Gift

The Gift

a fanfic by drixya

THE GIFT

Oh Sehun adalah pemberi hadiah terbodoh

with Oh Sehun and Wu Allena || Romance || Teen || Vignette

I own nothing, but storyline and OC. Beautiful poster credits to Lizzle Ayumu Rin at IFA.

the story is started here!

 

“Kau…menyukainya?”

Allena mengalihkan pandangan pada pemuda tinggi yang bersisian dengannya. Sejenak ia memindai raut yang tergambar di wajah rupawan si pemuda. Ekspresinya kikuk, ketara sekali. Ada yang menggelitik perut Allena agar segera menjawab, namun keengganan untuk bersuara lebih berkuasa.

Ia kembali memfokuskan arah pandang pada hal lain. Dan tetap bungkam. Tak urung, si pemuda semakin gelisah dibuatnya. Lima menit berlalu semenjak Allena dibawanya ke tempat dimana mereka berada sekarang, tapi tak satu pun kata terucap dari bibir ranum si gadis.

Sehun, si pemuda, menghela napas untuk kesekian kalinya. Rasa pasrah sudah mendominasi. Entah akan seperti apa tanggapan Allena, ia tak mau ambil pusing. Tak apa gadis itu tak menyukainya, yang terpenting Sehun sudah berusaha sebaik yang ia bisa.

“Alle, bagaimana kalau kita pulang sekarang? Aku yakin Baba-mu tak ‘kan suka kita pulang malam.” Tutur Sehun, teringat akan petuah ayah sang gadis yang mengharuskan mereka pulang sebelum langit gelap.

Sehun berniat menarik lengan Allena keluar andai gadis itu tak justru menghentikan geriknya. Keduanya kini saling berhadapan dengan Sehun yang tampak berusaha menghindari kontak mata. Ia khawatir kalau-kalau Allena menghadiahinya ekspresi kecewa yang sangat tidak ingin dilihat Sehun. Ayolah, siapapun tak ingin melihat kekecewaan di wajah orang yang dicinta.

“Kau bodoh.”

Deg.

Sehun terpaku mendengar dua kata pertama yang meluncur dari mulut Allena sore ini. Tanpa kehendaknya, arah pandangnya jatuh juga pada milik Allena. Bukan gambaran kecewa yang Sehun temukan di sana, melainkan raut datar yang sulit ia telaah.

“Y-Yeah, memang mungkin terlihat sedikit norak,” aku Sehun seraya memandang sekeliling.

Gadis Wu menggeleng, “bukan begitu.” Alis Sehun terangkat sebelah, menelisik isi otak Allena lewat manik kelamnya. Namun semakin ia menerka, semakin ia tak mengerti. Oh, wanita memang sulit ditebak.

“Lalu?” tanya Sehun, sedikit frustasi.

Awalnya Sehun kira Allena akan memarahinya atau paling parah memakinya. Tapi apa yang ia terima sungguh di luar nalar Sehun. Allena justru menarik tengkuknya, serta merta memeluknya erat. Selama beberapa sekon hanya ada senyap yang mendominasi.

“Kau tahu kenapa aku menyebutmu bodoh, Sehun?” Vokal Allena mengudara. Direspon Sehun dengan gelengan walau si gadis tak bisa melihatnya.

“Kau itu bodoh karena memberiku hadiah bodoh. Bagaimana bisa kau memberiku hadiah seperti ini?”

Sehun sudah bersiap jika harus mendengar kalimat seperti itu dari Allena. Tapi ternyata mendengarnya secara langsung, sebagian dari diri Sehun seakan kehilangan jiwanya. “Jadi, kau tidak suka?” Membuat Allena mengulum tawa sebab menangkap nada lesu dalam suara si pemuda.

“Ya. Aku tidak suka karena hanya ruangan ini yang tampak bagus.”

“Kan, sudah ku bilang ruangan lain masih dalam tahap akhir, Alle.” Sehun sedikit merajuk, berusaha meminta pengertian si gadis. “Tapi kenapa ruangan ini yang pertama selesai?” Sesal Allena, maniknya menelusuri ruangan tersebut.

“Lho, memangnya kenapa?”

Pertanyaan polos tersebut tak ayal membuat si gadis cukup kesal. Hadiah yang Sehun berikan memang lebih dari cukup. Wanita manapun pasti akan merasa bahagia dihadiahi sebuah rumah oleh orang terkasihnya.

Rumah tersebut belum sepenuhnya rampung. Baru sekitar 65% yang selesai. Itupun baru satu ruangan yang benar-benar terlihat seperti ‘rumah’. Tak lain ialah ruangan dimana keduanya kini berdiri, ruang bercat merah muda dengan pernak-pernik feminim yang mendominasi, ruang yang sempat membuat Allena terperangah ketika pertama melihatnya, ruang yang menurut Sehun akan menjadi kamar bagi bayi mereka.

“Karena kita-kan belum punya bayi, Tuan Oh Sehun yang cerdas.” Kata ‘cerdas’ sedikit Allena tekankan. Justru hanya memicu kekehan si pemuda.

“Kalau begitu, kita buat saja. Bagaimana?” goda Sehun. Lantas Allena merasa darahnya mendidih hingga ubun-ubun. “Bahkan kita belum menikah, Sehun mesum!” Allena sedikit berteriak. Sehun ingin sekali menutup telinganya yang terasa sakit mendengar pekikan si gadis. Tapi apa daya, Allena masih memeluknya. Mau tak mau Sehun tak dapat berbuat banyak.

“Tapi kita akan menikah, kan?”

Sunyi seketika. Allena seolah kehilangan kata. Hubungan mereka memang sudah terjalin sejak lama, tapi selama ini ia tak berani berpikir sejauh itu. Sebab ia meragu, akankah ia siap menjalani tahap lebih serius bersama lelakinya? Allena merasa tak memiliki wife-material yang seharusnya ada pada diri seorang wanita. Ia tak pandai bersolek, memasakpun hanya makanan tertentu yang ia mampu. Belum lagi ia terbiasa bebas melakukan apapun yang ia mau. Dan menikah artinya ia harus kehilangan hal itu.

Dahi Sehun berkerut merasakan rengkuhan Allena pada lehernya melonggar hingga benar-benar terlepas. “Tidak, Sehun. Aku tidak bisa.” Lirih Allena. Sebentuk senyum Sehun ukir. Prediksinya tentang keraguan Allena kini terbukti.

Jemari Sehun menyisipkan helaian surai kelam Allena ke belakang daun telinga si gadis. Lantas membingkai wajah Allena dengan kedua telapak tangan. “Aku memang bodoh, tapi tak sebodoh itu, Allena. Untuk apa aku bekerja tanpa kenal siang atau malam untuk membangun rumah ini kalau aku tidak yakin kau bisa menjadi istri yang baik untukku? Apa pembuktianku selama ini belum cukup? Apa perasaanku padamu tidak bisa membuatmu percaya padaku?”

“Bukan seperti itu, Sehun.” Suara Allena terdengar putus asa.

“Kalau begitu, percayalah. Bukan hanya kau atau aku, tapi kita. Kita yang sama-sama belajar menjalaninya nanti. Mungkin tak ‘kan selancar yang kita harapkan. Tapi kalau kau mau percaya padaku dan sebaliknya, aku yakin kita mampu menghadapi apapun bersama.”

“Tapi kalau kau memang masih butuh waktu, aku akan menunggumu.” Imbuh Sehun bersama seulas senyum di akhir kalimat.

Gadis Wu termenung. Tatapan Sehun seolah berusaha menenangkan. Di sisi lain, Allena tenggelam dalam pikirannya sendiri. Mencerna kata demi kata yang si pemuda ungkapkan padanya.

***

Jemari Allena menari lincah di atas papan kunci laptop. Mengetikkan beberapa kata, di detik berikutnya menghapusnya. Tidak begitu seharusnya. Yang benar adalah Allena mengerjakan laporan keuangan yang harus ia selesaikan hari itu juga. Tapi bukankah kenyataan tak selalu sesuai harapan? Sama halnya yang terjadi saat ini pada Allena.

Ia meremas surai, melampiaskan kemarahan akan ketidakprofesionalannya sendiri. Pekerjaan dan urusan pribadi haruslah dipisahkan. Tapi mengapa begitu sulit bagi Allena untuk mengeyahkan ‘urusan pribadi’ dari rasa dan logikanya?

Allena menghempaskan tubuhnya pada sandaran kursi seraya memejamkan mata, berharap setidaknya dapat sedikit menjernihkan pikiran ketika suara ketukan terdengar. Tak buth izin pemilik ruangan bagi si pengetuk pintu untuk bisa melewati batas tersebut. Ia masuk begitu saja lalu duduk di kursi yang bersebrangan dengan Allena.

“Kapan kau kembali, Ge?” Tanya Allena, seolah tahu siapa orang dihadapannya tanpa membuka mata.

Sang tamu terkekeh, “kau tidak marah aku masuk ke ruanganmu tanpa izin, huh?”

Allena mendengus. Ia membuka indra penglihatannya lalu menatap malas lelaki disebrang. “Justru aku heran kenapa Gege mengetuk pintu segala. That’s not your style, Yifan Ge. Apa seminggu di China membuatmu sadar? Atau jangan-jangan Gege terbentur sesuatu disana lalu hilang ingatan?”

Yeah, mungkin saja.” Yifan mengedikkan bahu, acuh. Membuat Allena tertawa kering, tak habis pikir. “Kau gila, Ge.”

Si sulung menyeringai, “adik kecilku yang satu ini memang sangat mengenal kakaknya. Sebagai imbalannya, bagaimana kalau ku traktir?”

Salah satu alis Allena terangkat mendengar tawaran yang lama tak ia dengar dari sang kakak.

***

“Ku kira kau mau meneraktirku di restoran atau café, maybe?”

Yifan terkekeh, “tapi begini lebih baik, kan?”

Allena tak lantas menjawab. Ia mengigit bagian dari hotdog-nya—yang dibelikan Yifan—seraya menatap pemandangan sekitar. Kini keduanya tengah berada di atap gedung tempat Allena bekerja. Dengan langit kelam sebagai atap, semilir angin yang berbisik serta kelap-kelip puluhan lampu gedung di kota Seoul yang mengelilingi mereka.

Berkutat dengan tugas kuliah dan pekerjaan ternyata sanggup membuat Allena hampir lupa akan udara alami seperti yang ia rasakan sekarang. Walau tak sesegar di pedesaan, Allena bersyukur masih dapat bernapas lega dalam arti yang sesungguhnya.

“Ya, ini lebih baik.”

Yifan turut tersenyum melihat sedikitnya ada ekspresi cerah yang Allena pancarkan. Jujur, hatinya cukup tak nyaman melihat bagaimana gadis itu tampak kehilangan cahayanya saat di ruang kantor tadi. Walau Allena tak mengatakan apapun, ia tahu adiknya itu sedang tidak dalam keadaan baik.

“Ku dengar, Sehun memberikanmu hadiah.”

Allena menoleh, “pasti Luhan Oppa yang memberitahumu, ya?”

Well, dari mana lagi aku bisa tahu bagaimana keadaan adikku dan kekasihnya secara detail?”

“Kau bisa bertanya pada Mama atau Baba.” Ujar Allena, kembali mengalihkan tatapannya pada pemandangan kota. “Kalau saja aku bisa. Tapi aku tahu, Allena. Kau bukan tipe yang akan bercerita pada keluargamu apa yang kau alami, kecuali hal yang membahagiakan.” Ungkap Yifan. Dia memang selalu menjadi yang paling tahu bagaimana ‘isi’ Allena yang sesungguhnya. Dan Allena benci karenanya. Sebab ia selalu merasa seperti ‘ditelanjangi’ oleh sang kakak dengan fakta yang kerap ia ungkapkan.

“Sebenarnya itu juga yang membuatku heran.” Tambah Yifan.

Bungsu Wu kembali mengingit dan menguyah roti isi daging di tangannya sebelum bertanya, “apa yang membuatmu heran? Gege kan sudah tahu segalanya.” Siapapun tahu kalimat kedua Allena lebih mirip sebuah sindiran dibanding pujian.

“Tentang hadiah dari si culun itu. Apa kau tidak menyukainya?”

Untuk beberapa saat, Allena terdiam. Memilih kembali menoleh dan menatap sang kakak yang kini asik melahap makanannya. “Pertama, Sehun tidak culun. Hell, dia bukan anak SMA lagi. Kedua, bagaimana mungkin aku tidak menyukai hadiahnya? Itu sebuah rumah, Ge!”

Yifan tertawa mendengarnya. Benar, siapa juga yang tidak akan suka dihadiahi sebuah rumah. Apalagi jika yang memberikannya adalah orang sekelas Oh Sehun, seorang direktur muda di perusahaan yang track record-nya tak perlu dipertanyakan lagi.

“Kalau begitu kenapa kau belum memberitahu Mama? Kalau Mama sudah tahu, pasti dia langsung menghubungiku, bukan?”

“Tapi Gege suah tahu dari Luhan Oppa, kan?” Allena balik bertanya.

“Ya, kau benar.” Yifan mengangguk, “itu artinya kau memang tidak suka hadiahnya? Karena kalau kau suka, pasti kau bercerita langsung pada Mama atau Baba atau aku.”

Kalimat itu sukses membuat Allena berdecak kesal dan melemparkan tatapan galak pada sang kakak. “Dengar, Wu Yifan. Berhenti bertingkah seolah kau tahu segalanya tentangku! Aku menyukai hadiah itu! Hanya saja—” Allena buru-buru membengkap mulutnya begitu menyadari perkataannya sendiri.

Lantas saja Yifan menyeringai, merasa telah menang atas adiknya. “‘Hanya saja’ apa, Wu Allena?” Sebelah alis Yifan terjungkit. Oh, Allena muak sekali melihat ekspresi penuh kemenangkan yang kakaknya tunjukkan secara terang-terangan.

“Baik, aku mengaku. Aku memang tidak suka hadiah itu. Puas?”

Sulung Wu buru-buru menggeleng, “kau bukan ‘tidak menyukainya’, Alle.”

Si bungsu tak serta merta menjawab. Ia menghela napas layaknya nenek tua yang kehilangan harapan. Sejurus kemudian, ia melempar asal hotdog yang belum sempat ia habiskan lalu menyembunyikan wajahnya di antara lutut.

Allena bersuara parau, “entahlah, Ge. Aku juga tidak mengerti apa yang aku rasakan. Aku sangat senang ketika tahu hadiah itu sudah dipersiapkan jauh-jauh hari olehnya. Tapi…” ia menghela napas pelan sebelum kembali melanjutkan kalimatnya, “setelah itu dia membicarakan soal pernikahan dan aku sama sekali tidak tahu harus bagaimana. Aku merasa belum pantas untuk melangkah sejauh itu.”

Demi menenangkan sang adik, Yifan mengusap punggung Allena. Terkadang ia merasa tidak mengerti bagaimana mungkin adiknya serta adik Luhan—Sehun—dapat berpikir lebih dewasa dari dirinya. Yifan sendiri bahkan masih enggan memikirkan soal pasangan, yang ada di otaknya saat ini hanya impian serta keluarganya terutama sang adik.

Pernikaha. Yang Yifan tahu itu bukan sekedar menjalin hubungan ‘serius’, lebih dari itu. Dan ia yakin betul Allena pasti merasa tertekan ketika kalimat sakral itu terucap dari bibir sosok yang begitu dicintainya. Berada dalam kebimbangan, itulah yang Allena alami saat ini.

“Allena, kau tahu kan aku tak begitu menyukai si culun? Tapi ada saat ketika aku merasa dia adalah orang yang tepat untukmu. Kau tahu kenapa?”

Tanpa mengangkat kepala, Allena menggeleng.

“Wu Allena, adikku, adalah gadis boyish yang sifatnya kasar. Yang anehnya bisa menjadi gadis penuh perasaan ketika berhadapan dengan Oh Sehun. Ya, walaupun aku lebih suka Allena-ku yang urakan tapi aku senang ketika melihatmu bersamanya.”

Kepala Allena terangkat hingga maniknya bertemu dengan milik Yifan.

“Jadi, maksud Gege—”

“Tidak.” Yifan buru-buru meluruskan. “Aku tidak memintamu menikah dengannya sekarang juga. Aku hanya menjelaskan bahwa si culun itu—sialnya—adalah laki-laki yang baik dan pantas untukmu. Kalau kau memang belum siap, jangan dipaksakan. Jalani saja apa yang tengah kalian jalani sekarang. Jika sudah saatnya, aku yakin kalian akan menikah.”

Allena menatap Yifan penuh haru. Sedikit tak menyangka kakaknya itu dapat memahami hatinya dan membuatnya merasa lebih baik. “Ge, terimakasih.” Allena menghampur ke dalam pelukan Yifan yang serta merta dibalas oleh sang kakak.

“Apapun untukmu, Alle-ku.”

“Tapi kenapa Gege bisa bicara sebijaksana itu sekarang? Apa Gege sungguh terbentur sesuatu di China?”

Ya! Kau ini!”

***

Satu bulan kemudian…

Bias cahaya menelusup di antara sela tirai putih suatu kamar. Yang mana sang penghuni masih bergelung nyaman di balik selimut, enggan sekedar membuka mata. Hampir sepekan disibukkan berbagai pekerjaan membuatnya ingin menikmati satu hari libur ini dengan bermalas-malasan.

Kendati demikian, kesadarannya tak sepenuhnya direnggut mimpi sebab ia masih mampu mengendus aroma sedap yang entah datangnya dari mana. Otaknya mulai bekerja, ia ingat tak ada jendela yang terbuka yang artinya kecil kemungkinan ada wewangian asing dari luar apartementnya. Ia pun tinggal sendiri tanpa asisten sekalipun. Selain itu, ingat betul ia tak memasak apapun hingga menimbulkan aroma seenak ini. Kecuali tadi malam ia memasak ramen dan lupa me—

Ia bangkit dari tidurnya detik itu juga. Serta merta melangkah secepat yang ia bisa menuju dapur. Tepat di ruang tempat memasak tersebut, tubuhnya terasa kaku. Ia mematung begitu melihat sesuatu yang bahkan tak sekalipun berani ia impikan.

“Oh, kau sudah bangun, Sehun? Kebetulan sekali, bokkeumbap-nya baru saja matang. Cepat mandi, lalu kita sarapan.”

Sehun mengerjap. Masih tak percaya dengan apa yang disaksikannya. Ia memukul kepalanya sendiri sekeras yang ia bisa, yang hanya menyebabkannya meringis kesakitan.

Si tamu tak diundang berdecak melihat kelakuan Sehun, “heh, Oh Sehun, mau sampai kapan kau berdiri melongo disitu seperti orang bodoh? Mandi sana!”

Sayangnya tak ditanggapi oleh Sehun. Ia kukuh bungkam sambil lalu melangkah mengitar pantry, dan berdiri persis disamping tamunya. Sang tamu mau tak mau membalikkan badan guna bertatapan langsung dengan si pemuda Oh.

“Kau ini kenapa. sih?”

“Kau… Wu Allena, kan? Wu Allena adiknya Wu Yifan?”

Huh?” Wajah si gadis jelas sekali menampakkan keheranan. “Memangnya ada berapa Wu Allena yang kau kenal?”

Bukannya menjawab, Sehun jusru menarik Allena ke dalam rengkuhannya. Lepas dari keterkejutannya, si gadis tersenyum menyadari betapa eratnya rengkuhan Sehun. Dekapan itu terasa begitu erat, seolah Sehun takut Allena akan hilang jika ia melepaskan pelukan tersebut.

“Sebegitu rindunyakah kau padaku?” Tanya Allena.

Sehun sontak melepaskan rengkuhannya. “Kemana saja kau sebulan ini? Mengapa kau tak pernah menjawab telepon atau chat dariku? Kau juga selalu menghindar setiap aku mampir ke rumah, kampus atau kantormu.”

Allena tertunduk, tak berani menatap langsung Sehun. “Maaf, aku hanya—”

“—butuh waktu sendiri. Itukan yang mau kau bilang?”

Secara reflek Allena mendongak. Ia menyesal sekali melakukan itu, karena netranya langsung bertemu dengan milik Sehun. Yang artinya ia tak ‘kan bisa menghindar lagi.

“Jadi, benar begitu?” Sehun menghela napas. “Tak apa kalau kau memang sedang ingin sendiri, Allena. Jangan menatpku seolah aku ini monster yang mengerikan.” Ia menjentikkan dahi Allena dengan jarinya.

Seraya mengusap dahinya Allena berujar, “jadi, kau tak marah padaku?”

“Tak ada gunanya marah padamu. Yang ada aku tersiksa sendiri. Justru aku ingin tahu, bagaimana hasil renunganmu selama sebulan ini, hm?” Sehun memenjarai Allena dengan menumpukan kedua tangannya pada meja pantry. Hingga mengharuskan Allena merapatkan tubuhnya kebelakang.

“Hey, kau ini apa-apain, sih?” Keluh Allena, merasa gusar karena wajah Sehun hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya.

“Jawab saja.”

“Seperti yang kau tahu, Sehun. Aku belum siap.”

Allena menggeleng lemah. Si gadis sudah menyiapkan diri jika ia harus menerima tatapan kecewa atau kemarahan Sehun. Kedua ujung bibir Sehun tertarik ke atas, teramat berbeda dengan dugaan Allena. “Aku bahkan tak berani bermimpi lebih dari ini, Allena.” Tutur Sehun.

Allena menarik napas dalam, kemudian menatap lekat manik kelam Sehun, “karena itu, aku ingin meminta bantuanmu. Bantu aku belajar untuk siap, Oh Sehun.”

Sunyi setelahnya. Sehun sibuk menyelami bahasa yang netra Allena tunjukan padanya. Hatinya seolah diletupi kebahagiaan kala menerima fakta bahwa gadis yang dicintainya mau mencoba belajar bersama menapaki jalan menuju jenjang yang lebih sakral. Bukankah itu pertanda bahwa perasaan Allena padanya pun sama besarnya?

“Tentu, tentu aku akan membantumu, Wu Allena.” Sehun kembali memeluk tubuh mungil Allena erat. Si gadis pun balas memeluk Sehun tak kalah erat.

“Terimakasih, sayang.” Bisik Sehun.

Tak ada yang lebih membahagiakan dibanding ketika seseorang yang kau cintai bersedia bergandengan tangan denganmu selama mengarungi hidup. Sehun merasakan itu sekarang. Meskipun Allena berkata ia merasa belum bisa menjalani pernikahan, setidaknya gadis itu mau bersama Sehun belajar melangkah setapak demi setapak hingga nanti kala Sehun bertanya, ‘will you marry me?’, Allena akan menjawab, ‘yes, I will’.

Dengan begitu, hadiah yang Sehun siapkan sejak lama akan ‘hidup’ seperti yang seharusnya.

end

Wish y’all enjoy this fanfic~

Thankseu ^^

7 thoughts on “Gift

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s