You and I – Unforgetable (6)

IMG_20160307_182445(1)

You and I – Unforgetable (6)

Author        : mardikaa_94

Genre          : romance, gatau apaan lagi (?)

Length        : chaptered

Rating         : teen, PG 17

Cast            : Park Chanyeol, OC, and others

~happy reading~

“sudah siap?”

Chae Yoon tak bergeming, bahkan tangannya masih setia mengangkat kopernya yang besar. Melihat Chanyeol yang hanya terbalut kaos hitam dengan celana jeans biru tua, mengalungi tas kecil ukuran kamera DLSR dan kacamata kotak hitam yang menggantung diujung kerah kaosnya.

“kita kan mau bekerja, bukan jalan-jalan.” Chae Yoon masih memperhatikan gelagat Chanyeol yang hanya cengengesan sambil mengambil alih koper itu dari tangannya. Sambil sesekali membandingkan pakaian yang dikenakannya dengan milik Chanyeol.

Setelah selesai membereskan koper milik Chae Yoon, mobil hitam itu langsung melaju kencang bahkan sebelum mereka berdua menduduki kursi empuk didalamnya. Chae Yoon yang melihat itu, langsung mengambil ancang-ancang untuk berlari mengejar atau memaki kebodohan Chanyeol yang sudah kelewat batas, tapi langkahnya terhenti saat tangan besar Chanyeol memegang bahunya dan tersenyum dengan mata berbinar.

“ganti bajumu. Kita kesana naik kereta saja. Oke?”

“apa?” Chae Yoon benar-benar tak mengerti, kenapa laki-laki ini aneh sekali?

“yaaa, aku hanya bosan naik mobil setiap hari. Bagaimana, mau tidak?”

Tanpa pikir panjang, Chae Yoon berbalik dan meninggalkan Chanyeol yang hanya tersenyum sambil melangkah mensejajarkan langkah kakinya dengan milik Chae Yoon.

“kau tunggu disini, jangan ikut masuk.” Chae Yoon menodongkan jari telunjuknya tepat didepan wajah Chanyeol, membuat lelaki itu berhenti tiba-tiba dengan alis bertaut.

“kenapa?”

“ini apartemenku, bukan apartemenmu.” Kini Chae Yoon bersedekap, kakinya mengetuk lantai beberapa kali.

“ayolah, aku haus.”

“tidak.”

Chanyeol mendengus pelan, lalu mundur beberapa langkah dan menempelkan punggungnya ke dinding, “ya sudah, cepat ya.”

Chae Yoon tersenyum sambil mengangkat tangannya yang membentuk huruf ‘o’, lalu berbalik dan menghilang dibalik pintu besar berwarna putih.

Kurang dari lima belas menit, Chae Yoon keluar dengan celana jeans warna hitam, kaos tanpa lengan warna putih dengan luaran abu-abu tua, sepatu kets dan topi hitam. Tas kecil punggung dan arloji warna senada.

Dan untuk beberapa saat, Chanyeol mati-matian menahan degup jantungnya.

Mereka berjalan berdampingan, sedikit berlari saat menyadari bis akan berangkat sebentar lagi, sesekali memotret pemandangan dan berfoto diri mereka masing-masing. Sambil menunggu kereta, mereka bermain adu jempol dan tertawa terbahak saat tangan mereka yang tak bisa diam bahkan sampai dilihat oleh orang-orang yang berlalu-lalang.

Tak berapa lama, kereta datang dan mereka masuk dengan Chae Yoon yang berjalan didepan. Karena ini hari kerja, kereta penuh dan mereka berdesakkan, Chanyeol sedikit menarik lengan Chae Yoon agar mereka tidak terpisah dan mendapati posisi dipinggir ujung kereta, Chanyeol bahkan harus berdiri di depan Chae Yoon saat menyadari baju yang dipakai Chae Yoon berbahan tipis. Sedikit melirik tajam pada setiap orang yang melirik ke arah Chae Yoon.

Ini sudah tiga puluh menit berlalu, dan penumpang di kereta itu mulai berkurang, menyisakan satu kursi di dekat mereka. Chanyeol melirik sedikit ke arah Chae Yoon yang sedang menahan kantuknya, lalu tersenyum saat menyadari Chae Yoon menguap dan menyisakan mata merah dengan sedikit air menggenang disudut matanya. Lalu menusuk pelan pipi wanita itu sambil terkekeh.

“duduk saja di sana, tidurlah.”

Chae Yoon mendongak, lalu dengan matanya yang merah, dia menggeleng pelan, “tidak, itu hanya ada satu.”

“lalu?”

“nanti kau bagaimana?”

Chanyeol tersenyum, lalu menarik lengan Chae Yoon dan memaksa wanita itu untuk duduk dikursi kosong tepat didepannya, “duduk saja, aku tidak apa-apa.”

Chanyeol tersenyum, lalu berdiri tepat didepan Chae Yoon yang sudah mulai memejamkan matanya.

Dan, sudah empat puluh lima menit berlalu, kereta ini masih penuh dengan penumpang, sedangkan kaki Chanyeol mulai mati rasa dan kesemutan(?), melihat iri kearah Chae Yoon yang sedang tertidur dengan rambut yang hampir menutupi wajahnya. Dan Chanyeol merasa, jika dia tertidur dengan rambut yang menutupi wajahnya, dia akan sulit bernapas. Jadi, Chanyeol hendak maju dan mengulurkan tangannya, mencondongkan badannya, dan meraih rambut Chae Yoon, sampai seorang pria dengan tubuh gempal mendorong Chanyeol dari belakang, yang otomatis membuat tubuhnya terhuyung ke depan.

Chanyeol menahan napasnya, bahkan satu tangannya menahan berat tubuhnya di jendela. Wajah mereka benar-benar dekat, dengan satu tangan Chanyeol yang bergerak menyapu wajah Chae Yoon dari rambutnya yang panjang, Chanyeol tersenyum, melihat wajah cantik itu dari jarak sedekat ini.

~000~

Sehun tersenyum saat mendapati Minsoo yang datang bersama seorang lelaki dengan sepeda motor kearah kantornya. Sedikit menahan sakit hatinya dan beralih menanyakan kabar wanita didepannya.

“bagaimana kabarmu?”

“baik.” Minsoo tersenyum bahagia, setelah semalam ia menelpon Sehun dan menceritakan semuanya, sekarang mereka berdua akan berangkat menuju Jeju.

Mereka mengobrol seputar rencana bisnisnya, sesekali tertawa saat salah satu dari mereka menceritakan pengalamannya dalam berbinis. Dari mulai bertemu orang super jenius, aneh, terlalu mewah, berdandan layaknya orang miskin, dan lain-lain.

Tapi entah kenapa, Minsoo merasa ada yang aneh dari Sehun.

Tapi dia mengurungkannya, sambil menggelang pelan dan melanjutkan rapatnya.

Hari ke-lima sudah berakhir, dan Baekhyun menelpon kalau ayahnya sudah kembali dari Hongkong. Berencana untuk melamar pekerjaan di perusahaan ayahnya demi menunaikan taruhan sialan yang sudah mereka sepakati. Tapi, karena Baekhyun terlampau bodoh dalam hal ber-bisnis, dia akan melakukannya saat Minsoo pulang dari Jeju. Dan wanita itu hanya bisa terkekeh pelan.

Minsoo baru saja membalas pesan singkat dari Baekhyun, lalu kepalanya berputar memperhatikan Sehun yang sudah lebih dulu memperhatikannya dalam diam. Wajah lelaki itu benar-benar datar, tapi Minsoo tahu ada sesuatu yang disembunyikan Sehun saat ini, ia tahu, saat tatap mereka bertemu.

“kau kenapa?”

“aku hanya sedang memperhatikanmu. Apa itu salah?”

“hanya—kau aneh akhir-akhir ini.”

“benarkah?” Sehun tertawa, kembali memandang hamparan ilalang didepannya, mati-matian menyembunyikan sakit hatinya.

Minsoo masih setia memperhatikan sudut mata Sehun, mengamati tiap inci wajah lelaki disampingnya, benar-benar merasa ada yang aneh dari Sehun, tanpa tahu apa sebabnya.

~000~

Baekhyun menempelkan punggungnya ke kursi besar di belakangnya, sedikit menarik napas lalu membuangnya kasar. Junmyeon—teman satu perjuangannya—melirik aneh ke arah Baekhyun.

“tumben sekali wajahmu lesu begitu. Biasanya paling semangat kalau sudah ada wanita cantik di depan meja.”

Baekhyun mengangkat tangannya, lalu menggerakkannya pelan, “hei, kalau seorang wanita terdiam saat kau bilang kau mencintainya, apa itu berarti kau ditolak?”

“wow, wow,” Junmyeon terkekeh sambil berjalan mendekati Baekhyun, bahkan tangannya bertepuk heboh, “siapa yang kau maksud?”

“aku hanya tanya, apa itu artinya kau ditolak.”

“ceritakan padaku bagaimana kronologi-nya.” Junmyeon menarik kursi di belakangnya, lalu duduk di depan Baekhyun sambil bersedekap.

Baekhyun memutar bola matanya malas, lalu terpejam sambil menjawab, “kemarin malam kami berciuman, lalu aku mengatakan bahwa aku mencintainya, lalu dia diam saja. Langsung pulang tanpa bilang apa-apa. Lalu paginya menelponku untuk mengantarnya ke kantor temannya.” Baekhyun membuka matanya, melihat Junmyeon yang hanya diam tanpa suara.

Sampai Baekhyun menggerakkan tangannya tepat didepan wajah Junmyeon, lelaki itu tersadar dan bertepuk heboh untuk kesekian kalinya, “luar biasa.” Junmyeon memegang dagunya, lalu mengusapnya pelan, matanya terpejam, mencoba mencerna dengan baik setiap kata yang terlontar dari mulut Baekhyun.

“menurutku, dia hanya butuh waktu.”

Baekhyun mendongak, bahkan matanya membulat, “waktu untuk apa?”

“waktu untuk memutuskan menerima atau menolakmu.”

“kalau menurutmu, aku diterima atau ditolak?”

“tergantung.”

Baekhyun merasa seperti sedang berkonsultasi dengan ahli cinta—Kim Junmyeon—seorang lelaki yang bahkan belum pernah berpacaran.

“maksudmu?”

“hmm,” mata Junmyeon menerawang, seperti mencoba mengingat sesuatu. “sudah berapa lama kau kenal dia?”

“sejak umur kami sepuluh.”

“apa dia pernah punya pacar?”

“pernah. Laki-laki culun yang sangat mencintai buku.”

“dia pernah berciuman selain dengan dirimu kemarin malam?”

“kurasa tidak.”

“apa dia sedang dekat dengan seorang lelaki selain kamu?”

Baekhyun diam, bahkan langsung bersandar dan mendengus pelan, Junmyeon yang melihat itu, langsung menjentikkan jarinya.

bingo! Itu dia masalahnya.”

“ayolah, Bro. santai saja.”

Baekhyun mendelik ke arah Junmyeon yang hanya bergidik ngeri, “masalahnya, dia lebih tampan dan mapan.” Baekhyun melihat ke arah Junmyeon yang hanya manggut-manggut, “juga tinggi.”

Sontak, Junmyeon membulatkan matanya dramatis, lalu menepuk pelan pundak Baekhyun, “kalau itu, aku angkat tangan.”

Alis Baekhyun bertaut sempurna, “kenapa?”

“semua wanita mendambakan laki-laki tinggi, Bro.”

“aku kan juga tinggi.”

“tapi katamu tidak setinggi dia. Tenanglah, kita senasib.”

Baekhyun mendengus kasar, lalu berdiri dan berbalik, lantas bergumam dengan Junmyeon yang terus memanggilnya.

“pokoknya, Minsoo milikku.”

~000~

Ini sudah tanggal enam belas, dan Chanyeol tidak mengerti kenapa Chae Yoon merasa begitu senang. Dilihatnya wanita itu yang sedang mengeringkan rambut dengan bibir yang terus tersenyum (sebenarnya mereka menginap di satu kamar dengan dua kasur, hanya ini satu-satunya hotel yang dekat dengan tempat mereka bekerja, dan karena hotel ini penuh, jadi mereka memesan kamar yang ini. Dan diam-diam Chanyeol bersyukur karena hotel ini penuh).

“apa kau senang sekali karena lusa kita akan kembali?”

“yaaa, kurang lebih seperti itu.” Lalu Chae Yoon berbalik menghadap Chanyeol, “hei, Chan. Kalau besok kita jalan-jalan, mau tidak?”

Chanyeol tersenyum, menyadari kalau Chae Yoon merasa benar-benar senang. “kemana?”

“kemana saja. Hanya kita berdua, bagaimana?”

Chanyeol sedikit menerawang, mengingat jadwalnya untuk hari esok, “jam empat kita pergi. Setuju?”

Chae Yoon tersenyum, kembali menghadap cermin dan menyisir pelan rambutnya.

Ini sudah jam tujuh malam, dan mereka sedang bersantai di salah satu bukit dekat taman kota. Bercerita sambil menikmati secangkir coklat panas dan beberapa makanan lain. Bermain monopoli dan memandangi bintang.

“hei, apa kau pernah jatuh cinta?”

Chae Yoon menengok ke arah Chanyeol yang sedang menatap ilalang. “tentu. Kenapa?”

“bagaimana rasanya?”

“jantungmu berdebar setiap kali melihat matanya, bibirmu tersenyum setiap kali wajahnya hadir di otakmu. Tubuhmu kaku saat kalian bersentuhan.”

“ah, begitu, ya.” Chanyeol tersenyum, lalu menatap Chae Yoon yang menatapnya dengan senyuman.

“kalau itu yang kurasakan saat bersamamu, apa aku sedang jatuh cinta?”

Chae Yoon terdiam, bahkan senyumnya hilang dibawa angin. Menatap terkejut kearah Chanyeol yang menatapnya serius tapi dengan senyum yang menghiasi bibirnya.

“apa maksudmu?”

I think—I’m in love. With you.”

Chae Yoon mengerjap, merasa pipinya panas seketika, mulutnya bahkan terbuka tanpa mengucapkan apa-apa.

“kupikir kita cuma teman.” Chae Yoon berucap penuh hati-hati, takut membuat Chanyeol salah mengartikan perkataannya.

Chanyeol tak bergeming, bahkan senyumnya sudah hilang entah kemana, “jadi—aku ditolak?”

Chae Yoon menggerakkan tangannya pelan, “bu—bukan.”

“wah, sakitnya.” Chanyeol memegang dadanya yang benar-benar nyeri. Lalu kembali menatap mata hitam disampingnya.

“maafkan aku.” Chae Yoon menundukkan kepalanya, merasa bersalah dan dadanya jadi sedikit ngilu.

“tidak apa-apa.” Chanyeol tersenyum, lalu memegang bahu Chae Yoon. “kita masih teman, kan?”

Dalam kecanggungan, Chae Yoon mengangguk, tersenyum, lalu menjawab, “tentu. Terimakasih.”

Chanyeol mengacak pelan rambut Chae Yoon, lalu mengajaknya makan ramen di kedai seberang sana.

~000~

Jongin masih setia menunggu Baekhyun keluar dari kantor ayahnya, sedikit melihat arloji hitam yang bertengger manis ditangannya. Sedikit membungkuk dan tersenyum pada setiap orang yang lewat didepannya. Tapi matanya terhenti saat seorang gadis yang kelihatannya lebih muda darinya mencoba masuk dengan mengetuk pintu beberapa kali.

“Pak Presdir sedang ada tamu.” Jongin berucap dengan nada yang dibuat setenang mungkin. Mencoba bersikap dingin pada gadis cantik di depannya.

“oh, begitu.” Dia tersenyum, lalu melirik sedih kearah dokumen di tangannya.

Jongin sadar ada yang berubah dari wajah gadis itu, lalu melanjutkan, “ada yang bisa saya bantu, Nona?”

Gadis itu mendongak, lalu menggeleng pelan. “ah, tidak. Bukan apa-apa. Kalau begitu saya permisi.”

Dia berjalan melewati Jongin yang terdiam, lalu panggilan Jongin menghentikan langkahnya.

“Nona!”

Gadis itu berbalik, lalu tersenyum, “iya?”

“boleh tahu siapa namamu?”

“Kwang Sora. Anda?”

“aku Kim Jongin. Senang berkenalan denganmu.”

Mereka berjabat tangan, mengulas senyum, tanpa sadar bahwa jantung mereka berdetak seirama.

“Jongin!” Baekhyun berlari kecil menghampiri mereka, tapi matanya terhenti saat melihat Sora di depannya.

“Kwang Sora?”

“Baekhyun Oppa?”

Mereka sama-sama tersenyum, lalu tanpa Jongin duga, mereka berpelukan, seperti tidak menyadari ada Jongin disampingnya.

Jongin berdehem, lalu Baekhyun memperkenalkan mereka berdua, “Kwang Sora ini anak dari teman ayahku. Kami sudah berteman sejak umur kami tiga belas.”

Jongin manggut-manggut, lalu Sora berucap dengan suaranya yang lembut, “aku sepupu Oh Sehun.”

Baekhyun menghentikan aksi tertawanya, melihat Jongin dengan mata membulat, sama sepertinya, Jongin juga seperti itu.

“apa?”

“serius?”

Sora kebingungan, matanya tak henti melihat kearah dua orang didepannya, “kenapa? Kalian kenal dia, kan?”

“dia sahabatku.”

“yah, aku pernah melihatnya.”

Sora manggut-manggut, menyadari jika atmosfer disekelilingnya berubah drastis.

Baekhyun memutar bola matanya, lalu mengubah topik pembicaraan, “minggu depan aku harus interview.”

“baguslah.”

Sora teringat sesuatu, “oh, kalau begitu aku akan ke ruangan Presdir.”

“eoh, kalau begitu. Sampai nanti.” Mereka saling mengucapkan salam, sampai Sora hilang dibalik pintu kaca besar di depan sana.

Jongin tersenyum sambil terus memandangi pintu itu, “cantik.”

Baekhyun mendelik kearah Jongin, “terserah, ayo pulang.”

~000~

Jam sudah menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh delapan menit, dan Chae Yoon masih setia bergelung dengan selimut tebal dan guling panjang di samping badannya. Lalu dalam keheningan, dering ponsel Chae Yoon berbunyi, yang otomatis membuat Chanyeol maupun Chae Yoon membuka matanya.

video call?” itu adalah panggilang yang dilakukan oleh Minsoo.

Chae Yoon menekan tombol hijau, lalu muncul lah wajah Minsoo di sana.

“selamat ulang tahun Sayang!” Minsoo meniup terompet kecil berwarna hijau di seberang sana, memakai topi kerucut, dan tak lama mengambil kue kecil dengan satu lilin di atasnya.

Chae Yoon menutupi mulutnya dengan satu tangan, “astaga. Terimakasih.”

“ayo buat permintaan.” Minsoo tersenyum, dengan sabar menunggu Chae Yoon selesai membuat permintaannya.

Setelah selesai, Chae Yoon tersenyum mengangguk, mendengar instruksi dari Minsoo agar meniup lilinnya dalam hitungan ke-tiga.

“satu…dua…tiga!”

Mereka meniup lilin itu bersamaa, membuat lilinnya padam karena Minsoo meniupnya. Lalu mereka bernyanyi bersama, bercerita, lalu tertawa bersama, tanpa sadar bila Chanyeol sedang tersenyum dengan rambut berantakan.

Setelah kurang lebih satu setengah jam mereka merayakan hari jadi Chae Yoon, tanpa kata-kata Chanyeol menarik pelan lengan Chae Yoon, membuatnya berdiri dan meletakkan tangan mungil wanita itu ke pundaknya yang lebar, mengangkat tangan mereka ke udara, dan tangannya yang lain memeluk pinggang ramping milik Chae Yoon. (intinya dansa gengs)

Chae Yoon tak bergeming, kakinya ia tumpukan tepat di atas milik Chanyeol, lalu dalam keheningan yang terasa merdu, mereka berdansa di atas balkon sambil melihat pemandangan Busan dengan bulan sebagai penerangnya.

Lalu Chae Yoon melingkarkan tangannya pada leher Chanyeol, membuat laki-laki itu melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Chae Yoon. Hidung dan dahi mereka saling bersentuhan, berputar pelan menembus dinginnya malam.

“maaf. Hanya ini yang bisa kuberikan padamu.”

“kau tahu? ini benar-benar indah.”

Mereka tersenyum dalam kegelapan, makin merapatkan rangkulan masing-masing, lalu tanpa Chanyeol sadari, Chae Yoon menempelkan bibirnya tepat di atas bibirnya, lalu dalam keindahan malam itu, Chae Yoon berucap dan mereka saling tersenyum lalu melanjutkan malam yang indah itu bersama.

“kupikir aku berubah pikiran.”

~000~

Malam yang indah untuk Minsoo dan Sehun. Setelah bekerja selama dua minggu penuh, akhirnya mereka bisa bersantai di bukit tinggi dekat apartemen Minsoo. Mereka berbincang bersama, walau terasa akrab, Minsoo merasa bahwa Sehun sedikit berubah.

“Sehun-ah, sebenarnya kau kenapa, sih?”

“kenapa apa?”

Minsoo memutar bola matanya malas, “sudah, ceritakan saja.”

Tatapan Sehun kembali seperti semula—datar dan serius—lalu kembali menatap bulan di atas sana.

“hatiku terasa sakit akhir-akhir ini.”

Minsoo menoleh, lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Sehun, “kenapa? Kau sedang jatuh cinta?”

“sepertinya.”

Mata Minsoo berbinar, “benarkah? Dengan siapa?”

Sehun menoleh, mendapati Minsoo yang sudah menatapnya semangat.

“kamu. Son Minsoo.”

Senyum di bibir Minsoo hilang seketika, bahkan kepalanya sudah menjauh dan tatapannya tak tentu arah. Membuat Sehun tersenyum getir lalu berkata, “sudah kuduga.”

“maaf.”

“kau tahu? hatiku sakit saat melihatmu bersama dengan laki-laki yang bernama Baekhyun itu.”

“malam itu aku mengkhawatirkanmu sampai mau mati rasanya, aku mencarimu, memaki Chae Yoon yang dengan polosnya mengatakan bahwa kau sedang sendirian di bukit dengan keadaan hujan-hujanan.”

“aku sampai berlari hanya dengan kaos tipis dan celana panjang, karena di jalan macet sekali. Tapi aku terhenti saat laki-laki itu menghampirimu sambil berlari, wajahnya sangat khawatir, lalu dia menunduk dan memelukmu.”

“aku tahu apa yang selanjutnya terjadi. Mungkin dia memberimu sesuatu atau bilang bahwa dia mencintaimu.”

“atau bahkan kalian berciuman.”

Minsoo mendongak menatap Sehun yang sudah berdiri.

“maaf, Sehun-ah.” Minsoo terisak, melihat Sehun yang sudah berjalan meninggalkannya.

Tanpa pikir panjang, dia ikuti Sehun dalam keheningan, mengikutinya pergi kemanapun Sehun mau.

Sampai Sehun menaiki bis yang Minsoo tak tahu pasti ke mana arahnya pergi, Minsoo duduk tepat di belakang Sehun yang tengah menangis pelan, merasa bersalah karena telah menyakiti Sehun.

Lalu tak lama, bis berhenti, Sehun berjalan dengan Minsoo yang masih tetap di belakangnya, “setelah turun, aku janji semua akan baik-baik saja.”

Minsoo terdiam, tak mengerti maksud perkataan Sehun.

“kita akan menjadi teman, anggap saja aku tidak pernah mencintaimu.”

Lalu Sehun turun dari bis, menghapus air matanya, lalu berbalik. Tersenyum lalu menggandeng lengan Minsoo, mengajaknya makan ramen di kedai depan sana.

TBC

Karena saya lagi sakit (pilek doang sih sebenernya) dan mau ujian (derita kelas 8) jadi cuma ini yang bisa kubikin. (ini juga bikinnya diem-diem :p)

Oh iya, kunjungi wordpress pribadi aku yuk! Di : http://mardikaa94.wordpress.com

Kutunggu ya! Terimakasih banyak!

 

 

 

7 thoughts on “You and I – Unforgetable (6)

  1. Wahhhh akhirnya di update jugaaa.. moga2 minsoo ama baekhyun biar sehun buat aku #keukeuh wkwkwk.. semangat yah thor sekolahnya.. semoga dpt rangking dan nilai terbaik.. ditunggu selalu lanjutannya! Hehehe

    1. Haha. Iyaaa 😂 ini sebenernya udah kukirim dari minggu lalu sebelum ujian 😂 makasih lo udah nyemangatin aku belajar :v #epekjones kamu juga yaa yang rajin sekolahnyaaa :v jan baca ff muluu #eh 😂 makasih udah like dan komen. Makasih juga udah nunggu fanfic-ku. Ditunggu aja yaaa :v

      Oh ya, kalo kamu islam, selamat puasa ya! 😂😂

  2. Ealah masih kelas 8 ternyata. Gitu kok mau buat FF NC dek :v yang kelas 10 aja ngga berani :v Bulan puasa lagi ini. kkk~ semangat terus nulisnya, ditunggu chap berikutnya🙂

    1. Maafkan saya yang hilap kak/? Aku juga kapok mau bikin yang nc. Karena ternyata bikin narasi pas kissing aja susahnya minta ampun 😂😂 makasih ya kak udah like dan komen. Makasih juga udah nungguin. Untuk selanjutnya bakal aku usahain lebih baik. Terimakasih! 😂

  3. Akhirnya bisa lanjut baca lagi cerita you and i, ceritanya semakin menarik ……good job authornim….. Ditunggu chapter berikutnya….tapi jangan lama lama ya soalnya udah penasaran …..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s