ERASED (Oneshoot)

ERASED

 

Author ::: Riska Junaini

Genre ::: Angst, Romance, Sad

Rating ::: PG-15

Lenght ::: Oneshoot

Cast ::: Park Chanyeol & Lee Ji Yoon (OC)

 

Cover © NJXAEM

 

[ SUMMARY ]

Cinta akan indah ketika keduanya saling membalas. Bukan perasaan sepihak yang menyakiti salah satu sisi. Seseorang yang memberikan rasa sakit seperti itu lebih baik lenyap dari memorimu.

 

[ NOTE ]

Cerita dibuat untuk kepentingan hiburan tanpa bermaksud merugikan siapa-siapa. Harap untuk tidak menyebarkan karya saya tanpa izin. Dilarang keras meniru sebagian atau keseluruhan cerita. Jadilah pembaca yang baik dengan meninggalkan komentar sebagai bentuk penghargaan terhadap penulis.

 

~~~

 

“Apa kau bersedia menjadi kekasihku, Ji Yoon?”

 

“A-Apa maksudmu, Chanyeol?”

 

“Aku ingin berkencan denganmu.”

 

Seminggu telah berlalu sejak kalimat konyol itu terlontar dariku. Terucap ringan bak tanpa beban. Waktu terasa begitu cepat tak disadari. Seperti angin yang membawa terbang daun-daun kering. Semua yang terjadi dalam kurun waktu tersebut adalah drama fiktif yang ditulis dan diperankan olehku. Kisah yang penuh kepalsuan dengan akhir yang menyedihkan.

 

“Apa gaun ini terlihat cocok untukku, Chanyeol?”

 

“Ya, itu membuatmu semakin terlihat cantik.”

 

Hampa. Tak ada emosi sama sekali dalam percakapan kami.  Hanya dialog-dialog tak bermakna yang membosankan. Ilusi yang mempermainkan perasaan satu sama lain. Senyum yang mengembang di wajah hanya sebuah topeng demi menyenangkan perasaan gadis dihadapanku.

 

“Maaf karena membuatmu menunggu lama, Chanyeol. Aku bingung memilih pakaian karena ini kencan pertama kita. Sebenarnya aku sedikit gugup.”

 

Ingin sekali aku mengatakan bahwa sejujurnya aku tak peduli. Apa yang dirasakan olehnya bukan urusanku. Benalu hanya memanfaatkan inangnya untuk individu. Namun, aku menutupi perasaanku dengan senyuman palsu yang telah ribuan kali terpajang untuknya.

 

Aku berjalan menuju mobil dengan hati yang tak bersemangat. Mempersilahkan gadis itu untuk duduk disampingku. Berusaha memperlakukannya dengan manis seolah ia sesuatu yang berharga. Rangkaian puzzle yang akan berceceran jika terjatuh. Benar-benar akting yang mengagumkan dariku.

 

Mataku memicing setelah memasang sabuk pengaman. Memperhatikan sosok disampingku yang tengah meremas gaunnya. Mengisyaratkan kegugupan tak terbendung. Jelas sekali bahwa ia gugup berada dekat denganku. Bak burung kecil yang baru belajar terbang. Meski sudah seminggu berkencan tapi aku selalu menjaga jarak darinya karena suatu alasan. Wajar jika gadis itu gugup malam ini.

 

“Ji Yoon..”

 

Lirihku lembut sambil mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang. Gadis itu tak menyahut tapi maniknya mengarah padaku. Manik kecokelatan yang selalu memancarkan perasaan yang meluap-luap. Menyuarakan apa saja yang ada dalam hati dan pikirannya.

 

“Apa ini kencan pertamamu?”

 

Tanyaku lalu menoleh padanya. Menatap wajah mulus yang dipolesi bedak tipis. Raut lugu yang menggambarkan ketulusan. Dia mengangguk malu lalu mengalihkan pandangannya. Atensi yang sejak tadi mengarah padaku kini beralih lurus ke depan. Tak berani menatapku seperti sebelumnya.

 

“Gadis yang canggung.”

 

Lee Ji Yoon. Gadis yang bisa disebut sebagai kekasihku. Hubungan kami baru berumur satu minggu. Aku yang memulainya tepat setelah Kim Hana -mantan kekasihku- memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami. Mencampakkanku seperti sampah tak berguna. Apa kalian bisa menebaknya?

 

Ya! Aku hanya menggunakan Ji Yoon sebagai pengalihan untuk mengusir kesedihanku. Mengamati kaktus berduri karena sang mawar telah layu. Tak pernah terbesit dalam benakku untuk mengencani gadis membosankan ini. Indah bak bunga tapi tak beraroma. Aku hanya ingin memprovokasi mantan kekasihku dengan menunjukkan bahwa aku tak merasa kehilangan meski ia meninggalkanku. Padahal kenyataan berbanding terbalik. Rapuh seperti sayap kupu-kupu.

 

Aku merasa hampa dan hancur ketika Hana dengan santainya menggandeng pria lain setelah meninggalkanku begitu saja. Hubungan yang terjalin bertahun-tahun tak membuatnya menghargaiku. Aku merasa dipermainkan dan tak dipungkiri hal itu menimbulkan dendam. Hingga akhirnya melibatkan Ji Yoon dalam masalah ini.

 

“Dia sering memperhatikanmu, Chanyeol.”

 

Bukan tanpa alasan aku memilih Ji Yoon. Gadis itu sudah sejak lama menyukaiku. Sejak kami masih duduk di bangku SMP hingga menjadi mahasiswa tahun kedua. Ia seperti merpati yang menjadi simbol kesetiaan. Tak jarang aku menangkap basah dirinya tengah memperhatikanku dari kejauhan. Bahkan teman-temanku juga sering memergokinya. Ia juga rutin meletakkan cokelat di lokerku setiap perayaan valentine tanpa meninggalkan identitas. Bisa dikatakan bahwa Ji Yoon adalah pengagum rahasiaku.

 

Apa aku mengetahuinya?

 

Tentu saja! Sudah sejak dulu aku menyadari perasaan gadis itu. Matanya tak pernah bisa menyembunyikan apa yang dirasakannya. Mencerminkan perasaan kasih tak sampai. Namun, aku membutakan hatiku. Mengubur wajah lugu nan manis itu dalam bagian tergelap. Aku tidak berniat membalas perasaannya atau sekedar mengucapkan terimakasih atas cokelat pemberiannya.

 

Acuh.

 

Terus mengabaikan keberadaan Ji Yoon karena aku tak membutuhkan gadis selain Hana disampingku. Aku bahagia bisa memiliki gadis yang diinginkan hasratku. Tanpa mempedulikan sosok malaikat tak bersayap yang selalu menantiku.

 

Tak ada hal dari Ji Yoon yang membuatku tertarik meski hati seputih kelopak melati. Berbeda dengan Hana yang setiap gerak-geriknya membuatku terpukau. Indah bak hamparan bunga mawar. Merah yang mempesona dan aroma menyengat menimbulkan candu.

 

“Aku ingin berkencan denganmu.”

 

Masih terekam jelas dalam memori akan ekspresi terkejut Ji Yoon ketika aku mengatakan kalimat itu. Ekspektasi berubah wujud menjadi realita. Wajah yang memerah dan napas yang tercekat membuatnya terlihat menyedihkan di mataku. Ia terlalu senang mendengar kalimat palsu itu hingga tak bisa menjawabnya.

 

“Jika diam seperti itu berarti kau tak menolakku.”

 

Hubungan penuh kepalsuan akhirnya dimulai. Ia mulai mengirimiku pesan-pesan singkat selayaknya seorang kekasih. Menyampaikan seluruh perhatian yang selama ini tak pernah disampaikan. Tentu saja aku tak pernah membalasnya. Merepotkan sekali jika harus membalas semua pesan dan perhatiannya. Namun, aku tak bisa terus mengabaikan Ji Yoon yang saat ini berstatus sebagai kekasihku. Ji Yoon akan mulai curiga jika aku terus mengacuhkannya. Satu dari dua alasan aku mengajaknya berkencan.

 

Dua?

 

Ya! Alasan sebenarnya bukan untuk menutupi drama ini. Hal yang lebih penting dan merupakan peluang unjuk gigi. Hana juga akan berkencan dengan kekasihnya di restoran favoritku. Tempat dimana aku menyatakan perasaanku pada Hana saat SMA. Itu sebabnya aku juga mengajak Ji Yoon ke tempat tersebut karena aku tak ingin kalah dari Hana.

 

Kejam?

 

Aku sudah tak peduli dengan hal bodoh yang disebut cinta. Aku akan melakukan apa saja hanya untuk meluapkan kekesalanku. Meski harus melibatkan gadis tak berdosa. Jika aku sudah puas dengan permainan ini maka aku akan menyudahinya. Setidaknya aku sudah memberinya kesempatan untuk bisa merasakan bagaimana menjadi kekasih dari seorang Park Chanyeol. Jadi, bersyukurlah.

 

~~~

 

Ji Yoon tampak antusias ketika satu demi satu hidangan yang telah kami pesan akhirnya datang. Senyuman tipis mengembang di wajahku saat manik kecokelatannya menatapku teduh. Seandainya aku bisa membalas ketulusan itu dengan hal yang setimpal. Aku mengeluarkan sesuatu dari balik kemeja. Rasa penasaran tergambar jelas di wajahnya.

 

“Aku harap kau menyukainya.”

 

Ucapku sembari mengulurkan setangkai bunga padanya. Bunga mawar putih sebagai simbol atas perasaanku yang palsu. Juga melambangkan keluguan hatinya. Perlahan tapi pasti tangannya meraih mawar pemberianku. Diiringi dengan senyuman manis yang entah kenapa tak pernah bisa menggetarkan hati.

 

“Ini sangat indah, Chanyeol.”

 

Wajahnya tersipu. Bak bunga yang gugup ditampar sepoi-sepoi angin. Jika saja Hana yang bersikap seperti ini maka aku akan tersenyum lebar sekarang. Bukan senyum palsu yang perlahan-lahan menghancurkan batin dan jiwaku.

 

“Chanyeol…”

 

“Eh?”

 

Aku tersentak ketika Ji Yoon mengarahkan sendok berisi makanan padaku. Tentu saja dengan sangat terpaksa aku membuka mulut dan mengunyah makanan tersebut. Tak mungkin menolak sikap manisnya. Gadis itu tersenyum tulus melihat reaksiku. Namun, aku terlalu sibuk untuk sekedar membalas senyumnya karena obsidianku sontak terpaku pada dua orang yang tengah beradu argumen beberapa meter dari tempat kami duduk.

 

“Kau menyebalkan, Kris!”

 

Benar seperti yang dikatakan Sehun bahwa Hana dan Kris -kekasihnya- akan datang ke tempat ini. Namun, siapa yang menyangka bahwa mereka akan berakhir dengan perdebatan. Tampak seperti ayam yang saling berkotek. Bukan sebuah kencan romantis seperti yang telah direncanakan. Tentu saja mereka menjadi tontonan yang menarik bagiku. Pandangan mengejek tak bisa disembunyikan ketika Hana menyadari kehadiranku. Ia tampak sangat kesal dan malu.

 

“Chanyeol?”

 

“Ya?”

 

“Apa mereka bertengkar?”

 

Aku mengangguk. Ji Yoon ikut mengalihkan perhatiannya pada mereka berdua. Ada rasa puas tersendiri setelah melihat Hana dipermalukan oleh kekasihnya dihadapan khalayak ramai. Aku sudah mengatakannya, kan? Kebencian dalam diriku sudah terlalu kuat untuk sekedar mengasihani wanita brengsek itu.

 

“Aku tidak tega melihat wanita itu.”

 

Ji Yoon bergumam dengan ekspresi prihatin di wajahnya. Tentu saja ia bersikap seperti itu karena Ji Yoon tak mengetahui fakta bahwa Hana adalah mantan kekasihku. Hana mengenyam pendidikan di universitas yang berbeda denganku dan Ji Yoon. Adalah hal yang wajar jika Ji Yoon tak familiar dengan wajahnya.

 

“Aku sudah meninggalkan semuanya hanya untuk bersamamu, Kris!”

 

“Itu adalah keputusan bodohmu jadi jangan menyalahkanku, Hana.”

 

‘PLAK!’

 

“Kau benar-benar pria brengsek!”

 

Gadis itu pergi dengan tangis bercucuran setelah mendaratkan tamparan di wajah kekasihnya. Kris hanya diam lalu mengarahkan atensinya padaku untuk beberapa detik. Aku membalasnya dengan memberikan tatapan tajam sebelum akhirnya sosok jangkung itu pergi karena tak nyaman terus menjadi pusat perhatian para pengunjung.

 

Karma.

 

Bibirku membentuk senyuman tipis. Lebih tepat jika disebut seringaian. Puas atas apa yang telah dilihat oleh mata kepala sendiri. Sudah seharusnya Hana mendapatkan karma atas apa yang dilakukannya terhadapku. Mencampakkan seseorang yang mencintainya begitu saja kemudian dicampakkan oleh orang yang dicintainya. Benar-benar hukuman yang sempurna.

 

“Aku ingin ke toilet sebentar, Ji Yoon.”

 

Aku beranjak dari duduk tanpa menunggu jawaban dari Ji Yoon. Mengekspresikan suasana hati saat ini. Terlalu senang hingga tak bisa menyembunyikan senyum puas. Ungkapan bahwa cinta dan benci itu dipisahkan oleh dinding yang tipis adalah benar. Masa lalu adalah kebalikan dari masa depan. Begitu juga sebaliknya.

 

~~~

 

| 2 Weeks Later |

 

“Apa aku mengenalmu?”

 

Sakit. Bagai tertusuk ribuan anak panah. Seluruh otot dan sendi-sendiku melemah. Terasa tak sanggup menopang beban tubuh dan batinku. Terdengar hiperbola tapi begitu kenyataannya. Penyesalan dan perasaan bersalah menghantui hari-hariku sejak insiden itu terjadi. Dan semua terjawab hari ini.

 

“Aku adalah teman dekatmu, Ji Yoon.”

 

“Ah, maaf karena aku melupakanmu.”

 

Aku tersenyum kecut. Gadis itu memainkan kuku-kuku jarinya sembari duduk di ranjang serba putih. Berusaha mengusir kecanggungan yang tercipta. Jelas bahwa ia terlihat tak nyaman. Mulutku terkatup tak mampu berkata. Melihat kaki dan tangannya yang dibalut dengan gips hatiku berkecamuk.

 

“Apa kau mengingat namaku?”

 

Gadis itu menggelengkan kepalanya. Membuatku kembali menanggung kekecewaan. Aku sudah menyadari hal itu sejak bertatapan dengannya. Manik kecokelatan yang dulu menatapku penuh kasih kini berganti dengan tatapan jengah yang menganggapku sebagai orang asing. Hal indah itu telah lenyap dan aku merindukannya.

 

“Park Chanyeol.”

 

“Aku merasa tak asing dengan nama itu tapi aku tak bisa mengingatnya.”

 

“Tak ada hal penting yang layak diingat tentangku jadi kau jangan memaksakan diri, Ji Yoon.”

 

Bibirku bergetar dan aku berharap gadis itu tak menyadarinya. Sisi pengecut dalam diriku cukup aku saja yang mengetahuinya. Fakta bahwa aku merasa kehilangan juga cukup aku yang mengetahuinya. Aku adalah seorang munafik yang bahkan membohongi diri sendiri.

 

Aku hanya bisa berandai-andai setelah semuanya terjadi. Seandainya saat itu aku tak melibatkan Ji Yoon maka ia tak perlu menderita seperti sekarang. Seandainya aku tak memanfaatkan ketulusannya maka ia akan tetap menjadi Ji Yoon yang tulus menyayangiku hingga saat ini. Seandainya saat itu aku menyusulnya maka hari ini akan menjadi cerah. Namun, awan-awan mendung itu terlalu kuat menguasai hingga menimbulkan badai yang tak diketahui kapan akan berhenti.

 

Flashback On

 

“Chanyeol…”

 

“Jangan menyentuhku!”

 

Seruku tegas ketika Hana melangkah mendekatiku. Tangisannya semakin menjadi ketika aku hanya diam. Riasan yang luntur membuat dirinya terlihat semakin menyedihkan. Aku hanya mendengus malas sebelum akhirnya melangkah pergi. Namun, wanita itu menarik lenganku dengan paksa. Aku merespon dengan menyingkirkan tangannya secara kasar.

 

“Maafkan aku, Chanyeol.”

 

“Apa kau sudah menyadari kesalahanmu?”

 

Hana mengangguk lesu. Wajahnya tertunduk menyadari nada bicaraku yang semakin tak bersahabat. Ada perasaan tak tega melihat wanita yang dulu menjadi sumber kebahagiaanku kini menangis tersedu-sedu. Namun, aku tak berniat untuk memperbaiki hubungan dengannya karena aku memang tak menginginkan hal itu.

 

“Aku harus kembali karena kekasihku sedang menunggu.”

 

“Apa kau benar-benar mencintai gadis itu?”

 

“Untuk saat ini mungkin belum tapi aku percaya perasaan itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu.”

 

“Bukankah lebih baik jika kita memulai kembali dari awal, Chanyeol? Aku yakin kau masih memiliki perasaan yang sama untukku.”

 

Aku melangkahkan kaki secepatnya. Tak ingin mendengar omong kosong dari seorang Kim Hana. Aku tak ingin keyakinanku goyah hanya karena bujuk rayu. Gadis membosankan bernama Lee Ji Yoon itu jauh lebih baik dibandingkan Hana yang kemungkinan besar akan kembali mengkhianatiku. Aku tak ingin terjebak perangkap yang sama.

 

“Aku membutuhkanmu, Chanyeol.”

 

“Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak menyentuhku, Kim Ha-mmmph!”

 

Bibirnya mengecupku kasar. Membungkam rapat mulutku sebelum aku selesai bicara. Seperti singa kelaparan yang menemukan mangsa. Tangannya menjelajahi dada bidang milikku. Membuat suhu tubuhku memanas dan hati mulai berkecamuk. Pikiranku berusaha untuk tetap jernih dengan menolak perlakuannya tapi iblis dalam diriku juga menikmatinya. Hingga sebuah suara menghentikan kami berdua.

 

“Chanyeol…”

 

Sosok yang tak asing muncul diantara kami. Pupilnya membesar berusaha mencerna dan memahami situasi yang terjadi. Wajah lugu itu kini dihiasi dengan rangkaian pertanyaan yang aku bahkan tak bisa menjawabnya. Bibir mungilnya bergetar. Manik kecolekatan itu mulai berkaca-kaca.

 

“Kau harus menjelaskan yang sebenarnya, Chanyeol!”

 

Aku berusaha menyemangati diri sendiri di waktu yang tak memungkinkan. Namun, semakin aku melihatnya semakin menciut pula nyaliku. Jantungku berdenyut sakit melihat kesedihan yang terpatri jelas di wajahnya. Kesedihan yang disebabkan olehku.

 

“M-Maaf sudah mengganggumu. A-Aku hanya ingin memberikan ponselmu karena tadi kakakmu menelepon.”

 

Tubuh mungil itu melangkah mendekat. Bagai ranting kecil yang patah kala terhembus angin. Ia menyodorkan ponsel itu padaku dengan wajah tertunduk. Perasaan tak menyenangkan itu semakin kuat menjalariku. Aku ingin memeluknya tapi tubuhku tak bergerak. Menyadari bahwa tanganku terlalu kotor untuk mendekapnya.

 

“Aku mengerti perasaanmu jadi kau tidak perlu menjelaskannya padaku, Chanyeol.”

 

“…”

 

DEG!

 

Manik kecokelatan itu menatapku sedih. Perasaan tak ingin kehilangan dan kekecewaan bercampur aduk didalamnya. Bibirnya membentuk lengkungan manis yang entah kenapa justru menyayat hatiku. Senyuman palsu itu benar-benar menghancurkan batinku.

 

“Aku sudah tahu bahwa selama ini perasaan itu hanya bertepuk sebelah tangan. Tapi kau telah memberiku kesempatan untuk merasakan hal-hal yang selama ini hanya menjadi angan-angan. Untuk itu aku ingin berterimakasih padamu.”

 

“…”

 

“Terimakasih sudah memberiku kesempatan untuk menjadi kekasihmu, Chanyeol. Aku akan menyimpannya dalam memori jangka panjang sebagai kenangan terindah di kehidupanku.”

 

Tap!

 

Tap!

 

Tap!

 

Tubuh mungil itu semakin menjauh dari pandangan. Seolah memberitahukan fakta bahwa aku tak bisa lagi menjangkaunya. Seluruh tubuh terasa disengat listrik setelah kalimat perpisahan itu memenuhi akal. Aku benar-benar mati kutu atas pernyataannya.

 

“Kenapa aku hanya diam?”

 

Aku seharusnya bisa mengakhiri kisah ini sedikit lebih baik. Aku seharusnya tak membiarkan mawar putih itu layu. Namun, di satu sisi aku menyadari bahwa aku tak layak berada disisinya. Gadis yang sempurna layak untuk bahagia bersama pria yang sempurna pula. Lalu, ada apa dengan perasaan menyesal yang menjalariku saat ini?

 

Aku tidak mencintainya.

 

Pemahaman itu telah tertanam kuat dalam kepalaku. Sejak menyadari perasaan Ji Yoon yang sebenarnya. Tak ada perasaan istimewa untuknya. Tak ada hal yang menarik darinya. Di mataku ia hanya sebatas gadis yang baik. Jadi, kenapa aku tak rela melihatnya pergi?

 

‘Bruk’

 

Aku terduduk di lantai tepat di depan pintu toilet pria. Seluruh tubuhku terasa lemas dan mataku terasa berkunang-kunang. Ini lebih sakit dibandingkan ketika aku memergoki Hana dan Kris berselingkuh. Apa yang salah denganku?

 

“Menjauhlah dariku, Hana.”

 

“…”

 

Wanita itu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata. Hanya derap langkah yang menggema dan perlahan menghilang. Berganti dengan kesunyian. Wajah lugu itu kembali melintasi pikiranku. Perasaan yang sulit dijelaskan muncul. Apa boleh aku merindukannya?

 

~~~

 

Aku mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang. Pandanganku lurus tapi konsentrasiku melayang tak tentu arah. Meski aku mengelak tetap saja wajah tak berdosa itu terus membayangiku. Ditambah perasaan tak enak yang entah menandakan apa.

 

“Terimakasih sudah memberiku kesempatan untuk menjadi kekasihmu, Chanyeol. Aku akan menyimpannya dalam memori jangka panjang sebagai kenangan terindah di kehidupanku.”

 

Apa itu sebuah janji?

 

Janji sepihak bahwa ia tak akan melupakanku. Itu tak membuatku senang sama sekali. Justru hanya akan menambah rasa penyesalanku.

 

‘Criitt!’

 

Kaki panjangku sontak menginjak rem begitu melihat keramaian yang ada di depan. Beberapa mobil polisi dan sebuah ambulans terparkir di pinggir jalan. Tanpa berlama-lama aku memarkirkan mobilku asal. Penasaran ingin ikut melihat apa yang sebenarnya terjadi.

 

DEG!

 

Aku gugup tanpa alasan yang jelas. Bersamaan dengan langkah yang semakin mendekat maka bertambah gugup pula diriku. Ada apa sebenarnya?

 

“Aku tidak bersalah! Gadis itu menyeberang saat lampu hijau tanpa melihat sekitar.”

 

“Benar! Kami juga melihatnya.”

 

DEG!

 

Aku menelusup diantara kerumunan. Memaksa tubuh besarku masuk dan menerobos barisan dinding manusia. Firasat buruk itu semakin kuat dan tiba-tiba saja aku merasa ingin menangis. Hingga akhirnya aku sampai di barisan depan dan mendapati sosok yang tak asing. Tubuhnya terkulai dipenuhi darah segar.

 

Hukum aku saat ini juga, Tuhan.

 

Mataku menangkap setangkai mawar putih yang tergeletak tak jauh darinya. Mawar yang telah berubah menjadi merah darah. Kaki bergerak dengan sendirinya menuju sosok wanita yang membuat pikiranku kacau. Namun, langkah ini terlalu rapuh untuk sekedar menggapainya.

 

“Ji… Yoon…”

 

Flashback Off

 

“Aku harus pulang karena ada sesuatu yang ingin dikerjakan. Jaga dirimu baik-baik dan semoga cepat sembuh, Ji Yoon.”

 

Langkah kaki terasa begitu berat untuk meninggalkannya. Aku takut jika esok hari ia melupakanku dan aku juga takut jika esok hari ia mengingatku. Aku takut jika keberadaanku dalam memorinya hanya akan membuka luka yang ditutup paksa.

 

“Kau akan mengunjungiku lagi, kan?”

 

“Ya, selama kau tidak mengingatku.”

 

Pintu tertutup membuat jarak diantara kami. Aku tak ingin menoleh ke belakang. Hati akan goyah jika aku melakukannya. Keputusan telah bulat. Ini adalah jalan terbaik bagi kedua pihak. Aku layak dibayangi rasa bersalah atas dosa-dosaku.

 

“Ia memiliki kesempatan sembuh jika ada seseorang yang membantunya. Apa kau yakin ingin tetap seperti ini, Chanyeol?”

 

“Ya.”

 

“Kenapa? Aku mengira perasaanmu telah berubah.”

 

“Benar. Aku mulai menyayanginya tapi kenangan tentangku hanya akan membawa luka. Jadi, lebih baik Ji Yoon melupakanku karena ia akan hidup bahagia dengan menghapus sosok Park Chanyeol dari memorinya.”

 

– FIN –

Story © Riska Junaini

12 thoughts on “ERASED (Oneshoot)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s