Arranged Life (Chapter 5)

Arranged Life 2

Arranged Life (Chapter Lima)

Kim Yoon Ae – Do Kyungsoo – Kim Jongin

Politic – Sad – Romance – Family – School Life

also published: there

prev: [4]

Daejojeon

Sang putri mahkota duduk berhadapan dengan ratu setelah makan malam keluarga, keheningan menyelimuti keduanya. Putri memainkan buku-buku jarinya dalam diam, sementara ratu sepertinya juga kebingungan untuk mengawali pembicaraan mereka. Ini adalah pertama kalinya ibu dan anak itu berbincang setelah keputusan pernikahan oleh raja dan presiden diumumkan. Situasi yang sulit dibaca oleh Yoon Ae karena ia memang tak terlalu dekat dengan Ibu.

Ketika suasana menjadi semakin kaku, Yoon Ae buka suara. “Ib—”

“Yoon Ae, ibu minta maaf.” Ratu Jung memotong perkataan sang putri dan membuatnya terkejut. Melihat ekspresi ratu yang penuh rasa bersalah membuat Yoon Ae salah tingkah dan kembali menunduk. Perasaannya campur aduk. Memang benar ratu tidak pernah mendengarkan pendapat Yoon Ae, memang benar ratu juga yang mengatur hidupnya sampai hari ini, tetapi baru kali ini Yoon Ae mendengar ratu meminta maaf kepadanya—sebagai seorang Ibu. Yoon Ae tahu kemana pembicaraan ini mengarah, tentu saja masalah pernikahan.

Ratu Jung menggenggam erat kedua tangan putrinya, membuat Yoon Ae semakin tertekan. Ia sudah setuju tentang pernikahan ini pada Ayah. Apalagi setelah melihat foto Kyungsoo, ia sudah semakin setuju. Namun, ucapan Kai hari ini membuat buyar keteguhan hati Yoon Ae untuk kembali menyetujui pernikahan negara.

Kai benar. Bagaimana bisa remaja laki-laki berusia 18 tahun—yang memiliki banyak bakat bahkan mungkin mimpi yang sangat tinggi sebagai seorang putra presiden—mau begitu saja menikah di masa muda, meskipun yang dinikahinya adalah putri mahkota. Pernyataan Kai juga membuat Yoon Ae sadar, bisa-bisanya ia sempat berpikir kalau Kyungsoo juga akan senang hati dengan pernikahan ini.

Kalau boleh jujur, Yoon Ae sudah ingin menangis dari tadi. Apalagi ditambah sikap Ibu sekarang, membuat dadanya semakin terasa sesak. Ia sudah tak sanggup membendung air matanya. Ibu langsung memeluk putri semata wayangnya itu dan mengelus rambut panjang Yoon Ae berulang kali, sementara Yoon Ae terisak dalam pelukan Ibu.

“Maafkan ibu. Ini semua salah ibu, seharusnya ibu bisa memberikan ayahmu putra mahkota dan perjodohan ini tak akan pernah terjadi.” Ibu juga mulai menangis.

Yoon Ae tersentak mendengar penyesalan ibunya, seketika ia berhenti terisak dan melepaskan pelukan mereka.

“Kenapa Ibu berkata seperti itu?” tanya Yoon Ae dengan suara berdengung. Bukan salah siapa-siapa ia terlahir sebagai perempuan atau tidak memiliki saudara kandung laki-laki. Yoon Ae tak suka Ibu merasa bersalah karena takdir mereka yang seperti ini.

Ibu menghela napas panjang sambil mengusap air matanya. “Kau tahu, bukan? Salah satu alasannya adalah karena kita tak memiliki pewaris takhta. Hal ini mungkin tidak akan terjadi jika—”

“Ini semua tetap akan terjadi, Ibu. Percayalah. Ini bukan salah Ibu.” Yoon Ae langsung menyela perkataan ibunya. Ratu Jung menatap Yoon Ae dalam-dalam. Keheningan kembali menyelimuti mereka berdua.

“Ibu tidak menyangka kalau hal seperti ini terjadi lagi, Sayang.”

Lagi? Yoon Ae tertegun. Apa maksudnya? Ratu kembali menggenggam tangan Yoon Ae, kali ini lebih erat.

“Dulu ibu tak pernah setuju menikah dengan ayahmu,” Ratu mengamati perubahan ekspresi putrinya yang terkejut, “sama sepertimu, Yoon Ae. Ibu tahu pada awalnya kau tidak setuju karena ibu tahu bagaimana rasanya menikah dengan orang yang bahkan belum pernah kau lihat. Ibu pikir kejadian ini tak akan terulang lagi semenjak monarki sudah bukan menjadi penguasa di negara kita, tapi kenyataannya malah terjadi dengan alasan politik yang lebih rumit. Ibu minta maaf  karena tak bisa melakukan apa-apa.”

Yoon Ae langsung memeluk ibunya. Ia tak pernah menyangka ternyata Ibu menyembunyikan hal besar tentang pernikahannya dengan Ayah. Pandangan Yoon Ae pada Ibu berubah. Ibu memang tegas padanya karena sebuah keharusan. Satu rasa syukurnya atas masalah ini, bahwa ia bisa memeluk wanita di hadapannya sebagai Ibu bukan seorang ratu—hal yang sudah lama tak ia lakukan. Keputusan Yoon Ae sudah bulat. Ia tak akan menghindar. Ia akan mencoba memandang pernikahannya untuk menyelamatkan kerajaan bukan untuk sedikit perasaannya pada Kyungsoo. Ia tak akan terlalu berharap pada hubungan mereka kelak.

“Aku percaya kalian selalu memberikan yang terbaik untukku, Ibu. Yoon Ae sayang Ibu,” bisik Yoon Ae dalam pelukannya.

Atau mungkin Yoon Ae keliru?

Keesokan harinya

Kai memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Saat melewati gerbang tol, ia memutuskan untuk menuju markas tempat ia dan beberapa temannya biasa berkumpul. Penjelasan Paman Seo terngiang-ngiang di benaknya semenjak mereka berpisah di tempat parkir restoran tadi.

“Undang-Undang itu tidak berlaku untuk keluarga kerajaan, Jongin. Mereka punya hak eksklusif untuk membuat undang-undang sendiri selama itu tidak berpengaruh apa pun pada negara. Dan kenapa kau ingin pernikahan saudaramu dibatalkan? Ini sudah jadi pilihan terbaik untuk semuanya. Paman harap kau tidak akan bertanya lagi pada siapa pun. Ingat itu, Jongin! Jangan membahas hal ini dengan sembarang orang. Mereka bisa salah paham dan menyeretmu ke hal-hal yang tidak diinginkan. Paham?”

Kai memukulkan kedua tangannya pada kemudi saat berhenti di lampu merah. Ia meradang saat tahu jika Undang-Undang Pernikahan yang mengatur gadis berusia di bawah umur dilarang menikah tak bisa ia gunakan untuk membatalkan pernikahan Yoon Ae dan si anak presiden. Kai juga tak mau—tepatnya tak bisa—menjawab pertanyan Paman Seo kenapa ia tampak berambisi untuk membatalkan pernikahan saudaranya.

Ya, saudaranya.

Pangeran Kim tak pernah lupa kalau putri mahkota adalah saudaranya, keluarga Yoon Ae juga yang merawatnya sampai hari ini. Semua orang pasti akan menganggap aneh kalau berita ‘Pangeran Kim Tidak Setuju dengan Pernikahan Negara’ muncul ke publik.

Memangnya apa yang aneh?!” pikir Kai. “Bisa saja aku punya alasan tertentu, bukan?” Kai bergumam tak jelas sambil menginjak pedal gasnya kuat-kuat saat lampu lalu-lintas berubah hijau.

“Alasanku adalah aku menyukai saudaraku sendiri.” Kai menyeringai frustasi, merutuki dirinya sendiri karena tak bisa mengingkari perasaan yang terlanjur tumbuh. Saat Kai memberi opini pada Yoon Ae bahwa Kyungsoo mungkin tak suka dengan pernikahan, maka Kai sekarang juga harus sadar kalau Yoon Ae tak akan pernah ia miliki sebagai pasangan. Mobilnya melaju cepat menuju basecamp.

Dua mobil lain sudah terparkir di halaman basecamp Kai bersama para sahabatnya. Saat menyeberangi halaman, fokusnya tertuju pada mobil Jongdae, tiba-tiba ia menyadari sesuatu. Jika ada yang setuju, berarti ada juga yang tidak. Itulah kenapa Paman Seo menyuruhnya untuk tidak membahas lagi masalah Undang-Undang Pernikahan dengan sembarang orang. Ada kelompok lain yang tidak setuju, Kai harus menemukannya.

Dan kenapa mobil Jongdae yang mengingatkan Kai? Karena Jongdae adalah putra petinggi Badan Inteljen Negara.

Oh Sehun’s House

Putra presiden sedang menonton Yixing dan Sehun bertanding basket di halaman rumah milik keluarga Oh. Hari sudah menjelang sore. Menyenangkan rasanya bagi Kyungsoo untuk sejenak bisa melupakan upacara minum teh akhir pekan nanti. Meski sudah menyepakati pernikahan itu, kali ini kegelisahan kembali mengusik hatinya. Yang membuatnya resah adalah email dari Jessica tadi pagi. Nuna yang Kyungsoo sukai itu akan kembali ke Korea dalam beberapa minggu ke depan untuk mengembangkan bisnis baru milik keluarganya. Di email itu tertera ucapan selamat dari Jessica atas perjodohannya dengan putri mahkota. Memang suatu kebodohan kalau Kyungsoo berpikir Jessica tidak tahu berita seheboh itu, tapi setidaknya ucapan selamat semakin menegaskan bahwa Jessica tak pernah menganggap Kyungsoo sebagai pria yang pantas berkencan dengan dirinya.

Yixing sengaja melempar bola basket ke hadapan Kyungsoo yang dari tadi hanya duduk dan mengamati seperti pelatih abal-abal di pinggir lapangan. Kaget karena bola itu nyaris mengenai wajahnya, Kyungsoo berdiri dan menunjuk Yixing.

Ya! Wajah anak presiden yang kau lempari bola, Lay!” hardik Kyungsoo dengan bercanda sementara Yixing hanya terkikik. Lay adalah panggilan akrab Sehun dan Kyungsoo pada Yixing.

“Kau mau main atau tidak, Pendek?” ejek Sehun sambil merentangkan tangannya. “Kau seperti pelatih amatir kalau duduk di situ. Bergeraklah sedikit, siapa tahu tinggimu bertambah setidaknya lima milimeter. Hahaha,” tambah Sehun dengan tertawa, mereka memang sudah biasa saling ejek begitu.

“Aku tidak akan bisa memasukkan bola kalau kau tidak berjongkok, Oh Sehun!” teriak Kyungsoo pura-pura marah. Yixing tertawa sambil memegangi perutnya melihat wajah aneh Kyungsoo yang marah-marah. Si putra presiden melempar balik bola basket kepada Sehun. Ia sama sekali tidak berniat main basket, tepatnya sudah kenyang melihat Sehun dan Yixing bergantian memasukkan bola.

Selamat, Kyungsoo-ya… Bagaimanapun kau akan menikah dengan putri mahkota. I wish for your happiness ^^

“Tahukah nuna kalau aku tidak pernah sebahagia saat melihatmu?”  hati kecil Kyungsoo bersuara saat mengingat email Jessica tadi pagi.

Sepertinya perasaan itu tidak serta merta pergi mengikuti kepergian Jessica.

Setelah selesai dengan permainan basket yang entah siapa pemenangnya, ketiga sahabat sedang menikmati camilan di kamar Sehun. Yixing dan Sehun kembali beradu dalam permainan Play Station. Kyungsoo lagi-lagi hanya duduk di ranjang Sehun, mengamati permainan mereka sambil memakan snack, sementara Sehun dan Yixing duduk di karpet, sangat menikmati permainan mereka

“Sebenarnya putra presiden kita mau apa kemari, Lay?” Sehun menyindir Kyungsoo yang duduk di belakang mereka berdua. Yixing hanya mengangguk-angguk tanpa menoleh ke belakang, matanya masih fokus ke layar. Kyungsoo hanya melirik puncak kepala Sehun.

“Apa mungkin dia juga tak tahu caranya main PS? Kuno sekali!” Yixing akhirnya bersuara, membuat Kyungsoo memukulkan bantal pada tengkorak belakang kedua temannya.

“Kau tidak boleh kasar begitu! Kau akan menjadi kepala keluarga sebentar lagi!” kesal Sehun saat menoleh pada Kyungsoo. Maksud Sehun mungkin hanya bercanda, tapi Kyungsoo malah memancarkan amarah dari sorot matanya. Dia benar-benar sensitif mendengar kata yang berhubungan dengan pernikahan.

“Jangan singgung itu!” teriak Kyungsoo kelewat nyaring, membuat Yixing ikut menoleh dan menghentikan permainannya. Sehun dan Yixing saling tatap dengan wajah bersalah. Mereka tidak menyangka kalau reaksi Kyungsoo akan sejauh ini.

“Kalian kan tahu aku tidak pernah—” Kyungsoo tak melanjutkan pembicaraanya saat teringat bahwa ia sudah setuju pada Ayah semalam. “—lupakan,” lanjutnya sambil turun dari ranjang Sehun dan mengambil jaket.

“Kau mau kemana?” tanya Sehun yang sudah berdiri di belakangnya. “Jangan marah. Aku minta maaf,” bujuknya.

Kyungsoo menghela napas panjang dan menatap Sehun. Jika ia pulang, maka mungkin Ibu akan membahas tetek bengek upacara minum teh dan itu lebih menyebalkan. Kalau masih di sini, ia tak tahu harus bagaimana bersikap. Ia terlanjur sebal pada Sehun, meski ia tahu pasti temannya itu hanya bercanda.

“Boleh aku bermalam di sini? Aku malas pulang,” jawab Kyungsoo dengan wajah datar khasnya menatap Sehun yang tampak bingung sejenak dan menoleh pada Yixing. “Aku akan memaafkanmu kalau aku boleh menginap,” lanjut Kyungsoo membuat Sehun tertawa. Kyungsoo–yang masih dengan muka datar—mengernyitkan dahinya menatap Sehun.

“Oke, oke. Tapi apa tidak apa-apa? Maksudku orang tuamu.”

“Aku akan bilang pada ayah kalau sudah seharusnya aku menikmati masa bujangku yang terakhir.” Kyungsoo mengambil ponsel di saku celananya kemudian mengirim pesan pada presiden.

Changdeok-gung.

Hari berlalu begitu cepat bagi Yoon Ae. Tak terasa kalau besok adalah hari dimana ia akan bertemu dengan keluarga barunya—calon mertua serta calon suaminya. Gyeongbok-gung, Cheongwadae bahkan Changdeok-gung semakin sibuk dalam persiapan penyambutan keluarga presiden. Aktivitas tersebut membuat Yoon Ae kesepian di Daejojeon karena Dayang Choi dan yang lainnya ikut sibuk. Putri belum mau menghubungi Kai. Sebaliknya, Kai juga tak menghubunginya sama sekali. Ia masih sedikit jengkel dengan kata-kata sepupunya, walaupun mungkin ada benarnya juga.

Putri mahkota memutuskan untuk menghabiskan waktunya di Juhamnu (perpustakaan kerajaan) tanpa membaca apa pun. Dia hanya duduk-duduk saja di balkon atas sambil memandangi kolam teratai di sekelilingnya. Merogoh saku dress denimnya dan mengeluarkan sebuah foto yang masih ia bawa kemana-mana. Foto Do Kyungsoo. Setelah ucapan Kai dan nasihat dari Ibu, Yoon Ae jadi semakin bingung dengan perasaannya sendiri. Jika pada awal pernikahan Ibu tidak mencintai Ayah, lalu kapan cinta itu muncul diantara keduanya? Karena Ayah dan Ibu terlihat sangat serasi dan saling mencintai saat ini. Keluarga kerajaan memang tak terlalu menunjukkan interaksi fisik yang berlebihan kepada siapa pun dalam kisah percintaan mereka. Meski begitu, Yoon Ae tak mungkin salah menilai bahwa kini Ayah dan Ibu saling mencintai.

Lalu bagaimana dengan dirinya kelak? Mungkinkah kisah mereka akan berakhir happy ending seperti orang tuanya? Yoon Ae ternyata memiliki pemikiran yang sama dengan Kyungsoo. Apakah mereka akan bercerai kalau masa pemerintahan Presiden Do berakhir? Apakah Presiden dan kedua orang tuanya tak berpikir sampai ke sana? Yoon Ae dan Kyungsoo sudah kadung diatur kehidupannya dari dulu. Jadi, hal yang wajar jika sampai sekarang mereka hanya menunggu aturan-aturan berikutnya untuk mereka.

Yoon Ae memang sudah memiliki sedikit rasa untuk Kyungsoo gara-gara sebuah foto, tapi kini ia berpikir bisa saja perasaannya berubah dengan pertemuan besok. Dan mungkin memang harus berubah karena tidak ada yang mau dinikahkan dengan cara seperti ini. Putri sudah menyadarinya, maka ia memutuskan untuk mengubur perasaannya dalam-dalam.

Ditatapnya foto Kyungsoo lekat-lekat. Anak laki-laki bermata bulat dan berbibir indah ini sungguh membuat Yoon Ae jatuh cinta. Andai mereka bisa menjadi pasangan normal yang bertemu secara alami, pasti akan bahagia sekali rasanya. Yoon Ae memejamkan kedua mata, berdo’a semoga Kyungsoo adalah laki-laki yang akan bersikap baik padanya, meskipun tak menyukai perjodohan ini. Sang putri mahkota telah cukup tersakiti dengan keputusan pernikahan dan pengakuan Ibu. Ia tak yakin kalau bisa lebih kuat bila Kyungsoo kelak malah membencinya.

Setelah membuka kedua matanya, Yoon Ae merobek foto Kyungsoo menjadi potongan-potongan kecil. Harusnya ia tak pernah meminta foto ini pada Tuan Jo. Jika saja ia sedikit lebih sabar, hatinya tak akan seperti ini. Potongan foto Kyungsoo ia buang begitu saja, membiarkannya terbawa angin musim panas ke kolam teratai Juhamnu.

“Yang Mulia?” Sebuah suara dari balik punggung Yoon Ae membuatnya terkejut. Ia menoleh ke belakang dan Pangeran Kim sudah berdiri di sana, bersandar pada pintu pembatas balkon dan ruang dalam. Sudah berapa lama Kai di sana? Yoon Ae bertanya-tanya dalam hati. Mungkinkah Kai melihatku merobek foto Kyungsoo?

Gadis itu tak bereaksi apa-apa, ia kembali memandangi kolam teratai di bawah. Ia sudah memutuskan untuk tidak mau bercerita apa pun lagi kepada Kai.

“Di sini tempat membaca, bukan tempat bergalau ria,” sindir Kai saat menghampiri Yoon Ae dan ikut memandang kolam teratai. Si gadis hanya mendengus pelan.

“Aku sudah selesai. Silahkan kalau kau mau membaca, barang kali aku mengganggu.” Yoon Ae bangkit dari kursinya dan berbalik pergi. Belum sampai ia melewati pintu balkon, Kai sudah menarik lengannya. Putri menatap sepupunya dengan tidak senang.

“Kau masih ingin menikah dengannya atau tidak?” tanya Kai menatap Yoon Ae serius. Tatapan yang menurut Yoon Ae itu bukan Kai yang ia kenal, membuatnya risih. Yoon Ae segera menarik lengannya dari tangan Kai.

“Kau tidak sopan, Jongin.” Jawaban Yoon Ae membuat Kai tersentak dan langsung menjauhkan tangannya. Jika Yoon Ae memanggilnya Jongin, itu artinya Yoon Ae sedang benar-benar marah.

“Dan kenapa kau menanyakan hal-hal yang aneh? Semua sudah jelas dan diatur! Apa pun keputusanku, pernikahan itu tetap akan dilaksanakan!” sambung Yoon Ae dengan sangat marah lantas berlalu pergi meninggalkan Kai yang masih terpaku di tempatnya.

Saat Yoon Ae berada di jalan setapak menuju Daejojeon, Kai ternyata mengikutinya dari belakang dan berusaha menyamakan langkahnya dengan Yoon Ae yang setengah berlari.

“Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu marah,” katanya saat berhasil mendahului Yoon Ae dan mencegatnya. Mereka berhenti tepat di depan gerbang masuk Daejojeon. Yoon Ae memandang saudara angkatnya dengan perasaan yang aneh. Kai berubah—entah di bagian mana—tapi, Yoon Ae yakin Kai berubah. Dari cara Kai menasihatinya terakhir kali, Yoon Ae sudah menangkap bahwa Kai menyembunyikan sesuatu. Bukan hal aneh jika Yoon Ae merasa ada hal berbeda pada diri Kai. Meskipun mereka tak ada hubungan darah, mereka sudah hidup berdampingan selama tujuh belas tahun. Kai selalu ada untuk Yoon Ae dalam keadaan apa pun, rela mendengarkan isi hati seorang putri mahkota yang kekanak-kanakan, bahkan kadang mengendap-endap keluar istana bersama.

Di lain sisi, Kai tak mau jika Yoon Ae membencinya. Kai sadar bahwa Yoon Ae kesal padanya gara-gara perkataannya waktu itu. Kai bersikap seperti itu karena dirinya tak mau Yoon Ae menyukai si anak presiden. Jujur saja, bagi Kai itu adalah kali pertama Yoon Ae terlihat bahagia dengan posisinya sebagai putri mahkota–karena dijodohkan dengan Kyungsoo. Yoon Ae tak pernah menceritakan teman-temannya yang lain semenggebu hari itu, karena itulah mudah bagi Kai untuk menarik kesimpulan bahwa Yoon Ae jatuh hati pada Kyungsoo.

Setelah saling berhadapan dalam diam beberapa detik, putri mahkota melewati bahu kiri sepupunya tanpa sepatah kata pun. Yoon Ae sedang dalam mood yang sangat buruk dan tak mau terlibat pembicaraan dengan Kai untuk sementara waktu. Kai tak lagi menyusul Yoon Ae yang telah masuk ke Daejojeon. Ia merasa putus asa.

Kai menatap pintu masuk Daejojeon dengan sedih. Pikiran waras Kai berulang kali—sampai hari ini—selalu berusaha menyadarkannya bahwa Yoon Ae adalah saudaranya! Bahwa perasaannya terhadap gadis itu salah! Namun, hatinya berkata berlawanan. Sekarang Kai berada dalam kegelisahan yang teramat sangat. Menurut informasi dari Ayah Jongdae, kelompok penentang pemerintah memang ada. Haruskah ia melibatkan dirinya ke dalam sana supaya bisa menggagalkan keputusan presiden?

“Aku tahu cara membatalkan ini semua, hanya saja—” Kai menghela napas, “—apa kau tak akan tambah terluka?”  Kai berbalik pergi.

“Kita bisa menggunakan Pangeran Kim suatu hari nanti. Terima kasih atas laporan berhargamu, Yeongsuk,” kata Ketua organisasi dalam telepon rahasianya dengan Ayah Jongdae.

Warning:

Menyimpan tanpa izin, meng-copy, menjiplak sebagian apalagi keseluruhan dari cerita ini akan saya tindak tegas. Terima kasih.

©Miss Candy

 

One thought on “Arranged Life (Chapter 5)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s