Drink

chennexoff

Kim Jongdae [EXO] & Sena Kim [OC]

romano, ficlet, fluff

written by: saras

“Aku kan cuma ingin melihat kau minum”

.

Siang itu terik sekali, saking teriknya membuat Kim Jongdae yang sangat tampan ini hampir pingsan di bawah kanopi seberang minimarket, yang tak jauh dari kediamannya. Maksudnya, kediaman Jongdae dan 4 makhluk malas. Sudah lima belas menit ia terdiam disitu. Terlalu dini untuk membiarkan matahari memanggangmu habis habisan. Begitu pikirnya.

“Ini semua gara-gara ketidakberuntunganmu, tuan Kim Jongdae” Ia mendengus.

Tepat sebelum kesialan ini terjadi, Jongdae menghunuskan tatapan tajamnya kepada Jongin yang tertawa karena mengalahkannya dalam permainan bodoh semacam kertas-batu-atau-gunting. Singkatnya, tak ada satupun manusia tulus diantara Jongdae, Kris, Jongin apalagi Baekhyun yang mau pergi ke minimarket untuk sekedar membeli minuman dingin. Stok mereka sudah habis untuk berpesta tempo hari lalu. Mau tak mau karena Jongdae memang tak mujur, ia harus merasakan suhu 36,5 derajat celcius demi para pemalas itu.

Jongdae berlari sambil mengumpat-umpat. Melupakan pesan ibunya untuk selalu menjaga mulut.

“Sialan, persetan, dasar kumpulan lajang kurangajar. Kudoakan kalian baru akan menikah begitu umur tujuhpuluh tahun. Duh, maafkan aku ibu” Jongdae buru-buru menyentuh panel pintu supermarket.

Kling.

Jongdae melirik ke arah meja kasir. Biasanya yang akan Jongdae dapati adalah bocah lelaki sekolah menengah atas yang kebetulan bekerja paruh waktu di minimarket itu. Yang ia dapati seorang gadis yang sedang bermain ponsel di depan meja. Rambut coklat magoni gadis itu menggantung ikal.

“Selamat datang” Katanya pendek, tetapi Jongdae sempat membaca nametag yang gadis itu kenakan. Ia hanya diam menyimpan nama itu sembari mencari minuman dingin dan makanan kecil. Lagu mengalun lamat-lamat, Jongdae berusaha mengingat lagu yang sering dinyanyikan oleh Jongin. Dengan suara—yah kau tahulah bagaimana suara Kim Jongin itu.

Ponselnya berdering menandakan notifikasi grup mereka di LINE. Baekhyun mengeluh hampir mati padahal baru 10 menit ia keluar dari apartemen mereka. Dasar berlebihan, mampus saja kalau begitu. Aku akan mewarnai peti matimu dengan gembira. Balas Jongdae sengit. Ia hampir limbung karena tangannya penuh oleh pesanan.

“Kau bisa memakai keranjang jika ingin praktis” Pura-pura saja Jongdae terkejut namun gadis itu tak bergeming dari ekspresi kosongnya. Rasanya ingin ia bertanya apakah gadis itu kerasukan atau tidak.

Posisi rambutnya sudah tergelung berantakan, nampak bulir keringat dari dahinya. Padahal yang Jongdae ingat biasanya minimarket ini memasang suhu 21 derajat. Mungkin dia orang Afrika, pikir Jongdae lagi. Dan sempat sempatnya ia terkikik. Tolong diingat terkikik di tengah lengangnya minimarket. Hebat sekali Kim Jongdae, kau resmi tidak waras hari ini.

Tak bisa menahan haus yang berlebih, Jongdae membuka tutup botol salah satu merk minuman kesukaannya. Menghabiskannya dalam hitungan detik. Mengeluarkan suara ‘aah’ begitu minumannya tandas tak bersisa. Langkahnya riang menuju ke kasir, Jongdae berusaha menyamai suara Shawn Mendes saat menukik di chorus The Weight. Lagu kesukaan Jongin ternyata tak terlalu buruk kok.

“Apa kau mau menggunakan plastik?”

Jongdae menggeleng, menggoyangkan tas kecil dari ibu Baekhyun beberapa bulan lalu.

“Oh, baiklah totalnya 8000 won” Tak ada yang luar biasanya dari aktifitas transaksi Kim Jongdae di supermarket kali ini. Tapi, Jongdae tak berpura pura kaget ketika gadis itu menyodorkannya sebotol minuman dingin yang sama.

Keningnya mengerut.

“Aku kan cuma ingin melihat kau minum disini. Aku yang traktir” Memang dasarnya seorang Kim Jongdae kelewat polos langsung meminum tanpa mengendus ujung botol, dalam beberapa tenggak saja. Siapa tahu gadis itu menambah sianida atau racun lainnya. Mata Jongdae menangkap kedua tangan gadis itu yang bertumpu pada pipi tirusnya, mengamati Jongdae dengan serius.

Jongdae hanya terkekeh ketika gadis itu selesai mengatur belanjaannya. Tak merasa ketakutan setelah ada gadis asing yang mentraktirnya minum karena hanya ingin melihat bagaimana seorang pangeran Kim Jongdae minum.

“Eh, namamu Sena Kim kan?” Sena mengangkat wajahnya, hanya berdehem sebagai jawaban. Anggap saja kalimat tanya Jongdae barusan sebagai basa-basi anak ingusan.

Tanpa jeda, uluran tangan Jongdae sudah ada di depannya. “Namaku Kim Jongdae, aku tinggal di Byuksun Mansion. Hanya 4 menit dari minimarket ini”

Sena tetap menyambut uluran tangan Jongdae yang sudah overdosis tersenyum.

“Senang berkenalan denganmu, tetapi sayangnya tuan Kim aku tak membutuhkan alamat apartemenmu”

“Sayang sekali, aku hanya membutuhkan nomor ponselmu nona Sena Kim. Sepertinya kita berjodoh karena marga kita sama” Sumpah, kalian boleh muntah setelah mendengar kalimat picisan Jongdae barusan.

Mulut Sena membuka, mengucap nomor ponselnya tanpa jeda.

.

Baekhyun menjatuhkan badan mungilnya di atas sofa beludru ruang tengah. Jadwal semester akhir memang mencekik kehidupannya akhir akhir ini. Bersamaan dengan Jongin dan yoga mat nya.

“Haus, aku haus sekali. Aku ingin es krim” Pintu terbuka kembali, Jongdae melepas sepatunya. Diskusi yang tak terlalu buruk dengan penyanyi baru yang ingin membeli lagunya. Padahal baru kemarin, lagu yang ia produseri mencetak all-kill dalam kurun waktu 12 jam.

Dengan terhuyung Jongin berjalan ke kulkas mereka, tak ada apa-apa disana selain bahan makanan. Jongin menepuk dahinya, hari ini gilirannya untuk pergi ke minimarket. Badannya remuk redam akibat sesi yoga bodoh tadi pagi.

“Kenapa, Jong?”

Belum sempat Jongin berbicara, Baekhyun sudah mengaduh. Tahu apa arti tatapan memelas Jongin begitu juga dengan Jongdae. Antena di kepalanya berkedip kedip, kegirangan.

“Biar aku saja yang pergi ke minimarket!” Dengan kesetanan, Jongdae yang belum melepas kemejanya dan kaus kaki melesat seperti kecepatan cahaya menghilang begitu saja.

“Hyung” Baekhyun menoleh.

“Ini hanya perasaanku saja atau memang benar adanya Jongdae hyung sering sekali pergi ke minimarket beberapa bulan ini?”

Baekhyun mengangkat bahunya. “Tidak tahu. Kira-kira ada apa di minimarket itu ya?”

.

Hai!

Sudah lama aku enggak nge-post fanfiksi di exofanfiction. Rasanya kangen karena reaksinya BAGUS BANGET, HAHAHA

Akhirnya memang cuman Kim Jongdae tokoh yang sangat amat menyenangkan kalau dibikinin fanfiksi. Oh iya, untuk kalian yang juga baca fanfiksiku E.T di sini tolong sangat amat bersabar karena aku sedang bikin something something. Karena aku ngerasa bahasa di E.T adalah jaman aku belum pubertas very ewww.

Selamat puasa, dan jangan lupa mampir ke wp keroyokanku : exolady.wp :))

Moah!

10:06

 

 

5 thoughts on “Drink

  1. Gara-gara tuh minuman jongdae jadi rajin ke supermarket. Coba aja jongdae di kasih es cendol bikinan bang cahyo waktu buka, mungkin tu anak jadi rajin ke mushola.😀😀
    keren kak, fighting!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s