Sweet Sparks (Epilogue)

sweet sparks

Sweet Sparks

Casts of Chanyeol, Baekhyun and Jinri (OC)

Presented by deera

Friendship. Romance. Series.

Stories : Stories : Jinri’s To-Be-True Wedding Party | Chanyeol’s Everlast PainJinri’s Unavoidable Problem | Baekhyun’s Cannot-Bare Fear | Jinri’s Half-Moon-Curved Lips | Baekhyun’s Untold Feeling | Chanyeol’s Not-So-Late Freedom| Jinri’s Black Day | Baekhyun Has A Conclusion When Chanyeol Still  Has Only Hypothesis | She is Hiding Something’s Fishy, Baekhyun Knew That All Along | The Groom is… | Time Lapse

Epilogue

Setelah Chanyeol selesai dengan sidang akhirnya, sedang Jinri tengah bersiap memulai ujian untuk mendapat gelar dokter, Chanyeol datang ke rumah sakit tempat Jinri praktikum dengan seikat bunga mawar biru.

Mereka berdiri berhadapan dengan jarak yang cukup jauh, sekitar tiga sampai empat langkah. “Berapa lama kita sudah saling mengenal, Min Jinri?” tanya Chanyeol.

Mawar biru itu membuyarkan fokus Jinri. Harumnya sampai hingga ke indera penciumannya. “Mungkin…, tujuh tahun?” jawabnya ragu.

Kalau Jinri menjadi profesor dan diperbolehkan untuk membuat definisi apa itu sebenarnya entitas bernama Park Chanyeol, ia akan mendeskripsikannya seperti kilau yang terpancar entah dari mana (karena benda yang mengeluarkan cahaya alami hanya bintang, dan menyamai Park Chanyeol dengan bintang adalah hal yang mustahil) yang membuat sedikit celah dalam hati Jinri tak lagi gelap.

Park Chanyeol seperti ide segar. Ia adalah hari esok yang dinantikan Jinri, yang selalu punya kejutan dan caranya sendiri untuk membuat hatinya berdebar gugup. Juga, Park Chanyeol adalah rindu yang tak akan usai digenapkan sebelum ia menyatakan perasaannya.

“Sembilan tahun. Aku sudah mengenalmu sejak di tahun pertama sekolah dulu. Kita tidak sengaja bertukar buku catatan.”

“Ah, benarkah? Wah, ingatanmu mengerikan, Bong-ah.”

“Tidak ada yang tidak kuingat tentangmu, Jinri-ya. Dan mungkin selama itu juga aku menyukaimu.”

Heol, tidak mungkin. Kau pasti baru menyukaiku sejak kuliah kan? Jangan mengarang cerita seperti itu, Park Chanbong.”

Chanyeol  tersenyum. “Sudah kuduga kau tidak akan percaya. Joha, aku baru sadar kalau aku mencintaimu, Min Jinri, sejak kau berkata akan masuk SNU bersamaku. Kau boleh tidak percaya, tapi bagiku itu terdengar seperti sebuah harapan,” Chanyeol memberi jeda sebentar untuk menarik napas, “untukku menunjukkan perasaanku.”

Park Chanyeol dan Byun Baekhyun punya porsi yang sama di hidup Min Jinri. Ini hanya masalah timing. Kalau saja Baekhyun yang lebih dulu memuji senyumnya. Kalau saja gitar dan lagu Baekhyun yang lebih dulu didengarnya jauh-jauh hari sebelum ia mendengar petikan gitar Chanyeol di hari Rabu dari balik dinding perpustakaan. Kalau saja Baekhyun lebih memilih jurusan musik di Tokyo University, maka Jinri tidak akan menyia-nyiakan beasiswa kuliah kedokteran di kampus yang sama.

Apalagi Jinri lebih dekat, lebih sering, dan merasa lebih nyaman menghabiskan waktu bersama Baekhyun. Lelaki itu selalu muncul setelah Chanyeol sukses membuat Jinri berdebar-debar. Ritme yang sama terjadi pertama kali saat Baekhyun memuji senyumnya. Ia mendengarnya juga dari Chanyeol tapi rasanya berbeda. Seperti kau memakan sesuatu yang enak pertama kalinya, dibandingkan dengan saat kau membelinya kembali untuk kali-kali berikutnya.

Bahkan Chanyeol menyatakan perasaannya lebih dulu, dan Baekhyun setelahnya meski Baekhyun hanya bercanda. Jinri sama-sama terkejut saat dua lelaki itu mengatakan menyukainya.

“Jadi, bagaimana denganmu? Apa perasaanmu tentang aku?” tanyanya dengan senyuman.

Yang dibalas senyum yang tak kalah cerah oleh Jinri. “Akhirnya kau bertanya juga.”

Alis Chanyeol terangkat.

“Perasaanku—akhirnya kau bertanya juga bagaimana perasaanku,” jelas Jinri. “Selama ini kau hanya bilang kau menyukaiku, kau merindukanku, dan barusan kau bilang mencintaiku. Tapi kau tak pernah bertanya bagaimana denganku, jadi aku rasa tak perlu mengatakan apapun.”

“Memang tidak. Karena mencintamu saja cukup.”

Heol, jadi kau tidak mau aku membalas perasaanmu?”

“Aku tahu kau tak bisa menolak aku, Min Jinri. It has to be you and me.”

Aigo, kau percaya diri sekali. Dulu kau bahkan tak berani mengatakannya.”

“Karena aku merasa belum pantas menjadi seseorang yang bisa kau andalkan.”

Sejak lama, hati Jinri sudah menjadi milik Chanyeol.

Jinri paling suka memandangi Chanyeol saat bermain gitar. Itu cukup membuatnya nyaman. Menurut telinga Jinri, Chanyeol punya ciri khas saat bermusik. Saat ia larut dengan musik yang dibuat Chanyeol, yang didapati Jinri pertama kali adalah wajah paling meneduhkan yang pernah ditemuinya. Chanyeol selalu serius tanpa kerutan di dahi ketika ia bermusik. Seolah bersamanyalah duniamu akan bergerak maju.

Jinri menyukai letup aneh di dadanya saat memperhatikan Chanyeol. Apapun yang dilakukan lelaki itu: menggambar, membuat catatan, makan sampai tersedak, tertawa lebar, berpikir keras, tertidur, dan segala hal lain yang dilakukannya. Ia merasa kadang hidup tidak adil karena Tuhan menciptakan kisah yang terlalu sempurna bagi seseorang. Ia iri dengan Chanyeol dan Baekhyun yang memiliki mimpi besar. Ia juga iri dengan keduanya yang memiliki satu sama lain.

Seandainya Jinri bisa memilikinya satu saja, mungkin ia bisa berhenti menganggap bahwa bumi seperti sedang berputar dengan dirinya sebagai poros. Ia melihat orang-orang berpindah, sedangkan dirinya diam di tempat. Pikiran seperti itu lama-lama membuat Jinri jengah dan memutuskan untuk menyerah. Ia hanya perlu berpura-pura semuanya baik-baik saja, hingga waktunya tiba ia akan menghilang seperti tak pernah ada.

Hingga suatu hari didengarnya, “Percaya saja lah, kau tidak sendirian. Walaupun tak bisa selalu kau lihat, kau harus yakin. Setidaknya ada aku kalau kau masih ragu dan pesimis.”

Park Chanyeol berkata begitu. Ia adalah makhluk hidup yang diyakini Jinri mengandung efek candu bernama harapan.

“Selamat, Jinri-ya. Lihatlah, kau benar-benar mewujudkan bucket list-mu dalam sepuluh tahun!” sahut Chanyeol lagi.

Padahal seharusnya bukan kau yang memberiku selamat. Mungkin seharusnya kau dan aku yang diberi selamat.

Jinri tersenyum kecut. “Tidak juga, ada satu yang belum dan sepertinya tidak akan pernah terwujud.”

“Kau sudah masuk SNU bersamaku, sekarang hampir menjadi dokter, dan tahun depan kau akan menikah. Itu saja kan?”

“Aku menambahkan satu nomor lagi.”

“Apa itu?”

Jinri’s Bucket List

  1. Make my to-be-true wedding party (blue every where, dark sky, you hold my hand)
  2. Realize Dad’s willing about my future to cure illness and treat sick people (maybe he secretly told me to be a doctor)
  3. Attend medical major in Seoul National University with Park Chanbong (but he is in Architecture and Engineering)
  4. Someday (I really don’t know when) I’d tell him my feelings…, unless he told me first (this won’t ever work since he’s already confessed :p)

‘Sweet Sparks’ kkeut!

Iklan

9 thoughts on “Sweet Sparks (Epilogue)

  1. Oke fix,aq trharu.. Ini kalo tebakan.a bner ada hadiah.a kgak? Huhu.. Kak deera,bsa.a aq plg males baca chapter, tp aq ga nyesel nungguin yg nie. Thanks for this sweet story. Aq mo syukuran dlu 😀 #kibarbannerChanri

  2. Akhirnya Chanyeol juga yg bisa ngewujudin buckedlistnya jinri. Wah ternyata perasaan chanyeol dan jinri sudah lama ada. Cuma gara2 gaada yg mau ngakuinnya jadi lama deh jadiannya. Tapi gpp lah yg penting mereka sudah bahagia sekarang hehehe.
    Ditunggu ff barunya yaa

  3. Yeay epilog. Aku kira epilognya tentang Jinri sama Chanyeol yang udah nikah ternyata bukan ya, yaudah deh engga apa-apa aku suka Chanyeol manis banget kok. Tapi kayaknya masih gantung deh? hehehe bakalan ada nextnya?

  4. Ya Allah demi apa saya lgsg terharu dan pen nangis seketika membaca kalimat chanyeol
    “karena aku merasa belum pantas menjadi seseorang yang bisa kau andalkan”
    apa ya… rasanya.. begitu manly dan adem.
    bagus banget ini ffnya.. ditunggu karya2 lainnya ya.
    keep writinggg

  5. Anyeong, Kak… Maaf Aku sider dari chap pertama, karena jaringan yang sering lola jadi gak ke post terus.. Maaf ya, Kak author.. Tapi makasih banyak, ceritanya bagus, teka-teki + alurnya keren, dan bahasa nya perfeeeect ^^..
    Aku cuma masih gagal paham kenapa Bong bilang ‘gitu’ diakhir? Apa mungkin karena Chanyeol belum ngelamar Jin ri kali, yaak.. ^_^
    Semangat buat cerita lainnya, Kak… Saranghaeyo ❤

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s