THE DARK AGENT (Chapter 2)

The dark agent

Title : THE DARK AGENT (2)

Author : @Aqilua

Cast : Kim Jongin, Lee Sarang (OC)

Genre : Romance, Marriage life, Action.

Rating : PG-17

Length : Chaptered

Disclaimer : This story based from author’s mind. I have not own the characters. Jangan copas seenak jidat tanpa ada ijin.

Personal Blog :

https://freewordpresscomdomain460.wordpress.com

 

×××

Loving can hurt sometimes. But it’s the only thing that I know. When it gets hard. You know it can get hard sometimes. It is the only thing that makes us feel alive – Ed Sheeran ‘Photograph’

.

Bukan tergolong penyuka suhu yang rendah agar tidur terasa lebih nyenyak. Bukan juga penyuka situasi hening karena ia tergolong gadis yang ‘tidak bisa diam’. Perjalanan yang cukup panjang ditemani heningnya cuaca dingin. Apalah daya situasi menjadikanya harus begini. Semua terasa begitu lama dan sangat membosankan bagi Sarang. Ia terjebak bersama tiga pria asing ini di dalam mobil dan ditambah lagi ia tidak tau akan dibawa kemana.

Terlihat masing-masing ketiga pria itu tampak sibuk sendiri. Dua dari mereka hanya sibuk dengan ponselnya sementara pria yang satunya itu, yang menodongkan pistol padanya tadi hanya terus fokus untuk menyetir. Bukanya berharap untuk dapat berbincang akbrab dengan salah satu dari penculik ini. Apalagi dengan pria yang sedang menyetir itu, hell no! Namun.. astaga, ia sudah mengantuk hebat saat ini! Harus kah ia bersenandung seperti biasanya untuk menghilangkan rasa kantuk? Atau haruskah ia bersikap sok akrab dengan salah satu dari penculik ini? Tidak, jangan konyol. Sebenarnya berapa lama lagi mobil ini akan tiba di tempat tujuan?! Pria itu mengendarai mobil dengan kecepatan yang tak biasa menurutnya, tapi kenapa belum sampai juga?! Aish.

Walau terlihat sibuk dengan ponselnya. Sudah semenjak tadi sebetulnya Luhan memperhatikan kegelisahan Sarang yang duduk di sebelah Baekhyun dari ekor matanya. Gadis itu terlihat duduk dengan gelisah, beberapa kali ia bolak-balik mencari posisi duduk yang nyaman sehingga tak jarang membuat Baekhyun yang juga berada di sebelahnya menjadi ikut tertular perasaan risih. Terkadang gadis mungil itu terlihat menunjukan raut wajah cemberut, kadang-kadang ia juga bisa terlihat berceloteh kesal tanpa suara. Benar-benar gadis yang menggemaskan menurutnya dan ini adalah ekspektasi terbesarnya sejak dulu, diam-diam Luhan selalu memimpikan seorang adik perempuan yang lucu seperti Sarang.

Rute perjalanan dari Seoul menuju kawasan Ceong-Guk memang tergolong jauh. Dalam kecepatan normal saja membutuhkan  waktu minimal dua jam perjalanan. Setidaknya Kai tergolong seorang driver yang handal, baginya waktu setengah jam saja sudah lebih dari cukup untuk bisa tiba di lokasi. Jelas saja, kecepatan 100 kilo meter per jam bukan hal biasa apalagi dengan sebuah lamborghini. Setelah ketiganya beranjak keluar dari dalam mobil, Baekhyun berniat untuk membangunkan Sarang yang entah sejak kapan tertidur pulas di kursi penumpang.

“Jangan membangunkanya.” Cegah Luhan. Baekhyun kembali menarik tanganya yang sempat terulur barusan. Dahinya tampak berkerut bingung memandang Luhan. “Ku pikir kita harus membangunkanya bukan?” Tanyanya polos namun terdengar masuk akal juga.

Um, biar Kai saja.”

Pria yang baru saja usai menutup pintu mobil itupun menoleh ketika mendengar namanya disangkut-pautkan. “Di sini sangat dingin, lebih baik kita masuk ke dalam.” Ajak Luhan pada Baekhyun. Pria China itu sampai-sampai memberikan isyarat dengan kedipan matanya pada Baekhyun agar cepat beranjak pergi dari situ. Luhan mengakui bahwa Baekhyun adalah urutan kedua manusia paling tidak peka setelah Kai. Pria bermata sipit itu malah terlihat beberapa kali mengusap belakang tengkuknya bingung nampak menimbang-nimbang sebelum akhirnya ia memilih patuh dan beranjak pergi dari situ bersama Luhan menuju ke dalam markas.

Tidak ada suatu ekspresi yang berarti saat Kai mulai menatap wajah manis yang terlelap di kursi penumpang itu. Seumur hidup ia tidak punya pengalaman apapun untuk membangunkan orang lain. Jadi mungkin, pria ini akan punya cara yang sedikit tidak biasa. “Kau.” Panggilnya datar. Mengira dengan satu kalimat pendek itu dapat membangunkan seseorang yang tertidur pulas adalah sebuah kesalahan besar. Jadi, jangan sekali-kali menirunya. Sarang nampak tidak bergeming, apalagi menunjukan tanda-tanda akan bangun. Kai menghela nafasnya pendek membuat seberkas uap beku terbentuk kontras di udara.Obsidian kelamnya kembali menatap kepada sosok gadis mungil yang terlelap itu. Sebelah alisnya nampak tertarik miring detik kemudian kerena ada sebuah hal yang menarik perhatianya. Kai mendekat perlahan kearah Sarang yang tertidur. Ia menempatkan wajahnya ke sisi wajah manis gadis itu guna memperhatikan sesuatu lebih seksama.

Hangat. Sarang merasakan seperti ada sebuah nafas lembut yang menggelitik di sekitar telinga dan lehernya, beraroma mint. Merasa terusik gadis itu membuka matanya perlahan lalu seketika membola karena terkejut akibat mendapati sebuah wajah yang begitu dekat denganya. Refleks ia mendorong tubuh besar itu menjauh darinya, namun terlihat tidak memberikan suatu efek apapun. Wajah pria itu hanya bergeser sekitar satu jengkal dari wajahnya. “YA! PRIA CABUL! APA YANG KAU LAKUKAN ‘HUH?! Jangan..” Sarang tercekat,hazelnya mengerjab pelan ketika kedua matanya sudah dapat menangkap dengan jelas bagaimana bentuk dan rupa wajah pria di hadapanya itu. “K-KAU?! BAGAI—hmmp!”

“Berhenti berteriak.” Ucap Kai jengkel. Ia membekap mulut Sarang dengan satu tanganya, sementara tanganya yang lain terulur menuju ke belakang tengkuk gadis itu, seperti meraba-raba di sekitar area pribadi tersebut yang mau tidak mau malah membuat Sarang malah semakin menjerit histeris. Takut-takut pria ini akan berbuat hal yang tidak senonoh pada dirinya. “BRENGSEK! APA YANG KAU LAKUKAN ‘HUH?!” Sembur Sarang saat Kai melepaskanya bekapanya. Bukanya menjawab, pria itu malah terlihat konsentrasi memperhatikan sesuatu. Sarang terdiam dan jadi turut memperhatikan sebuah benda sebesar biji kacang polong yang berada di antara apitan jemari telunjuk dan jempol tangan Kai.

“A-Apa itu?” Tanya Sarang mengernyit. “Micro camera, seseorang sengaja meletakanya di mantelmu” Jelas Kai seadanya. Sarang jadi mengerjab bingung, ia kembali bertanya. “Kenapa.. kenapa ada orang yang meletakan benda itu di mantelku?” Apakah dirinya terlihat seperti seseorang yang penting untuk dimatai-matai? yang benar saja. Kai diam tidak menjawab. Ia kemudian meletakan benda tersebut ke dalam saku jaketnya. Sementara Sarang sendiri masih diam termenung untuk berpikir. Tidak! Ini bukan waktu yang tepat untuk memusingkan masalah micro camera atau apalah itu. Masalah yang utama adalah pria ini! Kenapa pria ini bisa berada di sini?! Berarti kejadian di gang semalam bukan lah mimpi?! Jangan-jangan.. yang sudah menodongkan pistol di wajahnya.. Sarang menatap pada wajah Kai yang masih berada satu jengkal darinya. Tidak sampai lima detik menatap obsidian hitam itu, Sarang lebih memilih untuk mengakhiri acara eyes contacttersebut menoleh kepada objek lain. Untung saja ia tidak kembali refleks mendorong pria ini karena kinerja jantungnya. Ada apa dengan jantungnya?! Baru kali ini ia merasakan degupan yang tidak terasa normal macam ini. “Kau ingin mati beku?” Suara Kai berucap tanpa intonasi. Sarang menoleh kaku pada sosok pria yang entah sejak kapan berdiri di luar mobil itu. Mulutnya begitu kelu tidak mampu berucap sepatah kata apapun. “Ikut aku.” Instruksi Kai seraya beranjak pergi.

×××

Aku cukup terkejut melihat ada sebuah rumah sebesar ini di tengah hutan belantara. Benar, hutan! Aku hanya bisa milihat pepohonan sejauh mata memandang dan sedikit terlihat mengerikan dimalam hari. Sementara untuk cahaya penerangan satu-satunya hanya berasal dari rumah raksasa di hadapanku ini. Rumah ini bahkan besarnya nyaris sama dengan rumahku yang ada di Spanyol. Bertingkat dua dengan cat dasar berwarna putih. Jadi.. siapa sebenarnya pria ini berserta komplotanya itu?!

                Duk

Aw!” Aku memekik sambil memegang dahiku yang baru saja bertabrakan dengan punggung pemuda yang tidakku ketahui namanya ini. Gila! Kenapa punggungnya keras sekali?! Aku seperti menabrak sebuah gundukan batu. “Gunakan matamu.” Ucapnya dingin tanpa menoleh. Cih! Padahal itu juga salahnya karena tiba-tiba berhenti dengan seenaknya! Aku hanya bisa mencibir diam di tempat. Sesekali aku mencuri pandang. Ku lihat pria itu tengah sibuk berkutat di depan pintu. Ia tampak menekan sebuah tombol dengan ibu jarinya lalu sebuah layar monitor berukuran kecil muncul dan ia mendekatkan kedua matanya ke arah layar tersebut, flash biru pun memancar keluar. Wait.. apa-apaan itu?! Aku terperangah, sungguh. Biasanya aku melihat hal aneh semacam ini hanya di film-filmaction, tetapi sekarang aku melihatnya langsung bahkan dengan mataku!

Pintu kokoh yang sepertinya berbahan dasar dari baja itupun terlihat membuka otomatis dari dalam dan aku pun kembali dibuat kagum olehnya. Rumah ini tidak hanya besar! Tetapi juga benar-benar sangat mewah, klasik dan elegan! Astaga! Tempat macam apa sebenarnya ini?! Aku memandang asing sekaligus takjub pada setiap pemandangan yang ada di sekelilingku. Banyak sekali lukisan dan barang-barang antik semacam guci dan patung di dalam ruangan yang aku yakini adalah ruang tamu ini.

“Selamat datang Jean.”

Tersentak. Aku baru sadar jika ada banyak pasang mata yang sedang menatap ke arahku. Ku lihat pria yang menuntunku barusan sudah duduk nyaman di salah satu sofa. Sementara dua orang pria lainya yang ada di dalam mobil bersama denganku barusan juga terlihat ada di sana. Lalu ada tiga sosok wanita cantik yang nampak kurang bersahabat menatap ke arahku dan yang terakhir pria tua yang duduk seorang diri itu, yang sudah menyapaku barusan. “K-Kalian siapa?” Tanyaku kemudian. Paman itu memanggilku dengan sebutan Jean, itu tandanya ia mengetahui identitasku yang sebenarnya bukan?!

“Kau sudah tumbuh menjadi sangat cantik dan sepertinya, juga menjadi lupa padaku.” Gurau pria lanjut usia itu sambil tersenyum ramah. Ku pikir tidak hanya lupa, aku memang tidak mengenalnya bahkan.. maybe. “Aku Ban Hyunsuk teman ayahmu. Dulu aku pernah menggendongmu saat kau masih berumur tiga tahun. Ah, ku pikir itu sudah sangat lama, pantas saja kau tidak mengingatnya.” Kekehnya pelan.

Ban Hyunsuk.. namanya memang tidak terdengar asing. Aku pernah mendengar dad beberapa kali menyebutkan nama itu sebelumnya. “Apa kau tidak lelah terus berdiri Jean? Duduklah, ada beberapa hal yang ingin ku bicarakan dengamu.” Pintanya. Jujur saja, aku bingung. Hanya ada tersedia tiga sofa di sini. Satu sofa berukuran kecil telah di tempati oleh paman itu. Satu sofa berukuran panjang di tempati oleh ketiga wanita cantik yang berwajah sinis tersebut. Sementara sofa terakhir, yang juga merupakan sofa berukuran panjang telah di tempati oleh ketiga pria itu. Jadi di mana sekarang aku harus menempatkan bokongku?! Apa di lantai saja?

Menyadari rasa kebingungan yang timbul dari wajahku paman itu kembali bersuara. “Duduklah di sebelah Kai.” Aku pun mengernyit. Tidakkah ini menjadi semakin awkward? Kai? Kai siapa yang dimaksud paman ini?! Aku bahkan tidak mengenal mereka semua. Jadi bagaimana aku bisa tau. Great, aku merasa seperti orang bodoh sekarang. Berdiri mematung sambil menggaruk belakang tengkukku yang tidak gatal.

“Pilih saja yang wajahnya paling seram menurutmu Jean.” Ucap paman itu tertawa renyah. Aku lagi-lagi melongo. Tetapi setelah menerima clue itu otakku lambat laun berkerja secara otomatis. Kai.. dari namanya tentu dia seorang pria bukan? Jadi satu dari antara ketiga pria itu ada yang yang namanya Kai. Dengan perasaan canggung, aku memperhatikan satu per satu wajah ketiga pria itu mulai dari kiri ke kanan. Pria yang satu ini tersenyum ketika kedua mata kami bertemu berarti bukan dia, wajahnya bahkan terlalu ramah. Pria selanjutnya bermata sipit, ah tentu saja bukan dia! Karena pria ini memiliki wajah yang dominan lebih menyebalkan sama seperti mulutnya yang cerewet. dan yang terakhir.. pria yang berkulit agak gelap itu. Dia yang sudah menodongkan pistol di wajahku dan jujur saja aku tidak terlalu berani menatap matanya terlalu lama, tatapan datarnya itu justru terlihat mengerikan menurutku. Karena sudah menemukan jawaban serta diiringi rasa kaki yang kian pegal, aku melangkah pelan menuju ke arah pria yang ku yakini bernama Kai itu lalu duduk kaku di sebelahnya, menjaga jarak.

“Pilihan yang tepat. Kau punya insting yang bagus rupanya.” Puji paman itu senang, sementara aku membalasnya dengan senyum yang malah terkesan canggung. Canggung karena aura pria di sebelahku ini benar-benar sangatlah tidak mengenakan. Aish, bisakah semua ini cepat berakhir! “Sejujurnya aku lebih senang untuk berbasa-basi dulu. Karena kau sepertinya lelah, jadi langsung saja.” Tutur paman ringan.

“Kau tentu bertanya-tanya kami ini siapa, lalu kenapa kami membawamu bukan?  Kami adalah agen gelap, senjenis mata-mata lebih mudahnya dan.. baru beberapa hari yang lalu Larry Ellison ayahmu menghubungiku.”

Agen? Mata-mata? Whatever! Yang jelas aku merasakan adanya firasat kurang nyaman ketika paman ini mengatakan  kalimat ‘ayahmu menghubungiku’. Itu tandanya akan ada suatu pembicaraan yang serius di sini.“Kenapa dadmenghubungi paman?” Tanyaku to the point. Paman itu tertawa geli. “Paman.. aku suka panggilan itu, terdengar lebih manusiawi.” Ucapnya senang, lalu ia bertolak untuk menjelaskan dan raut wajahnya pun turut berubah serius kali ini. “Ayahmu baru saja menerima kontrak besar dengan perusahaan asal Norwegia yang tentu saja akan membawa resiko untuk beberapa hal, termasuk keluarganya. Ia meminta tolong padaku untuk mencarikan seseorang yang tidak hanya bisa menjagamu namun juga selalu berada di sisimu selama kontrak itu berjalan.”

Uang bisa membutakan siapa saja karena konglomerat terkenal punya banyak masuh. Intinya dadnya itu‘masih’ mengkhawatirkan anak gadisnya ini. “Bodyguard?” Tebak ku malas. Jika jawabanya iya, maka aku menolak. Aku benci diawasi karena itu benar-benar terasa bahwa aku adalah seorang tahanan yang harus dijaga, juga terlalu berlebihan ku rasa. Paman itu tersenyum ambigu seraya menegakan posisi duduknya. ”Tidak, bukan itu.” Jawabnya singkat dan juga sukses menciptakan banyak kerutan-kerutan bingung pada dahiku. Ku rasa bodyguard adalah jawaban yang tepat, tetapi kenapa paman ini menyalahkanya? Ketika aku masih dilanda rasa kebingungan, paman itu kembali bersuara. “Ayahmu ingin kau menikah.” Kalimat yang dilontarkanya itu bagai petir yang menyambar disiang bolong. Butuh beberapa saat bagiku untuk mencerna kalimat paman itu barusan.

Menikah..

dengan seorang pria tentunya..

dan terikat..

Kedua hazelku jadi membulat sadar menatapnya. “M-MWO?! Jangan bercanda! Leluconmu samasekali tidak lucu paman.” Aku tertawa sumbang seraya geleng-geleng kepala menanggapinya. Paman itu kembali memamerkan senyum ramahnya yang syarat akan keseriusan. “Aku tidak bercanda Jean. Ini permintaan ayahmu.”

                No kidding?

Aku bisa paham jika dad khawatir padaku karena sebesar apapun rasa benciku terhadap dad, aku tetaplah anaknya, darah dagingnya dari seorang wanita yang dulu pernah diusirnya, tetapi tidak begini caranya! Pernikahan adalah hal sakral dan tidak bisa dianggap sepele. Ini sudah berlebihan, walau jika mau ditilik bagaimana pun cara dad tetap ada benarnya. Aku tau betapa kejamnya dunia bisnis karena itu adalah pekerjaan dad. Semua orang akan menghalau beragam macam cara agar dapat menduduki puncak tertinggi.

“Baiklah.. aku mengerti.” Ucapku tersenyum samar. Seluruh mata di tempat itu menjatuhkan fokusnya padaku membuatku sedikit agak gugup. Aku mencoba menarik satu nafas panjang guna menangkan diri sekaligus mengumpulkan keberanian. “Tidak perlu repot. Aku bukan anak kecil lagi. Usiaku sudah 20 tahun dan aku bisa mengurus diriku sendiri.” Mantapku kemudian. Aku bangkit dari dudukku, namun urung melangkah. “Oh, satu hal. Jika kita berjumpa lagi ku mohon dengan sangat pada paman untuk tidak memanggilku dengan sebutan Jean, karena namaku adalah Lee Sarang. I will go now.” Tambahku. Sudah tiga tahun aku tinggal di Korea dan sejauh ini hidupku aman-aman saja. Sahabatku Jackson bahkan selalu menjagaku dan itu sudah lebih dari cukup.

“Mau kemana ‘huh?”

Aku tercekat dengan tangan yang menggantung di udara hendak meraih ganggang pintu. Suara tajam khas wanita itu lah penyebabnya. Aku menurunkan tanganku lalu menoleh dengan gerakan pelan. Lagi-lagi pistol ditodongkan ke arahku. Bedanya kali ini, pistol itu berjumlah dua buah dan masing-masing pemegangnya adalah seorang wanita. Mungkin wajahku terlihat seperti mayat hidup sekarang, pucat pasi. Kedua wanita cantik itu menatapku nanar sementara satu orang wanita sisanya hanya terlihat duduk acuh tetapi tatapan matanya benar-benar nyalang terhadapku, entah apa penyebabnya.

“Oh, hey.. nona-nona turunkan senjata kalian.” Pria berwajah ramah itu segera bangkit berdiri dan menghampiri keduanya untuk menengahi. Kedua wanita itu pun terlihat patuh dan mereka mulai menurukan senjatanya secara perlahan. Oh, terimakasih Tuhan. Setidaknya aku bisa sedikit bernafas lega.

“Maaf kau tidak dalam pilihan untuk bisa menolak kali ini. Ini demi keselamatanmu.. um, Lee Sarang. Duduklah, kita bicarakan ini dengan kepala dingin, okay?” Tawar paman kemudian. Aku hanya mematung berdiri di tempat. Kedua tanganku terkepal erat pada kedua sisi tubuhku. Dengan kepala sedikit tertunduk aku memutuskan untuk muncurahkan isi hatiku dengan terang-terangan. “Apa tidak ada cara lain selain menikah.. a-aku belum siap, aku masih sangat muda dan m-masih kuliah. Aku bahkan belum.. belum p-pernah pacaran, skillmemasaku juga masih rendah. L-Lalu a-anak, aku bahkan b-belum siap untuk itu.”

Situasi tiba-tiba menjadi hening hingga membuatku jadi dilanda rasa penasaran. Aku mengangkat wajahku perlahan guna mencari tau. Ku lihat beberapa dari mereka seperti sedang coba untuk menahan tawa, termasuk paman. Ia bahkan menutupi mulutnya dengan sebelah tangan dengan wajah yang terlihat memerah. Sebenaranya apa yang lucu? Salah seorang wanita tiba-tiba bangkit dari duduknya. Ia melipat kedua tanganya di depan dada sambil menatapku marah dari ujung kaki hingga ujung kepala. “Kau ini bodoh atau apa?! Pernikahan itu hanya bertujuan untuk menjaga dirimu yang lemah itu tuan putri! Jadi jangan berlebihan!” Bentaknya padaku. Pertanyaanya sekarang, kenapa ia jadi marah? Yang lain terlihat tidak begitu ambil hati atas kalimatku tadi. Aku hanya mengutarakan fakta karena aku telah melihat contoh nyatanya dari momku, aku memang belum siap untuk menjadi figur yang seperti itu.

“Eunbi.” Suara paman terdengar seperti sebuah nada teguran. Wanita yang berbicara kasar padaku tadi jadi mendelik tajam ke arahku lalu ia berlalu pergi begitu saja meninggalkan ruang tamu. Aku merasakan aura canggung yang luar biasa setelah kepergian wanita cantik bernama Eunbi itu karena dua orang wanita sisanya juga jadi memilih pergi, entah apa penyebabnya. Paman berdeham singkat guna mencairkan suasana. “Ku harap kau tidak ambil hati atas perkataan Eunbi barusan.” Aku hanya memamerkan sebuah senyum kecil yang tampak menulari paman tanda mengiyakan, paman pun kembali melanjutkan. “dan.. kau tidak perlu mengkhawatirkan masalah itu Sarang. Ku pastikan hidupmu akan tetap berjalan seperti biasa. Kau akan tetap kuliah tentu saja. Kau juga bebas ingin pergi ke manapun dengan catatan, suamimu akan selalu berada di sisimu. Itu saja dan masalah anak..” Paman mengusap belakang tengkuknya sambil mengulum sebuah senyuman agar tidak lolos dari bibirnya. “Itu tereserah kalian. Jika kau sudah siap suatu saat nanti, kenapa tidak?”

Ah, benar juga. Sekarang aku memang tidak siap, tetapi suatu hari nanti mungkin saja ‘kan? Karena aku sangat menyukai bayi, mereka adalah mahluk kecil yang menggemaskan. Bukankah lucu jika ada seseorang yang akan mewarisi wajah serta sifat yang kemungkinan sama denganmu? Aku pun mengangguk antusias. “Akanku pertimbangkan.” Jawabku dengan wajah berbinar. Tidak hanya paman, pria berwajah ramah dan pria bermata sipit itu jadi menatapku speechlesssekaligus bingung seolah-olah ada yang salah dengan ucapanku barusan. Sementara pria bernama Kai itu terlihat sejak tadi memang tidak tertarik dengan pembicaraan. Ia hanya sibuk berkutat dengan PSP di tanganya dengan stright face yang ia miliki. Pria yang benar-benar aneh.

Paman kembali berdeham singkat laluku lihat ia meraih sebuah stopmap biru di dekatnya dan meletakan benda persegi itu di atas meja. “Baiklah.. karena aku suka sesuatu yang praktis dan instan. Aku sudah menyiapkan semuanya.”

“Apa itu..”

“Lihat saja.”

Aku melangkah mendekat ke arah meja lalu meraih stopmap biru itu dengan perasaan ragu dan mulai membuka isinya. Ada beberapa lembar kertas yang sudah dibubuhi tanda tangan lengkap dengan cap serta metrai. Tanda tangan dad dan tanda tanganku juga terlihat ada di situ, entah bagaimana bisa. Tanda tangan itu benar-benar real. Garis dan lekuknya bahkan sama dengan tanda tanganku. Padahal aku sendiri tidak ingat kapan pernah menandatangani surat-surat ini.

“Semua surat itu sudah sah dan resmi dimata hukum maupun agama.” Ucap paman menerangkan sementara aku masih sibuk membaca dari awal semua tulisan-tulisan yang tercetak di atas kertas tersebut dengan perasaan gugup. Aku pun mengernyit ketika hazelku sampai pada sebuah nama laki-laki yang sangat terkesan asing bagiku. “Kim Jongin?” Tanyaku bingung. Nama asing itu tertera di sebelah namaku juga lengkap dengan tanda tanganya. Ku lihat paman tersenyum menenangkan yang entah mengapa itu menjadi suatu pertanda firasat tidak mengenakan bagiku secara pribadi. “Itu adalah nama lengkap Kai.”

Seketika aku mengangkat wajah memandang shockpada paman yang masih saja nampak tersenyum. Mulutku bahkan mengap-mengap seperti ikan yang kekurangan air, ingin bicara tetapi tidak tau mau berkata apa. Kembali, dengan ringan paman menambahkan kalimatnya yang tidak kalah membuatku seperti ingin mati di tempat. “dan mulai detik ini kalian sudah resmi menjadi pasangan suami istri.”

Aku menoleh kaku ke arah pria yang sempat menodongkan pistol ke wajahku itu. Ia terlihat tidak lagi sibuk berkutat dengan PSPnya melainkan duduk santai di sofa sambil melipat kedua tanganya di depan dada. Entah sejak kapan, manik hitamnya telah mengarah sempurna ke arahku. Tatapanya datar seperti biasa, hanya saja.. aku bisa menangkap satu sudut bibirnya nampak tertarik miring. Apa dia.. sedang tersenyum? Tidak! Aku yakin itu adalah sebuah seringai dan lagipula.. yang benar saja pria mengerikan ini adalah suamiku?!

 

×××

Suara derap langkah kaki terdengar bersahut-sahutan di sebuah lorong. Langkah pertama terdengar begitu pelan sarat akan pesan santai, tidak terburu-burusangat bertolak belakang dengan suara langkah yang ada di hadapanya saat ini. Obsidian Kai tak lepas memandang sosok mungil yang berjalan tergesa-gesa di depanya itu. Helaian rambut panjang gadis itu tampak bergerak halus dengan cara yang tidak beraturan mengikuti jejak langkah si empunya. Tidak perlu menjadi terlalu pintar bagi Kai untuk mengetahui sebuah fakta bahwa gadis mungil ini takut padanya dan entah mengapa, ia suka itu. Kai sendiri cukup banyak menemui orang-orang yang takut padanya di luaran sana dan baginya sampai sejauh ini gadis inilah yang paling terlihat menggelikan. Lihat saja cara berjalan sepasang kaki kecil itu, ia berjalan seperti orang yang sedang dikejar hantu padahal Kai sendiri yakin dirinya tidak lah semenyeramkan itu.. mungkin.

Sebenarnya Sarang tidak tau ke mana langkah kakinya ini membawanya. Paman itu hanya mengatakan padanya untuk beristirahat di kamar.. kamarnya dan Kai. Gila. Pikiranya benar-benar dibuat berkecamuk ditambah lagi dengan sosokpria yang terus saja berjalan santai di belakangnya lengkap dengan aura intimidasinya yang begitu kuat dan sosok itu adalah..suaminya.

Tidak! Berhenti membahasnya atau ia benar-benar akan menjadi gila. Ia tidak habis pikir terhadap dadnya. Ayolah, tiga tahun ia tinggal dan hidup di Korea sejauh ini dirinya aman-aman saja. Identitasnya sangat tertutup rapat tidak yang mengetahui bahkan sahabatnya Jackson sekalipun. Dan sekarang kenapa jadi begini? Entah hal ini dapat dikatakan suatu kesialan atau kekonyolan yang menimpanya. Yang jelas Sarang tidak mampu membayangkan bagaimana nasibnya berada di tangan pemuda aneh sekaligus mengerikan ini, yang bahkan sudah sah menjadi suaminya catat itu! Sungguh hatinya gelisah dan ia ingin sekali menjerit mengularkan tangisan jika memikirkanya.

Fokus Sarang tiba-tiba teralihkan kepada sosok wanita cantik yang nampak baru saja keluar dari dalam sebuah kamar dan Sarang sendiri memang masih sangat mengingatnya karena sosok bertubuh tinggi langsing itulah yang sudah membentaknya saat di ruang tamu. Terlihat sepasang kaki jenjang itu melangkah keluar sambil menyeret sebuah koper berwarnabiru dan ketika mata keduanya bertemu tatapan wanita itu jadi berubah dingin memandangnya yang hanya dibalas dengan tatapan kaku sekaligus bingung oleh Sarang. Tentu saja ia menjadi bingung karena Sarang merasa tidak pernah berbuat kesalahan apapun terhadap wanita di hadapnya itu. Bertatap muka saja baru hari ini, pikir Sarang.

Eunbi yang sejak tadi memandang tajam kearah Sarang akhirnya memutuskan untuk berhenti melangkah beberapa meter dari hadapan keduanya. Ia benar-benar jengahmelihat wajah sok polos yang ditunjukan oleh gadis di hadapanya itu sehingga ia pun memilih untuk bersuara. “Bisakah kau berhenti memamerkan wajah tanpa dosa milikmu itu? Aku muak melihatnya.” Desisnya tajam.

Sarang mangerjab pelan masih dengan wajah tegang sekaligus bingung yang ia miliki. Ia menatap lurus ke arah Eunbi yang terlihat seperti ingin membunuhnya melalui tatapan matanya. Eunbi berdecak kesal seraya memutar kedua bola matanya malas. Kepolosan otak gadis ini benar-benar sangat menguji kesabaranya. “Bingung kenapa aku membencimu ‘huh?” Tanyanya muak. Eunbi berjalan mendekat sambil tetap setia menyeret barang-barangnya di dalam koper biru tersebut sementara tatapan matanya tak lepas memandang geram terhadap Sarang. Setelah jarak keduanya tak kurang dari satu meter Eunbi pun terhenti. “Kai. Kau sudah merebutnya dariku!” Tegasnya dengan rahang mengeras. Sarang pun mengernyit. Tanpa berkedip hazelnya balas memandang Eunbi yang ia akui adalah wanita yang sangat cantik apalagi jika ditilik dengan jarak yang sedekat ini. “K-Kalian..” Ucap Sarang dengan kalimat bergetar. Sambil coba untuk menemukan kata yang tepat ia menoleh kaku kearah Eunbi dan Kai secara bergantian.  “Pacaran?”

Eunbi berdecak sinis. “Kenapa otakmu lamban sekali berpikir ‘eoh? Kai tidak hanya pacarku, hubungan kami sudah lebih dari itu! Dan kau.” Eunbi menekan jari telunjuknya ke arah bahu kiri Sarang dengan gerakan mendorong hingga gadis itu undur satu langkah ke belakang.“Kau sudah merebutnya dariku gadis benalu!”

Wajah manis itu semakin melemah. Tatapan menyesal pun terpancar ketika Sarang akhirnya mengetahui alasan di balik sikap kasar wanita ini terhadapnya. “A-Aku tidak—“

SHUT UP!” Bentak Eunbi marah, refleks ia mendorong Sarang dengan kedua tanganya sehingga tanpa diduga tubuh mungil itu malah bertubrukan dengan tubuh Kai yang sejatinya hanya diam di tempat menyaksikan adegan keduanya. Setidaknya Sarang sedikit beruntung, jika pria itu tidak berdiri tepat di belakangnya mungkin ia sudah jatuh tersungkur di lantai saat ini. Eunbi yang melihatnya tentu tak tinggal diam, ia segera menarik kasar lengan Sarang kembali ke hadapanya guna menjauhkanya dari Kai. “Aku tidak perlu penjelasan apapun darimu! Kau hanya perlu mendengarkanku!” Tegasnya. Sarang hanya mengangguk patuh sambil meringis merasakan betapa tajamnya cengkraman kuku-kuku jari tangan wanita itu pada permukaan kulitnya.

“Aku tidak perduli bahwa kalian sudah sah menjadi suami istri atau apapun itu! Karena Kai tetap milikku!” Ucap Eunbi semakin emosional. Wanita yang satu ini memang tidak pernah main-main jika ada sesuatu yang mengusik ‘miliknya’bahkan dulu ia pernah melukai seorang wanita penghibur di clubmalam yang pernah menggoda Kai saat keduanya sedang dalam misi. Eunbi yang sangat pecemburu dengan senang hati mengukir pisau lipat kesayanganya itu pada wajah mulus pelacur malam tersebut, sementara Kai? Pria itu hanya diam saja karena memang ia samasekali tidak perduli apalagi untuk sekedar merasa kasihan.

                Obsidian kelam itu memang selalu terlihat datar namun sebenarnya ada sebuah hal yang membuat Kai sedikit merasa ganjil semenjak tadi hingga tontonan yang seharusnya menarik ini menjadi terasa begitu hambar. Kenapa gadis itu samasekali tidak melawan? Bukankah ia sangat berangmelakukan perlawanan saat sedang di dalam mobil waktu itu. Tetapi sekarang kenapa ia hanya diam saja? Bahkan tidak perlu melihat ekspresi wajahnya sekalipun Kai tau bahwa gadis ini tengah ketakutan. Dan memang itulah kenyataanya. Sarang ketakutan. Semua ini berawal ketika ia merasakan penyiksaan fisik dan batin oleh ibu dan saudara tirinya dulu.Mentalnya akan mudah sekali jatuh jika menghadapi seorang perempuan yang marah padanya. Ia seakan-akan sedang menggali kembali memori buruk di otaknya tersebut. Mungkin hal itu juga lah yang menjadikan alasan mengapa Sarang tidak memiliki seorang teman ataupun sahabat perempuan sampai dengan detik ini.

Eunbi mencengkram keras rahang Sarang yang sejak tadi hanya tertunduk diam. Tanpa perduli ekspresi katakutan dari wajah itu Eunbi kembali bersuara. “Aku mengawasimu. Jika kau berani macam-macam akanku pastikan—“

Tercekat.

Sebuah tangan besar mencengkram pergelanganya hingga terpaksa Eunbi melepaskan rahang Sarang ketika dirasakanya tangan Kai semakin mencengkramnya dengan tidak main-main.

“Aku suka melihat sisi liarmu Ahn Eunbi tapi sayang sekali.” Ucap Kai menggantung. Dihadiahi tatapan datar yang mematikan dari pria itu benar-benar membuat Eunbi tidak berkutik. Ia menatap kaku pria tampan itu dengan saliva yang tersendat di kerongkongan menunggu Kai melanjutkan kalimatnya. “Aku hanya milik diriku sendiri. Tidak dengan siapa pun dan jangan pernah mengucapkan kalimat menjijikan itu lagi di telingaku.”

Hatinya mencolos. Secara perlahan kristal bening itu mulai menumpuk pada kedua sudut matanya. Pria ini memang sangat pandai melukai hati seseorang dengan kalimat tajamnya dan Eunbi mengakui itu. Tidak ingin berakhir memalukan dengan cara menumpahkan air matanya, Eunbi segera menarik tanganya dari cengkraman Kai kemudian berlalu pergi bersama kopernya.

Serbasalah. Itulah yang Sarang rasakan saat ini. Apakah ia telah menjadi seorang perempuan pengganggu hubungan orang? Ia menyesal, sungguh. Eunbi sangat terlihat jelas mencintai Kai, wajar saja jika ia dibenci seperti ini. Tetapi.. kenapa juga pria itu berkata kasar seperti tadi? Bahkan Sarang yang tidak mengerti apa permasalahnya pun ikut dibuat mengernyit karenanya.

Gadis itu menoleh ke samping. Mendongkakkan wajah, memberanikan diri menatap Kai yang berdiri di sebelahnya. “Kau.. tidak seharusnya berkata sekasar itu p-padayeoja chingumu.” Ucapnya coba memberi nasihat namun tatapan dingin dari pria itu seketika membuat Sarang menggigit lidahnya keras-keras sambil merutuki kebodohanya dalam hati. Sepertinya ia sudah salah bicara. Obsidian Kai tak lepas memandang wajah gadis blasteran itu untuk beberapa saat, kemudian ia bersuara. “Bukan urusanmu.” Tukasnya tajam. Kai melangkah lebih dulu untuk menuju kamarnya. Sempat ragu, namun pada akhirnya Sarang memilih untuk mengikuti jejak langkah pria di hadapanya itu. Ketika keduanya tiba di hadapan sebuah pintu. Keduanya sama-sama terdiam. Sarang teringat bahwa Eunbi keluar dari dalam kamar ini barusan, itu berarti.. ia dan Kai sebelumnya tidur disatu kamar yang sama bukan? Berarti, benar saja hubungan keduanya sudah lebih dari sepasang kekasih.

“Masuk.” Perintah Kai. Sarang sedikit tersentak dari lamunanya. Ia melirik sekilas pria itu dari ekor matanya sebelum pada akhirnya ia meraih ganggang pintu itu dengan tangan bergetar. Setelah menekan dan mendorongnya berulang kali pintu itu tak kunjung juga membuka sehingga mau tak mau membuat Sarang menjadi berkeringat dingin sambil merutuki keberadaan benda mati tersebut.

Apa pintu ini rusak? Kenapa tidak mau terbuka?!’Gumam Sarang dalam hati. Ia pun menyerah lalu dengan gerakan kakumenoleh ke belakang menatap Kai yang tengah berdiri sambil terus memperhatikanya tanpa ekspresi. “Pintunya, um..” Jelasnya kesusahan. Kai tiba-tiba maju mendekat membuat Sarang spontan mundur ke belakang hingga keberadaan pintu kayu itu membatasi pergerakanya. Seketika ia dapat mencium aroma maskulin dari tubuh pria ini karena sekarang wajahnya telah berhadapan telak dengan dada bidang Kai begitu dekat dan ini benar-benar sangat memalukan baginya.

“Pintu ini digeser bukan didorong.”

Sarang mengerjab sadar. Secara perlahan rona merah mulai menjalari kulit putih dikedua pipi mulusnya. Ah.. saat-saat seperti ini pun ia masih sempat saja mempermalukan dirinya sendiri. Tapi pria itu juga salah ‘kan! Coba dari awal ia memberitahukan hal tersebut dan bukan hanya menjadi penonton saja. Apa mungkin.. pria itu sengaja? Ingin bercanda maksudnya? Jangan konyol.

“Sampai kapan kau berdiri di situ.” Tegur Kai. Sarang mengangkat wajahnya perlahan, dengan perasaan ragu ia melangkah masuk ke dalam. Sebetulnya ia pun sangat merasa gugup sekarang karena ini adalah kali pertama ia memasuki kamar seorang pria. Ah, ralat. Tidak juga sebenarnya Sarang pernah beberapa kali sebelumnya diajak masuk ke dalam kamar Jackson, ya.. pria itu lumayan sering untuk mengajaknya berkunjung ke rumah. Rumah Jackson juga tak kalah besar menurut Sarang dan pria itupun hanya tinggal bersama dengan kedua saudara laki-lakinya di rumah mewah tersebut.

Kedua hazelnya menatap linglung ke seluruh penjuru kamar Kai. Kamar ini cukup luas dengan dominasi cat berwarna hitam dan putih. Khas laki-laki, tidak terlalu banyak barang di dalamnya hanya ada sebuah ranjang berukuran king size, lemari yang juga cukup besar, sofa putih dan tv flat berukuran 30inch.Sarang terfokus memperhatikan ranjang besar yang ada di hadapanya itu dengan perasaan gugup, tempat tidurnya hanya ada satu tidak mungkin ia tidur di satu tempat yang sama dengan pria asing itu walau status keduanya adalah sah suami istri!

“Kemari.” Suara baritone itu lagi-lagi menyentaknya.Sarang menoleh dan mendapati pria itu sedang duduk nyaman di sofa sambil menonton sebuah acara televisi. Tidak punya pilihan, akhirnya Sarang memilih patuh. Ia mendekat ragu ke arah pemuda yang tatapanya terus mengarah ke arah televesi tersebut. Kai memandang jengah gadis yang berdiri tak jauh dari jangkauan matanya itu. “Apa kau juga harus diperintah untuk duduk.” Tanyanya dingin.

Sarang benar-benar merutuki kinerja jantungnya saat ini. Baiklah, salahkan pria itu karena suaranya terdengar begitu rendah dan itu cukup mengganggu baginya. Sarang sengaja mengambil posisi duduk pada ujung sofa karena ia memang tidak pernah merasa nyaman jika berada terlalu dekat dengan pria itu, kinerja jantungnya akan semakin memburuk. Suasana hening menyelimuti keduanya sampai beberapa saat kemudian Kai pada akhirnya memutuskan untuk beranjak dari duduknya menuju ke arah televisi. Sarang memperhatikan setiap gerak-gerik yang Kai lakukan dari jauh. Sepertinya pria itu mengambil sebuah kaset CD kemudian menyetelnya dan ia kembali duduk di sofa.

Ya, pria ini menyetel sebuah film pikir Sarang. Hazel gadis itu menatap lurus ke arah televisi. Seorang pria bule nampak sibuk di ruangan pribadinya untuk memeriksa beberapa dokumen. Dari gayanya pria itu nampak seperti seorang bos. Beberapa saat kemudian seorang wanita Asia muncul. Wanita ini menggunakan pakaian kantor yang terbilang cukup seksi dan nampaknya wanita itu adalah sekretarisnya. Pada awal mulanya si bos dan sekretarisnya ini hanya berbincang seperti biasa namun tiba-tiba si bosnya ini mulai betingkah tidak sopan dengan melakukan skinship seperti menyentuh bahu dan tangan sekretarisnya tersebut, entah siapa yang memulai keduanya jadi terlibat sebuah adegan ciuman panas. Hal inilah yang sontak membuat Sarang membelalak kaget. Ia tidak menampik pernah melihat beberapa kali orang lain berciuman hanya saja yang seperti di tv ini ia baru kali pertama ini melihatnya. Suara decapan lidah keduanya bahkan terdengar sangat jelas karena memang volume tvnya telah disetel nyaring sejak awal oleh Kai. Ciuman panas pria itu bahkan terus merambat dari bibir lalu ke rahang lalu menuju ke leher wanitanya sehingga tak jarang suara erangan kenikmatan si wanita itu mencolos ke luar. Sejauh ini tidak ada protes apapun yang keluar dari mulut Sarang ketika menyaksikan tontonan tersebut nampaknya gadis polos itu masih belum menyadari jenis film macam apa yang tengah disaksikanya sekarang. Pergumulan pria bule dan wanita Asia itupun semakin panas, pria itu tanpa melepaskan ciuman panasnya menggendong sekretarisnya itu menuju ke atas meja kerja hingga barang-barang di atas meja itupun luluh-lantah berjatuhan ke lantai. Tangan pria itupun nampak cekatan membuka blouse yang wanita itu kenakan sehingga hanya menyisakan sebuah bra berwarna hitam yang melekat di tubuhnya. Kedua mata Sarang membola.“A-Apa-apaan itu?!” Komentarnya dengan arah padangan masih fokus ke televisi. Kai hanya menanggapinya dengan sebuah seringai kecil pada sudut bibirnya ketika menangkap wajah gadis itu mulai berubah tengang dari kedua ekor matanya. “Diam dan lihat saja.” Ucapnya datar.

Tangan pria bule itu menggerayangi seluruh lekuk tubuh wanita yang ada di bawah kuasanya itu dengan tidak sabaran hingga tanganya menarik lepas bra yang wanita itu gunakan lalu menangkup kedua payudara wanita itu dengan tanganya. Tepat di saat itulah Sarang tersadar, ia langsung spontan menutupi erat matanya dengan kedua tangan. “T-Tolong matikan tvnya!” Pintanya gelapan. Kai mengacuhkanya malah pria itu semakin menambah nyaring volume tv tersebut membuat suara desahan wanita di dalam televisi itu semakin terdengar memalukan bagi Sarang. Ia memang tidak pernah menonton film dewasa semacam ini sebelumnya karena ayah dan ibunya itu benar-benar sangat menjaganya bahkan dulu Sarang tidak boleh melakukan segala sesuatu dengan sembarangan tanpa adanya pengawasan. Sarang hanya mendapatkan hal yang berbau dewasa seiring dengan jenjang bangku sekolahnya bahkan di bangku kuliah kedokteranya pun tidak pernah mempertontonkan hal eksplisit macam ini sebelumnya. Materi tentang seksualitas dijelaskan dengan cara ilmiah di dalam buku. Jadi ini merupakan tontonan baru baginya yang anehnya memalukan. Mungkin karena ia menontonya bersama dengan seorang pria? Entahlah ia sendiripun bingung.

Saat suara-suara desahan itu tak lagi terdengar, Sarang memutuskan untuk mengintip dari selah jemari yang menutupi wajahnya dan ia mendapati bahwa televisi di hadapanya itu telah dimatikan. Seketika ia jadi menarik nafas lega namun itu hanya sebentar karena Sarang mendapati bahwaKai terus menatap intens ke arahnya. “Aku akan melakukan hal itu untuk memberikanmu seorang bayi.” Ucap Kai santai. Sontak Sarang segera menoleh memandangnyahorror.“M-Mwo?!

Tck, jangan munafik. Kau seorang dokter. Kau tentu tau bagaimana proses terbentuknya seorang bayi.”

Sarang mengernyit masih memandang Kai. Tentu saja ia tau. Pertemuan sperma dan ovariumpada organ reproduksi wanita lah penyebabnya. Proses penetrasi kelamin pria ke dalam kelamin wanita adalah jalan untuk melakukan pembuahan. Tapi di dalam buku kedokteran yang selama ini dibacanya tidak ada menuliskan langkah-langkah seperti yang ditayangkan di televisi tersebut. Merasakan ada sebuah gerakan di sofa tempatnya duduk, Sarang sontak tersadar dan mendapati bahwa pria yang duduk sekitar dua meter di dekatnya itu beranjak menuju ke arahnya. “K-Kau mau apa?!” Sarang gelagapan. Bukanya menjawab Kai hanya diam menatap lurus ke arah hazel indah itu.

Spotan Sarang juga beranjak dari sofa berusaha menghindari Kai yang terus berjalan mendekat ke arahnya.Obsidian dan hazel itu saling beradu mengawasi satu sama lain. Karena wajah dan aura intimidasi yang Sarang rasakan dari pria itu mengancamnya, gadis itu terpaksa terus berjalan mundur. Wajah cantik itu ketakutan bahkan kedua bibir tipis nan mungil itu terus mengatup rapat. Sayangnya ia sedikit kurang beruntung, akibat terus berjalan mundur tanpa melihat, kedua kaki belakang gadis mungil itu menabrak tepian ranjang hingga bisa ditebak apa yang terjadi setelahnya. Sarang jatuh terlentang kearah kasur namun belum sempat ia beranjak dari kasur tersebut. Sebuah tubuh besar lebih dulu berada di atasnya.

Kai mempersempit jarak tubuh keduanya hingga tubuh besar miliknya terlihat menempel dengan gadis mungil yang ada di bawah kuasanya itu. Dugaanya salah, ternyata di balik tubuh kecil gadis ini, ia masih memiliki beberapa lekukan yang terbilang tidak mengecewakan menurut Kai. Sarang kaku seperti mayat. Kedua matanya bahkan seperti terkunci memandang wajah Kai yang hanya berjarak beberapa inchidarinya. Jemari tangan pemuda itu bergerak lembut menyampirkan helaian rambut yang menutupi wajah manis tersebut. Menerima perlakuan itu tubuh Sarang semakin mendingin tidak berkutik.

Ini benar-benar sangat menyenangkan bagi Kai. Selama ini perempuan lah yang selalu bertindak agresif padanya dan ia hanya diam saja tidak begitu menanggapi. Tetapi gadis yang satu ini sedikit berbeda, ia menarik. “Bayi. Bagimana jika aku mengiginkanya.” Ucap Kai santai. Sarang membelalak, ia benar-benar merasakan jantungnya bergemuruh bukan hanya karena aroma tubuh serta nafas pria beraroma mint tersebut.

Jika tau begini ia tidak akan sembarangan bicara. Sarang jadi merutuki ucapan bodohnya saat di ruang tamu waktu itu tentang mempertimbangkan keberadaan seorang bayi, ia benar-benar menyesal. Hazel itu mulai menampakkan kaca. Membayangkan pria ini akan melakukan hal seperti yang ada di dalam televisi tadi membuatnya ketakutan. “A-Andwe! Ku mohon lepaskan aku! Aku berjanji.. aku berjanji akan menuruti semua perintahmu tapi tolong j-jangan lakukan itu padaku!” Jelasnya dengan kedua mata yang sudah terpejam erat. Kai menarik miring sudut bibirnya menatap pada wajah ketakutan gadis yang ada di bawah tubuhnya itu. Jari Kai terangkat menyentik dahi Sarang membuat gadis itu langsung membuka mata. “Gadis bodoh.” Kai semakin mengembangkan seringainya.“Menyingkir dari kasurku.”

 

TBC

×××

Main ke wattpad yuks : https://www.wattpad.com/user/Aqilua

 

4 thoughts on “THE DARK AGENT (Chapter 2)

  1. Aduh cast nya bagus bagus semuaa, cantik cantik dan ganteng ganteng-.-
    Bener bener pinter author milihnyaa.
    Ceritanya juga seruu, bikin greget terus di setiap part nya kai sama sarang.
    Awalnya aku kesel gitu sama eunbi tau taunya yang jadi eunbi si krystal HAHAHHAHAA jadi gimana gitu, masalahnya mereka berdua sama sama cantik.
    But cantikan krystal sih (loh)
    Balik lagi ke comment ceritanya deh wkwk, maaf ya gaje.
    Suka banget sama cerita yang mafia gini apalagi kalo character nya pada gini, si kai yang misterius terus si cewek polos yang lucu😊
    Lanjut terus thor, jangan lama lama uang nge post lanjutannyaa👌🏼

  2. Kai kai kai kai OMG O.O! Omo chapter ini keren banget deg deg gan, feelnya dapet banget thor, meskipun ga ada tulisan point of view dari siapa tapi karena bahasa ma tulisannya gampang di mengerti jadi tau deh ini POV siapa hehe. Oh ya thor maaf nih sebelumnya mau kasi tau aja kalau masih banyak typo di ff ini contohnya yg hrs ya membulat malah membola, dan banyak kata yg ga dispasi emang sih ga terlalu ganggu pas baca cuman mau ingetin aja hehe ^^ Thor next chapnya jangan lama2 udah ga sabar nih mau tau kelanjutannya! Semangat thor^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s