tersenyum lalu menjawab, “iya sayang, ibu berjanji.”

Hari demi hari Chanyeol menunggu ibunya pulang. Dia kesepian. Ayahnya terlalu sibuk untuk mengurus perusahaan. Banyak temannya yang mulai menjauhinya. Tapi dia bersyukur, Baekhyun dan Jongin masih bersedia menjadi sahabatnya. Setidaknya, masih ada yang peduli padanya.

Tak terasa, sudah lima tahun kejadian itu berlalu. Chanyeol sekarang sudah lebih dari paham untuk mengerti semuanya. Ibunya meninggalkannya karena ayahnya bangkrut. Ibunya lebih memilih tinggal dengan seorang laki-laki yang jauh lebih kaya dibanding ayahnya. Dan Chanyeol sadar, sampai kapanpun, ibunya tak akan pernah kembali.

Dan mulai saat itu, dia benci perempuan.

Wanita hanya mengambil kekayaan. Hanya menikmati harta, hanya bersenang-senang. Selalu menuntut segalanya. Tanpa pernah tahu pengorbanan sang lelaki.

Semua wanita sama saja. Sama seperti ibunya. Seorang jalang.

Dan pada musim panas,dibawah teriknya matahari, Chanyeol berjalan tergesa menuju halte bis. Panasnya udara membuat dia harus memakai topi dan melihat kebawah, bukan kedepan. Sampai,

BRUUK!

“oh, maafkan aku.” Chanyeol berlutut, membantu seorang wanita paruh baya didepannya mengambil belanjaan yang berserakan. Dan saat Chanyeol mendongak, dia terkejut, begitupula dengan wanita paruh baya itu.

Ibunya.

“Chanyeol?”

Chanyeol terdiam. Merasa jika dunia berhenti berputar. Merasa jika waktu sudah tidak berjalan. Perasaannya campur aduk. Dia sangat merindukan ibunya. Dia sangat mencintai ibunya. Dan dia juga sangat membenci ibunya. Dan tanpa Chanyeol sadari, ada seorang perempuan seumurannya yang berlari menghampirinya.

“ibu, ada apa?”

Chanyeol terperanjat. Merasakan sakit yang luar biasa. Perempuan itu memanggilnya ibu. Sakit. Sakit sekali saat perempuan itu menyebut kata ibu. Yang lebih sakit lagi, perempuan itu Nara. Kim Nara. Teman satu sekolahnya.

“oh, hai, Chanyeol.” Nara tersenyum. Mencoba mencairkan suasana canggung diantara Chanyeol dan ibunya. Ralat, ibu tirinya.

Cheonsa terkejut. Tidak menyadari jika seragam Nara dan Chanyeol sama. Merasa sakit saat melihat mata Chanyeol yang memerah. Dia tidak ingin menyakiti hati Chanyeol lagi. Cukup. Sudah cukup rasa bersalah yang terus menghampirinya. Rasa yang selalu membuatnya tidak bisa tidur dimalam hari. Rasa yang terus mendatangkan mimpi buruk baginya.

“aku pergi.” Chanyeol pergi meninggalkan Cheonsa dan Nara. Merasa tidak sanggup melihat mata ibunya yang sayu. Chanyeol ingin memeluknya. Mengucapkan kata maaf sebanyak yang dia bisa. Chanyeol ingin tidur dipangkuan ibunya. Chanyeol ingin melakukan semua yang dilakukan Nara dengan ibunya. Karena, sejatinya, dia adalah ibu Chanyeol, bukan Nara.

Dan sejak hari itu, Chanyeol membenci Kim Nara.

 ~000~

“saat itu umurku tujuh tahun, aku tidak tahu sejak kapan ibu sering datang kerumahku. Dia sering memasak makan malamku, membacakan dongeng sebelum tidur, dan semua hal yang dilakukan mendiang ibuku. Sampai suatu hari, ayah bilang bahwa mereka akan menikah.”

“ibuku meninggal saat umurku empat tahun. Dia meninggal karena kecelakan kereta. Sejak saat itu, ayah selalu sibuk dengan pekerjaannya. Aku kesepian. Sampai ibu datang, semuanya kembali sempurna. Ayah memperhatikanku lagi. aku mempunyai ibu baru. Kupikir hidupku sesempurna itu.”

“sampai suatu hari, disaat musim panas, setelah aku keluar dari minimarket untuk membeli soft drink, aku melihat ibu dan Chanyeol. Mereka saling bertatapan, dan suasananya benar-benar canggung. Jadi kuhampiri mereka, menyapa ibuku dan Chanyeol.”

“aku menyadari perubahan ekspresi Chanyeol saat aku mengucapkan kata ‘ibu’ . entah apa maksudnya, tapi aku tahu bahwa Chanyeol terluka. Entah terluka karena apa. Saat itu, aku tidak punya pikiran apa-apa. Sampai ibu memberitahuku segalanya.”

“dan besoknya, saat aku bertemu dengannya disekolah, dia mengacuhkanku, mengabaikanku, dan bersikap dingin padaku. Aku tahu apa sebabnya. Dan aku cukup tahu diri untuk menyadarinya.”

“aku jahat. Terlalu egois sampai mengorbankan kebahagiaan orang lain. Merebut paksa ibu temanku sendiri hanya agar hidupku sempurna. Menghancurkan dongeng Chanyeol yang sempurna,  hanya untuk membuat dongengku lebih bahagia.” Nara terisak, bahunya bergetar hebat.

“aku tidak tahu diri. Tidak pernah bersyukur dengan apa yang aku punya. Aku punya segalanya. Kecuali bahagia dan ibu. Karena itu, aku mengambil ibunya. Memalukan, bukan?”

“aku bersumpah, sudah ribuan kali kata maaf terlontar dari bibirku. Dan ribuan kali pula dia menjawab tidak apa-apa. Tapi aku tahu dia benci padaku. Sakit karena aku. Hah, siapa yang tidak benci jika ibunya diambil oleh orang sepertiku.” Nara terkekeh, suaranya bergetar dan matanya memerah.

“dulu, kami berteman. Dimulai saat aku pindah sekitar kelas 5 SD. Kami berteman, sampai kelas 3 SMP. Dan selama itu kami tak pernah tahu bahwa aku dan Chanyeol mempunya satu ibu yang sama. Mereka menjauhiku tepat saat hari itu terjadi.”

“aku berpura-pura ceria. Menjahili mereka setiap hari. Pura-pura menyukai Jongin yang jelas-jelas benci padaku. Menulis sebuah note dan meletakannya di loker milik Jongin. Hanya agar mereka menghampiriku dan memarahiku. Aku bahkan berharap mereka membullyku. Setidaknya, dengan itu aku bisa berbicara dengan mereka. Menyedihkan.”

Nara terduduk lemas diatas pasir pantai. Tangannya menutupi seluruh wajahnya yang merah. Napasnya memburu, tangisnya kian pecah saat mengingat keegoisannya.

“aku tahu aku jahat. Aku tahu aku tak pantas untuk hidup. Aku tahu aku egois. Aku tahu aku pantas dibenci. Karena ini aku. Aku yang merebut kebahagiaan temanku.”

 

TBC

   

Iklan

One thought on “First Love (chapter 5)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s