For You (Chapter 13)

For You © Nisha_bacon627

.

Main Pairing:

Byun Baekhyun & Song Hyerin

.

Romance / Friendship / Family / School Life

.

Multichapter

.

Rate: T

.

Author’s Note (WAJIB BACA!)

Hai readers yang senantiasa dalam penantian menunggu FF For You ini :’’) 3 tahun terjangkit virus block writers, maafkan author yang baru bisa melanjutkan FF ini sekarang. Waktu dan kesibukan kuliah tiga tahun terakhir benar-benar tak mendukung dan mengaktifkan virus block writers, selain ide yang stuck dan tak kunjung datang. Dalam 3 tahun terakhir author hanya bisa melanjutkan satu FF sampai dengan ending, yang judulnya Phobia Meets Mania.

Terimakasih kepada para readers yang udah jadi silent reader maupun yang udah komen. Aku udah baca semua komen kalian dan itulah yang membuat author termotivasi harus dan tetap melanjutkan FF For You ini. Komentar dan saran kalian menjadi penyemangat tersendiri. Sekali lagi terimakasih.

Jika ada yang ingin ditanyakan silahkan langsung tuliskan di kotak komentar. ^^

Previous Chapters: Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 |Chapter 7 | Chapter 8 | Chapter 9 | Chapter 10 | Chapter 11 | Chapter 12

For You 1st Poster

.

Hyerin duduk termenung di depan Emergency Room. Bibir pucatnya terasa kelu. Entah sudah berapa lama ia menggigiti bibirnya, sehingga dapat terlihat sedikit warna kemerahan berbintik kecil disana –darah. Bukan karena apa-apa dirinya seperti ini, melainkan karena ketakutan yang menelusup dalam dirinya.

Pikirannya masih terbayang akan kejadiaan sekitar satu jam yang lalu, dimana Baekhyun terlihat seperti seseorang yang sedang meregang nyawa dengan wajah pucat, di hadapannya, meminta tolong dengan tatapan memohon yang begitu miris untuk dilihat. Bahkan rasa dingin dari genggaman tangan Baekhyun yang tak ingin melepaskan tautan tangan mereka darinya, sekarang masih begitu terasa.

Ya Tuhan, selamatkan dia.’

Bolehkah Hyerin meminta pada Tuhan disaat ia menyadari dan mengakui, dirinya tak begitu berbakti pada Tuhan. Sangat jarang ia mengunjungi rumah Tuhannya hanya untuk sekedar memohon doa.  Bisakah ia menjadi egois untuk kali ini saja dan  berharap agar Tuhan mengabulkan doanya?

Di seberang tempat duduknya ada Chanyeol yang duduk menenggelamkan kepalanya di antara kedua lututnya. Kedua tangannya meremas kepalanya sedari tadi.

Hyerin dapat merasakan kekhawatiran yang begitu tersirat dari gestur lelaki itu, sama seperti dirinya.

Jujur, ia ingin bertanya pada Chanyeol perihal hubungan masa lalunya dengan keluarga Baekhyun, tapi ia sadar ini bukanlah waktu yang tepat untuk membahas hal itu.

Dari apa yang telah diceritakan bibi Byun kepadanya, ia tak bisa mengambil keputusan untuk men-judge Chanyeol seperti mereka. Lihat saja sekarang betapa khawatirnya raut wajah lelaki itu, bahkan ketika gurat lelah dan kurang tidur begitu jelas terpampang disana.

Sesaat setelah keluarga Baekhyun bertemu Chanyeol, bibi Byun kehilangan kesadarannya, shock dengan keadaan buruk yang menimpa anaknya begitu tiba-tiba, ditambah pertemuan dengan seseorang yang begitu tak ingin ditemuinya. Hyerin sedikit menghela nafas lega melihat ayah Baekhyun yang masih bisa mempertahankan ‘kewarasannya’ untuk tidak panik disaat-saat seperti ini, meskipun Hyerin tahu dalam hati lelaki paruh baya itu merasakan sebaliknya.

Itu sebabnya Chanyeol masih bertahan di tempat ini. Setidaknya, tak ada yang akan mengusirnya setelah bibi dan paman Byun menempati ruangan lain untuk bibi Byun yang tak sadarkan diri.

.

.

Pintu terbuka bersamaan dengan keluarnya seorang dokter. Hyerin dan Chanyeol spontan bangkit menghampiri lelaki paruh baya berjubah putih itu.

“Pasien Byun Baekhyun?”

“Ya, kami temannya. Bagaimana keadaannya, dokter?” Hyerin bertanya cepat. Chanyeol diam, tetapi matanya menyiratkan pertanyaan yang sama. Alisnya sedikit mengerut seolah memaksa sang dokter untuk menjawab pertanyaan itu dengan cepat.

“Hapus dulu air mata kalian.” Dokter itu tersenyum tulus sebelum melanjutkan, “Berdasarkan pemeriksaan fisik, Byun Baekhyun-ssi mengalami usus buntu. Maag yang dideritanya juga kambuh dan menyebabkan peradangan pada dinding lambungnya. Jika aku menebak pola makannya akhir-akhir ini tidak teratur. Berdasarkan pemeriksaan terakhir, belum ada asupan yang masuk ke tubuhnya dua hari terakhir.”

“Tapi dia tidak apa-apakan, dok?” Chanyeol bertanya. Ia merasa belum cukup puas dengan jawaban dokter tampan di umur paruh bayanya itu.

“Byun Baekhyun-ssi tidak apa-apa, kami telah menanganinya. Hanya saja ia perlu menjalani operasi pengangkatan usus buntunya dan aku memerlukan persetujuan wali dari pasien.”

Hyerin mengangguk, sedikit lega dengan perkataan dokter, meskipun jantungnya juga tak bisa dielakkan untuk tidak berdebar kuat mendengar kata operasi.

“Baiklah, terimakasih dokter.” Dokter itu tersenyum singkat kepada mereka sebelum berlalu kembali masuk ke dalam ruang UGD.

Ia sadar betul akhir-akhir ini pola makan dan hidup Baekhyun benar-benar berantakan. Makanan yang sudah disiapkanya tak pernah tersentuh satu minggu terakhir, belum lagi kesibukan mengurus pentas seni yang Hyerin yakin menguras tenaga Baekhyun begitu banyak secara fisik maupun mental.

Tetapi syukurlah Tuhan mengabulkan doanya. Ia bersumpah setelah ini akan mengunjungi rumah Tuhan dan berterimakasih setulus hati. Bukan hanya untuk ini saja, tapi untuk seterusnya.

Hyerin hampir saja melupakan Chanyeol jika lelaki itu tak berdeham di sampingnya.

“Ah! Chanyeol oppa, sebaiknya oppa pulang.” Senyum pengertiannya diberikannya kepada lelaki tinggi yang masih terlihat murung itu. Bukan karena apa-apa Hyerin menyarankan Chanyeol hal itu, tapi ini sudah lewat beberapa waktu sejak insiden bibi Byun pingsan dan Hyerin yankin mereka akan kembali tak lama lagi.

Chanyeol mengangguk. Ia mengerti maksud Hyerin adalah baik. Untuk itu ia memberikan senyum tulus pada Hyerin sebelum berbalik meninggalkan gadis itu.

“Dan aku masih mempunyai banyak pertanyaan padamu, oppa.” Lelaki tinggi itu diam. Tanpa menjawab ia memantapkan langkahnya menjauh Hyerin.

“Hyerin-ah.” Belum beberapa lama, langkah Chanyeol berhenti dan kembali berbalik pada Hyerin yang masih berdiri di tempatnya.

“Jaga Baekhyun baik-baik.” Dengan itu punggung Chanyeol berjalan menjauh dan terus mengecil sebelum menghilang pada balik tikungan koridor, meninggalkan Hyerin yang tak tahu harus bereaksi seperti apa.

‘Semoga kau baik-baik saja, oppa.’

.

.

Saat ini Chanyeol tak merasa ingin pulang dulu. Kaki panjang itu melangkah tanpa arah. Pandangannya terus terarah ke bawah tanpa memperdulikan orang-orang yang berada di sekitarnya. Sungai Han menjadi tujuannya saat ini, tempat yang selalu ia jadikan tempat untuk menenangkan diri semenjak tiba di Seoul. Untungnya di sekitar Sungai Han saat ini sepi. Hanya ada beberapa orang yang berlalu-lalang, berjalan kaki sepertinya dan menaiki sepeda.

Pikirannya tak bisa dibilang baik-baik saja. Begitu banyak hal-hal yang memenuhi isi kepalanya sampai terasa ingin pecah karena ia merasa tak kuat untuk menampung segalanya.

Kejadian di rumah sakit tadi cukup membuatnya terpukul. Ia hanya berniat membantu Baekhyun –sahabatnya jika masih bisa dikatakan demikian, tapi keluarga Baekhyun justru mengusirnya. Tentu saja rasa sakit hati timbul meskipun hanya secuil, tapi ia mengerti keadaan. Bukan keinginan keluarga Byun memusuhinya.

Kesalahan ayahnya di masa lalu menjadi faktor utama, tapi demi Tuhan, ayahnya telah tiada. Ayahnya menyesali seluruh perbuatannya dengan bunuh diri. Tak bisakah keluarga itu juga merasakan kesedihannya dan memaafkannya? Itu semua hanya masa lalu yang semestinya ditinggalkan dan hanya bisa dijadikan pelajaran, tidak untuk tenggelam di dalamnya.

Chanyeol tak suka orang-orang yang mengetahui kasus ayahnya menggapnya mereka berdua sama. Dirinya bukanlah ayahnya. Mereka berbeda.

BRUK

Chanyeol terjatuh. Seseorang menabraknya tiba-tiba dan ia tak bisa mengendalikan diri untuk tidak terjatuh disaat fokusnya bahkan tak ada di tempat yang dipijakinya.

“Ah maafkan aku. Aku sedang buru-buru.” Suara seorang gadis yang familiar menyapa pendengarannya.

Chanyeol mendongak, “Jiyeon?”

“C-chanyeol oppa…” Jiyeon mengul   urkan tangannya di hadapan Chanyeol yang segera diterima lelaki bertubuh tambun itu.

“Sedang apa kau disini Jiyeon-ah? Mengapa terburu-buru?”

“Aku sedang mencari udara segar, tapi baru saja Ibuku menelepon adikku masuk rumah sakit.”

‘Kenapa hari begitu banyak yang masuk rumah sakit?’

Chanyeol tersentak dari pikirannya.

“Ikut denganku. Aku akan mengantarmu.” Jika tadi Chanyeol yang tersentak mendengar berita buruk yang menimpa teman gadis di hadapannya ini, sekarang Jiyeonlah yang tersentak ketika Chanyeol menariknya tiba-tiba.

Chanyeol ternyata menariknya menuju tempat dimana motornya di parkirkan. Ia melepaskan genggamannya dan dengan cepat naik. Sedangkan Jiyeon? Otaknya masih merespon lambat dengan semua yang terjadinya

“Naik!”

“Eh?”

“Ayo cepat naik, Jiyeon-ah!”

Sentakan Chanyeol sedikit menyadarkannya. Ya Tuhan, apa yang ia pikirkan. Tak semestinya ia terpesona dengan segala sikap dan pesona lelaki di hadapannya disaat genting seperti ini.

“Di rumah sakit mana adikmu dirawat?”

“Seoul Hospital.”

Seakan tak pernah ada habisnya Chanyeol membuatnya berdebar. Kedua tangan besar itu menangkup kedua tangan Jiyeon lalu menuntun untuk melingkar pada pinggangnya.

“Jika tidak seperti kau akan jatuh. Pegangan yang erat hm?”

Jiyeon tak bisa membalas lagi, ia hanya mampu menganggukkan kepalanya yang saat ini tepat menempel pada punggung lebar milik Chanyeol.

Dengan itu, Chanyeol melajukan motornya memecah jalanan kota Seoul dengan gadis yang tak berhenti berdebar sedari tadi pada boncengannya.

.

.

Jiyeon mendudukkan dirinya pada ruang tunggu rumah sakit. Beban di punggungnya seolah terangkat begitu mengetahui adiknya tak apa-apa dan tidak mengalami gegar otak.

Oh, setelah ini ia akan memastikan jika adiknya itu tak akan pernah bermain jungkat-jungkit lagi bersama temannya ataupun permainan sejenisnya yang ia rasa berbahaya. Bukannya ingin merenggut kebahagiaan masa kecilnya, hanya saja ia tak ingin kepala adiknya berlubang untuk yang keberapa kalinya.

“Syukurlah adikmu baik-baik saja.”

Ah! Satu beban yang belum bisa terangkat dari pundak Jiyeon, debaran jantungnya yang semakin berpacu cepat.  Ia merasa akan pingsan di tempat ini karena pacu jantungnya yang tak wajar.

“I-iya.”

Oppa, sebaiknya kau pulang, ini sudah larut.”

“Hei, kau mengusirku?” Jiyeon panik. Bukan maksudnya seperti itu.

A-ani. Ma-maksudku-,”

“Hahaha… Kau lucu sekali. Tenang saja, aku hanya main-main.”

“Menyebalkan.” Gumaman kecil itu keluar dari bibir Jiyeon begitu saja dengan suara pelan.

“Eh? Kau bilang aku apa?” Chanyeol berpura-pura marah. Lucu melihat ekspresi gadis di depannya ini yang begitu panik dan menggeleng-gelengkan kepala cepat –tak ingin membuatnya salah paham.

“Maaf.” Akhirnya yang keluar dari Jiyeon hanyalah berupa cicitan kecil dan Chanyeol merasa dirinya seperti melihat seorang anak yang lucu dan polos. Maka dari itu ia tak bisa lagi menahan rasa gemasnya dengan mencubit kedua sisi pipi gembul milik Jiyeon.

“Ah neomu kyeopta.”

Tak ada perasaan selain senang dan berdebar yang dirasakannya sekarang. Perutnya seakan-akan terisi kupu-kupu tak kasat mata –menggelitik dan Jiyeon menyukai perasaan itu.

‘Ya Tuhan, aku sudah jatuh terlalu dalam padanya.’

.

.

Baekhyun telah dipindahkan ke dalam ruangan bangsal salah satu rumah sakit. Permintaan rekomendasi operasi dari dokter pun telah disetujui oleh ayah Baekhyun, sedangkan bibi Byun masih harus bed-rest di ruangannya. Wanita paruh baya itu terlalu lemah untuk sekadar menjenguk anaknya.

Sekarang, ayah Baekhyun mempercayakan Baekhyun padanya dan ia sendiri kembali menemani istrinya.

Hyerin, seumur hidupnya tak pernah diam di satu tempat tanpa berpijak maksimal tiga puluh menit. Sifatnya yang aktif membuatnya tak bisa berbuat demi kian. Begitu pun dalam hal menunggu, ia membencinya. Menunggu adalah suatu ketidakpastian dan ia tak suka akan sesuatu hal yang tak pasti dan tak jelas. Ketidakpastian memiliki begitu banyak jawaban yang terlalu banyak untuk diperkirakan.

Tapi sekarang Hyerin ingin tertawa miris menatap lelaki pucat yang selalu dipanggilnya dengan sebutan bayi itu sedang tertidur menutup mata di atas brankar rumah sakit. Pengaruh obat bius untuk mengurangi rasa sakit yang diberikan sebelumnya oleh dokter masih bekerja begitu kuat.

Hyerin menunggunya, semalaman, tanpa tidur.

Hanya terduduk diam menatapi wajah tirus itu.

Sungguh dirinya merasa bersalah. Bagaimanapun dirinya harus bertanggung jawab atas pola hidup Baekhyun yang tak sehat. Semestinya ia mengingatkan lelaki itu, bukan hanya melalui secercah kertas, tapi mengomelinya. Semestinya ia tak mengabaikan Baekhyun begitu saja dan terlalu sibuk dengan urusannya sendiri.

Hyerin yakin pasti Baekhyun telah banyak menderita beberapa minggu terakhir ini. Maag disertai usus buntu bukanlah hal biasa. Sakit perut yang teramat sangat pasti pernah dialaminya lebih dari sekali.

‘Kenapa kau diam saja tentang sakitmu hm? Lihat wajahmu yang lucu itu jadi tirus seperti ini sekarang.’ Tangannya tanpa sadar terangkat membelai wajah pucat itu

‘Maafkan aku.’

Walaupun secara fisik mereka berada sangat dekat dan tinggal seatap, tapi keberadaan Baekhyun dan dirinya seolah tak ada satu sama lain hampir dua minggu terakhir. Saling mengacuhkan, mengabaikan, dan menghindar –meskipun Baekhyun melakukannya lebih daripada Hyerin.

Tak bisa dirinya pungkiri bahwa ia merindukan tawa dan canda lelaki itu. Bagaimana caranya bercanda dan menggodanya. Bagaimana Baekhyun terlihat cemburu ketika ia bersama lelaki lain –terutama Chanyeol.

Hyerin bukannya bodoh dan tak peka untuk menyadari semua sikap dan perhatian yang Baekhyun berikan padanya adalah sebuah perasaan yang lebih dari sekadar teman. Hyerin hanya mencoba menutup mata dari hal itu. Jangan salahkan dirinya jika ia tak yakin dengan semua itu. Pertemuannya dengan Baekhyun masih seumur jagung dan ia sendiri belum bisa menyimpulkan perasaan yang menelusup ke dalam hatinya ketika bersama dengan Baekhyun. Suka, kagum, atau cintakah itu? Ia masih terlalu dini untuk mengerti akan hal itu. Hyerin masih harus berusaha untuk mencari tahu apa arti penerasaan yang menelusup itu.

Hyerin menggenggam tangan Baekhyun yang bebas dari infus erat, “Hey bayi, kau harus cepat sadar. Aku akan mengizinkanmu meledekku sesukamu dan aku berjanji tak akan memarahimu.”

“Aku berjanji akan belajar memasak masakkan lebih enak untukmu. Kau tahu? Aku kecewa karena kau tak memakan masakanku beberapa hari ini. Jangan salah sangka, aku bukannya kecewa karena tingkahmu yang jahat itu padaku, tapi apa kau tak kasihan dengan nasi dan lauk yang tak kau makan? Mereka pasti menangis karena merasa rugi. Maka dari itu cepatlah bangun dan jangan kecewakan mereka.”

Jujur Hyerin ingin menertawai dirinya saat ini. Jika saja orang lain mendengar, mungkin ia akan dikatakan sebagai orang yang setengah kewarasannya telah terkikis.

‘Bangun dan tersenyumlah padaku, bayi. Aku merindukanmu.’

.

.

“Eunghh…” Lenguhan kecil itu terdengar dari bibir seorang wanita paruh baya yang terbaring lemah dengan infus pada salah satu tangannya.

“Kau sudah sadar, sayang?” Paman Byun langsung menegakkan tubuhnya yang terduduk di samping brankar tempat istrinya terbaring. Tanpa aba-aba tangannya yang selalu menggengam tangan sang istri berpindah mengeluas rambut istrinya.

Bibi Byun sempat sadar satu jam setelah pingsan, tapi menimbang keadaannya yang terlalu shock dan lemah, jadilah dokter memberikan obat penenang agar wanita itu dapat beristirahat dengan cukup.

Ia tersenyum lemah, meskipun demikian ia masih sempat berpikir geli akan sikap suaminya yang selalu perhatian dan protektif kepadanya, seperti saat ini.

“Tak tahu kah kau betapa aku mencemaskan hm, Byun Juhyun?”

“Aku tak apa, Kyuhyun-ah.” Kyuhyun –paman Byun, hanya menghela nafas, sedikit kesal dengan tingkah istrinya yang selalu mengatakan tak apa-apa disaat ada apa-apa.

“Berapa lama aku tertidur?”

“Tujuh jam kau mengabaikanku dalam kesepian, sayang.” Lagi-lagi disaat seperti ini, si lelaki paruh baya itu sungguh cheesy, menggelikan, pikir istrinya.

“Bagaimana keadaan Baekhyun kita?”

“Maag dan usus buntu. Pola makannya tak baik, tapi ia tak apa-apa sekarang. Baekhyunnie akan di operasi besok dan ia sekarang bersama Hyerin.”

“Syukurlah. Hyerin tak sekolah?” Kyuhyun menggeleng.

“Tidak. Aku sudah menyuruhnya untuk berangkat ke sekolah seperti biasa, tetapi dia tetap bersikeras berada di samping anak kita sampai ia sadar. Lagipula, tak ada yang menjaga Baekhyun karena Jongjin belum menemukan penerbangan tercepat semalam dan aku sedang menjagamu.” Yeah, anak tertuanya kini sedang melakukan perjalanan bisnis di luar kota dan ingin secepatnya terbang ke Seoul, tapi keberuntungann tak berpihak kepadanya karena penerbangan tercepat barulah tersedia pagi ini.

“Aku merasa tersingkirkan. Sepertinya Baekhyun telah menemukan gadisnya.” Juhyun mengerucut. Meskipun rona keriput mulai terlihat di wajah cantik istrinya, tapi Kyuhyun merasa bahwa istrinya itu tetap menjadi perempuan yang paling manis jika mengeluarkan aegyo-nya.

“Ya, anak kita sudah dewasa, sayang. Kita hanya tinggal menunggu cucu dari anak-anak kita.”

.

To Be Continued

.

Hello readers ^^ I miss you a lot.

Momen Hyerin dan Baekhyun kurang? Ya, salahin Baekhyun yang belom bangun-bangun haha. Disini justru author mau ngingetin kalian sama couple Chanyeol Jiyeon yang mungkin udah kelupaan haha.

Komentar, saran, dan pertanyaannya di tunggu ya. FF ini akan lajut atau tidak semuanya tergantung keinginan para readers. And let me know what do u guys want through the comments. Thank you ^^

 

 

 

Iklan

2 thoughts on “For You (Chapter 13)

  1. Authornimmm ini dah lama gak lanjut, kupikir dah di discontinued hehe.. dan semalam aku pengen baca ulang ff ini, jaxi aku buka lagi dann TARAA uda diupdate.. Fast Upd yaa kalo bisa hihi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s