Sweet Sparks (10)

sweet sparks

Sweet Sparks

Casts of Chanyeol, Baekhyun and Jinri (OC)

Presented by deera

Friendship. Romance. Series.

Stories : Stories : Jinri’s To-Be-True Wedding Party | Chanyeol’s Everlast PainJinri’s Unavoidable Problem | Baekhyun’s Cannot-Bare Fear | Jinri’s Half-Moon-Curved Lips | Baekhyun’s Untold Feeling | Chanyeol’s Not-So-Late Freedom| Jinri’s Black Day | Baekhyun Has A Conclusion When Chanyeol Still  Has Only Hypothesis

Shot 10 : She is Hiding Something Fishy, Baekhyun’s Knew That All Along

“How many times I should tell you that I’m not into that thing?”

“So just say yes!”

“Menyatakan apa?” tanya Jinri tiba-tiba setelah jeda yang cukup panjang. Jantung Baekhyun hampir saja melompat ke jalanan.

Ia berusaha tetap tenang. “Perasaanku.”

Jinri menggerling sambil tersenyum lebar. “Kalau kau menyukaiku?”

Eoh. Aku menyukaimu. Sangat menyukaimu sampai rasanya sesak sekali karena menyembunyikannya bertahun-tahun.”

“Apa yang membuatmu menyukaiku?”

“Senyummu yang manis. Aku sudah pernah mengatakannya bukan?”

“Ya, kau mengatakannya dulu.”

“Sudah cukup jelas bukan?”

Tawa tertahan Jinri membua mata Baekhyun membelalak. Gadis itu mengipasi wajahnya karena semburat merah merona di pipinya. Ia juga menyeka ujung matanya.

“Wuah~~” Baekhyun memegangi dadanya lengkap dengan ekpresi terkejut yang natural, “aku baru pertama kali menyatakan cinta selancar ini. Maksudku, tanpa basa-basi sama sekali. Wuah, rasanya berdebar sekali!”

Seketika itu juga, suara tawa memenuhi ruang di antara keduanya. Suara tawa Jinri. Gadis itu membungkuk sambil memegangi perut. Bahunya naik turun karena tawa yang semakin menjadi.

“Apa ada yang lucu, Min Jinri?” tanya Baekhyun penasaran. Karena ia berpikir sebaliknya.

Jinri kembali berdiri tegak menghadap Baekhyun dengan sisa-sisa tawanya. Setelah dirasa benar-benar reda, akhirnya ia bicara, “Tentu saja! Aktingmu sangat natural, Kyoong. Kau—kalau nanti sulit sekali untuk jadi penyanyi, mulailah karirmu dengan berakting. Jjang!!” Dua jempol Jinri terangkat.

Tapi dahi Baekhyun mengerut cukup dalam.

Jinri menyikut lengan Baekhyun. “Aku tahu kau bercanda.”

“Tidak,” Baekhyun menghela napasnya pendek, “aku tidak bercanda. Dan aku tidak sedang berakting.”

“Tapi mana ada pernyataan cinta tidak serius seperti itu, Kyoong? Kurasa sepertinya kau belum pernah menyatakan cinta sebelumnya, chi?

Tubuh Baekhyun mendekati Jinri. Membuat gadis itu mau tak mau terkejut dan sontak bergerak mundur, namun tangan Baekhyun sigap meraih punggungnya. Jarak di antara mereka semakin terentas.

“Jadi kau ingin aku menyatakannya dengan sungguh-sungguh?” tanyanya dengan suara rendah.

Keduanya berpandangan lama. Deru napas Baekhyun yang memburu seolah menyiratkan ritme detak jantungnya yang kacau. Sedang tangan Jinri gemetar. Baekhyun menyadari perubahan itu, membuatnya sejenak membuang tatapnya ke arah lain.

Baekhyun melepaskan pegangannya pada tubuh Jinri. Ia lantas mengusap tengkuknya, memutar tubuh membelakangi Jinri. Semenit berlalu untuk Baekhyun menenangkan diri sebelum kembali menghadap gadis itu.

Ya!” Baekhyun menunjuk tepat di hidung Jinri. “Kenapa kau tidak cepat mengaku saja sih? Aku sampai gugup begini, ya Tuhan!” Lelaki itu mengusap dadanya dan mendengus pelan.

Mulut Jinri terbuka separuh. “A-ani, aku baru saja berpikir kau sungguhan, Kyoong-ie. Aku merinding.”

“Astaga. Sudah kukatakan: aku menyatakan perasaanku supaya kau mengerti bahwa kau menyukai Chanyeol.”

“Jadi kau menyukaiku? Atau tidak menyukaiku?”

“Dasar bodoh.” Baekhyun menghembuskan napasnya frustasi.

“Jadi kau tidak menyukaiku?”

“Mungkin iya, di dalam mimpimu. Tentu saja tidak!” Baekhyun terkikik geli. “Karena aku percaya kalau Min Jinri menyukai Park Chanyeol.”

Bukti pertama yang Baekhyun yakini bahwa Jinri menyukai Chanyeol sejak lama adalah bagaimana gadis itu memandangnya. Sejak Jinri meminta Baekhyun dan keduanya untuk membantu menyiapkan pagelaran sekolah dulu, di sanalah Baekhyun pertama kali menyadarinya. Jinri selalu menatap Chanyeol dengan mata lelah, seperti ia sedang mati-matian menyembunyikan sesuatu.

Bukti kedua bahwa Jinri mendaftar ke SNU juga. Bukan tidak mungkin gadis itu bermaksud mengikuti kemana Chanyeol akan melanjutkan kehidupan. Tidak sulit bagi Jinri untuk diterima di universitas lain yang tak kalah hebatnya dengan SNU, terutama untuk jurusan kedokteran yang diambilnya.

“Ayo kita membuat bucket list!” seru Baekhyun pada hari-hari menjelang ujian.

Tentu ide itu tidak disambut serta merta, baik oleh Chanyeol maupun Jinri. Chanyeol bilang, untuk apa, buang-buang waktu. Sedang Jinri menyahut dengan mengendikkan bahu dan berkata bahwa ia tidak memiliki banyak keinginan untuk diwujudkan.

“Tak apa. Ini sebagai pengingat saja. Sepuluh tahun dari sekarang, kita akan kembali mengecek sudah berapa banyak mimpi kita yang terwujud.”

Baekhyun membagikan sebuah buku kecil dengan sampul kulit yang berisi hanya sekitar dua puluh lembar kertas kekuningan. Masing-masing telah diberi nama Baekhyun, Chanyeol, dan Jinri di sampulnya. Chanyeol sampai mengangkat alis karena niat Baekhyun yang begitu mulia.

Jadilah ketiganya mulai menulis apa yang ingin mereka lakukan dalam sepuluh tahun ke depan. Baekhyun dengan lancar menulis, sedang Chanyeol masih menimbang-nimbang ingin menaruhnya berdasarkan prioritas, dan Jinri bingung ingin menulis apa.

Lima menit berlalu. Mereka saling bertukar buku catatan. Baekhyun mendapatkan milik Chanyeol, Jinri membaca mimpi-mimpi Baekhyun yang jumlahnya lebih dari seratus, sedang miliknya sendiri berada di tangan Chanyeol.

“Kau hanya menulis satu?” tanya Chanyeol tak heran. Gadis itu sulit dipaksa berandai-andai dengan seluruh pikiran logisnya.

“Sudah kukatakan aku tidak punya banyak keinginan.”

“Kau bisa saja menulis kampus idaman dan jurusan apa yang akan kau masuki nanti.”

Jinri diam sebentar sebelum menjawab, “Jujur saja, aku tidak tahu.”

Chanyeol dan Baekhyun cepat-cepat memutar kepalanya ke arah Jinri dan menatap gadis itu tajam. Dihakimi seperti itu, membuat Jinri menelan ludah dan teringat sesuatu yang sangat penting—yang kelak menjadi jalan hidupnya.

“Ah! Ayahku menginginkan aku menjadi seorang dokter,” katanya girang.

Chanyeol meraih pulpen dan menuliskan mimpi nomor dua milik Jinri. “Apa mendiang ayahmu mengatakan kau harus masuk universitas tertentu?” tanyanya serius.

“Tidak. Itu berarti aku bisa masuk ke mana saja bukan? Ah, itu bukan perkara sulit. Aku akan masuk SNU bersamamu, Bong-ah.”

Chanyeol kembali menulis mimpi Jinri yang ketiga.

“Memangnya apa yang ditulis Jinri sebelumnya, Yeol?” tanya Baekhyun penasaran juga.

Dengan enggan, Chanyeol menjawab pertanyaan itu sambil membaca tulisan kotak-kotak Jinri, “Membuat pesta pernikahan impian.”

“Astaga.”

“Sulit dipercaya bukan?”

Tawa Jinri meremang. “Ya ya! Itu adalah mimpi setiap gadis—apa kalian tidak tahu?” Jinri berusaha melakukan pembelaan.

Bukti ketiga yang membuat Baekhyun sangat yakin kalau Jinri menyukai Chanyeol adalah seberapa sering gadis itu meluangkan waktu untuk pergi bersama Baekhyun. Ini memang agak tidak masuk akal, tapi bagi Baekhyun semuanya sah-sah saja.

Chanyeol dengan satu juta aktivitas dan kesibukannya membuat ia jarang sekali meluangkan waktu untuk kumpul bersama. Tapi dengan alasan pertemanan, Jinri bisa memaksa lelaki jangkung itu untuk datang, dibandingkan dengan meminta bertemu berdua hanya untuk makan atau mengobrol, yang sudah pasti ditolak mentah-mentah oleh Chanyeol.

Selain itu, Jinri takkan betah berlama-lama berdua dengan Chanyeol karena ia pasti akan gugup setengah mati. Dan berujung dengan pertengkaran sepele yang membuat Chanyeol malas menanggapi.

Heol,” bola mata Jinri berputar seiring dengan suara tawa tertahannya, lalu kembali berkata, “kau sungguhan sedang berdelusi, Byun Baekhyun.”

Jinri melanjutkan, “Yang pertama, kau sungguh mengada-ada. Bagaimana kau bisa membuat kesimpulan hanya dengan tatapan mata?”

“Aku bisa,” potong Baekhyun cepat.

“Lalu seharusnya kau jadi seorang psikolog, bukan penyanyi. Demi Tuhan, kau benar-benar terlalu banyak mengkhayal!” Jinri menggelengkan kepalanya pelan

“Yang kedua,” sambungnya lagi, “memang benar aku masuk SNU mengikuti Bong-ah, rasanya itu sudah kukatakan dulu? Aku masih ingin bersama dengan kalian. Dan aku tidak mungkin mengikutimu kan?”

“Tapi kau dapat beasiswa di Jepang, Jinri-ya.”

Jinri membeku. “Darimana kau tahu?”

Well,” Baekhyun mengendikkan bahu, “aku selalu tahu kan?”

“Kalau aku pergi ke Jepang, aku tidak akan bisa menemani setiap gigs-mu, Kyoong.”

“Tapi kau akan hidup lebih baik.”

“Aku sudah merasa cukup baik di sini,” Jinri menarik napasnya panjang, “dan yang ketiga, tentang meluangkan waktu itu. Lagi-lagi kau berdelusi. Kau pikir aku tahan marah-marah dengan Park Bong setiap kali dia tidak datang? Apa menurutmu aku melakukan itu hanya untuk bisa bertemu dengannya?

Ya! Aku tinggal datang ke fakultasnya dan menjewer telinga lebarnya itu kalau aku mau. Dan apa? Gugup? Heol, aku selalu ingin meninju wajahnya,” sembur Jinri sebagai penutup kalimat pembelaannya.

Dahi Baekhyun mengerut dengan jemari yang mengelus dagu. “Kau benar-benar pintar bicara dan berpura-pura. Lihat saja, aku berjanji padamu, Jinri-ya, aku akan membuatmu mengaku suatu saat nanti. Karena aku yakin, mataku tidak salah.”

“Sesukamulah!” Jinri malas, ia memalingkan wajah sambil bersidekap di depan dada. Setelah mendengus pelan, ia menggumam sendiri, “Ini hanya tentang waktu…, yang mungkin tidak berpihak padamu.”

deera says : THIS WILL BE THE SECOND LAST CHAPTER, I TOLD YAAAA!!! Aku bermaksud hanya membuat sebelas chapter dan ini sudah kesepuluh berarti tinggal satu chapter lagi omomomomo *lol* haha jadi, kira-kita tim ceye apa tim baek nih yang bakal menang hahaha atau tim chanbaek (?) puhleaseeee~~ haha

Untuk next project, mungkin aku ngga akan buat series yang panjang-panjang lagi hehe, mungkin akan oneshot atau twoshoot, lagi garap beberapa draft juga. Reader setianya deera, semoga terus setia ya, di karya-karya deera yang lain 😀

Iklan

6 thoughts on “Sweet Sparks (10)

  1. ChanRi? #penginnya
    BaekRi? #gakrela
    zonk? #takutnya
    trus tau2,di final nongol alien galau brnama sehun ato kai yg dg randomnya mlh ngedance kek di mv lucky one. Dg bgtu, poteklah ati aeri #lirikkakdeera

  2. Hahahahhahahahahahaaaaaaaaaaaaaahahhahahahahahahahahaha
    Sumpii jadi bingung
    Yakan?? Gasama bong/kyoong ujung2nyaa?? Ahh bentarr udh ada bayangan nih aku😂😂😂
    Yaahh btw tinggal 1 chapt lagii;(((
    Buat endingya jgn sedih looh kaa awaass😂

  3. […] Stories : Stories : Jinri’s To-Be-True Wedding Party | Chanyeol’s Everlast Pain |  Jinri’s Unavoidable Problem | Baekhyun’s Cannot-Bare Fear | Jinri’s Half-Moon-Curved Lips | Baekhyun’s Untold Feeling | Chanyeol’s Not-So-Late Freedom| Jinri’s Black Day | Baekhyun Has A Conclusion When Chanyeol Still  Has Only Hypothesis | She is Hiding Something Fishy, Baekhyun’s Knew That All Along […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s