Arranged Life (Chapter 4)

Arranged Life 2

Arranged Life (Chapter Empat)

Kim Yoon Ae – Do Kyungsoo – Kim Jongin

Politic – Sad – Romance – Family – School Life

also published: there

Prev: [3]

Huwon, Changdeok-gung.

Pangeran Kim menelpon sebuah nomor dari dalam kamar pribadinya. Sembari menunggu panggilannya diangkat, ia mengingat percakapannya dengan Yoon Ae tadi sore. Ia penasaran dengan anak laki-laki yang dilempar sepatu oleh Yoon Ae. Sepupunya itu mengatakan bahwa anak asing yang ditemuinya di Gyeonghoeru kemungkinan bukanlah putra presiden. Menurut Yoon Ae, anak itu terlalu ‘pendek’ untuk menjadi putra orang nomor satu di negara ini. Kai sudah menghubungi pihak pengelola tur Cheongwadae untuk hari Senin saat Yoon Ae bertemu si anak asing, tapi pihak tur mengatakan bahwa tidak ada sekolah yang melakukan tur hari itu karena Ibu Negara akan meninjau Cheongwadae. Bingo! Kai mengangguk-anggukkan kepalanya dalam diam sambil menelpon nomor yang sama untuk ketiga kalinya.

Jadi benar dia adalah putra presiden,’ pikir Kai.

Entah apa yang membuat Kai sangat tidak senang dengan pertemuan Yoon Ae dan si anak presiden. Meski Kai tahu, keduanya pasti belum mengenal satu sama lain. Kai memutuskan untuk tidak memberitahu Yoon Ae jika si anak asing adalah benar putra presiden. Lagi-lagi entah kenapa, Kai tak mau Yoon Ae mengetahuinya. Ia tidak suka pertemuan mereka!

Kai langsung berdiri ketika panggilannya sudah diangkat. Terdengar suara pria paruh baya dari seberang telepon.

Yeoboseyo, siapa ini?” tanya suara di seberang.

Ah, Ne. Lama tak menghubungi Paman. Ini aku. Jongin,” jawab Kai, kini sudah berada di balkon kamarnya. Anak laki-laki itu mengusap belakang tengkuknya, sedikit ragu-ragu untuk menyampaikan tujuan mengapa ia menelpon pria itu. Ada sekitar satu jam Kai berunding serius dengan pria yang sudah ia dan ibunya anggap sebagai paman sendiri. Ketika ibunya mengetuk pintu kamar, Kai buru-buru mengakhiri panggilan itu.

“Baik Paman, nanti aku hubungi lagi. Terima kasih banyak. Dan tolong—ini untuk kita berdua saja. Ne. Terima kasih.” Kai mengakhiri pembicaraan itu tepat saat Ibu sudah berada di sampingnya.

“Siapa yang kau telpon, Kai?” tanya Nyonya Kim.

Kai tidak pernah bisa berbohong pada Ibu dalam hal apa pun. Tapi untuk yang satu ini, ia merasa harus. Sial! Mendadak ia gugup. Mungkin karena Ibu bertanya dengan nada penuh selidik barusan. Ia berusaha mengatasi kegugupannya dengan mengacak rambutnya pelan.

Ah. Seorang teman, Ibu,” dusta Kai.

Reaksi Ibu terlihat kurang puas. Kedua alisnya semakin bertaut. “Teman yang kau panggil… paman?”

“Bukan–maksudku—dia tidak di rumah. Temanku tidak di rumah. Ayahnya yang mengangkat panggilanku.” Kai menjawab gugup. Ia mengamati perubahan wajah Ibu. Semoga yang Ibu dengar hanya kata ‘paman’ saja. Untunglah karena setelah beberapa detik wajah Nyonya Kim memperlihatkan tanda-tanda percaya. Beliau mengangguk-angguk.

“Ayo kita makan malam,” ajak ibunya sambil mengamit lengan Kai. Perasaan lega mulai merayapi kaki Kai setelah tadi sempat merasa kakinya kram.

Kai merasa sangat bahagia memiliki Ibu seperti Nyonya Kim. Berkat beliau, masa lalu kelamnya telah terkubur dalam-dalam. Bahkan ia bersyukur karena tak memiliki gambaran seperti apa kedua orang tua kandungnya– mereka meninggalkan Kai di halaman belakang istana. Saat Nyonya Kim dan keluarga kerajaan menemukannya, Kai masih bayi.

“Kai? Kai?” Nyonya Kim menyapukan telapak tangannya di hadapan Kai yang melamun. “Kau tak mendengarkan ibu?”

“Ma-maaf. Apa yang Ibu bicarakan tadi?” Kai baru fokus menatap ibunya yang kini sudah duduk di seberang meja makan.

“Minggu ini ada upacara minum teh dengan keluarga presiden di Gyeongbok. Sepertinya mereka juga akan membicarakan pernikahan Yoon Ae dan Kyungsoo.” Nyonya Kim mengulangi pembicaraannya.

Wajah Kai kaku saat itu juga, ia tak bisa mencegah rahangnya yang mengeras. Serasa ada tinju mendarat di dadanya. Rasanya sakit. Kali ini ia jadi semakin sakit saat mendengar kata ‘Pernikahan Yoon Ae’. Dia sendiri juga tidak tahu sejak kapan hatinya sesakit ini kalau pernikahan Yoon Ae disinggung. Bukan hanya masalah pernikahan, Kai juga merasa sakit jika Yoon Ae bersedih. Berkali-kali pula Kai meyakinkan dirinya bahwa itu adalah perasaan spontan terhadap adikmu yang bersedih, namun sepertinya perasaan Kai sudah melewati batas. Pernikahan itu tidak boleh terjadi! Kai juga yakin Yoon Ae tak mau melakukannya. Pernikahan Yoon Ae dan… dan siapa tadi?

“Kai?” Nyonya Kim kembali memanggil Kai yang melamun lagi.

“Siapa nama anak tadi, Ibu? Yang mau dinikahkan dengan Yoon Ae, siapa namanya?” Suara Kai terkesan mendesak, membuat Nyonya Kim semakin heran dengan sikap Kai. Ia menatap putra angkatnya dalam-dalam. Sebenarnya kenapa dengan putranya ini?

“Kyungsoo. Kau tidak mengenalnya? Ia satu SMA dengan kalian. (Kai dan sahabat-sahabatnya).”

Kai tidak menjawab pertanyaan Ibu. Hilang pula nafsu makannya.

Kyungsoo’s House

Kyungsoo memainkan spaghetti dengan garpunya. Menggulung, mengurai, menggulung lagi kemudian membanting garpunya. Ia sama sekali tidak nafsu makan. Tapi mau bagaimana lagi, Kyungsoo tak mau jika harus berdebat dengan Ayah. Walau kini Ayah dan Ibu sudah mulai meninggalkannya sendirian untuk makan malam. Ayah hanya berpesan pada pengurus rumah untuk memastikan bahwa Kyungsoo-harus-makan. Putra presiden melihat ke seluruh penjuru ruang makan dengan bosan. Ada empat pelayan yang berdiri mengawasinya. Ia menghela napas panjang dan bersuara.

“Apa kalian tidak lapar?” tanyanya bosan. Tak ada yang menjawab. “Kalian juga harus makan. Aku tak enak makan dengan diawasi seperti ini.” Kyungsoo melanjutkan. Keempat pelayan hanya menunduk.

“Bibi-bibi makan saja. Aku akan habiskan ini. Aku berjanji.” Kyungsoo membujuk para pelayannya untuk pergi. Setelah saling lirik satu sama lain, mereka berempat membungkuk pada Kyungsoo dan meninggalkannya sendiri.

Setelah kepergian para pelayan, Kyungsoo kembali membanting garpunya. Hanya tinggal menghitung hari ia harus kembali ke sekolah. Ke tempat ia tak memiliki banyak teman. Hanya Yixing—anak duta besar China—dan Oh Sehun si anak menteri olahraga, yang menjadi teman dekatnya. Itu pun Kyungsoo tak bisa menceritakan semua keluh kesahnya pada mereka. Ibu selalu berpesan supaya ia berhati-hati pada siapa pun.

Jika kau masuk dalam dunia politik, meskipun kau hanya anak para politikus dan masih muda, kau harus berhati-hati pada teman dekatmu sekalipun. Sekali saja kau salah berkata, suatu saat tak ada jaminan mereka tak menggunakannya untuk menusukmu. Mungkin bukan mereka, tapi keluarga mereka.

Teringat pesan Ibu dalam benak Kyungsoo. Ia tak menyangka keadaan akan menjadi semakin sulit ketika Ayah berhasil meraih mimpi sebagai orang nomor satu di negara ini. Apalagi upacara minum teh akhir pekan nanti cukup mengganggu pikirannya. Jika perhitungannya tak meleset, ‘calon istrinya’ juga pasti ada di sana. Apa yang harus dia lakukan? Jika analisisnya benar, ‘gadis sepatu tumit datar’ itu adalah dia. Kyungsoo tahu persis hatinya tak mudah untuk menerima orang baru dalam kehidupannya, apalagi orang ini akan menjadi istrinya sekaligus. Sebagai laki-laki, entah kenapa ia merasa bodoh ketika tak bisa membaca situasi seperti ini. Haruskah ia mengacuhkan calon istrinya itu? Kyungsoo tak suka basa-basi berbau modus berlebihan. Lagi pula, tak ada jaminan ia bisa jatuh cinta meskipun gadis itu putri mahkota.

Kyungsoo bukannya tak pernah jatuh cinta. Ada seseorang yang ditunggunya sampai saat ini, tapi Kyungsoo tahu gadis itu hanya menganggapnya adik. Tidak lebih. Dan lagi Kyungsoo juga tak pernah mengungkapkan perasaannya secara jujur pada si gadis pujaan karena merasa tak yakin—atau lebih tepatnya takut jika hubungan mereka malah rusak. Kyungsoo merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel, mencari nama si gadis, berpikir masak-masak apakah ia akan menghubunginya atau tidak. Namun, Kyungsoo ingin tahu bagaimana reaksi gadis itu tentang pernikahannya. Putra presiden mengumpulkan keberaniannya, menyentuh tombol panggil dan menunggu jawaban.

“Yeoboseyo~”

Deg! Kyungsoo bingung harus menjawab apa setelah si gadis mengucapkan salam. Ia berdiri, malah berjalan mondar-mandir sambil masih tak menjawab.

Yeoboseyo~ Siapa ini?” Suara halus gadis itu bagai lagu di telinga Kyungsoo. Suara yang sangat dirindukannya.

Yeo—Yeoboseyo, Sica nuna?”

Changdeok-gung.

Putri mahkota sedang menunggu Tuan Jo di ruang kerjanya. Ia membolak-balik asal album foto kerajaan yang ada di meja untuk menerima tamu. Ada dirinya, kedua orang tuanya, ia bersama dayang-dayangnya, bersama bibinya dan bersama Kai. Dan mungkin album kerajaan akan bertambah satu. Album pernikahan miliknya. Yoon Ae langsung menutup album itu dan meletakkannya kembali di atas meja. Jika mengingat upacara minum teh akhir pekan nanti, kepalanya sakit dan perutnya mual.

Yoon Ae tak tahu harus bersikap bagaimana ketika akhirnya nanti ia bertemu dengan calon mertua dan… suaminya. Sebagai putri, semua sopan-santun, pendidikan dasar dan pendidikan umum sudah diterimanya. Akan tetapi, Yoon Ae belum pernah menerima pendidikan pranikah. Dan putri yakin, itu salah satu cabang ilmu yang tak akan pernah siap untuk ia praktikkan—setidaknya dalam usianya yang sekarang. Jauh di lubuk hatinya, putri ingin merasakan jatuh cinta secara alami karena ia belum pernah merasakan itu. Tapi sekarang, hal itu seperti mengangkat takhta raja—mustahil. Yoon Ae sudah terlanjur menyetujuinya. Ia juga tidak memiliki usaha untuk membatalkannya. Satu-satunya usaha Yoon Ae adalah rasa percaya pada Ayah; bahwa Ayah tidak akan pernah mencelakai putrinya sendiri dan Ayah mungkin sudah melihat sosok anak laki-laki’ yang baik untuk dirinya. Tak mungkin Ayah setuju akan keputusan presiden tanpa berpikir terlebih dahulu.

Lamunan Yoon Ae buyar ketika Tuan Jo memasuki ruangan. Keduanya saling memberi hormat. Setelah itu Yoon Ae langsung pada topik kenapa ia menunggu dari tadi di sini.

“Bagaimana, Paman? Sudah dapat fotonya?” Yoon Ae bertanya tak sabaran.

“Duduklah dulu, Tuan Putri.” Tuan Jo duduk di hadapan Yoon Ae yang jelas sudah tak mau lagi menunggu hasil apa yang didapat Bapak Kepala Dayang itu. Tuan Jo mengulurkan sebuah foto close up yang diminta Yoon Ae. Lama sekali putri memandangi foto itu. Satu di pikiran Yoon Ae. Jika dari potongan rambutnya dan jika dia masih mengenakan potongan rambut yang sama persis dengan foto ini berarti…

“Itu foto terbarunya, Yang Mulia. Saya berhasil mendapatkannya,” kata Tuan Jo.

Yoon Ae hanya mengangguk-angguk sambil terus memandangi foto itu. Tuan Jo berdeham, tapi Yoon Ae tak bergeming.

“Anda—Bagaimana perasaan Tuan Putri setelah melihatnya?” Tuan Jo bertanya pada Yoon Ae. Putri masih belum menjawab. Ada perasaan aneh yang belum pernah Yoon Ae rasakan di dalam dirinya. Hanya dengan menatap foto itu, entah kenapa hatinya seperti berdesir bukan karena takut, perutnya bereaksi abnormal bukan karena ingin muntah, hatinya pun berdegup kencang bukan karena salah minum obat. Yoon Ae tak tahu perasaan apa yang timbul di hatinya hanya karena sebuah foto.

“Yang Mulia?” Tuan Jo mengulangi. Putri menatap si paman dengan senyum lebar.

“Terima kasih, Paman. Tolong jaga ini dari ayah dan ibu,” pintanya.

Tuan Jo sedikit kaget dengan reaksi Yoon Ae yang terlihat sangat bahagia setelah melihat foto itu.

Foto Do Kyungsoo.

Yoon Ae jatuh cinta.

Huwon

Putri mahkota menghampiri Kai di Huwon keesokan harinya. Ia berlari kecil menuju kediaman Kai. Angin musim panas menerbangkan sebagian rambutnya yang tak sempurna terikat ke belakang. Putri ingin segera memberitahu Kai bahwa ia sudah memiliki gambaran tentang calon suaminya juga tak sabar ingin segera bertatap muka langsung dengan Do Kyungsoo. Yoon Ae tahu sikap terburu-burunya itu sembrono. Untuk itulah ia ingin minta saran pada Kai, bagaimana sebaiknya ia harus bersikap saat hari minum teh tiba.

Dari semalam putri mahkota tidak bisa tidur karena sudah melihat foto calon suaminya. Yoon Ae memandangi foto Kyungsoo semalaman sambil tersenyum sendiri. Belum lagi kenyataan bahwa ia akan berada di satu SMA dengan putra presiden membuat Yoon Ae tambah bahagia sekaligus gugup.

Yoon Ae tak tahu kalau Kai merasakan yang sebaliknya. Ketika Yoon Ae memberitahu hal itu dengan berseri-seri kepada Kai, sepupunya itu hanya menatapnya dengan tatapan aku-tidak-mau-tahu. Pangeran Kim hanya mengangguk-angguk ketika tuan putri bercerita bahwa Tuan Jo lah yang membantunya mencari tahu info tentang Kyungsoo. Jauh di lubuk hati Kai, sebenarnya ia ingin melempar sesuatu. Dia tak suka cara Yoon Ae bercerita, yang mana dari pandangan Kai, Yoon Ae sepertinya senang-senang saja dengan pernikahan ini.

Dan Kai benci itu.

Yoon Ae memang tak cerita bahwa dirinya semalaman memandangi foto Kyungsoo. Dia juga tak mengatakan kalau ia membawa foto Kyungsoo di saku roknya. Sebenarnya Yoon Ae membawa foto itu kemana pun ia pergi agar para dayang tak menemukannya saat membersihkan kamar tidur.

“Kau akan ikut upacara minum teh itu kan, Kai?” tanya Yoon Ae setelah meneguk teh hijaunya. Sang putri masih tak sadar bahwa dari tadi Kai menatapnya dengan penuh rasa kesal. Namun karena wajah Kai yang memang biasanya datar-datar saja dalam situasi apapun, Yoon Ae tak bisa membaca hal itu. Kai menggosokkan kedua tangannya dan pura-pura berpikir.

“Bagaimana ya, aku mungkin punya janji dengan Luhan,” jawabnya berbohong.

Putri langsung cemberut mendengar hal itu. “Kau kan kakakku dan semua keluarga kerajaan harus ikut, Kai!” kesal Yoon Ae.

Ya, kakak. Hanya sebagai kakaklah Yoon Ae menganggapnya—memangnya mau bagaimana lagi. Kai menghela napas berat. Rasa sakit itu kembali menusuk hatinya. Seharusnya ia tahu kemana ini akan mengarah. Tak pernah ada tempat di hati Yoon Ae untuknya lebih dari sebatas keluarga. Sementara Yoon Ae masih memandang Kai dengan bingung.

Kenapa? Apa janji dengan Luhan-ssi lebih penting dari acara keluarga kita?” Yoon Ae tak percaya bila urusan antar lelaki sampai harus mengorbankan kepentingan keluarga. Dia kan tak pernah punya teman.

“Bagaimana kalau ia tak sama denganmu?” Kai balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Yoon Ae, semakin membuat si gadis kebingungan.

“Apa maksudmu?”

Sambil memijit pelipisnya, Kai berusaha mencari kata-kata yang tepat. “Anak presiden itu… Bagaimana kalau dia tak suka bertemu dengan Anda, Yang Mulia?” tanya Kai tanpa babibu.

Yoon Ae terhenyak, mengedipkan matanya beberapa kali. Bodoh! Ia benar-benar bodoh! Kenapa ia tak berpikir sampai ke titik itu? Apakah ceritanya tadi berlebihan? Jangan-jangan sikapnya sekarang menunjukkan kalau ia menyukai Kyungsoo. Putri menatap Kai dalam-dalam, perasaan sedih mulai menggelayutinya. Kai benar. Bagaimana kalau Kyungsoo tak suka dengan pernikahan ini? Bunga-bunga di hatinya seakan layu begitu saja. Tak ada lagi perasaan bahagia, ia tak mampu berkata apa-apa lagi. Yoon Ae bangkit dari duduknya seperti orang linglung.

“Aku… aku mau pulang.” Suara Yoon Ae terdengar parau saat berbalik dan berlari kecil meninggalkan Huwon sebelum Kai sempat menahannya.

Nakseonjae, Changdeok-gung.

Raja, Ratu, Tuan Jung (orang kepercayaan raja-kakek Luhan) dan Yoon Ae sedang menikmati makan malam di Naksonjae. Kecuali Yoon Ae, yang lain sepertinya sedang berunding tentang upacara minum teh hari minggu nanti. Putri hanya mendengarnya sekilas. Ia diam seribu bahasa sedari tadi. Ratu Jung sesekali melirik putrinya yang tampak murung. Ratu salah mengerti bahwa Yoon Ae murung karena pernikahan itu, padahal Yoon Ae murung karena ucapan Kai tadi. Memikirkan hal itu berulang kali sambil memakan supnya pelan-pelan, hatinya benar-benar mati rasa hanya dalam sehari.

“Putri?” panggilan Raja membuyarkan lamunan Yoon Ae. Ia segera mengelap bibirnya dan tersenyum.

“Ya, Ayah. Ada apa?”

“Kau akan masuk sekolah yang sama dengan putra presiden dan di upacara minum teh nanti Ayah harap kalian dapat berkenalan dengan baik.” Raja berkata sambil mengusap kepala Yoon Ae dengan penuh rasa sayang. Putri mahkota hanya mengangguk. Memangnya ia harus bereaksi apalagi. Ia sudah tahu semuanya dari Tuan Jo. Hanya saja Yoon Ae merasa tak tepat untuk bercerita pada ibu dan ayahnya bahwa ia…

Ah, mungkin hanya karena dia tampan.’ Yoon Ae berusaha berpikir sederhana.

“Yoon Ae, setelah ini ibu ingin bicara denganmu. Di kediamanmu.” Ratu bersuara dengan tiba-tiba. Mendadak ruang makan itu menjadi hening. Lagi, Yoon Ae hanya mengangguk sambil menyendok sisa supnya. Satu peraturan tak tertulis di istana adalah kalian tak boleh menyisakan makanan. Kalau kalian ragu, maka ambilah sedikit saja.

Kyungsoo’s House

Kyungsoo sedang membaca buku di meja belajar, membuka buku tata negaranya dengan perasaan senang. Setelah menelpon Jessica tadi, perasaannya menjadi sangat lebih baik. Ayah Jessica adalah duta besar Korea untuk Jepang yang terpilih untuk kedua kalinya, jadi Jessica masih tinggal di Jepang bersama keluarganya. Sebenarnya tadi hanya obrolan biasa, bahkan tak ada yang menyinggung masalah pernikahan negara.

Putra presiden menghapal beberapa alinea buku itu sambil bersenandung, tanpa menyadari bahwa Ayah sudah duduk di ranjangnya—di belakang kursi tempat Kyungsoo membaca buku. Tuan Do menatap punggung putranya dengan perasaan bersalah. Tak seharusnya ia menunjuk-nunjuk putra semata wayangnya dengan marah hari itu. Keputusan yang dibuatnya sudah sangat berat bagi Kyungsoo dan beliau sadar adalah wajar jika Kyungsoo marah padanya. Tuan Do berdeham untuk menandakan kedatangannya, membuat Kyungsoo terlonjak dari kursi dan menoleh ke belakang. Ia menatap Ayah yang tersenyum padanya. Aneh, pikir Kyungsoo.

“Maaf Ayah langsung masuk. Sepertinya kau sedang serius membaca. Tapi, ada yang harus kita bicarakan,” kata Tuan Do.

Kyungsoo membalik kursinya supaya bisa berhadapan dengan Ayah. Ia mengangguk memberi isyarat bahwa ia setuju dengan pembicaraan yang akan dilakukan. Tuan Do menghela napas pendek.

“Bisakah kau lebih mendekatkan kursimu?”

Kyungsoo semakin merasa aneh dengan sikap lembut ayahnya, namun ia menurut saja. Ditariknya kursi belajarsampai hanya tersisa jarak selangkah saja di hadapan Ayah. Selama beberapa detik mereka hanya saling tatap. Kyungsoo hendak bicara lebih dulu untuk minta maaf pada ayahnya, tapi Tuan Do lebih dulu buka suara.

“Ayah minta maaf,” katanya bijak sambil menatap Kyungsoo hangat. Tatapan seorang Ayah.

Ya?” Kyungsoo terkejut bukan main. Ini adalah pertama kali Ayah meminta maaf padanya. Perasaan Kyungsoo jadi campur aduk. Tuan Do memegang kedua bahu Kyungsoo dengan erat.

“Dengar, Nak. Ayah tahu ini berat dan akan selalu berat untuk kita semua. Ayah hanya ingin kau tahu, Ayah tak pernah berusaha untuk sengaja menyakitimu. Semua yang Ayah lakukan adalah untuk kebaikan kita.  Untuk semua keluarga kita. Jika suatu hari kau mendengar alasan di balik semua keputusan kami, Ayah harap kau sudah dewasa untuk menerimanya. Jadilah pria yang baik. Ayah mohon padamu, lakukanlah keputusan Ayah dengan tulus.” Tuan Do menatap Kyungsoo dalam-dalam. Matanya mulai berair. Kyungsoo merasa seakan ada pisau yang mengorek isi perutnya ketika melihat ayahnya sendiri hampir menangis. Ayah, pria yang selalu Kyungsoo anggap sebagai sosok tegas, penuh wibawa dan juga idolanya, memintanya melakukan hal berat dengan cara seperti ini. Kyungsoo tak sanggup.

Putra presiden menunduk. Ia tak sanggup menatap ayahnya dan berharap bahwa air matanya tak ikut menetes.

“Kau mau kan, Nak?”

Hati Kyungsoo benar-benar sakit. Tak disangka seberat inikah usaha Ayah untuk melindungi semua keluarganya. Kyungsoo paham. Dunia politik ini kejam. Kau tak akan tahu mana teman dan musuhmu yang sebenarnya. Kyungsoo menyalahkan dirinya sendiri. Kenapa ia tak bisa berpikir panjang bahwa Ayah juga menanggung beban berat. Ya, demi keluarga. Kyungsoo tak bisa menolak.

“Baik, Ayah. Aku akan melakukannya.” Kyungsoo menjawab mantap dan ia dikejutkan dengan pelukan hangat dari sang Ayah.

Yeoboseyo, Jung-nim. Ada yang ingin saya sampaikan,” kata sebuah suara di seberang telepon.

“Ada apa?” tanya Tuan Jung pada sahabatnya itu.

“Pangeran Kim menelpon saya untuk menanyakan undang-undang pernikahan. Aku tak tahu kenapa dia tiba-tiba menanyakan hal itu. Sepertinya dia tak setuju dengan pernikahan putri mahkota. Aku menghubungimu karena aku khawatir padanya. Aku takut dia meminta pada orang yang salah. Kau tahu kan, Jung-nim. Organisasi itu… kita tak tahu pasti siapa saja anggota mereka.”

Tuan Jung mengernyitkan dahi. “Apa maksudmu? Pangeran Kim masih terlalu muda untuk berpikiran seperti itu.”

“Maka dari itu aku menelponmu. Jika ada orang organisasi itu tahu bahwa Jongin sepertinya tak setuju dengan pernikahan negara, aku takut akan ada sesuatu yang terjadi.” Suara di seberang berubah cemas.

Tuan Jung mengambil keputusan. “Dengar, ingat bahwa presiden dan raja menginginkan kita untuk merahasiakan penyelidikan. Awasi semuanya mulai sekarang, termasuk Pangeran Kim. Jangan sampai ia mencium sesuatu. Beri tahu aku jika anak itu mendekati organisasi!”

-tbc

Warning:

Menyimpan tanpa izin, meng-copy, menjiplak sebagian apalagi keseluruhan dari cerita ini akan saya tindak tegas. Terima kasih.

©Miss Candy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s