Prince Byun x Princess Ji

princebaek1.jpg

Title : Prince Byun x Princess Ji

 

Author : Marie Rose Jane (@janeew_)

 

Genre : Romance

 

Length : Oneshot

 

Rating : PG 15

 

Cast : Byun Baekhyun & Park Jimi (OC)

 

Hello! Kali ini saya bawakan ff berjudul Prince Byun x Princess Ji! Semoga kalian suka ya!

Oh ya, jika kalian berminat membaca fanfic-fanfic saya yang belum dipublish dimanapun kecuali di wordpress pribadi saya, berkunjung saja ke : http://ohmarie99.wordpress.com jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian setelah kalian berkunjung ke wp saya!

 

Thanks and happy reading!

 

**

 

Sial. Begitulah pikir Park Jimi, mahasiswi jurusan hukum salah satu universitas ternama yang ada di Seoul, Korea University. Gadis berambut hitam sebahu itu menghela napasnya dengan berat sambil terus memandangi air laut yang kini tampak tidak tenang terbukti dengan ombak yang terus lari berlomba-lomba tanpa henti untuk dapat mencapai bibir pantai. Cuaca sedang tidak begitu bagus, terbukti pula dengan langit yang mendung dan angin yang bertiup cukup kencang. Kacau, sangat kacau. Jimi tidak tahu, kalimat ‘kacau’ barusan ditujukan untuk cuaca hari ini atau dirinya yang tampak sangat malang saat ini.

 

Jimi sengaja pergi ke pantai yang berada di daerah Busan tersebut untuk menjernihkan pikirannya yang kusut selepas melihat hasil ujian semesternya yang turun drastis. Keadaan itu diperburuk dengan omelan kedua orangtua Jimi yang kecewa dengan hasil ujiannya. Orangtua Jimi menganggap bahwa selama ini Jimi tidak serius dengan kuliahnya yang sudah hampir mencapai semester akhir. Mereka menyalahkan Jimi karena mereka menganggap Jimi telah lalai sampai-sampai hasil ujian semesternya mengalami penurunan yang sangat drastis.

 

Padahal kenyataannya, semua karena Jimi terlalu bekerja keras untuk ujian tersebut. Ia belajar sampai pagi, bahkan beberapa kali hidungnya mengeluarkan cairan berupa darah karena terlalu kelelahan. Akhirnya, bukannya mengeluarkan apa yang sudah dipelajarinya dengan susah payah, Jimi malah tidak bisa fokus dengan apa yang dikerjakannya karena kondisi tubuh yang kurang baik.

 

Selain itu, Jimi juga tengah mencari uang dengan menjadi pekerja paruh waktu di cafe milik salah satu teman kampusnya. Ia tengah mencari uang untuk mengikuti kursus memasak dibidang pastries atau berbagai jenis kue, karena menjadi juru masak kue dan memiliki toko kue sendiri adalah cita-cita terpendam Jimi dari ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Sebenarnya Jimi sudah mencoba meminta ijin pada kedua orangtuanya sekaligus meminta mereka untuk mendukung Jimi dengan memberikan dana untuk kursus tersebut, tetapi kedua orangtuanya menentang keinginan Jimi ini dan berkata bahwa Jimi harus hanya fokus pada kuliah bidang hukumnya agar kelak ia dapat menjadi seorang hakim sekaligus pengacara yang hebat.

 

Karena kerja paruh waktu yang cukup menguras tenaga serta belajar yang tidak mengenal waktu itulah yang menurut Jimi menjadi alasan mengapa nilai ujian semesternya bisa mengalami penurunan yang sangat drastis. Jimi benar-benar tidak bisa fokus saat mengerjakan ujian, bahkan ia pernah pingsan saat mengerjakan soal ujian hingga akhirnya ia harus mengikuti susulan pada sore harinya. Semua ini benar-benar karena kondisi tubuhnya yang tidak fit saat itu.

 

Jimi ingin menjelaskan pembelaannya ini pada kedua orangtuanya, namun ia tahu kedua orangtuanya tidak akan mau mengerti dan tetap menyalahkan semuanya pada Jimi. Sebetulnya, Jimi juga kecewa pada dirinya sendiri. Ia marah pada dirinya sendiri, namun disisi lain dalam dirinya, ada sedikit perasaan dimana Jimi ingin membela dirinya sendiri. Sisi lain itu rasanya ingin berteriak pada semua orang bahwa Jimi sudah bekerja keras untuk menjalani semua kewajibannya selama ini, bahkan lebih dari kemampuannya. Jimi hanya ingin semua orang mau memberi sedikit penghargaan padanya yang selama ini sudah bekerja keras. Bukan penghargaan seperti piala, medali, ataupun sertifikat. Jimi hanya ingin seseorang berkata padanya bahwa Jimi sudah bekerja keras selama ini dan ia bangga pada gadis itu meskipun hasilnya belum cukup memuaskan.

 

Tanpa Jimi sadari air mata mulai membasahi kedua belah pipinya. Jimi baru saja akan mengambil tisu dalam tasnya, tiba-tiba ponselnya berdering, menandai adanya sebuah panggilan masuk. Gadis itu buru-buru mengangkat panggilan tersebut setelah mengetahui bahwa sang penelepon adalah kekasihnya, Byun Baekhyun.

 

“Dimana kau, Park Jimi?! Jangan bersembunyi lagi. Aku sudah tahu alasanmu seringkali menolak ajakan makan malamku selama satu bulan terakhir ini. Jadi kau bekerja paruh waktu di cafe milik Kim Jinhwan? Teganya selama ini kau membohongiku, berkata bahwa kau sibuk mempersiapkan ujian semestermu di perpustakaan?!” Baekhyun langsung mencecar Jimi tanpa ampun, bahkan sebelum sempat Jimi mengucapkan kata ‘halo’ pada laki-laki yang sudah menjadi kekasihnya selama tiga tahun itu.

 

“Byun Baekhyun, aku bisa jelaskan mengapa aku mengambil pekerjaan itu. Aku sedang membutuhkan—”

 

“Mengapa kau tidak bilang saja padaku bahwa kau sedang membutuhkan uang untuk kursus memasak? Aku bisa membantumu membayar uang kursus itu kalau saja sedari dulu kau menceritakan hal ini padaku. Tapi mengapa kau malah memilih untuk membohongiku dan malah memilih untuk bekerja di cafe milik Jinhwan? Kau tahu kan, kalau sedari dulu Jinhwan sangat menyukaimu dan berusaha merebutmu dariku? Sebenarnya, apa yang kau pikirkan sampai berbuat seperti ini, Park Jimi?!” Baekhyun langsung memotong penjelasan Jimi membuat Jimi hanya terdiam sambil menahan air mata yang sudah berada di ujung pelupuk kedua matanya.

 

Jujur, Jimi pernah berpikir untuk meminjam uang pada Baekhyun. Namun, Jimi tidak ingin merepotkan orang lain untuk kepentingannya sendiri. Selain itu, meminjam berarti berhutang. Jimi tidak ingin memiliki hutang pada siapapun terutama pada Baekhyun. Jimi benar-benar tidak enak hati bahkan untuk sekedar berkata bahwa ia sedang membutuhkan uang.

 

“Mengapa kau diam saja? Aku tanya padamu, mengapa kau tidak meminjam uang padaku saja sedari dulu? Mengapa kau harus bekerja paruh waktu di cafe itu dan malah membohongiku? Apa jangan-jangan alasan mengapa kau menerima pekerjaan itu bukan hanya karena kau sedang membutuhkan uang tapi juga karena kau sudah mulai menaruh perhatian pada seorang Kim Jinhwan? Iya? Benar begitu, Park Jimi?”

 

“Jangan sembarangan bicara, Byun Baekhyun! Memangnya aku serendah itu? Terserah kau mau berpikir seperti apa. Aku lelah, benar-benar lelah. Jangan hubungi aku dulu untuk beberapa hari kedepan.” Jimi langsung memutus sambungan teleponnya dengan Baekhyun begitu saja kemudian ia memeluk lututnya sendiri sambil menangis kencang. Angin bertiup sangat kencang dan deburan ombak terus membasahi bibir pantai. Langit yang begitu mendung seolah menggambarkan isi hati dan kepala Jimi saat ini.

 

Jimi lelah dengan kedua orangtuanya yang tidak pernah memikirkan apa yang sebenarnya menjadi keinginannya sejak kecil. Ia lelah dengan kedua orangtuanya yang terus memaksanya menjadi seorang hakim sekaligus pengacara hebat sementara Jimi tahu kemampuannya tidak akan mencapai keinginan besar kedua orangtuanya itu. Jimi juga lelah dengan Baekhyun. Ia lelah dengan sifat kekasihnya itu yang mudah sekali berspekulasi. Ia lelah dengan kecemburuan tidak jelas Baekhyun pada Jinhwan, yang sedari dulu selalu menjadi alasan atas semua pertengkaran mereka berdua selama tiga tahun terakhir ini. Jimi lelah karena tidak ada satu orang pun yang mau mengerti keadaannya yang sedang kacau sekarang ini.

 

Jimi hanya ingin pergi. Pergi jauh dari semua tekanan yang berhasil membuatnya kesulitan bahkan untuk sekedar bernapas seperti biasa.

 

“Ombak, telan aku kalau kau bisa! Bawa aku pergi dari orang-orang yang tidak pernah sekalipun memikirkanku itu! Bawa aku pergi dari kehidupan yang melelahkan ini!” Jimi terus meneriakan kalimat itu berkali-kali. Ia tidak peduli dengan ucapannya yang terdengar tidak jelas itu. Karena jauh dalam lubuk hatinya, ia benar-benar memaknai ucapannya tersebut.

 

Seorang pria paruh baya yang sedari tadi sibuk membetulkan perahu kecil berwarna hijau tuanya, menghampiri Jimi yang masih menangis tersedu. Jimi tidak peduli kalau-kalau pria paruh baya itu menegurnya karena berteriak-teriak. Jimi hanya ingin perasaannya menjadi jauh lebih ringan. Hanya itu.

 

“Anak muda, mengapa kau bicara seperti itu? Tidak tahukah kau, kalau kau meminta ombak untuk menelanmu itu berarti kau baru saja meminta Tuhan untuk mencabut nyawamu sekarang juga?” Jimi memandangi pria paruh baya yang kini tengah duduk di hadapannya dengan mata berair. Logat Busan yang begitu kental terdengar dari suara pria paruh baya tersebut.

 

“Ya, mungkin singkatnya seperti itu.” Jimi berujar asal membuat pria itu tertawa kecil. “Kau ingin pergi dari sini? Kau ingin pergi dari kehidupan yang kau anggap ‘melelahkan’ ini?” Ucap pria paruh baya itu dengan sangat serius membuat Jimi hanya terdiam sambil terus memunculkan tanda tanya pada tatapan matanya yang terlihat penasaran.

 

“Pakai kalung ini dan kembalilah ketika kau sudah menemukan apa yang harus kau temukan.”

 

Pria paruh baya itu memberikan Jimi sebuah kalung perak dengan liontin berbentuk kerang laut yang diambil dari saku celana pendek usangnya. “Kalung itu akan membawamu ke suatu tempat yang jauh. Sangat jauh. Setelah kau sampai pada tempat itu, kau tidak akan mengingat apapun tentang semua kejadian hari ini. Bahkan kau tidak akan mengingat identitasmu sendiri. Kau hanya perlu memainkan peran yang sudah ditentukan oleh kalung itu untukmu.” Jelas pria itu sementara Jimi langsung memandangi kalung yang kini berada di telapak tangannya dengan tidak percaya. Ia tidak tahu maksud dari ucapan pria itu namun hatinya yang kacau terus memaksa untuk segera memakai kalung yang sepertinya berbahaya itu.

 

“Apa aku bisa kembali?” Jimi sendiri tidak tahu apa yang baru saja ditanyakannya pada pria paruh baya itu namun lagi-lagi hatinya memaksa Jimi untuk menanyakan pertanyaan yang sepertinya tergolong pertanyaan penting pada saat-saat seperti ini.

 

“Tentu saja. Sudah ku katakan padamu, kembalilah ketika kau sudah menemukan apa yang harus kau temukan. Selamat mencoba, anak muda.” Pria paruh baya itu bangkit berdiri dari duduknya dan berjalan menjauhi Jimi menuju ke perahu kecil berwarna hijau tuanya. Ia melanjutkan pekerjaannya membetulkan perahu itu sementara Jimi langsung mengalihkan perhatiannya pada kalung yang masih berada ditelapak tangannya.

 

“Ya, aku memang harus pergi.” Setelah mengatur napasnya, Jimi memutuskan untuk memakai kalung berliontin kerang laut tersebut.

 

Jimi sudah benar-benar merasa lelah. Jimi hanya ingin pergi. Pergi kemanapun asal bukan tempat ini.

 

**

 

Gelap gulita. Tidak ada sinar cahaya matahari yang dapat dirasakannya di kulit tangannya saat ini. Tidak ada rupa bunga-bunga yang selama ini sudah ditanamnya dengan kasih sayang. Tidak ada gambaran sedikit tentang bagaimanakah pemandangan dibalik teralis jendela kamar yang kini tengah dipegangnya. Semuanya begitu gelap dan yang hanya dapat dilakukan oleh gadis itu adalah tersenyum sendu, seolah ia tidak dapat melakukan apapun atas kegelapan yang selama delapan belas tahun sudah menjadi teman hidupnya.

 

“Permaisuri datang!” Seorang penjaga berseru nyaring diikuti dengan suara terbukanya kamar gadis yang masih bergeming ditempatnya sembari terus memegangi teralis kamar tersebut. Beberapa dayang-dayang memegang tangan gadis itu dan menuntunnya untuk duduk bersimpu diatas sebuah bantalan kecil yang di depannya terdapat sebuah meja kayu berukuran tidak terlalu besar. Gadis itu dapat menghirup aroma tubuh ibunya yang khas bagai harum bunga lili.

 

Gadis itu dapat merasakan tangan ibunya yang halus dengan perlahan mulai menggenggam kedua tangannya seraya mengelusnya dengan lembut. “Putri Ji, anakku satu-satunya, setelah kemarin kau menghabiskan waktumu dengan pangeran Byun, bagaimana pendapatmu tentangnya? Setelah kemarin ibu sempat bercakap-cakap dengannya, ternyata pangeran Byun sudah menyanggupi perjodohan ini. Pangeran Byun akan segera menyampaikan hal ini pada kedua orangtuanya dan itu berarti perjodohan dua kerajaan besar ini akan segera berlangsung. Ibu juga berharap kau mau segera memberikan jawaban persetujuan atas perjodohan ini.”

 

“Ibu, aku rasa aku tidak bisa menerima perjodohan itu. Aku merasa pangeran Byun mau menerima perjodohan ini hanya karena ia menaruh simpati berupa rasa kasihan padaku. Aku buta. Aku tidak bisa melihat, bahkan aku tidak dapat menggambarkan sosok pangeran Byun itu seperti apa dalam kepalaku walaupun hanya sebentar saja. Aku hanya tidak ingin ia menyia-nyiakan hidupnya dengan memilih untuk menikah—”

 

“Putri Ji! Bagaimana bisa kau berbicara seperti itu?” Ibunya mulai terisak membuat gadis bernama Ji itu terdiam membisu. Ia pasti baru saja menyakiti hati ibunya dengan berkata demikian. “Aku menyayangimu bukan karena rasa kasihan. Begitulah yang dirasakan pangeran Byun padamu. Jadi ibu mohon berhentilah bicara dan berpikir yang tidak-tidak seperti itu.”

 

“Sebentar lagi pangeran Byun akan datang. Ibu harap dengan pertemuan kalian berdua yang kedua ini, kau dapat merubah pikiranmu.”

 

Setelah berkata demikian yang Ji dengar hanyalah langkah kaki ibunya serta dayang-dayang yang mengikutinya. Pintu kamar Ji kembali tertutup, meninggalkan keheningan panjang yang sedari dulu sudah menjadi temannya selain kegelapan. Pangeran Byun adalah laki-laki yang sangat baik. Ia adalah tipe orang yang dapat membuat orang lain tertawa karena candaan-candaannya yang lucu. Pangeran Byun juga merupakan sosok orang yang hangat dan mudah bergaul, terbukti saat pertama kali ia bertemu dengan Ji. Pangeran Byun dapat merubah pandangan Ji terhadap orang-orang diluar sana. Ji jadi berpikir bahwa mungkin saja semua orang diluar teralis kamarnya sama seperti pangeran Byun yang ramah dan baik hati sehingga mereka tidak perlu hidup dalam keheningan dan kesepian seperti yang selama ini Ji rasakan.

 

Ya, sebagai seorang putri raja satu-satunya, Ji hidup dalam kemewahan yang begitu berlimpah. Apa saja yang Ji inginkan, pasti selalu akan tersedia. Begitulah hidupnya sedari kecil. Ayah dan ibunya sangat menyayanginya. Sesibuk apapun mereka berdua, kedua orangtuanya itu selalu akan mengunjungi Ji dimalam hari sebelum mereka berdua beristirahat. Bagi beberapa orang mungkin hidupnya begitu lengkap. Orangtua yang peduli padanya, dan segala sesuatu yang dapat dimilikinya dengan hanya menyebut.

 

Namun kenyataannya hidup seorang putri kerajaan bernama Ji tidak selengkap itu. Ia tidak memiliki apa yang dimiliki hampir semua orang diluar sana. Ji tidak bisa melihat sejak ia dilahirkan di dunia ini. Kedua matanya yang orang lain bilang sangat indah tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya membuat Ji harus hidup dengan kegelapan yang begitu panjang. Ji tidak bisa melihat cahaya matahari pagi yang sangat disukainya, Ji tidak bisa melihat bagaimana tanaman-tanaman kesayangannya yang terletak di dekat jendela berteralis itu tumbuh. Ji tidak bisa melihat warna indah dari bunga-bunga yang terhampar ditaman belakang kamarnya, yang dibuatkan khusus oleh sang paduka raja untuknya, mengingat Ji sangat suka menanam bunga sedari ia masih sangat kecil. Meskipun menanam adalah hal yang sangat disukainya, Ji tidak bisa melakukannya sendiri. Dayang-dayangnya harus membantunya menanam bunga-bunga tersebut, membuat gadis itu sedih setiap kali ia memikirkan hal ini.

 

Ia hanya merasa tidak berdaya. Semua harus selalu dibantu, bahkan dalam melakukan hal-hal kecil sekalipun. Jika orang lain diluar sana menginginkan banyak hal, Ji hanya menginginkan satu hal yang sangat sederhana. Ia hanya ingin matanya berfungsi sebagaimana mestinya. Ia hanya ingin dapat melihat.

 

Karena  kekurangannya itu, Ji tidak bisa keluar dari kamarnya. Ia tidak pernah sekalipun keluar dari istana, bahkan ia tidak pernah berkeliling di daerah istana yang sangat besar itu. Selama delapan belas tahun, ia seolah terkurung di kamarnya yang letaknya sangat jauh di dalam istana. Ia seolah terkurung dibalik teralis kamarnya dan taman belakang miliknya yang begitu sepi. Meskipun dayang-dayang yang selama ini setia berada disampingnya itu tetap menemani dan bahkan seringkali mengajaknya mengobrol tentang banyak hal, Ji tetap merasa sepi.

 

Sepi dan gelap. Begitulah singkatnya hidup seorang putri Ji selama ini. Sampai pada kemarin pagi seseorang datang ke dalam kehidupannya yang sepi dan gelap. Pangeran Byun, putra ke sepuluh kerajaan Gong. Pangeran Byun adalah satu-satunya orang dari luar kerajaan yang pernah Ji kenal. Selama ini Ji hanya mengenal ayah, ibu, dan juga para dayang-dayangnya saja. Sosok pangeran Byun yang sangat hangat membuat rasa sepi yang selama ini menyelimuti Ji seolah hilang begitu saja. Ji senang berada di dekatnya. Ia bahkan tidak bisa berhenti tersenyum kala mendengar suara pangeran Byun yang sangat khas.

 

Untuk pertama kalinya, ada orang selain ayah, ibu, dan dayang-dayangnya yang menuntunnya berkeliling taman belakang miliknya. Untuk pertama kalinya, Ji merasa benar-benar bahagia ketika seseorang menceritakan bagaimana warna dan rupa bunga-bunga yang terhampar ditaman belakang tersebut. Untuk pertama kalinya, Ji merasa matanya bisa turut melihat apa yang dilihat orang lain ketika pangeran Byun menceritakan bagaimana awan berarak-arak dilangit biru yang luas, burung yang bertengger dibatang pohon sembari berkicau riang, dan kupu-kupu berwarna-warni yang seolah menari-nari diatas bunga-bunga yang Ji tanam.

 

Ji memang tidak begitu paham mengenai cinta. Namun jika cinta itu berarti sebuah kenyamanan dan rasa hangat maka Ji benar-benar menemukannya pada seorang pangeran Byun.  Seiring dengan perasaannya yang mulai tumbuh terhadap laki-laki itu, perasaan tidak pantas pun ikut tumbuh bersamaan dengan perasaan tersebut. Ya, Ji hanya merasa tidak pantas bagi laki-laki yang menurutnya sempurna itu.

 

Tiba-tiba lamunan panjang Ji lenyap begitu saja beriringan dengan bunyi ketukan pada pintu kamarnya. “Selamat pagi tuan putri Ji yang cantik.” Senyuman langsung mengembang begitu saja diwajahnya ketika suara langkah kaki seseorang yang sedari tadi Ji tunggu itu mendekat ke arahnya. Ji dapat merasakan sosoknya kini sudah menempatkan dirinya dihadapan Ji. “Selamat pagi, pangeran Byun.” Sapa Ji membuat pangeran Byun tersenyum lembut.

 

“Kau tahu? Aku sibuk merindukan suaramu itu kemarin malam. Sepertinya aku sudah benar-benar terperangkap dalam sihir kecantikanmu itu. Bagaimana bisa baru satu hari dari satu minggu masa perkenalan ini berlangsung dan aku sudah jatuh hati padamu bahkan pada pandangan yang pertama?” Pangeran Byun berujar membuat senyuman pada wajah Ji semakin mengembang. Gadis itu dapat merasakan kedua pipinya yang seketika memanas dan jantungnya berdetak begitu cepat ketika mendengar ucapan pangeran Byun barusan. Ya, saat ini mereka memang sedang menjalani masa perkenalan selama satu minggu sebelum pernikahan besar antara dua kerajaan itu berlangsung.

 

Meskipun pernikahan ini adalah sebuah perjodohan, namun pernikahan tidak akan berlangsung jika salah satu dari calon mempelai merasa keberatan akan pernikahan tersebut. Jadi, mereka harus melewati masa perkenalan untuk dapat mengenal satu sama lain sebelum keduanya merasa benar-benar ada kecocokan. Masa perkenalan itu pula lah yang menjadi waktu berpikir kedua calon mempelai sebelum akhirnya mereka menyetujui pernikahan tersebut. Ketika keduanya berkata setuju, maka barulah pernikahan tersebut dapat dilangsungkan.

 

Seketika terdengar suara tawa pangeran Byun yang menggema diseluruh penjuru ruangan kamar tersebut. “Ey, tuan putri, tidak tahukah kau kalau kau bertambah semakin cantik ketika pipimu merona merah seperti itu? Ah ya, aku membawakanmu sesuatu.” Pangeran Byun menuntun kedua tangan Ji dengan tangannya dan seketika Ji dapat merasakan telapak tangannya bersentuhan pada sebuah guci yang berukuran tidak begitu besar.

 

“Ini adalah guci berisi tanaman bunga matahari. Aku tahu kau menyukai matahari. Aku hanya ingin membuatkan matahari untukmu agar ketika hari berubah menjadi malam dan matahari itu menghilang, kau tetap dapat merasakannya berada di dekatmu lewat dari bunga matahari ini.” Lagi-lagi rasa hangat itu menjalar ke seluruh tubuhnya ketika tangannya saat ini bersentuhan dengan tangan pangeran Byun. Tutur kata pangeran Byun barusan pun benar-benar berhasil membuat Ji jatuh hati semakin dalam pada sosoknya. Pangeran Byun menuntun tangan kanannya untuk menyentuh kelopak bunga matahari tersebut.

 

“Warna kelopak bunga ini adalah kuning, persis seperti sinar matahari.” Ji tersenyum karena lagi-lagi Ji seolah dapat melihat bentuk asli dari bunga tersebut meskipun hanya dengan mendengarkan penjelasan pangeran Byun. “Tangkai bunga matahari ini lebih tinggi dari tangkai bunga biasa dan daunnya tumbuh disekitar tangkai.” Pangeran Byun menuntun tangan Ji untuk turut memegang tangkai bunga tersebut beserta daunnya. “Terima kasih banyak, pangeran Byun.” Ujar Ji membuat pangeran Byun lagi-lagi tersenyum lembut.

 

Pangeran Byun sendiri sudah menaruh perasaan pada Ji sejak pertama kali ia melihat gadis itu. Ia baru pertama kali melihat seorang gadis secantik dan semenarik Ji. Pangeran Byun baru benar-benar membuktikan kebenaran perkataan orang yang mengatakan bahwa Ji adalah seorang gadis yang sangat cantik dan menarik ketika ia melihat Ji secara langsung. Selain itu, pangeran Byun juga baru membuktikan perkataan orang yang mengatakan bahwa Ji memiliki mata yang sangat indah, yang dapat membuat semua orang jatuh hati dengan hanya melihat kedua mata berbentuk bulat dan berukuran besar tersebut, ketika ia pertama kali menatap kedua bola mata berwarna hitam pekat yang menarik milik Ji.

 

Namun orang-orang diluar sana tidak tahu bahwa kedua mata indah itu tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Pangeran Byun sendiri sangat terkejut ketika ia mengetahui fakta bahwa Ji tidak dapat melihat sejak gadis itu dilahirkan di dunia ini. Namun hal itu tidak merubah perasaannya sedikitpun pada Ji. Gadis itu adalah gadis pertama yang dapat membuatnya terjaga sampai pagi karena tidak bisa berhenti memikirkan sosoknya. Gadis itu adalah gadis pertama yang dapat menarik perhatiannya dengan hanya melihat sosoknya.

 

“Nah, sekarang bagaimana kalau kita menyiram tanaman-tanamanmu di taman belakang?” Pangeran Byun segera membantu Ji untuk berjalan ketika gadis itu menyetujui ide pangeran Byun dengan sebuah anggukan senang.

 

Mereka berdua mulai menyirami tanaman-tanaman tersebut. Cahaya matahari pagi yang hangat serta wangi semerbak dari bunga-bunga di taman tersebut membuat Ji tidak bisa berhenti tersenyum. Pangeran Byun pun bersenandung pelan membuat Ji tertawa ketika suara laki-laki itu tidak sengaja mengeluarkan nada yang sumbang. “Tuan putri! Ada sesuatu diwajahmu!” Seruan pangeran Byun membuat Ji langsung menghentikan tawanya. Ji dapat merasakan sosok pangeran Byun mendekat ke arahnya membuat Ji salah tingkah. Aroma tubuhnya yang khas bahkan dapat Ji hirup dari jarak mereka yang sudah sangat dekat. Tiba-tiba Ji dapat merasakan sedikit cipratan air mengenai wajahnya dan gelak tawa pangeran Byun mulai terdengar.

 

“Apa yang kau lakukan? Kemari kau, pangeran Byun!” Ji menarik lengan baju pangeran Byun sementara laki-laki itu berusaha melarikan diri. Berkali-kali Ji mencipratkan air yang digunakannya untuk menyiram tanaman itu ke arah pangeran Byun yang sibuk berteriak meminta ampun. “Ampun, tuan putri! Ampun!” Seru pangeran Byun sambil tertawa kecil. Pangeran Byun yang sedari tadi hendak melarikan diri itu tanpa sengaja menarik tangannya begitu saja membuat Ji yang masih menahan lengan bajunya ikut tertarik dan seketika yang pangeran Byun tahu dirinya sudah mendarat di tanah dengan Ji yang berada tepat di atasnya. Wajah Ji berubah menjadi sangat panik sementara pangeran Byun menikmati pemandangan yang baginya menarik itu dengan senyuman jahil.

 

Ji berusaha untuk bangun namun pangeran Byun malah menahan pinggang gadis itu dengan satu tangannya. Saat ini mereka terbaring di rerumputan hijau sementara sekeliling mereka adalah berbagai macam tanaman bunga. “A-apa kau baik-baik saja? Apa ada yang terluka? Ayo cepat kita harus bangun dan mengecek apa ada bagian tubuhmu yang terluka!” Seru Ji dengan suara panik sementara pangeran Byun hanya tersenyum mendengar ucapan Ji barusan. “Aku baik-baik saja. Kalaupun ada bagian tubuhku yang terluka, pasti sekarang sudah sembuh karena aku yakin hanya dengan menatap wajahmu dari jarak sedekat ini, semua dapat disembuhkan.” Ji langsung memukuli pangeran Byun tanpa ampun sementara laki-laki itu hanya tertawa terbahak.

 

Ji langsung mendudukan dirinya membuat pangeran Byun langsung melakukan hal yang sama. Gadis itu terduduk seraya memeluk lututnya sementara pangeran Byun hanya sibuk memperhatikan paras samping gadis itu yang baginya sangat menarik. Angin bertiup ke arah mereka membuat hamparan bunga yang berada disekitar mereka seolah menari-nari sesuai dengan irama angin. Bunga-bunga yang indah, serta paras samping seorang Ji benar-benar membuat pangeran Byun tahu apa itu definisi dari kata ‘cantik’ yang sebenarnya.

 

“Tuan putri, tahukah kau kalau kau itu sangat cantik?” Pangeran Byun berujar sambil terus memperhatikan Ji tanpa berniat untuk mengalihkan perhatiannya pada apapun selain Ji. “Bagaimana aku bisa tahu kalau sedari aku dilahirkan saja aku tidak bisa melihat apa-apa?” Seketika suasana hening menyelimuti mereka. Ji terkekeh sambil mengeratkan pelukannya pada kedua lututnya yang tertekuk. “Sedih bukan? Aku bahkan tidak bisa melihat bagaimana bentuk rupaku sendiri.” Pangeran Byun menggenggam satu tangan Ji dengan erat seraya mengelusnya. Ia ingin menghibur Ji, namun ia sendiri tidak tahu apa yang harus dikatakannya sehingga yang hanya dapat dilakukannya adalah menggenggam tangan Ji dengan erat seperti sekarang ini, berusaha memberitahu gadis itu bahwa semua akan baik-baik saja lewat dari elusan lembut tangannya.

 

“Aku bahkan tidak dapat menggambarkan bagaimana sosokmu dalam benak dan pikiranku meskipun hanya sebentar saja.” Air mata Ji menetes begitu saja, membasahi kedua belah pipinya. Ji langsung menghapusnya dengan cepat sambil tersenyum kecil. Ji tahu, saat ini pangeran Byun tengah menatapnya dengan tatapan kasihan meskipun gadis itu tidak dapat melihatnya secara langsung. Tiba-tiba pangeran Byun menggenggam kedua tangan Ji dan dengan perlahan menuntun kedua tangan milik Ji ke permukaan wajahnya.

 

Pangeran Byun menuntun kedua tangan Ji untuk menyentuh kedua alis matanya dan juga kedua matanya yang tidak berkelopak. Matanya kecil dan bentuknya sangat turun. Kemudian pangeran Byun menuntun tangan Ji untuk menyentuh tulang hidungnya yang lancip. Setelah itu Ji merasakan tangannya berada di kedua pipi milik pangeran Byun yang tirus namun juga lembut. Pangeran Byun meletakan satu tangan Ji ke tempatnya semula sementara ia menuntun satu tangan Ji yang lainnya untuk menyentuh bibir tipis milik pangeran Byun. Pangeran Byun menahan tangan Ji yang masih berada pada bibirnya, menikmati alunan debaran jantung yang seolah memainkan dirinya, begitu pula dengan Ji.

 

Ji bahkan tidak dapat bernapas dengan normal ketika merasakan jemarinya menyentuh permukaan bibir milik pangeran Byun. Setelah beberapa saat, pangeran Byun menggenggam tangan Ji dengan erat. “Sekarang, kau sudah dapat menggambarkannya?” Ji terdiam, berusaha mengingat kembali bentuk wajah pangeran Byun. Alis matanya yang tidak begitu tebal namun terbentuk dengan tegas, matanya yang tidak berkelopak dan memiliki bentuk yang melengkung turun, hidungnya yang lancip dan bibirnya yang tipis. Ji yakin sekali ia benar-benar mengenalnya. Bahkan bayangan wajah seseorang yang tidak dikenalnya muncul begitu saja memenuhi kepalanya.

 

Bayangan wajah itu terus muncul membuat kepala Ji terasa pening sampai-sampai ia harus memegangi kepalanya dengan kedua tangannya. “Tuan putri, kau tidak apa-apa?” Tanya pangeran Byun dengan khawatir. Suara pangeran Byun pun seketika terdengar persis seperti suara seseorang. Ji sendiri tidak tahu siapa seseorang yang dimaksudkannya itu. Ji hanya benar-benar seperti mengenalnya, dan ia yakin sekali orang itu adalah salah satu orang yang penting dalam hidupnya.

 

“B-byun Baekhyun?”

 

Ji tidak tahu apa yang diucapkannya barusan. Nama itu keluar begitu saja dari mulutnya seolah nama itu sudah seringkali ia sebut. “Byun Baekhyun? Oh astaga tuan putri, wajahmu pucat sekali. Aku rasa kau butuh istirahat sekarang. Aku akan membantumu kembali ke kamar.” Pangeran Byun segera menuntun Ji menuju kamarnya dibantu oleh para dayang-dayang yang seketika panik melihat paras Ji yang mendadak pucat pasi.

 

Byun Baekhyun. Ji yakin sekali kalau wajah yang dilihatnya dalam bayangannya adalah orang bernama Byun Baekhyun itu. Ji yakin sekali kalau ia mengenal orang itu. Dan gadis itu pun yakin sekali kalau orang itu memiliki peran penting dalam hidupnya.

 

Hanya saja Ji tidak tahu dengan persis siapa dan darimana laki-laki bernama Byun Baekhyun itu.

 

**

 

“Selamat pagi tuan putri Ji!” Pangeran Byun menepuk pundak Ji yang sedang menyirami tanaman-tanamannya. “Bagaimana? Apa kau sudah merasa kondisimu sudah lebih baik sekarang?” Ji mengangguk senang membuat pangeran Byun langsung tersenyum lega. “Syukurlah. Karena kau sudah baikan, bagaimana kalau sekarang kita berkeliling istana?” Ji langsung menggeleng cepat. “Kau tahu sendiri kalau kau mengajakku berjalan jauh itu artinya kau siap untuk repot menuntunku. Yang ada nanti kau malah kelelahan.”

 

“Siapa bilang aku akan mengajakmu berjalan kaki? Tuan putri, istana ini sangat luas. Aku sudah menyediakan kendaraannya. Ayo ikut aku!” Pangeran Byun menuntun Ji ke arah kendaraan yang dimaksudkannya. “Ini dia kendaraannya! Perkenalkan, namanya Mongryeong.”

 

“Mong-Mongryeong? Aku rasa aku pernah mendengar nama itu sebelumnya. Bukankah Mongryeong itu harusnya untuk seekor anjing? Kita tidak mungkin mengendarai seekor anjing, kan?” Pangeran Byun tertawa mendengar ucapan Ji barusan.

 

“Dari mana kau dapat menyimpulkan bahwa nama Mongryeong itu hanya untuk seekor anjing? Kura-kura peliharaan kakak laki-lakiku saja bernama Mongryeong. Ini adalah seekor kuda berwarna putih. Ayo, aku bantu kau untuk menaikinya.” Pangeran Byun segera membantu Ji untuk duduk diatas kuda tersebut. Setelah ia berhasil menaikan gadis itu, pangeran Byun segera mengambil tempat dibelakang Ji. Jarak mereka begitu dekat, bahkan Ji dapat merasakan punggungnya menempel dengan dada bidang milik pangeran Byun. Keduanya tersenyum merasakan debaran jantung mereka masing-masing yang saat ini mengalun begitu cepat.

 

“Mongryeong, ayo jalan!” Seru pangeran Byun dan kuda tersebut mulai berjalan dengan kecepatan sedang sementara kini Ji memunculkan tanda tanya besar akan nama kuda milik pangeran Byun. Betul apa yang telah dikatakan pangeran Byun. Bagaimana bisa Ji menyimpulkan bahwa nama Mongryeong itu hanya untuk seekor anjing? Dari mana ia pernah mendengar nama itu sebelumnya? Mengapa Ji merasa tidak asing dengan seekor anjing yang bernama Mongryeong? Mengapa Ji seolah pernah melihat langsung rupa anjing tersebut?

 

Ji berusaha untuk tidak mempedulikan pemikiran itu lebih jauh dan memilih untuk mendengarkan penjelasan pangeran Byun tentang apapun yang berada disisi kanan dan kiri mereka. Pangeran Byun benar-benar setia menjelaskan apa yang dilihatnya pada Ji sehingga dengan perlahan Ji dapat menggambarkan dengan jelas dalam kepalanya, bagaimanakah sebenarnya bentuk dan daerah istana yang selama ini ditinggalinya.

 

Ji merasa beruntung karena telah mengenal seorang pangeran Byun. Laki-laki itu adalah orang pertama yang membuatnya merasa tidak memiliki kekurangan apapun. Ji merasa dapat melihat sedikit cahaya dalam kehidupannya yang gelap setelah mengenal pangeran Byun. Ia merasa seolah dapat melihat melalui seorang pangeran Byun.

 

Setelah cukup lama mereka berkeliling istana, pangeran Byun memberhentikan kudanya dan membantu Ji untuk turun dari kuda tersebut. Ia menuntun Ji pada sebuah paviliun istana yang mengarah langsung ke arah sebuah kolam ikan berukuran cukup besar. Setelah mendudukan Ji pada kursi panjang yang terletak pada paviliun tersebut, pangeran Byun turut mendudukan dirinya disebelah gadis itu.

 

“Sekarang kita tengah berada disebuah paviliun istana yang terletak tepat di dekat kolam ikan besar milik paduka raja. Aku yakin kau dapat menghirup aroma kolam yang begitu kuat.” Ji mengangguk sambil tersenyum senang. “Aku benar-benar ingin berterima kasih padamu, pangeran Byun. Karenamu, untuk pertama kalinya aku dapat berkeliling istana ini. Aku dapat merasakan suasana yang berbeda selain kamar dan taman belakang kamarku itu. Karenamu juga, aku merasa benar-benar dapat turut melihat segala sesuatu yang kau jelaskan padaku. Aku merasa aku benar-benar dapat menggunakan kedua mataku dan kegelapan itu seolah hilang begitu saja.”

 

Pangeran Byun menatap Ji dengan tatapan lembutnya, berharap gadis itu tahu bahwa ia benar-benar sudah jatuh hati pada sosoknya. “Aku heran dengan orang diluar sana.” Ujar Ji dengan tiba-tiba membuat pangeran Byun langsung menatapnya dengan penuh tanda tanya.

 

“Mereka menginginkan banyak hal dan mereka bahkan sesekali marah pada Tuhan ketika mereka tidak dapat memiliki apa yang mereka inginkan sementara mereka lupa dengan apa yang sudah mereka miliki. Mereka lupa akan kesempurnaan yang telah mereka miliki. Mereka bisa melihat dengan kedua matanya, mereka bisa mendengar dengan kedua telinganya, mereka bisa bernapas dengan hidungnya, dan mereka juga bisa berbicara dengan mulutnya. Tapi, mengapa mereka tidak bisa belajar untuk berterima kasih akan kesempurnaan itu? Mengapa mereka malah dengan lancangnya menyalahkan Tuhan akan apa yang tidak bisa mereka dapatkan?”

 

Ji sendiri terpaku akan apa yang baru saja dikatakannya. Hatinya merasa tertohok oleh ucapannya sendiri. Ji tidak mengerti mengapa ia merasakan hal tersebut namun tiba-tiba hatinya terasa nyeri mendengar ucapannya sendiri barusan. Ia merasa pertanyaan itu ditujukan untuk dirinya sendiri. Ia benar-benar merasa bahwa pertanyaan yang dapat dikategorikan sebagai sindiran itu ditujukan untuk perlakuannya selama ini. Hanya saja Ji tidak tahu apa yang telah dilakukannya sehingga ia merasakan hal tersebut.

 

“Kau tahu apa yang membuatku menyetujui perjodohan ini bahkan pada hari pertama aku bertemu denganmu?” Pangeran Byun berujar sementara Ji masih bergelut dengan pikirannya sendiri. Ia berusaha untuk mengabaikan pemikiran itu namun hatinya yang resah dan gelisah dan dirinya yang penuh akan tanda tanya itu tidak bisa mengindahkan perintah dari otaknya.

 

“Aku jatuh hati pada kedua matamu yang indah. Ketika kau menganggap bahwa matamu adalah kekurangan dari dirimu, aku melihatnya sebagai kelebihan dirimu.” Pangeran Byun berujar seraya menggenggam kedua tangan milik Ji. Ia tahu betapa besar keinginan gadis itu untuk dapat melihat. Ia tahu persis apa yang gadis itu rasakan terutama ketika ia mendengar ucapan Ji barusan.

 

“Ketika aku menatap kedua bola matamu, aku merasa seperti berada dirumah. Aku merasakan rasa nyaman yang tidak dapat aku jelaskan.”

 

Seketika Ji merasakan hatinya kembali tertohok mendengar ucapan pangeran Byun barusan. Ji yakin sekali seseorang pernah mengucapkan hal yang sama dengan apa yang baru saja pangeran Byun ucapkan. Seseorang bernama Byun Baekhyun. Dalam hitungan detik, otaknya seolah memutar ulang sebuah film berwarna hitam dan putih dimana Ji dan laki-laki bernama Byun Baekhyun itu adalah pemeran utama film tersebut.

 

**

 

“Ya! Byun Baekhyun! Aish, kau ini menyebalkan sekali! Lepaskan aku! Banyak orang yang melihat kita, kau tahu tidak?!” Jimi berusaha melepaskan diri dari pelukan kekasihnya itu dengan susah payah sementara laki-laki bernama lengkap Byun Baekhyun itu malah mengeratkan pelukannya pada tubuh Jimi, bahkan Baekhyun mulai mengecupi puncak kepala Jimi berkali-kali membuat gadis itu hanya dapat memukuli lengan Baekhyun, berharap laki-laki itu segera berhenti melakukan tindakan memalukan tersebut.

 

Ya, mereka sedang berada ditempat umum. Tepatnya di kawasan kebun binatang Everland. Mereka memang sudah mengatur janji di kebun binatang tersebut untuk menikmati kencan dalam rangka menyambut kepulangan Baekhyun dari Cina. Selama enam bulan mereka harus berhubungan jarak jauh karena Baekhyun yang mengikuti kejuaraan olahraga Hapkido. Laki-laki itu harus mengikuti serangkaian latihan ketat dan pertandingan bertahap yang dilaksanakan di Cina. Hal itu mengharuskan Baekhyun untuk meninggalkan Korea dan tinggal sementara disana selama enam bulan lamanya. Baekhyun membawa nama Korea University, kampusnya, dalam kejuaraan ini sehingga Baekhyun harus benar-benar mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mengharumkan nama kampusnya tersebut.

 

Usahanya itu membuahkan hasil yang sangat baik. Baekhyun berhasil meraih medali emas terbukti dengan tergantungnya medali emas tersebut pada leher Jimi. Ya, Baekhyun menghadiahi medali emas paling berharganya itu untuk gadis yang paling ia cintai, Park Jimi.

 

Baekhyun benar-benar merindukan gadis itu sehingga setelah ia mengalungkan medali emas tersebut, Baekhyun langsung memeluk Jimi dengan erat sampai sekarang ini. Ia tidak peduli gadis itu memprotesnya dengan ocehan berisiknya. Justru hal itu pulalah yang sangat dirindukannya dari seorang Park Jimi, sehingga sedari tadi Baekhyun hanya mengulas senyuman bahagia di bibirnya yang tipis.

 

Akhirnya Jimi pun membiarkan Baekhyun memeluknya selama kurang lebih sepuluh menit. Laki-laki itu benar-benar hanya memeluknya tanpa berkata apapun membuat senyuman perlahan mulai mengembang diwajah Jimi. Jimi jadi tahu bahwa laki-laki itu juga sangat merindukannya seperti apa yang dirasakannya saat ini.

 

“Aku merindukanmu, Byun Baekhyun. Selamat untuk kemenanganmu di kejuaraan Hapkido itu. Aku sudah tahu dari awal bahwa kau bisa melakukannya.” Jimi menepuk punggung Baekhyun berkali-kali membuat laki-laki itu tersenyum senang. Baekhyun melepas pelukannya dan kemudian menangkup kedua pipi Jimi. “Aku juga sangat merindukanmu, Park Jimi. Aku merindukan kedua pipimu yang berisi ini, aku merindukan senyuman manismu, aku merindukan hidungmu yang menggemaskan, dan aku juga sangat merindukan kedua matamu yang indah.” Baekhyun berujar membuat Jimi langsung memukulinya berkali-kali.

 

“Kau tahu sendiri kan, kalau aku tidak bisa mendengar ucapan-ucapan manis seperti itu? Ada apa denganmu? Jangan-jangan bukannya latihan Hapkido, kau malah latihan merayu gadis disana. Benar begitu, Byun Baekhyun?!” Baekhyun langsung mencapit hidung jimi dengan jarinya kemudian menggoyangkannya ke kiri dan ke kanan membuat gadis itu menjerit tidak terima.

 

“Aku serius. Kau tahu? Aku benar-benar merindukan kedua matamu ini.” Baekhyun kembali menangkup kedua pipi Jimi dengan masing-masing telapak tangannya seraya menatap lurus-lurus kedua manik mata hitam pekat milik Jimi. Untuk beberapa saat mereka bertahan pada posisi tersebut. Yang hanya dapat Jimi lihat hanyalah paras tampan seorang Byun Baekhyun beserta senyuman manis laki-laki itu yang sangat memabukan.

 

“Ketika aku menatap kedua bola matamu, aku merasa seperti berada dirumah. Aku merasakan rasa nyaman yang tidak dapat aku jelaskan.”

 

Baekhyun langsung mendaratkan kecupan lembutnya pada dahi Jimi dengan perlahan. Seketika Jimi pun dapat merasakan rasa sayang yang benar-benar tulus dari kecupan lembut tersebut dan dari ucapan Baekhyun barusan.

 

Untuk kesekian kalinya, Jimi jatuh hati pada seorang Byun Baekhyun.

 

**

 

“Byun Baekhyun!” Seru Ji dengan tiba-tiba. Ji mencengkram kedua lengan pangeran Byun yang tampak bingung dengan sangat kuat. “Ya, benar! Aku sudah mendapatkan hal itu! Aku sudah mendapatkan pelajaran dari kalung ini!” Ji kembali berseru sambil mengeluarkan kalung berbentuk kerang laut yang berada di lehernya.

 

“Tuan putri Ji! Ada apa denganmu? Kau tidak apa-apa? Aku rasa kita harus kembali ke kamarmu sekarang. Wajahmu benar-benar pucat seperti kemarin. Kau belum sembuh sepenuhnya, tuan putri.” Pangeran Byun berujar dengan khawatir sementara Ji langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Tidak, jangan bawa aku kembali ke sana. Bawa aku ke pantai. Pantai manapun. Aku harus kembali secepatnya karena aku sudah menemukan apa yang harus aku temukan!” Ji berujar membuat pangeran Byun semakin bingung.

 

“Se-sebenarnya apa yang sedang kau bicarakan, tuan putri?” Pangeran Byun benar-benar kebingungan membuat Ji yang tampak menggebu-gebu itu berusaha untuk menenangkan dirinya. Ia menarik napas berulang kali kemudian segera menarik pangeran Byun yang saat itu tengah berdiri untuk kembali duduk tepat disebelahnya.

 

“Pangeran Byun, dengarkan aku. Bagaimanapun caranya kau harus percaya akan apa yang aku ceritakan. Mungkin ini terdengar mustahil, tapi hal ini nyata.” Ji kembali menarik napasnya sementara pangeran Byun yang sangat kebingungan itu hanya dapat diam ditempatnya sembari menunggu cerita yang dimaksudkan oleh Ji.

 

“Aku adalah Park Jimi, seseorang dari masa depan. Aku terperangkap dalam tubuh tuan putri Ji untuk mendapatkan sebuah pelajaran. Kalung berbentuk kerang laut inilah yang membawaku kesini. Aku diharuskan oleh kalung ini untuk memainkan peran sebagai seorang gadis bernama Ji yang tidak dapat melihat agar aku dapat mempelajari sesuatu. Seperti yang sebelumnya aku katakan padamu, akulah salah satu dari orang-orang yang menginginkan banyak hal dan tidak pernah bersyukur akan apa yang sudah dimilikinya.” Ji merasakan kedua matanya yang tidak dapat melihat apapun itu mulai berair kala ia melanjutkan perkataannya pada pangeran Byun.

 

“Aku selalu saja menginginkan hal yang tidak aku miliki dan ketika aku tidak dapat menggapainya, aku akan membenci diriku sendiri. Aku tidak pernah sekalipun mensyukuri apa yang sudah aku punya. Aku mempunyai kedua orangtua yang sangat peduli pada masa depanku, aku mempunyai kekasih yang sangat mencintaiku, aku mempunyai teman-teman yang peduli padaku, aku mempunyai fisik yang sempurna tanpa kurang satu apapun. Aku benar-benar menyesali semua itu sekarang dan aku sudah berhasil mempelajari arti dari kata ‘bersyukur’ itu melalui tuan putri Ji.” Air mata mengalir begitu saja dari kedua matanya. Ia hanya ingin kembali. Ia hanya ingin kembali menjadi seorang Park Jimi.

 

“Menurut seorang kakek yang memberikanku kalung ini, ketika aku sudah menemukan suatu hal yang harus aku temukan, aku dapat kembali ke kehidupanku semula yang adalah masa depan, jauh dari masa ini. Aku yakin bahwa hal tersebut adalah kesadaran diri akan kepentingan untuk mengucap syukur. Itu pula yang berhasil membuatku sadar bahwa aku ini bukanlah putri Ji. Aku adalah Park Jimi, seorang dari masa depan yang harus kembali ketika aku sudah menemukan apa yang harus aku temukan disini.” Ji berujar mantap beriringan dengan jatuhnya satu bulir air mata dari masing-masing matanya.

 

“Tuan putri Ji, aku rasa kau benar-benar sedang dalam kondisi yang tidak baik sekarang. Lebih baik kita kembali—”

 

“Tidak! Kumohon jangan bawa aku kembali kesana! Aku harus kembali ke kehidupanku di masa depan dan cara satu-satunya adalah kau harus membantu mengantarku ke sebuah pantai. Aku yakin sekali kalau aku membuang kalung ini ke laut, maka aku akan dapat kembali ke kehidupanku yang semula. Aku tidak dapat pergi ke pantai sendirian karena aku tidak dapat melihat. Aku mohon padamu, pangeran Byun. Kau harus membantuku kembali ke kehidupanku yang sebenarnya karena hanya kau satu-satunya orang yang dapat membantuku.”

 

“Pengawal!” Pangeran Byun berseru membuat Ji langsung menahan tangannya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. “Kumohon padamu, pangeran Byun! Aku benar-benar membutuhkan bantuanmu!” Ji terus menarik lengan pangeran Byun sambil menangis terisak.

 

“Pengawal, tolong bawa tuan putri Ji kembali ke kamarnya. Ia sedang dalam keadaan yang tidak baik saat ini. Pastikan ia beristirahat dengan total.” Ji tersedu ketika beberapa pengawal itu berusaha untuk membawanya pergi menjauhi pangeran Byun.

 

“Kau harus mempercayai ceritaku, pangeran Byun! Aku tidak punya siapa-siapa lagi selain kau yang dapat membantuku! Aku mohon padamu pangeran Byun!” Ji terus berteriak-teriak sementara saat itu juga ia dapat mendengar suara pekikan kuda yang nyaring serta suara derapan langkah kaki kuda yang begitu cepat berlalu begitu saja. Ji dapat mengetahui bahwa itu adalah suara kuda milik pangeran Byun yang membawa laki-laki itu pergi menjauh darinya.

 

Sekarang, ia benar-benar tidak tahu bagaimana cara untuk kembali menjadi seorang Park Jimi, gadis yang dulu ia kira memiliki hidup yang paling melelahkan dari semua orang yang berada disekitarnya.

 

**

 

Hari itu pangeran Byun tidak datang menghampiri Ji seperti hari-hari sebelumnya. Ji tahu bahwa alasan pangeran Byun tidak menghampirinya karena ceritanya kemarin. Mungkin pangeran Byun sudah membatalkan perjodohan ini karena menyangka Ji memiliki keterbelakangan mental karena ceritanya yang sebenarnya Ji tahu terdengar sangat mustahil.

 

Saat ini tubuhnya memang adalah tubuh seorang putri Ji. Namun, jiwanya adalah jiwa seorang Park Jimi. Bagaimanapun, ia ingin kembali secepatnya pada kehidupannya yang sebenarnya. Ia merindukan kedua orangtuanya, ia merindukan Byun Baekhyun, ia merindukan bagaimana matanya dapat berfungsi seperti biasa, melihat pemandangan yang berada disekitarnya. Ia benci kegelapan panjang seperti ini.

 

Sekarang ia sadar bahwa bersyukur adalah hal yang sangat penting. Ketika ia merasa bahwa hidupnya adalah yang paling melelahkan diantara semua orang yang berada disekitarnya, ternyata masih banyak lagi orang yang menderita diluar sana. Contohnya tuan putri Ji. Ia memiliki segalanya. Ia memiliki harta benda yang begitu melimpah. Ia juga memiliki paras cantik yang dielu-elukan semua orang. Namun, ia tidak memiliki pengelihatan. Kedua matanya yang indah tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Tuan putri Ji harus hidup pada kegelapan panjang tidak berujung seumur hidupnya.

 

Jimi tidak sadar bahwa hal itulah yang harusnya ia syukuri selama ini. Jimi seharusnya bersyukur akan matanya yang dapat melihat, hidungnya yang dapat digunakan untuk bernapas, mulutnya yang dapat digunakan untuk berbicara, dan telinganya yang dapat digunakan untuk mendengar. Semuanya lengkap, tanpa kurang satu apapun. Bukannya bersyukur, ia malah mengkategorikan hidupnya sebagai hidup yang melelahkan. Ia malah berharap ia menghilang dari kehidupannya.

 

Jimi seketika menyesal dengan apa yang sudah dilakukannya selama ini pada hidupnya. Ia ingin kembali, menebus semua kesalahannya pada dirinya sendiri. Pada hidupnya yang sangat berharga.

 

Jimi hanya berharap ia dapat sesegera mungkin keluar dari tubuh tuan putri Ji dan kembali ke kehidupannya yang semula.

 

Lamunannya seketika lenyap begitu saja ketika ia menangkap suara bisik-bisik para dayang diluar pintu kamarnya. Ji berusaha sekeras mungkin untuk mendekati pintu kamar tersebut. Setelah ia berhasil duduk dihadapan pintu itu, ia menempelkan telinganya dengan perlahan guna mendengar apa yang tengah dibicarakan para dayang-dayangnya sampai mereka memilih untuk berbicara dengan cara berbisik-bisik.

 

“Kalian tahu tidak apa alasan pangeran Byun tidak menghampiri tuan putri Ji hari ini?” Ji terus berusaha untuk mendengar suara yang terdengar samar-samar itu dengan susah payah. “Apa itu karena kejadian kemarin? Kejadian dimana tuan putri Ji tiba-tiba menangis seperti orang gila di paviliun istana?” Salah seorang dayang menebak membuat yang lain langsung menyuruhnya untuk mengecilkan volume suaranya.

 

“Bukan. Ya, mungkin juga karena hal itu. Tapi hal yang utamanya adalah, pihak kerajaan Gong hari ini mengirim surat pada paduka raja untuk membatalkan perjodohan. Pihak kerajaan Gong merasa terhina karena mereka baru tahu bahwa calon mempelai wanita yang akan dinikahkan dengan putra ke sepuluh mereka alias pangeran Byun itu buta.” Ji langsung menutup mulutnya tidak percaya.

 

Hatinya entah mengapa terasa sakit mendengar hal tersebut. Meskipun saat ini yang ada di dalam tubuh Ji adalah seorang Park Jimi, Jimi dapat turut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh tuan putri Ji. Hidup seorang tuan putri bernama Ji itu benar-benar menyedihkan. Meskipun ia adalah putri raja satu-satunya, semua orang memandang rendah dirinya karena kekurangan yang dimilikinya. Jimi jadi semakin sadar bahwa hidupnya benar-benar lebih beruntung dibandingkan dengan tuan putri Ji.

 

“Kalian tidak lihat? Penjagaan disekitar kamar tuan putri Ji diperketat karena ada ancaman serangan dari kerajaan Gong. Mereka rupanya benar-benar merasa terhina akan perjodohan ini. Paduka raja tampak ingin menyelesaikan masalah ini dengan cara kekeluargaan karena menurutnya semua ini dapat terjadi hanya karena kurang komunikasi antara masing-masing kerajaan. Tapi sepertinya, pihak kerajaan Gong tidak berpikir demikian. Kita akan lembur hari ini untuk turut menjaga tuan putri Ji.”

 

Seiring dengan berhentinya ucapan salah satu dayang itu, terdengar ketukan pelan pada jendela kamar Ji. Ji berusaha dengan susah payah untuk mendekat ke arah jendela berteralis tersebut. Ia segera membuka jendela kamar itu dan seketika tangan seorang laki-laki yang sangat dikenalnya menggenggam kedua tangan Ji dengan erat. “Pangeran Byun!” Ji berujar membuat pangeran Byun segera menyuruh Ji untuk tidak mengeluarkan suara.

 

“Dengar, sekarang kau benar-benar sedang dalam bahaya.” Pangeran Byun berujar dengan terengah dan tidak lama setelah itu terdengarlah suara rusuh diluar kamar Ji. Teriakan para dayang mendominasi kerusuhan tersebut. Suara pedang beradu dan seruan para penjaga kamar Ji yang sepertinya sedang bertarung melawan pasukan dari kerajaan Gong itu terdengar begitu mengerikan. Dalam beberapa menit, terdengar pula derapan kaki para pasukan perang kerajaan yang tidak Ji ketahui dari pihak mana. Ji begitu panik membuat pangeran Byun segera menggenggam kedua tangannya.

 

“Aku akan membawamu pergi dari sini. Mungkin aku bodoh karena mempercayai ceritamu, tapi aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk membantumu keluar dari tubuh tuan putri Ji. Sekarang, menjauhlah dari teralis ini.” Ji langsung menurut dan setelah itu terdengar suara pedang menebas teralis kayu kamar tersebut dengan sangat cepat. Pangeran Byun segera membantu Ji untuk keluar dari kamar itu dan langsung membantu gadis itu menaiki kuda putihnya. Setelah pangeran Byun juga berhasil menaiki kudanya, terdengar suara pekikan nyaring dan derapan langkah kaki kuda yang berlari cepat, meninggalkan istana yang sedang dalam keadaan kacau tersebut.

 

Pangeran Byun terus memacu kudanya untuk menambah kecepatan. Laki-laki itu tidak mengerti mengapa sekarang ini ia membawa Ji pergi dari istana. Sebenarnya pangeran Byun belum percaya sepenuhnya akan apa yang sudah diceritakan oleh Ji. Namun keadaan memaksanya untuk percaya pada Ji.

 

Setelah mendengar bahwa ayah dan ibunya marah besar akan sebuah fakta yang baru diketahuinya, pangeran Byun benar-benar dilarang keluar dari istana. Perjodohan itu dibatalkan begitu saja, dan kedua orangtuanya pun marah besar terhadap pangeran Byun yang tidak memberitahu mereka bahwa tuan putri Ji tidak dapat menggunakan kedua matanya seperti kebanyakan orang.

 

Yang pangeran Byun tahu, kedua orangtuanya mengirim mata-mata selama masa perkenalan antara pangeran Byun dan tuan putri Ji berlangsung. Mata-mata itulah yang memberitahu pada kedua orangtua pangeran Byun bahwa tuan putri Ji tidak sesempurna apa yang selama ini mereka pikirkan. Setelah mengetahui hal tersebut, kedua orangtuanya merasa tidak terima dan terhina karena anak ke sepuluh mereka yang sangat mereka sayangi akan dijodohkan pada seorang putri yang tidak dapat melihat.

 

Bagaimana bisa seorang pangeran menikah dengan seorang gadis buta? Meskipun gadis itu adalah satu-satunya putri raja, kedua orangtua pangeran Byun tetap merasa terhina akan hal ini. Mereka marah karena tidak ada satu orang pun dari pihak kerajaan itu, bahkan kedua orangtua tuan putri Ji tidak ada satu pun yang memberitahu mereka bahwa tuan putri Ji tidak dapat melihat sedari ia dilahirkan di dunia ini.

 

Pangeran Byun juga tahu bahwa ayahnya akan melancarkan serangan ke kerajaan seberang sesegera mungkin, membuat laki-laki itu panik karena khawatir akan keselamatan tuan putri Ji. Pangeran Byun sangat mencintainya, ia sudah mengetahui hal itu dari awal. Jadi, meskipun dengan sangat berat hati, pangeran Byun memilih untuk mempercayai perkataan Ji. Apapun akan dia lakukan untuk menyelamatkan dan membawa tubuh tuan putri Ji jauh-jauh dari istana yang sebentar lagi akan dikepung oleh pasukan perang suruhan ayahnya.

 

Hanya suara derapan langkah kaki kuda, angin yang berhembus kencang ke arah mereka berdua, serta kegelapan langit malam yang pada malam itu tampak lebih gelap dari biasanya yang saat ini menyelimuti mereka berdua.

 

Meskipun Ji tidak dapat melihat, ia dapat merasakan bahwa saat ini pangeran Byun turut merasakan kesedihan yang sama akan apa yang sedang dirasakannya. Tidak ada satupun dari pangeran Byun maupun tuan putri Ji yang tahu bahwa cerita cinta mereka yang memilukan itu akan menjadi salah satu cerita cinta yang berakhir sedih dalam sejarah hidup kerajaan dinasti Joseon.

 

**

 

Sesampainya di pantai, Ji tiba-tiba merasa tubuhnya begitu lemah sehingga pangeran Byun harus memeluk tubuh Ji yang terduduk lesu dipasir pantai itu dengan erat. “Aku rasa tubuhku berubah menjadi lemah seperti ini karena sekarang ini aku tengah berada ditempat yang akan membawa jiwaku kembali ke masa depan.” Ji berujar sementara pangeran Byun hanya terdiam sambil memeluknya. Hatinya sakit melihat Ji tidak berdaya dalam pelukannya. Hatinya sakit karena ia tahu kisahnya dengan tuan putri Ji akan berakhir dengan akhir cerita yang sedih.

 

“Aku ingin berterima kasih padamu yang sudah mempercayaiku, pangeran Byun. Kau adalah orang terbaik yang pernah aku temui. Kau memiliki aura yang sangat hangat seperti sinar matahari pagi. Kalau aku dapat meminta Tuhan untuk mengubah sejarah, aku ingin kau dan tuan putri Ji bersatu dalam sebuah ikatan pernikahan dan hidup bersama dengan bahagia untuk waktu yang panjang. Namun, aku harus meminta maaf padamu karena aku hanyalah seorang gadis biasa yang tidak dapat melakukan apapun untuk kalian berdua. Aku hanya meminjam tubuh tuan putri Ji untuk mendapatkan sebuah pelajaran. Aku harus kembali ke kehidupanku yang sebenarnya secepat mungkin setelah aku berhasil mendapatkan pelajaran tersebut.”

 

Ji dapat merasakan tetesan air mata pangeran Byun jatuh begitu saja membasahi dahinya. Pelukannya bertambah erat dan isakan kecil dari bibir pangeran Byun mulai terdengar meskipun samar-samar.

 

“Aku juga ingin berterima kasih pada tuan putri Ji yang sudah mengajariku begitu banyak pelajaran berarti dalam hidup. Aku berjanji ketika aku kembali ke masa depan, aku akan memperbaiki hidupku. Aku berjanji aku akan menebus kesalahanku pada diriku sendiri, sebagai salah satu tanda terima kasihku pada tuan putri Ji.” Setelah berkata demikian, Ji melepas kalung yang masih melingkari lehernya itu dengan perlahan, kemudian ia segera menyerahkan kalung berbentuk kerang laut itu pada pangeran Byun.

 

“Lemparlah kalung ini ke laut. Bawa aku kembali ke kehidupanku di masa depan karena kini aku telah berhasil menemukan apa yang harus aku temukan disini.”

 

**

 

“Park Jimi! Astaga, baru saja aku akan pulang. Akhirnya kau sadar juga. Tadi ibu dan ayahmu kemari untuk menjengukmu dan membawakan makan malam. Bagaimana keadaanmu? Apa sudah lebih baik?” Jimi mempertajam pandangan matanya pada seorang laki-laki yang kini tengah duduk pada pinggiran kasurnya. Setelah pandangan yang kabur itu menghilang dan seorang Byun Baekhyun benar-benar berhasil dilihatnya, tanpa pikir panjang Jimi langsung terduduk dan memeluk Baekhyun dengan erat.

 

Baekhyun segera membalas pelukan Jimi seraya mengelus rambut gadis itu dengan kasih sayang. “Tenanglah, sekarang kau berada di kamar apartmentmu. Aku mohon padamu jangan membuatku khawatir seperti itu lagi. Bagaimana bisa orang lain menghubungiku menggunakan ponselmu karena menemukanmu pingsan dipinggir pantai yang ada di daerah Busan? Tidak tahukah kau kalau jantungku hampir lepas begitu saja dari tempatnya ketika mendengar kabar tersebut?” Jimi terus memeluk Baekhyun dengan melingkarkan kedua tangannya pada leher laki-laki itu. Jimi hanya benar-benar merindukan laki-laki itu.

 

“Kau benar-benar tidak bangun sedari kemarin dan aku sangat mengkhawatirkanmu. Dokter berkata bahwa tidak ada satupun yang salah dari kesehatanmu. Ia memintaku serta kedua orangtuamu untuk bersabar sampai kau sadar dengan sendirinya. Aku senang kau sudah sekarang sekarang.” Baekhyun berujar seraya terus mengelus rambut hitam pekat milik Jimi. “Tapi, mengapa kau bisa pingsan dengan tiba-tiba seperti itu? Apa semua ini karena nilai semestermu yang turun drastis dan karena pertengkaran kita di telepon sebelumnya?” Baekhyun mengeratkan pelukannya pada tubuh Jimi yang masih lemah itu, berharap ia dapat mentransfer energi baik untuk tubuh lemah gadis itu agar dapat kembali seperti semula. Jimi hanya terdiam sementara Baekhyun tersenyum kecil.

 

“Untuk masalah nilaimu yang turun, aku sudah mencoba untuk berbicara pada kedua orangtuamu dan kini mereka sudah mulai mengerti. Kau tahu? Alasan mereka seperti itu karena mereka ingin masa depan yang baik untukmu. Bukannya mereka menuntut kehendak mereka terhadapmu, mereka benar-benar hanya ingin kau lulus dan mendapatkan pekerjaan yang dapat menunjang kehidupanmu kelak. Karena setelah kau dapat mewujudkan hal itu, mereka akan merasa kalau mereka sudah dapat memenuhi tugas mereka dengan baik sebagai orangtua.”

 

Jimi mengangguk-angguk mengerti sambil terus mendengarkan nasihat dari kekasihnya itu. “Aku mengerti sekarang. Aku berjanji aku akan melakukan yang terbaik untuk mereka berdua dan berusaha lebih keras dari sekarang.” Baekhyun tersenyum mendengar suara serak Jimi barusan. “Dan untuk masalah kita, jujur aku ingin meminta maaf padamu. Seharusnya aku mengerti bahwa kau pasti tidak enak hati untuk meminjam uang padaku. Bukannya menemukan jalan lain, mataku ini malah sudah lebih dulu tertutup oleh rasa cemburu ketika mendengar bahwa kau bekerja paruh waktu di cafe milik Jinhwan.”

 

“Tidak, itu bukan salahmu. Itu semua adalah salahku yang tidak bercerita dan menutup-nutupi hal ini darimu. Aku yang seharusnya meminta maaf padamu, Byun Baekhyun.” Ujar Jimi membuat Baekhyun tersenyum lembut. “Sudahlah, sekarang yang penting semuanya sudah selesai. Sebaiknya kita melupakan apa yang sudah berlalu. Jangan sampai hal tersebut malah menjadi penghalang kita untuk melangkah ke depan.” Jimi mengangguk mengerti. Hatinya benar-benar merasa lebih ringan sekarang. Ia merasa semua masalahnya hilang begitu saja karena ucapan Baekhyun barusan.

 

“Aku menyayangimu, Byun Baekhyun. Aku juga menyayangi kedua orangtuaku. Aku menyayangi kalian semua dan aku bersyukur karena aku memiliki kalian dalam kehidupanku. Aku bersyukur karena aku memiliki semua yang ku butuhkan. Aku benar-benar bersyukur.” Baekhyun melepas pelukan mereka kemudian menggenggam kedua tangan Jimi dengan erat. Ia menyelipkan rambut lurus Jimi kebelakang daun telinga gadis itu.

 

“Aku punya hadiah untukmu sebagai tanda permintaan maafku.” Baekhyun merogoh saku celana bahan berwarna cokelat gelap selututnya seraya mengeluarkan sebuah kotak berwarna hitam dari dalam sana. Baekhyun membuka kotak berbentuk persegi itu dan seketika Jimi dapat melihat sebuah kalung perak berliontin kerang laut persis seperti apa yang dilihat di dalam mimpinya selama ia pingsan itu berada tepat dihadapannya.

 

Baekhyun segera memakaikan kalung tersebut pada leher Jimi dengan senyuman puasnya. “Kau bertambah cantik dengan kalung ini.” Baekhyun menyentuh liontin tersebut kemudian mengecupnya sementara Jimi hanya menatap Baekhyun tanpa berhenti tersenyum. Jika kehidupan pangeran Byun dan tuan putri Ji dalam mimpinya itu tidak memiliki jalan cerita yang baik, Jimi rasa Tuhan mempunyai jalan cerita yang lain untuknya dan Baekhyun. Sebuah jalan cerita penuh rasa manis serta akhir yang tidak sabar Jimi tuju bersama dengan Baekhyun. Jimi benar-benar bersyukur karena Tuhan menghadirkan seorang Byun Baekhyun dalam cerita hidupnya.

 

“Ey, Park Jimi, berhentilah menatapku seperti itu. Aku tahu aku tampan.” Baekhyun menyentil dahi Jimi dengan keras membuat gadis itu langsung mengaduh kesakitan. “Ya! Byun Baekhyun! Dasar kurang ajar!” Jimi langsung memukuli Baekhyun dengan bantal kepalanya berkali-kali sementara Baekhyun sibuk melindungi diri dengan kedua tangannya sambil tertawa terbahak.

 

“Berhenti memukuliku, Jimi-ya!” Baekhyun menarik bantal yang digunakan Jimi untuk memukulinya itu dengan kuat membuat tubuh Jimi yang belum begitu kuat turut tertarik sehingga kini ia berakhir tersungkur diatas tubuh Baekhyun. Baekhyun memejamkan matanya seraya tersenyum jahil sementara Jimi langsung sibuk berusaha untuk melepaskan diri dari Baekhyun. Tubuhnya yang masih lemah dan kekuatan kedua tangan Baekhyun yang menahan pinggangnya tidak dapat Jimi lawan membuat laki-laki itu tersenyum penuh kemenangan. Baekhyun membuka kedua matanya dengan perlahan sementara Jimi langsung menatapnya dengan tatapan garang. “Lepaskan aku sekarang juga atau kau akan menyesal nantinya!” Ancam Jimi dengan galak.

 

“Memangnya kau mau melakukan apa? Kau benar-benar sudah masuk ke dalam perangkap seorang Byun Baekhyun sekarang dan aku tidak akan melepaskanmu.” Baekhyun berujar seraya mengecup dahi Jimi dengan cepat membuat gadis itu langsung berteriak tidak terima. “Ya! Jangan macam-macam kau, Byun Baekhyun!” Bukannya mengindahkan perkataan Jimi, Baekhyun malah mengecup kedua kelopak mata Jimi dengan gerakan cepat. “Aish, dasar menyebalkan! Cepat lepaskan aku!” Seru Jimi namun Baekhyun belum mau menyerah.

 

“Tidak akan.” Setelah berkata demikian Baekhyun mengecup kedua pipi Jimi dengan gerakan yang lebih cepat dari sebelumnya. Tangannya masih menahan tubuh Jimi membuat gadis yang sibuk berseru sambil terus berusaha melepaskan dirinya dari Baekhyun itu benar-benar gemas dibuatnya. “Kau tidak akan ku beri ampun setelah ini!” Baekhyun tertawa kecil mendengar ucapan Jimi barusan. “Setelah ini, kan? Itu berarti aku masih bisa melakukan ini?” Baekhyun mengecup ujung hidung Jimi membuat wajah Jimi seketika berubah menjadi merah seperti tomat matang.

 

“Kau benar-benar keterlaluan, Byun Baekhyun! Lihat saja, aku benar-benar akan menghabisi—”

 

Ucapan Jimi barusan terpotong karena Baekhyun yang dengan cepat mencuri sebuah kecupan singkat dari bibirnya. Baekhyun tertawa terbahak sementara Jimi masih belum sadar sepenuhnya dari rasa terkejutnya. Jantungnya berdebar begitu kencang sampai-sampai Jimi berpikir Baekhyun dapat turut merasakannya dari posisi mereka yang seperti sekarang ini.

 

“Aku menyayangimu, Park Jimi. Selamanya akan seperti itu.” Jimi terdiam, menatap kedua mata bulat milik Baekhyun yang sedari dulu sudah menjadi favoritnya itu. Sinar mata Baekhyun menyorotkan sebuah ketulusan dan rasa sayang yang begitu besar membuat hati Jimi langsung luluh dengan seketika. Dengan perlahan Jimi merasakan bibir tipis milik Baekhyun mendarat pada permukaan dahinya. Jimi memejamkan kedua matanya, begitu pula dengan Baekhyun. Mereka hanya sedang berusaha memberitahu tentang perasaan mereka yang besar untuk satu sama lain.

 

Seketika Jimi merasa hidupnya sudah benar-benar lengkap. Ia di anugerahi banyak hal yang patut ia syukuri. Ia memiliki fisik yang tidak kurang satu apapun, ia memiliki kedua orang tua yang menyayanginya, ia memiliki teman-teman yang peduli padanya, ia memiliki hidup yang serba berkecukupan, dan ia memiliki Byun Baekhyun, laki-laki yang sangat mencintainya.

 

Kini Jimi tahu bahwa banyak orang diluar sana yang hidup dengan berbagai kekurangan dan kesulitan yang bahkan tidak dapat Jimi sendiri bayangkan. Jimi sadar bahwa ia adalah termasuk salah satu orang yang beruntung karena ia memiliki segala sesuatu yang ia butuhkan. Sekarang, Jimi hanya ingin lebih sering meluangkan waktunya untuk bersyukur pada Tuhan atas segala sesuatu yang telah dimilikinya.

 

 

-FIN.

 

Terima kasih sudah membaca! Semoga kalian suka. Please send your thoughts about this ff on the comment box! Thanks and see ya! Kunjungin wordpress pribadi saya untuk ff yang lainnya ya. Here’s the link : http://ohmarie99.wordpress.com Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disana ya!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4 thoughts on “Prince Byun x Princess Ji

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s