Arranged Life (Chapter 3)

Arranged Life (Chapter Tiga)

Kim Yoon Ae – Do Kyungsoo – Kim Jongin

Politic – Sad – Romance – Family – School Life

Prev: [2]

also published: there dan there

Poster Arranged Life

Gyeonghoeru

Hari sudah semakin sore saat Yoon Ae memasuki Paviliun Gyeonghoeru. Tempat itu kosong. Isi bangunan ini masih sama seperti pertama kali dibangun. Sebagai harta nasional, Gyeonghoeru tidak boleh dimasuki sembarang orang. Pengunjung harus mendapat izin terlebih dahulu dari KTO itupun tak boleh sampai memasuki ruangan di dalamnya.

“Tempat yang bagus untuk sembunyi,” gumam Yoon Ae.

Ia melangkah menuju balkon, melongok ke kolam bunga teratai di bawah paviliun. Yoon Ae sudah sering melihat banyak teratai di kolam kerajaan, namun kali ini ia merasa sedih melihat bunga-bunga bermekaran itu. Nasehat dari Ibu terngiang di telinganya:

“Yoon Ae, apa kau tahu filosofi dari bunga teratai? Mereka hidup di air yang tenang dan berlumpur di mana banyak serangga dan sumber penyakit. Bahkan daun mereka biasanya menjadi loncatan katak. Orang akan berpikir teratai sebagi bunga yang kotor. Akan tetapi, mereka tetap mekar dengan menawan dan bertahan hidup. Mereka hidup penuh keindahan dan kebersihan tanpa dipengaruhi oleh lingkungannya yang kotor. Betapa pun kotornya tempat dia hidup, tapi keindahannya tetap terjaga dengan baik bahkan menambah keindahan pula bagi lingkungan di sekitarnya. Begitu juga denganmu, kau memiliki hasrat dan keinginan untuk mencapai tujuan lain, dan kau hidup di lingkungan yang keras dan kadang penuh cara kotor. Tetapi, pahamilah Yoon Ae. Hasrat dan keinginanmu harus  kau jalani dengan kebaikan, sehingga pada akhirnya akan memberikan suatu keindahan bagi semuanya.”
Yoon Ae paham, apa pun keinginan untuk kebebasan dirinya sendiri tidak akan pernah tercapai. Tidak akan pernah. Kebaikan yang Ibu maksud adalah untuk kerajaan. Tapi ia masih berharap, bahwa suatu saat nanti akan benar-benar datang masa untuknya bahagia karena melakukan ini semua dengan tulus.

Tunggu dulu.

Tulus? Ia tak yakin. Ia tak berani menentang percakapan raja tadi pagi bukan karena ia mau melakukan keputusan presiden. Tetapi, karena ia tak mau melihat ayah menjadi lebih sedih lagi. Lantas sekarang bagaimana?

Yoon Ae berbalik dan menuju sudut paviliun. Duduk dengan kedua lutut tertekuk dan menunduk. Ia menangis lagi. Yoon Ae selalu menuruti semua perintah dari dulu sambil berharap setidaknya mereka tak mengatur perasaannya kelak. Tapi, ia salah. Ia bahkan tak menyangka akan secepat ini.

Ia terisak dibalik bayang-bayang pilar.

“Harta Nasional nomor 224. Bertiangkan 48 tonggak granit.”

Yoon Ae mendongak saat mendengar gumaman seorang anak laki-laki dari luar paviliun. Ia menajamkan pendengarannya untuk meyakinkan bahwa ia tidak salah dengar—bahwa ada seseorang mendekati paviliun yang terlarang untuk umum ini. Yoon Ae mengintip dari balik lemari tempatnya berjongkok dan tercekat. Gadis itu menutup mulutnya dengan kedua tangan, menahan pekikan lolos dari mulutnya ketika melihat seorang anak laki-laki sudah berada di dalam paviliun. Yoon Ae berdiri, berusaha untuk tak jatuh karena kakinya bergetar hebat. Ia tak pernah hanya berduaan dengan orang asing sepanjang hidupnya, meskipun anak laki-laki itu tidak tahu jika ada nyawa lain di belakangnya.

Dari penilaian Yoon Ae yang tertutup bayangan pilar, anak itu berperawakan—tergolong—pendek, mengenakan kaus warna biru tua dan celana jeans. Jaket merah melingkari pinggangnya ditambah sneaker merah sebagai alas kaki. Memunggungi Yoon Ae, anak itu terus mengetukkan jarinya di balkon, bergumam berulang kali sambil menggelengkan kepalanya.

Mau apa dia? Apa dia sedang memutuskan untuk mencuri atau tidak? atau apa? Kenapa dia bisa masuk sembarangan ke sini?, pikir Yoon Ae dengan posisi siaga. Yang jelas ia bukan orang baik, pasti! Dengan segenap keberanian yang dimilikinya, Yoon Ae mengendap-endap menuju salah satu pilar mendekati si anak. Setelah merasa posisinya tepat, ia melempar flat shoes-nya bersamaan dengan teriakan anak laki-laki itu.

“TIDAAAKKK!!!”

Sepatu Yoon Ae tepat mengenai tengkuk si anak yang langsung berbalik badan dan menyapukan pandangannya ke segala arah. Yoon Ae masih tak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena sosok itu membelakangi cahaya matahari.

Kau siapa?!” teriak Yoon Ae saat anak laki-laki tersebut memungut sepatunya. Ia lupa dengan bahasa formal yang seharusnya ia gunakan saat bertemu orang asing. Tapi, Yoon Ae ‘kan tidak pernah bertemu orang asing. Hidupnya ia habiskan dengan orang-orang yang itu-itu saja.

“Tolong jawab aku! Siapa kau?!” Yoon Ae kembali bertanya ketika tak mendapat jawaban. Tangannya mengepal, bersiap apabila si anaktiba-tiba menerjangnya. Tapi, Yoon Ae malah melangkah saat anak itu balik meneriakinya.

“Kau sendiri siapa? Kenapa kau sembarangan masuk kesini?! Ini bukan tempat umum!

Yoon Ae membeku.

Daejojeon, Changdeok-gung.

Dayang Choi sedang membantu Yoon Ae mengobati lecet di telapak kakinya. Yoon Ae meringis menahan sakit setiap kali Dayang mengoleskan salep ke luka-luka yang masih berdarah. Dia berbohong pada Dayang Choi atas apa yang terjadi hari ini. Yoon Ae tak mau Dayang Choi melapor pada kedua orang tuanya. Bisa-bisa ia tak akan pernah mendapatkan hadiah ‘bebas sehari’ lagi.

“Sebenarnya apa yang terjadi, Yang Mulia?” Dayang Choi masih saja menuntut jawaban dari Yoon Ae.

“Seperti yang tadi ku bilang. Aku terpeleset ke kolam teratai Huwon,” Yoon Ae berbohong, “sepatuku tercebur ke dalam kolam, jadilah aku berjalan tanpa alas kaki ke Daejojeon.” Yoon Ae mengamati mimik wajah Dayang Choi yang masih berjongkok di depannya.

Apakah dayangnya percaya?

“Kalau hanya jalan kaki tak mungkin sampai terluka seperti ini, Yang Mulia.” Dayang Choi menatap Yoon Ae lekat-lekat dan Yoon Ae hanya menganggukkan kepalanya, menghindari tatapan si dayang.

“Lain kali aku akan berhati-hati, Choi-nim. Aku janji.” Yoon Ae mengangkat tangan kanannya, bersumpah. Dayang Choi menyerah untuk bertanya lebih lanjut. Ia berdiri setelah membereskan peralatan P3K.

“Apa yang ingin Anda makan untuk makan malam, Yang Mulia?” tanyanya.

Hem. Aku lelah sekali hari ini. Aku ingin beristirahat saja dan,” Yoon Ae mencari kata-kata yang tepat, “aku akan sangat berterima kasih kalau ini—menunjuk luka di kakinya–hanya antara kita berdua saja. Aku mohon~

Dayang Choi geleng kepala, namun ia tak menolak permintaan Yoon Ae. Ia tahu mungkin ini bisa menjadi sedikit penghiburan untuk Yoon Ae.

“Baik, Yang Mulia. Beristirahatlah.” Dayang Choi membungkuk dan meninggalkan Yoon Ae.

Setelah kepergian Dayang Choi, Yoon Ae menghela napas lega. Ia mengikat rambut panjangnya tinggi-tinggi dan melihat luka-luka di telapak kaki kanannya yang masih terasa sakit.

“Kau sungguh bodoh, Yoon Ae. Kenapa kau yang harus lari?” keluhnya.

Yoon Ae beranjak menuju kamar mandi. Bathtub sudah terisi air dan sabun. Dia melepas pakaiannya dan mulai berendam. Kaki kanannya tak ia masukkan ke bak, masih perih. Diamati lekat-lekat kakinya yang terluka itu.

“Siapa anak itu, ya? Aish… memalukan.” Yoon Ae menenggelamkan kepalanya ke dalam bathub.

Yoon Ae kembali mengingat kejadian tadi sore ketika ia bertemu si anak asing itu. Dia ketakutan setelah si anak berteriak padanya. Karena tak tahu harus melakukan apa lagi, Yoon Ae berbalik dan berlari sekuat tenaga. Ia terus berlari tanpa melihat ke belakang sampai ia keluar dari Istana Gyeongbok. Disitulah ia baru sadar kalau sepatu sebelah kanannya masih di tangan anak asing tadi.

Saat melewati trotoar menuju Istana Changdeok, ia terpincang-pincang dan memutuskan untuk naik taxi daripada ketahuan oleh seseorang yang mengenali wajahnya. Putri mahkota memang jarang tampil di televisi maupun surat kabar, tapi tetap saja pasti ada satu-dua orang yang akan mengenali wajahnya. Jadi ketika paman sopir taxi bertanya ke mana ia akan pergi, Yoon Ae berbohong. Dia turun sekitar 50 meter jauhnya dari Istana Changdeok. Ia tak mau paman sopir taxi melihatnya masuk ke Istana Changdeok, padahal istana itu terlarang untuk umum.

“Sungguh ya~ Sepertinya aku Cinderella abad 21,” gumam Yoon Ae saat kepalanya menyembul dari bathtub. “Lagi pula siapa anak tadi? Kenapa malah aku yang dianggap orang sembarangan? Aku masuk dengan plakat istana!” Ia menggerutu sambil memainkan busa-busa sabunnya.

Sedetik kemudian Yoon Ae membelalakkan matanya.

Omo~ Apakah dia…”

Kyungsoo’s Side

Do Kyungsoo sedang dalam perjalanan pulang ke rumah bersama Ibu Negara. Ia duduk di kursi belakang, berselancar di dunia maya dengan Ipad-nya. Sementara Ibu duduk di kursi depan sambil mendiskusikan banyak hal dengan Pak Lee, sopir pribadi mereka yang sudah seperti keluarga sendiri.

Dear, tadi kau jalan-jalan ke mana saja di Cheongwadae?” Nyonya Do menoleh pada Kyungsoo. Kyungsoo mendongak sekilas, menatap Ibu.

“Di situ saja. Berputar-putar,” jawab Kyungsoo singkat.

“Bagaimana? Kau suka kediaman kita nanti?” tanya Nyonya Do lagi, kali ini sambil mengecek sesuatu di ponselnya.

“Sesuka Ibu menyukai tempat itu,” jawaban Kyungsoo membuat Nyonya Do kembali menoleh pada putranya.

Oh Dear, please~ Apa kau masih marah dengan hal tadi pagi?”

Kyungsoo hanya menggeleng, tak menjawab. Terlalu malas untuk membahasnya lagi. Usahanya tak akan pernah berhasil untuk menolak keputusan Ayah. Bahkan jika ia bunuh diri sekalipun, ia tak yakin keputusan Ayah berubah. Tapi, Kyungsoo pantang menjadi pengecut. Ia tak mau mengakhiri hidupnya dan dikenang sebagai ‘Putra Presiden yang Bunuh Diri karena Tidak Mau Menyelamatkan Negara’. Perjalanan hidupnya akan sangat ternodai!

Bosan dengan Ipad, Kyungsoo teringat pada sebuah benda di dalam ranselnya. Haruskah ia bertanya pada Ibu? Tangannya sudah hampir mengambil flat shoes yang dilempar gadis tadi dari dalam ransel, namun seketika ia menggelengkan kepalanya.

‘Tidak mungkin ibu tahu,’ pikirnya.

Sampai di rumah, Kyungsoo menolak ajakan Ibu untuk makan malam bersama. Ia masih belum mau bertatap muka lagi dengan Ayah setelah kejadian tadi pagi. Ia benci merasa marah dan bersalah secara bersamaan terhadap Ayah. Bagaimanapun Kyungsoo selalu menghormati Ayah.

“Akan ada beberapa pejabat yang ikut makan malam, kau tak mau menemui orang-orang hebat itu?” bujuk Nyonya Do untuk yang kesekian kalinya.

“Tidak, Ibu,” tolak Kyungsoo langsung menaiki tangga menuju kamarnya.

“Ibu,” katanya menoleh pada Ibu yang tampak frustasi karena memiliki anak kepala batu, “ aku ingin mandi dan langsung tidur. Aku tak mau diganggu. Terima kasih, Ibu. I love you~” Kyungsoo memberikan kiss bye pada Ibu dan berlari menaiki tangga sebelum Nyonya Do sempat berkata apa pun lagi.

“Dasar anak aneh! Gen siapa yang membuatnya begitu,” gerutu Nyonya Do.

Kyungsoo melempar ranselnya ke tempat tidur, bercermin dan mengacak rambutnya.

“Dasar gadis sialan! Untung tengkorakku kuat,” rutuknya.

Lantas Kyungsoo menuju kamar mandi, melepas pakaiannya, membiarkan air membasahi seluruh tubuhnya yang lelah. Perasaannya jadi sedikit lebih baik. Kyungsoo menangkap buliran air yang mengaliri badannya, berharap masalah dengan Ayah tadi pagi tidak pernah diungkit lagi. Itu pertama kalinya Kyungsoo berteriak pada Ayah. Pertama kalinya Ayah menunjuknya dengan sangat marah dan pertama kalinya juga Ibu tak bisa berkata apa-apa.

Ia merasa sangat bodoh.

Kyungsoo membiarkan rambutnya setengah basah dan hanya dengan berbalut handuk, ia kembali menuju tempat tidurnya. Mengambil  flat shoes yang mencium tengkuk belakangnya tadi sore dari dalam ransel.

“Kaki manusia mana yang sekecil ini?” gumam Kyungsoo sambil menimang-nimang flat shoes itu. Gambaran kejadian sore tadi kembali muncul. Gadis pemilik separtu ini langsung berlari kencang ketika Kyungsoo balik bertanya padanya. Kyungsoo hanya mengejar gadis itu sampai di dekat kolam teratai paviliun. Berharap si gadis sadar kalau sepatunya tertinggal dan kembali lagi untuk mengambilnya, sehingga Kyungsoo tak perlu repot-repot mencari tahu siapa dia. Namun, dugaannya salah. Gadis itu—yang Kyungsoo ingat hanya rambut panjangnya—berlari kencang meninggalkan Istana Gyeongbok.

“Kujamin kakinya pasti lecet-lecet. Pembalasan dari Tuhan.” Kyungsoo tertawa. Hari ini ia sedikit terhibur dengan aksi si gadis.

Setelahnya Kyungsoo seperti mengingat sesuatu yang penting.  Kenapa gadis itu menganggapnya orang asing yang masuk sembarangan? Kyungsoo kan anak presiden dan ia masuk bersama Ibu Negara.

“Harusnya, kau lah yang penyusup!” Kyungsoo berbicara pada flat shoes dihadapannya. “Haruskah aku mencarimu dari rumah ke rumah? Pft, seperti Cinderella saja.” Kyungsoo masih berbincang dengan si sepatu. Namun, tiba-tiba ia berdiri dari ranjang, hampir saja handuknya melorot kalau tak segera ia pegang.

Ia…

menyadari sesuatu…

“Tidak mungkin!”

Keesokan harinya, ada panggilan masuk ke Istana dari Dewan Parlemen yang memberitahukan bahwa keluarga kerajaan akan pindah ke Cheongwadae dalam waktu seminggu lagi. Bertepatan dengan tahun ajaran baru dimulai dan Yoon Ae pada akhirnya masuk SMA yang sama dengan Kai.

Raja mengadakan rapat singkat di Balai Huijeong. Membahas apa saja acara yang akan dilakukan di Cheongwadae. Menurut dewan parlemen, selain penyambutan secara resmi, presiden menginginkan adanya upacara minum teh bersama keluarga kerajaan. Mengingat tidak lama lagi mereka akan menjadi keluarga besar.

Kai akhirnya menemui Yoon Ae untuk pertama kali semenjak ada keputusan presiden tentang pernikahan. Yoon Ae sedang ada di istal belakang Istana, membantu Pak Song—pengurus peternakan kerajaan—memberi makan kuda-kuda kerajaan. Yoon Ae tak tahu lagi harus mengerjakan apa di sisa enam hari liburannya. Daripada Dayang Choi menyuruhnya mengulang hafalan seputar kerajaan lagi—yang mana bagi Yoon Ae sudah di luar kepala—jadilah ia menemui Pak Song di kandang kuda. Berulang kali Pak Song menyuruhnya kembali ke Daejojeon, tapi Yoon Ae terus merengek tak mau pergi.

Suasana kandang berubah saat Kai melambaikan tangan sambil bersandar di pintu istal. Yoon Ae senang bukan main. Akhirnya ia bisa menceritakan semuanya pada Kai. Yoon Ae menjatuhkan ember makanan di depan Ahn, kuda hitam kesayangannya lalu mengucapkan terima kasih pada Pak Song. Ia berlari kecil sekaligus pincang menghampiri Kai dan itu membuat Kai mengernyitkan dahi.

“Ada apa dengan kakimu, Yang Mulia?” tanyanya sambil memperhatikan kaki kanan Yoon Ae yang masih memakai sepatu boot tinggi.

“Ah~” Yoon Ae meringis malu. Entah kenapa ia selalu merasa malu bila mengingat kejadian kemarin. Di saat gadis normal di luar sana bisa lebih berani menghadapi makhluk asing, ia malah lari terbirit-birit. Meninggalkan sepatunya pula. Yoon Ae berpikir ulang, haruskah ia juga menceritakan kejadian memalukan kemarin.

“Aku cuci tangan dulu, ya? Akan kuceritakan semuanya.” Yoon Ae menepuk bahu Kai yang sepertinya masih ingin bertanya lagi.

Yoon Ae dan Kai menikmati suguhan teh hijau di gazebo kecil dekat Daejojeon. Yoon Ae telah meminta beberapa dayang yang sudah menyiapkan camilan untuk mengerjakan hal lain. Ia tak mau ada yang mendengar obrolannya bersama Kai. Ketika tersisa mereka berdua, Kai adalah yang pertama buka suara.

“Kenapa kakimu, Yang Mulia?” Dia mengulangi pertanyaannya. Tampak jelas dari sorot mata Kai, pertanyaan itu harus dijawab. Yoon Ae meletakkan cangkirnya kemudian ragu-ragu untuk mulai bercerita.

“Kemarin aku mencarimu, kau tidak ada. Kau pergi ke mana?” tanya Yoon Ae basa-basi sambil berpura-pura membetulkan posisi bantal duduknya.

“Jawab aku dulu. Kakimu kenapa, Yang Mulia?” Kai bersikeras menuntut jawaban. Sudah bisa ditebak kalau Kai bukan orang yang bisa dialihkan ke hal-hal lain saat ia menginginkan jawaban. Yoon Ae sangat memahami hal itu.

“Kecelakan memalukan,” jawab Yoon Ae terpaksa.

Kai semakin tak paham.

“Maafkan aku, aku tidak mengerti.”

Yoon Ae menghela napas dan mulai bercerita kejadian sesungguhnya. Ia bercerita bagaimana Ayah menemui dan memintanya menuruti keinginan presiden dan Yoon Ae tak bisa menolak saat sang Ayah terlihat begitu berharap. Kai mendesah pelan, sekilas ada gurat kecewa di wajah Kai. Kai sendiri tak tahu sebenarnya perasaan aneh apa yang mengganggunya akhir-akhir ini setelah presiden mengumumkan rencana pernikahan itu. Ia menjadi lebih sensitif dengan semua yang berhubungan dengan Yoon Ae. Saat di mana cerita Yoon Ae sampai pada kepergian Yoon Ae ke Paviliun Gyeonghoeru seorang diri, Kai cepat-cepat menyela.

“Penjaga membolehkanmu masuk? Mereka tak bertanya kenapa kau kesana sendirian?”

“Aku—aku bilang aku datang bersama Tuan Jo.” Yoon Ae menarik sehelai rambutnya ke belakang telinga.

“Kau melanggar aturan lagi, Yang Mulia!” Kai menggelengkan kepalanya. “Seharusnya kau menghubungiku, aku akan menemanimu.” Kai menyandarkan punggungnya ke dinding gazebo, menyilangkan kedua tangannya di dada. Ia sungguh khawatir bila saat itu terjadi sesuatu pada Yoon Ae. Putri mahkota hanya mengangguk.

“Aku tahu. Kemarin harusnya aku tidak senekat itu sampai aku menyadari sangat berbahaya pergi seorang diri tanpa tahu mau ke mana. Untung Gyeongbok tidak terlalu jauh.” Yoon Ae kembali menyeruput teh hijaunya. “Kau tidak minum, Kai?” tanyanya. Ia sedikit risih dengan tatapan tajam Kai.

“Lalu,” Kai mencondongkan tubuhnya ke meja, tak menjawab Yoon Ae, “bagian cerita kau mendapat luka di kakimu?”

Yoon Ae menarik keluar kaki kanannya, masih sedikit sakit dengan posisi duduk di mana kau harus menduduki telapak kakimu.

“Ini,” putri mahkota menunjuk telapak kaki kanannya yang polos dan masih penuh dengan beberapa plester, “aku lari dari Gyeonghoeru tanpa alas kaki,” lanjutnya pelan sambil mengamati perubahan ekspresi wajah Kai. Yoon Ae merasa aneh dengan sikap Kai hari ini.

Kenapa dia protektif sekali? pikir Yoon Ae.

“Lari? Memangnya apa yang terjadi di sana, Yang Mulia?”

Yoon Ae memilin ujung rambutnya. Dia bingung bagian itu harus diceritakan atau tidak. Kai mungkin tak akan melapor apa pun pada orang tuanya, tapi tidak jaminan kalau Kai tidak marah padanya.

“Yang Mulia, kau lebih suka kalau aku menganggap sesuatu mengerikan terjadi kemarin dan melapor pada raja?” Kai mengedikkan kepalanya ke arah Yoon Ae.

Gadis itu menyerah.

“Jangan! Oh, baiklah!” Yoon Ae menutupi wajahnya dengan kedua tangan. “Di Gyeonghoeru ada anak laki-laki asing masuk ke sana. Kulempar sepatuku dan mengenai tengkuk kepalanya. Aku takut kalau dia akan melakukan sesuatu yang jahat. Tapi—” Yoon Ae melirik manik mata Kai yang melebar, “—tapi, dia malah berteriak padaku seakan-akan akulah yang sembarangan masuk ke sana!”

Kai seakan berusaha mencerna cerita Yoon Ae. Keheningan menyelimuti keduanya sebentar.

“Dan Yang Mulia lari begitu saja, ” tebak Kai, “tanpa memakai sepatu yang kau lempar itu, benar kan?”

Hebat! pikir Yoon Ae. Sungguh luar biasa saudara angkatnya ini, bisa tahu apa yang ia lakukan setelahnya.

“Eh iya, benar sekali! Kau hebat, Kai. Bisa tahu apa kelanjutannya.” Yoon Ae menunjukkan jempolnya ke wajah Kai. Sepupunya itu tampak meremehkan.

Kai hanya tersenyum sinis membuat Yoon Ae siap memukul tangan Kai, tapi ia mengurungkan itu.

“Bisa ditebak. Kau kadang sembrono, Yang Mulia. Seharusnya kau melapor ke penjaga. Bagaimana jika anak itu malah mengejar dan mencelakaimu. Itu lebih parah lagi.” Kai merasa puas menggoda adik angkatnya. Diangkatnya cangkir teh hijaunya yang sudah dingin dan meminum isinya. Yoon Ae tidak menunjukkan ekspresi sama sekali. Dia kesal. Kai benar tentang Yoon Ae yang kadang kurang perhitungan.

“Nyatanya tidak,” Yoon Ae ikut menyeruput tehnya, “tadinya aku berpikir kalau dia anak presiden, tapi sepertinya bukan.”

Kalimat terakhir Yoon Ae membuat Kai hampir tersedak kue beras yang sedang ia kunyah.

“Anak presiden?”

“Siapa lagi yang boleh masuk ke sana selain keluarga kerajaan dan keluarga presiden? Tapi, sepertinya bukan. Mungkin dia pelajar yang menyusup di sela-sela gurunya saat tur di Cheongwadae. Mungkin saja ada tur hari itu,” jelas Yoon Ae.

Kai tak bertanya lagi. Ia mencengkeram erat pegangan cangkirnya.

“Aku ingin semuanya terus memantau perkembangan yang terjadi. Baik di istana, maupun kabinet presiden. Jika terlihat tanda-tanda pernikahan itu dibatalkan, kita harus bergerak!” kata suara di seberang telpon Tuan Park. Pria tua itu tampak terkejut dengan keputusan ketua mereka.

“Jadi, Anda setuju? Bukankah itu tidak menguntungkan kita?”

“Itu akan menguntungkan! Kau akan terkejut nantinya. Bahkan, ini lebih dari menguntungkan,” lanjut suara itu. Tuan Park tersenyum dan hanya menjawab ‘Baiklah’. Ia percaya ketuanya pasti punya rencana yang lebih hebat dari sebelumnya.

Kembang api yang akan mereka lesatkan lebih besar.

-tbc

©Miss Candy

 

 

Iklan

3 thoughts on “Arranged Life (Chapter 3)

  1. Duh tuan park merencanakan apaan ya ? Jadi penasaran …..semoga authornim terus menulis ff ttg exo dgn ide yang lebih gila lagi….karena cerita ini jjaanggg
    Keep writing

  2. Permasalahan udah mulai muncul nih, Ada aja yang nggak suka sama pernikahan mereka. Tambah greget nih,. Semangat selalu thor 👍

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s