PUTUS (Drabble)

Putus (Poster)

PUTUS

A drabble by Nadyaputri

Starring Kris (EXO) x Charlotte Han (OC)

Romance • Slice of life • Angst

General

I own nothing except the OC and the plot.

This is also published in some other blogs with different casts.

  • ••

Level tertinggi mencintai adalah merelakan dia bahagia bersama orang lain.

Level tertinggi bullshit adalah kalimat barusan.

  • ••

“Char, kamu lebih nyaman kita sebelum pacaran atau setelah pacaran?”

Charlotte menghentikan kegiatannya menyuap kue beras ke mulut dan mengalihkan pandang ke laki-laki bersurai kecokelatan di sebelahnya. Mereka sedang duduk bersantai di taman, menikmati snack masing-masing dengan normal, dan kemudian Kris menanyakan pertanyaan aneh seperti itu. Ada yang tidak beres.

“Memangnya kenapa, Kris?”

“Tidak ada apa-apa, Char, jawab saja.”

Kening gadis Han itu berkerut samar. “Hmm, sepertinya sama saja. Kau tetaplah Kris yang sama.”

“Kalau begitu kita balik lagi seperti sebelum pacaran saja, ya, Char?”

Oke, kali ini Charlotte bersyukur karena mulutnya tidak sedang melakukan kegiatan mengunyah, karena jika iya maka dipastikan dia akan tersedak mendengar kalimat Kris barusan. Sudah kuduga ada yang tidak beres.

“Maksudnya bagaimana?”

Kris mengangkat bahu sekenanya. “Ya kembali lagi seperti sebelum kita pacaran, Charlotte. Tidak usah ada panggilan sayang, tidak usah kencan berdua seperti ini.”

Mendadak Charlotte sakit kepala dibuatnya. Lelaki yang baru saja menyatakan cinta padanya tiga minggu yang lalu ini sekarang ingin memutuskannya atau bagaimana? Kenapa kalimatnya berbelit-belit sekali?

“Kris, aku tidak mengerti.”

“Kamu pasti mengerti, Char.” Kris berdiri dari duduknya, bersiap meninggalkan areal taman. “Maafkan aku.”

Mulai dikuasi emosi, genangan cairan bening di pelupuk mata Charlotte jatuh satu-satu. “Apa ada yang salah, Kris?”

Kris memalingkan muka, tak sanggup melihat isakan gadisnya. Ups, ralat, per beberapa menit yang lalu resmi sudah bukan gadisnya lagi. “Tidak, Charlotte. Sama sekali tidak ada yang salah denganmu. Kamu manis, baik, pengertian, hanya saja… Sudahlah. Maaf, Char, aku tidak bisa mengatakannya.”

“Kenapa, Kris? Ada orang lain, ya?”

Pertanyaan yang disampaikan dengan nada halus itu berhasil membuat Kris kehilangan kata-kata. Tepat sasaran rupanya. “Kalau kusampaikan alasanku, apa kamu tidak tambah sakit hati?”

“Baiklah, Kris. Tidak perlu. Aku sudah tahu. Masih ada dia kan?”

Lagi, tak mampu Kris menatap manik sewarna kayu milik Charlotte Han. “Sorry Char, I’m still living in the past.”

Pahamlah Charlotte tanpa Kris harus menjelaskan lebih lanjut. Benar, ada orang lain. Dan Charlotte paham betul siapa orang itu. Orang yang lebih dahulu datang ke kehidupan Kris dibanding Charlotte, yang bayang-bayangnya berusaha Kris lupakan dengan usaha penuh, tapi ternyata gagal juga. Charlotte mengenal orang itu dengan tiga kata; mantan-kekasih-Kris.

Menangkap gelagat Charlotte yang akan tergugu semakin keras, Kris buru-buru berujar, “You won’t lose me, Char. Aku janji. Kamu masih bisa mencariku kalau butuh someone to rely on.” Ceruk dalam di kedua pipinya terlihat jelas ketika Kris mengangkat kedua ujung bibirnya untuk tersenyum. Senyum yang setelah ini bukan milik Charlotte seorang.

I’m leaving, Char.”

Iris hazel Charlotte menatap punggung Kris yang berjalan menjauh dengan nanar. Setelah ini, semua tidak akan pernah sama lagi.

Tidak pernah terlintas di pikiran Charlotte kalau hubungannya dengan Kris akan berakhir secepat ini. Tapi yang lebih tidak dia sangka adalah; bahwa hubungan sesingkat ini bisa meninggalkan sakit yang begitu dalam. Charlotte tidak marah karena Kris masih menyayangi mantan kekasihnya, sungguh. Dia paham betul bahwa tidak ada seorang pun yang tahu cepat-lambatnya perasaan seseorang berubah. Charlotte hanya sedih. Mengapa Kris harus menyerah pada hubungan mereka begitu cepat? Tak dapatkah Kris bertahan lebih lama demi menemukan kebahagiaan bersama Charlotte?

Damn.

Charlotte mengerti, Kris akan baik-baik saja. Tapi bagaimana dengan dirinya sendiri? Gadis itu hampir menangis lagi membayangkan akan sekosong apa harinya setelah ini. Dia yakin yang akan dirindukannya adalah justru hal-hal kecil yang mungkin tidak mereka sadari karena sudah menjadi kebiasaan, seperti genggaman Kris saat berada di tempat yang penuh sesak, obrolan di telepon hingga berjam-jam lamanya kala dini hari, jok belakang motor Kris yang nyaman, dan… dan…

Damn it, Kris.

Mereka bilang, level tertinggi mencintai adalah merelakan dia bahagia bersama orang lain. Kemudian dalam hati Charlotte menimpali, dan level tertinggi bullshit adalah kalimat barusan.

  • ••

Lagi kena writer’s block tapi maksa nulis jadinya nggak layak gini😦

Diilhami dari cerita pribadi *ehem* diputusin mantan.

Anyway, silakan komen ya kalo ada yang mau cerita dari Kris’ side^^

2 thoughts on “PUTUS (Drabble)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s