THE OLF (Prolog)

PicsArt_1466757807282

Title : MONSTER OLF (Prolog)

Author : @Aqilua

Cast : Kim Jongin, Isla Shinova (OC)

Genre : Dark, Fantasy, Romance

Rating : PG-17

Length : Chaptered

Disclaimer : This story based from author’s mind. I have not own the characters. Jangan copas seenak jidat tanpa ada ijin.

Personal Blog :

https://freewordpresscomdomain460.wordpress.com

#

“Azel dan Olf adalah sepasang anak kembar dari malaikat yang pernah berkhianat pada Sang Pencipta. Anak perempuan disebut Azel lambang kabaikan dan anak laki-laki disebut Olf  lambang kejahatan. Mereka tidak pernah menyatu karena mereka adalah dua unsur yang berbeda, tetapi mereka sama-sama abadi.Sang Penciptamembuang mereka ke bumi, bersama dengan manusia yang kala itu juga telah mendukakan hati-Nya. Manusia jatuh ke dalam dosa karena termakan hasutan si iblis.

Hanya sekejap mata, bumi berubah kacau. Pertumpahan darah terjadi di mana-mana karena Olf semakin banyak jumlahnya. Secara keji, para Olf meminumkan paksa darahmereka kepada manusia agar manusia tersebut dapat berubah menjadi sebangsa dengan mereka. Sementara para Azel, merekalebih memilih untuk mempersunting manusia dan terikat dengan sebuah tali kasih bernama cinta guna melanjutkan penerus. Di atas semua itu, keberadaan Azel dan Olf sangat dirahasiakan.

Perlawanan besar-besaran terjadi. Azel dan Olf sama-sama saling membunuh dengan tujuan yang berbeda. Azel menginginkan kedamaian bagi bumi, sementara Olf yang serakah ingin menguasai bumi penuh dengan kaum mereka. SangPencipta geram melihat betapa kejamnya para Olf. Mereka menyiksa kaum Azel dan lebih banyak membunuh manusia untuk meminum darahnya demi memuaskan hasrat. Pada akhirnya, Sang Pencipta memberikan tugas kepada Azel untuk membuat batas berupa segel kutukan di tanah.

Perangpun terjadi di sebuah wilayah nan jauh dari jangkauan manusia. Walau kaum Olf memiliki kekuatan dan bala tentara yang maha dahsyat, namun takdir berkata lain. Kaum Azel pada akhirnya berhasil memenggal kepala Raja Olf dan mencurahkan darahnya di atas tanah sebagai segel. Sejak saat itu, para Olf yang tersisa tidak dapat keluar dari batas segel yang ditetapkan, mereka terpenjara. Para Azel serta manusia diizinkan tinggal berdampingan. Sementara para Olf tinggal di tempat yang jauh di ujung selatan dan bumi membaik secara perlahan.

Namun tak cukup sampai di situ. Mimpi buruk yang baru kembali tercipta. Raja Olf kedua terkenal memiliki otak yang sangat brilian. Ia berhasil menemukan gulungan kuno yang terkubur di dekat pohon raksasa di wilayah mereka. Pohon itu sangat tinggi menjulang sampai ke awan sehingga puncaknya pun tak dapat di lihat dengan mata, diameter pohonnya bahkan tidak dapat diukur.

Berkat gulungan itu kaum Olf menemukan cara untuk melemahkan segel,sampai kemudian segel itu benar-benar hilang dan merekapun bebas. Isi dari gulungan itu menuliskan bahwa sang raja diharuskan untuk memperdaya seorang wanita dari kaum Azel dan menidurinya hingga mengandung.

Si setengah darah yang lahir tentu saja dibebaskan. Setelah itu kaum Olf harus sabar menunggu hingga beratus-ratus tahun lamanya agar si setengah darah dapat beranak-pinak dan mengahasilkan banyak keturunan Mixtus di bumi. Si setengah darah hanya dapat menikah dengan manusia. Percaya atau tidak anak, cucu bahkan cicit dari si setengah darah, mereka semua adalah perempuan. Merekalah generasi-generasi Mixtus yang keberadaanya terancam itu.

Kaum Olf yang kejam memang tidak pernah mengenal istilahcinta di dalam semasa hidupnya sehingga wanita Azel yang telah diperdaya oleh sang raja merasa terhina dan dicampakan. Pada akhirnya,ia coba untuk melakukan balas dendam. Ia menikam sang raja dengan sebuah belati tepat di jantungnya ketika sang raja tengah tertidur. Mengira bahwa sang raja telah mati, wanita Azel itu berniat untuk membunuh sang pangeran,putera mahkotaRaja Olf. Semua ia lakukan demi rasa penyesalan karena telah menjadi pengkhianat dikaumnya.

Sangat disayangkan, wanita Azel itu salah perhitungan karena hanya ada beberapa orang yang mengetahui kelemahan Olf seperti para Ksatria Azel dan pejuangnya, namun selebihnya tidak. Hal itu hanya ditanggungkan kepada mereka yang siap memikul dosa seperti nenek moyang mereka. Sebab membunuh tetaplah hal yang salah di mata Sang Pencipta walau demi sebuah kabaikan sekalipun. Para Olf hanya bisa mati jika bagian kepalanya dipenggal. Belum sempat ia menyentuh sang pangeran, wanita Azel itu sudah meregang nyawa dengan sangat tak manusiawi.

Kai Vladimir, putera mahkota sang raja sendirilah yang membunuhnya. Nama itu disebut dengan gemetar dan takut. Kekejamannya bahkan melebihi sang raja, ayahnya sendiri. Licik dan cerdas, serta jangan lupakan darah dinginnya yang begitu kental. Sosok yang sangat disegani oleh kaumnya dengan para Azel yang lebih memilih untuk menghindar saat mendengar namanya. Tidak sedikit para wanita yang menyerahkan diri kepada Kai dengan sukarela. Ada yang berkata, Kai memiliki wajah rupawan yang berbahaya karena mampu membuat wanita langsung bertekuk lutut untuk mencium kakinya. Tak jarang, para Mixtus yang melihatnya pun turut luluh dan terjerat.

Konon pada seribu tahun lagi adalah saat di mana seorang Mixtus terakhir akan menjadi pemecah segel. Mixtus pada dasarnya sama seperti manusia hanya saja darah mereka istimewa. Mereka memiliki kecantikan yang tergolong tidak biasa sehingga sangat mudah untuk menemukannya. Mixtus yang elok cenderung menebar pesona agar kecantikan mereka dilihat oleh semua orang. Mereka adalah perempuan angkuh yang sangat percaya diri.

Kaum Azel dan Olf telah berlomba-lomba untuk menemukan Mixtus lalu membunuhnya. Bagi kaum Azel keberadaan Mixtus tentulah sebuah ancaman besar, sementara bagi kaum Olf keberadaan Mixtus adalah sebuah titik terang pembebasan mereka karena jika sampai segel terkutuk itu pecah, tidak diragukan lagi. Kaum Olf akan menjadi penguasa mutlak di bumi sampai selama-lamanya…”

Wanita paruh baya itu mengakhiri cerita panjangnya dengan pandangan menerawang. Ada kegelisahan yang terpancar dari manik birunya. Dahinya sedikit berkerut karena tengah berpikir. Wajah tirusnya seperti sedang memikul beban berat yang tertahan di dalam dada.

“Aku selalu suka dongeng itu. Mereka terdengar nyata Ibu.” Gadis kecilnya berkata senang. Ia sedikit tersentak, namun cepat-cepat tersenyum berharap dapat menutupi gurat kaku di wajahnya.

“Kau seharusnya meminta Ibu untuk menceritakan kisah Rapunzel atau Snow White saja lain kali. Mereka begitu cantik sama seperti dirimu,” alihnya.

Gadis kecil itu menggeleng tidak setuju. Ia semakin memeluk erat sisi tubuh wanita yang tengah menemaninya berbaring di atas kasur. “Mereka seperti pemeran opera sabun. Aku tidak menyukainya.“ Mendengar kalimat polos itu, Marry hanya tersenyum hangat sembari membalas pelukan gadis kecilnya.

Berada di sebuah desa Zelenogradsk, Rusia. Hanya terhitung dua orang yang menghuni rumah ini. Ada dua kamar tidur, satu kamar mandi lalu ruang tamu yang ruangannya dibuat memanjang sehingga menyatu dengan ruang keluarga serta dapur. Lantai serta dinding rumahnya berasal dari kayu pinus yang berwarna hitam kecoklatan. Beberapa lentera diletakan di sudut ruangan sebagai penerangan saat malam hari. Ada tempat pembakaran kayu yang berguna sebagai penghangat di ruang tengah. Rumah ini tergolong kecil, namun penuh kehangatan di dalamnya.

Marry Milkovich hanya memiliki Isla yang merupakan anak perempuan satu-satunya walau jika ditilik lebih dalam, ada sesuatu yang ganjil dari sosok ibu dan gadis kecil ini. Wajah mereka tidak memiliki kemiripan sedikitpun, layaknya gen yang diturunkan oleh seorang ibu saat sedang mengandung kecuali mata mereka yang sama-sama besar. Marry adalah wanita paruh baya dengan wajah Eropa yang begitu kental, rambutnya pirang dengan mata biru cerah. Sementara malaikat kecilnya memiliki rambut hitam panjang sampai ke pinggang, matanya coklat pudar dengan kulit seputih salju di bulan Desember. Wajah serta postur tubuh gadis kecil ini khas perempuan Korea jika dilihat-lihat. Mungkin saja Marry telah menikah dengan seorang pria asia? Sayangnya, tidak. Marry belum pernah menikah. Satu kebohongan besar yang telah ia tutupi dari semua orang.

“Ibu, apa aku… boleh bertanya?”

Alih-alih menjawab, kening Marry justru berkerut cemas ketika maniknya bertemu tatap dengan mata bulat tersebut.

“Anak-anak nakal itu kembali mengganggumu?”

Ada beberapa luka lecet yang menghiasi wajah jelita gadis kecil itu, bawah dagunya sedikit memar. Isla kecil menggerak-gerakan kedua bola matanya gusar. “Aku terjatuh di tanah Ibu…” ia belajar mengelak namun Marry masih kukuh menatapnya dengan sorot mata yang menuntut seakan tidak puas. “Baiklah, mereka sedikit mendorongku,” jelasnya pasrah. Marry menghela nafas. Ia beranjak menuju nakas yang ada di dekat pintu dan mengambil kotak obat dari dalam sana.

“Ibu akan obati lukanya, duduklah.”

Gadis kecil berpiama putih itu bangkit dari pembaringannya dan duduk di tengah tempat tidur. Marry mengambil posisi di sebelahnya. Dengan hati-hati ia menekan kapas yang telah dibubuhi obat merah itu ke atas luka yang ada di wajah Isla. Lukanya memang tidak parah hanya goresan-goresan kecil yang membekas merah pada kulit bening itu.

“Ibu sudah mengadukan mereka pada gurumu bahkan Ibu berbicara langsung kepada orang tua mereka, tetapi mereka nampaknya tidak jera,” geram Marry lebih kepada dirinya sendiri. Isla hanya diam. Teman-temannya memang kerap kali menjahilinya karena dirinya dianggap berbeda. Tubuhnya kecil di tengah teman-temannya yang kebanyakan tinggi menjulang. Kulitnya sangat putih cenderung ke pucat, lantas saja dirinya selalu menjadi objek bullyan.

“Tadi apa yang ingin kau tanyakan sayang?”

Isla kecil tidak langsung menjawab. Ia menatap sejenak wanita paruh baya itu. Isla teringat, tadi siang ia bertemu dengan seorang pria asing saat sepulang sekolah. Pria itu ramah, namun ia membicarakan hal yang tidak mampu Isla mengerti.

Prang

Suara pecahan kaca dan detik itu juga Marry segera menarik Isla bangkit dari kasur membuat isi dari kotak obat di atas pangkuannya berhamburan keluar. Tangan wanita itu tiba-tiba mendingin dan bergetar. Secepat kilat, Marry membuka lemari pakaian yang terletak di sudut ruangan itu dan menarik sebuah pintu rahasia di balik kumpulan baju yang menggantung.

“Masuklah ke dalam!” perintahnya panik. Isla masuk ke dalam pintu rahasia itu dengan bantuan Marry dan meringkuk di sana. Ia masih tak paham situasi ini.

“Ibu? Memangnya ada apa? Siapa yang datang?” Isla kecil bertanya dengan wajah polos bercampur bingung.

Mata biru itu berkaca, Marry meraih kedua tangan mungil Isla dan menggenggamnya erat. “Sayang dengarkan ibu! Berjanjilah pada Ibu untuk menutup erat kedua telingamu. Jangan dengarkan apapun dan jangan berteriak. Janji?” Isla kecil tampakragu, namun ia mengangguk paham.

“Sang Pencipta besertamu.” Marry merengkuh Isla dalam pelukan singkatnya lalu mencium sayang puncak kepalanya. Selesai melepas pelukan, Marry menutup rapat pintu rahasia tersebut dan meninggalkan Isla kecil seorang diri di dalam ruang sempit nan gelap itu.

 

#Tbc

****

Main ke wattpad yuks : https://www.wattpad.com/user/Aqilua

 

 

 

4 thoughts on “THE OLF (Prolog)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s