You and I – End (chapter 7)

IMG_20160307_182445

You and I – End (7)

Author        : mardikaa_94

Genre          : romance, gatau apaan lagi (?)

Length        : chaptered

Rating         : teen, PG 17

Cast            : Park Chanyeol, OC, and others

Kunjungi yuk! http://mardikaa94.wordpress.com

~happy reading~

Minsoo memilih kemeja hitam dengan luaran rompi abu tua yang menurutnya pas di tubuh Baekhyun, lalu menanyakan pada petugas toko untuk mengambil yang berukuran L, lalu menghampiri lelaki itu yang sedang mencoba beberapa sepatu mahal.

“sudah ketemu?”

Baekhyun masih sibuk berkutat dengan sepatunya, lalu tak lama ia mendengus kasar, “persetan! Aku benci sepatu mengilap seperti ini.” Lalu membuang asal sepatu itu pelan.

Minsoo tersenyum, lalu mengambil sepatu itu dan menyerahkannya tepat di depan wajah Baekhyun, “pakai atau aku tidak pernah membantumu lagi.”

Baekhyun mendongak, mendapati Minsoo yang sedang tersenyum sambil memegang sepatu hitam mengilap di tangannya, lalu menyambar kasar sepatu itu. Dan dengan berat hati, dia mencoba sepatu—entah untuk keberapa kalinya—dan melihatnya di cermin.

“itu bagus. Kau suka?” Minsoo ikut duduk di samping Baekhyun, lalu tangannya bergerak mengambil sebelah sepatu yang di pakai Baekhyun dan melihat harganya.

“tidak mahal. Ambil yang itu saja, ya?” lalu pergi meninggalkan Baekhyun yang menganga tak mengerti.

Dan mereka menghabiskan waktu sambil menonton bioskop dan membeli novel favorit Minsoo. Makan malam dan berakhir dengan Minsoo yang membantu Baekhyun menyiapkan interview untuk esok pagi.

“ya ampun, ayo ulang sekali lagi.” Minsoo masih tetap di tempatnya duduk, namun matanya terus saja bergerak mengikuti arah gelagat Baekhyun yang membuatnya dongkol setengah mati.

Lalu Baekhyun menghadap Minsoo, “ayo coba lagi.”

Dan untuk entah keberapa kalinya Minsoo menanyakan soal-soal yang biasanya keluar saat interview, hanya dua-tiga soal yang mampu Baekhyun jawab dengan tenang dan lugas. Sisanya hanya menyengir bak seorang tolol yang menang lotere.

“setahuku kau tidak sebodoh ini.” Minsoo menutupi wajahnya dengan kertas putih yang dia tulis dengan rapih untuk Baekhyun hapal—setidaknya mengerti—yang wujudnya malah berantakan karena terlalu sering dibolak-balik.

“ya! Jangan meremehkan kemampuanku!”

Lalu Baekhyun merebut paksa kertas itu dan mulai menghapalnya dengan serius.

Pagi ini Baekhyun bangun dengan mata hitam dan rambut berantakan, kertas putih itu masih setia berada dalam genggamannya yang mulai mengendur, lalu tak lama netranya menangkap sosok Minsoo yang berjalan keluar dari arah kamar mandi.

“mandi sana. Sudah kusiapkan air hangat.”

Otak Baekhyun belum bekerja sepenuhnya, yang sekarang dia lakukan hanya duduk dan menggaruk lehernya sambil terus menguap.

“ya! Cepat mandi sana! Kau kan lambat.”

“iya, iya.”

Dan dengan sempoyongan, Baekhyun berjalan ke kamar mandi dengan kaki yang di seret.

Tak sampai dua puluh menit, Baekhyun siap dengan seragam barunya—pakaian formal yang ternyata sangat cocok di tubuhnya—lalu berjalan kearah Minsoo yang sedang menyesap secangkir kopi sambil memainkan ponselnya. Dan saat Minsoo mendongak, tanpa aba-aba Baekhyun menyodorkan dasi hitamnya.

“jangan bilang kau tidak bisa memakainya.” Lalu Minsoo berdiri, mengarahkan agar Baekhyun sedikit menunduk.

Baekhyun sedikit membungkuk untuk mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi Minsoo, mencondongkan kepala yang malah membuat jarak wajah mereka hanya terpaut dua senti, yang ternyata membuat pipi Minsoo panas dan merah.

Dan Baekhyun menyeringai dalam hati.

Dia lingkarkan tangannya pada pinggul kecil Minsoo, membuat pipi gadis itu makin panas dan sedikit gelagapan.

“y—ya! Apa yang kau lakukan?”

“memangnya kau pikir punggungku tidak sakit karena harus menunduk seperti ini?”

Setelah berucap, Baekhyun menyadari bahwa pergerakan Minsoo menjadi lebih cepat.

Jantung Minsoo serasa mau copot saat itu juga, maka ia harus segera menyelesaikannya dan pergi entah kemana. Tapi saat kelegaan itu mulai terjadi—karena dasi itu sudah sempurna ada di leher Baekhyun—laki-laki itu malah mencium keningnya dengan cepat dan berlalu meninggalkannya dengan berpesan ‘jaga rumah baik-baik’ atau ‘kunci pintu kalau kau mau keluar’ yang sayangnya tidak terlalu di perdulikan Minsoo.

Ya Tuhan, jantungku mau meledak rasanya.

Chanyeol berjalan tergesa kearah taman kota yang menjadi tempat janjiannya dengan Chae Yoon, sedikit berlari saat menyadari Chae Yoon menangis di ujung sana.

“Song Chae Yoon.” Chanyeol berhenti tepat di hadapan Chae Yoon, terdiam saat wanita itu menyembul ke dalam pelukannya.

Wanita itu terisak, terdengar sangat pilu dan Chanyeol berusaha menenangkannya. Mengelus punggung wanita itu dan menggoyangkan badannya ke kiri dan kanan. Sampai Chae Yoon mulai tenang, dia berucap dalam dekapan Chanyeol.

“aku benci ayahku.”

Chanyeol tersenyum, jadi ini sifat kekanakkan Chae Yoon yang selalu dikatakan Jongin.

“kenapa? Dia kan ayahmu.”

“dia menjodohkanku dengan seseorang yang bahkan rupanya saja aku tak tahu.”

Senyum di bibir Chanyeol hilang, bahkan pelukannya sedikit mengendur. Chae Yoon yang merasa, langsung menatap aneh kearah Chanyeol.

“kenapa?”

Dan Chanyeol menunduk, menatap sepasang mata cantik di depannya.

“bukankah itu bagus? Pilihan ayahmu pasti yang terbaik, harusnya kau bersyukur, bodoh.” lalu tersenyum dan menggamit lengan Chae Yoon agar segera meninggalkan taman kota itu.

Chae Yoon diam, dugaannya salah besar.

Sehun menggaruk kepalanya gusar, ini sudah kesekian kalinya bayangan Minsoo hadir di otaknya, tersenyum sampai membuat matanya melengkung cantik, terus seperti itu sejak tiga belas menit yang lalu.

Dan Sehun frustasi dibuatnya.

Apa salah jika Sehun menyatakan perasaannya malam itu? Apa salah jika Sehun melepaskan Minsoo untuk pria bernama Baekhyun? Apa salah jika—

“aish! Ya Tuhan!”

Sehun menjatuhkan kepalanya ke atas meja hitam di depannya, matanya terpejam dan tangannya menggantung seperti orang mati. Lagi, Minsoo hadir di sana, di dalam pikirannya yang tak tentu arah, dia menggelang pelan, mencoba mengusir bayang sialan itu dari otaknya, hingga akhirnya menyerah dan memilih untuk tetap focus pada layar computer di depannya.

Sehun tak tahu apa yang sedang dia rasakan. Menyesal? Rindu? Semua pikiran itu berkelut menjadi satu di dalam otaknya, berkecamuk hebat yang malah membuat kepalanya pening.

Lalu Sehun mencoba diam sambil merebahkan punggungnya ke kursi.

Pintu di depannya berbunyi, lalu terbuka sampai memperlihatkan seorang paruh baya yang menjadi rekan kerjanya berjalan mendekat sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya.

“Presdir, ada perlu apa anda datang ke sini?”

“aku ingin memperkenalkan anakku padamu.”

Sehun diam, bahkan senyumnya sudah hilang entah kemana.

“aku ingin dia belajar bisnis denganmu. Dan aku yakin kalian akan menjadi teman baik. Kalian kan, seumuran.”

Lelaki yang di kenalkan itu mengulurkan tangannya dengan canggung, membuat Sehun mengerjap berulang kali.

“Byun Baekhyun.” Mereka berjabat tangan dengan senyum seadanya.

“Oh Sehun.”

Walau sedikit canggung, tapi Sehun tetap memberikan instruksi untuk Baekhyun yang menurut Baekhyun lebih mirip khotbah daripada pengarahan atau instruksi.

“aku muak.” Sambil melemparkan kertas itu ke atas meja, Baekhyun berdiri dan mengalihkan pandangnya pada Sehun.

“Sehun-ssi, ayo kita keluar. Mataku panas dan kepalaku pusing.”

Sehun sedikit mengerjap, “tap—.”

Tapi Baekhyun menggamit lengannya dan berucap tanpa menghadap Sehun, “istirahat sebentar tidak membuatmu miskin.”

Mereka sedang menikmati bubble tea dengan rasa berbeda di sebuah bangku putih dekat kedai tempat membeli bubble tea. Terdiam dengan pikiran masing-masing, mencoba untuk mencairkan keadaan canggung tapi entah dengan cara apa. Sampai Baekhyun membuka mulut sambil tetap menikmati bubble tea-nya.

“kau benar menyukai Minsoo?”

Dari sekian banyak pertanyaan, haruskah kau membahas dia?!

“iya, sampai kemarin.”

“maksudmu?”

Sehun tersenyum, sambil sedikit menggoyangkan minumannya, dia menjawab, “aku di tolak.”

Bola mata Baekhyun membulat sempurna, “kenapa?”

“kupikir dia menyukai orang lain.”

Lalu Baekhyun tertawa, “aku?” sampai meremas baju di bagian perutnya.

“aku juga di tolak.”

“maksudku,” Baekhyun menarik napasnya sekali, “dia belum memberiku jawaban.”

Sehun mengedikkan bahu, “wanita itu pemalu.”

“kau harus berusaha lebih keras, jika kau mencintainya, maka jangan menyerah sebelum kau mendapatkannya.”

“dan jika kau sudah mendapatkannya, jangan pernah biarkan dia lepas.”

Chanyeol kembali memejamkan matanya, berpikir keras akan apa yang akan dia lakukan, kembali memikirkan perkataan ayahnya berulang kali, lalu membayangkan wajah Chae Yoon yang tersenyum kearahnya, yang malah membuatnya semakin frustasi.

Tapi, satu pikiran Chanyeol mengatakan, dia sudah dijodohkan oleh ayahnya. Yang satunya lagi berkata, tapi dia tak suka dengan perjodohannya. Satunya lagi berkata, ini impianmu, mimpimu bahkan sejak kau belum mengerti apa-apa. Yang lain juga berkata, kalian saling mencintai, jadi jangan tinggalkan dia. Lalu yang satunya juga berkata, jika dia mencintaimu, dia akan mengerti dan menunggu.

Sampai dering ponselnya berbunyi dan memaksanya untuk menjawab.

“hai—iya, aku di rumah—tentu—sekarang?—baiklah, sepuluh menit lagi sampai.”

Dan Chanyeol bergegas pergi dengan perasaan kalut.

Sepuluh menit kemudian, mobil hitam Chanyeol sudah terparkir rapih di antara deretan mobil mewah lainnya, lalu berjalan pelan menghampiri wanita cantik yang sangat dicintainya.

“ada apa?”

Dengan mata berbinar, Chae Yoon menjawab dengan perasaan menggebu-gebu, “ayahku membatalkan perjodohannya. Astaga aku senang sekali. Rasanya beban di pundakku terangkat semua.”

“oh ya?”

“iya, “ Chae Yoon mengangguk lalu tersenyum, “jadi kita bisa pacaran.”

Chanyeol tersenyum, lantas memeluk tubuh kecil Chae Yoon, mengecup ujung kepalanya pelan, sambil memejamkan mata dan tersenyum.

“bagaimana hasilnya?” Minsoo tersenyum saat Baekhyun mengacak rambutnya pelan, lantas ikut duduk di ayunan kayu samping Minsoo.

“aku berhasil.”

“wah, kalau begitu taruhannya kamu yang menang.”

“kenapa? Aku, kan, belum bisa membeli apa-apa.”

Minsoo tersenyum, “menurutku kamu sudah menang, itu saja.”

Baekhyun makin tak mengerti, “aku belum menang Min—.”

“kamu sudah menang Baekhyun, selalu menang.”

“kamu menang mengalahkan Sehun, menang melawan perasaanku yang semula hanya menganggapmu teman, menang melawan sifatku yang kekanakkan, menang melawan rayuan untuk hidup mewah bersama ayahmu. Meskipun kamu belum bisa membeli semua yang aku inginkan, tapi kamu bisa membuatku bahagia, tersenyum, lupa jika banyak pekerjaan yang belum kuselesaikan, membuat jantungku berhenti saat kau menciumku, membuat jantungku berdegup saat tanganmu mengusap kepalaku, membuat pipiku panas saat kau mencium keningku.”

“aku ingin selamanya merasakan itu. Denganmu, Baekhyun.”

Baekhyun diam, jantungnya serasa berhenti. Merasa jiwanya pergi dan terbang entah kemana.

Minsoo tersenyum, lantas berdiri tepat di depan Baekhyun, mengulurkan tangannya, dan berucap, “ayo beli apapun yang kita mau. Bersama-sama.”

Lagi, Chae Yoon mendengus kesal. Sudah belasan kali telponnya tidak diangkat oleh Chanyeol. Bahkan pesannya saja tidak ada yang dibaca oleh lelaki itu. Ada perasaan marah dan khawatir, tapi tak tahu harus berbuat apa. Sesibuk itukah Chanyeol?

Dan Chae Yoon tersenyum penuh kelegaan saat nama Chanyeol tertera di layar ponselnya.

“iya, tidak apa-apa—baguslah—bisa kita bertemu sebentar?—oh, begitu—tidak apa, mungkin bisa lain kali—iya, hati-hati.”

Selalu seperti ini, Chanyeol selalu sibuk entah karena apa, selalu mengabaikan pesan dari Chae Yoon, dan membalas dengan singkat, seperti ‘aku sudah makan’ ‘iya, terimakasih’ atau ‘maaf, aku sibuk’.

Hari-hari berlalu begitu saja, Minsoo bercerita bahwa dia dan Baekhyun resmi berpacaran, Jongin juga bilang bahwa dia dan gadis bernama Sora sudah semakin dekat. Dan Chae Yoon hanya bisa tersenyum. Kemana Chanyeol, kekasihnya?

Sampai Chae Yoon menelpon Chanyeol setelah empat hari mereka tidak saling bertukar pesan. Mengajak lelaki itu makan siang bersama di restoran ramen tempat mereka pertama kali ‘berkencan’.

Dan Chanyeol mengatakan iya.

Sudah tiga puluh empat menit Chanyeol terlambat, padahal jalanan tidak terlalu ramai hari ini. Chae Yoon masih setia menunggu, sambil sesekali melihat arloji hitamnya dan meminum jus apelnya.

“maaf, aku terlambat.” Dengan peluh di sekujur tubuhnya, Chanyeol duduk dengan napas tak beraturan.

“astaga. Kamu lari?”

Chanyeol mengangguk, menghabiskan jus apel Chae Yoon dalam sekali tenggak.

Lalu Chanyeol melihat jam tangannya, “apa yang mau kamu bicarakan, waktuku tidak banyak.”

Chae Yoon diam, emosinya naik ke permukaan.

“sesibuk itukah kamu, Chanyeol?”

“sesibuk itukah sampai kau tak bisa mengangkat telponku? Atau bahkan membalas pesanku? Setidaknya membacanya?”

Chae Yoon menyeka air matanya, sedangkan Chanyeol diam sambil memperhatikan gelagat Chae Yoon dengan tatapan sulit diartikan.

“tahukah kamu bahwa aku khawatir padamu? Aku ingin tahu kamu makan dengan apa, kamu sedang apa, apa kamu baik-baik saja, apa harimu menyenangkan, aku ingin—ingin mendengar semua ceritamu, Chanyeol.”

“apa sulit, untuk menghubungiku barang sebentar? Setidaknya jawablah pesan-pesanku, bilang, ‘aku baik-baik saja’ atau ‘aku merindukanmu’. Hanya itu Chan, apa itu sulit?”

Chae Yoon menangis, menangis dalam pelukan Chanyeol, merasa hangat dan tenang hanya karena Chanyeol memeluknya.

Chanyeol melepaskan pelukannya, lalu tersenyum, “aku mencintaimu Chae Yoon, sangat mencintaimu. Tapi aku harus pergi. Maafkan aku.”

Chanyeol pergi meninggalkan Chae Yoon, meninggalkan wanita yang sangat dicintainya.

Chae Yoon pulang dengan matanya yang hitam, tersentak saat tak sengaja menendang kotak kecil di depan kakinya. Dia ambil kotak itu, lalu membukanya dan melihat isinya.

Kalung dan surat.

Dia baca surat itu dengan teliti, lalu tak lama kakinya bergegas pergi dengan kalung dan surat yang menggantung di tangannya.

Kalungnya cantik. Iya, kan? Anggap saja sebagai hadiah ulang tahunmu, Chae Yoon.

Aku akan pergi ke London selama tiga tahun, maafkan aku karena aku tidak mengatakannya padamu. Aku hanya takut, jika kau mengetahuinya, kau akan marah dan meminta kita mengakhiri semuanya.

Maafkan aku karena sudah mengabaikan semua pesanmu, tidak memberimu kabar, atau menemuimu. Karena aku sibuk mempersiapkan segala hal untuk hidupku di London.

Kuharap kamu mengerti, Chae Yoon. Aku sangat mencintaimu.

Park Chanyeol.

Chae Yoon berlari secepat yang dia bisa, menerobos ribuan manusia yang akan bepergian dengan tujuan sama dengan Chanyeol. Dia menangis, terus berlari untuk menemui laki-laki yang dicintainya.

“PARK CHANYEOL!”

BUUK!

Chae Yoon memukul Chanyeol sekuat yang dia bisa, memaki laki-laki di depannya yang dengan seenaknya meninggalkannya.

“KAU PIKIR SIAPA KAU?! MENINGGALKANKU HANYA DENGAN SURAT INI?!”

“kenapa kamu tidak bilang langsung saja padaku, Bodoh?!”

“aku tidak akan marah jika kamu pergi untuk mengejar impianmu!”

“dasar brengsek! Bedebah kau! Astaga aku ingin sekali membunuhmu, Park Chanyeol!”

Chanyeol mendekap Chae Yoon yang masih saja menghujaninya dengan pukulan, menciumi kepala wanita itu dengan rasa sayang yang amat tulus, mengucapkan ribuan maaf atas kebodohannya.

“maaf, maaf, maafkan aku, Chae Yoon.”

Chae Yoon diam, bahkan pukulannya sudah berhenti, ganti mendekap Chanyeol dan enggan untuk melepasnya.

“aku akan kembali dalam tiga tahun. Aku berjanji.”

Lalu Chanyeol memasang kalung itu pada leher Chae Yoon.

“jadi kau harus menyimpannya. Jangan hilang atau rusak. Janji?”

“kembali dalam tiga tahun. Janji?”

Mereka kembali berpelukan, tersenyum sampai Chanyeol berucap dan pergi meninggalkannya.

“aku berjanji.”

Three years later.

Chae Yoon berjalan dengan semangat kearah Minsoo dan Baekhyun tepat setelah mereka selesai mengucap janji di atas altar.

“aigo, sahabatku ini sudah menikah rupanya.” Lalu memeluk Minsoo sambil tersenyum bahagia.

“terimakasih banyak.”

Sehun dan Jongin juga hadir di sana. Mereka berbincang dan tertawa bersama.

Banyak hal berubah selama tiga tahun berlalu.

Baekhyun, dengan bantuan Sehun, resmi menjadi pemegang saham terbesar di Korea, menjalani kerja sama dengan banyak perusahaan luar negeri. Berhasil membahagiakan Minsoo dengan caranya sendiri. Sampai hari ini, mengucap janji sehidup semati di atas altar dengan wanita yang dicintainya.

Sehun, berhasil melepaskan Minsoo dan memilih untuk focus pada pekerjaannya, yang membuatnya menjadi pengusaha terkenal dengan pendapatan fantastis.

Jongin, laki-laki tampan yang jadi pujaan semua wanita. Hanya dengan kedipan matanya, bisa dipastikan bahwa jantungmu akan jatuh keluar.

Chae Yoon tersenyum, menghampiri mereka—sahabatnya—dan ikut berbincang.

“kapan kau akan menikahi saudaraku?” Sehun bertanya sambil menyikut lengan Jongin, membuat lelaki itu terkekeh pelan.

“aku mendekatinya dengan cara berbeda. Jadi tunggu saja waktunya.”

“ya, aku ingin keponakan perempuan, jadi cepat lakukan dan kabulkan permintaanku.”

“Ya Tuhan, Jongin.” Chae Yoon tertawa, menjitak kepala Jongin yang seenaknya berkata seperti itu.

“akan ku usahakan.”

Diam, bahkan Minsoo mengatupkan mulutnya rapat-rapat.

“YA! BYUN BAEKHYUN! DASAR MESUM!”

Malam ini indah sekali, dengan kembang api yang terus bermekaran di lagit, juga pohon besar yang sejatinya terbuat dari permen kapas. Membuat Minsoo dan Chae Yoon berlari dengan tergesa dan memakannya dengan lahap.

“sebenarnya pohon itu cukup besar, jadi tidak akan cepat habis dan kamu bisa memakannya pelan-pelan.”

Chae Yoon diam, bahkan kegiatannya terhenti begitu saja, kembali mendengar suara laki-laki yang sangat dicintainya.

Dia menoleh, mendapati Chanyeol yang sedang tersenyum kearahnya sambil menyesap anggur di tangannya.

“bagaimana kabarmu, Song Chae Yoon?”

END

/lap ingus

Terimakasih banyak untuk kalian yang udah setia baca ff aku. Hiks, ku terhura /lap ingus lagi/ akhirnya ff gaje nan absurd ini selesai dengan ending yang asdfgljk. Maaf banget kalo kalian ga puas dengan karyaku, yang diksinya ga tepat, ceritanya gaje, alurnya ngalor-ngidul/?, latarnya gajelas, bikin bosen, kelebihan typo, dan lain-lain.

/senyum terhura/ makasih buat kalian yang udeh komen ama ngelaik/? Aku seneng banget pas baca komenan kalian loh, moodku langsung naik gitu :v

/nyengir/ maap karena updatenya lama, karena aku sibuk/? Mantengin eksoh kambek, baca ff yang laen, sama main rpw :v dan karena puasa, bikin otakku lemot/? Soalnya ku sudah terbiasa ngetik sambil ngemil :v. dan jangan lupakan pidio mas ceye ama mbak yuan yang kissingscene /nangis/ pas ku liat itu ya, langsung ku santet mbak yuan-nya /nggakla/

Yasudah lah, pokonya terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung saya untuk melanjutkan ff ini :))))))) ilysm:v

Sampai ketemu di karya-ku selanjutnyaaa! :p

Peluk cium,

Mardika.

 

 

Iklan

5 thoughts on “You and I – End (chapter 7)

  1. Ko endingnyaa nge gantung sihh min , gak papa dehh yang penting terobati hehehe jangan lupa sequel nyaa yaa minn ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s