Sweet Sparks (11+)

sweet sparks

Sweet Sparks

Casts of Chanyeol, Baekhyun and Jinri (OC)

Presented by deera

Friendship. Romance. Series.

Stories : Stories : Jinri’s To-Be-True Wedding Party | Chanyeol’s Everlast PainJinri’s Unavoidable Problem | Baekhyun’s Cannot-Bare Fear | Jinri’s Half-Moon-Curved Lips | Baekhyun’s Untold Feeling | Chanyeol’s Not-So-Late Freedom| Jinri’s Black Day | Baekhyun Has A Conclusion When Chanyeol Still  Has Only Hypothesis | She is Hiding Something’s Fishy, Baekhyun Knew That All Along | The Groom is…

deera says : BEWARE! Very very longshot!

Shot 11+ : Time Lapse

Bucket List

11. Get married with the one I love

11+. Before that, have a long last love story that I’ll brag about for the rest of life

Kira-kira sembilan tahun yang lalu.

Jinri memulai kehidupannya tanpa bergantung lagi dengan Bibi Jung, adik ibunya, yang merawat sejak kematian orang tuanya. Jinri memutuskan untuk tinggal di rumah orang tuanya dan melanjutkan sekolah.

Saat pertama kali ia mengenalkan diri sebagai Min Jinri di depan kelas barunya, tidak ada seorang pun yang bertanya latar belakang keluarganya. Semua orang menatapnya lapar saat tahu prestasi cemerlang yang dibawa gadis itu dari sekolah sebelumnya.

Jinri tahu, anak-anak ini adalah tipe yang akan memanfaatkannya. Maka dari itu, Jinri juga bersikap pura-pura saja, tidak perlu bersedih mencari simpati dengan status yatim piatunya karena anak-anak itu tidak peduli. Jinri bertingkahlaku biasa, seolah dia berani dan percaya diri. Ia juga terpilih menjadi ketua kelas.

Kebiasaannya berkegiatan di perpustakaan sudah berlangsung sejak awal masa sekolah. Jinri selalu suka berada berada di sana pada hari Rabu. Salah satu dinding sekatnya bersebelahan dengan ruang latihan paduan suara. Klub itu benar-benar punya suara yang bagus.

Di akhir latihan—setelah tak terdengar lagi suara nyanyian—petikan-petikan gitar yang menyentuh membuat Jinri betah berada di sana. Jinri tidak pernah mencari tahu siapa yang memainkannya—ia juga tidak butuh tahu. Tapi Jinri benar-benar mengagumi siapapun itu. Dan juga berterimakasih. Karena kehadiran suara gitarnya, membuat Jinri merasa memiliki teman yang tulus.

Memasuki tahun terakhir, setiap kelas wajib menampilkan sebuah pagelaran dengan tema berbeda. Dan itu adalah mimpi buruk bagi kelas Jinri yang berisi siswa-siswa berotak kiri.

Jinri frustasi berat. Sebagai ketua kelas, ia adalah nahkoda bagi teman-temannya. Maka ia memutar otak dengan cara secepat mungkin. Ia mendatangi ruang klub musik dan menemukan sang lead vocal bernama Byun Baekhyun. Saat lelaki itu bicara tentang konsep, Jinri kesal karena ia tidak mengerti sama sekali. Lantas ia putar haluan, mendatangi klub paduan suara dan berharap bertemu dengan seseorang yang akan membantu membuat segala sesuatunya mudah.

“Kau bisa bertemu Chanyeol. Dia pemain instrumen tetap kami.”

Pemain instrumen? Apa dia yang bermain gitar selama ini? racau Jinri dalam hati.

Dan saat keduanya bertemu, kesan tulus itu tak ada di wajah lelaki jangkung bernama Park Chanyeol ini. Jinri kira, wajah pemain gitarnya akan kurang lebih seperti bunyi nada-nadanya yang meneduhkan. Jinri salah. Dan lelaki itu juga bicara tentang konsep yang berarti tak membantunya sama sekali.

Jinri pulang ke rumah dengan marah. Baru kali ini ia merasa buntu dan sangat bodoh. Ia tidak mengerti dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Keeseokan harinya, Jinri kembali ke hadapan dua orang itu dan bicara lantang, “Aku ingin menggabungkan band dan paduan suara,” ujarnya mantap. Menerbitkan kekhawatiran di wajah Baekhyun dan Chanyeol.

Setelah berdiskusi singkat, keduanya sepakat untuk membantu Jinri dengan pertunjukkan perkusi. Gadis itu juga tidak menyia-nyiakannya. Ia berlatih dengan giat, menonton puluhan video tentang perkusi sampai pening, dan menghafal ketukan. Jinri lebih sering latihan dengan Baekhyun karena tim paduan suara sedang sibuk menyiapkan perlombaan. Sampai suatu ketika ia tahu cerita Baekhyun yang trauma dengan hujan. Ia bahkan menangis di hadapan lelaki itu karena lagu yang dibuatnya. Itu bukan hal yang biasa bagi Jinri yang terlalu lama sendirian dalam dunianya. Tapi Baekhyun membuatnya nyaman, hingga ia bisa begitu jujur bukan hanya kepada lelaki itu, tapi juga pada dirinya sendiri.

“Apa sudah ada yang mengatakan kepadamu kalau senyummu itu manis, Jinri-ya?”

Ini bukan pertama kalinya Jinri mendengar itu. Tapi rasanya lain. Ada sesuatu yang berbeda ketika ia mendengarnya dari Chanyeol dan Baekhyun setelahnya.

“Kau nampak manis dengan senyum di wajahmu. Aku serius.”

Malam itu, saat Jinri belajar di perpustakaan dengan Chanyeol yang bermalam di koridor, Jinri tertegun kala mendengar suara senar gitar dipetik. “Jadi itu kau?” Jinri menyahut tiba-tiba dari dalam perpustakaan, membuat Chanyeol kaget dan menghentikan permainannya sejenak.

“Bukankah kau tahu aku ada di sini?”

“Bukan itu. Maksudku, suara gitarmu.”

“Gitarku?”

“Aku suka suara itu. Tidak kusangka ternyata kau yang memainkannya selama ini.”

“Ini hanya gitar biasa.”

“Kau memainkannya dengan tulus. Aku tidak merasa sendirian saat mendengarnya.”

“Sudah kubilang, kau tidak pernah sendirian.”

Entah sejak kapan, akhirnya ketiganya saling mencari dan sering terlihat bersama. Selain karena alasan pagelaran, mereka juga belajar bersama menjelang ujian. Ayah Chanyeol tidak percaya dengan alasan puteranya pulang larut karena belajar di perpustakaan, maka mereka sering belajar di rumah Chanyeol. Orang tua Chanyeol sangat senang—tentu karena kehadiran Jinri sebagai murid teladan yang belajar bersama si bungsu.

Oleh sebab itu, Chanyeol sering menjual nama Jinri. Ia bilang bahwa ia akan belajar bersama Jinri, tapi nyatanya ia pergi dengan kekasihnya. Chanyeol punya seorang gadis yang dikencaninya diam-diam.

Tak pernah Jinri sangka bahwa teman yang dianggapnya tulus juga memanfaatkannya. Tubuh Jinri serasa ditikam ratusan kali dengan anak panah.

“Kau lupa bahwa kau punya tujuan untuk masuk SNU, Bong-ah? Apa kau pikir dengan pura-pura belajar bisa membuatmu masuk ke sana?” tanya Jinri suatu ketika setelah ia jengah dengan sikap kekanakan Chanyeol.

“Itu tujuan ayahku, bukan tujuanku,” jawabnya datar.

“Mulai sat ini, kau harus jadikan itu tujuanmu.”

“Aku hanya akan bermusik. Aku masih tetap bisa hidup kan?”

“Kau tidak ingin melihat ayahmu bangga dengan keberhasilannya mewujudkan apa yang dicita-citakannya untukmu?”

“Yang akan senang dia, bukan? Lalu apa yang aku dapat? Hanya tekanan menjalani apa yang tidak menjadi mimpiku.”

“Coba kau jadi aku, Bong. Walaupun aku bisa mewujudkan keinginan ayahku, apa dia tahu? Apa dia bisa lihat? Apa dia bisa membanggakan puterinya di hadapan orang-orang?”

“Jinri-ya, maafkan aku—“ Chanyeol merasa hatinya ditampar hebat oleh semua perkataan Jinri. Ia lantas memulai kembali hari-hari kerasnya. Ujian hanya tinggal menghitung hari. Ketiganya belajar giat untuk bisa lulus.

“Ayo kita membuat bucket list!” seru Baekhyun pada suatu hari menjelang ujian. Baekhyun menulis seratus dua nomor, Chanyeol hanya sebelas—mungkin dua belas tepatnya, sedang Jinri hanya satu dan setelah direvisi, menjadi tiga.

Sore itu, giliran Baekhyun mengantar Jinri pulang. Di sepanjang jalan, mereka bicara tentang mimpi-mimpi mereka. Hingga tiba di belokan terakhir menuju rumah Jinri, Baekhyun bertanya, “Bagaimana pesta pernikahan impianmu?”

“Sederhana: aku ingin dilakukan pada malam hari yang cerah di sebuah halaman belakang. Tidak perlu banyak orang yang datang ke acaraku, hanya teman dekatku, teman dekatmu, dan teman dekat Chanyeol.”

“Kenapa harus temanku dan Chanyeol juga datang?”

“Karena aku tidak punya banyak teman dan keluarga. Nanti kalau yang datang hanya kalian saja kan, tidak seru.”

“Lalu,” Jinri menambahkan, “aku ingin suasananya hangat seperti di rumah. Dengan dekorasi minimalis dan dominan warna biru.”

Baekhyun pulang setelah sampai di depan rumah Jinri. Gadis itu segera saja meletakan seluruh barangnya dan menyalakan kran shower untuk mandi. Pintu rumahnya diketuk saat ia sedang mengeringkan rambut dengan handuk. Chanyeol di sana, mengantarkan buku catatan miliknya yang tertinggal.

“Aku punya firasat buruk, Jinri-ya.” Belum sempat lelaki itu masuk ke dalam rumah Jinri, Chanyeol langsung bicara. Ia menambahkan, “Aku bermimpi tentang sesuatu akhir-akhir ini. Sering sekali—mungkin setiap malam. Tapi kurasa…, itu sesuatu yang buruk jika terjadi.”

“Kalau begitu berusahalah sampai itu tidak terjadi.”

Chanyeol tertegun. Ia tak sampai hati untuk mengatakan pada gadis itu bahwa ia memimpikannya, bersama menghabiskan waktu. “Begitukah? Kau berharap itu tidak terjadi?” tanya lelaki itu lagi.

“Katamu itu mimpi buruk? Untuk apa kau berharap sesuatu yang buruk terjadi dalam hidupmu. Sudahlah, lupakan. Fokus saja pada ujian besok.”

Sejak saat itu, Chanyeol menutup perasaannya rapat-rapat.

Tahun pertama menjadi mahasiswa terasa seperti sekedipan mata. Chanyeol yang semula diharapkan Jinri bisa berbagi kampus, mengajaknya makan siang bersama, mengisi hari-hari ujian di perpustakaan, semua hanya sampai angan-angannya saja.

Lelaki itu pergi dengan teman-teman sesama arsitek. Ia menghabiskan waktu di lab dan studio gambar. Ia dan Jinri bahkan tak pernah bertemu di lingkungan kampus, walau sesekali Jinri sering melihatnya dari jauh. Termasuk saat pagi-pagi sekali, saat Jinri harus jauh-jauh melintas ke arah gedung direktorat dan melewati gedung teknik. Ia yakin, di bawah pohon cerry, ia melihat Chanyeol bersama seorang wanita yang tengah dicumbunya.

Pemandangan yang tidak biasa, yang langsung membuat Jinri buang muka dan seolah tidak pernah melihat seumur hidupnya. Sejak itulah, rumor  tentang Chanyeol menyeruak. Jinri tahu dari desas-desus di sekitarnya yang membicarakan Chanyeol, betapa kini harus diakuinya juga bahwa lelaki itu banyak berubah.

Tubuh Chanyeol semakin tinggi beberapa senti sejak terakhir kali diingatnya. Belum lagi garis dewasa yang mulai muncul di wajah pucatnya. Ia sangat seksi. Dan tampan. Juga menggoda. Kurang lebih itulah yang Jinri dengar—yang sebenarnya tak perlu ia dengar. Setiap sudut kemanapun ia pergi di kampus selalu terdengar nama Chanyeol dibicarakan. Pertama, karena ia begitu menarik. Kedua, karena ia mudah sekali untuk dirayu. Ketiga, karena ia sering mempermainkan wanita.

Suatu hari, seorang temannya di kelas secara random tiba-tiba membicarakan Chanyeol. “Kau tahu Park Chanyeol, Jinri-ya? Dia mahasiswa arsitektur di tahun yang sama dengan kita,” ujarnya sebagai intro.

Jinri mengerjap bingung. Tidak ada yang pernah tahu bahwa Jinri berteman baik dengan Chanyeol. Dengan kepopuleran lelaki itu, tak ada yang akan percaya karena mereka sama sekali tidak pernah terlihat bersama. Jadi dengan gugup, Jinri menjawab. “Aku…, tidak yakin apakah dia yang kau maksud.”

“Kata mereka yang pernah tidur dengannya….” Mendengar segitu saja Jinri muak. Apa temannya ini akan bercerita tentang pengalaman mereka seranjang dengan si Bong? Oh, memikirkannya saja Jinri sudah mual.

Tapi temannya itu melanjutkan juga, “Chanyeol menyukai seseorang bernama Jinri.”

MWO?” pekik Jinri cukup kencang.

“Chanyeol sering menggumam tak jelas saat melakukannya dan samar-samar terdengar seperti sebuah nama. Beberapa dari mereka bahkan mengatakan bahwa Chanyeol memanggilnya ‘Jinri-ya’ padahal tak ada satupun dari mereka yang bernama Jinri. Mereka berasumsi, bahwa Chanyeol memiliki delusi saat melakukannya dengan wanita lain dan membayangkan mereka sebagai ‘Jinri’. Oh, aku merinding mendengarnya!”

Jinri cepat-cepat ingin mengklarisifikasinya dengan Chanyeol. Kebetulan malam itu, Baekhyun akan manggung di Analise, sebuah cafe yang menyediakan pertunjukkan music live untuk penyanyi lepas.

Segelas macchiato panas tiba di meja saat Jinri dan Baekhyun sedang menunggu giliran tampil. Baekhyun hanya meneguk air mineral, demi kesejahteraan suara emasnya. Sedang Jinri sibuk sendiri dengan ponselnya.

“Kyoong-ie,” frustasi, Jinri memanggil Baekhyun dengan lesu, “apa Bong-ah benar-benar mengatakan akan datang?” tanyanya pasrah.

Anggukan kepala Baekhyun cepat dan yakin. “Tadi dia bilang begitu.”

Sampai Baekhyun pamit padanya untuk bersiap di balik panggung, cangkir kopinya pun masih utuh dan Jinri tak lagi berselera menghirupnya, Chanyeol tak kunjung datang. Jinri mengangkat ponselnya ke telinga dan segera melancarkan umpatan saat suara di seberang sana mengangkat panggilannya.

“Kau masih menganggap Kyoong teman tidak sih? Katanya kalian berteman dari lahir—ya! Bong! Park Bong! Kemari kau dalam lima menit atau kau habis di tanganku!!” Begitu Jinri mengakhiri panggilannya dengan Chanyeol dengan berapi-api.

Pada akhirnya Chanyeol tak datang malam itu. Setelah Baekhyun mengantarkannya ke apartemen, Jinri duduk di ujung ranjangnya dan menerawang. Tentang cerita itu. Tentang rumor yang didengarnya tadi siang.

Murahan sekali jika benar Chanyeol begitu. Apa yang ada di otaknya sampai-sampai ia melakukannya, membuat wanita manapun merasa tak berguna. Ini bukan tentang ‘Jinri’ yang didesahkan Chanyeol saat melakukannya. Ini tentang sikap brengsek lelaki itu yang memperlakukan wanita dengan tidak wajar.

Ya, kau dimana?” tanya Jinri cepat saat panggilannya tersambung pada speed dial nomor dua.

“Hotel. Wae?”

Jinri mendengus. “Bisakah kau berhenti?”

Naega wae?”

“Karena aku memintanya.”

Giliran Chanyeol mendengus. “Kau tahu aku tidak bisa membantahmu, Min Jinri. Tapi ini benar-benar tanggung.”

“Berhenti dan temui aku.”

“Apa yang ada di dalam kepalamu, eoh?”

“Kau.”

“Oh, aku tersanjung.

“Aku di apartemenku.”

Pip. Panggilan terputus. Jauh di sana, Chanyeol menjambak rambutnya karena kesal bukan main. Ia baru saja menanggalkan kaus abu-abunya ke lantai dan terpaksa memungutnya kembali. Gadis di bawahnya merengut, tak percaya bahwa Chanyeol akan mencampakkannya begitu saja bahkan sebelum terjadi apa-apa.

Dan Chanyeol benar-benar pergi, sesegera mungkin check out dan menuju lantai dasar untuk mengambil sedan silvernya. Chanyeol tak pernah melakukannya dalam keadaan mabuk. Ia benar-benar sadar dengan apa yang dilakukan tapi ia tetap melakukannya.

Tambahan, dengan senang hati.

Jadi ketika ia bertemu Jinri lalu gadis itu mengatakan apa maksudnya menghentikan kesenangan Chanyeol, mata lelaki itu membulat penuh dan mencebik dengan tawa tertahan. “Sejak kapan kau mendengarkan rumor, Jinri-ya?” Chanyeol meneguk cola yang diambilnya dari kulkas di dapur Jinri. “Dan lagi, kau harus mengurangi stok minuman bersoda di dapurmu. Aku akan membawa pulang setengahnya.”

“Karena ini tentangmu, Bong-ah. Dan ‘namaku’ juga ikut terseret!” seru Jinri kesal karena Chanyeol tak mengganggapnya serius.

Chanyeol ikut duduk di sofa. Ia menelengkan kepala memandang Jinri yang duduk di sebelahnya. “Lalu kau mau aku bagaimana? Aku populer, dan image-ku menjadi buruk karena aku tampan. Mereka menginginkan aku, lalu karena aku tak punya cukup alasan untuk menyukai mereka lebih dari semalam, mereka mulai membuat rumor macam-macam. Tidakkah kau berpikir bahwa aku hanya korban dari semua ini?” Chanyeol bertanya balik dengan nada tinggi.

“Maka berhentilah.” Jinri membalasnya dengan suara pelan dan datar. “Berhentilah selagi kau masih bisa berhenti. Jika satu dari mereka tiba-tiba mengaku mengandung anakmu, apa yang terjadi dengan masa depanmu?”

“Dan kau,” Chanyeol menunjuk tepat di wajah Jinri, “berhentilah menjadi terlalu drama.”

Chanyeol bangkit dari sofa dan melangkah geram ke arah dapur. Ia meraih botol air mineral dan menenggaknya banyak-banyak, berharap kekesalannya mereda dengan sendirinya.

“Park Chanyeol,” panggil Jinri masih dari sofa di ruang tengah.

Bola mata Chanyeol berputar. Apalagi ini, pikirnya dalam hati. Ia hanya menjawab dengan gumaman.

“Tidakkah kau berpikir rumornya terlalu spesifik?” tanya Jinri. Gadis itu melanjutkan, “Kenapa harus ‘Jinri’? Kenapa tidak hanya ‘menggumamkan sesuatu seperti sebuah nama’. Tapi satu dari mereka benar-benar mengaku kalau mendengar ‘Jinri’ dari mulutmu.”

“Memangnya kau mendengarnya langsung? Memangnya kau ada di sana?”

Jinri memutar tubuhnya menghadap Chanyeol yang duduk di salah satu kursi di meja makan yang berada di depan kulkas. “Kau tidak menganggap itu aneh?”

Aish!!” Chanyeol mengusap wajahnya frustasi. Ia menggeram, menggigit bibirnya dan menutupi separuh wajahnya dengan telapak tangannya yang besar.

Joha!” Chanyeol mengangkat wajah menghadap Jinri yang tak bisa menyembunyikan raut terkejutnya. “Di hadapanku ada seorang gadis cantik yang kusukai sejak lama. Tapi aku tidak bisa menyentuhnya. Entah aku takut melukainya atau alasan karena dia adalah teman baikku.”

Chanyeol menelan kembali umpatannya setelah jeda tiba-tiba saja menjadi penengah mereka. Jinri menatapnya tak percaya, entah marah, kesal, atau kaget. Tapi rasanya Chanyeol perlu menjelaskan sesuatu. Setelah menarik napas cukup panjang dan membuangnya pelan-pelan, ia kembali merangkai kalimatnya.

“Waktu itu, aku salah memanggil seseorang dengan namamu, Jinri-ya. Hanya seorang! Dan aku benar-benar tidak pernah berpikir itu kau saat aku melakukannyaya, yang benar saja! Untuk apa aku hanya membayangkan kalau aku bisa melakukannya? Aku hanya…, tidak tega memintanya kepadamu.” Chanyeol menutup penjelasannya dengan garukan canggung pada tengkuk sambil membuang pandang menjauhi Jinri.

Kedua mata Chanyeol terpejam lalu sesaat kemudian ia menjatuhkan kepalanya di atas meja. Ia tidak berani menatap Jinri yang masih mencerna apa yang baru saja dikatakan lelaki itu.

Dia menyukaiku.

Dia takut melukaiku.

Atau mungkin karena aku adalah teman baiknya…, lalu kenapa?

Gadis itu tersesat dalam pikirannya sendiri. Berusaha menyambungkan satu figur dengan lainnya, tapi yang didapatnya justru pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab. Ia mengangkat wajah kembali, menatap Chanyeol yang sedang menunduk dengan rambut terjambak.

“Kau tak pernah mengatakannya, Chanyeol-ah.” Jinri susah payah membunyikan vokalnya setelah berdamai dengan debar tak tentu dibalik tulang rusuknya.

“Tentu saja, Bodoh. Mana mungkin aku mengatakannya,” gumam Chanyeol tak jelas tapi cukup bagi Jinri mendengarnya.

“Kalau aku tidak tahu rumor ini, aku tidak akan pernah tahu bahwa kau menyukaiku.”

“Kau memang tidak perlu tahu.”

Wae?”

“Lalu apa yang akan kau lakukan setelah mengetahuinya?” Chanyeol mengangkat kepalanya, frustasi dengan semua ucapan Jinri yang terasa menikamnya pelan-pelan. Ia bertemu dengan sepasang mata hitam milik Jinri, yang tengah tersapu oleh kabut entah apa.

Jinri mengendikkan bahu. “Entahlah. Mungkin kalau kau meminta, aku bisa memberikannya.”

Waktu serasa berhenti. Bumi juga sama, sepertinya ia mendadak tidak berotasi. Dan di sekeliling Chanyeol terasa hampa tanpa udara sampai ia merasa sesak berlebih. Juga tubuhnya kaku. Hanya gerak bola matanya mencari sosok Jinri yang serius membalas tatapnya dengan wajah sedikit cerah.

Entah, Chanyeol tidak bisa berpikir.

Namun jangkarnya terangkat dengan sangat cepat. Waktu kembali berdetik, bumi kembali berputar, dan oksigen kembali mengisi ruang paru-parunya. Chanyeol bangkit dari stroke sesaatnya, mengerjap beberapa kali, dan menghembuskan napasnya pelan-pelan.

Chanyeol kembali pada akal sehatnya.

“Kau tak lagi penasaran dengan rumornya kan? Karena perasaanku bukan hal yang penting, jadi kurasa semuanya sudah jelas bukan?”

Chanyeol bangkit. Ia membuka kabinet di atas kompor dan menemukan totebag tipis milik Jinri yang biasa digunakannya untuk belanja. Kemudian ia membuka kulkas dan mengambil beberapa kaleng cola dari sana. Ia berbalik, berjalan mendekati Jinri. Tangannya jatuh di puncak kepala Jinri dan mengacaknya sedikit.

Jemari Jinri meraih sebelah lengan Chanyeol. “Kenapa kau menghindari topik sebelumnya, Park Chanyeol?”

“Ah, sekian lama kau memanggilku dengan nama aneh membuatku kini asing dengan namaku sendiri.”

“Jawab aku.”

Chanyeol menatap Jinri tepat di mata. “Karena itu tidak penting. Aku hanya berusaha menjelaskannya kepadamu tentang rumor sialan itu.”

“Bagaimana kalau menurutku itu penting?”

Kkeumanhe. Ini sudah lewat tengah malam. Aku harus pulang. Kalau aku terus di sini, aku takut akan terjadi hal-hal menyenangkan bagiku. Dan itu belum tentu berakhir menyenangkan bagimu.”

“Bagaimana kalau ternyata itu adalah hal-hal yang menyenangkan juga bagiku?”

“Kau tidak tahu itu apa, Min Jinri.” Sekali lagi Chanyeol mengacak rambut gadis itu, berjalan ke arah pintu, memakai sepatu Keds-nya, dan menghilang setelah bunyi berdebum.

Chanyeol kira pintu itu mujarab. Ia pikir Jinri takkan mendengarnya saat ia bergumam kecil, “Aku harus berhenti sekarang sebelum aku benar-benar tidak bisa berhenti sama sekali,” ia menelengkan kepalanya ke arah pintu di belakangnya, “jalja.”

Chanyeol berjanji, demi apapun yang bisa disumpahi, perasaannya tak salah. Ia tahu kalau satu di antara Jinri atau Baekhyun menyukai satu sama lain. Pilihannyanya jatuh kepada Baekhyun. Namun apa yang dilihatnya memberatkan kepada Jinri.

Gadis itu akan tertawa pada semua lelucon Baekhyun, dari yang garing seperti kulit ayam, atau memang yang masterpiece sampai ia sendiri tertawa terbahak. Ia akan mendahulukan Baekhyun daripada Chanyeol atau bahkan dirinya sendiri. Gadis itu bilang, ia tidak menyukai musik. Tapi ia selalu datang di pertunjukkan Baekhyun dan terlihat menikmatinya. Dan ia tidak pernah bertengkar dengan Baekhyun. Jinri terlihat lebih nyaman berada di sekitar Baekhyun dibandingkan saat bersamanya.

Chanyeol tidak cemburu. Ia justru memberi ruang bagi keduanya untuk bisa saling menyadari perasaan satu sama lain. Chanyeol berpikir bahwa tindakannya mulia. Tapi tidak terpikirkan olehnya bahwa sebetulnya ia tengah berkorban.

Jadi ketika ia mendengar Baekhyun mengatakan sendiri dengan mulutnya bahwa ia hanya menganggap Jinri sebagai teman, Chanyeol merasa separuh bebannya terangkat.

“Kau sungguh tidak menyukai Min Jinri?” tanya Chanyeol di dalam mobil. Malam itu dimana Jinri menghilang; ia tidak datang ke pertunjukkan Baekhyun dan sulit dihubungi.

“Kupikir itu kau yang menyukainya.”

“Kupikir itu juga kau.”

Heol. Aku tak menyukai temanku sendiri. Maksudku, aku tak pernah melihat temanku sebagai seorang ‘wanita’ atau ‘pria’. Teman hanyalah teman, seseorang yang akan kutemani dalam keadaan seperti apapun. Sekali saja aku melihatnya sebagai ‘wanita’, itu akan berakhir aku menyukainya. Dan kalau aku melihatnya sebagai ‘pria’, maka ia akan jadi sainganku.”

Chanyeol terkesima dengan penjelasan itu. “Jadi kau tak menganggapku pria?”

“Tentu tidak,” sahut Baekhyun kalem, “dengan teman, aku tidak akan bersaing dalam hal apapun. Yang ada justru mendukung satu sama lain walaupun apa yang kita kejar adalah hal yang sama. Aku tidak akan mengkhianati temanku.”

“Wow.” Bibir Chanyeol membulat. Ia mengangguk-anggukan kepalanya tanda paham dengan jalan pikiran Baekhyun. Ia menyalakan lampu sen dan berbelok di sebuah perempatan.

Baekhyun memulai kembali obrolan mereka. “Kau ingat, dulu kita pernah membicarakan hal yang mirip dengan ini.”

Samar-samar, Chanyeol memang ingat percakapan ini. Melihat raut Chanyeol yang mengerut, Baekhyun rasa harus me-refresh kembali ingatan itu. “Kita dulu pernah bicara bagaimana jika satu dari kita menyukai Jinri.”

“Ah, ya, aku ingat. Kenapa dulu kita bicara begitu?”

“Hmmm…,” Baekhyun menggumam pelan sambil mengelus dagu, “kalau tidak salah saat muncul rumor aku dan Jinri berkencan, dan kau dianggap sebagai orang ketiga.”

Keduanya tertawa. “Itu menggelikan sekali,” sambung Chanyeol. “Aku ingat itu.”

“Dulu dengan jiwa sok ksatria, kita mengutamakan gadis itu di atas perasaan kita masing-masing.”

“Yang terpenting adalah membuat gadis itu tersenyum dan bahagia. Perasaan kita tak lagi penting kalau itu hanya menjadi beban baginya, jadi sebaiknya kalau satu di antara kita menyukai Jinri, telan saja bulat-bulat sampai habis,” ucap Chanyeol sambil menerawang.

Baekhyun melanjutkan, “Dan jika Jinri menyukai satu di antara kita walaupun kita tidak, kita harus berusaha memulainya dengan baik. Yang penting Jinri bahagia. Urusan akan bertahan atau tidak, biar Jinri yang putuskan.”

“Itu kekanakan sekali.”

“Aku akan mengakhirinya sekarang,” ujar Baekhyun mantap, tepat ketika mobil berhenti di sebuah lampu merah.

Leher Chanyeol seketika menegang dan telinganya bergerak liar. Sebelah tangannya mencengkeram kemudi. “Maksudmu?” tanyanya dengan suara bergertar tipis.

“Aku akan bertanya pada Jinri. Kalau dia tidak menyukai satu dari kita, itu berarti kita bebas dari tanggungan itu,” ia menoleh, “aku juga akan bertanya, apa gadis itu memiliki seseorang yang disukainya di luar sana. Kalau ada dan kalau kau menyukainya—karena aku tidak—menyerah sajalah.”

Tanpa disadarinya, Chanyeol tengah menahan napas. Lampu lalu lintas sudah berubah hijau. Chanyeol memajukan perseneling dan kembali menginjak pedal.

“Akan kubuat gadis itu mengaku, Yeol-ah,” ujar Baekhyun lagi.

“Jangan terlalu memaksa. Itu akan menjadi beban baginya,” sahut Chanyeol pelan.

“Aku yakin,” Baekhyun menarik napas, “gadis itu menyukaimu.”

Tepat saat Baekhyun berkata begitu, sedan silver berhenti di halaman apartemen Jinri. Chanyeol mendesah panjang. “Jadi maksudmu aku harus bersiap dengan tanggung jawab konyol yang dulu kita buat?” tanya Chanyeol retoris, menatap balik kedua mata Baekhyun yang memburunya.

Lelaki dengan mata kecil itu tersenyum. “Itu bukan tugas yang berat kan? Selama kau punya perasaan yang sama dengannya.”

Bibir Chanyeol menganga takjub.

“Harus ada satu di antara kalian yang mengaku. Karena perasaanmu tak penting sebelum tahu bagaimana perasaan Jinri, maka harus kubuat gadis itu mengaku. Nah, kajja! Kita harus membuktikannya malam ini.”

Baekhyun membuka pintu dan melenggang masuk ke lobby apartemen. Meninggalkan Chanyeol sesaat dengan tubuh gemetar. Butuh sekian menit untuknya berdamai sebelum mengikuti langkah Baekhyun dan menepuk bahunya.

Baekhyun menoleh.

“Buatlah perasaanku menjadi penting.”

“Apa kau mabuk, Park Chanyeol?” tanya Jinri kaget saat Chanyeol mengecup bibirnya dengan tiba-tiba di lobby Hong Apartemen, malam saat Jinri menghilang, sesaat sebelum Baekhyun tiba.

Lelaki itu membeku. Ini bukan pertama kalinya ia mencium seorang gadis…, tapi ini Min Jinri. Dan detak tak jelas yang bergemuruh di dadanya adalah hal baru yang dialaminya. “Aku menyukaimu.”

Di tengah-tengah keduanya, tiba-tiba saja ponsel Chanyeol berdering. Ia mengeluarkannya dari saku dan menatap layarnya yang berkedip. Tanpa permisi, ia langsung mendekatkan benda itu ke telinganya. Setelah percakapan singkat, Chanyeol kembali mengantongi ponselnya. Jinri bisa dengan jelas mendengar suara wanita dari sana. Ia menelan ludah.

Chanyeol menatapnya balik dan mengerjap sekali. “Aku harus segera pergi,” ia melanjutkan, “kau akan menginap di sini kan? Besok pagi aku kemari.”

Chanyeol membalikkan tubuhnya dan berjalan beberapa langkah sebelum memeutuskan untuk berhenti dan menoleh kembali ke arah Jinri. Gadis itu tidak tersenyum, membuat Chanyeol dengan setengah berlari menghampirinya dan meraih tengkuk gadis itu mendekat. Dikecupnya lagi bibir Jinri dengan lembut. Ia menyalurkan semua perasaan yang disimpannya rapat-rapat selama ini.

Jinri tersenyum sebelum membalas ciuman Chanyeol yang semakin dalam. Jemari Jinri merengkuh dua bahu kokoh milik Chanyeol dan meretas jarak keduanya. Dengan sangat hati-hati, Chanyeol menghentikan tautan. Diliriknya mata Jinri masih terpejam dengan kedua bibirnya yang sedikit membuka.

Sumpah, aku bisa gila, sahutnya dalam hati dan kembali dikecupnya bibir Jinri dalam namun singkat. Sekali, dua kali, dengan kepalanya yang berputar berganti arah. Hingga di sesapan berikutnya harus terhenti karena ponselnya bergetar lagi. Chanyeol menggeram tertahan sambil menjambak rambutnya sendiri.

“Baekhyun akan datang dan bertanya sesuatu padamu,” ujar Chanyeol, “kurasa kau tidak perlu menjawabnya. Anak itu terlalu berisik, benar kan?” Ia memeluk tubuh Jinri dengan lengan besarnya sebelum kembali memagut bibir mungil gadis itu dalam-dalam.

Jinri menatap kepergian lelaki itu dengan perasaan kosong. Ada sesuatu yang hilang di sana, ia menebaknya sebagai rasa percaya. Chanyeol bukan lelaki yang menawarkan kepastian—ayolah, Min Jinri, tidak ada yang pasti di dunia ini, batinnya. Lelaki itu bahkan bisa pergi begitu saja setelah membuatnya tenggelam dalam kebingungan atas sikapnya, kalimatnya, dan pernyataannya.

Sebuah pesan masuk dalam ponsel Jinri beberapa saat kemudian yang segera menerbitkan seulas senyum. Hanya tiga orang yang tidak bisa kubantah di dunia ini: ibuku, noona-ku, dan kau. Aku pergi ke apartemen noona karena lampu kamarnya mati dan dia tidak bisa menggantinya sendiri. Sampai jumpa besok, Jinri­-ya. Jalja.

deera says : syukurlah, akhirnya kita tiba di akhir hahaha sepanjang sebelas chapter ini, kuingin minta maaf. Pertama, karena typo yang masih saja ada walau sudah diminimalisasi hehe. Kedua, karena bikin reader-nim terombang-ambing *elah* dengan nebak-nebak siapa yang bakal jadi suami Jinri (wkwk aku seneng bacain komentar kalian yang selalu bilang penasaran :p). Ketiga, karena update-nya lama hahaha.

Dan kujuga ingin bilang terimakasih banyak. Pertama, karena kalian terus ada selama sebelas plus satu chapter ini muncul. Kedua, karena kalian terus setia baca, komentar, dan menantikan chapter selanjutnya meski dibikin penasaran wkwk. Ketiga, karena kalian bertahan sampai akhir. Kuterharu dan salut sama kalian. Sini ketjup satu-satu *hearteu*

Besok mungkin akan ku-post epilog, persembahan terakhirku untuk reader setianya deera di Sweet Sparks. Sampai ketemu ya, di ceritaku yang lain :p jangan kapok kalau liat deera bertebaran lagi di EXOFF 😀

See ya! Saranghaja.

Iklan

8 thoughts on “Sweet Sparks (11+)

  1. Sebenernya sudah ketebak sih klw si chanyeol dan jinri ada rasa saling suka. Tapi gara2 embel2 teman rasa suka itu harus terkubur bertahun2 ya.
    Semoga epilognya sesuai harapan jinri yaa

  2. Kak,aq ga konek. Jd,tebakanq bner gtu? Ini bneran yeol nikahin jinri? Lha,kok jd aq yg trbengong ria, dtunggu epilognya kak, dr kmrn nunggu lanjutan.a nie, #lambai2brgbaekhyun 😀

  3. Aku baek side yang merasa sedih tapi seneng. Seneng deh ternyata Baek engga patah hati hehehehe. Aku suka sama kata-katanya. Ada banyak yang menginspirasi, aku ikutin yah buat hidup wkwkwkwkwk.

  4. aku antara kaget dan nggak kaget masa…soalnya udh pnya firasat kalo chanyeol x jinri lol. tapi ini yakin bagus banget banget banget.. dan maaf komennya baru di chapt 11 aja huhu..
    langsung cus epilog aja nih kayaknya… hhi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s