Magnet

images

Magnet

Author : Seo Joo Eun

Length : Ficlet

Gendre : fluff

PG : General

Cast : Park Chanyeol, OC

“Jangan membuatku terlihat semakin bodoh, Yeol.”

Selalu ada hari yang membuat duniaku jungkir balik. Gara-gara otak milik si Park Chanyeol, duniaku jungkir balik. Sejak awal, aku memang memiliki perasaan yang buruk saat mengetahui satu kelas dengan Chanyeol.

Si jenius sejenis Park Chanyeol, selalu membuatku jengkel sejak pertemuan pertama kami. Sejak ia pindah rumah, tepat di samping rumahku. Menjadi awal, jungkir baliknya duniaku.

Katakanlah, hidup kami bertolak belakang. Si jenius, Park Chanyeol. Dan si idiot, Park Seomi. Begitu kata Ibuku.

“Bagaimana dengan hasil akhirmu, Mi?”

Aku ingin sekali mencekiknya. Jelas-jelas ia tahu bagaimana peringkatku di kelas. Harusnya, aku tak pernah masuk ke dalam kelas yang sama dengan Chanyeol. Lagipula, ada keajaiban apa yang membuatku bisa masuk ke dalam kelas yang sama dengan Chanyeol.

“Kau sedang mengejekku, Yeol?” desisku, jengkel.

Aku yakin, teman-teman lamaku tak akan percaya dengan peringkatku saat ini. Aku yang terbiasa masuk ke dalam deretan tiga besar, tiba-tiba saja tenggelam masuk ke dalam tanah. Rasanya, akan sulit untuk menampakan diri ke permukaan.

“Harusnya kau tutup gelasmu. Kau mengabaikan nasehat Ibumu sendiri, ya.” omel Chanyeol. Tangannya sudah menyodorkan tutup gelas berbentuk lingkaran. Kebetulan, gelas yang ku gunakan saat ini seperti toples yang bergagang.

Mataku memutar jengah. Mengambil tutup yang berada di tangan Chanyeol. Lalu, mulai memutar tutup ke gelas. Sial. Kenapa susah sekali. Aku terus saja memutar tutup ke segala arah. Yang terpenting, kan, gelasnya tertutup rapat.

Tiba-tiba. Chanyeol mengambil gelas beserta tutupnya. Lalu, memutar tutup gelas itu. Dan, gelas, pun, tertutup dengan rapat. Mulutku sudah membentuk huruf ‘O’, dibarengi dengan anggukan keras.

“Selain prestasimu yang tenggelam di kelas. Kau juga tak bisa menutup gelasmu sendiri, Park Seomi?” ia sudah menyimpan gelas di atas meja.

“Terima kasih atas pujiannya, Yeol,” dengusku. Netraku sudah beralih pada TV. Membiarkan Chanyeol sibuk sendiri dengan ponselnya.

Jangan aneh, walaupun duniaku sering kali jungkir balik karena Park Chanyeol. Tapi, kami selalu bersama. Buktinya, ia ada di dalam ruang keluarga rumahku. Kami seperti magnet, saling bertolak belakang, namun saling melengkapi juga. Lucu, sih. Tapi, kadang menjengkelkan. Aku jadi terlihat sangat bodoh.

“Kan, jadi kekasihku saja. Mungkin, kecerdasanku akan menular padamu seperti virus, Mi,” tawarnya.

Boleh, ku pukul kepala Chanyeol agar otaknya tetap jenius, seperti julukannya ‘si jenius, Park Chanyeol’.

END

One thought on “Magnet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s