Arranged Life (Chapter 2)

Poster Arranged Life

Arranged Life (Chapter Dua)

Kim Yoon Ae – Do Kyungsoo – Kim Jongin

Politic – Sad – Romance – Family – School Life

prev: [1]

also published: there and there

 

Selang beberapa jam setelah konferensi pers Presdien Do, di sebuah kasino di tengah kota Seoul, berkumpulah beberapa orang pejabat parlemen dan petinggi kerajaan tanpa diketahui baik raja maupun presiden yang baru. Mereka berkumpul untuk membahas keputusan raja dan presiden yang baru saja menjadi trending topic di seluruh Korea bahkan mungkin dunia. Kedatangan mereka ke kasino bergaya klasik itu sudah diatur oleh seseorang supaya tak terlalu mencolok dan menarik perhatian media dan masyarakat.

Sejumlah pejabat parlemen dan beberapa petinggi kerajaan yang berkumpul itu sudah saling percaya satu sama lain. Pertemuan mereka sebelumnya sudah sering terjadi. Kali ini, mereka menyewa ruangan tertutup yang paling besar di kasino itu dan duduk mengelilingi meja persegi yang besar.

“Ketua tak datang?” tanya seseorang petinggi kerajaan yang duduk paling ujung.

“Tidak. Akan mencurigakan jika dia datang sekarang,” jawab pejabat parlemen di sebelahnya. “Ia harus mengurus banyak hal.”

“Siapa setuju denganku kalau itu tadi adalah keputusan yang konyol? Menikahkan dua anak yang masih berusia belasan untuk menyelamatkan Negara. Yang benar saja… Hahahaa…” seorang anggota parlemen tertawa mengejek sambil menenggak sojunya.

”Itu keputusan sepihak. Kami tak pernah tahu. Kami tak diijinkan mendengar keputusan presiden dan raja saat di Balai Huijeong.” Tuan Park, petinggi kerajaan yang sepertinya paling sebal dengan keputusan tadi, angkat bicara.

”Tidakkah ada hal yang aneh? Terlalu sederhana jika alasannya hanya untuk ‘menyelamatkan sesuatu yang memberi nilai’. Aku curiga.” Pejabat parlemen yang sepertinya paling tua di situ mengerutkan keningnya. Pernyataannya membuat gumaman-gumaman kecil di seluruh ruangan.

“Kita harus menyusun rencana baru dan lekas bergerk. Dari awal aku sudah tidak setuju dengan presiden yang terlalu berjiwa sosial tinggi. Terlalu lembek!” Seorang pejabat parlemen dari Partai Oposisi tiba-tiba berdiri dan berseru pada yang lainnya.

“Tuan Hwang benar! Meskipun kita dari dua kubu berbeda, kita harus tetap tahu dimana kita berdiri. Ingat itu!” seorang Petinggi Kerajaan ikut berdiri. Dia menyodorkan gelas sojunya mengajak lainnya untuk bersulang. Yang lainnya mengangguk dan mengangkat gelas mereka.

“Untuk kita semua! Pejuang Kebebasan!”

Esok harinya. Daejojeon.

Yoon Ae terbangun dari tidurnya. Wajahnya bengkak, matanya merah dan kantung matanya terlihat jelas. Ia belum beranjak dari ranjang. Mengedipkan berulang kali matanya, mencoba mengingat peristiwa apa yang terjadi semalam. Gambaran itu datang. Gambar saat presiden baru mengatakan bahwa raja dan dirinya membuat keputusan untuk menikahkan putra-putri mereka.

Yoon Ae menutup matanya rapat-rapat dan menarik selimutnya menutupi wajah. Dia ketakutan jika harus mendengar keputusan itu lagi. Menikah di usia dini dengan anak laki-laki yang belum pernah sama sekali ia lihat dan tentu saja tidak ia cintai sama sekali. Ia tahu suatu saat hal ini tetap akan terjadi pada dirinya. Ia tahu bahwa ia harus mengutamakan kepentingan orang banyak daripada perasaannya sendiri. Yang Yoon Ae tidak tahu kenapa harus sekarang dan kenapa bukan ayah dan ibunya yang terlebih dahulu memberitahunya? Jika semua ini Yoon Ae tahu akan terjadi, ia akan langsung berangkat ke Amerika hari itu juga saat Ibu menegaskan untuk yang terakhir kali. Yoon Ae menyesal berharap terlalu tinggi bahwa ia akan tetap di sini dengan keadaan yang baik-baik saja.

Dia menyesal telah bangun dari tidurnya.

“Yang Mulia, Paduka Raja datang berkunjun.” Dayang Choi memberitahu Yoon Ae dari balik pintu kamarnya. Yoon Ae menyibak selimutnya dan terduduk.

“Ya,” jawabnya singkat kemudian berdiri dan hendak keluar kamar ketika Dayang Choi membuka pintu kamarnya. Yoon Ae terkejut saat raja langsung memasuki kamarnya.

“A-ayah… Saya kira kita akan bicara di luar.” Yoon Ae menunduk memberi hormat.

“Kita bicara di kamarmu saja. Ayah sudah lama tak masuk kesini.” Raja berbalik pada beberapa pengikutnya. “Kami akan bicara berdua. Tolong tinggalkan kami.”

Para dayang dan Tuan Jo menutup pintu kamar Yoon Ae. Suasana ayah dan anak itu menjadi kaku. Yoon Ae masih menunduk tak berani menatap ayahnya.

“Yoon Ae, Ayah—”

“Maafkan saya, Ayah. Saya belum membersihkan diri,” kata Yoon Ae memotong pembicaraan ayahnya.

“Tidak apa-apa… Duduklah.” Raja berkata sambil tersenyum. Yoon Ae duduk berhadapan dengan sang ayah.

“Kenapa kau terus menunduk? Ayah ingin melihat wajah putri ayah yang cantik.” Raja mengangkat dagu Yoon Ae. Ia tertegun melihat wajah putrinya yang bengkak.

“Maafkan saya, saya seharusnya bangun lebih pagi. Jadi Yang Mulia tidak melihat saya seperti ini. Maafkan saya…” Yoon Ae berusaha menahan air matanya. Raja menghela napas berat dan memegang kedua bahu anak satu-satunya itu.

“Yoon Ae, maafkan ayah. Kelak kau akan tahu, bahwa semua ini untuk kepentingan banyak orang. Maafkan ayah karena tidak memberitahumu lebih awal. Maafkan ayah yang tidak bisa menemukan jalan keluar lain. Hanya itu yang bisa ayah katakan padamu,” kata Raja dengan lembut sambil membelai pelan rambut Yoon Ae.

Yoon Ae terkejut. Hatinya sakit melihat Ayah saat ini. Wajah beliau diselimuti rasa bersalah yang mendalam. Yoon Ae belum pernah melihat wajah ayahnya sememohon ini. Ia harus bagaimana? Jika ia mengeluarkan semua keluhannya sekarang, ia takut Ayah menjadi semakin sedih.

“Ya, Ayah… Saya mengerti dan,” Yoon Ae menghela napas, “Ayah tak perlu meminta maaf. Ini semua juga demi Ayah. Karena… Aku menyayangi Ayah.” Yoon Ae menggenggam tangan ayahnya. Raja menahan air matanya menetes dan memeluk Yoon Ae.

“Ayah tahu, kau putri yang sangat bijaksana. Terima kasih, Nak. Terima kasih.”

Di luar kamar Yoon Ae, Ratu Jung yang mendengar pembicaraan itu menghela napas pelan. Ratu menyuruh Dayang Choi untuk tak memberitahukan kedatangannya. Meski masih sanggup berdiri dengan tenang, hatinya bergejolak. Beliau menyadari bahwa dirinya juga bersalah, tapi tak sanggup meminta maaf pada Yoon Ae.

Do Kyungsoo’s House

Presiden Do dan Ibu Negara sedang menikmati sarapan di ruang makan keluarga sambil berbincang kapan mereka semua akan pindah ke Cheongwadae (Blue House – Gedung Biru).

Tuan Do meletakkan garpunya dan bertanya pada seseorang pelayan yang berdiri di dekat pintu. “Apa Kyungsoo belum bangun? Ini sudah jam delapan lewat.”

“Maaf, Tuan. Saya sudah membangunkannya. Akan saya coba lagi.” Ketika pelayan itu berbalik, ia nyaris menabrak Kyungsoo yang melewatinya menuju ruang makan.

“Maaf, aku terlambat.” Kyungsoo menarik kursi di sebelah ibunya dan duduk dengan kasar. Nyonya Do menyikut lengannya dan memberi tatapan ‘kau tidak memberi hormat pada ayahmu?’. Kyungsoo memberi anggukan pelan kepada ayahnya yang dari tadi menatapnya. Kemudian langsung mengoles selai kacang ke roti tanpa basa-basi lagi. Tuan Do memukul pelan meja makan membuat semua terkejut.

“Tolong tinggalkan kami bertiga,” pintanya pada beberapa pelayan. Semua pelayan mengangguk patuh dan keluar dari ruang makan yang di dominasi warna putih itu.

Nyonya Do meletakkan garpunya dan menyilangkan kedua tangan di pangkuan.

Family meeting, please,” katanya lembut, membuat Kyungsoo meletakkan kembali rotinya di piring.

“Kau punya sesuatu untuk disampaikan pada ayah?” tanya Tuan Do pada Kyungsoo.

“Tidak ada,” jawab Kyungsoo singkat tanpa menatap ayahnya. Ibu kembali menyikutnya pelan, tapi Kyungsoo tak peka atau lebih tepatnya acuh saja.

“Kau tahu ini jam berapa?” tanya Ayah lagi.

“Delapan lewat dua puluh.” Lagi, Kyungsoo tak menatap ayahnya.

“Ayah tak akan bertanya kenapa kau bangun sesiang ini karena  ini hari libur. Yang akan ayah tanyakan adalah kenapa wajahmu seperti itu? Tak mau menatap ayah?” Beliau masih berusaha bersabar.

Kyungsoo hanya terdiam sambil memutar-mutar pisau roti perak dengan tangan kanannya.

“Itu bukan sikap laki-laki dewasa, Kyungsoo. Katakan! Kenapa kau bersikap seperti ini?!” Tuan Do mulai meninggikan suaranya. “Ayah tak suka aksi diam seperti itu!”

Nyonya Do menepuk bahu Kyungsoo pelan.

“Jawablah, Kyung-ie. Kenapa, Nak?”

Kyungsoo menyeringai, membuat ayah dan ibunya saling pandang.

“Apa pendapatku masih dipertimbangkan? Kalau iya, aku akan menjawabnya,” jawab Kyungsoo asal.

“Kyungsoo!” Tuan Do tak tahan lagi untuk tidak membentak putranya. Demikian pula Kyungsoo, ia mengepalkan kedua tangannya dan sudah berdiri dari kursi.

“Apa Ayah tak tahu kalau Ayah sudah gila? Ayah anggap apa sebuah pernikahan? Kenapa Ayah melakukan itu padaku? Aku tidak mau!” Untuk pertama kali dalam hidupnya Kyungsoo membentak Ayah. Nyonya Do menarik lengan Kyungsoo untuk duduk.

“Kyung-ie, tenang. Duduklah,” bujuknya.

Kyungsoo tak bergeming, ia masih berdiri. Tuan Do terkejut dengan sikap putranya pagi ini. Beliau mulai marah dan ikut berdiri.

“Untuk siapa kau bicara?! Jangan hanya mementingkan dirimu sendiri. Ini untuk Negara, Kyungsoo! Dan Ayah tak pernah mengajarimu sikap kurang ajar seperti itu!”

Nyonya Do memijit pelipisnya, ia mulai pusing. Beliau tahu suami dan anaknya sama-sama keras dalam hal pendirian.

Telinga Kyungsoo memerah, ia sudah tak sanggup lagi menurut. Kalau pemberontakan ini berhasil, ia tidak akan menikah dengan gadis antah berantah—meskipun dia putri mahkota—hanya untuk menyelamatkan Negara! Kyungsoo menyembur lagi.

“Ayah itu seorang presiden, bukan?! Tugas Ayah adalah mengatur Negara ini, bukan malah menjadi mak comblang putra Ayah sendiri! Ayah harusnya pikirkan jalan keluar lain! Ayah harusnya tahu apa peran sebagai presiden!” Kyungsoo mengakhirinya dengan dada yang teramat sesak. Seakan udara di dalamnya hampir menjebol tulang rusknya. Ia tahu ini sebuah kesalahan besar, bahkan ibunya sampai ikut berdiri saking terkejutnya.

“Aku tahu peranku, Kyungsoo! DAN SUDAH SAATNYA KAU TAHU PERANMU!” Tuan Do mengeluarkan kalimat terakhirnya sambil menunjuk Kyungsoo kemudian berbalik meninggalkan meja makan.

“Kyungsoo… Ya Tuhan, Ibu… Ibu tak tahu lagi harus berkata apa.” Ibunya hanya menggeleng tak percaya menatap Kyungsoo. “Yeobo, tunggu,” dan berlalu mengejar suaminya.

Kyungsoo menghempaskan tubuhnya ke kursi. Ia mengusap wajahnya sendiri dengan kasar. Kyungsoo frustasi, ia tahu meskipun Ayah memiliki rasa sosial tinggi, beliau sangat tegas terhadap semua keputusannya. Rasa sosial yang terlalu tinggi itulah, yang menurut Kyungsoo, membuat ayahnya melakukan keputusan aneh sepanjang sejarah hidup mereka. Ia tak tahu lagi harus dengan cara apa meyakinkan Ayah bahwa ia tak mau melakukan keputusan itu. Kyungsoo memukulkan kedua tangannya berulang kali ke meja makan.

Ia mulai menangis. Menangis kecewa.

“Kau tak tahu peranmu sebagai seorang ayah untukku!” Kyungsoo berlirih pelan dalam tangisnya. Ia terus bergumam sendiri. Ruang makan itu seolah menjadi pendengar setia baginya.

 

Kai’s basecamp

Kai sedang berada di sebuah tempat khas anak muda. Ruangan itu berdinding putih pucat, tertutup macam-macam poster, foto dan beberapa papan tembak. Di bagian dinding yang lain menempel duplikat senapan, busur dan bahkan keranjang tempat memasukkan bola basket. Kai duduk di sofa panjang dan melemparkan busur kecil dengan tepat sasaran ke papan tembak bundar di hadapannya. Kegiatannya terhenti ketika seorang temannya masuk.

Hey dude, sudah lama di sini?” tanya Luhan, anak lelaki keturunan Korea – China. Ayahnya orang china dan ibunya keturunan bangsawan korea, cucu dari Tuan Jung – penasihat raja. Luhan memukul punggung Kai dan duduk di sampingnya. Kai hanya mendengus dan melempar busur yang kelima. Luhan sudah terhitung sebagai saudara bagi Kai, jadi ia tek perlu memanggil Kai dengan sebutan ‘Pangeran’.

“Mana yang lain?” tanya Luhan celingak-celinguk.

Sepi.

“Aku sendirian,” jawab Kai singkat, tanpa menatap Luhan, melempar busur yang keenam. Luhan mengambil busur terakhir dari tangan Kai.

“Hyung!” Kai menatap Luhan jengkel.

“Dengar, Jongin-ah. Kebiasaan burukmu kumat lagi. Kau anggap apa aku, hah?” Luhan menjitak jidat Kai. Kai melengos. Ia tahu kalau kebiasaan buruknya – menyimpan segala sesuatunya sendiri – beberapa kali membuat Luhan kesal. Tapi menurut Kai, itu hal yang wajar. Ia tak mau dianggap kaleng rombeng mengingat dirinya adalah seorang pangeran yang harus ‘tahu adat’.

Hyung pasti sudah tahu, lah. Sampai siang ini beritanya masih menjadi trending topic dimana-mana.” Kai menyandarkan punggunya ke sofa. Luhan mengangguk kemudian melempar busur ke papan tembak, meleset, membuatnya berdecak.

Tsk, aku tak pernah tepat sasaran!” serunya. Kai tersenyum sekilas, Luhan ikut menyandarkan punggungnya ke sofa.

“Jongin, ada hal-hal yang diluar kendali kita meskipun kita berpikir bahwa kita merasa mampu mengatasi semuanya. Kurasa presdien baru kita dan raja berpikir begitu. Semoga ini yang terbaik untuk kita semua.” Luhan memberi masukan pada Kai.

“Menurutku, ‘kami’ seharusnya dibubarkan saja,” pungkas Kai asal. Luhan terduduk tegap dan menatapnya.

Hey! Cobalah melihat dari sudut pandang berbeda, Jongin. Kau tahu, ada 200 orang lebih yang menggantungkan hidupnya di istana. Raja tak mungkin melakukan pemberhentian kerja secara massal. Sebagian besar dari mereka tak punya penghasilan maupun pengetahuan lain selain ‘kerajaan’.” Luhan berceramah panjang membuat Kai menutup matanya dan mengingat Yoon Ae.

Ya, Luhan benar. Itu keputusan yang baik bagi 200 orang itu, tapi bagaimana dengan Yoon Ae?

“Bagaimana keadaan putri mahkota?” tambah Luhan.

“Aku belum menemuinya, Hyung. Aku tak sanggup menatapnya. Bebannya pasti sangat berat. Aku… aku tak tahu penghiburan apa yang tepat untuknya sekarang.” Kai menjawab sambil masih menutup matanya. Luhan menatapnya prihatin.

Sesaat, mereka berdua dilingkupi keheningan. Namun, Kai tiba-tiba membuka matanya dan berdiri, membuat Luhan terkejut.

“Hyung!” Kai berbalik menatap Luhan.

Ada apa?

“Anak itu… Anak itu satu sekolah dengan kita, bukan?” Kai berjalan mondar-mandir membuat Luhan semakin bingung.

“Anak yang mana?”

“Anak presiden baru kita. Dia ada di jurusan apa?”

Kai masuk jurusan seni tahun ketiga dan Luhan masuk jurusan manajemen tahun terakhir. (SMA mereka ditempuh selama empat tahun, ini ngarang lho ya. Hehehe)

“Tak tahu. Lagi pula mau apa kau?”

“Apa menurutmu Baekhyun atau Chanyeol atau Jongdae tahu, Hyung?” Kali ini Kai menekan nomor di ponselnya dengan tak sabaran dan tak menghiraukan Luhan. Ia mengirim pesan singkat pada sahabatnya yang lain.

Tak tahu! Kau mau apa?” tanya Luhan kesal dengan sikap Kai.

Kai menatapnya serius, “mau berkenalan dengan calon adik iparku. Tentunya setelah liburan usai.”

Istana Gyeongbok.

Tuan Jo, yang bertanggung jawab di bidang kedisiplinan Dayang dan Istana, sedang mengawasi beberapa dayang, pelayan kerajaan dan beberapa tenaga bantuan dari luar istana ikut membenahi ruangan-ruangan di Istana Gyeongbok (istana utama yang terletak di sebelah barat Istana Changdeok—Kediaman Raja). Ia diberi tanggung jawab tersebut oleh raja dan presiden. Mengingat dalam seminggu kedepan presiden baru dan keluarganya akan pindah ke Cheongwadae (Blue House) yang terletak di komplek Istana Gyeongbok.

Tuan Jo sibuk kesana-kemari, menegur beberapa pelayan yang salah meletakkan artefak-artefak di Yeongbingwan (Guest House). Menurut Tuan Jo, ruangan tersebut harus sesuai dengan permintaan ibu negara yaitu Minimalis.

“Beliau akan meninjau kemari sebentar lagi. Tolonglah lebih rapi dan hati-hati!” tegurnya.

“Baik, Tuan,” jawab beberapa pelayan.

Setelah Yeongbingwan, Tuan Jo bergegas menuju bangunan utama Istana Gyeongbok. Ia berhenti tepat di bawah gerbang belakang istana dan heran melihat Dayang Choi ada di sana. Dayang Choi memberi hormat.

“Dayang Choi? Kenapa kau kemari? Tuan putri sendirian?” tanyanya.

“Paduka Raja menyuruh saya dan beberapa dayang lain ikut membantu Anda, Tuan. Lagipula, Raja sedang memberi ruang untuk Putri Mahkota yang ingin sendirian.” Dayang Choi menjelaskan. Tuan Jo mengangguk.

“Ah, begitu. Baiklah. Mari kita bergegas.”

“Tapi, Tuan—” Tuan Jo menghentikan langkahnya dan berbalik.

“Ada apa, Dayang Choi?”

“Saya khawatir dengan putri mahkota, Tuan.” Dayang Choi menatapnya dengan wajah cemas.

“Dia akan baik-baik saja. Dia putri yang bijaksana. Tenanglah.” Tuan Jo berusaha meyakinkan Dayang Choi. Dayang Choi mengangguk ragu.

Daejojeon

Yoon Ae mengendap-endap keluar Daejojeon. Mengintip halaman kediamannya. Kosong. Bagus, pikirnya. Raja benar-benar menuruti keinginannya untuk menyendiri kali ini. Yoon Ae berjalan secepat mungkin menuju Huwon, kediaman bibinya dan Kai. Ia melewati Pendopo Juhamnu (Perpustakaan kerajaan) dan kolam bunga teratai di depan Huwon. Namun ia kecewa ketika Dayang Oh, dayang kediaman Kai, memberitahunya kalau Bibi Kim dan Kai tak ada di kediaman mereka.

Yoon Ae melamun di pinggir kolam bunga teratai. Tadinya ia ingin keluar istana dengan Kai, tapi Kai tidak ada. Yoon Ae bingung harus kemana lagi untuk melepaskan penat sebentar. Ia tak pernah keluar istana seorang diri. Yoon Ae bahkan tak hapal jalan ke sekolahnya sendiri. Ia bersenandung pelan bagai gadis linglung melewati Juhamnu, ia sedang malas membaca. Tiba-tiba saja Yoon Ae mendapati dirinya kembali di depan kediamannya lagi. Oh, menyebalkan, kesalnya dalam hati.

Setelah mematung sekian lama, Yoon Ae memutuskan nekat pergi keluar istana seorang diri. Ia berlari kedalam Daejojeon mengambil ponsel dan tas channel hitamnya. Yoon Ae tak mau menyia-nyiakan kebebasan yang diberikan oleh ayahnya. Ia melengkapi stripped dressnya dengan cardigan hitam dan melesat menuju Gerbang Donhwa, gerbang utama istana Changdeok. Penjaga tinggal sedikit, mungkin sedang ikut menata Istana Gyeongbeok. Dengan ajaib, ia lolos dari penjagaan dan mulai menyusuri trotoar dan di situlah ia bingung mau kemana.

Omo, harus kemana aku?”

Seperti mendengar bisikan entah dari mana, ia memutuskan untuk melihat Cheongwadae. Kalaupun ia ketahuan ada di sana, itu lebih aman. Lagipula ia penasaran, mungkin saja ia bertemu dengan orang baru.

Cheongwadae

Do Kyungsoo berulang kali mendengus bosan. Ia menyesali keputusannya untuk menemani ibunya meninjau Cheongwadae.

“Kalau kau tak mau ikut masuk ke dalam, kau bisa berkeliling sesukamu,” kata ibunya tadi.

Jadilah Kyungsoo melangkah asal sesuka kakinya. Jujur, ia merasa luar biasa bangga ketika akhirnya bisa masuk ke Cheongwadae, bahkan akan tinggal di dalamnya untuk lima tahun ke depan—kalau Ayah tak lengser sebelum itu.

Kyungsoo senang luar biasa ketika Ayah akhirnya bersedia untuk dicalonkan sebagai presiden. Ia semakin bangga pada Ayah ketika beliau berhasil memenangi pemilu. Namun, kebanggaan itu pudar begitu saja ketika Kyungsoo mendengar keputusan gila Ayah tentang pernikahan untuk menyelamatkan negara.

Putra presiden sedang memandangi Cheongwadae dari halaman. Sungguh indah bangunan ini, pikirnya. Semua ubin dan gentingnya berwarna biru, bergaya khas Korea dimana Gunung Bugak sebagai latar belakangnya. Perpaduan antara ubin biru dan bentuk kurva halus dari atap Gedung Induk membuat bangunan tersebut terlihat elegan. Kyungsoo kemudian menuju sebelah kanan Cheongwadae dan lagi-lagi berdecak kagum melihat Chuncugwan, bangunan mewah dengan 18 pilar, tempat diadakannya konferensi besar dan pertemuan penting.

“Haruskah aku selfie di sini?” gumam Kyungsoo senang. Tapi, mau dipamerkan ke siapa? Ia hanya punya sedikit teman di akun SNS-nya. Kyungsoo bahkan jarang membuka SNS.  Menurutnya hal itu hanya buang-buang waktu.

Entah apa yang membawa Kyungsoo berjalan memasuki Istana Gyeongbok. Ia sedang berjalan menyusuri kolam bunga teratai menuju sebuah paviliun. Kyungsoo membaca tulisan ‘Paviliun Gyeonghoeru’ yang menggantung di atapnya.

“Harta Nasional nomor 224. Bertiangkan 48 tonggak granit,” kagum Kyungsoo sambil menggelengkan kepalanya. Ia hapal hampir semua hal berbau kerajaan—kecuali, siapa putri mahkota saat ini yang akan menjadi istrinya dengan segera.

Anak lelaki itu menaiki tangga masuk ke Paviliun. Lengang. Sinar matahari sore menerobos masuk lewat tiang-tiang paviliun membuat bayangan tiang menutupi bagian dalamnya. Kyungsoo berdiri di tepi Paviliun yang menghadap kolam teratai, memandang jauh ke depan. Pikirannya kemana-mana. Masa bujangnya tinggal menghitung hari, padahal usianya masih 18 tahun.

“Apakah aku juga akan menduda kalau masa jabatan ayah habis?” tuturnya pelan.

Kejam sekali kalau itu terjadi. Bayangan mengerikan muncul di benak Kyungsoo. Bagaimana kalau mereka harus segera punya anak? Bagaimana saat nanti ia kuliah sudah menjadi seorang ayah? Ketika teman-teman sebaya sedang mekar-mekarnya meniti karier dan cinta, ia malah sudah semakin tua. Kedua alis Kyungsoo bertaut karena memikirkan itu semua.

Tidak, ini tidak bisa terjadi!

“TIDAAAKK!!!” Kyungsoo terkejut ketika ada sesuatu yang menimpuknya dari belakang. Ia menatap nyalang ke seluruh penjuru paviliun yang gelap karena bayang-bayang pilar.

Siapa tadi yang ikut berteriak dengannya? Dan siapa yang memukul kepalanya dengan… sebuah flat shoes? Kyungsoo menggosok bagian belakang kepalanya dan memungut sepatu yang menurutnya sangat kecil itu.

“Siapa kau?! Hey, Kau?!

Kyungsoo yang masih berjongkok, melihat ke sumber suara. Ia menatap sebuah sosok yang ia yakin pasti adalah seorang gadis. Sosok itu samar terlihat karena tertutup bayangan pilar.

“Tolong jawab aku? Siapa kau?!” teriak gadis itu pada Kyungsoo.

Kyungsoo mengamatinya sejenak kemudian berdiri. Kepalanya sudah tak sakit. Kurang ajar sekali dia, sembarangan memukul anak presiden! pikir Kyungsoo.

“Kau sendiri siapa? Kenapa kau sembarangan masuk kesini? Ini bukan tempat umum!” Kyungsoo balik meneriaki gadis itu. Yang diteriaki hanya berdiri kaku di balik bayang-bayang.

-tbc

 

CurMu (Curahan hati nggak bermutu) Section XD :

  • Hai,,, kemarin di chapter pertama belum sempat cuap-cuap karena keburu terkirim file-nya ke admin. HAHAHA
  • Maaf untuk typo(s) yang terlewat, cerita yang aneh dan nggak masuk akal. Hehehe
  • Terima kasih sudah membaca. Saya akan sangat senang jika para pembaca mau meninggalkan jejak. ^^

Salam,

 

© Miss Candy

 

 

 

Iklan

3 thoughts on “Arranged Life (Chapter 2)

  1. Makin seruuu
    Mereka jumpa secara gak sengaja
    Kyungsoo ditimpuk flat shoes ?
    Ahhahaha lucuuu

    Pasti nanti mereka bertengkar terus
    Smg cocok 🙂

  2. Wuaaahhh akhirnya ketemu juga calon manten kekekke…..penasaran aku jadi nambah authornim…. Ijin baca next chapter ya authornim
    Keep writing

  3. Yeay. Kyungsoo udah ketemu sama Yoon Ae. Aaahhh udah gk sabar cerita selanjutnya. Penasaran kehidupan yoon ae sama kyungsoo. Semangat selalu thor👍

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s