Promise (약속) – Chapter 7

Poster Promise (약속)2

Tittle                : PROMISE (약속)
Author             : Dwi Lestari
Genre              : Romance, Friendship

Length             : Chaptered

Rating             : PG 17+

Main Cast        :Han Sae Ra (Elena), Park Chan Yeol (Chanyeol)

Support Cast   :Byun Baek Hyun (Baekhyun), Oh Sehun (Sehun), Kim Jong Dae (Chen), Zhang Yi Xing (Lay), and other cast. Cast akan bertambah seiring berjalannya cerita.

Disclaimer       :Alur dan ceritanya murni buatan saya.

Author’s note  : Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa komennya. No kopas, no plagiat.Typo bertebaran

 

 

Chapter 7- (The Jackpot)

Chanyeol membaringkan tubuhnya di ranjang kamarnya setelah meninggalkan Saera di rumah sakit. Dia sudah terlihat rapi dengan kaos kaos dengan lengan panjang berwarna biru tua dan celana jeansnya. Dia mencoba memejamkan matanya, namun tidak berhasil. Dia melihat jam di dinding kamarnya yang baru menunjukkan pukul 8 malam. Masih terlalu sore untuk dia tidur, pantas saja dia tidak berhasil memejamkan matanya. Kata-kata Saera saat di tempat penyimpanan abu, masih terngiang jelas di fikirannya. Dia tak sengaja mendengar apa yang dikatakan oleh gadis itu, didepan tempat abu milik Sora.

Flash back

“Hanya asal menebak”, setelah berkata seperti itu Chanyeol meninggalkan Saera, dia berjalan dengan langkah angkuhnya. Namun dia tak benar-benar pergi meninggalkan Saera, dia berhenti dibalik diding tempat Saera berada. Dia merasa nafasnya sedikit sesak setelah melihat foto gadis kecilnya. Chanyeol memegang dadanya untuk menenangkan dirinya dan mengatur nafasnya. Dia mendengar perkataan Saera di depan abu Sora.

“Bagaimana kabarmu Sora? Ini sudah 10 tahun semenjak kau meninggalkan kami. Kau tahu, semua berubah setelah kepergianmu. Mengapa kau tak pernah jujur dari awal Sora? Kau membuat semuanya berantakan, bahkan aku sempat membenci Baekhyun waktu itu. Kalau saja kau mau terbuka dari awal, aku pasti bisa membantumu tanpa harus menyakiti orang lain”, Saera berhenti berkata, mungkin dia menghela nafas sejenak. Tak lama setelah itu Saera melanjutkan kata-katanya.

Appa memilih menyusulmu setelah menjualku. Eomma memilih pulang ke kampung halamannya setelah kematian appa. Dan sekarang dia sedang koma di rumah sakit karenaku. Kapan penderitaanku akan berakhir? Haruskah aku menyusulmu? Tidak tidak, itu bukan pilihan yang benar”, Chanyeol menduga jika Saera berkata sambil menggelengkan kepalanya.

“Beberapa hari yang lalu aku bertemu kekasihmu, Jongdae. Dia pergi ke Amerika setelah peristiwa itu, dan kurasa dia tidak tahu jika kau sudah tidak ada lagi di dunia ini. Dia juga masih belum berbaikan dengan Baekhyun. Aku ingin sekali menjelaskan semuanya padanya, tapi kurasa percuma saja. Dia adalah tipe orang yang tidak suka mendengarkan alasan”, tiba–tiba saja ponsel Saera berbunyi. Saera segera mengangkat panggilan tersebut.

Yeobseyo”.

“……”

“Apa? Baiklah, aku segera kesana”, sesaat setelah Saera menutup telfonnya, Chanyeol buru-buru pergi agar tidak diketahui oleh Saera.

Flash back end

“Hidupnya pasti menderita selama ini”, kata Chanyeol. “Setidaknya aku harus membantunya meskipun dia buka Nami. Dia sudah menemaninya selama ini. Iya benar, aku harus segera membantunya”, lanjut Chanyeol. Setelah berkata seperti itu, dia meraih jasnya dan meninggalkan rumahnya.

***

“Minnie, aku harus pergi ke Amerika”, kata seorang anak laki-laki kepada seorang gadis kecil yang tengah duduk di bangku taman. Dia berkata sambil mebelakangi sang gadis. Anak laki-laki tersebut tidak sanggup menatap langsung ke sang gadis. Dia tidak sanggup jika harus berpisah dengan gadisnya.

“Tapi kenapa Mikky? Bukankah kau sudah berjanji akan selalu bersamaku. Tapi kenapa sekarang kau akan pergi? Hikz…hikz”, kata sang gadis sambil menangis. Anak laki-laki itu segera menoleh dan memeluk gadisnya.

Uljima, aku janji saat dewasa nanti aku pasti akan datang kembali kesini dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi”, kata anak laki-laki tersebut. Gadis kecil itu segera melepaskan pelukannya.

“Apa kau janji?”, kata sang gadis.

Ne, aku janji. Tunggulah saat dewasa nanti, aku pasti akan menjadi namja yang mengagumkan untukmu”, kata sang namja. Dia menghapus air mata gadisnya.

“Baiklah. Akan aku pegang janjimu”, gadis itu berkata sambil tersenyum.

Namja kecil itu mengeluarkan sebuah kotak berlapis beludru berwarna hitam. Dia segera membuka kotak tersebut. Dia mengambil benda yang ada dalam kotak tersebut dan memakaikannya ke leher sang gadis. “Kau harus selalu memakai kalung ini. Jika nanti aku kesini, aku pasti akan langsung mengenalimu karena kalung ini. Kau juga harus tumbuh menjadi yeoja yang manis dan baik. Kau ingat itu, jangan pernah melepaskannya apalagi menghilangkannya”, kata sang namja kecil.

“Em. Kalungnya indah sekali”, kata sang gadis.

“Kalung ini hanya ada satu di dunia ini. Dan akulah yang mendesainnya”.

“Benarkah! Tapi kenapa bulannya yang di dalam bintang?”.

“Itu karena kau menyukai bulan dan aku menyukai bintang. Bintang itu akan melindungi sang rembulan seperti aku melindungimu”.

“Ow”.

“Aku harus pergi sekarang. Selamat tinggal Minnie. Tunggulah aku pasti akan datang”.

“Em, hati-hati Mikky. Aku pasti akan merindukanmu”.

Namja kecil itu mencium kening sang gadis sebelum dia berlalu meninggalkannya. Gadis kecil itu hanya termangu menatap kepergian namja kecilnya.

Untuk yang kesekian kalinya Saera bermimpi hal sama. Dia kini membuka mata setelah hampir sekitar 6 jam dia tak sadarkan diri. Pandangannya masih sedikit kabur. Dia memejamkan matanya lagi lalu membukanya lagi, baru setelah itu pandangannya menjadi jelas. Dia mengedarkan pandangan kesekeliling tempatnya berbaring. Dia tahu jika dia berada di rumah sakit, karena selang infus tertancap di tangan kirinya.

Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka, dari situ muncul Baekhyun dengan pakaian lengkap dokternya. “Kau sudah sadar?”, tanya Baekhyun ketika melihat Saera membuka mata. Dia segera memeriksa keadaan Saera.

“Sudah berapa lama aku pingsan?”, tanya Saera.

“Sekitar 6 jam semenjak Park Chanyeol membawamu kemari”.

“Park Chanyeol”, kata Saera dengan nada kaget. Baekhyun mengangguk. Saera ingat, dia pingsan setelah berterima kasih padanya.

“Bagaimana bisa dia yang membawamu kemari?”, tanya Baekhyun penasaran.

Saera belum menjawab, dia berusaha duduk. Dia terlihat kesusahan, melihat itu Baekhyun segera membantunya. Saera menghela nafas setelah posisinya nyaman. “Kau tahukan jika tadi pagi aku ke makam appa dan Sora”, kata Saera.

Ne, geuraeso?”, kata Baekhyun.

“Aku tak sengaja bertemu dengannya disana”.

“Bagaimana bisa kau terluka?”.

“Dengarkan dulu, aku belum selesai bicara”.

“Baiklah, lanjutkan”.

“Saat aku masih disana, aku mendapat telfon jika salah satu pasienku kabur. Segera saja aku meninggalkan tempat itu. Saat aku bermaksud memanggil taksi, tiba-tiba ada yang menendang punggungku dari belakang. Itu membuatku jatuh ke tanah dan kepalaku membentur trotoar. Orang yang menendangku ternyata adalah pasien yang dikabarkan kabur. Aku mencoba menenangkannya, namun dia berniat memukulku dengan tong sampah di tepi jalan itu. Park Chanyeolah yang menolongku, dia juga yang membantuku menangkap pasien itu”, kata Saera panjang lebar.

Baekhyun hanya mengangguk-anggukan kepalanya ketika paham dengan cerita Saera. “Apa bahuku baik-baik saja? Rasanya masih sedikit ngilu”, tanya Saera.

Gwenchana, kau hanya perlu beristirahat untuk memulihkan tenagamu”.

Gomawo Baekhyun-ah”.

Eoh, istirahatlah. Bagaimana mungkin seorang dokter sering sakit-sakitan, pasienmu akan terlantar jika kau sering tidak masuk”, Baekhyun mengacak-acak rambut Saera. Saera hanya tersenyum. Baekhyun membantu Saera berbaring kembali. Lalu dia meninggalkan ruangan itu, setelah mematikan lampu.

***

“Jadiapamaksudkedatanganandatuan Park?”,tanya Kim Dongman.

“Berapa banyak hutang keluarga Han pada anda tuan Kim?”, tanya Park Chanyeol. Dia kini tengah duduk berhadapan dengan Kim Dongman di ruang kerja pemilik Empire Night Club tersebut.

Waeyo? Apa anda ingin melunasinya?”.

“Sebutkan saja berapa jumlahnya?”, Chanyeol berkata dengan sedikit kesal.

“Elena sudah memberikan banyak uang untukku. Hanya tinggal sekitar satu miliyar Won”.

Chanyeol kemudian menulis nominal yang tadi di sebutkan pada ceknya. Menandatanganinya, lalu menyerahkannya pada Kim Dongman. “Dengan ini hutang mereka lunas, dan biarkan Elena keluar dari pekerjaannya”.

“Tidak semudah itu tuan Park. Elena adalah penghasilan terbesarku, tidak mungkin aku melepaskannya begitu saja”.

“Apa maksudmu tuan Kim? Bukankah ayahnya sudah menjualnya, itu berarti sebenarnya hutangnya sudah lunas dengan kau memperkerjakannya. Tapi mengapa kau juga masih menarik hutangnya dengan penghasilan yang dia dapatkan. Dan sekarang hutangnya sudah lunas dan kau masih ingin memperkerjakannya. Ck…ck… Kau memang licik tuan Kim”.

“Kau salah tuan Park, ayahnya tidak pernah menjualnya. Dia adalah jaminan atas hutang-hutang ayahnya”.

Apa?”, tanya Chanyeol heran.

“Iya, saat aku menagih hutang di rumah Han Moonjae, saat itulah aku melihatnya. Gadis polos yang sangat cantik, sangat cocok untuk clubku. Aku yang memaksanya membawa kemari. Mungkin dia mengira jika ayahnya menjualnya, tapi sebenarnya tidak. Han Moonjae terlalu menyayangi putrinya. Aku menggunakan kelemahannya untuk membawa putrinya. Dia terlalu takut jika kebenarannya terungkap. Karena itu dia memilih bunuh diri setelah aku berhasil membawa putrinya”.

“Kau memang bajingan tuan Kim”.

“Itu memang sebutan untukku”.

“Aku penasaran, apa kelemahan pria itu?”.

“Kau tidak perlu tahu tuan Park, ini tidak ada hubungannya denganmu”.

“Baiklah! Jadi berapa yang kau butuhkan agar kau mau melepaskan Elena?”.

“Jadi kau ingin menebusnya?”.

“Kau bisa menyebutnya seperti itu”.

“Kau yakin tuan Park. Kau tahukan jika dia adalah ikon utama di Empire Night Club ini. Dan kau sudah tahu berapa tarif pemesannya, dan berapa banyak penghasilan yang bisa aku dapatkan darinya. Apa kau yakin?”.

“Jangan berbeli-belit tuam Kim, sebutkan saja”.

“Aku heran mengapa kau sangat ingin menebusnya”.

“Kau tidak perlu tahu alasanku. Sebutkan saja”.

———-

Chanyeol kini tengah berdiri di depan mobilnya. “Brengsek, pri tua yang menyebalkan”, Chanyeol segera memasuki mobilnya dan meninggalkan tempat itu.

***

Saera kini sudah rapi dengan penampilannya meski keningnya masih diperban. Dia berniat untuk masuk kerja hari ini. Bahu kanannya masih sedikit sakit saat dia mencoba menggerakannya. Dia mengambil tasnya, memeriksa isinya dan mengambil kalungnya lalu memakainya. “Akhirnya aku menemukanmu”, kata Saera setellah memakai kalung itu. “Tapi mengapa bisa kalung ini ada di tempat pemakaman, apa mungkin…!”, Saera berfikir sejenak, memikirkan orang yang mungkin menjatuhkannya.

Saera memikirkan seseorang yang ditemuinya di tempat itu, “Tidak, tidak. Tidak mungkin dia. Tapi jika bukan dia, siapa lagi”, Saera masih bingung antara setuju dengan pemikirannya tau tidak. Tiba-tiba saja pintu ruangannya diketuk. Saera segera mempersilahkannya masuk. Orang yang mengetuk pintu itu segera memasuki ruangan.

“Kau sudah akan pergi?”, tanyanya.

Ne, aku harus berangkat ke rumah sakit. Apa aku belum boleh pergi?”, kata Saera.

“Aku akan memeriksamu sebentar”. Orang itu segera memeriksa keadaan Saera. Sudah tidak ada yang perlu dikhawatirkan, semuanya sudah normal. “Apa bahumu masih sakit?”.

“Sedikit”.

“Sebaiknya kau tidak usah menyetir”.

“Emh, aku akan naik taksi”.

Dia memperhatikan penampilan Saera. Dia melihat kalung yang seharusnya dibawa seseorang, bukan gadis itu. “Kalungmu sudah ketemu?”.

Eoh, aku tak sengaja menemukannya saat aku mengunjungi Sora”.

“Bagaimana bisa sampai disana?”.

Molla. Aku juga bingung, bagaimana bisa kalung ini sampai disana. Ow, ya Baekhyun-ah, apa kau sudah bertemu Jongdae?”.

“Kenapa kau bertanya seperti itu, tentu saja dia takkan mau menemuiku sejak peristiwa itu. Memangnya sekarang dia ada di Korea?”.

Ne, dia sudah pulang”.

“Kau bertemu dengannya?”.

“Hanya sebentar”.

“Kau tidak akan berangkat kerja?”.

“Ah, kau benar. Aku bisa terlambat, aku pergi dulu. Annyeong”, Saera buru-buru mengambil ponselnya dan berlari meninggalkan Baekhyun.

Baekhyun hanya tersenyum melihat tingkah Saera. “Sebenarnya aku juga ingin sekali bertemu dengannya Saera, aku ingin menjelaskan semua padanya. Tapi dia selalu menghindariku”, kata Baekhyun yang masih duduk di ruang inap Saera. Dia tengah mengingat kejadian 10 tahun yang lalu yang membuat sahabatnya membencinya.

Flash back

“Baekhyun kau harus menolongku”, kata seorang gadis dengan nada meminta. Entah sudah berapa kali dia mengatakan hal itu namun tidak dihiraukan oleh orang yang diajaknya bicara.

Baekhyun yang tengah sibuk dengan bukunya akhirnya menoleh pada orang itu. “Apaya? Kenapa aku harus menolongmu?”, tanya Baekhyun dengan sedikit kesal.

“Karena hanya kaulah satu-satunya sahabat namja yang aku punya”, gadis itu berkata sambil mengedip-ngedipkan matanya. “Jebal, Baekhyun-ah”, lanjut gadis itu.

Aish, yeoja ini. Apa yang bisa aku bantu”.

“Aku tidak bisa mengatakannya disini. Disini terlalu banyak orang. Temui aku di atap sekolah sepulang nanti”.

Aish, baiklah. Sekarang pergilah, kau mengganggu belajarku”.

“Jangan lupa sepulang sekolah nanti. Annyeong”.

Baekhyun hanya bisa mengeleng-gelengkan kepalanya melihat kepergian gadis itu.

———

Sesuai permintaan gadis tadi, Baekhyun menuju atap sekolah. Sampai disana dia melihat sang gadis tengah menangis. Baekhyun segera mendekati sang gadis, “Kenapa kau menangis?”, kata Baekhyun sambil mengulurkan sapu tangan miliknya. Gadis itu menoleh dan menerima sapu tangan tersebut. Dia segera menghapus air matanya.

“Jongdae, hiksz..hiksz..”, gadis itu menangis lagi.

“Kenapa dengan Jongdae? Kau putus dengannya?”. Gadis itu menggeleng. “Lalu kenapa?”.

“Kau harus membantuku putus darinya”.

“Kenapa tiba-tiba kau ingin putus dengannya?”.

Gadis itu berdiri, berjalan mendekati pagar tempat itu. Dia memandang pemandangan sekolahnya dari atap. Dia menghela nafas sebelum menceritakannya, “Dua hari yang lalu, ibunya menemuiku. Dia akan mengirimnya ke Amerika. Jongdae menolaknya, dan ibunya bilang itu karena aku. Karena dia tidak ingin meningglkanku. Sejak awal orang tuanya memang tidak menyukaiku, mungkin juga itu alasan mereka agar bisa memisahkanku dengannya. Jika aku tidak bisa membuatnya pergi ke Amerika, ibunya mengancam akan menyakiti keluargaku. Kau tahukan siapa mereka? Eotteokae Baekhyun, apa yang harus aku lakukan. Disatu sisi aku tidak ingin kehilanggannya, disisi lain aku juga tidak ingin keluargaku terluka”.

“Kau harus tegas Sora, mana yang menurutmu lebih penting itulah yang harus kau pilih”.

“Kau benar Baekhyun. Aku hanya ingin melihatnya bahagia. Baiklah, aku akan membuatnya mau mengikuti kemauan orang tuanya”.

***

Hari ini adalah hari ulang tahunnya Jongdae, dia berencana merayakannya di sebuah tempat karaoke bersama kekasihnya dan juga sahabat-sahabatnya. Jongdae sudah sampai di depat tempat karaoke, dia melihat Saera baru turun dari taksi. “Han Saera”, sapanya. Gadis itu menoleh.

“Ow, Kim Jongdae”.

“Mana Sora?”.

“Aku menyuruhnya berangkat dulu bersama Baekhyun. Aku baru pulang dari latihan, kau lihatkan aku bahkan tak sempat berganti pakaian. Aku langsung kemari tadi, aku tidak mampir rumah”.

“Latihan lagi, kau benar-benar mau ikut teater itu”.

Geureom, ini adalah impianku”.

“Ya, ya terserahlah. Kajja kita masuk”.

Ne”.

Mereka berdua akhirnya masuk ke tempat tersebut. Sepanjang perjalanan mereka juga asyik mengobrol. Saat sampai di ruang yang dipesan Jongdae, dia kaget melihat pemandangan yang membuatnya naik darah. Jongdae mengebrak meja hingga membuat Baekhyun dan Sora menoleh kearahnya. Saera juga sedikit kesal dengan tingkah Baekhyun dan Sora. Bagaimana tidak, yang dilihat Jongdae adalah Baekhyun dan Sora tengan berciuman. Padahal statusnya Sora masih menjadi kekasih Jongdae.

“Kau sudah datang”, kata Sora tanpa dosa.

“Apa yang kalian lakukan”, tanya Jongdae dengan nada marah.

“Bukankah kau sudah melihatnya”, kata Sora.

Jongdae mendekati Baekhyun, dia menarik kerah bajunya. “Aku tidak menyangka kau akan tega melakukannya padaku Baekhyun. Wae? Kenapa Baekhyun, kenapa? Ayo katakan?”. Baekhyun hanya diam. Dia tidak menjawab pertanyaan Jongdae. Sora segera melerainya.

“Lepaskan dia Jongdae, dia tidak bersalah. Aku yang memaksanya”.

Apa?”, Jongdae segera melepaskan cengkramannya hingga membuat Baekhyun jatuh kelantai. “Wae? Kenapa Sora, kenapa kau melakukan ini?”.

“Sejak awal aku tidak menyukaimu Jongdae. Aku hanya memanfaatkanmu untuk kesenanganku. Dan satu hal lagi yang perlu kau tahu, aku menyukai Baekhyun. Karena itu kita harus mengakhiri hubungan kita”, kata Sora.

“Kau…Aish…”, Jongdae segera meninggalkan tempat itu. Dia tidak menyangka jika hadiah ulang tahunnya adalah penghiatan kekasihnya dan juga sahabatnya.

Saera menggeleng-gelengkan kepalanya, dia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Kenapa kalian tega melakukan ini. Aku benar-benar tidak menyangka”.

“Saera, dengarkan aku. Aku bisa jelaskan”, kata Baekhyun mendekatinya.

“Apa yang perlu dijelaskan. Semuanya sudah jelas, Aish….”, Saera juga meninggalkan tempat itu.

Baekhyun berencana mengejarnya, namun belum sempat berlari dia melihat Sora ambruk ke lantai. Dia menghentikan niatnya dan mendekati sahabatnya itu. Sora terduduk di lantai, dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Baekhyun bisa mendengar isakan Sora.

“Tenanglah Sora”, Baekhyun menenangkan sahabatnya dengan menepuk-nepuk punggungnya.

“Baekhyun, gomawo”.

Sejak saat itu, Jongdae tidak pernah datang lagi ke sekolah. Dan itu membuat berakhirnya persahabatan antara Baekhyun dan Jongdae. Bahkan hubungannya sengan Saera juga memburuk. Saera tidak pernah mau lagi menemuinya. Dia selalu menghindari Baekhyun. Begitu juga dengan Sora, Saera juga membencinya. Bahkan ketika dirumah sekalipun Saera hampir tak pernah menyapa Sora. Sora tak kuat menanggung itu semua. Hingga suatu hari dia ditemukan tewas gantung diri di kamarnya.

Flash back end

“Kau tahu Saera, aku sangat menyesal telah membantu Sora. Jika saja aku tahu akan jadi seperti ini, aku pasti akan menolaknya saat itu. Tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Aku hanya berharap bisa menjelaskan semuanya pada Jongdae. Betapa Sora sangat mencintainya”, setelah berkata seperti itu, Baekhyun meninggalkan ruang tersebut untuk melanjutkan aktifitasnya.

***

Seperti biasa sebelum berangkat ke Empire Night Club, Saera menyempatkan diri menjenguk ibunya. Dia mencium kening ibunya dan bersiap berangkat. “Eomma, Saera berangkat dulu. Saranghae, eomma”. Setelah berkata seperti itu, dia mengambil tasnya dan meninggalkan ruang rawat ibunya. Dia melangkahkan kaki menuju jalan raya.

Tak lama menunggu dia melihat taksi, dia segera memanggilnya. “Empire Night Club”, kata Saera. Merasa sudah paham, sang supir melajukan mobilnya ke tempat tujuan. Sekitar 15 menit kemudian mereka sampai di Empire Night Club. Saera segera turun setelah membayar biayanya.

Saera memandang sejenak bangunan gedung yang ada di depannya. Dia juga membuang nafasnya. Entah apa yang dia fikirkan hingga tak kunjung memasuki gedung. Dengan langkah malas akhirnya Saera memasuki gedung tersebut. Dia segera menuju runga rias.

Sampai disana sudah ada dua temannya Shandy dan Wendy. Saera segera duduk setelah meletakkan tasnya. “Yak, kenapa dengan keningmu? Apa terjadi sesuatu?”, tanya Wendy.

“Astaga, aku lupa melepasnya. Bukan apa-apa, hanya sedang sial”, kata Saera.

Apa? sejak kapan kau bersikap seperti itu?”, tanya Shandy yang masih sibuk memoles bedak di wajahnya.

Molla”, kata Saera dengan nafas beratnya.

“Kau tahu, kemarin pria tua itu marah-marah karena kau tidak bisa dihubungi. Sebenarnya kemarin kau dimana?”, tanya Wendy.

“Ah, iya. Sajangnim marah besar karena ada yang memesanmu kemarin”, imbuh Shandy.

“Kemarin adalah hari peringatan kematian Sora dan appa. Tentu aku ke makamnya”, kata Saera.

“Ow. Tapi malamnya kau kan seharusnya bisa masuk kerja”, kata Wendy.

“Aku mendapat kabar salah satu pasienku kabur dari rumah sakit. Aku bermaksud mencarinya dan tak sengaja kami bertemu di depan makam. Dia menendangku dari belakang hingga keningku membentur trotoar”, kata Saera.

“Ah, jadi luka itu karena pasienmu”, kata Shandy.

Emh, kalau saja dia tidak menolongku aku tidak yakin masih hidup sekarang”, kata Saera.

“Apa sekuat itu pasienmu?”, tanya Wendy.

Eoh, dia mantan atlit wushu”, kata Saera.

“Ah, pantas saja”, kata Wendy.

“Jadi, siapa yang menolongmu?”, tanya Shandy penasaran.

“Park Chanyeol”, kata Saera.

Apa? Kau tidak bercandakan?”, kata Shandy tak percaya.

“Apa aku terlihat bercanda?”, kata Saera.

“Bagaimana bisa pewaris S&C itu membantumu”, tanya Wendy.

“Kami tak sengaja bertemu di tempat pemakaman”, kata Saera.

Pintu ruangan itu tiba-tiba terbuka, lalu muncullah Sehun. Mereka bertiga menoleh ke arah pintu. Setelah tahu siapa yang datang, mereka lalu melanjutkan kegiatan masing-masing. Sehun mendekati Saera.

“Kenapa dengan keningmu noona?”, tanya Sehun.

Gwenchana. Hanya terbentur”, kata Saera.

Jeongmal?”, tanya Sehun lagi.

Eoh, sebenarnya ada apa kau kemari, Sehun?”, tanya Saera.

Sajangnim memanggilmu noona”, kata Sehun.

Sajangnim! Untuk apa dia memanggilku”, kata Saera.

Molla”, jawab Sehun.

“Mungkin dia akan memarahimu seperti dia marah kemarin”, kata Shandy.

Malgo andwe”, kata Wendy.

“Kenapa tidak mungkin?”, tanya Shandy.

Yak, sudah berapa lama kau disini? Seharusnya kau tahu siapa pria tua itu. Dia tidak akan pernah marah pada Elena, karena dia takut kehilangan Elena. Elena adalah tambang emas baginya”, kata Wendy.

“Tambang emas. Yak, kau pikir aku ini apa? Sudah-sudah, aku akan menemui Kim ahjussi. Jangan ribut lagi, kalian selalu ribut kalau bertemu. Seperti kucing dan anjing saja”, kata Saera.

“Kalau seperti kucing dan anjing, berarti aku kucingnya. Kucing yang manis”, kata Shandy sambil mengedip-ngedipkan matanya.

“Ya, terserahlah”. Setelah berkata seperti itu, Saera meninggalkan mereka. Dia menuju ruang pemilik Empire Night Club itu.

Sampai di depan ruangnya, Saera mengetuk pintu ruangan tersebut. dari arah dalam terdengar suara mempersilahkan masuk. Saera segera membuka pintu dan memasuki ruang tersebut. Saat Saera masuk, pemilik club itu duduk menghadap jendela.

“Ada apa ahjussi, kenapa ahjussi memanggilku?”, Saera membuka pembicaraan, karena orang itu tidak juga berbalik menghadapnya.

Pria itu segera berbalik setelah mendengar suara Saera. “Kau sudah datang”, kata pria itu. Dia melihat Saera masih memakai perban di keningnya, karena penasaran pria itu bertanya, “Kenapa dengan keningmu itu?”.

Saera memegang lukanya, “Gwenchana, ini hanya terbentur saat mencari pasienku”.

“Duduklah”, kata pria itu. Saera menuruti perintah pria itu, di duduk di kursi depan meja kerja sang direktur. “Mulai hari ini kau ku pecat. Kau tidak perlu datang bekerja kembali”, kata sang direktur.

Saera masih terdiam, dia masih mencerna kata-kata pria yang ada di depannya. Antara percaya dan tidak, pasalnya pria itu memAng tidak akan mudah melepasnya begitu saja. “Kau jangan bercanda ahjussi”, hanya kata itu yang keluar dari mulutnya.

“Apa aku terlihat bercanda?”, pria itu menekan sedikit kata-katanya. Dia sebenarnya juga tidak rela melepas Elena begitu saja. Baginya Elena adalah tambang emas, tapi karena pria yang menemuinya kemarin, dengan terpaksa dia melepasnya. “Kau mengenalku dengan sangat baik bukan, Elena. Sekarang pergilah dan jangan pernah kembali lagi kemari. Kau bebas sekarang”, lanjut pria itu.

Wae? Aku tahu, kau tidak akan mudah melepaskanku ahjussi. Setidaknya biarkan aku tahu alasanmu”, kata Saera.

“Hutang ayahmu sudah lunas. Jadi untuk apa aku mempertahankamu”, kata pria itu.

“Siapa yang melunasinya? Katakan padaku ahjussi?”, pinta Saera.

“Kau mengenalnya, dia pernah menjadi pelangganmu. Tapi maaf, aku tidak bisa memberitahukan namanya”, kata pria itu.

‘Percuma saja jika sekarang aku memaksa pria tua ini. Mungkin lain waktu akan ku coba tanya lagi’, pikir Saera. “Baiklah kalau begitu. Aku permisi dulu, maaf jika aku banyak salah selama bekerja pada anda, ahjussi. Terima kasih untuk semuanya”. Setelah berkata seperti itu, Saera membungkukkan badannya lalu meninggalkan ruangan tersebut.

Saera memasuki ruang rias untuk mengambil tasnya. Disana masih ada Shandy dan Wendy. “Yak Elena, ada apa dengan ekspresi wajahmu. Apa sajangnim memarahimu?”, tanya Shandy. Saera menggeleng.

“Lalu kenapa. Ekspresimu aneh sekali”, lanjut Shandy.

“Entahlah! Apa aku harus senang atau sedih, ini begitu mengejutkan untukku. Kalian pasti tidak percaya”, kata Saera.

Apaya?”, tanya Wendy. Namun Saera melah diam. “Yak, jangan buat kamia penasaran. Cepat katakan?”, pinta Wendy.

“Aku dipecat”, kata Saera.

Apa?”, kata Shandy dan Wendy serentak. “Kau tidak bercandakan Elena?”, lanjut Wendy.

“Apa aku terlihat bercanda?”, Saera berkata dengan nada yang hampir sama dengan yang dikatakan pria tadi.

“Iya baiklah, kami percaya”, kata Wendy pasrah.

Geundae, apa yang membuat sajangnim melepasmu?”, kata Shandy. Belum sempat Saera menjawab, Sehun datang memperingatkan mereka.

Yak, noona-noona kenapa kalian masih disini, jika Kim ahjussi tahu kalian pasti akan dapat kemarahannya”, kata Sehun.

“Iya, kami tahu Sehun-ah. Kami baru mau pergi ke sana”, kata Shandy. “Kami akan menanti jawabanmu lain kali, Elena. Ingat, kau masih punya hutang penjelasan pada kami. Ayo kita pergi Wendy”, lanjut Shandy.

Ne, benar apa kata Shandy. Sampai jumpa lagi Elena”, kata Wendy.

Mereka berdua meninggalkan ruangan tersebut hingga menyisakan Sehun dan Saera. Saera masih memakai pakaian saat dia berangkat tadi, dia bahkan belum sempat merias wajahnya. Melihat hal itu Sehun merasa heran, dia lalu memberanikan diri untuk bertanya pada Saera.

“Kenapa noona belum bersiap-siap?”, tanya Sehun.

Saera hanya tersenyum. Dia lalau mengambil tasnya dan berjalan mendekati Sehun. Tanpa aba-aba Saera memeluk Sehun. Sehun hanya terdiam dengan apa yang dilakukan Saera. Dia merasa jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Cukup lama mereka terdiam dalam keadaan berpelukan.

“Mungkin ini terakhir kalinya aku bertemu denganmu di tempat ini Sehun-ah”, kata Saera membuka pembicaraan. Dia segera melepaskan pelukannya.

“Maksud noona?”, tanya Sehun bingung dengan penuturan Saera.

“Aku sudah dipecat”, kata Saera.

Jeongmal! Ah, chukkae noona”, Sehun berkata dengan tersenyum.

Gomapta. Aku pergi dulu. Jika kau merindukanku telfon saja, atau jika kau mau bisa datang ke apartemenku. Annyeong”, Saera berjalan meninggalkan Sehun yang masih mematung di tempatnya.

Saera berjalan dengan senang menuju lantai satu. Dia bahkan tak henti-hentinya tersenyum. Ini adalah hari yang paling ditunggu dalam hidupnya, bisa bebas dari Kim Dongman adalah suatu berkah tersendiri dati Tuhan.

Dia jadi penasaran dengan orang yang melunasi hutangnya. Dia mengingat satu persatu pelanggannya, siapa yang kira-kira berbaik hati dengannya. Tapi dia tidak menemukan sesorang itu, karena memang dia tidak pandai menduga-duga. Dia terus memikirkan hal itu sepanjang perjalannya. Hingga ia baru tersadar setelah sebuah tangan menariknya dan membawanya pergi. Saera berusaha melepaskan genggaman orang itu, namun terlalu kuat.

Yak, lepaskan aku. Kau mau membawaku kemana?”, Saera berkata sambil terus berusaha melepaskan genggaman itu. Orang itu tidak memperdulikan kata-kata Saera. Dia malah semakin menguatkan genggamannya dan memasukkan Saera ke dalam mobil setelah sampai di depan sebuah mobil yang terpakir di pinggir jalan.

 

 

— TBC —

 

 

Untuk chapter ini lumayan panjang karena chapter sebelumnya lebih pendek. Dan juga sebagai bonus karena chapter selanjutnya agak lama postingnya (padahal chapter ini juga lumayan lama updatenya), maklum ja tugas kuliah lagi numpuk #curhat. Semoga gak bosen dengan ff ini dan semoga masih setia menunggu ff ini. Terima kasih sudah membaca, jangan lupa like dan tinggalkan komentarnya. Mungkin dah sedikit terlambat tapi tetap saya ucapkan, selamat hari raya idul fitri. Maaf jika author banyak salah ma kalian semua.

Salam hangat: Dwi Lestari

5 thoughts on “Promise (약속) – Chapter 7

  1. Greget sama tbcnya thor…
    Pengen baca kelanjutannya…
    Tambah seru kok thor..
    Ditunggu next chapternyaa.. jangan lama” thor.penasaran sama kelanjutannya.

    Minal aidzin juga thor

  2. Greget sama tbcnyaa thor..
    Tambah seru kok
    Ditunggu next chapternya.. jangan lama” thor.penasaran sama kelanjutannya..

    Minal aidzin wal faidzin juga thor..

  3. Helloo Kakaaaaa *so akrab serius aku suka suka sukaaaa bangeeet saama ff ini. Aku baru buka blog ini dan ini ff yang paling menarik dari yg lain *menurut aku hihi
    Dari chap 1 – 7 sumpaaah greget bangettt bacanyaaa . Ahhh kaka updatenya jangan lama lamaaa yaa penasaran ceritanya gimnaaaa😭😭😭😭
    Ditunggu ya kaa chap selanjutnya❤️❤️❤️😭

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s