Sweet Sparks (8)

sweet sparks

Sweet Sparks

Casts of Chanyeol, Baekhyun and Jinri (OC)

Presented by deera

Friendship. Romance. Series.

Stories : Jinri’s To-Be-True Wedding Party | Chanyeol’s Everlast PainJinri’s Unavoidable Problem | Baekhyun’s Cannot-Bare Fear | Jinri’s Half-Moon-Curved Lips | Baekhyun’s Untold Feeling | Chanyeol’s Not-So-Late Freedom

deera says : so sorry for super late update ^^ I’m kinda busy of some works, watching dramas, and waiting for oppars comeback then reading bunch of theories that make me sick *gah* Chapter sebelumnya aigo, maafkeun aku membuat chanyo begitu ya, sedang random wkwk kujanji chanyo tetap baik-baik saja. Yang rambut merah jangan sampe lolos yak ^^

Shot 8 : Jinri’s Black Day

“Where’s your phone? Where are you now? Why do you call me this late?”

“This is friend of mine’s. Save it. She’s freaking into you.”

“Damn it, I don’t care! Where are you right now? I’ll pick you!”

Di depan cafe, sebuah papan tulis kapur kecil dengan tiga kaki yang menopangnya ada di sana, tertempel sebuah pamflet acara berlatar biru tua. Acara itu diberi nama Blues’ Night, berisi lagu-lagu ballad yang dibawakan dengan merdu oleh seorang penyanyi tetap dengan nama panggung Byun Kyoong.

Sebagai teman, Jinri benar-benar merasa bangga. Ini merupakan sebuah permulaan yang baik.

Jinri melangkahkan flatshoes dengan pita merah mudanya memasuki suasana cozy yang ditawarkan tempat itu. Dan sekali lagi, ia terkejut.

Cafe yang biasanya lengang, hanya satu-dua sampai sepuluh orang yang duduk terpencar di penjuru ruangan, kini lebih dari dua puluh pengunjung memadati area sekitar panggung Salah seorang membawa kertas manila berwarna putih dengan tulisan spidol merah muda nyala. Mata Jinri menyipit berusaha membaca ‘We Love Kyoong’ yang ada di sana.

Jinri baru saja bernaksud menghubungi Baekhyun tapi ponselnya tak ada di manapun di dalam tasnya. Ia mendengus kesal. Setelah lima buah lagu selesai dibawakan, terimakasih kepada puluhan gadis itu yang berdesakan ingin menemui Baekhyun, membuat Jinri sama sekali tidak mendapat kesempatan

Tapi Jinri senang. Satu langkah telah dilewati Baekhyun demi semakin dekat dengan mimpinya. Bukankah mimpi harus jadi kenyataan?

Tanpa benar-benar menemui Baekhyun, Jinri keluar dari cafe dan melangkah menjauh. Entah kemana—yang jelas tidak langsung pulang ke apartemennya. Jinri memandangi langit yang hitam pekat, membuatnya sedikit tentram karena bukan hanya dirinya yang sendirian. Jinri terus berjalan entah sampai di mana.

“Aku pulang.”

Chanyeol berkata pada dinding yang diam. Rumah itu sepi tanpa seorangpun di sana. Nampaknya Baekhyun belum pulang, jadi setelah meletakkan sepatu dan ranselnya di sembarang tempat, lalu meneguk setengah botol besar air mineral, Chanyeol meraih ponsel dari saku dan mencari sebuah nomor.

Layar ponselnya meyala dengan nama Baekhyun di sana. Benda kecil itu tengah melakukan panggilan. Chanyeol memasukkan kembali botol air ke dalam kulkas. Barang sedetik, terdengar sayup-sayup suara Baekhyun dari pengeras suara ponsel.

Eoh,” Chanyeol menyahut, “apa kau belum selesai?—Aku sudah di rumah. Kau ingin kujemput?—Arraseo, tunggu lima menit lagi aku jalan. Kau di Analise kan?”

Ia kembali mengantongi kunci mobilnya dan memakai sepatu. Pintu di belakanganya berdebum pelan dan automatis terkunci saat Chanyeol meninggalkannya. Ia menuruni anak tangga dengan semangat hingga tiba di parkiran dan menaiki sedan silver miliknya.

Butuh dua puluh menit untuk keduanya bertemu. Chanyeol menyandarkan punggung di pintu penumpang depan mobilnya sambil menendang udara. Baekhyun di depan cafe masih nampak berbincang dengan seseorang.

Namun seseorang yang lain tak terlihat.

“Ada angin apa kau menawariku untuk menjemput?” tanya Baekhyun girang saat berjalan ke arah Chanyeol.

Si lelaki jangkung mengendikkan bahu. “Hanya karena aku tidak bermain hari ini.”

“Kau kehabisan stok?”

Lagi-lagi bahunya terangkat. “Hanya…, malas saja. No spesific reason.”

“Kau malas bermain? Ya, apa kau berada di jalan yang lurus sekarang?”

Sebelah tangan Chanyeol terjulur mengelus tengkuknya sendiri. “Omong-omong, Jinri tidak datang?” tanyanya kemudian.

Baekhyun pun menunjukkan gesture yang serupa. Ia melipat tangan di depan dada dengan telapak sebelah kanan mengelus dagu. “Dia tidak membalas pesanku. Dia juga tidak terlihat di cafe tadi. Aku justru ingin bertanya padamu.”

Dahi Chanyeol berkerut. “Aku? Bukankah kalian yang sering bersama-sama?”

“Siapa tahu dia menghubungimu. Karena dia tidak menghubungiku.”

“Rasanya tidak mungkin dia mengabariku.”

“Bukankah Jinri selalu cerewet kalau kau tidak datang ke pertunjukkanku? Kukira dia sudah menelepon dan memarahimu seperti biasa.”

“Nadamu seperti orang yang cemburu, Byun Baekhyun.”

“Tentu saja aku cemburu karena Jinri selalu nampak posesif padamu.”

So where are you now?”

Alis Baekhyu terangkat bersamaan. Matanya yang sipit semakin tipis saat memicing pada pertanyaan mengambang itu. “Apa maksudmu?”

“Kalian,” tak perlu waktu Chanyeol untuk mempertanyakan apa yang selama ini dipendamnya, “kau dan Min Jinri. Sudah sampai dimana kalian?”

Sekali lagi Baekhyun mengutarakan hal yang sama, “Apa maksudmu?”

“Astaga,” mata Chanyeol berputar dan berhenti saat kedua tangannya jatuh di kedua bahu mungil Baekhyun lalu memandangnya tepat di mata, “jangan sampai kau menyakitinya, Baekhyun. Kita sama-sama tahu bagaimana gadis itu berjuang sampai detik ini.”

Tangan Chanyeol terlipat di depan dada. “Jadi biar kutebak, kalian sudah sampai tahap…, pegangan tangan?”Suara tawa tertahan terdengar dari bibir tebal Chanyeol.

Menerbitkan kerutan yang semakin dalam di dahi Baekhyun.

Menghapus segala cengiran yang Chanyeol hasilkan sebelumnya.

Membuat diam sesaat di antara keduanya.

“Kurasa kita bertiga hanya berteman—setidaknya itu yang kupercaya dan kurasakan selama ini.” Baekhyun memasukkan tangannya ke dalam saku jeans yang membalut separuh tubuhnya.

Baekhyun kembali berkata, “Tapi mungkin ada yang diam-diam menyimpan rapat perasaannya.”

Butuh sela beberapa detik bagi Chanyeol mengerjap sambil memahami kata-kata Baekhyun. Dan saat tubuhnya kaku, lelaki itu sadar sesuatu. “Jadi kau belum menyatakannya?”

“Jadi apa kau belum?” Baekhyun balik bertanya.

Chanyeol mendengus. “Ini tentang kau, Baekhyun. Dan Min Jinri.”

“Kenapa hanya aku kalau masih ada kau?”

“Lalu kau ingin ini cerita tentang siapa? Byun Baekhyun dan Park Chanyeol?”

“Masih ada satu kemungkinan yang lebih masuk akal kan?”

Tawa Chanyeol menguar keras. Ia terbahak sampai membungkukkan badan dan memegangi perutnya. “Cerita Chan-Baek lebih menjual dari Baek-Jin atau Chan-Jin. Begitu kan?” guraunya lebih kepada dirinya sendiri.

Baekhyun ikutan mendengus geli. Ia mengeluarkan ponsel dari saku dan mengangkatnya ke hadapan Chanyeol. “Kalau begitu, aku akan tanyakan langsung pada Jinri-ya, mana yang lebih menarik.”

Lelaki itu menekan beberapa kali layar ponselnya lantas mendekatkannya ke telinga. Wajah tegangnya menjadi jawaban kalau di ujung sana gadis itu tak menjawab. Dua kali, empat kali, tujuh lalu lima belas kali ia memanggil tapi hasilnya tetap sama.

Air wajah Chanyeol berubah drastis. Sama dengan milik Baekhyun sejak panggilan kelima yang tak membuahkan hasil.

“Aku punya firasat buruk,” ujar Baekhyun. Keduanya segera memasuki mobil dan memecah keheningan malam.

Tempat pertama yang menjadi tujuan mereka adalah apartemen Jinri dekat kampus.

Gadis itu memarkir sepedanya di halaman gedung apartemen. Sedang unitnya sendiri berada di lantai tiga dan dalam keadaan terkunci. Digedor dengan berbagai cara pun tidak mendapat sahutan. Keduanya kembali ke halaman dengan wajah muram. Berpikir keras.

Mereka hanya perlu memastikan gadis itu baik-baik saja di suatu tempat.

“Mungkin Jinri di rumah lama orang tuanya.” Chanyeol berseru lebih dulu, memberikan ide yang bisa jadi benar.

“Atau di rumah Bibinya,” ujar Baekhyun kemudian.

Chanyeol menyerahkan kunci mobil di telapak tangan Baekhyun dan segera mengatupkan jemarinya. “Pergilah ke sana. Aku coba cari di dekat kampus dan di tempat teman-temannya yang kukenal.”

Tanpa ragu, Chanyeol meraih sepeda biru milik Jinri yang terparkir tak jauh dan segera memacunya. Ia menghilang di balik rindang pepohonan, meninggalkan Baekhyun yang juga segera naik ke balik kemudi.

“Halo?”

“Bong?”

“YA! Min Jinri! Di mana kau? Kemana ponselmu? Apa yang kau lakukan? Kenapa sulit sekali mengubungimu? Apa kau baik-baik saja?”

“…”

“Min Jinri?”

“Kau berisik sekali, Bong.”

“YA!!!!”

“Ini nomor ponsel temanku. Simpanlah. Dia sangat menyukaimu, kau tahu? Aigo, kau pasti senang kan?”

“BODOH! Aku tidak peduli! Dimana kau sekarang?”

“Tidak usah teriak-teriak, bisa tidak?!!”

Pip! Jinri mengakhiri panggilan dengan dada naik turun berdebar-debar. Telinganya sampai sakit mendengar suara berat dan besar itu berteriak dekat sekali. Ia menghempaskan benda mungil itu di atas selimut.

“Kau masih menyukainya? Dia itu tidak waras!” hakim Jinri tepat di hadapan Dahye, teman sesama mahasiswa kedokteran yang tergila-gila dengan lelaki bernama Park Chanyeol.

Anggukan Dahye yang cepat menjadi jawaban absolut. Jinri mendengus kesal.

Setelah berlalu dari Analise, Jinri berjalan menyusuri kawasan pertokoan di sana dan tak disangka bertemu dengan Dahye yang baru keluar dari minimarket. Apartemen Dahye tak jauh dari Analise, membuat Jinri setuju untuk menginap. Lagipula, tak ada kelas pagi esok hari jadi keduanya bisa lebih santai.

Setelah berganti pakaian dan mencuci wajah, di pertengahan sesi menuju lelap, Dahye mengutarakan kalau ia menyukai Chanyeol. Hal yang serta-merta membuat Jinri menganga lebar tak percaya.

Dan di saat pernyataan tulus Dahye, Jinri tak tega untuk membiarkan gadis itu berharap pada sesuatu yang tak pasti seperti Park Chanyeol. Jadi ia bercerita bahwa Chanyeol adalah teman masa sekolahnya. Tentu saja Dahye merasa hal itu seperti sebuah anugerah. Tapi tidak sepenuhnya begitu bagi Jinri, karena ia dan Chanyeol seperti dua kutub yang sama jika berdekatan: selalu bertengkar dan tidak tahan berlama-lama bersama.

Ia bermaksud menunjukkan seberapa tidak pantasnya Chanyeol untuk mendapatkan gadis sebaik Dahye. Jadilah ia menelepon lelaki itu dengan nomor ponsel milik Dahye.

Jinri menyebutkan sumpah serapahnya pada Chanyeol setelah panggilan tadi berakhir dan Dahye hanya tertawa pelan. Di sela-sela itu, ponsel Dahye berbunyi lagi. Keduanya melihat ke layar, kali ini sebuah nomor asing melakukan panggilan.

“Ini Kyoong,” ujar Jinri pelan.

“Temanmu yang lain? Kalau begitu angkatlah.” Dahye menunjuk ponsel di atas selimut dengan dagunya.

Jinri ragu sesaat. “Sepertinya akan lebih baik kalau kau saja yang mengangakatnya, Dahye-ya. Ini kan, ponselmu.”

Dahye pun sama, ia memicining sebentar sebelum diputuskannya untuk menjawab panggilan itu. Suara di ujung sana kelewat lembut dan merdu, membuat Dahye seketika menggunakan sapaan formal. “Ya, aku temannya Jinri—ah, malam ini Jinri menginap di apartemenku—di Dongdaemun…, dekat….,”

Analise Cafe,” Jinri menggumam samar.

Dan Dahye setuju bahwa tempat itu bisa dijadikan patokan. “Dekat Analise Cafe. Iya, Hong Apartemen. Lantai delapan unit 21-A—ah, Jinri bilang dia akan menunggu di lobby. Kau bisa menelepon ke mari nanti kalau sudah sampai—ya, baiklah.”

Panggilan terputus. Seiring dengan hati Jinri yang mencelus.

Jinri tahu bahwa tubuhnya seketika kebas. Ia merasa sesak dan terhimpit bersamaan. Namun ada perasaan aneh yang menelusup saat ia dipeluk oleh dua tangan besar itu dengan begitu erat. Seolah tak ingin kehilangannya. Merasa dirinya begitu berharga. Dan Jinri suka dengan perasaan itu.

Jinri membisikan sesuatu, seperti ‘aku di sini’ dan ‘lain kali aku akan selalu membawa ponselku’, lalu berakhir dengan ‘aku tidak akan membuatmu cemas lagi’ berulang-ulang sambil melingkarkan lengannya di balik tubuh pemeluknya.

Jinri juga sadar bahwa debar jantung mereka seirama dengan napas yang hampir habis saat bibir mereka bersentuhan di bawah langit malam.

deera says : mungkin ada yang bertanya atau penasaran, kenapa di cerita bikinanku (pen-name deera) ada seorang user wp dengan nama destaayyy balesin komentar sih? Yaeyalah, kan itu aku juga orangnya :p so, pen-name aku memang deera, tapi id-wp ku destaayyy. Sekian sekilas info *lol* 😀

Iklan

16 thoughts on “Sweet Sparks (8)

  1. Aq ga brtanya2 kok #plakk coz aq uda tau kalo itu kak deera, kekeke aq jg bgadang ggara cmback,tiap hari mantengin medsos mulu. Btw, tau blm kalo Chan, pitak? Kasian tuh abangq,psti stres ggara dpaksa krja rodi ma youngmin. Kak,ngetiknya buru2 y? Ada typo soalnya #peace btw,ni mo dbkin brp chapter? Udah pnasaran soalnya. Ya udin,nnti kalo jinri ma yeol, tulis aja hima bwt jodohnya baek, haha #ktawaevil (abaikan yg trakhir) 😀

    • Wkwk syukurlah kamu tau itu aku ahaha iya tau huhu dia stress kelamaan ga ketemu aku (?) haha waah thanks sudah koreksiin. Iya matanya suka siwer nih. Hm yah kira2 2 sampe 3 chapter lagi deh haha trums ya setia terus sini ketjup 😘

  2. Tuh kan bagian endingnya bkin greget.. jinri dikisseu siapa coba.. wkwk semangat yah thorr nulis lanjutanny! Btw comeback mrk yg skrg keren banget yah thorrr apalagi chanyeol dgn rmbut cabenya.. wkwk

    • Wkwk kira2 siapa coba haha udah kejawab sih di next chapter ahaha iya bangey tapi baekhyun sekejap ruining my bias list haha thanks ya setia bacain sini ketjup 😘

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s