Regret

Regret ( Sequel ‘Terbaik Untuknya…’)

Part I – Takdir?

 

Author            : @RillyJnrwnty

Genre  : Romance

Cast     :

  • Jessica Kim
  • Oh Sehun
  • Park Chanyeol

Hey, there! Ini lanjutan dari kisahnya Jessica dan Sehun dari ‘Terbaik Untuknya…’

Kalau penasaran gimana awal ceritanya, check di link: https://exofanfiction.wordpress.com/2015/03/11/terbaik-untuknya/

Another fiction “Lucky”: https://exofanfiction.wordpress.com/2014/04/07/lucky/

Enjoy! XXO ^^

Jessica’s POV

Hari yang melelahkan. Sudah 1 tahun sejak aku putus dari Sehun dan menjauhkan diri dari Jongin. Hidupku sekarang benar-benar berubah. Dulu akan selalu ada saat dimana aku ingin jalan-jalan dan Sehun pasti akan menemaniku. Saat dimana aku butuh bahu, pasti Jongin akan meminjamkan bahunya untukku. Namun, dalam waktu 1 tahun ini, aku benar-benar kehilangan mereka. Tapi, aku berusaha untuk menerima keadaan ini karena memang inilah kemauanku. Yah, jika terbiasa, pasti aku akan bisa melaluinya dalam waktu yang lama. Semoga saja.

Sudah 3 bulan sejak kepindahanku ke Busan. Seoul benar-benar butuh perluasan wilayah lagi. Ibu kota yang benar-benar ribut. Aku sungguh tidak tahan. Appa dan Mama akhirnya memutuskan untuk pindah ke Busan. Appa dipindah tugaskan ke Busan. Yah, setidaknya udara di Busan masih lebih menguntungkan daripada Seoul.

Hari ini aku ingin ke toko buku, aku penasaran sekali dengan kelanjutan cerita dari novel favoritku. Ah, ceritanya benar-benar membuat pembaca jadi penasaran. Dan hari ini adalah jadwal pelirisan, aku tak mungkin melewatkan kesempatan ini.

Aku membuka SNS, melihat-lihat timeline dari atas ke bawah. Seketika ibu jariku berhenti menggerakkan diri. Oh Sehun. Itulah nama yang terpampang dalam layar yang saat ini kulihat. Fotonya sedang tersenyum. “Yah, aku akan teruskan seperti ini meski tanpa dirimu…” Begitulah isi dari captionnya. Kugerakkan ibu jariku untuk mengetuk tanda love, namun hati ini berhenti. Ah…

Jujur, aku menyesali semua yang ku putuskan selama 1 tahun ini. Aku menyesal sudah memutuskan Sehun. Kini kurasa Sehun benar-benar sudah bahagia. Foto yang baru saja kulihat benar-benar menunjukkannya. Sehun-a, mianhae…

Kuputuskan untuk duduk di taman sebentar. Udaranya sejuk sekali. Aku jadi rindu Sungai Han. Udara seperti ini benar-benar menyejukkan pikiran. Sekaligus melupakan segala jenis penyesalan…

Ku perhatikan sekelilingku. Banyak yang berolahraga, banyak yang berjalan-jalan dengan peliharaan, banyak anak kecil bermain bersama dengan ayahnya, dan juga… Sehun.

Iya, Sehun… Aku terpaku melihat sosok pria di sampingku. Matanya sedang terpejam sambil menggerakkan kepala sesuai dengan irama musik yang terdengar dari headphone putih miliknya. Itu adalah hadiah ulang tahunnya yang kuberikan 2 tahun lalu. Ternyata dia masih menyimpannya…

Aku terpaku dalam posisiku. Aku benar-benar tak menyangka akan berjumpa dengannya di saat seperti ini. Aku ingin menyapanya, memeluknya, dan mengatakan bahwa aku sangat merindukannya. Namun tubuh ini tak berani bergerak sedikitpun.

Sehun-a… Aku disini… Dan seketika Sehun memosisikan wajahnya untuk berhadapan denganku. Saat itulah kedua matanya terbuka. Sehun yang tadinya menggerakkan kepala mengikuti irama musik, sekarang ikut terdiam sama seperti diriku. Wajahnya hanya berubah sedikit. Rambutnya agak panjang daripada yang terakhir kulihat di tahun lalu.

Matanya terus menatapku. Aku juga menatap matanya, mengisyaratkan bahwa ‘Aku merindukanmu. Bolehkah aku memelukmu?’

Kini ia memalingkan wajahnya dan berdiri dari tempatnya, kemudian ia… pergi begitu saja.

Sehun-a… Ini aku…

Yah, aku tahu memang aku jahat memutuskanmu tanpa alasan yang masuk akal. Aku tahu aku membiarkanmu pergi begitu saja, tapi… kau harus tahu bahwa aku menyesali itu semua sepanjang 1 tahun ini. Sehun-a, kembalilah padaku…

Sehun’s POV

Aku sedang mendengarkan sebuah lagu yang masih saja teringat dalam pikiranku. Ini adalah lagu kesukaannya. Yah, kami memang sudah 1 tahun ini putus dan tidak ada sama sekali bentuk komunikasi diantara kami berdua. Tapi entah kenapa hari ini kami bertemu kembali. Apakah ini takdir dari Tuhan?

Saat aku menyadari dia sedang melihatku, aku terdiam. Memori dalam otakku seakan bermain-main. Kenapa dia bisa ada disini? Kenapa bisa kami bertemu kembali?

Jujur, 1 tahun ini aku masih sangat belum bisa melupakannya. Bayangan dirinya selalu datang menemani hariku. Aku sadar memang aku bukanlah seseorang yang special baginya lagi setelah kata-kata yang ia lontarkan 1 tahun yang lalu. Tapi perasaan ini masih sama…

Jessica’s POV

Appa menyuruhku untuk membelikannya sesuatu ke supermarket. Huh, menyebalkan. Padahal aku sangat ingin beristirahat dan menghabiskan hari liburku untuk bersantai dirumah. Perjalanan ke supermarket juga tidak bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Aku harus naik bus sekali dan berhenti jika sudah melewati halte kelima.

Setelah apa yang appa titipkan sudah semua kuambil, sekarang bagianku untuk membeli makanan. Tentu saja hal ini harus dilakukan jika aku berada di supermarket! Saat aku sedang mendorong troli menuju ke arah makanan ringan, tiba-tiba seseorang menabrakku dari belakang. “Aw!” pekikku, karena ia mendorongku menggunakan troli dan itu menjepitku.

“Maaf, aku tidak senga…”

Aku baru saja ingin marah-marah saat kusadari bahwa itu adalah… Sehun. Oh, God! Kenapa kami harus selalu bertemu? Aku baru saja bertemu dengan dia akhir-akhir ini di taman. Sekarang kami bertemu di supermarket. Bukanlah suatu kebetulan, kan?

“Jessica, maaf aku tidak melihatmu. Aku sedang bermain-main dengan troli ini, tapi ternyata aku tak menyadari jika kau ada didepanku. Maaf…”

“Ah, tidak apa-apa. Aku juga baik-baik saja, jadi tak perlu terlalu dipikirkan…”

“Ah, baiklah…”

Kami terdiam beberapa saat. “Apa yang kau…” tanya kami berbarengan. Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

“Apa yang kau lakukan disini, Sehun-a?” tanyaku.

“Ah, aku sedang berbelanja untuk makan malam nanti. Bagaimana denganmu?” tanyanya kembali. Kami kini berjalan beriringan sambil mendorong troli masing-masing. Benar juga, dia sedang belanja untuk bahan makanan.

“Appa menyuruhku untuk membeli sesuatu…”

“Dan kau pasti berlari kearah makanan kan?” jawabnya. Bagaimana dia tahu itu? Pikirku.

Dia melihat kearah troli yang kudorong, dan ternyata benar. “Aku benar… Itu memang sudah jadi kebiasaanmu jika ke supermarket…” jawabnya lagi. Aku terdiam. Ternyata dia masih ingat.

“Sehun-a, untuk waktu itu…”

“Sicca-ya, bisakah kita bahas ini lain kali saja? Kita mungkin masih sama-sama belum siap…”

Aku terdiam. Apakah dia akan menjauhiku saat ini? Aku takut itu. “Kenapa?”

Dia menghembuskan nafas panjang. “Yah, kurasa sekarang bukanlah waktu yang tepat karena ini kali pertama kita berjumpa kembali setelah sekian lama. Kau naik apa kesini? Ayo kuantar pulang!”

Aku tersenyum sambil mengangguk, mungkin cara ini tak akan membuat kami menjadi orang asing satu sama lain lagi… Semoga saja.

 

To be continued…

 

Iklan

2 thoughts on “Regret

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s