Promise (약속) – Chapter 6

Poster Promise (약속)2

Tittle                : PROMISE (약속)
Author             : Dwi Lestari
Genre              : Romance, Friendship

Length             : Chaptered

Rating             : PG 17+

Main Cast        : Han Sae Ra (Elena), Park Chan Yeol (Chanyeol)

Support Cast   : Byun Baek Hyun (Baekhyun), Oh Sehun (Sehun), Kim Jong Dae (Chen), Zhang Yi Xing (Lay), and other cast. Cast akan bertambah seiring berjalannya cerita.

Disclaimer       : Alur dan ceritanya murni buatan saya.

Author’s note  : Jika ada kesamaan nama, tokoh, alur dan lainnya itu hanyalah unsur ketidaksengajaan. Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa komennya. No kopas, no plagiat. Typo bertebaran

 

 

 

Chapter 6 – (My Hero)

 

Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan rumah sakit SoMin. Dari mobil itu keluarlah seorang namja dengan setelan jas hitam yang tampak pas di badannya. Namja dengan tinggi 185 cm itu memasuki rumah sakit. Dia bertanya pada resepsionis rumah sakit, ruang salah seorang dokter. Dia segera menuju ruang tersebut setelah mendengarnya.

Namja itu mengetuk pintu setelah sampai di depan ruang yang dituju. Dari arah dalam terdengar seseorang mempersilahkannya masuk. segera saja dia membuka pintu dan memasukinya. Seorang dokter tengah sibuk memeriksa catatan kesehatan pasien saat dia masuk ke ruangan itu. Namja itu memberi salam dan membungkukkan badannya.

Annyeong hayeso dokter Byun”, kata sang namja.

Orang yang dipanggil dokter Byun itu segera menoleh. Dia tidak pernah menduga akan kedatangan tamu yang tak pernah terfikir olehnya.

“Ada perlu apa Park Chanyeol-ssi”, kata dokter Byun.

“Ada yang perlu kita bicarakan dokter Byun”, kata Chanyeol.

“Silahkan duduk”.

Chanyeol duduk seperti yang disarankan dokter Byun.

“Apa yang ingin anda bicarakan Park Chanyeol-ssi. Apa anda sedang sakit?”.

Animnida, ada yang ingin aku tanyakan pada anda. Apa aku mengganggu waktumu dokter Byun?”.

“Tidak, kebetulan aku sudah selesai memeriksa pasienku. Apa yang ingin anda tanyakan?”.

“Anda bilang anda sudah mengenal Han Saera sejak berumur 8 tahun. Apa anda juga tahu kalau ibunya kecelakaan?”.

Ne. Kenapa kau bertanya tentangnya?”.

“Aku hanya ingin tahu dimana ibunya dirawat. Ada yang ingin aku tanyakan padanya”.

“Sayang sekali, Park Chanyeol-ssi. Han ahjumma…”.

“Kenapa?”.

“Dia mengalami koma, karena kecelakaan itu”.

Mwo?”.

“Kepalanya terbentur sangat keras. Meskipun operasinya berhasil, dia mengalami kematian otak. Dan kami tidak tahu kapan dia akan terbangun. Sebenarnya apa yang ingin kau tanyakan padanya”.

“Bukan apa-apa, hanya ingin memastikan sesuatu”.

“Apa itu?”.

“Aku hanya mencari seseorang. Bolehkah aku tahu dimana dia dirawat?”.

“Untuk apa?”.

“Aku hanya ingin melihatnya”.

“Ruang 121”.

Gomapseumnida dokter Byun. Saya permisi dulu”. Chanyeol bangkit, dia membungkukkan badannya sebelum meninggalkan ruangan dokter Byun. Namun saat, akan melangkah pergi dokter Byun mencegahnya dengan memperlihatkan sebuah benda.

“Kau mengenali kalung ini Park Chanyeol-ssi?”, tanya Dokter Byun. Dia menggantungkan kalung itu di tangannya.

Park Chanyeol berbalik, dia segera merebut kalung tersebut, lalu mengamatinya. Matanya terbelalak kala mengenali kalung tersebut. “Dari mana kau dapatkan kalung ini?”.

“Aku bertanya apa kau mengenalinya atau tidak?”.

Ne, itu kalung yang aku berikan pada temanku”.

“Kau yakin?”.

Ne. Karena aku sendiri yang mendesainnya. Ini hanya ada satu di dunia ini. Dari mana kau dapatkan kalung ini, dan siapa pemiliknya, katakan padaku dokter Byun?”.

“Itu milik putri Han ahjumma”.

“Apa itu Han Saera?”.

Animnida”.

“Lalu milik siapa?”.

“Sora. Han Sora. Saudara kembar Saera”.

“Gadis yang bunuh diri 10 tahun lalu”.

“Kau benar”.

Chanyeol menggengam erat kalung tersebut. Memejamkan matanya, dan membuang nafas pasrah. Hatinya hancur mendengar pernyataan dokter Byun. Gadis yang dicarinya selama ini telah mati. Gadis yang selalu ada di hatinya telah meninggalkannya.

“Kau baik-baik saja Park Chanyeol-ssi?”, suara dokter Byun menyadarkan lamunannya.

Ne, aku akan menyimpan kalung ini. Terima kasih dokter Byun”. Chanyeol meninggalkan dokter Byun sebelum dia menyetujui keputusannya.

Mianhae, Park Chanyeol-ssi”, kata dokter Byun dan tentu saja tidak terdengar oleh Park Chanyeol.

***

Di ruang 121, terlihat Saera tengah sibuk membasuh wajah ibunya dengan handuk basah. Dia membersihkannya dengan hati-hati. “Eomma, hari ini aku akan mengunjungi Sora dan ayah. Cepatlah bangun eomma”, Saera lalu mencium tangan ibunya. “Saera berangkat dulu eomma”. Saera mencium kening ibunya.

Saera berjalan meninggalkan ibunya setelah mengambil tasnya. Belum sampai di pintu, dia merasa jika ada sesuat yang kurang. Dia memeriksa tasnya. Semua keperluannya sudah ada, lalu dia memeriksa lehernya. Dia tidak mendapati kalungnya. “Dimana kalungku?”, Saera menggeledah tasnya, namun nihil dia tidak menemukannya.

Dia memeriksa seluruh tempat di ruangan tersebut, namun dia juga tidak kunjung menemukannya. “Eotteokae? Kau tidak boleh menghilangkannya Saera, kau harus menemukannya”. Saera mengacak-acak rambutnya, setelah lelah mencarinya. “Dimana aku meletakkannya?”.

Tiba-tiba pintu ruangannya terbuka, dari balik pintu muncullah Baekhyun. Saera otomatis menoleh pada orang yang masuk ruangannya. “Saera-ya, wae geurae? Kenapa kau berantakan sekali?”, tanya Baekhyun.

“Baekhyun-ah. Kalungku… Kalungku hilang, aku sudah mencarinya kemanapun tapi tidak ada. Eotteokae?”, kata Saera dengan panik.

“Astaga, itu hanya kalung Saera. Kenapa sampai seperti itu, kau kan bisa membelinya lagi”, kata Baekhyun mendekati Saera.

“Masalah bukan seperti itu Baekhyun, itu kalung yang selalu aku pakai. Kalung yang aku ceritakan padamu tempo hari”.

“Jadi kau percaya kalau mimpi itu nyata? Ayolah Saera, itu hanya mimpi. Aku bahkan tidak yakin mimpi itu benar-benar terjadi. Kalau memang itu nyata, kenapa sampai sekarang namja kecil itu tidak mencarimu? Bukankah kau dan dia sudah sama-sama dewasa? Dan sampai kapan kau akan seperti ini! Sudahlah Saera, sudah saatnya kau melupakannya. Kau juga tidak tahu siapa yang memberinya, jadi jangan berharap sesuatu yang tidak mungkin terjadi”, Baekhyun menenangkan Saera dengan mepuk-nepuk punggungnya.

“Ku rasa kau memang benar Baekhyun. Gomawo”, kata Saera.

“Kau tidak berangkat kerja?”.

“Hari ini aku meminta cuti. Aku akan ke makam appa dan Sora. Hari ini hari peringatan kematian meraka. Kau tahukan kalau mereka pergi di tanggal dan bulan yang sama. Apa kau mau ikut?”.

“Kenapa aku bisa lupa. Mianhae, aku tidak bisa ikut. Setelah ini aku harus mengoperasi pasienku”.

Gwenchana, aku tahu kau pasti sangat sibuk sebagai dokter”.

Saera segera merapikan penampilannya. “Aku harus segera berangkat”.

“Eoh, hati-hati”.

“Aku titip eomma. Annyeong”. Saera segera meninggalkan ruangan itu. Baekhyun masih diam di tempatnya.

Setelah memastikan jika Saera telah pergi, dia mendekati ranjang nyonya Han. “Joseonghamnida, ahjumma. Aku hanya ingin Saera bahagia. Akulah yang mengambil kalungnya”, Baekhyun mengacak-acak rambutnya, “Kau benar-benar bodoh Baekhyun. Dia pasti akan marah jika dia tahu yang sebenarnya”. Baekhyun lalu meninggalkan ruangan nyonya Han setelah memeriksa keadaannya.

***

Saera kini telah sampai di depan area penempatan abu milik kakak dan juga ayahnya. Dia membawa dua buket bunga dalam ukuran mini. Dia menghela nafas panjang sebelum memasuki tempat tersebut. Dia berjalan dengan pelan, menikmati suasama tempat itu yang cukup ramai dengan pengunjung lainnya.

Saera mengunjungi ayahnya terlebih dahulu, karena tempat abu mereka berbeda ruang. Dia meletakkan satu buket bunga yang dibawanya disamping abu ayahnya. “Ini sudah tiga tahun sejak kepergianmu, appa. Bagaimana kabarmu appa? Aku baik-baik saja. Eomma sedang koma di rumah sakit. Ini semua salahku appa, kalau saja aku mau mendengarnya sampai selesai, eomma pasti akan baik-baik saja. Hiksz…”, Saera terisak, “Terima kasih sudah membesarkanku appa”. Saera lalu berdo’a untuk ayahnya.

Setelah menghapus air matanya, Saera menuju tempat abu milik kakaknya. Sampai disana dia melihat seseorang tengah berdiri tepat didepan tempat abu milik kakaknya. Saera tidak melanjutkan langkahnya, dia memilih memperhatikan orang tersebut. Cukup lama Saera memperhatikannya, orang itu tak sadar jika Saera terus memperhatikannya karena memang orang itu memunggungi Saera.

‘Sepertinya aku pernah melihat orang itu? Tapi siapa?”, kata Saera dalam hati. Saera terus mengamati orang itu sambil mengingat orang-orang yang pernah ditemuinya. Pria dengan tinggi sekitar 185 cm, dengan rambut hitam yang ditata rapi. Memakai setelan jas hitam yang pas dibadannya. “Park Chanyeol”, nama itu yang terlintas difikirannya. Saera menutup mulutnya, hasil pengamatan dan fikirannya sama.

Saera segera bersembunyi di balik tembok. “Tidak mungkin, untuk apa dia disini. Dan kenapa aku harus bersembunyi!”. Saera memukul kepalanya sendiri, “Pabbo! Ini tempat umum, mungkin dia mengunjungi keluarga, teman atau mungkin kenalannya”. Saera menenangkan dirinya. Setelah merasa tenang dia masuk ruang itu lagi. Pria itu masih tidak beranjak dari tempatnya. Dengan terpaksa Saera menyapanya.

“Kau mengunjungi siapa, Park Chanyeol-ssi?”, tanya Saera.

Merasa namanya disebut, pria itu menoleh. Dia kaget saat melihat orang yang berbicara padanya. Pria itu hanya menatap Saera dan tak berniat menjawab pertanyaannya Saera. Saera tak memperdulikan hal itu, dia membuka tempat abu milik kakaknya dan menaruh buket bunga yang dibawanya disamping abu kakaknya lalu menutupnya kembali. Saera berdo’a dalam diam.

Pria itu mengamati Saera, membandingkannya dengan foto yang terpajang disamping abu milik kakak Saera. Mereka memiliki wajah yang berbeda. ‘Jadi memang benar mereka bukan saudara kandung’, kata pria itu dalam hati. Pria itu juga mengamati bagaimana penampilan Saera. Sangat berbeda dengan penampilannya ketika dia bekerja di Empire Night Club. Saat bekerja di Club tersebut, Saera bermake-up menor dan berpakaian ketat. Namun sekarang dia memakai pakaian yang sopan dengan make-up sederhana, tak tampak jika dia seorang wanita penghibur.

“Apa dia saudaramu?”, pria itu membuka pembicaraan setelah melihat Saera selesai berdo’a.

Saera menoleh, dia merasa heran mengapa pria itu tahu. “Darimana kau tahu Park Chanyeol-ssi? Seingatku aku tidap pernah memberitahumu”, kata Saera.

“Hanya asal menebak”, setelah berkata seperti itu dia meninggalkan Saera. Dia berjalan dengan langkah angkuhnya. Saera merasa sedikit kesal dengan tingkah Chanyeol.

Namja dingin yang menyebalkan”, Saera berkata sangat pelan dan tentu tidak terdengar oleh Chanyeol.

“Bagaimana kabarmu Sora? Ini sudah 10 tahun semenjak kau meninggalkan kami. Kau tahu, semua berubah setelah kepergianmu. Mengapa kau tak pernah jujur dari awal Sora? Kau membuat semuanya berantakan, bahkan aku sempat membenci Baekhyun waktu itu. Kalau saja kau mau terbuka dari awal, aku pasti bisa membantumu tanpa harus menyakiti orang lain”, Saera menghela nafas sejenak lalu melanjutkan kata-katanya.

Appa memilih menyusulmu setelah menjualku. Eomma memilih pulang ke kampung halamannya setelah kematian appa. Dan sekarang dia sedang koma di rumah sakit karenaku. Kapan penderitaanku akan berakhir? Haruskah aku menyusulmu? Tidak tidak, itu bukan pilihan yang benar”, Saera berkata sambil menggelengkan kepala.

“Beberapa hari yang lalu aku bertemu kekasihmu, Jongdae. Dia pergi ke Amerika setelah peristiwa itu, dan kurasa dia tidak tahu jika kau sudah tidak ada lagi di dunia ini. Dia juga masih belum berbaikan dengan Baekhyun. Aku ingin sekali menjelaskan semuanya padanya, tapi kurasa percuma saja. Dia adalah tipe orang yang tidak suka mendengarkan alasan”, tiba–tiba saja ponselnya berbunyi. Saera segera mengangkat panggilan tersebut.

Yeobseyo”.

“……”

Mwo? Baiklah, aku segera kesana”, Saera menutup sambungan telfonnya. Dia berniat pergi, namun kakinya menginjak sesuatu. Dia segera melihat benda yang diinjaknya. Kalung! “Inikan kalungku. Kenapa bisa ada disini?”, Saera bertanya entah pada siapa. Tak menemukan jawabannya, dia segera pergi meninggalkan tempat tersebut setelah memasukan kalungnya dalam tas.

Dia berjalan tergesa-gesa menuju jalan raya. Dia berniat menghentikan taksi setelah melihat taksi lewat. Namun dari arah lain, seorang namja menendang punggung kanannya hingga ia terjatuh dengan posisi tengkurap. Kepalanya membentur trotoar jalan. Darah segar keluar dari keningnya. Isi tasnya berhamburan keluar. Dia bangkit dan menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menghilangkan rasa pusingnya.

“Aku tidak akan kembali! Kau tahu, aku tidak akan pernah kembali”, kata namja yang tadi menendang Saera.

Saera menatap ke arah namja itu, dia ingat siapa namja yang menendangnya tadi. Dia adalah salah satu pasiennya yang kabur dari rumah sakit. Telfon yang diterimanya tadi, adalah dari rekan kerjanya yang memberitahukan jika namja itu kabur dari rumah sakit. “Tenanglah! Tenanglah Lee Il Sin-ssi”, kata Saera mencoba menenangkannya.

Namun namja itu malah mengangkat tempat sampah yang ada di sampingnya dan bermaksud memukulkannya ke arah Saera. Hal itu tidak berhasil, dia malah terjatuh setelah di tendang oleh seseorang. Orang yang menendangnya, mengangkat kerah baju namja tersebut, “Apa yang kau lakukan?”, kata orang itu. Orang itu bermaksud memukul namja yang mencelakai Saera, dan Saera mencegahnya.

Hajima, hajima Park Chanyeol-ssi. Dia tidak bersalah, dia hanya pasienku. Lepaskan dia, jebal”, Chanyeol melepaskan cengkramannya.

“Tenanglah Lee Il Sin-ssi. Tenangkan diri anda, tenanglah!”, kata Saera.

Namja itu sudah sedikit tenang. “Sekarang ikutlah denganku. Kita harus, kembali”, Saera berusaha meraih tangan namja tersebut, namun namja itu malah mendorongnya hingga ia terjatuh.

“Aku tidak mau kembali ke sana, tidak akan pernah. Aku tidak akan pernah kembali”, teriak namja itu. Dia segera berlari meninggalkan Saera.

“Terima kasih Park Chanyeol-ssi. Aku harus segera pergi”. Saera berlari mengejar namja itu, setelah memungut semua barangnya yang berserakan. Saera berlari sambil memegang bahu kanannya yang terasa sakit setelah ditendang namja tadi. Melihat hal itu, Chanyeol segera menyusul Saera, dia melihat jika gadis itu terluka.

Saera berlari sambil menghubungi seseorang. Dia tidak memperdulikan rasa sakit yang menghinggapi tubuhnya. Namja yang bernama Lee Il Sin itu terus berlari sambil berteriak-teriak. Di belakangnya disusul Saera dan juga Chanyeol. Mereka terus kejar-kejaran karena memang Lee Il Sin berlari sangat cepat.

Sampai di ujung jalan Lee Il Sin menyebrangi jalan dengan sembarangan. Dan itu berakibat terdengarnya suara-suara klakson mobil yang melintasi jalan tersebut. Saera juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Lee Il Sin, menyebrangi jalan dengan sembarangan. Chanyeol yang masih berlari dibelakangnya juga melakukan hal yang sama.

Lee il Sin memasuku sebuah gang kecil. Saera sempat kehilangan jejak, namun setelah melihat kesana-kemari akhirnya dia menemukannya. Lee Il Sin sampai digang buntu. Dia bingung harus berlari kemana lagi karena jalannnya buntu. Dan hal itu menguntungkan Saera. Saera segera mengeluarkan obat penenang yang kebetulan tertinggal di tasnya. Dia segera menenangkan namja itu.

“Tenanglah Lee Il Sin-ssi. Tenanglah, kau akan baik-baik saja. Jadi sebaiknya kita kembali”, kata Saera dengan nafas yang masih terengah-engah.

“Tidak, aku tidak mau kembali. Kau dengar, AKU TIDAK MAU KEMBALI KE TEMPAT ITU LAGI”, kata namja itu dengan nada membentak.

Saat itulah Chanyeol tiba di samping Saera. “Kau baik-baik saja?”, tanya Chanyeol.

Eoh, aku baik-baik saja. Bisakah kau menolongku?”, jawab Saera.

“Kenapa aku harus menolongmu?”, kata Chanyeol.

“Lalu untuk apa kau mengejar kami jika kau tidak ingin menolong?”, Saera balik bertanya karena dia sedikit kesal dengan ucapan Chanyeol.

“Ah, baiklah. Apa yang harus aku lakukan”, tanya Chanyeol kembali.

“Kau bisa menangkapnya, aku akan menyuntikan obat penenang padanya”.

“Baiklah”. Dengan perlahan Chanyeol mendekati namja tersebut. Setelah cukup dekat dia meraih pergelangan tangan namja itu, dan dengan lihainya dia menjatuhkan namja itu ke tanah. Saera segera berlari menghampiri mereka. Menarik salah satu lengannya dan menyuntikan obat penenang untuk Lee Il Sin.

Namja itu sudah cukup tenang. “Kau harus tetap memegangnya, aku akan menghubungi rumah sakit”. Segera saja Saera mengambil ponselnya dan menekan beberapa nomor untuk menghubungi rumah sakit. Setelah memberitahu lokasinya, Saera segera menutup sambungannya.

Tempat itu cukup dekat dengan lokasi rumah sakitnya, karena itu hanya dalam waktu 10 menit sebuah ambulan telah sampai di tempatnya. Namja itu segera di bawa oleh petugas rumah sakit.

“Kau terluka dokter Han, kau juga harus ke rumah sakit”, kata dokter yang turun dari ambulan itu.

“Aku baik-baik saja dokter Kim”, Kata Saera.

“Bagaimana mungkin kau baik-baik saja, lihatlah keningmu berdarah. Cepatlah pergi ke rumah sakit”, kata dokter Kim.

Saera segera memeriksa keningnya. Dokter Kim benar, keningnya memang berdarah. “Aku akan ke rumah sakit. Cepat bawalah dia”, kata Saera.

Dokter Kim segera meninggalkan Saera. Dia masuk ambulan, setelahnya ambulan itu meninggalkan tempat tersebut. Saera hanya terdiam memandangi kepergian ambulan itu. Dia memegang bahunya yang masih terasa sakit. Saera juga menggeleng-gelengkan kepalanya yang mulai terasa semakin pusing, pandangannya juga mulai mengabur.

“Kau baik-baik saja?”, tanya Chanyeol yang masih berdiri di belakangnya.

“Eoh, aku baik-baik saja. Terima kasih atas bantuanmu Park Chanyeol-ssi”, Saera berjalan meninggalkan Chanyeol. Belum sampai lima langkah dia sudah ambruk ke tanah.

Chanyeol segera berlari menghampiri Saera. Dia mengangkat kepalanya dan menggoyang-goyangkannya. “Elena, bangun Elena. Yak, Elena”, kata Chanyeol. Namun Saera tidak merespon. Chanyeol lalu mengangkat tubuh Saera dan membawanya ke rumah sakit.

 

— TBC —

 

Gimana para reader, makin seru gak? Semoga gak bosen dengan ff ini. Jangan lupa komennya. Terima kasih.

Salam hangat: Dwi Lestari

6 thoughts on “Promise (약속) – Chapter 6

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s