Be The Heart (Chapter 1)

 

Judul: Be The Heart (Chapter 1)

Author: Takamiwa (Instagram: @takamiwa_)

Ganre: Romance, Friendship

Lenght: Chapter

Rating: 15+

Main Cast: Byun Baekhyun, Kris Wu, Kim Nahyun.

Other Cast: Sunhwa, ayah Kris, Kim Himchan.

 

Note: FF ini juga diposting di Wattpad: @takamiwa

BTH 2.png

~Be The Heart~

Cafe dipilih jadi tempat mengobrol dan berbincang karena kenyamanannya. Tapi siang itu, seluruh pengunjung menyesal telah memesan meja; suara-suara pertengkaran menganggu saraf pendengaran mereka, nyaris satu jam dua pemuda yang duduk di pojok itu saling tarik urat saat berteriak dan mengumpat, sama sekali tak memusingkan teguran para pelayan dan dengusan pengunjung yang risih musik santai di cafe dikalahkan suara debat mereka.

“Maumu apa sekarang, Kris?!” Si pelaku kebisingan itu melompat dari kursi, raut wajahnya menggambarkan murka yang sanggup membanting meja, tapi ia menahan diri, berusaha rasional di depan temannya yang terkekeh dari seberang.

“Tenanglah, Baekhyun…” Kris menautkan kesepuluh jarinya, menekan sikunya di permukaan meja saat mendongak, menertawakan Baekhyun yang terengah-engah marah. “Cukup tidak memberitahu siapapun. Dan jangan terlalu mengkhawatirkanku. Cuma itu yang kuperlukan darimu.”

“Kau bisa mati sewaktu-waktu! Jangan bersikap enteng soal jantung sialanmu itu!”

“Aku memberitahumu bukan untuk dimarahi. Karena kau sahabatku, seharusnya kau mengerti pilihanku. Kau sudah tahu sakitku tidak bisa sembuh. Jika kau membebaniku dengan aturan-aturan seperti ayahku, aku rasanya… ingin mati saja.” Seringainya getir.

Bahu Baekhyun merosot, tubuhnya kembali jatuh di kursi. “Jadi apa rencanamu?” tanyanya. “Kau sengaja bertengkar dengan ayahmu agar kau diusir kan? Buat apa membikin kekacauan? Kalau sudah begini, kau mau tinggal di mana?”

Disemprot begitu Kris justru cengengesan. “Hidupku tidak bisa diselamatkan… itu buang-buang tenaga. Yang aku perlukan sekarang cuma mati dengan tenang, jauh dari bau rumah sakit manapun.” Kris mengulum senyum, bukan senyum bengalnya tadi, melainkan senyum miris; upaya menerima masa depannya yang sudah sirna.

“Kau menyerah,” tukas Baekhyun dingin. “Kematian bisa kau hindari, dengan berobat setidaknya umurmu bertambah sedikit. Jika kau ingin mati dengan tenang, sini biar aku yang bunuh.”

“Baek, manusia juga pasti akan mati, tanpa direncanakan, tanpa diketahui, tiba-tiba bulan depan mereka meninggal, atau besok, atau nanti malam, kita tidak pernah tahu. Dan aku ingin mati yang seperti itu, yang mendadak dan tak direncanakan apalagi ditunggu-tunggu. Biarkan aku lupa takdir itu, biar aku hidup normal sebentar saja.”

“Tapi setidaknya,”–Baekhyun bangkit berdiri, menggebrak meja dan mata sipitnya menyorot tajam ke mata Kris yang melebar lugu. “Mendapat perawatan intensif sangat penting. Kau akan membuat aku dan ayahmu menyesal karena tidak melakukan apa-apa. Tidak peduli umurmu hanya bertambah sehari, setidaknya itu sangat berarti untuk kami.”

“Aku bawa obat selama perjalanan ke sana. Santai saja, itu kan cuma Daegu, bukan luar negeri.”

“Lebih banyak tenaga ahli di sini, di Seoul. Buat apa kau memilih pengobatan alternatif di Daegu? Aku tidak paham jalan pikiranmu. Apa karena dukun di sana cantik-cantik?”

“Tentu bukan,” Kris tergelak. “Aku berangkat hari ini. Yah, pamitku memang tidak terlalu menyenangkan, ya? Tapi kuharap kita tetap saling berkomunikasi.”

“Aku tidak habis pikir denganmu…” Baekhyun mendengus, kembali duduk dan meneguk kopinya.

Kris ikut meraih gelas air putihnya dan menyeruput, meskipun lidahnya sangat merindukan sentuhan kopi. “Jadi…” Kris berkata setelah gelasnya kosong, ia berdiri. “Aku pergi sekarang. Sampai jumpa.”

“Mau ke mana kau?!” sembur Baekhyun, menghentikan gerak Kris yang hampir melangkah ke pintu.

“Ke Daegu,” jawabnya polos.

“Biar aku antar.” Baekhyun berdiri malas-malasan. Tapi melihat Kris sudah jalan duluan, ia sampai berjingkat mengejar Kris yang tinggi menjulang–lebih tinggi puluhan senti darinya. Para pengunjung cafe serta pelayan diam-diam lega akan kepergian mereka, tapi rupanya dua pengacau itu masih bertahan.

“Jangan repot-repot, Baek…” Kris membuka lebar pintu keluar.

“Jangan sok tahu, Tuan-Sok-Tahu.” Baekhyun merogoh kunci mobilnya, tapi gerakannya terhenti ketika ia ingat sesuatu. “Oh iya, aku ada rapat, sudah terlambat. Astaga, ini karena berjam-jam meladenimu. Besok saja kita ke Daegu, ya?”

“Kau cuma menahanku. Trik murahan. Aku tidak perlu diantar,” komentar Kris sambil lalu.

“KRIS!” Baekhyun memanggil lagi, membuat punggung jangkung itu berhenti dan menoleh kepadanya. “Apa cuma aku yang tahu soal kekambuhanmu?”

“Ya, kenapa?”

“Kau yakin? Bagaimana dengan ayahmu? Atau bahkan, Nahyun? Kau tidak memberi tahu Nahyun?” Suara Baekhyun mengecil, takut-takut melihat air muka Kris berangsur murung. Baekhyun tahu masih terlalu sensitif untuk mengungkit-ungkit soal gadis itu. Tapi tetap saja, mulutnya keceplosan.

“Tidak. Tidak ada yang tahu,” sahut Kris dingin.

“Sampai kapan mau kau rahasiakan? Dia juga harus tahu kan?”

Decakan kesal mendesis di bibir Kris. Tanpa menjawab ia membuang muka, dan melenggang meninggalkan Baekhyun sendirian, jadi tontonan di pintu cafe.

“Dia harus tahu semuanya, Kris!” teriak Baekhyun. Orang-orang kembali merisaukannya; betapa dua orang tak tahu diri itu terus membuat kebisingan. “Dia tidak sepenuhnya salah! Dia punya hak untuk tahu!” Kris sudah hilang di belokan parkiran. Baekhyun mendesis kesal, “Kau juga, harus tahu semuanya…” Pintu ditutup Baekhyun pelan, tapi hidungnya masih menantang kaca dengan sangat dekat; kakinya tak pergi sejengkal pun. “Nahyun masih mencintaimu. Harusnya kau tidak membencinya.”

 

****

 

Apa-apa sekarang tidak mudah baginya. Pergi ke Daegu seorang diri? Omong kosong. Baru menuduki jok mobil, dadanya sudah nyeri. Kris melemaskan tubuh di balik kemudi, rambut hazelnya diguyur peluh dingin, ia bernafas pelan-pelan, seraya mengingat selangkah lagi ia dapat bebas. Matanya menyipit ke jendela, mengawasi kalau-kalau Baekhyun menyusul ke parkiran. Namun sahabatnya pasti sibuk membayar tagihan cafe, ada waktu lima menit cukup untuk menggeser perseneling dan menginjak gas. Tapi sekujur otot Kris kaku. Baekhyun benar, berobat ke Daegu takkan menolongnya, meski demikian ia mendingan pergi daripada mati konyol akibat perselisihannya dengan sang ayah setiap hari. Orangtua tunggalnya tak bisa diandalkan, meski tahu dirinya sakit-sakitan sang ayah tetap menekan dan sulit memberinya kasih sayang.

Dewasa ini kenginannya sederhana: mati dengan tenang. Donor jantung terlampau sulit dilakukan, sang ayah melarang, sebab nyawa ibunya terenggut di ruang operasi ketika pembedahan transplantasi. Sakitnya pun sama dengan Kris, kelainan aorta jantung. Lebih beruntung sakit liver atau ginjal, keluargamu mungkin bisa bantu. Tapi ini jantung, siapa yang bisa memberimu jantung?

Kris menekan kuat-kuat dada kirinya yang makin perih. Kenapa pula Baekhyun menyebut-nyebut nama gadis itu. Menambah sakit kepala saja, seolah jantung payahnya belum cukup menyusahkan. Sampai mati pun, ia tak berniat melihat wajah gadis itu lagi. Alasannya basi: sakit hati. Tapi jika mengalami sendiri, rasanya ternyata baru.

Kris menginjak gas perlahan. Masih segar diingatan ketika bertahun-tahun silam ia belakan menolak berimigrasi ke luar negeri karena tak mau meninggalkan Nahyun, sampai ayahnya menamparnya dan menyumpahinya agar mati saja.

“Kau akan mati seperti ibumu!” ucapan sang ayah masih bergaung di telinga, kata-kata itu melekat sampai Kris dewasa. “Penyakit itu kutukan ibumu, dan kau akan mati seperti dia jika tidak berobat ke luar negeri!”

Bibir Kris melengkungkan senyum masam. Semua orang pasti mati, tinggal menunggu antrian. Dan ia tak masalah jika dapat nomor awal.

 

****

 

“Si brengsek, keparat itu!” Baekhyun mondar-mandir mengitari meja kerja, tong sampah jadi sasaran tendangannya. Ia sudah begitu sejak datang, sekertarisnya sampai berjingkat pergi ketika sadar bos-nya dalam amarah besar. Baekhyun biasa mengumpat setiap kesal, tapi murkanya kini seperti kesetanan. Para karyawan di luar pasti sedang mengeluhkannya.

Baekhyun melemparkan bahunya ke kursi berlengan. Dahinya berkerut sebal. Ia meraih ponsel dari meja dan mengoperasikannya dengan brangasan. Kris tidak boleh dibiarkan, ia harus melapor pada pamannya–ayah Kris–untuk menindak lanjuti dan mengejar Kris meski harus ke ujung bumi.

Tapi jarinya tidak tega menekan call. Tampaknya hatinya ragu berkhianat. Ia satu-satunya orang yang diberitahu soal kekambuhan Kris, sepupunya percaya ia bisa menjaga rahasia.

“Dasar keras kepala.” Baekhyun mematikan layar ponsel dan merengut jengkel. Tapi sulit membuat rahangnya yang runcing dan profilnya yang rupawan terlihat jelek. Mau semarah apapun, ia tetap jadi pujaan para karyawan. Dinyalakannya lagi layar ponsel: nomor pamannya tertera. Semua demi keselamatan Kris. Tapi ia bimbang harus mengadukan kelakuan Kris pada sang Paman atau mendukung tindakan kaburnya seperti pecundang. Mengapa ini sangat menyusahkan?

Dan mengapa Kris bersikeras menjauh dari semua orang? Terlebih Nahyun? Kenapa hati Kris tak bisa terbuka untuk Nahyun lagi?

Baekhyun berharap tak pernah melihat itu semua. Muasal mengapa persahabatan mereka bertiga berakhir tak mengenakan. Mengapa dewasa ini mereka menyimpan sakit hati dan saling membenci. Andaikan Nahyun tahu Kris sakit, andaikan Kris tidak melarang Baekhyun memberitahunya. Namun masa lalu serupa ilusi, tak bisa kembali dan tak bisa digali. Sesal pun tak berharga, Baekhyun tak mampu mengembalikan semua seperti sedia kala.

Ia memutar kursinya ke belakang, menghadap pemandangan kota dan langit dari atas gedung kantornya. Permukaan langit terbias awan mendung dari arah timur, dan sebentar lagi jalanan akan mancet dipenuhi orang kantoran serta anak sekolahan yang pulang. Baekhyun beranjak bangkit, mendekati jendela kaca rasaksa itu untuk menyandarkan punggung–terlihat ekstrim, seakan menjatuhkan diri ke jalan raya. Jemarinya kembali menari di layar, kali ini nama Nahyun yang ia tekan. Godaan untuk menghubungi gadis itu menggelitiknya. Dan Baekhyun tertawa. Betapa jauh ia dan Nahyun sekarang, betapa banyak rintangan memisahkan mereka. Takdir selalu menomor duakannya.

Sambil berdecak, jari Baekhyun beralih ke nomor Kris, dari semua pilihan nomor tadi, ia lebih senang menghubungi yang ini.

<Kalau sudah sampai Daegu, kabari aku.>

Send.

 

****

 

“Makan malam dengan Presdir Wu dibatalkan, Pak?” Sekertaris Baekhyun memajukan badan ke meja, mencari kesungguhan di mata bos-nya.

Baekhyun meninggalkan kursi, menyampirkan jas tanpa peduli. Langit di balik bahunya sudah gelap, larut bersama awan mendung yang tak kunjung hujan. “Katakan pada Pamanku, aku sangat minta maaf.” Lalu menyambar dasi.

“Tapi pak Direktur, Presdir pasti sudah menunggu. Sangat riskan jika mengundangnya kemudian meninggalkannya seperti ini.”

Jemari Baekhyun berhenti menyimpul. Ekor matanya–nyaris sadis, melirik sang Sekertaris; wanita cantik yang mendongak ke arahnya dengan rambut panjang menyeraki meja. “Kau belum mengerti? Ini lebih penting, Sunhwa. Tidak bisa ya, kau mengurus masalah sepele itu?” Demi bulan, direktur muda itu lebih rupawan saat melengos kesal.

Sunhwa bergegas menjauh, senyum profesionalnya tersungging alami. Berlama-lama mengagumi ekspresi bos-nya tak baik untuk kesehatan mata. “Benarkah Anda harus pergi ke Daegu? Malam-malam begini? Haruskah, saya siapkan sopir?” tanyanya, cemas.

“Tidak perlu, aku bisa sendiri.”

“Kenapa sangat mendadak? Bahkan tanpa merencanakannya? Karena akan merepotkan meminta saya membatalkan semua janji temu untuk besok.”

“Ini mengenai Kris. Dia butuh bantuan, dan hanya aku yang bisa diandalkan Bedebah itu.”

“Kris-ssi?” Sunhwa melunak. Bos-nya memang tak bakal mengabaikan pekerjaan tanpa alasan. “Saya dengar beliau meninggalkan rumah… benarkah itu?”

“Ya, aku harus menyeretnya dari Daegu.”

“Anda mengundang Presdir malam ini untuk membicarakan tentang Kris-ssi? Apakah saya keliru?”

Frustasi, tangan Baekhyun memijat keningnya. “Aku sudah gila. Bingung harus memberitahu Paman soal Kris atau tidak. Dia tidak tahu Kris di mana, dan pembuat kacau itu memintaku merahasiakannya!” Tendangan Baekhyun menerbangkan tong sampah yang sudah dibetulkan Sunhwa beberapa jam lalu. Benda alumunium itu jatuh berguling, dan utunglah kosong.

“Itu sudah menjadi kebiasannya, saya kira.” Sunhwa mengernyih, tak yakin dimaksudkan untuk Baekhyun atau Kris.

“Yang penting rahasiakan kepergianku. Terutama pada Paman. Oke?”

“Saya mengerti.” Sunhwa menangkap tong sampah yang bergulir ke kakinya, ketika Baekhyun lewat untuk membuka pintu.

Dering ponsel bernyanyi dalam jas Baekhyun. Sambil menahan pintu, ia merogohnya dan membuka pesan masuk. “Dari Paman … Sial, dia memarahiku.”

“Itu sudah resiko,” sahut Sunhwa.

“Dia bilang aku merusak jadwalnya. Benar-benar! Kalau dihitung, tidak sebanding dengan Kris yang mengacaukan agendaku!”

“Biar saya yang mengurusnya,” Sunhwa menawarkan diri.

“Jangan. Biarkan saja.” Baekhyun melangkah keluar, sementara Sunhwa menempatkan tong sampah di pojok ruang. Ponsel Baekhyun berbunyi lagi, telepon kali ini, naik pitam langsung melihat nama Kris yang muncul di layar. Ditekannya cepat-cepat seraya menyambar, “Kupikir kau mati sampai tidak bisa menghubungiku! Kenapa tidak membalas pesanku tadi siang?! Kau merepotkan semua orang!” Tahu amarah bos-nya meledak, Sunhwa berlindung ke balik meja.

Ponsel itu menjawab, [Maaf? Apa ini dengan Byun Baekhyun-ssi?] Suara orang asing. Bahu Baekhyun merosot mendengar samar-samar raungan sirine.

Empedunya serasa naik menyumbat kerongkongan. “Betul. S-saya sendiri. Ke mana pemilik ponsel ini?” Sunhwa menoleh kaget, tak menduga cicit ketakutan-lah yang terdengar dari bos-nya.

[Begini, kami dari kepolisian Daegu–]

Tidak, jangan. Baekhyun menyumpah.

[…Teman Anda mengalami kecelakaan lalu lintas, kejadiaannya beberapa menit lalu. Kami sudah melarikannya ke rumah sakit terdekat. Pihak rumah sakit menghimbau agar segera memanggil keluarganya sebagai wali di sini, kondisinya tidak bagus.]

Bibir Baekhyun sontak membiru, tangannya gemetar. “S-siapa teman saya yang Anda maksud?” Otaknya serasa macet, hanya berharap bukan orang itu. Meski tak ada jawaban lain.

[Nama yang tertulis di SIM-nya adalah Kris Wu. Mohon untuk segera menghubungi keluarganya.]

 

****

 

Ini persis adegan drama. Dan Baekhyun benci mengakui dirinya panik serupa pemeran utama. Ia tergopoh-gopoh mengitari UGD Daegu sejak tiba bersama Sunhwa–yang masih memarkirkan mobil di lantai bawah, dalam kelelahan berkendara.

Sewajarnya UGD, pasien-pasien gawat darurat bergelimpangan memenuhi ranjang. Baekhyun menyusuri setiap nama yang menempel di sana, manahan dorongan mual akibat anyir luka para pasien, dan kepalanya yang berdentang-dentang karena kepanikan.

Sunhwa belum tiba untuk membantu. Kalap, tak mendapatkan sepupunya, Baekhyun memutar haluan dan tak sengaja menyerempet jatuh seorang suster–akal sehatnya buyar karena panik, sekitarnya terasa berputar dan lantai tak lagi datar. Ia berjuang memunguti kewarasannya, demi–harus, menolong suster itu. Tapi niatnya didahului seseorang, yang membantu berdiri si suster dan meminta maaf mewakili bos-nya. Itu Sunhwa, kini menatap bos-nya dengan kecemasan nyata.

“Direktur, bagaimana Kris-ssi? Keadaannya? Dan, apakah Anda baik-baik saja?”

Baekhyun bergeleng, untuk menyatakan tidak sekaligus melenyapkan pening. “Belum ketemu. Kata polisi, Kris di UGD, tapi tidak. Dia tidak ada.”

Suster yang terpincang-pincang pergi menjadi sasaran Sunhwa. Dia menahan suster itu dan menanyakan keberadaan Kris.

“Kris Wu?” ulang suster itu. “Pasti kalian keluarganya. Bagus sekali, Dokter ingin bicara dengan kalian.” Sang suster mengajak keduanya menuju ICU; memburuknya kondisi Kris mewajibkan rumah sakit untuk mengisolasinya di kamar steril.

Sunhwa ketar-ketir. “Saya yakin dia baik-baik saja,” lerainya. Tapi Baekhyun masih membisu, menebak kabar baik atau buruk yang bakal ia temu.

“Kalian bisa menunggu di sini sementara saya panggilkan dokter.” Suster meninggalkan mereka di lorong–yang sepanjang sisinya berdiri kaca-kaca ICU. Baekhyun linglung, mengandalkan pegangan Sunhwa yang mengantarnya ke label bertulis Kris Wu. Sosok yang mereka cari ada di sana, terbaring dalam kamar gelap dan peralatan medis yang memenuhi sekeliling ranjang.

Baekhyun menekan hidungnya ke kaca, berupaya menatap Kris lebih jelas. “Bocah tengik. Kuadukan kau habis-habisan pada Paman..”

Sunhwa melirik bos-nya masam.

“Byun Baekhyun-ssi? Polisi memberitahu bahwa Anda adalah keluarga Kris Wu.” Dokter muncul dari ujung lorong. Keduanya menoleh pada pria muda yang kelewat tampan untuk jadi dokter itu–Sunhwa sempat menahan nafasnya. “Saya dokter Kim Himchan, senang Anda sudah datang,” sapanya lega.

Sunhwa membungkuk hormat, tetapi Baekhyun munubruk si dokter, kalap.

“Sepupu saya bisa selamat, kan?” desaknya, amat mengancam.

Dokter Himchan sempat kaget, tatapannya melembut. “Anda pasti sudah dengar Kris Wu mengalami kecelakaan. Tabrakan itu terjadi karena pasien pingsan di tengah mengemudi–” dengan hati-hati, Dokter membebaskan bahunya dari cengkeraman Baekhyun. “Kris Wu menderita nyeri dada yang serius, menilai dari kondisinya, sangat aneh pasien gawat darurat sepertinya bisa berkendara sendiri. Sangat berbahaya, termasuk bagi pengguna jalan lain.”

Telinga Baekhyun memerah. Ini kesalahannya.

“Untuk mengetahui penyebab dari nyeri dadanya, kami melakukan pemeriksaan menyeluruh. Menurut hasil yang saya peroleh, pasien menderita Regurgitasi Aorta, atau lebih umum disebut kelainan katup jantung. Kelainan bawaan bisa menjadi penyebabnya, juga efek samping dari beberapa jenis penyakit. Apakah sebelumnya pasien sadar bahwa dia mengidap kelainan tersebut?”

“Dia memang sudah sakit, sejak kecil.” Baekhyun tertunduk lemas, dahinya menempeli kaca ICU. Lengannya diusap-uap oleh Sunhwa untuk menenangkan.

“Sudah saya duga. Karena penyakit itu kelihatannya sudah lama diderita. Dan apakah Kanker Aorta juga termasuk di antaranya? Sepertinya itu masih baru.”

Baekhyun menoleh. “Tidak ada kanker,” sangkalnya yakin. Tapi darah hilang dari wajahnya.

“Kris Wu mengidap kanker aorta, menurut hasil lab kami.”

“Dia bebas kanker!”

“Direktur, tenanglah,” bujuk Sunhwa getir.

Dihadapkan mata nanar Baekhyun, Dokter Himchan tak gentar. Dibukanya map kuning yang diapit bawah ketiaknya, lalu membacakan vonis Kris. Itu sudah jadi bukti hasil lap mereka asli. “Jadi kesimpulannya, keluarga belum mengetahui mengenai kanker yang berkembang itu? Kalau boleh tahu, apakah pasien sering telat berobat? Khususnya perawatan dan terapi? Karena kanker ini timbul dari peradangan di lubang katup pasien yang terus menyempit. Ada infeksi yang tidak ditangani dalam waktu lama, kemungkinan itulah penyebab munculnya penyakit baru.”

Baekhyun menatap si dokter tanpa kedip; ia tercenung. Sunhwa betulan cemas di sampingnya, terutama saat Baekhyun menggigil memandang kaca ICU.

Suaranya serak saat bertanya, “Kapan kakak saya bangun dari koma?” Kemarahan yang biasa tampil di wajah Baekhyun dikalahkan riak putus asa. Tanpa disadari, matanya panas berlama-lama memelototi kaca. Kris tidak hidup ataupun mati, terbaring pulas sambil dikerumuni alat-alat penunjang hidup; selang bening ditanam ke rongga dadanya, berdamping monitor yang terus berpendar, menanti kematian.

“Sejujurnya pasien tidak koma. Hanya belum sadarkan diri. Jika dalam waktu dua-belas jam pasien tidak bangun, maka kami menyatakannya sebagai koma … Banyaklah berdoa Baekhyun-ssi.”

Pipi Baekhyun sudah cekung, padahal baru sehari ia menghadapi kesintingan ini. “Saya juga sudah berdoa dari tadi.”

 

~TBC~

 

 

Hai, ini kali pertama aku post FF, semoga suka ya ^^

Ohya, Be The Heart juga aku posting di Wattpad pribadiku, mampir-mampir kalau sempat ya! Rencananya aku bakal update setiap minggu, tapi kalau nggak ada yang tertarik mungkin bakal aku stop :’D haha..

2 thoughts on “Be The Heart (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s