Sleeping Prince (Chapter 2)

 

Author             : Nikky-Chan

Tittle                : Sleeping Prince

Cast                 : Chanyeol, Minhyun (OC), Sehun, Kyungsoo and other (seiring chapter, cast muncul dan hilang sesuai kebutuhan)

Genre              : Humor (garing), School life, Romance

Lenght             : Chapter

Rating             : T

.

a/n : fanfict ini tercipta karena yang nulis kebanyakan nonton anime harem. Habis itu nonton salah satu film jepang dimana disitu si cowok kamarnya basah gara-gara air buat memadamkan kebakaran(?) terus akhirnya numpang tidur di kamar si cewek tingkahnya seenaknya hidung sendiri. Ya pokoknya begitulah ceritanya.. hohhoho… jadi saya bikin aja lebih ekstrim, asrama cewek /ketawa_lebih_setan

.

.

.

Play it on slow tune, this is my prerogative Tell me what is Love

 

Minhyun tidak sengaja mendengar suara yang tidak asing baginya ketika melewati ruang klub musik. Menengok jam tangannya, Minhyun mengangguk mengiyakan sesuatu. Jam setengah 12, istirahat kedua. Biasanya Kyungsoo si ketua klub musik pasti sedang latihan sendiri di ruang klubnya.

 

Nareul saranghaji anheun neorul ijeun-chae

Hago sipeottdeon modeun-geol hago sarado

Moeritseog-e neon jeoldae jiwojijiga anha dodaeche

 

Suaranya terdengar menghanyutkan. Ah, Minhyun suka mendengarnya. Tidak kalah dari suara Chen si guru pembimbing eksentrik beroktaf tinggi itu. Suara Kyungsoo terdengar lebih berat dan seksi. Cocok sekali untuk menyanyikan lagu-lagu slow seperti ballad. Yah.. meskipun gadis itu tidak terlalu mengerti hal-hal yang berbau musik. Tapi setidaknya, sejak dia mengagumi suara Kyungsoo dia sering membuat karakter fiksi yang suka menyanyi di otaknya sebelum tidur.

 

Namanya Byun Baekhyun, memiliki suara emas. Tapi Minhyun lebih suka membuat karakter Baekhyun sebagai seorang yang periang entah karena apa. Mungkin karena merasa nama itu tidak terlalu asing baginya. Bisa saja sebenarnya Byun Baekhyun itu nama salah satu temannya yang terlupakan olehnya karena tidak pernah bertemu. Bisa jadi sih..

 

He-eojil junbiga andwaesseo Wait a minute (for me)

Gidarimeun neomu gireunde Has no Limit

 

Kadang Minhyun mendengar Kyungsoo menyanyikan lagu sedih, dan sering berakhir membuatnya mengantuk. Kyungsoo jadi sering memergokinya mencuri dengar latihannya gara-gara itu. Ah, andai saja Chanyeol yang mendengarnya. Mungkin saja pemuda tiang yang langsung terkenal di hari pertamanya masuk sekolah itu langsung tertidur setelah Kyungsoo menyanyikan satu bait lagu. Dia kan tukang molor. Belum-belum sudah mendapat julukan ‘Sleeping Prince’. Apanya yang prince?

 

Tell me What is Love~~

 

Dengan bait itu, Kyungsoo mengakhiri sesi latihannya siang itu.

 

Dari jendela, Minhyun bisa melihat bahwa Kyungsoo sekarang tengah berjalan menuju sofa. Di sana terdapat seorang berkaki panjang yang tengah tertidur. Karena posisinya, Minhyun jadi tidak bisa melihat wajah orang itu. Dia tidak tahu siapa itu tapi rasa-rasanya dia mengenal telinga lebar itu.

 

“Chanyeol-sshi, 5 menit lagi bel masuk berbunyi. Sampai kapan kau mau tidur di sini?”

 

“Eungh…” lenguh orang yang ternyata Chanyeol itu.

 

‘Apa?? Itu benar-benar Park Chanyeol yang punya telinga lebar itu?’ Minhyun histeris sendiri dalam hati sambil menggigit buku yang di bawanya. Ah benar, buku. Dia kan sedang dalam perjalanan ke ruang guru untuk mengumpulkan tugas. Gara-gara melewati ruang musik dan mendengarkan suara Kyungsoo, perjalanannya terhambat dan Minhyunpun lupa dunia. Diapun langsung bergegas meninggalkan tempatnya berdiri.

 

Sementara itu Chanyeol mendadak bersin, tapi setelah itu menguap sambil mengucek matanya.

 

“Kyungsoo, sepertinya ruangan klub ini kotor. Lebih baik, kau lebih memperhatikan kebersihan ruangan klubmu daripada nanti sakit dan merusak suaramu” kata Chanyeol yang baru saja berdiri dari sofa.

 

Meskipun tidak mengerti, Kyungsoo hanya mengangguk saja. Padahal sebelum latihan tadi dia sudah bersih-bersih sebentar dan memastikan tidak ada debu sama sekali di ruang klubnya.

 

Mungkin saja sebenarnya dia sedang sakit, tidurnya pulas sekali, batinnya polos.

 

“Chanyeol-sshi, kalau kau masih ingin tidur. Aku bisa mengantarmu ke ruangan UKS, kebetulan hari ini teman sekamarku yang sedang bertugas menjaga.” Saran Kyungsoo.

 

Chanyeol meliriknya dengan mata mengantuk yang diasumsikan Kyungsoo sebagai lirikan lemas orang yang sedang sakit. Wahh.. padahal sebenarnya saranmu itu sesat sekali Kyungsoo-sshi. Kau hanya belum tahu Chanyeol itu memang tukang molor karena baru bertemu dengannya 10 menit yang lalu, ketika pemuda bertelinga lebar itu meminta izin untuk menumpang tidur di ruang klub musikmu.

 

“Kau tidak boleh memaksakan diri. Nanti biar aku yang meminta izin pada guru mengajar agar kau di perbolehkan tidur di UKS.” Tambahnya.

 

Chanyeol sih pada akhirnya mengangguk mengiyakan saja. Kalau memang ada jalan baginya untuk bisa tidur, kenapa harus menolak. Kyungsoopun mengantarnya ke UKS, lalu meninggalkannya bersama Sehun –teman sekamarnya- setelah berbicara sesuatu padanya.

 

“Akan kusiapkan selimut untukmu dulu hyung

 

Dari bedge yang di pakai oleh Sehun, ternyata pemuda berkulit luar biasa putih –menurut Chanyeol saat pertama kali lihat tadi- itu adalah adik kelasnya.

 

Dua menit kemudian, Sehun kembali dengan sebuah selimut bergaris berwarna putih dan hijau. Khas selimut yang biasa ada di UKS. Chanyeolpun bersiap memposisikan tubuhnya untuk tidur dan memanfaatkan selimut dengan baik. Meskipun sayang sekali selimutnya tidak cukup panjang untuk menutupi seluruh tubuhnya.

 

“Apa menurutmu selimut ini tidak kurang panjang Sehun-sshi?” tanya Chanyeol sambil menguap. Sehun mulai ragu kalau Chanyeol ini sedang sakit atau tidak.

 

“Bukan. Tubuh Chanyeol hyung yang kurang pendek. Selimut itu sudah sering di gunakan oleh siswa dan siswi di sini. Dan tidak pernah ada komplain masalah kurang panjangnya ukuran selimut itu” jawab Sehun dengan wajah datar. Lagipula, kau mau memakai selimut itu bagaimana. Tambahnya dalam hati.

 

“Kalau kau yang pakai?” tanya Chanyeol.

 

Sehun terdiam.

 

Chanyeol terdiam.

 

Iya. Kan tinggi Sehun dan Chanyeol tidak jauh beda alias hampir sama, makanya Chanyeol bertanya seperti itu.

 

Hyung, kalau kau memang sedang sakit. Lebih baik kau segera tidur sebelum ijinmu kucabut.”

 

Chanyeol tidak banyak bicara lagi mendengar ancaman dari Sehun. Kemudian diapun mencoba memejamkan matanya untuk tidur.

 

15 menit kemudian..

 

Chanyeol kapok. Bau obat-obatan di ruang UKS terlalu menyengat dan itu sangat mengganggu sekali. Akhirnya, dengan alasan tidak ingin meninggalkan ulangan harian –yang sebenarnya tidak ada-. Diapun berpamitan pada Sehun untuk kembali ke kelas.

 

Yah.. kalau Sehun sih sudah memprediksi hal ini pasti akan terjadi.

.

.

.

Sepulang sekolah, Minhyun bergegas kembali ke kamarnya. Hari ini dia senang karena sketsa bunga mataharinya mendapat pujian dari Wu sonsaengnim. Guru bule tinggi tampan yang jago sekali menggambar. Dia tidak segan-segan memberikan kritikan yang membuat muridnya ingin bunuh diri di tempat. Sudah pedas, penuh racun. Bersyukur sekali hari ini Minhyun bisa melihat senyum tipis (sekali, mungkin setebal selembar kertas) dari guru ketrampilannya itu. Biasanya dia hanya mendapat tatapan tajam, atau mungkin kata ‘Buang’ darinya.

 

Kalau dipikir-pikir, ternyata dia belum pernah mendapatkan kata-kata kramat dari Wu sonsaengnim. Dan dia berharap agar jangan sampai mendapatkannya, karena mungkin dia akan beneran bunuh diri di tempat nantinya.

 

“Eh? Chanyeol?”

 

Membicarakan orang yang memiliki tinggi di atas rata-rata dan berwajah tampan. Terlihat Chanyeol yang memakai kacamata hitam dan hendak memasuki area asrama perempuan dengan kacamata hitam menghiasi wajahnya.

 

“Kenapa kau memakai kacamata hitam?” tanya Minhyun sambil berjalan ke arah Chanyeol yang tadinya celingukan. “Kau sakit mata?”

 

“Tidak.”

 

“Lalu?”

 

“Untuk menghindari pemandangan-pemandangan yang tidak seharusnya di lihat oleh pria dewasa.”

 

Ohh… benar juga sih. Ini kan memang asrama perempuan. Dan Chanyeol itu bergender lawan jenisnya perempuan. Jadi apa wajar bersikap seperti itu? Entahlah. Mungkin hanya Chanyeol.

 

“Tapi kan kau sudah mendapat ijin dari Minah-sshi selaku kepala asrama perempuan.”

 

Chanyeol menggelengkan kepala. “Aku tidak mau lagi melihat pemandangan jemuran pakaian dalam wanita”

 

Mendengarnya, wajah Minhyun memerah seketika. Bagi kamar yang balkonnya menghadap ke hutan belakang sekolah, memang sering menjemur pakaian dalamnya di balkon untuk menghemat biaya laundry. Kalau kamar itu tidak sengaja sedang dibuka, otomatis orang yang lewat bisa melihatnya. Biasanya cuma ada perempuan saja. Sekarang kan ada Chanyeol.

 

“Lagipula sudah cukup aku malu melihatmu menjemur–”

 

“Y-ya sudah.. mulai besok aku akan menitipkan jemuranku di kamar sebelah.” Minhyun memilih mengalah dan menyanggah cepat-cepat. Salahnya sendiri sih, kemarin lupa mengangkat jemuran sampai pagi ketika tahu kamarnya akan menampung siswa laki-laki untuk sementara.

 

“Tapi kan itu kamarmu. Seharusnya aku tidak merepotkanmu.”

 

“Demi kebaikan mentalku lebih baik kau diam saja dan mengiyakan kata-kataku Park Chanyeol.”

 

Chanyeol terdiam sebentar, lalu kemudian mengangguk patuh.

 

“Ya sudah ayo ke kamar.” Minhyun meraih tangan Chanyeol untuk berpegangan pada lengannya. “Daripada berjalan dengan meraba-raba tembok untuk ke kamar, lebih baik bersamaku kan?” daripada nanti meraba yang lain tanpa sengaja, gadis yang mau keluar dari kamarnya mungkin.

 

“Aku merepotkanmu lagi.”

 

Minhyun mengangkat bahunya acuh, “Tak masalah. Sebagai gantinya kau harus membantuku membuat komik nanti. Aku sudah memikirkan ide-ide untuk ceritanya.”

 

“Baiklah. Bukan masalah. Lagipula aku ini pandai menggambar lho..”

 

“Baguslah.”

 

Merekapun menaiki tangga menuju lantai 2. Sementara kamar mereka ada di lantai 4 paling pojok. Dengan balkon yang menghadap ke arah hutan belakang sekolah.

 

“Ngomong-ngomong.. kacamatamu itu benar-benar hitam sekali ya? Kok sepertinya kau tidak melihat apa-apa sama sekali.”

 

“Ya. Aku mengecatnya dengan cat berwarna hitam.”

 

“O-oh~ begitu ya.” Minhyun menepuk jidatnya mendengar pengakuan Chanyeol.

 

TBC

 

Btw, chapter 1 lupa gak di kasih TBC ya? hehehe.. mian. Nih, tak kasih TBC lagi. 3 sekaligus. Hahahaha…

 

 

8 thoughts on “Sleeping Prince (Chapter 2)

  1. “Ya. Aku mengecatnya dengan cat berwarna hitam.” ini yg maksudnya unik? pea kali..
    sumvah ngukuk guling2 gua
    berharap mas cahyo makin pea di chapter2 selanjutnya..
    oh iya buat author-nim tetep semangat lanjutin ff nya yoo
    hwaiting^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s