3 Foolish Girls and Handsome Aliens (Chapter 7)

PicsArt_03-10-07.39.51

 3 Foolish Girls and Handsome Aliens (chapter 7)

Title               : 3 Foolish Girls and Handsome Aliens chapter 7

Author          : Hyun Ra

Genre            : Romantis, fantasi, school, friendship

Cast               : Park Chanyeol

Xiumin

Oh Sehun

Kim Hyu Ra (OC)

Kim Ha Ni (OC)

Lee Hyun Hae (OC)

Other cast    : All member EXO

And many others

Rating           : Semua umur

Length          : chaptered

Disclaimer   : EXO belong to GOD, SM, and their parents. Dan ini adalah cerita murni dari hasil pemikiran kami, jadi mohon maaf apabila ada kesamaan jalan cerita atau latarnya. Don’t PLAGIAT, Don’t be SIDERS and I HOPE YOU LIKE IT. https://exofanfictionindonesia.wordpress.com/

Author note’s : Terima kasih atas komentar dan semangat dari para readers, terutama kepada para readers yang sudah memberi kami saran, kritik dan komentar. Sekali lagi author mengucapkan gamsahamnida ^^

 

 

AWAS!!!      Typo bertebaran dimana-mana!!!

 

 

 

***

 

 

 

 

“Bagaimana aku bisa berada disini?” Tanya Sehun penasaran, kemudian ia menoleh ke arah samping, dilihatnya Tao sedang berdiri di sampingnya sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

 

“Sudahlah, lebih baik kau masuk saja ke dalam mobil sebelum Luhan gege yang memerintahkanmu” ucap Tao kesal. Tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk, Sehun lebih baik memilih untuk menurut dan masuk ke dalam mobil, sedangkan Tao tetap berada di luar sambil menyenderkan tubuhnya pada samping mobil sambil menunggu Luhan dan yang lainnya.

 

“Untung saja aku datang tepat waktu” gumam Tao lirih, sehingga Sehun tidak dapat mendengarnya di dalam mobil.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

 

***

 

 

Dengan seluruh kemampuan dan keberanian yang dimiliki oleh Ha Ni, gadis itu mencoba untuk melangkahkan kakinya dan menyerang Xiumin, namun dapat di tangkis dengan mudah oleh Xiumin.

 

“Hanya itu kemampuanmu?” ejek Xiumin

 

“Beginikah kemampuan dari seseorang yang memiliki sabuk hitam?” lanjutnya mengejek.

 

Mendapat ejekan dari Xiumin membuat gadis itu tersulut oleh emosi, akhirnya ia mengarahkan seluruh tenaganya untuk menyerang Xiumin. Di layangkannya seluruh pukulan dan serangan kepada Xiumin, namun pria itu berhasil lolos dan menghindar dengan mudah.

 

“Apa kau lelah, aku bahkan belum menyerangmu dan kau sudah lelah seperti ini” seru Xiumin karena melihat Ha Ni yang tampak kelelahan dengan keringat yang bercucuran di kepalanya.

 

“Ani, hah…. Hah… aku sama hah.. sekali tidak lelah” elak Ha Ni.

 

Jelas sekali jika gadis itu tengah berbohong saat ini, buktinya dia berbicara dengan napas yang sedikit terengah-engah, karena gadis itu terlalu banyak mengeluarkan tenaganya untuk melawan Xiumin. Biasanya gadis itu bisa bertahan lama dalam pertandingan, namun di karenakan Ha Ni yang menyerang dengan menggunakan emosi dan bukannya dengan pikiran yang jernih, membuat gadis itu mudah lelah seperti sekarang.

 

“Jadi, apa sekarang giliranku untuk menyerang? Aku sudah memberimu beberapa kali kesempatan, jadi kini giliranku untuk menyerangmu”

 

Ha Ni yang awalnya kelelahan langsung tersadar, di kumpulkannya seluruh tenaga yang ia miliki dan mencoba untuk pergi dari tempat itu. Namun sayangnya, pergerakan dari Ha Ni dapat terbaca jelas oleh Xiumin, sehingga dengan terpaksa Xiumin mengeluarkan kekuatannya dan membekukan pintu itu agar Ha Ni tidak bisa kabur.

 

Terkejut, bingung, aneh, tidak mungkin, halusinasi dan masih banyak sekali pikiran yang mengganjal di otaknya. Bingung, mungkin ini adalah kata yang tepat untuk menjelaskan semua yang ada di hadapannya dan juga pikirannya kini.

 

‘Aku pasti sudah gila dan terlalu lelah sehingga aku berhalusinasi sekarang’ batin Ha Ni.

 

“Wae? apa kau terkejut?” pertanyaan dari Xiumin berhasil menyadarkan seorang Kim Ha Ni dari pikiran gilanya. Menurutnya.

 

Gadis itu langsung membalikkan badannya dan mendapatkan Xiumin yang bersikap biasa, seolah tidak terjadi apa-apa.

 

“Apa yang kau lihat itu bukanlah sebuah halusinasi dan kau sedang tidak gila sekarang” ucap Xiumin seolah-olah menjawab apa yang ada di pikiran Ha Ni sekarang.

 

‘Selain bisa membekukan, apa dia bisa membaca pikiran juga? Daebak!’ batin Ha Ni.

 

“Tenang saja kau tidak perlu se-terkejut itu, karena nantinya kau harus membiasakan diri untuk melihat hal seperti ini” lanjutnya santai sambil menyenderkan tubuhnya pada tumpukan rak yang ada di belakangnya dan melipat kedua tangannya di depan dadanya.

 

Ha Ni yang masih di ambang kaget dan bingung, mulai memberanikan dirinya untuk bertanya meskipun tubuhnya sedikit bergetar terutama pada tangannya karena gugup dan takut.

 

“Ke-kenapa aku harus membiasakan diri untuk melihat hal seperti itu?” tanya Ha Ni penasaran.

 

“Apa kau lupa, mulai sekarang kau adalah budakku jadi kau harus membiasakan diri untuk melihatnya karena aku tidak mau berakhir dengan kau yang selalu terkejut seperti itu”

 

“Mwo? Shirreo aku tidak mau, kau bahkan belum melawanku” mendengar ucapan ‘budak’ dari Xiumin membuat Ha Ni langsung bangun dari keterkejutan dan kebingungan yang sempat melandanya beberapa saat yang lalu.

 

“Jadi itu artinya, kau masih ingin aku melawanmu setelah aku menunjukkan kekuatanku? Apa kau tidak takut?” tantang Xiumin

 

Saat Ha Ni baru membuka mulutnya, Xiumin langsung menyelanya kembali “Baiklah, karena kau yang meminta akan kulakukan” dan seketika matanya langsung membulat mendengar ucapan darinya.

 

Dapat dirasa suhu yang ada di ruangan itu berubah menjadi minus beberapa derajat, Ha Ni pun dapat merasakan jika tubuhnya mulai kedinginan dan bahkan, ia dapat melihat hembusan napas yang di keluarkannya melalui hidungnya –mungkin sebentar lagi aku akan mati beku- itulah yang ada di pikiran seorang Kim Ha Ni sekarang dikarenakan dinginnya suhu yang ada di ruangan itu.

 

Lain Ha Ni, lain pula dengan Xiumin, jika Ha Ni merasakan kedinginan hingga merasa akan mati beku, sangat berbeda dengan Xiumin, pria itu malah menyeringai senang melihat Ha Ni yang merasa kedinginan seperti saat ini.

 

“Apa kau kedinginan?” mendengar pertanyaan dari Xiumin yang seperti sedang khawatir padanya, malah terdengar seperti sebuah ejekan yang di arahkan padanya.

 

“Apa kau tidak lihat, tentu saja aku kedinginan bodoh” ucap Ha Ni.

 

“Apa tadi kau bilang? Bodoh? Aku bodoh begitu? Itukah menurutmu?” Tanya Xiumin mulai kesal.

 

‘Bodoh! Bodoh, bagaimana bisa aku salah bicara seperti itu tadi’ rutuk Ha Ni dalam hati.

 

“Ani, maksudku bukan seperti itu” elak Ha Ni cepat.

 

“Benarkah? Kalau begitu buktikan”

 

GLEK

 

Buktikan? Bagaimana caranya agar ia bisa membuktikannya, apa yang harus di buktikan?. Berbagai macam pikiran terus terputar di benaknya untuk membuktikannya.

 

“Akan ku beri waktu selama 5 detik untuk berpikir”

 

“Mwo? 5 detik? Kenapa harus 5 detik? Dimana-mana pasti 5 menit, 10 menit atau 15 menit, kenapa malah 5 detik?” protes Ha Ni.

 

“Karena aku tidak suka membuang-buang waktu untuk berpikir”

 

Mendengar jawaban dari Xiumin, membuat Ha Ni hanya bisa menahan emosi dan amarahnya yang mungkin saja bisa meledak kapan saja.

 

“Akan ku hitung” interuksi Xiumin.

 

“Ya chakkaman, chakkaman” ucap Ha Ni sedikit teriak.

 

“1…”

 

“Ya chakkaman… ” sambil menempatkan kedua tangannya seperti sedang memohon “Bisakah kau memberiku tambahan waktu sedikit” dan tidak lupa memasang wajah aegyo.

 

“2…” ucap Xiumin tidak peduli. “Aku sudah bilang, jika aku tidak suka membuang-buang waktu, jadi pergunakan waktu 5 detikmu dengan baik” lanjutnya.

 

“3, 4, 5. Selesai” seru Xiumin cepat.

 

“Ya, bagaimana bisa secepat itu. Ulangi, kau menghitung terlalu cepat” protes Ha Ni.

 

“Jika di hitung aku sudah memberimu waktu lebih dari 5 detik, karena kau yang mengajakku bicara”

 

“Ania, lakukan sekali lagi” elak Ha Ni.

 

“Sudahlah, cepat katakan, jika tidak akan ku bekukan dirimu” ancam Xiumin.

 

Setelah terdiam beberapa saat, Ha Ni kemudian tersadar “Tunggu, kenapa kau sangat memaksaku untuk membuktikannya, memang kau ingin aku membuktikan apa, eoh” dengan nada sedikit meninggi.

 

“Kau mulai berani meninggikan suaramu padaku?”

 

“Eoh, wae, tidak boleh, memangnya kau siapa berhak mengaturku” kini seorang Kim Ha Ni mulai emosi dan kesal.

 

“Mwo, kau bilang apa tadi? Apa kau tidak takut padaku?” Tanya Xiumin yang mulai tersulut emosinya juga.

 

“Geurae, aku sama sekali tidak takut padamu, wae, apa sekarang kau akan mengeluarkan kekuatanmu dan membekukanku? Silahkan, keluarkanlah, aku sama sekali tidak takut padamu” tantang Ha Ni sambil melangkahkan kakinya mendekati Xiumin dengan menempatkan kedua tangannya di pinggangnya.

 

“Aaah, jadi kau tidak takut padaku? Dan sekarang kau benar-benar ingin aku membekukanmu?” tantang Xiumin.

 

Gadis itu kini mulai bergidik takut merasakan aura menusuk dan tajam yang berasal dari pria yang berada beberapa langkah darinya. “Baiklah, karena aku sedang berbaik hati kali ini, maka akan ku kabulkan permintaanmu”

 

Seketika Ha Ni langsung membulatkan matanya untuk kedua kalinya, ia sama sekali tidak menyangka jika perkataannya yang ia anggap sebagai candaan belaka akan sangat berdampak besar pada dirinya sendiri.

 

Seketika, Xiumin langsung mengeluarkan kekuatannya dan membekukan Kim Ha Ni, namun hanya setengah badannya. Kepala dan kakinya masih dapat di gerakkan.

 

“Ya! Apa yang kau lakukan padaku! Cepat kembalikan aku seperti semula” protes Ha Ni setengah teriak.

 

“Bukankah kau yang menantangku, kenapa sekarang kau malah berteriak?” Tanya Xiumin santai.

 

Dan seketika, Kim Ha Ni pun langsung terdiam, karena memang benar ialah yang menantangnya. Bodoh. Ia merutuki dirinya sendiri karena ucapannya itu, ia menyesal telah mengucapkan kata-kata itu sebelumnya.

 

“Apa sekarang kau menyesal? Menyesal telah mengatakan hal itu sebelumnya?” ucap Xiumin yang seolah-olah bisa menebak apa yang ada di pikirannya kini.

 

“Aku akan melelehkan es itu, tapi dengan satu syarat” lanjutnya.

 

“Mwo, Apa kau ingin agar aku menjadi budakmu?”

 

“Eoh, ternyata kau pintar juga rupanya” sambil melangkahkan kakinya dan berhadapan dengan Ha Ni. “Bagaimana, kau mau?” tawar Xiumin.

 

“Apakah dalam posisi seperti ini aku memiliki pilihan lain selain ‘iya’?” keluh Ha Ni dengan tatapan tajam.

 

“Baiklah, ku anggap kau menjawab iya”

 

Dalam sekejab, hanya dengan sebuah jentikan jari, es yang membekukan sebagian tubuh Ha Ni pun mencair.

 

Setelah itu ia berjalan keluar, namun saat berada di ambang pintu, ia menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Ha Ni yang masih membelakanginya. “Ah ya, hanya sebagai informasi, namaku adalah Xiumin” kemudian ia melangkahkan kakinya kembali, namun baru selangkah berjalan, ia menghentikannya kembali.

 

“Jangan salah paham, aku hanya tidak ingin memiliki seorang budak yang bahkan tidak tahu namaku” setelah itu ia benar-benar melangkahkan kakinya pergi dari tempat itu dan meninggalkan Kim Ha Ni yang masih menyimpan emosi padanya.

 

Merasa jika pria itu sudah tidak ada disana, Ha Ni mulai membalikkan badannya “Siapa yang salah paham, dasar percaya diri” cibir Ha Ni. Sesaat ia kemudian tersadar jika hari mulai sore dan sebentar lagi matahari akan kembali ke tempatnya dan digantikan oleh indahnya bulan yang bersinar pada malam hari.

 

 

***

 

 

Hyu Ra mulai melambatkan langkahnya setelah berlari dari lantai 2. Gadis itu mulai pasrah, ia hanya akan mengikuti kemana langkahnya pergi.

 

‘Ruang Penyiaran’ itulah tulisan yang tertera di atas kepalanya. Gadis itu kini berada di depan pintu ruangan tersebut tanpa berniat untuk masuk ke dalam.

 

“Apa aku harus masuk ke dalam sana dan bersembunyi?” gumamnya.

 

Pikirannya meminta agar ia masuk ke dalam sana tapi tidak dengan hatinya. Sehingga selang beberapa menit, ia hanya berdiri mematung di depan pintu karena terus bergelut dengan pikiran dan hatinya.

 

“Aish, kenapa dia hanya berdiri mematung di depan sana” gerutu Chanyeol.

 

Pria itu kini bersembunyi di balik loker yang memisahkan antara ruang penyiaran dan ruang STAPALA. Dia baru saja mendapat pesan dari Kai yang mengatakan jika gadis itu sudah berada di depan ruang penyiaran.

 

Dengan ragu Hyu Ra meraih knop pintu itu dan masuk ke dalam. Di dalam ruangan itu terdapat dua ruangan, satu ruang untuk pengontrol siaran, dan satu untuk melakukan siaran. Kedua ruangan itu di batasi oleh dinding pembatas yang berasal dari kaca. Kemudian Hyu Ra masuk lebih dalam dan menuju ruang untuk penyiaran.

 

Mengetahui jika gadis itu sudah masuk ke dalam, dengan segera ia mengikutinya dengan perlahan. Saat masuk ke dalam, di lihatnya gadis itu tengah membelakangi dirinya dan sedang mengamati ruangan tersebut. Di langkahkan kakinya lebar-lebar dan tanpa menimbulkan suara, di kuncinya pintu itu.

 

CKLEK

 

Mendengar suara pintu yang terkunci, gadis itu pun langsung menolehkan kepalanya ke arah pintu yang di kunci, gadis itu langsung membalikkan tubuhnya saat melihat seorang pria dengan tubuh yang tinggi tengah berjalan santai ke arah kursi yang berada di tengah-tengah ruang pengontrol siaran.

 

“Ya! Apa yang kau lakukan disini? Dan kenapa kau mengunci pintunya? Ya!” teriak Hyu Ra, karena ia merasa ucapannya sama sekali tidak di pedulikan oleh pria bertubuh tinggi itu.

 

Chanyeol, pria itu sama sekali tidak peduli dengan apa yang di ucapkan oleh gadis itu, pria itu malah sedang asyik mengotak-atik semua hal yang ada di ruang control itu.

 

“Ya! Jangan sentuh apapun, jika rusak, kau harus bertanggung jawab dan menggantinya” protes Hyu Ra.

 

Tatapan datar di layangkan oleh Chanyeol sambil menyenderkan tubuhnya pada kursi dan mengangkat kakinya ke atas meja

 

“Apa kau sudah lupa? Aku adalah pemilik dari sekolah ini, jadi aku bebas melakukan apapun disini”

 

“Haah.. baiklah, tuan pemilik sekolah, bisakah kau membuka pintu itu dan membiarkan aku keluar?” dengan suara yang di buat-buat lembut agar pria itu membolehkannya keluar darisana.

 

“Shirreo, aku tidak mau, karna itu sama sekali tidak ada untungnya bagiku”

 

“Neo jinja. Ya, apa yang kau rencanakan sebenarnya eoh” kesal Hyu Ra.

 

“Aku? Tidak ada” ucap Chanyeol santai.

 

“Apa semua ini kau rencanakan karena aku mengetahui rahasia kalian yang sebenarnya? Jika itu memang benar, maka kalian benar-benar seorang pengecut” remeh Hyu Ra.

 

“Rahasia? Tidak juga, kami melakukannya karena kami ingin”

 

Ingin? Yang benar saja, mereka pikir mereka siapa, hanya karena mereka adalah pemilik dari sekolah ini mereka bisa melakukan apapun yang mereka inginkan? Haah astaga.

 

“Ya, meskipun kalian adalah pemilik dari sekolah ini, tidak seharusnya kalian bersikap seperti itu. Dan juga, apa karena kami bukanlah berasal dari keluarga kaya, sehingga kalian menjadikan kami seorang budak?” protes Hyu Ra dengan tatapan tajam, namun sesaat kemudian tatapan matanya berubah menjadi sendu saat menyadari sesuatu.

 

“Ini semua karenaku kan? Karena aku mengetahui rahasia kalian, sehingga kalian menjadikan kami budak, tapi… bisakah kau tidak melibatkan kedua temanku? Mereka sama sekali tidak terlibat dalam masalah ini, tapi kenapa kalian malah melibatkan mereka?” kini ucapannya mulai memelan

 

Mendengar perkataan dari Hyu Ra membuat Chanyeol menaikkan sebelah alisnya, kemudian ia menurunkan kakinya “Jika kau pikir mereka tidak terlibat dalam masalah, maka kau salah. Mereka terlibat, tapi tidak dalam masalah ini, mereka terlibat dalam masalah lain dan itu juga bukan denganku tapi dengan yang lain” jelas Chanyeol.

 

“Apa maksudmu?”

 

“Jika kau ingin tahu, sebaiknya kau tanyakan saja kepada kedua temanmu itu”

 

“Lalu, sekarang apa maumu?” Tanya Hyu Ra mencoba mengalihkan pembicaraan.

 

“Kau pasti sudah tahu apa mauku…” jeda Chanyeol.

 

“Kedua temanmu sudah tertangkap dan mereka sudah dijadikan budak oleh kedua saudaraku-” lanjutnya menggantung.

 

“Lalu maksudmu, kau akan menjadikanku sebagai budakmu?”

 

“Tepat sekali”

 

“Kenapa penderitaanku tidak pernah berakhir?” gumam Hyu Ra lirih, tapi dapat di dengar Chanyeol dengan jelas.

 

“Aku dengar apa yang kau bicarakan” sahut Chanyeol cepat. “Dan kau tidak ingin aku mengeluarkan kekuatanku kan?” tantang Chanyeol.

 

“Jadi yang kulihat waktu itu dan juga tadi bukanlah imajinasi?” bukannya menjawab, gadis itu malah bertanya balik dengan semangat, yang membuat Chanyeol malah menatapnya bingung, yang kemudian di sambut oleh tawaan dari Chanyeol.

 

“Jadi kau pikir itu adalah imajinasi?” Tanya Chanyeol masih tidak percaya.

 

“Astaga, kau pikir berapa usiamu, masih belum bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang imajinasi” ejek Chanyeol.

 

“Ya, apa kau pikir kekuatanmu dan juga yang lainnya bisa dianggap sebagai sesuatu yang nyata? Jika orang lain yang melihatnya, mereka pasti akan berpikiran yang sama denganku” sanggah Hyu Ra.

 

“Terserah” ucap Chanyeol angkuh.

 

Setelah terdiam beberapa saat, Chanyeol mencoba untuk memancing Hyu Ra “Aaah… sepertinya sudah hampir malam aku pergi dulu” sambil melihat jam tangan yang melingkar di tangannya dan segera melangkah pergi, tapi baru beberapa langkah berjalan ia kembali lagi. “Ah…. Aku melupakan ponselku” sambil menunjukkan ponselnya ke atas.

 

“Itu – itu, Ya! Bukankah itu ponselku?” teriak Hyu Ra sambil menunjuk ke arah ponselnya yang dibawa oleh Chanyeol.

 

“Ini? Jadi ini ponselmu?” Tanya Chanyeol sambil menunjuk ponsel yang ada di genggamannya sekarang.

 

“Di-dimana kau menemukannya?”

 

“Tadi aku menemukannnya di ruang rapat OSIS”

 

“A-apa yang kau lakukan disana?”

 

“Aku? Aku sedang menunggumu disana” goda Chanyeol.

 

Namun beberapa detik kemudian Chanyeol mengerutkan dahinya bingung, biasanya jika ia mengatakan hal seperti itu maka para gadis akan langsung luluh dan salah tingkah padanya. Namun sepertinya hal itu sama sekali tidak berpengaruh pada gadis itu, ia malah mengerutkan dahinya bingung karena mendengar perkataannya.

 

“Ah… sudahlah lupakan” ucap Chanyeol sambil melangkah pergi meninggalkan Hyu Ra.

 

‘Percuma aku merayunya, nyatanya ia sama sekali tidak terpengaruh’ batin Chanyeol kesal.

 

“Hei… kau mau kemana? Apa kau lupa denganku, keluarkan aku darisini” teriak Hyu Ra sambil mengetuk-ngetuk kaca yang ada di hadapannya.

 

Hampir selangkah lagi pria itu akan keluar, namun ia terpaksa menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya.

 

“Jadi kau ingin keluar darisini?”

 

“Tentu saja, kau pikir aku mau tidur disini”

 

“Baik, tapi, harus ada imbal baliknya” ucap Chanyeol sambil melangkahkan kakinya kembali menuju Hyu Ra.

 

“Apa? Kuharap kau tidak menginginkan yang aneh-aneh, karena aku sama sekali tidak punya waktu untuk meladeni permintaanmu yang aneh itu” ucap Hyu Ra.

 

“Tidak, tidak, aku sama sekali tidak menginginkan yang aneh-aneh-” jeda Chanyeol.

 

“Yang ku inginkan hanya satu, yaitu… kau mau dan bersedia menjadi budakku. Mudah kan”

 

“Apa? Yang benar saja” protes Hyu Ra tidak terima.

 

“Kalau kau tidak mau ya sudah, lagipula aku sama sekali tidak rugi jika kau menolaknya”

 

“Dan juga, jika kau bersedia menjadi budakku, maka akan aku pastikan jika kedua temanmu itu akan aman bersama saudara-saudaraku”

 

“Bagaimana aku bisa percaya, jika saudaranya itu sama-sama tidak normal seperti dia” gerutu Hyu Ra dan untung saja ucapannya itu tidak terdengar sama sekali oleh Chanyeol.

 

DRRTT… DRRTT

 

“Wah sepertinya ada pesan masuk”

 

Dengan santainya, Chanyeol membuka ponsel Hyu Ra yang untungnya sama sekali tidak diberi pengaman oleh gadis itu.

 

“From: Samchon

To: Hyu Ra

 

Neo eodiya? Cepatlah pulang, sekarang ini kita sedang memiliki banyak pelanggan yang datang.”

 

Pesan itu dibaca oleh Chanyeol. Mendengar isi dari pesan itu membuat Hyu Ra ketakutan dan gusar, ia langsung berjalan ke arah pintu dan menggedor-gedornya dengan keras.

 

“Ya… cepatlah buka pintunya! Aku harus pulang sekarang! Jika kau ingin bermain lagi, kita lanjutkan nanti saja, aku harus pulang sekarang” teriak Hyu Ra.

 

“Akan kubuka jika kau bersedia menjawab ‘iya’ dan mau menjadi budakku”

 

Dengan menghela napas berat, Hyu Ra dengan terpaksa menyetujui permintaan konyol pria yang ada di hadapannya itu. Setelah mendengar kata ‘iya’ dari gadis itu, ia langsung mengambil kunci yang ada di saku celananya dan membuka pintu itu.

 

Setelah pintu itu terbuka, langsung saja ia pergi meninggalkan pria itu sampai-sampai ia melupakan ponselnya yang masih berada di genggaman pria itu. Dengan langkah yang tergesa-gesa dan sedikit berlari ia berusaha keluar dari sekolah, dan untungnya gerbang itu sudah tidak terkunci lagi. Saat ia sudah melangkah keluar beberapa meter dari sekolah ia langsung menghentikan langkahnya, karena tiba-tiba saja ada sebuah mobil sport berwarna kuning yang tiba-tiba berhenti di hadapannya.

 

‘Untung saja aku tidak tertabrak’ batin Hyu Ra.

 

Sesaat setelah itu, jendela mobil yang ada di hadapannya pun terbuka dan menampilkan sesosok makhluk yang sama sekali tidak ia sangka kehadirannya.

 

“Kau?” ucap Hyu Ra setengah terkejut.

 

“Kau sedang terburu-buru kan, aku akan mengantarmu, masuklah” ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya dan tetap lurus menatap jalan.

 

Karena terlalu terburu-buru, ia sama sekali tidak memiliki pilihan lain selain masuk ke dalam mobil itu. Setelah masuk ke dalam, mobil itu pun langsung melesat dengan laju membelah kota Seoul yang sedikit sepi saat itu.

 

 

***

 

 

“Aku pulang” ucap Taemin setelah ia masuk ke dalam rumahnya.

 

“Kau sudah pulang” sambut JK yang sedang duduk santai bersama dengan J-Hope di ruang tamu.

 

“Eoh” ucap Taemin singkat dan langsung melesat masuk ke dalam kamarnya.

 

“Tidak di bumi, tidak di EXO planet, ia tetap saja dingin seperti itu” keluh J-Hope tanpa mengalihkan padangannya sedikitpun terhadap televisi yang ada di hadapannya saat ini.

 

“Sudahlah hyung, dia sifatnya memang seperti itu” jelas JK tenang.

 

Sesaat kemudian, orang yang mereka bicarakan langsung keluar dari kamar dengan memakai pakaian santai dan berjalan menuju JK dan J-Hope.

 

“Aku sudah memikirkan, tentang penyamaran kalian nanti” jelas Taemin, setelah ia mendudukkan dirinya di sofa yang berdekatan dengan JK dan J-Hope.

 

“Aku sudah menyiapkan nama untuk penyamaran kalian di bumi” dan dibalas dengan tatapan penasaran dari dua orang yang berada di hadapannya saat ini.

 

“JK, mulai sekarang namamu adalah Jeon Jungkook, dan J-Hope, namamu adalah Jung Hoseok. Aku juga sudah mendaftarkanmu untuk masuk sekolah itu” lanjutnya sambil melihat ke arah J-Hope.

 

“Lalu, bagaimana denganku?” Tanya Jungkook.

 

“Kau akan masuk 3 hari kemudian” jawab Taemin.

 

“Hyung, aku ingin bertanya, apa kau sama sekali tidak memiliki makanan? Kami sudah mengecek dapur, tapi kami sama sekali tidak menemukan apapun” ucap J-Hope.

 

“Benarkah? Kalau begitu cepatlah pergi ke mini market yang ada di dekat sini” ucap Taemin sambil memberikan beberapa lembar uang kepada J-Hope.

 

Setelahnya, ia segera pergi keluar untuk mencari beberapa makanan di mini market yang ada di sekitar.

 

 

***

 

 

Suara perpaduan antara pedang yang saling beradu terdengar dari seluruh tempat yang saat ini di gunakan untuk berlatih oleh para pasukan orc. Pasukan khusus yang berada di bawah kekuasaan raja Cyrus, raja dari EXO planet saat ini.

 

“Apa aku mengganggu pelatihanmu saat ini” interuksi seseorang yang baru saja datang dan langsung menghampiri orang tersebut.

 

“Apa yang kau lakukan disini, Milletus” ucapnya sinis.

 

“Tidak ada, hanya kebetulan lewat dan ingin melihat sebentar” jawab seseorang yang di panggil dengan sebutan Milletus.

 

“Ah, ku dengar putramu sudah menemukan kedua belas pangeran itu” lanjutnya.

 

“Kau benar, itu sebabnya raja Cyrus mengirimnya bersama dengan kedua pasukan terbaikku”

 

“Kau pasti bangga memiliki putra seperti dia. Ah, sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu padamu tapi kuharap kau tidak marah padaku Aristogoras”

 

“Ada apa? Apa terjadi sesuatu yang buruk?”

 

“Tidak, hanya saja aku juga meminta putramu, Darius, untuk menemukan buku itu”

 

Belum sempat ia menjawab, orang itu langsung menyelanya kembali “Aku hanya berpikir, jika putramu bisa menemukan buku itu, maka ia akan mendapatkan kepercayaan lebih dari raja Cyrus dan mungkin saja ia bisa di jadikan orang kepercayaannya”

 

“Karena ini demi masa depan putraku, maka aku tidak akan marah padamu” ucap Aristogoras tegas.

 

“Ku dengar saat ini raja juga sedang mencari buku itu, setidaknya apa kau tahu dimana petunjuk yang bisa mengarahkan kita untuk menemukan buku itu?” lanjutnya.

 

“Entahlah, aku sama sekali tidak tahu, apa kau tahu?”

 

“Aku hanya mengetahui satu hal…..”

 

 

***

 

 

Selama dalam perjalanan pulang, baik Luhan, Sehun, maupun Tao, tidak ada yang berbicara sama sekali. Sebenarnya Sehun ingin sekali bertanya kepada kakaknya, Luhan, namun sepertinya saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk bertanya, mengingat ekspresi dari kakaknya yang marah dan dingin, sejak keluar dari sekolah tadi.

 

Setelah sampai di rumah, Luhan langsung keluar dari dalam mobil tanpa bicara sepatah kata pun dan langsung masuk ke dalam rumah.

 

“Sebenarnya apa yang terjadi pada Luhan hyung” Tanya Sehun penasaran, setelah ia keluar dari mobil bersama dengan Tao.

 

“Jangan Tanya padaku, Tanya saja pada kakakmu” jawab Tao dingin dan langsung meninggalkannya. Sedangkan Sehun, pria itu tetap berdiam diri di tempat sambil memikirkan kejadian yang sebenarnya terjadi.

 

Pria itu mengerti jika Tao dan Luhan kakaknya, sedang membencinya atau mungkin marah padanya saat ini. Sebenarnya, Luhan tidak pernah marah atau membencinya, tapi jika sampai Luhan marah atau membencinya, itu artinya dia pasti melakukan kesalahan yang besar. Dengan sedikit malas, ia langsung masuk ke dalam rumah dan berharap jika ia tidak akan bertemu dengan kakaknya itu.

 

Setelah masuk ke dalam rumah, Luhan langsung menuju ruang latihan dan melampiaskan seluruh amarah dan kecewanya karena sang adik, dan membuat semua orang yang ada disana bingung sekaligus takut melihat kemarahan dari Luhan, yang selama ini tidak pernah di tunjukkannya.

 

Setelah agak tenang, Suho dan Kris mencoba untuk mendekati Luhan.

“Apa yang terjadi?” Tanya Kris.

 

“Mian, aku sedang tidak ingin di ganggu sekarang, pergilah” ucap Luhan dingin.

 

“Katakan, kita sudah berjanji untuk berbicara jika ada masalah, jadi kau harus mengatakannya padaku” ucap Suho tegas.

 

“Bukankah sudah ku bilang TIDAK, kenapa kau sama sekali tidak mengerti” ucap Luhan emosi dengan nada yang tinggi.

 

“Selama ini aku menghormatimu karena kau adalah pemimpin kami, tapi tidak bisakah kau mengerti dengan keadanku sekarang? Saat ini aku tidak ingin di ganggu, jadi jangan ikut campur dalam masalahku dengan Sehun” lanjutnya dengan menahan emosi dan setelahnya ia meninggalkan ruang itu dan pergi entah kemana.

 

“Apa maksudnya?” Tanya Lay memecah keheningan, sedangkan Suho masih terdiam membatu. Menyadari dengan keadaan Suho, Kris langsung menariknya dan membawanya keluar.

 

“Apa kalian melihat Luhan gege?” Tanya Tao sambil berdiri di depan pintu

 

“Dia baru saja keluar beberapa menit yang lalu” jawab Xiumin.

 

“Lalu Suho hyung?”

 

“Dia baru saja keluar beberapa detik yang lalu bersama dengan Kris hyung” kali ini giliran D.O yang menjawab.

 

“Kalau begitu aku pergi dulu”

 

Setelah kejadian tadi, tidak ada satupun dari mereka yang berlatih, mereka semua sedang sibuk dengan pikiran masing-masing –apa yang terjadi antara Sehun dan Luhan- kira-kira itulah yang ada dipikiran mereka saat ini.

 

“Tunggu, bukankah tadi Tao bersama dengan Sehun? Jika memang benar, itu artinya dia pasti tahu apa yang terjadi antara Luhan hyung dan Sehun” ucap Baekhyun ketika ia menyadari sesuatu.

 

“Sebaiknya kita juga mencari dimana Suho hyung sekarang” ucap D.O dan setelahnya mereka semua pergi untuk mencari Suho.

 

 

***

 

 

Sesuai rencana yang telah disusun oleh Ha Ni saat ia telah lolos dari pria yang bernama Xiumin, ia, Hyun Hae, dan Hyu Ra akan berkumpul di rumahnya untuk membahas kejadian tadi, terutama mengenai kejadian yang tidak masuk akal menurut Hyun Hae dan Ha Ni.

 

Setelah sampai di rumah, Ha Ni segera mengirim pesan kepada Hyun Hae dan Hyu Ra agar mereka tidak terlambat datang karena mereka juga akan mendiskusikan rapat yang sempat tertunda sebelumnya. Setelah berganti pakaian, ia segera melangkah ke dalam rumahnya.

 

Di sisi lain, Hyun Hae yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung mendapatkan teriakan dari adiknya yang berada di ruang tengah atau biasa disebut dengan ruang keluarga “Eonni, ponselmu bergetar, kurasa kau baru saja mendapatkan pesan”

 

Setelah membaca pesan itu, Hyun Hae segera masuk ke dalam kamar dan memasukkan barang-barang yang ia butuhkan dan memasukkannya ke dalam tas.

“Aku pergi dulu, mungkin aku tidak akan pulang karena aku akan menginap di rumah teman. Tolong kau beritahu eomma dan appa” setelah mendapatkan anggukan dari sang adik, Hyun Hae langsung melangkah keluar dan segera pergi menuju rumah Ha Ni.

 

Sedangkan Hyu Ra, ia masih melayani pelanggan yang sedikit ramai saat ini, dan ia sama sekali tidak mengetahui hal itu karena ponselnya yang masih berada di tangan Chanyeol.

 

Sementara itu, Chanyeol yang sedang berlatih untuk mengontrol kekuatan apinya pun terganggu karena merasakan sebuah getaran dari saku celananya.

 

From: Ha Ni

To: Hyu Ra

 

Hyu Ra-ya, cepatlah kemari, kita akan membahas rapat yang sempat tertunda tadi dan juga membahas kejadian yang menimpa kita tadi.

 

Setelah membaca pesan tersebut, Chanyeol segera menutup ponsel itu dan memasukkannya kembali ke dalam saku celananya dan melanjutkan latihannya.

 

 

***

 

 

“Astaga kenapa Hyu Ra lama sekali” keluh Ha Ni.

 

“Mungkin sebentar lagi ia akan datang” ucap Hyun Hae menenangkan.

 

Setelah menunggu hampir satu jam, mereka sama sekali tidak melihat tanda-tanda jika gadis itu akan datang.

 

“Eeiiy, sampai berapa lama kita harus menunggu” keluh Ha Ni.

 

“Entahlah, mungkin saat ini cafenya sedang ramai jadi ia belum bisa datang kemari” jawab Hyun Hae tenang.

 

“Tapi biasanya, jika dia datang terlambat ia pasti akan menghubungi kita lebih dulu” merasa jika lawan bicaranya tidak merespon perkataannya ia mencoba berbicara kembali. “Ya, bagaimana jika kita menyusul ke cafenya saja” usul Ha Ni.

 

“Ania, kita tunggu saja, mungkin sebentar lagi ia akan datang”

 

“Tapi sampai kapan, ini sudah hampir malam dan kita harus memberi laporan untuk club kita besok” keluh Ha Ni.

 

“Hyun Hae-ya, coba kau hubungi dia” perintah Ha Ni.

 

Kemudian dikeluarkannya ponsel yang berada di tasnya dan langsung menelpon Hyu Ra. Setelah beberapa kali mencoba, tidak ada satupun panggilan yang dijawab olehnya.

 

“Tidak dijawab” jawab Hyun Hae.

 

“Coba kau telpon cafenya”

 

Setelah menunggu selama beberapa menit akhirnya ponselnya terhubung dengan café.

“…..”

“Ah, bisakah aku berbicara dengan Kim Hyu Ra?”

“……”

“Hyu Ra-ya, ini aku Hyun Hae, cepatlah datang ke rumah Ha Ni dengan membawa data-data yang akan digunakan untuk study wisata”

“….”

“Eoh, arrasseo. Cepatlah kemari”

 

 

***

 

 

Setelah sampai, Hyu Ra langsung disambut oleh beribu pertanyaan oleh keduanya dan setelah puas bertanya, mereka segera membahas study wisata dan diselingi dengan canda dan tawa.

 

“Ah, akhirnya selesai juga” ucap Ha Ni sambil meregangkan badannya yang lelah.

 

Beberapa saat kemudian mereka saling meregangkan badan dan tidak ada yang berbicara sepatah katapun, kemudian Hyun Hae mencoba untuk memecahkan keheningan yang ada.

 

“Ha Ni-ya dimana nenekmu, aku sama sekali tidak melihatnya sejak tadi”

 

“Nenekku sedang berada di Gangwondo dan akan kembali lusa” jelas Ha Ni dan sesaat kemudian ia teringat sesuatu “Bagaimana dengan kalian tadi, apa kalian bersedia menjadi budak mereka?” satu persatu di tatapnya dengan pandangan yang sulit dibaca.

 

“Eoh, aku terpaksa menjadi budak dari namja bernama Sehun. Aku bersedia melakukannya karena dia mengancamku” jelas Hyun Hae.

 

“Aku juga terpaksa menjadi budaknya karena tadi dia mengunciku di ruang penyiaran. Bagaimana denganmu?” kemudia Hyun Hae dan Hyu Ra balas menatap Ha Ni.

 

“Aku juga terpaksa, karena jika aku tidak bersedia maka dia akan membiarkanku membeku sampai sekarang” terang Ha Ni.

 

“Jinja?” Tanya Hyun Hae terkejut. “Tapi, tadi kau bilang jika dia membekukanmu, apa dia juga mempunyai kekuatan?” lanjutnya penasaran.

 

“Eoh, apakah dia juga?” Tanya Ha Ni balik dan dibalas Hyun Hae ragu “Emm, tapi aku sedikit ragu apakah dia mempunyai kekuatan atau tidak, karena ingatanku sedikit samar-samar mengenai hal itu”

 

“Bagaimana denganmu?” Tanya Hyun Hae kepada Hyu Ra tapi sayangnya gadis itu malah melamun.

 

“Hyu Ra-ya” ucap Hyun Hae sekali lagi sambil mengguncang sedikit tubuh Hyu Ra, dan setelahnya gadis itu pun langsung tersadar dari lamunannya.

 

“Gwenchana?”

 

“Gwenchana, aku tadi hanya sedang berpikir dan mungkin, sudah saatnya aku mengatakan sesuatu kepada kalian karena kalian telah terlibat dalam masalah ini” jelas Hyu Ra

 

“Tapi sebelumnya aku sedikit penasaran..” jeda Hyu Ra sambil menatap kedua temannya dengan seksama. “Sebenarnya apa yang kalian lakukan sampai-sampai kalian terlibat dalam masalah ini” Tanya Hyu Ra.

 

Setelah itu, Ha Ni dan Hyun Hae saling melihat satu sama lain, dan kemudian mereka bergantian bercerita untuk menjelaskan.

 

“Mianhae, karnaku kalian terlibat dalam masalah” sesal Hyun Hae.

 

“Ania, ini semua bukan salahmu, sebenarnya ini adalah salahku-” Hyu Ra kemudian terdiam beberapa saat melihat ekspresi kedua temannya itu.

 

“-karena aku….. mengetahui rahasia besar mereka. Itulah sebabnya mereka mengancam kalian berdua agar aku tidak bisa membuka rahasia terbesar mereka” jelas Hyu Ra.

 

“Rahasia apa?” Tanya Ha Ni penasaran.

 

“Kekuatan mereka. Sebenarnya aku sudah mengetahui tentang kekuatan mereka sejak awal, aku ingin mengatakan hal itu kepada kalian tapi aku takut kalian akan berpikir jika semua itu hanyalah khayalan saja. Dan ternyata, sekarang kalian telah mengetahuinya sendiri”

 

“Sejak kapan kau mengetahui hal ini?” Tanya Hyun Hae.

 

“Sejak aku mengantar makanan ke rumah mereka bersama kalian waktu itu” dan dibalas dengan anggukan kepala oleh kedua temannya.

 

Setelah itu tidak ada yang bicara di antara mereka, mereka kini sibuk dengan ponsel mereka masing-masing, kecuali Hyu Ra tentunya, karena ia tidak tahu apa yang akan dilakukannya ia pun mencoba untuk mengalihkan perhatian kedua temannya itu.

“Ha Ni-ya apa kau tidak punya makanan? Perutku lapar sekali, karena daritadi aku belum makan”

 

“Aah, kebetulan aku juga, bagaimana kalau kita makan ramen?” usul Ha Ni dan disambut dengan anggukan kepala oleh kedua temannya.

 

“Baiklah aku akan ke dapur dulu”

 

Beberapa saat kemudian Ha Ni kembali lagi. “Mian, persediaan ramenku telah habis, kalian tunggu disini dulu, aku akan membeli ramen di mini market dulu”

 

“Kalau begitu aku titip cola” sahut Hyun Hae.

 

“Arrasseo, aku pergi dulu”

 

 

***

 

 

Setelah beberapa saat mencari, akhirnya J-Hope atau yang sekarang bernama Jung Hoseok itu akhirnya menemukan tempat yang dinamakan mini market itu. Setelah terdiam beberapa saat di depan pintu, pria itu akhirnya masuk ke dalam dan disambut oleh petugas yang sedang berjaga di kasir.

 

Pria itu kemudian berjalan sambil mengamati setiap barang-barang yang ada disana. -Aku harus membeli apa disini-, kira-kira seperti itulah yang ada dipikirannya saat ini.

 

Setelah mengamati dan berjalan kesana-kemari, pandangannya pun tertuju pada tumpukan ramen yang tertata rapi dalam rak.

“Ramen? Apa itu ramen?” gumamnya sambil mengamati barang itu tanpa menyentuhya.

 

Tapi saat ia akan menyentuh benda itu, tiba-tiba ada tangan lain yang ingin mengambilnya.

“Eoh, joesonghamnida” ucap gadis itu.

 

“Ania, gwenchana” lalu ia sedikit menggeser tubuhnya agar gadis itu bisa mengambilnya dengan leluasa.

 

Setelah gadis itu pergi, ia segera mengambil ramen itu dan mengikuti gadis itu pergi ke kasir. Setelah selesai membayar gadis itu melangkah pergi dan tanpa sengaja ia meninggalkan dompetnya.

 

J-Hope yang melihatnya langsung mengambil dompet itu dan setelah selesai membayar ia segera bergegas pergi untuk mengejar gadis itu, namun sayangnya ketika ia berada di luar ia sudah tidak melihat gadis itu lagi.

 

“Aku akan menyimpannya, mungkin suatu saat nanti kita akan bertemu kembali” sambil menyeringai tipis.

 

 

 

.

.

.

.

.

.

 

 

TBC

 

Ok kali ini aku juga gak akan koment apa-apa, cuman aku selalu ngucapin terima kasih banyak atas koment yang kalian berikan, karena tiap koment yang kalian berikan itu sangat berarti bagiku dan juga bisa membuatku semangat untuk ngelanjutin ff ini. Dan aku juga mau minta maaf, bagi kalian yang berharap Sehun – Hyun Hae moment, yang gak aku tampilin sama sekali L. Ok sekian ^^

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s