Arranged Life (Chapter 1)

Poster Arranged Life

Arranged Life (Chapter I)
Cast :
– Kim Yoon Ae (OC) as Crown Princess of Republic of Korea
– Do Kyung Soo (Exo) as President’s Son of Republic of Korea
– Kim Jongin (Exo) as Prince of Republic of Korea (He’s foster child of Yoon Ae’s Aunt)

Politic – Sad – Romance – Family – School Life

also published: there

Wajib diingat : Cerita ini hanya karangan author dan tidak berusaha mengubah fakta tentang Korea. Apapun yang tercantum dalam cerita ini murni dari pikiran author. Nama tempat yang dipakai itu asli ada (sumber Wikipedia, dll) tetapi ada beberapa yang penggambarannya disesuaikan dengan keterbatasan imajinasi author gila ini. ^^

Cerita ini akan dimulai dari sebuah negara kecil di Semenanjung Korea. Negara ini dulunya terbagi menjadi tiga kerajaan besar, sebelum akhirnya ketiga kerajaan tersebut menyatu di bawah Shilla Kingdom dan menjadi satu kesatuan. Seiring berlalunya waktu setelah penjajahan Jepang, negara ini terpecah menjadi dua akibat perbedaan paham yang dianut. Korea Utara yang komunis dan Korea Selatan yang demokratis.

Di Korea Selatanlah cerita ini berlangsung.

Setelah pembagian kedua negara itu pula, paham monarki dimana seorang Raja menjadi pemimpin negara sudah tak lagi digunakan di Korea Selatan. Kini Korea Selatan dipimpin oleh seorang presiden baru – presiden yang keenam. Namun, bagaimanakah jika sisa dari monarki masih hidup di Korea Selatan? Mereka berusaha untuk mempertahankan tradisi awal mula berdirinya negara ini. Mereka berniat tetap ada, meski bukan sebagai nomor satu lagi di negara ini. Akan tetapi, bagaimanakah dengan presiden mereka? Mungkinkah sang presiden baru mengizinkan monarki tetap hidup? Padahal, presiden sebelumnya hampir saja menghapus monarki di negara itu.

Presiden yang baru akan melakukan konferensi persnya yang pertama. Dalam kilatan flash kamera yang disaksikan seluruh penduduk negara itu, sang presiden terlihat tenang dan berwibawa. Bahasa tubuhnya saat menjawab setiap pertanyaan memang sudah sempurna dimiliki seorang pemimpin negara.

Presiden Do Seung Jo, 51 Tahun, memiliki wajah yang hangat khas kebapakan. Matanya memancarkan kecerdasan dan wibawa yang luar biasa. Beliau adalah pria dengan pendirian yang kuat, cerdas dan tentu saja mengutamakan norma-norma negara dalam segala hal.

“Bagaimana perasaan Anda, Bapak Presiden?”

“Program apa yang pertama akan Anda lakukan?”

Dan masih banyak lagi pertanyaan yang diajukan oleh puluhan wartawan di Kantor Pemerintahan sore itu. Setiap pertanyaanya dijawab dengan lugas oleh sang presiden. Hingga pertanyaan seorang wartawan dari kerajaan yang memang sangat ditunggu-tunggu oleh khalayak umum.

“Apakah Anda akan mempertahankan keluarga kerajaan, Bapak Presiden?”

Mendadak suasana menjadi hening. Sangat hening. Wakil Presiden membisikkan sesuatu ke telinga Presiden Do.

“Ini belum terlambat untuk merubah keputusan Anda, Presiden,” bisik Wapres Lee.

Mereka berdiskusi cukup serius dengan beberapa petinggi yang juga duduk bersama mereka di meja panjang. Akan tetapi, sepertinya Presiden Do sudah memiliki keputusan sendiri. Ia mengangguk kepada para relasinya dan membenarkan letak mikrofonnya kemudian…

“Untuk masalah itu—”

Balai Huijeong, Istana Changdeok, malam sebelum konferensi pers sang presiden baru.

Balai Huijeong, aula tempat berdiskusi Raja dan para menterinya (kini disebut pejabat kerajaan). Di dalam Balai Huijeong berkumpul beberapa pejabat kerajaan dan pejabat pemerintahan termasuk Jubir Presiden Do. Mereka mengelilingi meja oval dan saling berdiskusi satu sama lain. Di sudut ruangan terdapat potret besar Raja dengan seragam hitam kerajaan. Raja adalah pria berumur 50 tahun, berwajah tegas namun hangat. Ia memakai kacamata bulat kecil dan memiliki postur sedikit lebih tinggi dari Presiden Do. Ketika aba-aba menandakan Raja memasuki ruangan bersama orang terdekatnya, mereka semua berdiri dan memberi hormat pada Raja Kim. Setelah Raja duduk di kursi kepala, ia memberi isyarat kepada para tamunya untuk duduk.

“Yang Mulia, Saya bermaksud untuk menyampaikan pesan dari Bapak Presiden. Beliau bermaksud untuk bertatap muka lewat video call. Apa Yang Mulia bersedia?” Kata Lee Hyun Woo – Jubir Presiden.

“Silahkan, Tuan Lee.” Raja Kim mempersilahkan Jubir Lee dan beberapa staff menyiapkan segala sesuatunya.

“Yang Mulia… Apa Anda sudah siap jika beliau menolak?” Tuan Jung, juru bicara kerajaan – pria hampir berusia 70 tahun – yang duduk paling dekat dengan Raja berbisik kepada Raja Kim.

“Selalu ada penyelesaian di setiap perkara, Paman… Aku percaya pada ini.” Raja Kim menunjuk dadanya sendiri dan tersenyum hangat pada orang terdekatnya itu yang selalu ia anggap pamannya sendiri.

“Saya selalu di pihak Anda, Yang Mulia.” Tuan Jung menundukkan kepalanya penuh hormat.

“Terima kasih, Paman.” Raja Kim tersenyum.

“Bapak Presiden sudah siap, Yang Mulia,” kata Jubir Lee.

Semua pejabat kerajaan, pemerintahan, termasuk Raja Kim memberi hormat kepada presiden baru mereka. Pertemuan ini tentu saja untuk membahas nasib keluarga kerajaan. Meskipun dalam kampanyenya Presiden Do memberikan sinyal bahwa ia akan mempertahankan simbol negara itu, tetap tak ada jaminan para politikus dibawahnya sependapat dengan presiden. Apalagi, Presiden Do juga didukung oleh Partai Demokrasi yang dari dulu memang menginginkan monarki dihapus, meskipun hanya sebagai simbol negara.

“Kami mengucapkan selamat atas terpilihnya Anda, Bapak Presiden. Sungguh sebuah kehormatan bagi kami, bahwa Anda dapat bertatap muka dengan kami sekarang.” Raja Kim memberi salam pada layar besar yang menampilkan wajah Presiden Do dan beberapa pejabat pemerintahan yang lain. Sepertinya mereka sedang berkumpul di ruang rapat sebuah gedung milik pemerintah.

“Terima kasih, Yang Mulia. Saya juga sangat senang dapat bertatap muka kembali dengan Anda. Saya minta maaf kita harus bertemu kembali dengan cara seperti ini. Sebenarnya saya ingin bertatap langsung,” balas Presiden Do.

Setelah beberapa kata basa-basi, pembicaraan mulai masuk pada pokok yang sebenarnya. Banyak yang menghela napas melihat diskusi antar pemimpin negara itu. Perundingan sepertinya berjalan alot. Hingga pada akhirnya.

“Bisakah kita bicara empat mata, Yang Mulia?” permintaan Presiden Do membuat semuanya terkejut, termasuk Raja Kim. Susasana mendadak menjadi hening. Raja Kim melihat dari layar seseorang yang sepertinya keberatan dengan permintaan presiden. Begitu juga dengan Tuan Jung yang membisikkan sesuatu kepada Raja Kim.

“Bukannya bermaksud untuk berpikiran jelek tentang presiden kita, Yang Mulia… Akan tetapi, lebih baik Anda membawa satu saksi,” bisiknya serius.

Raja Kim setuju.

“Dan kau saksinya, Paman.”

Raja Kim memberi isyarat untuk tenang kepada semua yang ada di ruang rapat. Namun, bagian kesejahteraan keluarga kerajaan, Tuan Park—Pria berkumis tipis, Bagian Kesejahteraan—menyela Raja Kim.

“Dengan segala hormat, Yang Mulia. Bukankah lebih baik jika kita semua mendengarnya?”

“Tuan Park, tak akan ada pesan yang tak akan aku sampaikan. Tolong semuanya keluar, kecuali Tn. Jung” jawab Raja Kim tenang. Semburat kekecewaan terlihat dari wajah Tuan Park, tetapi ia menurut dan keluar bersama yang lain. Begitu juga terlihat di layar kalau Presiden Do menyuruh semuanya keluar ruangan.

Setelah sepi…

“Saya bersumpah bahwa di ruangan ini hanya ada saya dan wakil presiden Lee, Yang Mulia.” Presiden Do kembali mengawali pembicaraan.

“Begitu juga kami, Pak Presiden.”

“Baiklah… Bagaimana kalau kita mulai bernegoisasi?” lanjut Presiden Do sambil meremas kedua tangannya, “Mengenai keluarga kerajaan, saya hendak menyampaikan suatu saran dan saya harap Yang Mulia berkenan.”

“Silahkan.”

“Menurut jajak pendapat yang dilakukan oleh Menteri Kebudayaan, saya rasa Anda juga sudah tahu bahwa sebagian rakyat menginginkan keluarga kerajaan tetap ada persentasenya hampir 88%. Saya menyadari kontribusi besar kerajaan terhadap perekonomian negara, entah itu di sektor perdagangan maupun pariwisata, kerajaan juga menanamkan saham-saham yang cukup besar di instansi-instansi pemerintah maupun swasta. Akan tetapi Yang Mulia, berdasarkan jajak pendapat di lingkungan politik yang menginginkan keluarga kerajaan tetap ada hanya 38%…” Presiden Do menghela napas panjang. Tuan Jung memandang Raja Kim dengan penuh arti. Raja Kim berdeham sekilas dan membalas.

“Saya menghormati semua keputusan Anda, Bapak Presiden. Berdasarkan persentase yang kami miliki dari rakyat sebesar hampir 88% itu dan karena Anda adalah pilihan rakyat, Saya harap Anda memberi keputusan yang tepat.” Raja Kim hanya mengatakan itu saja, namun sudah membuat Presiden Do tersenyum.

“Anda jeli sekali, Yang Mulia,” bisik tuan Jung.

Setelah berdiskusi dengan Wapres Lee, Presiden Do melanjutkan negoisasinya.

“Keputusan saya adalah begini, Yang Mulia—”

Daejojeon. Kediaman putri mahkota yang telah di renovasi dengan gaya barat. (penggambaran ruangan ini karanganku)

Di kamar terpisah milik putri mahkota, Yang Mulia Ratu sedang berdiskusi sendiri dengan putri mahkota. Kamar itu sangat mewah dengan campuran desain eropa klasik dan kerajaan yang di dominasi warna merah marun dan kuning emas di tiang pualamnya. Ranjang besarnya ditutupi selimut kuning emas.

Yang Mulia Ratu Jung berwajah menarik dengan garis pipi yang tegas. Pembawaanya anggun, namun penuh perhatian. Ia mengenakan Hwangwonsam (Pakaian ratu sehari-hari) dengan Jeogori (baju) berwarna biru tua berlukiskan bunga-bunga berwarna kuning emas dan Chima (Rok) berwarna merah.  Rambutnya disanggul sederhana yang membuatnya semakin menawan. Sebagaimana Ratu pada umumnya, ia menyukai kesempurnaan dan ketaatan terhadap peraturan. Seperti yang sedang ia lakukan terhadap putri mahkota.

Ratu duduk di pinggir ranjang milik Putri Mahkota berhadapan dengan putrinya, “Dengar Yoon Ae, jika akhirnya keluarga kerajaan harus terhapus maka kau akan bersekolah di Amerika bersama Bibi Kim. Pada saatnya setelah semua selesai, kami akan menyusulmu,” nasehat Ratu Jung menatap putrinya lekat-lekat. Sorot matanya jelas bahwa ia sangat ingin semua kata-kata dan keputusannya dilaksanakan.

“Tapi, Ibu. Kenapa harus ke Amerika? Aku berkeinginan untuk sekolah di sini.” Putri Mahkota mencoba menolak. Ratu Jung menghela napas. Sebagai seorang ibu, ia tak tega melakukan ini pada putrinya. Beliau sadar putri semata wayangnya telah dan kembali mengalami hal berat yang seharusnya tak ia tanggung. Bagaimanapun, ini untuk kebaikan semuanya.

“Yoon Ae, itu keputusan Raja dan aku,” jawab sang Ratu tegas, tak ingin ada penolakan lain, kemudian Ratu berdiri, “kita semua bersiap untuk kemungkinan terburuk, Yoon Ae. Kita sudah pernah membicarakannya dan kau harus mengerti.” Ratu Jung melangkah keluar diikuti beberapa dayang tanpa mau mendengar penolakan lagi.

Kim Yoon Ae’s Pov

Aku, Kim Yoon Ae, 17 tahun, Putri Mahkota Korea Selatan. Seperti yang kita ketahui dan lihat di drama-drama maupun film tentang kerajaan bahwa hidup seorang anggota keluarga kerajaan selalu diatur, diarahkan dan dibuat sebagai contoh untuk yang lain (rakyat). Akan tetapi, kami tak pernah hidup dengan saling mendengar keinginan satu sama lain. Bahkan mungkin, kelahiran kami telah diatur oleh Tuhan sebagai manusia-manusia yang sanggup “diatur” oleh adat yang kami buat sendiri. Ibu selalu bilang bahwa dia dulu juga seperti itu, tunduk patuh oleh perintah kakek yang seorang bangsawan hingga akhirnya ia menjadi ratu yang sangat disegani. Ibu selalu membuat dirinya sebagai contoh di hadapanku.

Tapi aku bukan dirinya! Aku selalu berharap ia akan mendengarku, sekali saja mendengarkanku, mendengarkan hal yang ingin aku lakukan sekali saja. Selama 17 tahun aku hidup, mulai dari sekolah, baju, kehidupan sosial, ibuku selalu mengaturnya. Begini, begitu, seperti ini dan seperti itu. Tidak boleh begini, kau harus begitu dan bla bla bla… Aku bahkan tak bisa memilih warna baju kesukaanku sendiri. Dan kali ini aku akan disembunyikan di Amerika, kalau tak ingin disebut sebagai pembuangan.

Aku ingin sekali mendengar apa yang sedang Ayah bicarakan bersama presiden saat ini di Balai Huijeong. Kalau perlu, aku juga ingin menyampaikan sesuatu pada presiden. Timbul satu pemikiran gila di benakku yang kalut, kalau benar keluarga kerajaan akan dihilangkan, ingin sekali aku memohon kepada Presiden untuk tetap berada di Korea dengan surat bermaterai kalau perlu. Supaya Ibu tak lagi memaksaku untuk pergi ke Amerika.

Aku meremas kertas pengumuman ujian masuk SMA-ku dan menghempaskannya kasar ke lantai. semuanya sia-sia kulakukan untuk bisa sekolah di sini. Aku mulai mondar-mandir di dalam kamar, meremas-remas tangan sambil memikirkan aku harus dideportasi dari negaraku sendiri. Menyedihkan! Seandainya aku akan menjadi “Mantan Putri Mahkota”, akan seperti apa reaksi teman-teman di sekolah nanti? Mungkinkah aku akan dibully dengan panggilan itu. Sepertinya mengirimku ke Amerika memang tujuan yang bagus.

“Pangeran Kim datang, Yang Mulia. Dia ada di beranda.” Dayang Choi memberitahuku (dayang berusia 32 tahun dan paling cantik di istana. Kulitnya bersih, wajahnya mungil, tapi seperti ibuku, ia memiliki mata yang selalu awas dalam hal taat peraturan). Seakan ada semangat baru, aku langsung bergegas keluar kamar dan menemui sepupu angkatku yang sedang duduk di balkon kediamanku. Dayang Choi sepertinya hendak memberi isyarat “jangan lari-lari, Yang Mulia” tapi aku sedang tak mau memperhatikan kesopanan.

“Jongin…” Aku memanggilnya dengan nada seperti lama tak bertemu. Mungkin terdengar sedikit memelas. Dia tersenyum memandangku.

Kim Jongin, 18 Tahun, dia Pangeran Korea Selatan, tapi ia bukan putra mahkota karena dia adalah anak angkat Bibi Kim, kakak perempuan ayahku. Alasan bibi mengangkatnya sebagai anak adalah karena bibi tidak menikah. Ia lebih memilih sendirian seumur hidupnya daripada jika ia memiliki suami nantinya akan memiliki masalah tahta dengan ayahku. Yah, begitulah keluarga kerajaan. Mereka bahkan diatur dalam masalah perasaan.

Tapi aku bersyukur bibi mengadopsi Kim Jongin—si cowok coklat susu–adalah anak laki-laki dengan pemikiran yang dewasa, pintar, badannya juga tegap dan atletis. Dia sangat cocok menjadi pangeran. Belum lagi dia adalah saudara yang sangat baik, meskipun kami sama-sama tahu bahwa kami tak memiliki hubungan darah. Satu rasa syukurku yang sangat besar adalah memilikinya sebagai oppa. Meskipun aku tak pernah memanggilnya oppa. Aku tak pernah banyak bicara, bahkan dengan ibuku maupun Dayang Choi yang telah menjagaku sejak 10 tahun lalu. Aku lebih banyak bercerita dengan Jongin, begitupun sebaliknya. Kali ini Jongin memakai celana jeans warna keki dan kemeja longgar putih pucat yang ia masukkan ke celana bersabuk coklat tuanya.

“Kau seperti baru saja melihatku, Yang Mulia,” Jongin menyeringai sedikit menyebalkan sambil memberi hormat. Aku memukul pelan lengannya, masih bisa dia tertawa di atas rasa galauku.

Hei!

“Bersikaplah seperti seorang putri. Anda tak boleh memukul, Yang Mulia,” nasehatnya. Kami duduk saling berhadapan di balkon kediamanku.

“Kai, kau tahu ibuku akan mengirimku kemana, bukan?” aku menatapnya lama, nada suaraku berubah. ‘Kai’ panggilan khusus untuknya, hanya aku dan Bibi Kim yang memanggilnya begitu.

“Saya tahu… Lebih baik begitu, kau akan aman di sana, Yang Mulia.” Dia menjawab masih dengan diplomatis. Begitulah, kami tak mungkin bercanda berlebihan satu sama lain. Lebih tepatnya tidak diperbolehkan.

“Kau juga berfikir begitu?” tanyaku pelan.

Aku menunduk. Sudah tak ada lagi yang menahanku. Air mataku nyaris menetes. Entah dengan siapa lagi aku mencari seseorang yang dapat menahanku untuk tetap tinggal. Meskipun besar kemungkinanku dibully, aku tak mau meninggalkan rumahku. Aku tak punya sahabat selain Kai di sekolah. Karena, para gadis tak mau dekat-dekat denganku apalagi anak laki-laki. Mereka tak mau berurusan dengan keluarga kerajaan. Aku sudah cukup tertekan sampai sekolah menengah pertama. Ayah pernah menyuruhku untuk home schooling, tapi aku menolaknya. Aku tak mau lebih lama berada di dalam “kandang emas” dan segala peraturannya. Setidaknya aku masih bisa melihat dunia luar meski sebentar.

“Kalau… kalau aku tak boleh kembali ke Korea lagi bagaimana?” Aku menunduk dengan bergumam sangat jelas. Sedikit terlihat posisi duduk Kai yang bergeser karena terkejut.

Tidak mungkin!” Kai berteriak seketika dengan bahasa non-formal. Ia perlahan menahan bahuku supaya wajah ku menatapnya. “Tidak mungkin. Kau pasti kembali. Pasti. Ini hanya sementara.” Ia berkata dengan penuh keyakinan. Aku menggenggam pelan tangan kiri Kai dan tersenyum lemah.

“Kuharap begitu—” bisikku lesu.

Masih sebelum konferensi pers presiden baru.

APA?! Kenapa Ayah tak mendiskusikan hal itu dulu kepadaku, Ibu?” Do Kyungsoo tersentak kaget dan menjatuhkan buku pemerintahan yang sedang ia baca. Ia bangkit dari duduknya di ruangan belajar yang didominasi warna coklat milik keluarga. Kyungsoo menghampiri ibunya yang duduk di seberang ruangan sambil meminum teh.

Nyonya Do—atau lebih tepatnya Ibu Negara—memilin pegangan cangkirnya dengan halus kemudian meletakkanya di meja. Kyungsoo duduk kasar di depan ibunya dan mencopot kacamata bacanya. Ia menunggu jawaban dari sang Ibu. Nyonya Do, wanita penuh wibawa berusia 45 tahun, memiliki wajah oval dan berambut coklat tua dipotong sangat pendek. Ia adalah ibu negara dengan selera fashion yang baik. Sederhana tapi berkelas. Ia juga sangat dihormati sebagai pemilik yayasan Seongwoon University Hospital dan beberapa yayasan amal lainnya. Nyonya Do menatap putra satu-satunya dengan seksama.

“Ayahmu selalu penuh kejutan,” jawab ibunya santai sambil menyilangkan kakinya.

“Benar! Tapi itu rencana gila, Bu. Rencana paling gila yang pernah Ayah  kemukakan!” Kyungsoo nyaris berteriak kepada ibunya. Kyungsoo memang pendiam, tapi suka meledak-ledak jika menghadapi sesuatu yang tak masuk akal (menurutnya).

“Kyungsoo!” Nyonya Do memperingatkan Kyungsoo agar bersikap lebih tenang.

Kyungsoo bersandar lemah ke sofa. Wajahnya benar-benar frustasi. Ia tahu. Sangat tahu. Ayah punya mimpi besar untuk memimpin negara ini. Kyungsoo setuju. Ayah orang hebat di matanya sejak ia kecil. Ia selalu ingin seperti ayahnya. Memegang prinsip dengan tegas dan menjadi pria cerdas dan dihormati. Bersama ibunya, Ayah Kyungsoo membangun banyak yayasan amal. Ayah Kyungsoo menolak masuk militer yang sepertinya sudah menjadi tradisi di keluarganya. Ia lebih memilih menentang orang tua dan mengikuti kata hatinya dan bekerja di bidang sosial. Itulah yang membuat Kyungsoo sangat menghormati dan mengagumi Ayah. Namun  sekarang, ia sadar ia tak bisa seperti Ayah. Ia tak mungkin bisa melawan kehendak ayahnya, meskipun hatinya menentang.

“Dengar Kyung-ie, kelak kau akan tahu untuk apa semua ini. Bukan sekarang, karena kau masih terlalu muda…” Nyonya Do berkata lembut.

Anak laki-laki itu menatap ibunya. Benar! Mana mungkin  Ibu memihaknya. Ibu selalu siap di belakang Ayah dan selalu mendukung gagasan Ayah. Ia wanita cerdas. Wanita cerdas yang membuat pria hebat seperti Ayah mencintainya. Kali ini, ia sendirian. (Ia selalu sendirian.) Sendirian untuk menghadapi bahwa ia kembali diatur dan tak ada seseorang pun memihaknya.

Konferensi Pers Presiden.

Wartawan dan reporter berita saling pandang dengan gagasan presiden. Bahkan mereka seperti melupakan tugas mereka untuk mencatat dan memotret. Presiden Do baru saja menyatakan keputusannya mengenai kelangsungan keluarga kerajaan. Dia mengakhirinya dengan kalimat singkat.

“Semoga seluruh rakyat mendukung keputusan kami. Terima kasih atas dukungan dan partisipasi Anda sekalian. Selamat malam,” Presiden Do berdiri dan membungkuk sekilas ke arah wartawan yang sepertinya kembali tersadar dan langsung meneriakkan pertanyaan lain, kilatan flash kamera juga semakin brutal.

“Sebentar, Bapak Presiden!”

“Bisa tolong lebih dijelaskan lagi, Bapak Presiden?!”

Teriakan-teriakan lainnya semakin keras. Wartawan juga coba merangsek ke depan ketika Presiden Do tak menjawab dan pergi menuju pintu dibalik meja panjang diikuti para pejabatnya. Membuat para bodyguard terpaksa mendorong tubuh wartawan-wartawan itu.

Di ruang tengah Nakseonjae (kediaman Raja dan Ratu – berseberangan dengan Daejojeon)

Raja, Tuan Jung dan Ratu melihat televisi siaran langsung konferensi pers presiden bersama-sama. Keputusan Presiden Do tentang nasib keluarga kerajaan membuat beberapa Dayang dan Tuan Jo—pria 60 tahunan, bagian pengawas kedisiplinan Dayang dan istana–yang duduk dibelakang Raja terkejut. Mereka berpandangan satu sama lain. Pikiran mereka sama. Kenapa Raja melakukan itu terhadap Putri Mahkota?

Ratu melirik sekilas wajah Raja yang terlihat sedikit tegang. Raja menatapnya dengan sekali anggukan.

“Yoon Ae akan mengerti. Dia putri yang bijaksana,” kata Raja kepada Ratu.

“Ya,” Ratu hanya menjawab singkat dan menyilangkan kedua tangannya gelisah.

“Yang Mulia, saya yakin putri mahkota sedang shock sekarang. Apa salah satu dari Yang Mulia tidak pergi untuk melihatnya?” Tuan Jung memberi masukan, namun Raja menggeleng.

“Aku tak sanggup menemuinya, Paman. Aku bersalah padanya. Cukup banyak kali ini.”

Ratu Jung mengusap pelan bulir air mata yang menetes di pipinya. Ia merasakan hal yang sama seperti Raja. Ia tak sanggup menemui putrinya kali ini. Ia bahkan tak yakin ia tak menangisi keputusan Raja kali ini. Bagaimanapun ia seorang Ibu dan ia turut bersalah dengan keputusan ini. Raja menggenggam erat tangan Ratu. Semua yang ada di ruangan itu hanya membisu. Raja menatap Presiden Do yang meninggalkan Konferensi Pers di layar televisi.

Ruang tengah Daejojeon.

Dayang Choi dan dayang junior yang berdiri di belakang kursi tempat putri menonton konferensi pers presiden khawatir melihat kondisi putri mahkota mereka. Yoon Ae duduk tegap di kursinya. Matanya menatap tak percaya ke layar Televisi. Ekspresinya seperti gadis yang tak tahu apa-apa dan dibodohi. Pikirannya kalut. Lebih kalut dibandingkan saat ibunya menyampaikan gagasan tentang Amerika.

Haruskah Ayah dan Ibu melakukan ini? Membuatnya sebagai barang pertukaran?! Hatinya benar-benar hancur! Kenapa ia harus dilahirkan menjadi putri?! Untuk pertama kali dalam hidup, Yoon Ae benar-benar marah pada Tuhan yang menjadikannya seorang putri! Air matanya mengalir deras, namun ia tak menghapusnya. Ia masih menatap televisi dengan nanar. Kenapa orangtuanya melakukan itu? Ini diluar batas! Bahkan tak ada perundingan dengannya, meskipun ia tahu pasti pendapatnya tak dianggap apa-apa!

“Yang Mulia…” Dayang Choi memanggil pelan sambil menghampiri Yoon Ae.

“Tinggalkan aku sendiri malam ini… Tolong,” Yoon Ae berkata pelan sambil masih menatap kosong ke layar.

“Yang Mulia jika Anda ingin—”

“Dayang Choi!” Yoon Ae menghela napas dan memjamkan matanya sejenak, “Aku ingin sendiri… Aku mohon,” ratapnya.

Dayang Choi menatapnya prihatin. Ia memerintahkan para dayang junior keluar dari Daejojeon.

“Jika Anda berubah pikiran, saya ada di luar,” kata dayang Choi penuh hormat.

“Tidak. Kalian beristirahatlah. Aku juga mau tidur.” Yoon Ae berjalan memasuki kamarnya. Dayang Choi menatap punggung Yoon Ae dengan iba.

Bahkan orangtua Anda tidak datang kemari. Kuatlah, Yang Mulia.” gumam Dayang Choi pelan sehingga Yoon Ae tak mendengarnya.

Di kamar tidurnya, Yoon Ae ambruk ke atas ranjang. Ia memukul bantal berulang kali dan terisak.

“Ibuuu… Ayaaahhh… Kalian… Kaliaaan…” Yoon Ae terisak dan tersedu sendirian. Dadanya benar-benar sesak sampai kerongkongannya sakit. Ingin berteriak, tapi suaranya tak keluar. Ia lupa bagaimana caranya melampiaskan kesedihan dan kemarahan. Ia lupa kapan terakhir kalinya ia berteriak. Yoon Ae tak pernah merasa sangat kecewa seperti saat ini.

Yoon Ae lama terisak sendirian. Setelah lelah, ia tertidur. Berharap dalam mimpinya ia bukan seorang putri mahkota. Berharap ia memiliki orangtua yang selalu mempertimbangkan pendapatnya. Berharap ia bukan seorang… Yoon Ae.

Huwon, bangunan di belakang bangunan utama Istana Changdeok, tempat kediaman Kai dan Bibi Yoon Ae.

“Woohyun (nama asli raja) bahkan tak memberitahuku hal ini.” Bibi Kim memijit pelipisnya. Beliau sangat terkejut dengan keputusan presiden tadi.

Kai yang duduk di hadapan ibu angkatnya hanya menunduk. Ia yakin Yoon Ae juga baru tahu hal ini. Menyakitkan mengetahui hal sebesar ini – yang akan merubah hidupnya – malah dari orang lain, bukan dari orangtuanya. Kai tahu, Yoon Ae pasti sedang kalut sekarang. Ia mengepalkan tangannya dan memukul-mukul pelan lantai kayu kediamannya. Matanya menatap marah ke lantai. Ia bisa apa? Ia bukan siapa-siapa. Meskipun pangeran, ia hanya anak angkat. Meskipun pangeran, ibu angkatnya tak berhak ikut campur urusan apapun di istana—keputusan dewan istana yang konyol, pikir Kai  Mengingat ibu angkatnya, Kim Jihyun, adalah wanita yang sama cerdasnya dengan ratu dan Ibu Negara. Kenapa Ibu harus hidup dengan kondisi ‘ada tapi tiada’ seperti ini? Untuk apa pendidikan dan usaha Ibu selama ini? Dan dia, kenapa bukan anak kandung ibunya saja? Sehingga ia yang akan menjadi penerus raja tanpa keputusan Raja dan presiden yang keterlaluan tadi. Keputusan tadi tak akan pernah menyakiti Yoon Ae jika Kai adalah putra mahkota yang sah! Bahkan mungkin keputusan tadi tak pernah ada! Kai kecewa ia seperti ‘ada tapi tiada’ yang tidak berguna! Untuk pertama kalinya Kai benar-benar marah kepada Tuhan yang membuatnya dan Yoon Ae memiliki nasib seperti ini!

Ruang Keluarga Presiden Do.

Warna putih mendominasi ruangan ini. Foto keluarga, foto bersama kolega dan beberapa plakat berderet di sepanjang meja yang membentang dari ujung ke ujung ruangan. Ruangan itu lengang, hanya Kyungsoo yang duduk di sana. Di depan televisi, menyaksikan Breaking News yang muncul di semua channel setelah Konferensi Pers ayahnya, sang presiden baru. Kyungsoo melempar bola bisbol pertama yang ia pukul saat sekolah dasar ke sembarang arah. Untungnya tak mengenai apapun.

Do Kyungsoo mengetuk pelan kepalan tangannya ke meja kaca. Jika ia bisa, jika ia boleh, ia akan menghancurkan meja kaca di depannya dengan tangannya. Namun, ia tak mampu. Ia tak bisa dan ia tak boleh!

“Laki-laki yang bijak tak suka kekerasan, Kyung-ie…”

Ia ingat kata-kata Ayah saat ia membanting tempat pensilnya—waktu ia sekolah dasar—karena ia tak berhasil menghapal pelajaran sejarahnya. Ia ingat nasehat-nasehat bijak Ayah yang lain. Ia ingat elusan tangan Ayah di kepalanya. Ia ingat ketegasan Ayah saat ia menolak sekolah di luar Korea.

“Banggalah dengan semua milik kita sendiri! Kenapa harus ke luar negeri?! Ayah tak setuju!”

Kyungsoo menurut, ia akhirnya masuk SMA lokal jurusan hukum. Kyungsoo selalu menurut. Kyungsoo tak pernah mengumpat apapun pada keluarganya. Tetapi untuk yang ini, ia berpendapat ayahnya melanggar batas! Ia marah! ia kecewa pada dirinya sendiri. Matanya merah menahan tangis frustasi. Kyungsoo sangat marah! Dadanya sampai terasa sulit untuk bernapas.

Untuk pertama kalinya Kyungsoo benar-benar marah kepada Tuhan! Kenapa ia tak menjadi lebih berani mengungkapkan isi hatinya? Kenapa ia diam saja diatur seperti ini? Ia marah menjadi pria yang terlihat memiliki dan bisa segalanya, tapi ternyata bodoh! Ia marah kenapa ia menjadi Do Kyungsoo!

“Kami memutuskan, sesuai dengan permintaan 88% dari rakyat Korea, bahwa mereka ingin keluarga kerajaan tetap ada. Akan tetapi, keluarga kerajaan sudah tak memiliki penerus. Keluarga kerajaan tak memiliki anak laki-laki. Maka untuk apa dipertahankan?

“Itulah yang membuat 62% anggota parlemen kami menolak adanya keluarga kerajaan. Namun, kami melihat dari nilai historis dan kontribusi besar keluarga kerajaan terhadap Negara. Dan saya pribadi, yang sangat mencintai Negara ini, akan mempertahankan apapun yang membuat Negara ini bernilai! Saya dan Raja telah mengambil jalan tengah dengan melakukan pernikahan putri mahkota dan putra saya. Sehingga keluarga kerajaan tetap memiliki penerus dan Negara tak kehilangan aset berharganya. Pernikahan kerajaan akan dilakukan secepatnya setelah perundingan berikutnya.”

Kata-kata tegas Presiden Do dimuat di semua surat kabar nasional, dikumandangkan di setiap breaking news semua stasiun televisi. Ditanggapi seluruh pimpinan negara yang menjalin kerjasama dengan Korea dan menjadi salah satu keputusan terbesar dalam sejarah negara itu.

-tbc

© Miss Candy

3 thoughts on “Arranged Life (Chapter 1)

  1. Bagus
    Pas baca penasaran dan nyoba nebak” apakah mereka dinikahkan ?, trs teringat drama “princess hour”, karna sama” kerajaan gitu
    Ternyata bener mereka dinikahkan
    Ditunggu next chapnya ya🙂

  2. yey aku suka cerita tentang kerajaan berasa nonoton drama princess hour dalam versi berbeda…. aku reader baru salam kenal dan ijin baca…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s