Sweet Sparks (9)

sweet sparks

Sweet Sparks

Casts of Chanyeol, Baekhyun and Jinri (OC)

Presented by deera

Friendship. Romance. Series.

Stories : Jinri’s To-Be-True Wedding Party | Chanyeol’s Everlast PainJinri’s Unavoidable Problem | Baekhyun’s Cannot-Bare Fear | Jinri’s Half-Moon-Curved Lips | Baekhyun’s Untold Feeling | Chanyeol’s Not-So-Late Freedom | Jinri’s Black Day

Shot 9 : Baekhyun Has A Conclusion When Chanyeol Still Has Only Hypothesis

“You do.”

“I don’t! I told ya! I really don’t!”

“So, should I confess first so you’ll realize?”

Entah sejak kapan, Baekhyun sudah menyadarinya. Tapi mungkin ia butuh beberapa bukti lain untuk mengungkapkan yang sebenarnya. Supaya yakin dan tidak disebut mengada-ada.

Baekhyun tiba di depan komplek Hong Apartemen dan menemukan seorang gadis mungil tengah berdiri menyamping di halaman sambil mengantongi jemarinya di dalam jaket. Jinri menyadari kehadiran sedan silver tersebut. Mobil itu berhenti tepat di sebelahnya dan tampak wajah Baekhyun menyembul dari sana.

Hanya Baekhyun.

Ya! Kemana saja kau! Kenapa kau tidak datang ke pertunjukkanku? Kau salah telah melewatkan salah satu yang menakjubkan!” ujar Baekhyun sambil mengguncang tubuh Jinri.

“Aku datang! Tapi kau terlalu sibuk dengan gadis-gadis itu!” jawab Jinri sambil merengut.

“Gadis? Gadis yang mana?”

Heol, kau bahkan punya banyak gadis sekarang.”

“Astaga. Mereka hanya fans. Tunggu—jadi kau datang? Kenapa kau tidak menemuiku? Kau sudah bosan bertemu denganku? Ya, Min Jinri, kau tidak boleh begitu!”

“Astaga, kau berlebihan Kyoong. Aku tidak bisa menembus halauan gadis-gadis itu. Dan aku lupa membawa ponselku untuk mengabarimu.”

So that’s why you are unreachable tonight, my girl.”

That’s quite reasonable, chi?”

Baekhyun melepaskan kedua tangan dari cengkaramannya pada bahu Jinri. Ia mengedarkan pandangannya ke sekitar lobby. Dan matanya jatuh kepada sepeda biru milik Jinri yang terparkir di antara deretan sepeda yang lain.

“Chanyeol sudah sampai?” Telunjuk Baekhyun terarah ke arah parkiran sepeda.

Jinri melihat ke arah yang sama dan mengangguk pelan. “Dia tadi datang dan langsung pergi saat dapat telepon,” Jinri bermaksud mendekat dan berbisik, “suara wanita. Aku mendengarnya.”

Kedua tangan Jinri kembali masuk ke saku dan ia nampak menerawang. “Kau tahu, temanku yang tinggal di sini, Dahye-ssi, sangat menyukai si Bong. Sudah kukatakan padanya kalau Bong-ah punya banyak sekali wanita. Tapi dia tidak peduli. Aigo, aku tidak paham kalau cinta bisa membutakan seperti itu.”

Baekhyun menatap Jinri intensif.

Sedang gadis itu terus bercerita sampai tak sadar sedang diperhatikan.

“Bong-ah memang sangat populer di kampus. Semua wanita menyukainya dan semua pria megumpatnya. Dia mahasiswa teknik, jago main gitar, dan bernyanyi dengan baik. Dia pernah tampil di acara kampus—ingat kan? Dia juga tinggi dan cukup tampan.

“Tapi kebiasannya berganti wanita itu yang membuatku tidak tega membiarkan Dahye-ssi. Aku takut Bong-ah hanya mempermainkannya, seperti selama ini dia hanya bermain bersama wanitanya.

“Sedangkan Dahye-ssi tulus menyukainya.”

Tatapan Jinri berbalik pada Baekhyun yang tengah melipat tangannya dan tersenyum tipis. Ia juga memandang ke arah Jinri dan benar-benar mendengarkan ceritanya dengan baik.

“Kau setuju kan, Kyoong?” tanya Jinri lebih untuk meyakinkan argumennya.

Baekhyun mengangguk.

“Lalu,” Jinri meneguk ludah, “Bong-ah tidak tampak ingin menjalin suatu komitmen yang serius. Aku takut Dahye-ssi terluka kalau Bong-ah akan datang dan pergi sesuka hatinya, menarik ulur perasaannya, dan pada akhirnya tinggal menunggu waktu ia akan melihat Bong-ah bersama wanita lain.”

Tatapan keduanya kembali beradu. Senyum di bibir Baekhyun mengartikan sesuatu yang berlainan dengan sinar matanya. Membuat Jinri menelan kembali kata-katanya.

“Kenapa kau menatapku seperti itu?” hakim Jinri

“Tidak boleh?”

“Kau harus sebutkan alasannya.”

“Lucu saja.” Diiringi suara tawa tertahan Baekhyun.

“Apanya yang lucu? Aku?”

Eoh. Kau seperti sedang bercerita tentang pengalamanmu yang jangan sampai dialami juga oleh Dahye-ssi temanmu itu.”

Baekhyun menumpukan berat badannya pada kap depan sedan milik Chanyeol. Kini tangannya masuk dalam saku jeans. Ia tersenyum selebar yang ia bisa dan memandang Jinri jenaka.

Dahi Jinri mengerut. Ia balas menatap Baekhyun tak gentar. Kedua tangannya yang tadi bergerak ke sana-ke mari mengikuti alur cerita kini dilipat.

“Banyak orang yang kukenal mengalami hal seperti ini, Kyoong-ie. Aku hanya me-resume,” ujar Jinri santai dan datar.

“Begitukah?” Baekhyun masih tetap dengan senyum jahilnya.

“Bagaimana bisa kau sebut itu pengalamanku? Maksudmu—aku mengalaminya juga? Dengan Park Chanbong?”

Baekhyun mengangkat bahu. “Siapa yang tahu.”

“Kau mulai tidak masuk akal. Kenapa kau tidak pulang saja, Byun Baekhyun?” tanyanya.

“Wah,” mata Baekhyun berusaha membulat, “ini pertama kalinya kau memanggilku dengan benar.”

Jinri menganga. Ia sendiri tak percaya nama itu bisa keluar dari bibirnya. “Benarkah? Memangnya aku tidak pernah memanggilmu dengan Byun Baekhyun?”

“Woah. Woaah~~”

“Berhenti, Kyoong. Itu terdengar memuakkan.”

“Woah~~ Woah~~~”

Kedua tangan Baekhyun menutupi mulutnya seolah terkejut dengan mata yang dibuat-buat melotot. Jinri terkikik geli melihat usaha Baekhyun begitu dan justru menggelitikinya sampai tak sadar keduanya tertawa terbahak-bahak.

Dan berakhir memeluk satu sama lain.

Jinri jatuh menimpa Baekhyun yang bersandar di kap mobil karena ia kegelian dengan serangan Jinri. Dan tangan Baekhyun jatuh melewati tubuh gadis itu hingga ke punggung.

Nampak seperti sedang berpelukan sambil setengah berbaring di atas kap.

Jinri menyadari posisinya tidak benar. Ia bertumpu pada sebuah sisi untuk kembali berdiri dan membersihkan tubuhnya. Baekhyun juga bangkit untuk kembali ke posisinya semula.

“Jadi kau menyukai Chanyeol.”

’Kau’?” Jinri memekik. “Siapa ‘kau’ yang kau maksud itu, Kyoong-ie?”

Lelaki itu memicing. “Siapa lagi? Kau ingin ‘kau’ itu Byun Baekhyun?”

Jinri mengerjap bingung. “Maksudnya…, aku? Aku menyukai Chanyeol? Oh, begitu.”

“Hei, tidak perlu seekstrim itu. Aku tahu kau sekarang sedang ketakutan. ‘Eottokhae? Kenapa dia tahu?’ Kau pasti sedang berdebar-debar, ya kan?”

Wajah datar Jinri menjawab sebaliknya.

“Usahamu sia-sia, Min Jinri. Aku tahu,” kataya kemudian sambil mengacak rambut panjang dan hitam Jinri.

“Aku tidak paham apa isi kepalamu, Kyoong. Kenapa topik kita jadi random seperti ini?”

“Jadi benar kan, kau menyukai Chanyeol?”

“Tidak.”

“Kau menyukainya.”

“Sudah kukatakan tidak, Kyoong! Bisakah kau hentikan? Ini mulai tidak wajar!”

“Jadi haruskah aku yang menyatakannya duluan supaya kau menyadari bahwa kau menyukainya?”

Entah sejak kapan, Chanyeol sudah menyadarinya. Tapi mungkin ia butuh beberapa bukti lain untuk mengungkapkan yang sebenarnya. Supaya yakin dan tidak disebut mengada-ada.

Chanyeol mengayuh sepeda biru milik Jinri dengan cepat. Ia tiba di sebuah persimpangan saat merasakan ponselnya bergetar. Sebuah panggilan masuk dari nomor tak dikenalnya. Dalam keadaan biasa saja, Chanyeol akan membiarkan panggilan itu berlalu. Dan harusnya, dalam keadaan genting seperti saat itupun ia akan menganggapnya lalu.

Tapi firasatnya lain.

“Halo?” sapanya di awal pembicaraan.

“Bong?”

Suara yang teramat dikenalinya.

YA! Min Jinri! Di mana kau? Kemana ponselmu? Apa yang kau lakukan? Kenapa sulit sekali mengubungimu? Apa kau baik-baik saja?”

“…”

“Min Jinri?” panggil Chanyeol sekali lagi.

“Kau berisik sekali, Bong.”

YA!!!!”

“Ini nomor ponsel temanku. Simpanlah. Dia sangat menyukaimu, kau tahu? Aigo, kau pasti senang kan?”

“BODOH! Aku tidak peduli! Dimana kau sekarang?”

“Tidak usah teriak-teriak, bisa tidak?!!”

Pip! Gadis itu mematikan sambungan dan membiarkan Chanyeol terdiam sesaat. Sebuah perasaan lain yang muncul adalah lega. Tahu bahwa gadis itu baik-baik saja sudah mengangkat separuh beban yang menghimpitnya. Ia segera menghubungi Baekhyun untuk memutar balik kemudinya…, ah, Chanyeol lupa, gadis itu tak menjawab keberadaanya. Jadilah Baekhyun menelepon balik nomor itu. Sedang Chanyeol menunggu kabar di depan komplek pertokoan yang sudah tutup. Tentu saja—ini hampir tengah malam.

Pesan berisi lokasi Jinri masuk ke ponselnya, membuat Chanyeol kembali naik ke atas sepeda dan memacunya menuju kawasan Dongdaemun. Lelaki itu berjalan dengan kecepatan sedang karena ia yakin bahwa Baekhyun akan tiba lebih dulu di sana.

Hingga di belokan terakhir, Chanyeol sudah melihat Analise di kejauhan, ia hanya perlu berbelok sekali dan menemukan komplek Hong Apartemen di sebelah kanan. Ia memarkir sepeda dan tak menemukan sedan silver miliknya. Itu berarti Baekhyun belum datang.

Lantas Chanyeol memasuki lobby. Baru saja ia bermaksud menelepon nomor yang tadi dipakai Jinri untuk menghubunginya, pintu lift di depannya terbuka dan ia menemukan Jinri di sana. Menatapnya datar tanpa ekspresi dibuat-buat. Jinri memang memiliki wajah seperti itu.

“Kenapa kau yang di sini? Mana Kyoong-ie?” tanyanya lagi dengan kepala menoleh ke kanan dan kiri mencari sosok kecil yang mudah bersembunyi itu.

Namun Jinri kelewat terkejut dengan gerakan tiba-tiba Chanyeol yang datang menghamburnya. Lelaki itu menjatuhkan lengannya di balik tubuh Jinri. Sebelah tangannya menangkup bagian belakang kepala gadis itu dan mengelusnya lembut. Kepala Chanyeol menelusup di perpotongan bahu dan leher Jinri. Mengalirkan hawa hangat yang selalu laki-laki ini miliki—berbading terbalik dengan kedua tangan Jinri yang selalu dingin seperti orang mati padahal ia baik-baik saja.

Chanyeol melepas kungkungannya. Ia menatap Jinri yang nampak kebingungan diperlakukan begitu.

“Aku lebih dekat dengan Dongdaemun, jadi itu mengapa aku lebih cepat sampai,” sahut Chanyeol sambil mundur selangkah.

“Jadi kalian mencariku?” Jinri bertanya santai seperti ini-hari-apa-ya yang membuat Chanyeol gendok setengah mati.

“Jangan pernah tidak mengabari satu di antara kita—kau kan lebih sering bersama Baekhyun, setidaknya dia harus tahu. Jadi saat aku bertanya, kita tidak saling bertanya-tanya satu sama lain.”

“Apa itu begitu penting?”

Chanyeol mencebik. “Ini akan terdengar sangat menyakitimu. Jadi kau bersiap.”

Jinri tidak tahu apa yang akan Chanyeol bicarakan.

“Kau tinggal sendirian tanpa keluarga. Kau hanya punya aku dan Baekhyun. Lalu kau akan pergi kemana saat tidak bersama aku atau Baekhyun tanpa memberi kabar?” ucapnya berapi-api.

Heol. Aku punya kehidupanku sendiri,” jawab Jinri yakin.

Chanyeol mengdengus. “Itu sebabnya.

“Itulah mengapa kau harus memikirkan sekarang, bagaimana rasanya membuat cemas orang lain.

“Kau terbiasa hidup sendirian. Tidak ada yang mengkhawatirkanmu, tidak ada yang mencarimu kalau kau tidak pulang. Hidup seperti itu memang luar biasa bebas. Dan kau harus mengakuinya kalau di balik itu, kau juga kesepian, chi?”

Chanyeol melanjutkan, “Merasa beruntunglah karena masih ada aku dan Baekhyun. Kau memang sudah besar, sudah dewasa, dan merasa bisa hidup sendiri. Tapi kau masih butuh tempat untuk pulang dan seseorang untuk bisa kau andalkan.

“Dirimu itu tidak bisa menopang seluruh dirimu sendiri. Kau butuh orang lain.”

“Jadi apa kesimpulanmu, Park Chanyeol?” tanya Jinri.

Chanyeol terkesima dengan pertama kalinya Jinri menyebut namanya begitu. Lalu pertanyaan sederhana gadis itu. Lalu dengan jawaban yang dimilikinya.

Yang ternyata ia tidak punya jawaban.

Sesuatu di dalam dirinya mendobrak ingin muncul. Chanyeol tidak suka dengan perasaan gelisah semacam itu. Ia mencoba tetap tenang dan lari, tapi rasanya keingintahuannya terhadap sesuatu tersebut lebih besar hingga ia berbalik dan menghadapinya.

“Kau bisa mengandalkan aku,” ujarnya kemudian.

Jinri membelakakan mata.

Keduanya diam berpandangan setelah ceramah panjang Chanyeol. Jinri menunggu apa yang selanjutnya lelaki ini katakan tapi Chanyeol seperti kehilangan kemampuannya berpikir. Chanyeol memang bodoh, tapi ia tidak pernah sebuntu ini.

“Jadi aku hanya perlu tidak membuatmu cemas kan?” tanya Jinri, berusha mengklarifikasi.

“Bukan—“

“Baiklah, lain kali aku akan selalu membawa ponselku. Aku akan mengabarimu—atau Baekhyun—dan mengatakan keberadaanku, sedang apa, bersama siapa, dan semacamnya. Aku juga tidak akan membuatmu cemas lagi.”

Bukan itu maksudnya, jerit Chanyeol dalam hati.

Chanyeol tidak tahu persisnya kapan. Mungkin saat pertama kali melihat Baekhyun dan Jinri begitu dekat, melebihi kedekatan ketiganya. Chanyeol merasa bahwa Jinri lebih nyaman bersama Baekhyun dibanding dirinya.

Sebab itulah yang membuat Chanyeol menjauh—selain karena ia sibuk. Ia sengaja memberikan kesempatan bagi kedua sahabatnya itu agar hubungan mereka semakin membaik.

Tapi itu hanya dugaan, walau Chanyeol punya banyak sekali bukti. Setelah Baekhyun berkata sebelumnya bahwa anak itu hanya menanggap Jinri teman, entah alasan apa yang membuat Chanyeol sedikit menghela napas.

Bukan berarti Chanyeol menyukai Jinri. Entahlah, Chanyeol sendiri bingung.

Lelaki itu menerka-nerka perasaannya sendiri. Kalaupun iya, Jinri tidak nampak akan membalas perasaannya. Tiba-tiba ia ingat perkataan Baekhyun tentang seseorang di antara mereka yang menyimpan perasaannya rapat-rapat.

Kali ini, Chanyeol yakin itu Jinri. Dan untuk mengetahuinya, Chanyeol harus membuktikannya.

Jinri sedang bicara sendiri tentang dimana Baekhyun, kenapa ia belum sampai, apa dia tidak cemas, kenapa keduanya tidak pergi bersama saja…, gadis itu nampak hanya memikirkan Baekhyun. Chanyeol sempat ragu, kalau yang berusaha disimpan Jinri adalah perasaannya untuk Baekhyun.

Keduanya berdiri berhadapan dengan jarak sempit. Tangan Chanyeol terjulur untuk menarik dagu Jinri dan mengecupnya sekilas. Ia mendaratkan bibirnya tepat di atas milik Jinri dan merasakan manis dari lipstik yang digunakannya. Mungkin…, cherry? pikir Chanyeol sesaat sebelum menarik kembali wajahnya menjauh.

Ibu jari Chanyeol masih berada di dagu Jinri sebelum didengarnya gadis itu bergumam, “Ya, apa kau mabuk, Park Chanyeol?”

Chanyeol sadar: yang tengah menyimpan perasaannya rapat-rapat adalah dirinya sendiri.

deera says : next-nya, sisa chapter Sweet Sparks akan di-publish seminggu sekali tiap Sabtu. Aku janji takkan ngaret karena sisa tinggal dikit lagi *spoiler alert* oiya, dua chapter lalu aku sempat lempar pertanyaan ya, soal lagu apa yang dinyanyiin Baekhyun di depan Jinri waktu mereka latihan. Sebetulnya itu lirik buatanku haha bukan lirik, cuman paragraf berima yang keliatannya oke kalau dijadiin lirik lagu. Ya anggap aja itu bikinannya si yuni haha

Iklan

22 thoughts on “Sweet Sparks (9)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s